Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Cerita terasa datar dan membosankan!

Tidak suka? Silahkan tinggalkan fic ini sekarang juga. Terima kasih.


"Kau sudah mau pulang, Kakashi?" Sakura mematikan keran air di wastafel. Kakashi memasukkan jas putih ke dalam tasnya.

"Iya," jawab Kakashi. Sakura mendekatinya dan memberikan kecupan hangat di pipi Kakashi.

"Kau terlihat murung." Sakura memainkan rambut Kakashi. Kakashi menggenggam tangan Sakura yang kini tengah bermain-main dengan rambut peraknya.

"Tidak. Hanya... lelah, mungkin." Kakashi tersenyum pada Sakura.

"Pulanglah kalau begitu. Aku tak akan memaksamu mengantarku besok," ucap Sakura.

"Tak apa. Aku antar." Kakashi berjalan ke luar apartemen Sakura sambil menjinjing tas dokternya. Sakura menyandarkan dirinya pada kusen pintu. Tersenyum.

"Tak perlu mengantarku sampai ke luar. Lagipula ini di lantai lima. Tidurlah," ucap Kakashi. Kakashi berdiri di depan pintu apartemen milik Sakura, ia menatap kekasihnya yang sedang menguap dan mengangguk.

Setelah memastikan punggung Kakashi menghilang dari pandangannya, Sakura masuk ke dalam apartemen dan bersiap untuk tidur.

.

Kakinya melangkah menjauhi apartemen Sakura. Ia berbelok ke sebelah kanan lorong. Lift berada jauh di depannya. Ia pun melangkahkan kakinya ke arah lift yang sedang ditunggu oleh banyak orang.

Ia berjalan menuju mobil hitamnya yang terparkir di halaman bangunan itu.

Angin dingin di malam hari menyentuh lehernya. Ia mengangkat bahunya.

Kedinginan.

Ia membuka pintu belakang mobilnya, menyimpan tas hitamnya.

Kakashi mendesah pelan ketika kemudi mobil sudah berada di hadapannya. Ia menekan kedua pelipisnya dengan ibu jari dan telunjuk tangan kanan.

Ia memutar kunci mobil. Mobil itu bergetar pelan.

Kakashi memundurkannya perlahan, lalu ia menginjak pedal gas dan menyatu dengan kegelapan malam.


Kakashi memasukkan mobilnya ke garasi khusus untuk pemilik apartemen. Ia menutup pintu mobil dengan keras, dibawanya tas hitam berisi jas putih dan alat-alat kedokteran miliknya.

Apartemen miliknya ada di lantai empat nomor 113. Kakashi menarik sebuah benda perak dari sakunya. Dimasukkannya benda itu ke sebuah lubang. Diputar...

Cklek.

Kakashi memutar kenop itu dan mendorong daun pintu dengan perlahan.

Gelap.

Oh, tentu saja! Kakashi pergi dari pagi dan baru kembali pukul 10 malam ke apartemen-nya. Otomatis, tidak ada yang akan menyalakan lampu-lampu apartemen-nya. Kecuali Sakura mungkin, itu juga jika ia mampir ke apartemen milik Kakashi.

Kakashi meraba-raba dinding di sebelahnya, mencari saklar untuk menyalakan lampu ruang tamunya.

Klik.

Seketika lampu-lampu menyala.

Tidak.

Bukan Kakashi yang menyalakannya.

Ada seseorang di sana.

Siapa?

Kakashi membelalakan matanya.

Orang itu tersenyum sinis.

"Kau tidak merindukanku, Kakashi?" Orang itu mendekati Kakashi dan melingkarkan tangannya pada leher Kakashi.

Kakashi menoleh padanya.

"Mau apa kau?"

Orang itu melepaskan rangkulannya.

"Begitukah sikapmu padaku setelah bertahun-tahun tidak bertemu? Jahat sekali!" Kakashi melihatnya berkacak pinggang.

Kakashi melangkah melewatinya begitu saja. Ia membuka pintu kamarnya dan menutup pintunya begitu saja.

Kekecewaan sekilas terlihat di iris birunya.


Sakura membuka pesan singkat yang dikirimkan oleh sang sahabat padanya.

Aku ada di belakangmu.

Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. Jika ia tidak tahu siapa yang mengirim sms ini, ia pasti sudah menjerit dan melempar ponselnya. Ya, Sakura memang paranoid.

Sakura membalikkan badannya.

"SAKURAAAAAAAAAAAA!"

"Ino!"

Ino menerjang Sakura saat itu juga. Mereka menjadi pusat perhatian di dalam kantin rumah sakit itu sesaat.

"Pig, kau bilang baru akan sampai jam satu siang! Sekarang baru jam 10, dan... sepertinya aku tak perlu ke bandara. Ya, kan?" Sakura membawa Sushi ditangannya. Mereka menuju meja berkursi dua di pojok ruangan.

"Tentu saja. Yah... mungkin jika kau akan menjemput seseorang selain aku." Ino mengangkat kedua bahunya.

"Kau sangat cocok memakai jas dokter itu," ucap Ino saat ia telah duduk berhadapan dengan Sakura.

"Terima kasih. Ngomong-ngomong, kau tidak makan?" Sakura memasukkan potongan sushi-nya ke dalam mulut.

Ino menggeleng. "Tidak, aku sudah sarapan tadi pagi. Dan sekarang masih jam 10 pagi jika kau mau tahu, Sakura." Ino melipat kedua tangannya di depan dada.

"Aku lapar."

"Kau harusnya bekerja pada jam segini, kan? Dasar makan gaji buta!" ucap Ino.

"Enak saja! Aku sudah mengobati pasien sejak jam 8 tadi!" Sakura mengacungkan sumpitnya kepada Ino. Otomatis Ino memundurkan tubuhnya, menghindari serangan bertubi-tubi yang didatangkan oleh Sakura.

"Kapan kau akan selesai makan, dokter?" Ino menatap Sakura dengan malas.

"Sebentar." Sakura memasukkan potongan terakhir ke mulutnya.

Ino mendengus.

"Ayo cepat, jidat! Kita ke rumahmu sekarang!" Ino menarik tangan Sakura. Sakura menaruh gelas minumannya ke atas meja dengan secepat kilat.

"Apa maksudmu?" Sakura menggosok mulutnya yang berair dengan punggung tangannya.

"Aku masih harus bekerja, pig! Silahkan ke apartemenku sendirian, aku mau menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu. Pasienku lumayan di akhir minggu ini, Ino." Sakura melepaskan tangannya dari genggaman Ino.

Ino merengut. "Haaah... menyebalkan. Ya sudah, aku tunggu kau pulang!"

"Kau mau tunggu aku di mana, bodoh? Aku pulang jam lima sore," ucap Sakura.

"Tentu saja di ruanganmu, jidat. Tidak apa-apa, aku akan menunggumu selama apapun." Sakura mengangkat bahunya.

Mereka berdua berjalan ke ruangan Sakura.

.

"Kantormu bagus." Ino memandang sekelilingnya.

Ruangan itu bercat biru tua. Gelap tapi menenangkan.

Dinding sebelah kanan ditutupi oleh poster berisi gambar dan penjelasan tentang anatomi tubuh manusia.

Tempat tidur pasien ada di sebelah kirinya.

Ino menatap Sakura dan berkata, "masih ingat Sasuke, eh?" Ino melirik dinding bercat biru tua itu.

Biru identik dengan Sasuke.

"Cat itu bukan aku yang minta." Sakura membereskan mejanya yang dipenuhi dengan kertas-kertas selagi Ino menyelidiki ruangan dokternya.

"Ngomong-ngomong, kau jadi dokter apa?" ucap Ino. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memerhatikan Sakura.

"Dokter umum." Ino mengangguk-angguk mendengar jawaban Sakura.

"Karena kau datang sebelum aku jemput, aku harus menelepon kekasihku dan mengatakan tidak jadi –hei! Kau dengar tidak, Pig?" ucap Sakura.

Ino mengalihkan pandangannya dari poster anatomi manusia, "iya, aku dengar. Tidak jadi apa?"

"Tidak jadi menjemputmu," ucap Sakura.

Sakura mengambil benda kecil dari kantungnya. Memencet tombol-tombol benda itu, dan menaruh benda itu ke telinganya.


"Kau menginap di mana, Pig?" Sakura menatap Ino yang berada di balik kemudinya.

"Di apartemenmu," ucap Ino.

"Nani? Dasar kau ini! Baik, berarti sekarang ke apartemenku," ucap Sakura.

"Sudah kulakukan dari tadi, Dokter. Aku sedang membawamu pulang kan, Jidat!"

Sakura mendengus.

Mereka berada di dalam mobil ungu milik Ino.

Ino adalah sahabat terbaik Sakura sejak kecil. Sejak mereka berumur tiga tahun tepatnya.

Mereka bersekolah di sekolah yang sama dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah.

Saat di bangku Sekolah Menengah Atas, Sakura dan Ino bertemu dengan Sasuke. Mereka bersaing untuk mencari perhatian sang pangeran sekolah saat itu.

Sebenarnya, saat itu mereka tidak bisa disebut bersaing. Mereka bekerjasama untuk mendapatkan informasi-informasi penting mengenai si casanova.

Seperti... apa warna kesukaan Sasuke atau makanan favorite-nya. Mereka mengetahui bahwa Sasuke menyukai warna biru, dan makanan kesukaannya adalah tomat.

Tapi... pada suatu hari Sasuke menarik tangan Sakura dan berkata bahwa mulai saat itu Sakura adalah kekasihnya.

Ino tidak marah dan malah memberikan selamat pada Sakura.

Sejak saat itu, Ino mencari laki-laki lain yang lebih keren dari Sasuke dan memacarinya.

.

Ino mengambil koper putihnya di dalam bagasi mobil, ia menarik koper itu dan mendekati Sakura yang berada di lobi apartemen.

"Jadi? Di mana kamar apartemenmu?" tanya Ino.

"Di lantai lima, ayo!" Sakura berjalan sedikit di depan Ino. Mereka berjalan menuju lift, Sakura menekan tombol dengan gambar panah yang menunjuk ke atas.

Pintu lift terbuka, Ino masuk terlebih dahulu diikuti oleh Sakura. Ino bergeser, memberi tempat pada Sakura.

"Lima, kan?" Sakura mengangguk. Ino memencet tombol lima.

.

"Kamar di sini hanya ada satu, yaitu kamarku. Berarti... kau tidur di kamarku." Sakura memencet saklar lampu ruang tamu sekaligus ruang keluarga dalam apartemennya.

Ino mengangguk. "Baik, tunjukan kamarmu, dokter!"

Sakura membuka pintu di sebelah televisi yang digantung di dinding. "Ini..."

Sakura menyalakan lampu kamarnya. "Biru lagi. Kau yakin sudah melupakan Sasuke, Sakura?" Ino memerhatikan cat dinding yang dipakai dalam ruangan itu. Biru dan merah muda.

"Tentu saja sudah, Ino. Lagipula... istilahnya bukan melupakan, tapi menghilangkan rasa sukaku padanya," ucap Sakura. Ino mengangguk.

.

"Yey!" ucap Sakura. Ino yang sedang meletakan piring di depan Sakura hanya menggeleng.

"Kau tahu, makanan buatanmu adalah makanan paling enak di dunia!" ucap Sakura sambil mengacungkan garpunya ke depan muka Ino.

"Terima kasih, Sa– " Ucapan Ino terpotong oleh suara ketukan pintu.

"Biar aku yang membukanya," ucap Sakura.

Sakura berlari kecil ke arah ruang tamu. "Sebentar!" ucapnya.

"Kakashi!" teriak Sakura. Kakashi tersenyum dan memeluknya.

"Kupikir... akan lebih baik jika kemari terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah," ucap Kakashi. Sakura mengangguk dalam pelukannya.

"Ah! Ada sahabatku di sini," ucap Sakura dengan semangatnya.

"Apakah dia yang memintamu untuk menjemputnya?" tanya Kakashi.

"Ya. Orang yang sama. Ayo! Aku akan mengenalkanmu padanya." Sakura menarik tangan Kakashi ke ruang makan.

"Pig! Kekasihku datang!" teriak Sakura.

"Uhuk... uhuk..."

"Pig, kalau minum jangan terburu-buru! Ini." Sakura menyerahkan segelas air putih pada Ino.

"Terima kasih," gumam Ino.

Kecanggungan tercipta diantara mereka.

Melihatnya lagi rasanya seperti mati perlahan-lahan. Kakashi adalah orang terakhir yang ingin Ino temui di dunia ini. Rasa sakit kembali menderanya.

Rasa sakit yang sempat hilang kini datang kembali, membawa serta segala kenangan bersama Kakashi.

Ia tidak menyangka Sakura memiliki hubungan dengan mantan kekasihnya.

"Ehem," Sakura berdeham.

"Kakashi, ini Ino. Sahabatku," ucap Sakura.

Kakashi mematung.

"Er... Kakashi?" ucap Sakura.

Ino mendengus.

"Hai, Kakashi. Sudah lama tidak berjumpa," ucap Ino sambil tersenyum sinis.

Kakashi mengangguk. "Ya, sudah lama sekali."

Sakura menatap Ino dan Kakashi bergantian. "Lho? Kalian sudah saling mengenal? Kenapa tidak ada satupun dari kalian yang memberitahuku?" tanya Sakura berturut-turut.

Hening.

"Aku duluan." Ino bangkit dari kursinya dan meninggalkan Kakashi juga Sakura dalam keheningan.

Sakura menatap Kakashi. Mencari sesuatu yang mungkin dapat ia temukan.

"Ada apa?" tanya Sakura.

Kakashi menggeleng.

"Sakura." Kakashi mengelus lembut pipi Sakura. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura.

"Aku mencintaimu."


To Be Continue


Author's Note:

Hallo, semua \(^o^)/ saya baru balik dari masa Hiatus! Saya udah selesai UN sekarang! Wuihiiiii~

Fic ini memang datar dan membosankan T_T Gomeeeeeeeeeeeeeeeeeen T_T

Mohon bimbingannya, senpai!