Naruto milik Masashi Kishimoto

Warning: Lime di akhir chapter

Enjoy


Ino menutup pintu kamarnya perlahan. Pertemuan tak terduganya dengan Kakashi membuat jantungnya lepas. Ino menarik napasnya, mencoba mengatur detak jantung yang tak karuan.

Gila. Ini gila!

Rasa rindu, marah dan sakit yang telah lama ia pendam di palung hatinya yang paling dalam mulai merangkak keluar. Ino meremas kerah kemejanya, mencoba bernapas dengan segala upaya. Ia terisak. Air mata sudah berkumpul, siap untuk keluar.

Namun Ino tak akan pernah mengizinkan.

Ino mengatur napas.

Satu

Dua

Tiga

Ingat ucapan Dokter Tsunade. Berhitung sebanyak mungkin ketika otakku yang keparat ini mulai teringat pada Kakashi sialan.

Empat

Aku. Tak. Bisa.

Lima

Aku harus bisa

Enam

Tok tok tok

Ino terkesiap. Tanpa berpikir, ia langsung memutar kenop pintu yang sejak tadi dipegangnya.

"Ha-Hai."

Ino mengerjap.

Kenyataan kembali masuk ke dalam pikirannya saat melihat Sakura yang memakai sundress ungu di hadapannya.

"Mengapa kau menyapaku dengan garing begitu, Jidat?" ucap Ino sambil berkacak pinggang.

Semoga wajahku tidak merah.

Sekalipun merah, semoga si bodoh ini tidak berpikir yang macam-macam.

"Oh! Aku hanya khawatir. Kau meninggalkan kami dengan terburu-buru, jadi... kupikir... mungkin kau sakit atau..." Sakura mengangkat bahunya. Ino menggeleng.

"Aku baik-baik saja. Aku boleh tidur duluan, kan? Aku tidak ingin menganggumu dengan Kakashi. Menjadi orang ketiga kan tidak enak, Sakura," ucap Ino.

Sakura mengangguk. "Baiklah. Oke, kau istirahat saja, Ino. Pintu ini... biar kututup ya."

Ino mengangguk dan tersenyum pada Sakura.

Ia menghela napas lega. Setidaknya, walaupun Sakura menyadari ada hal yang tidak beres, ia tidak membahasnya sekarang.

3 tahun aku bersamanya, dan pada suatu hari aku mengacaukan semuanya.

#

Sakura membalikan badannya. Semua ini terasa membingungkan bagi dirinya yang tak tahu apa-apa. Semenjak bertemu dengan Ino barusan, Kakashi menjadi diam, bahkan mungkin ia tak bergerak sedikitpun semenjak Sakura meninggalkannya untuk melihat keadaan Ino.

"Kau punya pertanyaan."

Ini dia Kakashi yang ia cintai.

"Dan... kau akan menjelaskannya?"

Kakashi menatap Sakura. Mata hitamnya redup dan itu membuat hati Sakura perih.

Apa yang terjadi di antara Kakashi dan Ino?

Apa yang dilakukan oleh Ino sampai bisa membuat Kakashiku terlihat begitu... sedih?

Rasa cemburu menggerogoti hatinya.

Apa. Yang. Dilakukan. Oleh. Ino. Sehingga. Kakashi. Begitu. Terlihat. Merana?

Sakura memalingkan wajahnya. Ia tak mau melihat Kakashi. Ia tak sanggup melihat kekasihnya merana karena wanita lain.

Sahabatnya! Astaga... apa yang terjadi di antara mereka?

"Aku... tidak. Kumohon. Jangan sekarang Sakura." Kakashi menunduk. Tak mampu melihat Sakura yang sedang sekuat tenaga berusaha untuk tenang dan memendam entah perasaan apa yang melandanya saat ini.

"Ya." Suaranya tercekat.

Kakashi mengangguk. Ia mengusap wajahnya.

Entah dosa apa yang telah kuperbuat sehingga hari ini aku bertemu dengan wanita itu lagi. Di depan Sakura.

Well, tambah lagi satu alasan bagiku untuk tidak memaafkannya.

Kakashi berjalan mendekati Sakura yang berdiri di tengah ruangan. Kakinya terasa kaku. Ia tak mampu membohongi dirinya sendiri.

Tak mampu untuk meyakinkan dirinya bahwa ia baik-baik saja. Bahwa tadi adalah kejadian biasa. Bahwa Yamanaka Ino hanyalah sahabat dari kekasihnya.

Kakashi menggenggam tangan Sakura yang dingin.

Tetapi Sakura tak membiarkannya memegang terlalu lama, ia menarik tangannya kembali.

"Kumohon. Jangan. Kau tidak perlu menenangkanku. Aku hanya butuh jawaban, Kakashi. Apa yang terjadi? Beritahu aku hal yang selama ini kau sembunyikan. Dia sahabatku Kakashi. Aku berhak untuk tahu."

Tangan Sakura memegang wajah Kakashi, mengarahkannya untuk berpaling dan melihat Sakura.

"Onegai... aku... tolonglah, Kakashi."

Kakashi tak kuat menatap matanya.

Dulu mata itu bagaikan morfin untuk rasa sakit yang ia rasakan. Namun sekarang, mata itu tak mampu menghilangkan rasa itu. Sumber dari rasa sakitnya begitu dekat.

Luka di hatinya membuka, memerah dan membengkak. Lagi.

Rasanya seperti kemarin.

Kakashi mengangguk. Ia memegang tangan Sakura yang membelai wajahnya. Kakashi menatap Sakura dengan lembut.

"Terima kasih."

Sakura mengernyit.

Kakashi keluar dari apartemennya.

#

Hening menyelimuti mereka.

"A-"

Sakura menghela napas.

Ia bingung bagaimana memulai percakapan dengan Ino agar tidak canggung.

Mereka berdua sedang terbaring di tempat tidur sekarang, menghadap langit-langit.

"In-"

"Kau sedang pacaran dengan Sasuke, Sakura."

"Eh?"

"Kau sedang pacaran dengan Sasuke saat aku bertemu dengannya. Kakashi."

Sakura menatap Ino. Mencoba memproses informasi yang baru saja diterimanya.

"Aku bertemu dengannya di Rumah Sakit saat ia masih menjadi intern. Aku sakit dan dirawat, lalu ada dua orang masuk ke dalam kamarku. Ahli bedah bersama 'pengikut'nya. Si Kakashi ini. Setelah itu, aku banyak bertemu dengannya. Hal yang selanjutnya kutahu adalah kami sering berhubungan dan menjadi semakin dekat.

Saat itu dia 22 tahun, Sakura. Dia masih sama polosnya denganku jika boleh kubilang begitu. Sekolah Kedokteran membuatnya tidak bisa melakukan hal lain selain belajar, tentu kau mengetahui hal itu dengan pasti. Oh! Ia masuk kuliah saat berumur 17 tahun, kalau kau mau tahu.

Kami bersama selama tiga tahun.

Kau tahu aku, Sakura. Saat mulai berhubungan dengannya aku berumur 17 tahun dan menjalani komitmen selama tiga tahun adalah hal yang luar biasa untukku.

Aku bosan. Apalagi ditambah dengan Kakashi yang semakin sibuk, aku semakin... bosan dan mungkin saat itu aku belum menyadari besarnya perasaanku.

Lalu aku bertemu seseorang. Deidara namanya."

Ino terdiam.

Sakura menutup matanya, seakan meminta kekuatan untuk mendengarkan cerita Ino.

Mendengar sesuatu tentang Kakashi yang belum ia ketahui dari Ino sangat menyakitkan. Ia terus-menerus meyakinkan dirinya bahwa hal itu tak apa-apa, bahwa ia seharusnya bersyukur bisa mengetahui lebih banyak tentang Kakashi.

Namun bukan ini yang ingin ia ketahui. Bukan dari mantan kekasihnya pula.

Terdengar Ino menghela napas.

Sakura tersadar bahwa sedari tadi ia menahan napasnya.

"Aku tidur dengan Deidara, Sakura. Dan Kakashi mengetahuinya."

Ino menatap Sakura.

Ia merasa bersalah. Sakura bisa melihat itu dimatanya.

Sakura menghela napas.

"Aku... dia meninggalkanku sejak saat itu. Aku tak pernah mendengar sesuatu lagi tentangnya sampai... ia menjadi kekasihmu."

Sakura bingung.

Mengapa Kakashi tidak pernah memberitahunya bahwa ia dulunya merupakan kekasih Ino? Mengapa Ino tak memberitahunya bahwa Kakashi adalah kekasihnya dulu? Ia dan Ino merupakan sahabat, mengapa tak ada seorang pun yang berniat memberitahunya APAPUN?

"Aku tak percaya..." Sakura mendengus.

"Mengapa, Ino? Mengapa kau baru memberitahuku sekarang? Mengapa kau tak pernah bercerita tentang hal ini? Tentang Deidara? Tentang kau yang memacari seorang dokter saat berumur 17 tahun?! Kau membiarkanku terus memenuhimu dengan ceritaku tentang Sasuke! Aku..."

Sakura menggeleng.

"Aku tak tahu, Sakura. Mungkin aku ingin menyimpan hal itu sendiri, mungkin aku tak ingin mengganggumu, mungkin aku takut akan pendapatmu, aku tak tahu, Sakura. Aku minta maaf."

"Tidak. Aku minta maaf, Ino. Karena tidak menjadi teman yang baik bagimu, seharusnya aku bertanya, tetapi aku malah disibukan oleh Sasuke."

Klise.

"Jika kau... jika kau bertanya-tanya, Sakura. Aku tak akan menganggu hubunganmu dengan Kakashi. Tolong jangan tempatkan aku di tempat yang sama dengannya, ya?"

Sakura terkikik.

"Baiklah."

#

Panas.

Walaupun pintu dan jendelanya terbuka, rasanya tetap panas.

Well, yang panas bukan hanya udaranya saja, tetapi hawa yang dibawa oleh dua orang ini pun sangat amat panas.

Pria berambut kuning itu mengecup lehernya. Meninggalkan sensasi mengejutkan yang tak asing bagi si wanita.

Deidara telah menanggalkan semua baju yang terpasang padanya, jadi ia tak perlu repot lagi saat waktu yang tak tertahankan datang. Sedangkan Ino, well... ia tak mengenakan apapun kecuali jubah tidur satin ungu miliknya.

Deidara menarik lepas simpul pita yang diikat di depan satin robe milik Ino. Tangannya menelusuri apa yang tadinya ditutupi oleh jubah ungu itu.

"Ssstt..."

Deidara mencium bibir itu untuk meredakan suara-suara yang keluar darinya.

"Tenanglah," ucapnya.

Kecupan Deidara mengeksplorasi tubuh sintal itu.

Lehernya.

Dadanya.

Perutnya.

Dan...

"Tu-Tunggu. Aku tak mau berdiri. Jangan berdiri."

Pijakan Ino melemas, ia hampir terjatuh menimpa Deidara yang sekarang berlutut dihadapannya.

Deidara menyeringai. Ia memangku Ino dan membawanya ke atas tempat tidur. Dengan cepat Ino melepaskan jubah ungu itu, tetapi Deidara menahan jubah itu agar tidak jatuh.

"Kau tahu, sebenarnya aku suka merasakan kulitmu di bawah jubah ini, Ino. Jadi, sepertinya kau akan tetap memakai ini."

Deidara membenarkan letak jubah itu sedangkan setiap inci dari kulit Ino semakin sensitif saat terkena sentuhan jemarinya.

Tubuhnya terasa panas. Wajahnya memerah. Matanya sayu. Ia tak bisa berpikir jernih ketika Deidara melanjutkan aktifitasnya.

Tangan kirinya menelusuri kaki Ino yang putih, tangan kanannya mengeksplorasi sesuatu yang berada di tengah pahanya.

"Aku turun. Hn."

"Dei... aku..."

Kedua tangan itu membuka kakinya lebar-lebar.

"Wah, lihat apa yang kutemukan."

"Kau aneh."

"I love you, too, Ino."

Ino terkesiap.

Tak bisa berpikir.

Deidara terlalu...

Lidahnya terlalu...

Terlalu...

Jantungnya berhenti.

Bukan karena sesuatu yang tengah dilakukan Deidara pada dirinya, tetapi karena sosok tinggi dan berambut perak yang sedang berdiri di ambang pintu itu sebabnya.

Ia lalu membalikkan badannya dan berjalan pergi.

Ino terisak.

.

.

.


HAI!

SUDAH BERAPA TAHUN SAYA MENELANTARKAN FIC INI? WKWKWKWKWK. Terima kasih untuk para pembaca yang setia menunggu dan mengingatkan saya bahwa saya memiliki hutang ini wkwkwk. Semoga saya bisa dan mau melanjutkannya lagi!

I'm up for anything! Jadi, silahkan tulis unek-unek anda di kotak review. Sampai ketemu di chap selanjutnya!

(Ya, tokohnya nambah. Ya, ratingnya berubah)

Btw, yang puasa ngelewatin Lime-nya, kan? WKWKWKWKWK