COMING HOME

DONGHAE X HYUKJAE

.

.

Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.

Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.

.

.

Thank You

.

.

Happy Reading

.

.

BAB 8

What I gotta do to make you want me

What I gotta do to be heard

What do I say when it's all over

And sorry seems to be the hardest word

-"Sorry Seems to be the Hardest Word", Elthon John—

.

.

Maafkan jika mata ini mengkhianatiku, tak bisa melihat dengan jelas siapa dirimu.

Donghae menggenggam erat tangan Haru. Mereka berdiri di depan gedung tempat lomba akan berlangsung, menunggu guru-guru dan teman-teman yang lain. Sekeliling ramai, sibuk oleh rombongan sekolah lain yang berdatangan. Haru tampak tak sabar. Anak itu berjingkat-jingkat, melihat ke arah gerbang.

Udara hangat berembus. Suara anak-anak yang berpadu dengan suara-suara lain memberikan warna lain untuk hari itu. Donghae berdiri gusar. Beberapa hari, ia tidak melihat mantan istrinya, kini ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi dirinya ketika harus berhadapan dengan lelaki manis itu. Ia menggembungkan pipi dan mengembuskan napas, berusaha tetap tenang.

Donghae menatap keramaian di depannya dan tanpa sadar mengikuti gerak mobil yang memasuki gerbang. Hyukjae, Sungmin dan dua anak lain bersama ibunya, turun dari mobil itu. Melihat lelaki itu berjalan mendekat, tubuh Donghae menegang. Dan, ia seperti jatuh berdebum keras saat Hyukjae benar-benar berada di depannya, menyapa Haru.

Kalau ingin mengatakan lelaki manis itu sebagai hantu, tidak sepenuhnya salah. Hyukjae memang hantu yang membayangi malam-malamnya. Hantu yang membuatnya takut menghadapi dirinya sendiri. Sorot mata lelaki manis itu dingin saat mereka bertemu pandang. Sekilas terasa menghakimi. Donghae mengalihkan pandangan untuk menyembunyikan kegugupan dan kegelisahannya.

Hyukjae mengiring anak-anak menuju ruangan tempat lomba. Langkah Haru terlihat sangat bersemangat. Matanya berbinar, tidak ada takut atau ragu menghadapi lomba yang akan ia ikuti. Anak itu menggandeng erat tangan ayahnya yang melangkah pelan dibelakangnya. Donghae sesekali mencuri pandang lelaki manis yang tengah berbicara dengan salah satu murid. Kenapa pada saat seperti ini ia justru memikirkan berbagai kemungkinan?

Ruangan tempat lomba cukup luas dan tertutup. Bangku-bangku mungil tertata rapi ditengah. Hyukjae dan Sungmin membawa anak-anak murid mereka ke kursi masing-masing sesuai nomor urut. Haru duduk dibarisan tengah. Hyukjae membantunya memeriksa perlengkapan menggambarnya. Sesaat, diusapnya rambut depan anak itu dan tersenyum, memberi semangat.

Donghae menatap keduanya dari jauh. Tampak sangat akrab. Dengan sangat perhatian, Hyukjae membantu meraut pensil warna dan merapikan alat gambar lain. Ia diam-diam merutuki kenyataan. Kenapa lelaki manis itu yang berada di sana? Kenapa Hyukjae harus sedekat itu dengan Haru? Donghae menangkap ada sesuatu yang tidak biasa dari sorot mata kedua lelaki dan gadis beda generasi itu.

Ketika Hyukjae selesai membantu Haru dan kembali menegakkan badan, sorot mata mereka beradu. Dalam beberapa detik, keadaan seperti senyap. Donghae segera menundukkan pandangannya. Sorot mata lelaki manis itu selalu menyentak rasa bersalahnya. Sial!

Tepat pukul sembilan, panitia memberi pengarahan kepada para peserta. Tentang tata pelaksanaan lomba, cara pewarnaan, dan gambar-gambar yang masuk dalam tema. Lalu, panitia membagikan ketas gambar beserta pensil dan penghapus.

Donghae berdiri sambil melipat tangan di dada, cukup tegang melihat Haru. Lucu. Putrinya yang akan menghadapi lomba, justru dia yang tidak tenang. Bebarapa anak terlihat tatapannya kosong, tetapi Haru seperti menunggu kapan lomba dimulai. Kaki mungilnya bergoyang-goyang tak sabar. Ia tersenyum getir. Merasakan dirinya bercermin pada anak itu. Semangatnya. Keinginannya yang kuat meraih sesuatu. Keras kepala.

"Minum?" Sungmin memberikan air mineral gelas padanya.

"Terima kasih, Sungmin-ah." Donghae tersenyum.

"Ingin ikut duduk disana?" Sungmin menunjuk tempat Hyukjae dan dua orangtua murid duduk.

Donghae menggeleng. "Aku di sini saja."

"Oke." Sungmin tersenyum dan kembali ke tempat duduknya.

Sambil menusukkan sedotan, Donghae duduk bersama orangtua peserta lain. Ekor matanya melihat Hyukjae sedang berbicara dengan Sungmin. Mereka tampak berbicara serius sambil mendekatkan telinga karena riuh-rendahnya suara dalam ruangan. Donghae mengamati setiap geraknya. Senyum lelaki manis itu pada Sungmin terlihat manis. Menyadari kegilaannya menyukai memandangi lelaki manis itu, ia segera mengarahkan pandangannya ke Haru dan menghela napas panjang.

How many dreams will end?

How long I can pretend?

Kenapa dalam benaknya tiba-tiba mengingat lagu itu? Donghae memegang kuat-kuat air mineral gelasnya. Ia hampir meremukkan benda itu. Tentu saja ia bukan orang yang benar-benar bodoh. Ia sadar, sangat mustahil mengindari keinginannya melihat lelaki manis itu. Matanya berkhianat. Brengsek!

.

.

.

Hyukjae melirik lelaki yang sedang menatap lurus ke deretan peserta. Hatinya ingin menjerit kesal. Gema kekesalannya bergeretak dalam batinnya. Mata mereka sempat bertemu dan Hyukjae semakin kesal melihat tatapan mata sendu itu. Membius.

"Sepertinya Haru mempunyai peluang besar," bisik Sungmin di sebelahnya.

Hyukjae lekas mengalihkan matanya dan mengangguk. "Iya. Dia berbeda dengan yang lain."

Lalu, Sungmin menyikut pelan sahabatnya sambil melirik ke arah laki-laki yang duduk di dekat satu baris dengan mereka. "Kau sudah menyapa Donghae?"

"Haruskah?" Hyukjae acuh tak acuh.

"Ya! Donghae, kan, ayahnya Haru." Sungmin hampir tergelak mendengar tanggapan sahabatnya. "Tidak ada urusan pribadi disini, Hyuk."

Hyukjae tidak menjawab. Ia kembali melirik Donghae, tetapi tidak bergerak di tempatnya. Memang tidak ada urusan pribadi disini. Tapi, ia tidak ingin menyapa atau bersuara dengan lelaki itu. Rasanya, ia masih tersisa luapan amarah yang belum terselesaikan saat ia menginginkan Donghae menjauh darinya. Dan luapan itu bisa tumpah kapan saja.

Satu jam pertama lomba telah usai. Sebagian anak ada yang masih menggambar sketsa dasar, ada yang menangis karena tidak bisa, ada yang sudah mewarnai, dan ada yang corat-coret tidak jelas bentuknya. Suasana yang semula tenang, berubah ramai. Guru pendamping dan orangtua ikut sibuk memberi arahan pada anak-anaknya.

Haru adalah salah satu anak yang duduk tenang dimejanya. Pensil warna berganti-ganti cepat. Wajahnya tampak serius, tidak terganggu oleh riuh-rendah suara sekelilingnya. Matanya pun tidak beralih dari kertas gambar di depannya.

Hyukjae berusaha melihat lebih dekat meski tidak melewati batas guru pendamping. Dari garis-garisnya, ia tahu gadis kecil itu menggambar kupu-kupu dan bunga. Tema lomba gambar kali ini adalah mencintai alam. Untuk anak seusia Haru, gambar itu mewakili tema dengan sangat baik.

Saat mencium aroma parfum seseorang di sampingnya, Hyukjae terkesiap. Dilihatnya Donghae berdiri di sampingnya, memperhatikan putrinya. Jantungnya tiba-tiba berdegup cepat. Mereka sama-sama terdiam. Sama-sama memandang lurus kerah Haru.

"Dia menggambar kupu-kupu." gumam Donghae.

"Ya," jawab Hyukjae pelan.

Astaga! kenapa ia menanggapinya? Hyukje merutuki diri menyadari reaksi dirinya. Donghae menoleh padanya. Mereka sama-sama terdiam, saling memandang tanpa saling bicara. Darah Hyukjae mengalir lebih cepat. Mau tak mau, ia mengaku kalau terhipnotis aroma laki-laki itu dan juga tatapannya. Tubuhnya seakan membeku.

"Maaf, permisi." Seorang guru melintas di samping mereka.

Hyukjae segera tersadar dan mengalihkan pandangannya pada peserta lomba di hadapannya. Berusaha keras tidak memperdulikan lelaki di sampingnya. Ia tersenyum pada Haru saat gadis kecil itu menatapnya. Seperti biasa, Haru sangat manis. Darahnya masih berdesir, tetapi Hyukjae berusaha menenangkan diri.

Saat mendengar lelaki itu berbicara dengan seseorang di telepon, Hyukjae ingin tidak peduli, tetapi tidak dapat mencegah matanya untuk melirik. Wajah lelaki itu tampak serius membicarakan sesuatu dan agak menjauh. Percakapannya tidak lama. Donghae memasukan ponsel ke sakunya dan kembali menatap Haru. Hyukjae menyesali dirinya, kenapa bagitu peduli dan kenapa masih berdiri disana? Kenapa menikmati keseriusan wajah mantan suaminya? Gila!

Donghae terdiam, matanya kali ini tidak berpaling. Hyukjae gelisah terus berada disampingnya. Ada yang berdenyut di tubuhnya mengingat masa lalu mereka. Kehadiran Donghae dengan kenangan dalam situasi yang berbeda ini, memberikan efek emosi naik-turun. Sama seperti perasaan yang tumpang tindih dengan rasa sakit, kecewa, dan sisa amarahnya.

"Saya ke sana dulu." Hyukjae menunjuk tempat duduknya. Donghae mengangguk, memberinya jalan.

Hyukjae memejamkan matanya rapat-rapat. Ia sulit bernapas. Wangi parfum lelaki itu masih terasa, masih begitu kuat. Ini bukan tentang kupu-kupu, bukan tentang Haru. Ini tentang dirinya, perasaannya, dan Donghae. Matanya mengerjap seraya menarik napas dalam.

.

.

.

Peserta, guru pendamping, dan orangtua duduk menunggu keputusan lomba dengan wajah tegang. Ketua panitia lomba sedang memberikan kata-kata penutup sebelum mengumumkan pemenang lomba. Sebagian anak ada yang bercanda, membuat ruangan cukup ramai oleh suara mereka.

Saat pembacaan hasil lomba, Hyukjae merengkuh erat bahu Haru. Mendebarkan. Terlebih lagi, dari urutan juara harapan ketiga sampai juara ketiga disebutkan, nama Haru tidak disebutkan. Jantungnya terasa berhenti.

"Lee Haru, Chukkae!"

Hyukjae langsung memeluk Haru. Anak itu juga tampak tidak kalah gembira. Ruangan dipenuhi gemuruh tepuk tangan. Saat melepaskan pelukannya, Hyukjae bertemu pandang dengan Donghae yang tidak kalah bahagia. Lelaki itu mengucapkan "Terima kasih." lewat gerak mulutnya, tanpa suara.

Panitia menyuruh para pemenang untuk berdiri didepan. Haru tersenyum ceria di sana. Beberapa orangtua dan guru tampak memfoto mereka, termasuk Sungmin yang sebelumnya memberikan pelukan erat untuk anak itu. Lalu, ketua dewan juri membagikan piala, piagam, dan bingkisan untuk masing-masing pemenang.

"Kau sebagai gurunya juga menang, Hyuk." ujar Sungmin dengan senyum sumringah.

Hyukjae menggeleng. "Haru punya kemampuan, Ming. Dia menjadi pemenang atas kemampuannya sendiri." Ia tidak dapat menahan air mata haru melihat Haru memegang piala dang piagamnya.

Donghae memeluk putrinya, menciuminya, dan menggendongnya. "Hebat anak Appa!" Diciumnya sekali lagi. Haru membalas pelukannya dengan mata penuh binar gembira.

"Selamat ya, Haru!" Hyukjae mengusap pipi bulat itu.

"Gomawo, Sonsengnim." Haru masih menggelayut manja dalam pelukan ayahnya.

"Appa mau kasih hadiah buat Haru. Terus, kita makan es krim. Mau?" Donghae menarik hidung mungil itu pelan.

Haru mengangguk. "Sama Sonsengnim juga, ya?"

Donghae terkejut mendengar permintaan itu. Tidak mengucapkan apa-apa.

Hyukjae tidak kalah tercengang, bingung memberi jawaban. Ia menatap Sungmin, tetapi sahabatnya mengendikkan bahu. Namun, ia tahu, kali ini tidak bisa menolak permintaan gadis kecil itu. Senyumnya terulas.

.

.

.

Namun, Tuhan bisa membaca apa yang tak bisa dibaca oleh pandanganmu.

Haru berdiri di depan sebuah rak tinggi dan besar berisi bermacam-macam boneka. Bola matanya bergerak dari sudut ke sudut, mencari boneka yang diinginkannya. Mulut mungilnya belum mengucapkan apa pun. Sorot matanya menggambarkan kebingungannya. Donghae meraih boneka singa kecil dan menyodorkan padanya, tetapi anak itu menggeleng. Begitu juga saat disodorkan boneka panda. Donghae berjongkok di sampingnya, berbicara sesuatu sambil menunjuk boneka-boneka. Donghae tertawa sambil mengalungkan lengan di leher ayahnya.

Siapa sebenarnya lelaki yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri itu? Hyukjae menatap keduanya dengan kedua tangan terlipat di bawah dada. Matanya tak percaya bahwa lelaki itu adalah Donghae, mantan suaminya. Dari mana Donghae mendapatkan kelembutan, perhatian, dan sifat kebapakannya? Dongahe yang Hyukjae kenal, tidak menyukai anak-anak. Dia bukan tipe orang yang begitu melihat anak-anak langsung tersentuh dengan kelucuannya. Bahkan, dia akan menghindar. Bagi Donghae, seorang anak adalah ancaman. Dengan tangisnya, jeritannya, rengekannya. Donghae tidak pernah mengatakan jelas kenapa, hanya itu yang selalu dikatakannya dulu.

"Kemana kondom-kondomku, Hyuk." tanya Donghae seraya mengaduk-aduk isi laci lemarinya.

"Bisa kita melakukannya tanpa kondom?" Hyukjae menatap serius suaminya. "Aku sudah berhenti minum pil penunda kehamilan sejak dua minggu yang lalu." Ya, walaupun Hyukjae seorang lelaki, tetapi dia mempunyai potensi untuk mengandung. Karena dia adalah lelaki spesial. Dan Donghae sudah mengetahui hal tersebut.

"Apa?" Mata Donghae menyipit. Ditutupnya laci agak kasar. "Kenapa tidak bilang dulu denganku? Kau selalu mengambil keputusan sendiri!"

"Aku juga ingin seperti yang lain, Hae. Aku ingin merasakan hamil, melahirkan, merawat anak. Kau yang tidak memikirkan perasaanku!" Hyukjae merasakan luapan kekesalan memandang wajah dingin tanpa rasa bersalah dihadpannya.

"Aku usdah bilangm Hyuk. Kita akan punya anak! Tapi, tidak sekarang! Aku butuh waktu!"

Hyukjae tersenyum getir. Donghae tidak membutuhkan waktu, tetapi waktu yang memilih saatnya. Anak itu hadir bukan dari rahimnya. Dan, kini Hyukjae mendapati dirinya dalam suasana hati yang aneh—seperti mimpi. Dulu, ia pernah meminta Tuhan untuk membukakan hati lelaki itu. Sayangnya, jawaban-Nya terlampau jauh rentang waktunya.

"Hmm... kalau begitu boneka monyet saja." Donghae mengambil boneka monyet dari rak, membawa kedepan anaknya.

"Shirreo! Matanya serem!" Haru menepis boneka itu dan menutup matanya sendiri dengan kedua tangan.

"Kenapa serem? Lucu, kan?" Donghae mengamati boneka itu.

"Matanya hitam, Appa!" Haru menunjuk mata boneka itu seraya menggerak-gerakkan kakinya, hendak menangis karena takut.

Donghae mengernyit. "Kalau matanya putih, nanti seperti hantu."

"Hiiiii!" Haru bersembunyi dibahunya.

Hyukjae menahan tawa mendengarnya. Ia sudah sering melihat adegan seperti ini di banyak film, dan ia pikir, ia mengerti. Tetapi, sekarang, Hyukjae tahu, ia sama sekali belum memahami. Bagaimana seorang Ayah menghibur putrinya. Bagaimana lelucon sederhana membuat tawa. Dadanya tiba-tiba menghangat. Ia merasakan tengah berada diujung pintu masuk sebuah dunia yang terpisah dari masa lalunya. Di depannya, bagaimana panggung pementasan drama, dengan dua orang itu berada ditengah dalam pencahayaan hijau kecoklatan. Oh Tuhan, ada apa dengan perasannya?

"Sonsengnim, Haru pilih boneka yang mana?" Haru kini berdiri didepannya.

Hyukjae mengikuti langkah anak itu ke rak. Ia mengamati satu-satu boneka disana dan mengambil salah satunya. "Kalau boneka beruang ini? Cantik, ada pitanya." Ia menyodorkan boneka beruang putih berpita merah muda.

"Wah... Ne, Yeppeo!" Haru langsung memeluk boneka itu.

Hyukjae mengusap rambut Haru sekilas, lalu kembali menegakkan tubuhnya. Tanpa sadar, ia menoleh dan mendapati Donghae sedang tersenyum, tipis padanya. Hyukjae tidak tahu emosi macam apa yang hadir dalam dirinya. Ia membalas senyum itu singkat, kemudian mengajak kedua orang itu ke meja kasir. Dalam hati, Hyukjae berharap emosi atau perasaan apa pun yang sempat hadir hanyalah ilusinya.

.

.

.

Kedai es krim sore itu cukup sepi. Hanya ada beberapa orang sedang mengobrol di sudut ruangan dan seorang perempuan asyik sendiri membaca buku di meja sebelah. Hyukjae menikmati es krim blue sensation—rasa mint, cokelat chip dan wafer—sambil berusaha menghiraukan sepasang ayah dan anak yang duduk berhadapan di sampingnya. Keduanya juga sedang menikmati es krim masing-masing sehingga tidak terdengar suara apa pun di meja mereka. Namun, dibalik sikap tenangnya, Hyukjae cemas. Cemas akan dirinya. Cemas tidak akan bisa menghadapi hal-hal tak terduga.

Hyukjae menahan napas ketika Donghae bergerak mengusap es krim disekitar mulut Haru. Bentuk-bentuk perhatian kecil yang jarang ada dalam diri lelaki itu sebelumnya. Donghae adalah orang yang tidak mau peduli hal remeh-temeh. Kalau bisa diselesaikan dengan telepon, bayar, dan beres, kenapa harus repot. Namun, bagaimana Donghae mematahkan wafer dari gelasnya menjadi kecil-kecil dan memasukannya ke es krim cokelat putrinya benar-benar tidak pernah dibayangkan. Sebelah tangan Haru memeluk boneka beruangnya, sementara tangan yang lain menyendok es krim. Hyukjae tersenyum padanya

"Sonsengnim, eskrimnya rasa apa?" Tanya Haru.

"Mint." Hyukjae menggeser gelasnya ke Haru. "Mau?"

"Mint itu rasanya seperti apa?" Haru melihat es krim dalam gelas Hyukjae yang belum banyak berubah bentuknya itu.

"Mint itu dingin, Sayang. Ada pedesnya seperti permen." ujar Donghae.

Haru penasaran dengan es krim itu. Ia menyendok sedikit dan wajahnya mengerut. "Rasanya aneh." Anak itu menjauhkan gelas itu sambil menggeleng.

Hyukjae tertawa kecil melihatnya. Menggemaskan sekalin. Bersama Haru memang menyenangka. Terasa ada sesuatu yang menarik untuk terus dinikmati. Menatapnya membuat takjub, yang menghadirkan kasih sayang. Benarkah ini sebuah perasaan sayang? Namun, ia adalah seperti kebanyakan orang lain. Ia pernah menikah dan pernah begitu menginginkan buah hati. Ironisnya, ia jatuh cinta pada anak ini.

"Sonsengnim, mau coba es krim Haru tidak?" tanya Haru dengan nada sedikit manja.

"Mau." Hyukjae mengangguk.

"Tapi, Haru suapi, Ne?"

"Boleh."

Haru menyendok es krim dari gelasnya, lalu menjulurkan ke mulut gurunya itu. Tetapi karena tangan mungil itu bergerak terlalu cepat, es krim yang sudah cair jatuh ke bajunya.

"Sebentar, saya ambilkan tissu." Donghae beranjak dari kursinya.

"Tidak usah. Biar saya ambil sendiri." Hyukjae ikut berdiri.

Donghae bergerak lebih dulu ke meja sebelah, lalu meletakkan kotak tisuu di meja mereka. Diambilkannya beberapa lembar dan diulurkannya ke Hyukjae. "Ini."

Hyukjae menatap dingin. Ia mendiamkan tissu di tangan lelaki itu dan dengan cepat mendorong tempat tissu ke arahnya. Namun, ia tidak melihat gelas es krim Donghae berada di samping kotak tissu. Gelas itu miring tanpa bisa dicegah, melewati batas meja, jatuh ke pangkuan Donghae. Sebagian mengotori bajunya, sementara sisa yang lain tumpah dicelana.

Hyukjae membeku di tempatnya melihat kemeja Donghae berubah kecokelatan dibagian depan. Pandangan mereka bertemu. Tubuh Hyukjae kaku. Pikirannya tiba-tiba kosong.

Donghae tersenyum geli memperhatikan istrinya yang sedang membersihkan pakaiannya dari tumpahan saus steak. "Aku baru tahu kalau aku sebegitu tampannya, sampai-sampai kau terpesona."

Hyukjae mendongak, menatap jengkel lelaki itu. "Ya! Percaya diri sekali! Kau sendiri yang memintaku untuk memotongkan dagingnya, lalu mengagetkanku!"

"Kau kaget ketika aku bilang, kau seksi malam ini?" Donghae berkata pelan pada Hyukjae yang kini berdiri disampingnya, membilas saputangan di wastafel. Mereka berada di tempat cuci tangan sebuah restoran. Donghae mengecup leher istrinya. "Tapi kau memang seksi memakai pakaian ini. Membuatku ingin segera kembali kerumah."

Hyukjae mendorong sedikit tubuh suaminya, membuat lelaki itu serta merta tertawa dan ia bertambah jengkel. "Nanti dulu, Hae. Aku belum memberi hadiah untukmu sebagai ucapan selamat karena kau dapat proyek bagus, kan?"

"Kau saja sebagai hadiahnya," bisik Donghae.

Hyukjae berkedip, menyadari dirinya hanyut dalam memori itu. Mulutnya terkatup. Wajahnya memerah. Napasnya tercekat dan denyut nadinyan menguat.

Donghae sendiri tampak terkejut. Ia terpaku menatap wajah tegang Hyukjae. Dingin es krim menyentuh kulitnya. Tahu mereka di tatap oleh pelayan dan pengunjung lain, Donghae lekas membenahi es krim dicelananya dan melangkah ke kamar mandi.

Masih dengan sisa keterkejutannya, Hyukjae berusaha duduk tenang. Ia mengira dirinya sudah bisa mengatasi situasi dengan cukup baik. Tetapi, sekarang ia resah. Sayangnya, ada rasa yang lupa ia singkirkan lebih dulu. Dan, mengingat kebersamaan mereka memunculkan kembali rasa tersebut.

.

.

.

Tidak ada suara di dalam mobil. Haru terlelap di jok belakang setelah lelah berceloteh panjang. Radio yang sengaja dikecilkan terdengar seperti bisik-bisik. Udara yang masuk dari jendela karena pendingin rusak, seperti membekukan kedua orang yang duduk berdampingan sama-sama menatap lurus kejalan kompleks perumahan. Lampu merkuri menerangi wajah keduanya, tampak datar dan gusar.

Donghae bertanya-tanya, sampai kapan situasi antara dirinya dan Hyukjae seperti ini. Harum lelaki manis itu mengusiknya, tetapi ia tetap tenang mengendarai mobil. Mulutnya tertahan saat ingin mengucapkan sesuatu. Bukan saat tepat memulai percakapan. Donghae pun tahu, Hyukjae akan menolak seberapa pun kerasnya berusaha. Mungkin, sebaiknya ia menunggu hingga Hyukjae yang melakukannya.

Ketika Hyukjae mengalihkan pandangan, Donghae melirik mengawasinya. Rambut lembutnya terlihat mengilat terkena cahaya. Kedua tungkainya yang dibalut jeans abu-abu bertumpuan, memperlihatkan sikap duduk tenang. Donghae ingat, setiap marah, Hyukjae selalu seperti itu. Diam. Tenang. Tidak ingin menunjukkan gejolak amarahnya. Hyukjae selalu membuat Donghae hampir gila jika berhadapan dengan dirinya seperti ini.

Donghae fokus pada jalan yang mengecil supaya tidak menyerah pada dorongan untuk memulai sesuatu dengan lelaki manis itu. Ia ingin menatap sepasang mata bulat itu. Ia ingin melihat Hyukjae tersenyum. Tuhan, ia banar-benar tidak tahu apa yang membuat keinginan-keinginan itu hadir. Benar kata Hyukjae, mereka bukan siapa-siapa lagi, lalu mengapa harapan lain hadir? Apakah sejauh ini rasa bersalah membawanya?

Donghae meragukanya. Tetapi, ia berusaha keras bahwa itulah alasannya. Ia sendiri tidak punya gambaran jelas apa yang sebenarnya ia inginkan. Sekedar maaf atau bukan itu. Satu fakta yang ia ingat, mereka mantan suami-istri. Mereka saling mengenal dan tahu apa yang membuat mereka tidak bisa bersama.

Mobil terhenti didepan rumah berpagar hitam. Donghae tentu tahu betul itu rumah Bibi Jang. Mereka sempat menginap disana saat liburan natal ditahun pertama pernikahan. Lampu merkuri tidak seluruhnya menyala, membuat jalan lebih remang daripada beberapa tahun lalu.

"Terima kasih." ujar Hyukaje pelan dan datar tanpa menatapnya. Kemudia, ia keluar dari mobil.

Donghae melihat punggung lelaki manis itu menjauh ke pintu pagar. Hyukjae tidak berbalik lagi untuk sekedar melambaikan tangan atau memberikan senyuman. Tubuhnya menghilang di balik pagar. Donghae menghembuskan napas panjang dan berat. Aroma manis Hyukjae tertinggal didalamnya. Matanya terpejam sesaat, menikmatinya, lalu ia kembali menjalankan mobilnya.

Ada apa dan kenapa sebenarnya dengan semua ini? Donghae merasa kenyataan membawa alur hidup mereka pada sebuah garis tipis, yang membuat salah satu atau keduanya terperosok. Dan ia tidak pernah tahu, siapa yang ditentukan sang waktu jatuh lebih dulu.

.

.

TBC

.

.

Hai^^ balik lagi hihihi~ Aku mau minta maaf karena bab kemarin tenyata typonya banyak banget. Semoga di bab ini typo mulai berkurang. Kalau typo masih banyak juga mungkin bakal dapet julukan miss typo /.\ Dan juga, aku mau minta maaf, sepertinya ini bakal dijadiin mpreg. Semoga teman-teman tidak keberatan. Terima kasih atas review kalian^^

.

.

.

Big Love

Cutie Monkey