COMING HOME

DONGHAE X HYUKJAE

.

.

Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.

Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.

.

.

Thank You

.

.

Happy Reading

.

.

BAB 7

I will not make same mistake that you did

I will not let myself

Cause my heart so much misery

I will not break the way you did

You fell so hard

I've learned the hard way

To never let it get that far

-"Because of you", Kelly Clarkson

.

.

Jejak yang kau bawa kembali melemparkankku pada jeruji tajam yang tak ingin kupijak lagi.

Selalu saja ada tempat, peristiwa, atau hal-hal kecil yang muncul dalam benak Hyukjae saat menatap Donghae yang kini berdiri dihadapannya, sambil menggandeng tangan Haru. Hal-hal yang seharusnya terlupa, dikubur dalam-dalam, atau cukup terekam dalam otaknya tanpa perlu berserakan saat melihat sepasang mata sendu yang memancarkan pesona gelap itu berada lurus di bola matanya. Benar-benar menyiksa. Dan, entah mengapa, lelaki itu seakan-akan tidak mengerti sesaknya, tetap berdiri disana. Hyukjae menarik napas dalam-dalam dan mengalihkan matanya ke rak buku yang berada disampingnya.

Jangan pedulikan, perintah Hyukjae pada diri sendiri. Ia memakukan pandangannya pada buku-buku dongeng anak yang sebenarnya tidak menjadi perhatiannya. Dari ekor matanya, ia tahu Donghae masih di sana meski sudah berpaling menemani Haru yang memilih buku. Hyukjae menyadari kekuatan tersembunyi laki-laki itu. Jantungnya berdetak lebih cepat akibat kesadaran itu, membuat tubuhnya meremang.

Kenapa waktu terus mempertemukannya dengan laki-laki itu? Dan, kenapa laki-laki itu bisa berada di toko buku langganannya? Apakah Donghae memata-matainya? Gila, Hyukjae menarik napas, menahan, lalu menghembuskannya.

Ia benar-benar tidak mengerti alur pikiran Donghae saat ini, dan memikirkan segala rencana laki-laki itu untuk hidupnya bisa membuatnya hilang kendali. Tanpa menoleh lagi, Hyukjae melangkah menjauhi rak tempatnya berdiri. Namun, suara Haru menghentikannya. Ia tidak bisa mendustai dirinya, ia tidak mungkin menghindari anak itu. Saat berbalik, Hyukjae melihat deretan gigi mungil yang membuat wajah gadis kecil itu semakin manis.

"Sonsengnim, Haru mau beli buku ini." Haru menyodorkan dua buka bersampul cerah kepada Sonsengnimnya itu.

Hyukjae melihat judulnya. "Buku yang bagus, Haru. Nanti ceritakan ke Sonsengnim, ya, kalau sudah selesai baca." Ia mengembalikan buku itu dan mengusap rambut Haru, berusaha keras mengalihkan pandangannya dari laki-laki yang berdiri di belakang anak itu.

"Masih suka Michael Crichton?" tanya Donghae yang kini berpindah di samping putrinya, membuat jarak tubuhnya dengan tubuh Hyukjae mengecil.

Tusukan kesadaran merayap sepanjang tubuhnya. Sial! Kenapa laki-laki itu akhinya buka suara? Hyukjae mendengus kesal. Ia memaksakan diri mengangkat wajah tanpa ekspresi dengan sebelumnya melirik novel Next karangan Michael Crichton yang berada di tangannya. "Ya."

"Saya lupa dulu berniat memberikan Congo dan Timeline. Tapi, tertinggal di rumah ki—" Donghae tercekat sesaat menyadari kesalahan ucapnya. Ia meraskan cekaman dalam ketenangan lelaki manis itu. "Di Seoul, maksud saya."

"Saya sudah baca dua-duanya." Hyukjae menjaga suaranya tetap netral. Rasanya, ia ingin menghancurkan sendu pekat itu, yang membuatnya semakin sulit mengendalikan diri dan terdesak oleh aroma laki-laki itu.

"Ya, saya yakin Anda sudah baca." Donghae mengeluarkan buku dari kantong plastik hitam di tangannya. "Sudah pernah baca novelnya Isaac Asimov? Saya ingat Anda pernah nonton I, Robot, pasti suka dengan novelnya." Ia menjulurkan buku yang kertasnya sudah menguning itu.

Napas Hyukjae semakin berdesakan di tenggorokan. Menjengkelkan sekali menyadari Donghae masih memberi efek seperti ini padanya. Nadinya berdetak cepat. Matanya turun pada buku itu. Ia ingat akting Will Smith dalam film berjudul sama yang membuatnya tertarik, tetapi ia harus menahan diri. "Saya tidak tertarik."

"Bukannya dulu Anda ingin baca cerita lengkapnya?" Buku itu masih dijulurkannya. Entahla, tapi Donghae ingin meluluhkan sisi hati Donghae yang mungkin masih bisa dijangkau. Lelaki manis didepannya tampak seperti gunung es—berdiri tegak, tenang, tanpa suara sedikit pun.

"Beda dulu, beda sekarang, Tuan Lee." Hyukjae berkata sinis. Ada kilatan dimatanya. Suaranya pelan, tetapi menciptakan keheningan yang menusuk. "Maaf, saya ada urusan lain." Ia menyingkir dari hadapan lelaki itu.

Donghae menatap punggung lelaki manis itu menjauh. Kesal dan kecewa bercampur dalam dadanya. Hyukjae masih menjadi gunung tertinggi yang sulit didakinya. Getar suara Hyukjae tenang, hampir dingin. Tapi, dalam posisinya, ia tidak bisa meluapkan emosinya. Ia yang meminta dan ia tahu butuh waktu untuk menunggu. Sayangnya, ia tidak pernah tahu dimana batasnya.

.

.

.

Kening Hyukjae mengerut mendapati bungkusan dimeja. Dengan ragu, ia membuka plastik itu, berisi CD Richard Marx original yang masih terbungkus plastik bening. Ia tidak ingat pernah membeli CD ini. Dilirknya meja Sungmin di sebelahnya. Mungkinkah?Tapi, sahabatnya itu tidak menyukai penyanyi luar negeri. Lalu, milik siapa CD ini?

Jemari Hyukjae mengetuk-ngetuk pinggiran meja. Ia penasaran. Kalau CD ini memang miliknya, siapa yang memberikannya? Tidak banyak yang tahu apa yang disukainya, kecuali... Satu nama terlintas dalam benaknya. Raut Hyukjae berubah kesal. Dadanya bergemuruh, bercampur emosi-emosi yang disimpannya sejak kedatangan seseorang iu dan putrinya.

Hyukjae menjatuhkan tubuh di kursinya. Diletakkannya CD itu diatas meja dengan sedikit kasar. Lelaki itu benar-benar membuat emosinya berada diambang batas meledak. Untuk apa Donghae melakukan semua ini? Mulai dari Bimbimbap, buku dan sekarang CD! Apa yang sebenarnya Donghae inginkan darinya? Merayunya? Mengajaknya bernostalgia? Atau sedang membuat lelucon?

"Tidak ada yang lebih sederhana daripada memafkan, kan?"

"Kalau kau sudah berpisah dengan Donghae, kau harus belajar memaafkan, Sayang. Kebencian yang ada dihati kita akan menghancurkan diri kita sendiri."

Ucapan sang Eomma dan Sungmin berganti terdengar di telinganya. Hyukjae ingin mengeram. Masalahnya bukan kata "maaf", melainkan pantas atau tidak seorang Donghae mendapatkan maaf. Hyukjae tidak mempercayainya. Tidak akan pernah. Ia tidak mau masuk dalam permainannya, kemudian terjerat. Terlalu bodoh jika harus menjadi boneka dalam hidup lelaki itu lagi.

Aku harus menyelesaikan semua ini! tegas Hyukjae dalam hati. Ia tidak mau berurusan dengan lelaki itu. Kalau Donghae mengira ia tidak punya pertahanan dan mengalah, sayangnya lelaki itu salah besar. Ia punya benteng yang tinggi dan besar. Bahkan, lelaki itu tidak bisa menyentuhnya.

.

.

.

Dan, dengan segala daya yang kumiliki, kubiarkan menjadi tetap

Ingin rasanya Hyukjae meluapkan emosinya pada lelaki yang kini berdiri dihadapannya. Lorong sekolah sudah sepi. Hanya terdengar suara riang Haru bermain bersama Sungmin dihalaman. Hyukjae menguatkan hati menatap lurus dan tegas pada sepasang mata pekat itu.

Cuaca terasa hangat. Tidak seperti biasanya, lelaki itu menggunakan Polo Shirt hitam ang kontras dengan kulitnya. Donghae terlihat tampan dan Hyukjae tak memungkiri, dalam keadaan seperti ini pun, Donghae memiliki daya tarik baginya.

"Kata Sungmin Sonsengnim. Anda ingin bicara dengan saya. Ada apa?" Donghae membuka suara.

Hyukjae menunjukkan CD Richard Marx ke hadapan lelaki itu. "Mengenai CD ini."

Donghae cukup bingung mendengar suara Donghae yang sedikit meninggi dan raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan keramahan. "Maaf kalau CD itu membuat Anda terkejut. Karena kamarin Anda masih rapat, saya minta tolong ke penjaga sekolah meletakkan di meja Anda."

"Apa maksud Anda memeberikan CD ini?" Tatapannya dingin, sedingin suaranya. Hyukjae berusaha menekan emosinya agar tidak tumpah.

"Saya tahu Anda menyukai Richard Marx dan saya ingat Anda kehilangan CD ini." Donghae mengendalikan diri agar tetap terlihat tenang.

Sebelah alis Hyukje melengkung naik mendengar penuturan itu. Bisa sekali Donghae mengatur jawabannya. Memutar-mutar saat ini dan masa lalu agar dia tertarik untuk berterima kasih. "Tuan Lee, saya sama sekali tak terkejut, tapi saya tidak suka." Diulurkan benda itu ke Donghae. "Dan saya tidak membutuhkan CD ini."

Donghae terkesiap. Wajahnya menggelap. Tangannya ragu menerima benda itu. Ditatapnya Hyukjae dengan sorot bingung dan serba salah. Ia tidak mengerti bagaimana menghadapi Hyukjae seperti ini. Jantungnya berdetak cepat. Suasana mencekam tiba-tiba saja hadir melihat kilatan di mata pekat Hyukjae.

"Apa yang saya suka atau tidak suka, adalah urusan saya. Anda tidak perlu ikut campur dalam hidup saya!" sergah Hyukjae.

"Maaf," jawab Donghae tenang. Wajahnya kembali datar. "Saya tidak ingin mencampuri urusan Anda, saya hanya ingin memberikan CD ini kepada Anda."

"Tapi, saya tidak suka diberi apa pun oleh Anda." Hyukjae menatapnya semakin tajam. "Dan pertanyaannya, untuk apa? Saya tidak pernah meminta apa pun dari Anda, Tuan Lee. Karena saya tidak menginginkan apa-apa dari Anda dan karena Anda bukan apa-apa bagi saya!" Hyukjae melihat ekspresi diamnya Donghae. Wajahnya masih datar, tidak dapat ditebak ekspresi apa yang dimunculkan lelaki itu diwajahnya.

Hening melambat kali ini. Donghae tidak tahu seperti apa perasaannya. Begitu juga Hyukjae. Berbagai emosi bergejolak dalam diri mereka. Ada amarah, kekesalan, kebimbangan bercampur dalam dua orang yang berdiri terpaku itu. Hyukjae benci harus hidup dibawah bayang-bayang masa lalu. Hidupnya adalah hidupnya, bukan lagi bagian dalam pikiran lelaki di hadapannya.

"Mulai sekarang, Anda tidak perlu memberikan saya apa pun," ujar Donghae seraya terus menahan napas. Seluruh emosinya seakan naik dan berkumpul di ujung lidah. Menatap mata Donghae yang terguncang memberikannya sedikit kelegaan. Terkadang seseorang seperti Donghae perlu tahu bagaiman rasanya sebuah hantaman keras.

Donghae tidak bergerak. Matanya tak berkutik dalam mata Hyukjae. Napasnya seakan putus-putus mendengar amarah Hyukjae dalam suaranya. Ketegangan dalam dirinya tidak teredam. Bibirnya tidak dapat membuka, seperti merekat kuat.

"Dan, satu hal lagi. Saya harap Anda tidak mengganggu saya lagi jika tidak berhubungan dengan urusan sekolah Haru." Hyukjae menarik napas dalam-dalam dan menahannya. Donghae pergi jauh dari penglihatannya dan dari hidupnya.

Donghae semakin membeku. Ia melihat Hyukjae melangkah ke kelas tanpa mengatakan apa pun lagi. Donghae memejamkan matanya, berusaha menyadarkan diri dari keterkejutannya, tetapi belum bisa beranjak dari tempatnya. Dihelanya napas panjang lalu ditatapnya CD di tangannya.

Di dalam kelas, Hyukjae berusaha mengatur napasnya. Ia marasa puas. Sangat puas. Baru pernah ia melihat wajah Donghae memucat seperti itu. Dan, ia bisa benar-benar bernapas lega. Lelaki itu akan pergi. Pasti.

.

.

.

Donghae merapikan buku-buku bacaan anak yang berserakan di samping tempat tidur dan diletakkannya di meja kecil. Ia menatap Haru tidur dengan boneka pororo dalam pelukannya. Tidurnya begitu tenang. Napasnya begitu teratur. Ia merapikan selimut putrinya itu dan mengecup kening beningnya. Gadis kecilnya itu susah sekali tidur kalau cerita yang didengarnya belum selesai, bahkan dua atau tiga cerita panjang baru bisa membuatnya terlelap.

Sekilas, dilihatnya jam dinding. Pukul sebelas malam. Belum sidikit pun ia merasa mengantuk. Ia keluar kamar dan duduk diruang tengah. Matanya menerawang ke lantai yang dingin. Pikirannya kusut. Masih diingatnya jelas kilat mata Hyukjae dan luapan amarah dalam suaranya. Lelaki manis itu sangat membencinya. Bibir Donghae melengkung getir.

"Dan satu hal lagi. Saya harap Anda tidak mengganggu saya lagi jika tidak berhubungan dengan urusan sekolah Haru."

Donghae mengambil rokok yang masih meyala di asbak menghisapnya dalam, dan menghembuskan asap melewati hidung. Ia tidak bisa memikirkan satu pun jalan keluar. Buntu.

Sesekali dalam lima tahun kesendiriannya, ia sering memikirkan Hyukjae. Sebenarnya, ia yang selalu menghindari memikirkan lelaki manis itu. Bagaimana lelaki manis itu hidup tanpa dirinya. Bagaimana lelaki manis itu bisa bertahan. Satu atau dua kali, ia pernah ingin menelepon, tapi berubah pikiran. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Hyukjae setelah perpisahan mereka. Karena, setelah semua urusan perceraian selesai, lelaki manis itu menghilang.

Kini, Donghae merasa sangat wajar jika Hyukjae bersikap seperti itu. Ia marah pada dirinya sendiri. Orang brengsek seperti dirinya memang tidak pantas mendapatkan pengampunan, bahkan oleh dirinya sendiri. Tidak pantas mendapatkan sebuah tempat.

Tapi, tunggu... apa itu berarti ia menyerah? Seorang Lee Donghae takluk oleh hidup? Sinting! Justru ia yang harus menaklukan hidup! Donghae menarik napas dalam-dalam. Ia tidak akan menyerah, hanya mengulur waktu, dan mencari tahu. Akan ada saat yang tepat. Sekian lama ia belajar untuk menjadi pemenang dan tidak akan mundur oleh apa pun.

Donghae meraih CD Richard Marx dari atas meja. Ditatapnya sesaat, memperhatikan daftar lagu disana. Dengan cepat, ia membuka bungkusnya dan memasang di CD player. Ditekannya sembarang angka di remote control, lalu mengalun lagu dari penyanyi bersuara serak itu.

I can't hide, it's true

I still burn for you

Your memory just win't let me go

Until I find you again

-"Until I Find U Again", Richard Marx—

Isapan rokoknya terhenti. Ada sesuatu yang menyentaknya. Ia seakan-akan menemukan sebuah ruang gelap yang hanya ada gambar-gambar Hyukjae di dalamnya. Berputar dengan semua yang pernah mereka lalui. Dimatikan rokoknya, termenung sesaat, lalu mengusap wajahnya. Ia gusar.

.

.

.

TBC

.

.

.

Hai^^ aku balik lagi~ hihihi~ oh iya, setelah aku pikir-pikir aku bakal update perbab aja, biar gak bikin bingung, terus biar kalian tambah penasaran sama novel keren ini. Maaf untuk yang kemarin udah setuju update dua bab /bow/ Aku usahain biar update cepet ^^ Maaf juga untuk banyaknya typo yang bertebaran. Thanks untuk semua review kalian, maaf tidak bisa membalas satu persatu ^^

.

.

.

Big Love

Cutie Monkey