COMING HOME
DONGHAE X HYUKJAE
.
.
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 11
It's funny what goes through your mind
When you think of times w spent together
Funny but when I think back why we broke up
The reasons seems so well
-"Something to Believe In", Bryan Adams-
.
.
Karena setiap kapal butuh samudra untuk berlabuh.
Sesungguhnya, Hyukjae tidak sedang melamun. Ia sempat melambaikan tangan pada Sungmin yang mengayuh sepeda meninggalkan sekolah. Benar-benar tidak melamun. Kakinya menapaki trotoar menuju jalan besar dengan sisa daya. Hanya pikirannya yang tidak dapat terhindar dari kata-kata Donghae malam itu. Hilang dan tidak dapat memiliki kembali, dua itu yang selalu diingatnya. Apa yang hilang? Apa yang tidak dapat kembali? Hyukjae merasa sosok Donghae menjadi misteri tersendiri.
Kalau kata-kata itu untuknya, segala hal antara mereka memang telah hilang dan tidak mungkin kembali. Tak ada yang tersisa dari semuanya. Namun, tidak ada kata-kata itu bukan untuknya. Donghae tidak pernah benar-benar mencintainya. Hanya merasa mencintai. Hyukjae mengerjapkan matanya, merasakan air bekumpul di sana. Ia merasa begitu bodoh berada di sana malam itu, mendengarkan kata-kata itu, berharap untuknya, dan sekarang ia menangis sekaligus merasakan sakit.
Karena semua adalah kesalahan. Hyukje menghela napas panjang seraya menghapus air matanya. Ia tidak mengerti mengapa harus menangis. Sia-sia. Antara dirinya dan Donghae sudah berakhir lima tahun lalu. Dan, ia akan menjalani hidupnya sendiri. Selamanya.
Bunyi klakson mobil menyentak Hyukjae. Ia tersadar sebuah mobil berhenti persis di sampingnya. Dari balik kemudi, Donghae menurunkan kaca jendela. "Mau kemana?" tanya lelaki itu.
Hyukjae mengulas senyum formal dan berusaha tetap tenang. "Ke toko buku."
"Ingin aku antar?"
Hyukjae sontak menggeleng. "Aku naik bus di depan."
"Hyuk, tapi cuacanya panas." Donghae berkeras.
"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa." Hyukjae tersenyum sekilas dan mulai melangkah.
Donghae menjalankan mobilnya, menjajari lelaki manis itu. "Kalau aku antar sampai depan? Biarkan aku temani sampai dapat bus."
Langkah Hyukjae terhenti. Tatap matanya mengarah pada lelaki itu. Ia seperti melewati lorong waktu dan berada pada masa ketika Donghae berkeras mengantarnya ke bimbingan belajar, mengikuti langkahnya dengan mobil. Berada dalam situasi ini membuatnya semakin bertanya-tanya. Mata sendu itu masih disana, menunggunya. Hyukjae tahu tidak ada jalan lain. Ia masuk ke mobil.
"Kau tidak bawa sepeda hari ini?" tanya Donghae seraya memindahkan perseneling.
"Rantainya rusak. Tadi pagi, aku taruh di bengkel langganan." Hyukjae melihat ke jok belakang yang kosong. "Kemana Haru?"
"Sedang main dengan Yesung."
"Setiap hari main disana." Hyukjae terlihat heran.
"Ya."
Sebelum sempat tahu apa yang ingin ditanyakan selanjutnya. Hyukjae melihat sejumlah foto dan sebuah majalah di dashboard. Ia meraih foto-foto itu. Foto-foto saat lomba menggambar dan kebanyakan foto Haru yang tampak lucu saat tertawa. Wajah mungil itu melukiskan kebahagian yang sangat alami. Hyukjae awalnya terkejut, kapan Donghae mengambil foto-foto tersebut. Namun, keterkejutan itu hilang, saat menemukan foto dirinya sendirian sedang tersenyum dari samping. Hyukjae tertegun. Hatinya gusar. Mengapa Donghae mengambil gambarnya?
"Memangnya, apa yang kau suka dari aku, Hae?"
"Senyumanmu."
Hyukjae menggigit bibir. Senyumnya menghiasi setiap foto yang ditangannya, terlebih satu foto itu. Lensa kamera melukiskan jelas lengkungan bibirnya.
"Kenapa?" Donghae mengamati raut wajah Hyukjae yang berubah.
Hyukjae jengah mendadak. Kepalanya menggeleng sebagai jawaban. Mungkinkah lelaki itu salah ambil gambar dan ikut tercetak? Hyukjae berusaha meyakini itu. Ia kembali meletakkan foto itu, lalu meraih majalah otomotif kegemaran Donghae.
"Masih langganan majalah ini?"
"Sudah tidak. Tadi kebetulan aku lihat ditempat penjual majalah."
Hyukjae memang tidak mengerti dunia otomotif, tapi ia suka melihat gambar mobil-mobil hasil modifikasi. Dulu, setiap ada pameran mobil, Donghae pasti mengajaknya. Ia akan mendengarkan percakapan lelaki itu dengan temannya tentang mesin baru, ban, pelek dan segala macamnya. Ada keseruan tersendiri. Ia membalik halaman majalah, melihat gambar mobil sport, dan teringat sesuatu. "Bagaimana kabar si Black?"
"Si Black sudah aku jual." Donghae tersenyum miris.
"Dijual? Kenapa?" Hyukjae cukup terkejut mendengarknya. Ia tahu benar bagaimana Donghae menyayangi mobil sport dari Jepang yang dipesannya secara khusus dan tidak pernah berniat menjualnya.
"Sudah waktunya dijual." Suaranya tenang. "Aku membeli tujuh tahun yang lalu." Ia tertawa getir, terpaksa.
"Ya, sebulan setelah ulang tahun perni—" Hyukjae tidak melanjutkan, tetapi masih menatapnya lekat. Lewat mata sendu itu ia mencari tahu, tetapi tidak terbaca. Donghae selalu pintar menyembunyikan segalanya. Ketenangan yang membius.
"Aku akan mengantarmu ke toko buku. Kebetulan, aku juga ingin melihat-lihat." Donghae menoleh padanya.
Hyukjae mengangkat bahu dan mendesah resah.
.
.
.
Donghae melihat judul-judul novel John Grisham yang berderet di dalam satu kotak. Ada beberapa yang belum ia baca, tetapi merasa tidak begitu tertarik. Donghae menghela napas pelan dan menoleh ke Hyukjae yang berdiri di depan rak buku perkembangan anak yang berada di ujung. Memandangi lelaki manis itu membuat kesendiriannya terasa nyata. Begitu kosong dan lowong jarak antara mereka.
Hyukjae memang mencintai anak-anak. Namun, untuk Donghae, seorang anak adalah keputusan besar lain yang harus diambil dalam hidupnya setelah pernikahan. Ketika lajang, ia menyukai hubungan tanpa ikatan. Ia risih berada dalam hubungan yang serius. Hal itu juga yang terpikir olehnya saat membicarakan perihal anak dengan Hyukjae. Seorang anak akan membentuk sebuah kehidupan lain yang sangat mengikat. Donghae tersenyum getir. Kini, ia seorang ayah dan berada di kehidupan lain itu.
Donghae berpindah ke rak novel sebelahnya. Novel-novel fantasi. Aneh, dulu ia menganggap angin lalu setiap Hyukjae menceritakan novel fantasi yang baru selesai dibacanya. Namun, ketika membaca novel-novel yang ditinggalkan Hyukjae di rak kamar mereka, ia merasa menemukan lelaki itu di sana. Perasaannya tergelitik.
Diantara deratan buku-buku fantasi itu, Donghae menemukan satu judul. Diambilnya buku itu, ditimang sesaat, dan dibawanya ke Hyukjae.
"Pernah menonton film The Time Traveler's Wife?" tanya Donghae seraya menunjukkan buku bersampul kaki seorang anak perempuan berdampingan dengan sepatu lelaki dewasa.
Hyukjae menggerakkan bola matanya, mengingat-ingat, lalu mengangguk. "Ya. Pemainnya Eric Bana dan Rachel McAdams. Kau menonton juga?" ia terdengar tak percaya. Diraihnya buku di tangan Donghae.
Donghae mengangguk. "Aku juga sudah membaca novelnya. Idenya menarik dan menurutku cukup berbeda."
Hyukjae menyipitkan matanya, tampak heran. Ia tahu novel dan buku itu bukan kesukaan Donghae. "Kenapa?"
"Karena aku berpikir, suatu waktu kita menginginkan sebuah momen kembali, kita hanya bisa melihatnya, Hyuk. Jadi penonton. Kita tidak bisa mengubah apa-pun yang sudah terjadi."
Hyukjae membolak-balik buku itu, menyembunyikan kegusarannya.
"Dan juga, ketika seseorang tahu tempat di mana dirinya merasa bahagia, sesulit apa pun, asalkan bisa terus berada di tempat itu, pasti akan dilakukannya."
Hyukjae menatapnya. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Donghae memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya dan tersenyum. Menatap manik mata hitam pekat itu, ia merasakan pijar dalam matanya sendiri.
"Aku akan membeli buku ini." Hyukjae mengalihkan pandangannya dengan memasukan buku itu ke kantong belanjanya. "Mm... Hae, kalau kau ingin duluan, tidak apa-apa." Ia berusaha mengembangkan senyum, gugup.
"Kau memangnya ingin kemana lagi?"
"Supermarket. Membeli buah."
"Ya sudah, aku antar saja."
"Tapi—"
Donghae meraih kantong di tangan Hyukjae dan membawanya ke kasir. Bahasa tubuhnya mengisyaratkan tidak ingin membahas lagi. Hyukjae terdiam. Melangkah di samping lelaki itu dengan pandangan penuh ketidakmengertian.
.
.
.
"Cukup sekali, deh, aku ke Supermarket." Donghae menerima ice coffee yang diantarkan pelayan. Saat ini mereka berada di cafe kecil yang khusus menjual berbagai jenis minuman berbahan dasar kopi.
Hyukjae melepaskan tawa seraya mengaduk ice mocca-nya. "Kau sendiri, kan, yang ingin mengantarku."
"Aku kira tidak seramai itu!" Donghae mengerut kesal. Butir-butir peluh terlihat di keningnya.
Mendengar gerutuan Donghae, Hyukjae sadar kalau terkadang merindukan hal itu. Dulu terdengar menyebalkan, tetapi kini ia seperti menemukan sesuatu yang lama hilang. Senyumnya mengembang penuh arti. "Kau ingat sepupuku Taemin?
"Ya. Yang kuliah kuliah kedokteran itu, kan? Kenapa?" Donghae menatap lelaki manis di depannya.
"Semalam dia menelponku. Katanya, dia dilamar." Pandangan Hyukjae berubah meredup. "Lucunya, dia bertanya padaku. Diterima atau tidak."
Donghae meneguk minumannya. Keningnya mengerut. "Apanya yang lucu? Kalau kau kenal siapa dan bagaimana pasangan yang melamar dia, jawab saja."
Hyukjae terdiam sesaat. Tangannya mengaduk-aduk minumannya. Ia menerawang pada jendela yang menampakan jalan didepannya. "Ya, lucu. Dia tanya tepat atau tidak laki-laki itu untuk dia." Ia meletakkan gelasnya. Dadanya mulai terasa sesak. "Tentu dirinya sendiri yang lebih tahu. Menurutku, saat seseorang mengatakan 'yes, I do' berarti dia percaya bahwa pasangannya itu bisa membuatnya bahagia."
Donghae kaku di tempatnya. Napasnya seperti tersumbat batu besar. Kenyataan apa yang baru di dengarnya? Ia merutuki diri oleh rasa bersalahnya. Mengapa ketika lelaki manis ini menyerahkan seluruh kebahagiannya pada dirinya, ia justru menyakitinya? Mengapa ketika lelaki manis ini begitu percaya, ia justru meninggalkannya?
Dering ponsel Donghae memecah keheningan. Yesung. Nama yang tertera di layar. Lelaki itu menjawab sambil beranjak pergi.
Hyukjae memperhatikan dari kejauhan. Ia sempat melihat wajah Donghae mendingin seusai ia menyelesaikan kata-katanya. Entah mengapa ia ingin mengatakan semua itu. Hatinya ikut gusar bertanya-tanya apa yang terjadi.
"Aku harus ke cafe. Haru jatuh!" ujar Donghae dengan napas menderu panik. Diletakkannya beberapa lembar won di atas bangku.
"Aku ikut!" Hyukjae beranjak dengan perasaan khawatir. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
.
.
.
Donghae memarkirkan mobil sekenanya di depan cafe. Dengan tergesa. Ia dan Hyukjae keluar dari mobil, lalu berlari memasuki bangunan tersebut. Wajah mereka pusat pasi, seakan-akan tidak memikirkan apa pun lagi, hanya berdoa, semoga tidak terjadi hal buruk pada gadis kecil itu.
Haru duduk di sofa ruangan Yesung. Matanya berair dan wajahnya masih terlihat terkejut. "Sonsengnim..." panggilnya dengan suara serak ketika melihat Hyukjae menghampirinya.
"Maaf, tadi aku lengah. Haru kepeleset. Tapi, aku sudah membawa dia ke klinik. Tidak ada luka, hanya kaget saja." Ujar Yesung pada sahabatnya yang berdiri diujung pintu dengan wajah tegang.
Donghae tersenyum tawar. "Aku takut dia kenapa-kenapa," katanya sambil memeriksa tubuh Haru dengan teliti.
Yesung menepuk bahu lelaki itu. "Aku mengerti. Aku juga seorang ayah, Hae."
Donghae menarik napas dalam-dalam dan mengangguk. Darahnya terasa mengalir kembali. Jantungnya mulai berdetak. Separuh jiwanya ada pada Haru. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya jika kehilangan anak itu.
"Minum, Hae." Yesung menyodorkan gelas berisi air putih.
Donghae meraih gelas itu dan meneguk isinya. Ia belum bisa berkata apa pun, hanya menatap putrinya yang kini terlelap dipangkuan Hyukjae. Anak itu terlihat lebih tenang dan lebih nyaman. Hyukjae mengusap rambut dan lengannya.
"Haru butuh sosok Ibu, Hae." Yesung ikut melihat ke dalam.
"Aku bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk Haru lima tahun ini." Ujar Donghae pelan.
"Ya." Yesung menoleh pada sahabatnya. "Tapi, Haru akan tumbuh, Hae. Menjadi remaja dan dewasa. Kita tidak tahu pergaulan nanti seperti apa. Kalau dia punya ibu, dia akan belajar banyak hal juga."
Donghae kembali meneguk air minumnya. Sampai saat ini, ia belum memikirkan hal itu. Tidak ada seseorang yang mengisi hidupnya setelah Sohyun meninggal. Bukan menutup hati, tetapi ia memikirkan Haru. Ia tidak bisa egois mementingkan kebahagiaannya sendiri. Tidak bisa mengambil keputusan spontan seperti dulu. Dan, ia akan melakukan apa pun untuk membuat Haru bahagia.
.
.
.
TBC
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey
