Naruto milik Masashi Kishimoto
OOC. Rush
Enjoy
.
.
.
.
My Dear
.
.
.
Sakura tak tahu apa yang harus dia lakukan. Hatinya remuk saat ia mengetahui bahwa orang-orang yang paling penting untuk dirinya ternyata memiliki masa lalu bersama. Ia cemburu karena tak memiliki pengetahuan atas hal itu. Namun, ia juga tak mungkin bisa memaksakan keadaan. Ia berada di posisi dimana Kakashi tidak mengetahui bahwa Sakura merupakan sahabat Ino dan Sakura terlalu sibuk dengan Sasuke hingga ia tak memiliki banyak waktu untuk memperhatikan identitas dari kekasih Ino dulu.
Andai saja aku mengetahuinya...
Pikiran itu pun membawanya pergi hingga ia tertidur.
~My Dear~
Ia menghalangi api di korek dengan tangannya agar api itu bisa menyulut rokok yang berada di antara bibirnya. Kakashi menghisap rokok itu dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan lambat. Hatinya tidak karuan. Mengapa ia harus bertemu lagi dengannya? Ia orang yang akan selamanya ia hindari, tetapi ia ternyata malah menjadi sahabat terbaik kekasihnya.
Kakashi melempar bungkus rokoknya yang kosong dengan kencang dan terus berjalan menuju mobil miliknya.
Hubungannya dan Sakura begitu manis. Berbeda sekali dengan gayanya dulu dengan Ino.
~My Dear~
"Ssssttt."
Gadis pirang itu terkikik. Kakashi menarik tangannya agar ia bersembunyi di balik dinding parkiran berdebu.
"Kenapa kau ke sini tiba-tiba? Kau seharusnya memberitahuku, Ino."
"Aku rindu sekali padamu, Kakashi. Kau sibuk sekali!" Ino berkata nyaring. Kakashi memutar bola matanya. Tangannya yang memegang sebatang rokok menjadi sandaran tubuhnya, wajah Kakashi berada sepuluh senti dari wajah Ino.
"Aku juga rindu padamu, Sayang. Tetapi aku sekarang masih menjadi intern sialan, dan semua pekerjaan kotor diberikan padaku." Ucapnya sambil terkekeh. Ino mengusapkan hidungnya pada hidung Kakashi.
Kakashi menjauh lalu menghisap rokoknya dan mencium Ino.
"Aaaargh." Kakashi mengerang. Ia mengusap wajahnya.
Aku bernostalgia lagi, batinnya.
Ia benci saat ia –secara tak sadar—memikirkan masa lalunya dengan Ino. Akhir-akhir ini kenangan itu membanjiri dirinya. Begitu banyak. Begitu besar perasaan yang harus ia tampung. Rasa sakit hati, dikhianati, namun, di dalam hatinya yang paling dalam, ia seakan mampu memaafkan Ino.
Melihat Ino bisa membuatnya terduduk dan menangins sejadi-jadinya. Hatinya patah karena dikhianati, namun pada saat yang sama, ia seakan mampu menyusun hatinya sendiri dan memakainya kembali untuk dapat merasa.
Lalu ia mengingat Sakura dan perasaan baru pun datang. Perasaan bersalah. Ia menyalahkan dirinya. Menyalahkan keadaannya. Mengapa ia begitu bodoh dan terbawa perasaan? Padahal Ino adalah wanita brengsek yang telah menyakitinya. Tetapi, ia masih saja menyesal telah meninggalkannya dulu. Menyesal karena ia tak memaafkannya.
Oh, Sakura...
Mengapa?
~My Dear~
Kakashi mengusap keringat di keningnya dengan punggung tangan kirinya. Ia melepaskan glove plastiknya dan mencuci tangan. Ia telah membantu Namikaze Minato, Attending-nya, operasi jantung. Minato merupakan ahli bedah jantung, profesi yang tak akan Kakashi ambil. Ia lebih memilih menjadi neurosurgeon, ahli bedah saraf, daripada ahli bedah jantung. Namun, membantu Minato merupakan hal yang wajib baginya, karena Kakashi sangat menghormati Minato.
"Terima kasih, Kakashi. Kau sangat membantu. Kuharap, pembelajaranmu dengan Jiraiya-sensei tidak terganggu karena kau membantuku di sini." Ucap Minato.
Kakashi menoleh, "tak apa, Sensei. Aku senang membantumu. Jiraiya-sensei pun terkadang membiarkanku berkelana sendiri, mencari pengalaman diluar neurosurgery." Kakashi terkekeh.
"Hahahahaha. Jangan lupa untuk mengeluarkan penyakit dari otakmu sendiri, Kakashi. Hahahahaha. Sampai jumpa!"
Kakashi melambai. Namun pikirannya tertuju pada kata-kata Minato.
Kakashi mendengus. Ia memakai jubah putihnya dan pergi keluar.
...
Sakura berjalan cepat ke arah kantin. Ia begitu lapar. Sejak jam delapan pagi ia mengurusi pasiennya yang tak kunjung berhenti. Sekarang pun ia istirahat karena terpaksa, bukan karena pasiennya yang telah berhenti. Jika tidak istirahat, bisa-bisa Sakura salah memberika obat.
Saat ia akan berbelok ke kiri, matanya menangkap seseorang bertubuh tinggi dan tegap sedang berada di bagian informasi. Entah mengapa ia terkesan familiar, matanya terus tertuju pada sosok itu. Namun Sakura tidak melambatkan jalannya dan akhirnya menabrak orang lain.
Orang itu refleks menahan bahu Sakura.
Ia mendongak dan mendapati Kakashi menatapnya. Sakura nyengir.
"Hai."
Kakashi mengangkat satu alisnya, "hai.
Kau terlihat... apa yang kau lihat?" Kakashi menoleh, matanya mencari-cari sesuatu yang telah membuat Sakura menabraknya.
"Hanya pengunjung. Mengingatkanku bahwa aku lapar dan tidak fokus sekarang."
Kakashi menatapnya tak percaya. Sakura lalu melepaskan cengkraman Kakashi dibahunya dan mendorong Kakashi sehingga ia berjalan mundur. Kakashi berputar dengan terpaksa dan memegang tangan Sakura.
"Ayo kita makan."
~My Dear~
Kakashi begitu manis saat ini. Ia tak pernah memegang tangan Sakura saat berdiam diri seperti ini. Tangan mereka bertautan di atas meja. Sakura dapat merasakannya, kehangatan Kakashi dan segala perasaan yang ia curahkan dalam sentuhannya itu. Genggamannya mengerat. Sakura mendongak, menatap Kakashi. Sejak tadi ia menunduk, takut jika wajahnya yang merah akan terlihat oleh Kakashi. Namun, saat genggaman Kakashi semakin erat, ia mendongak. Melihat Kakashi yang terus menatapnya.
Kakashi tersenyum. Begitu hangat. Begitu manis.
"Ehem. Satu kari ayam dan satu ikan bakar datang."
Sakura terperanjat dan spontan menarik tangannya dari Kakashi. Kekasihnya terkekeh dan membuat wajah Sakura memerah. Pelayan menaruh makanan mereka dan pergi sambil mendengus.
Sakura melirik Kakashi. Memerhatikan kekasihnya yang sangat tampan.
Tuhan, berapa banyak makhluk mengerikan bernama wanita yang membencinya gara-gara ia adalah kekasih Kakashi? Ia beruntung sekali karena Kakashi mencintainya. Cinta Kakashi mampu menghapus semua kenangan tentang Sasuke. Setidaknya sampai saat ini, karena Sakura belum pernah bertemu Sasuke lagi semenjak mereka berpisah.
"Kau cemberut."
Sakura merasakan usapan di pipi kirinya.
Ia menatap Kakashi dan mengerjapkan matanya. "Tidak kok."
Kakashi tersenyum. "Ayo selesaikan. Aku tahu pasti pasien-pasienmu menunggu di kamar mereka. Biar aku yang menggantikan Asuma untuk menilaimu."
Sakura mengangguk.
Kakashi merupakan seorang resident, tetapi Sakura yakin bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang attending. Sakura masih menjalani masa internship di Rumah Sakit Konoha ini dan Kakashi menjamin bahwa Sakura tidak akan dipindahkan setelah ia berhasil melewati masa internship-nya.
"KAKASHI-SENPAI!"
Seseorang berlari ke arah Kakashi, ia adalah Yamato, seorang resident, sama seperti Kakashi. Ia terengah-engah karena berlarian. Kakashi mengerutkan keningnya. Sakura terkikik geli.
"Kha-khakhashih-shenphai..."
"Tarik napasmu, Bodoh." Gerutu Kakashi.
"Senpai... Jiraiya-sensei memintaku untuk mencarimu. Di ruang A01 ada seorang pasien yang butuh operasi sekarang juga. Ia orang penting, Senpai."
"Kenapa harus aku? Kenapa tidak Jiraiya saja yang mengoperasinya jika ia orang penting?" tanya Kakashi.
Yamato mengangkat bahunya. "Aku hanya menyampaikan pesan, Senpai."
"Memang orang penting ini sakit apa, Yamato?"
"Suster berkata bahwa ia menelan kunci koper dan orang itu membutuhkannya sekarang, Sakura-san."
Sakura tertawa. "Oh... Kakashi! Hahahahahahahahahahaha. Kau harus mencari kunci koper sekarang!"
Kakashi mendengus.
"Zaman sekarang semakin banyak saja orang bodoh."
Kakashi bangkit dari duduknya dan menarik bangku Sakura. Ia menggenggam tangan Sakura sampai akhirnya mereka berpisah jalan.
Kakashi mengecup keningnya, "maaf, sepertinya aku tidak bisa menggantikan Asuma."
Sakura menggeleng. "Bukan masalah. Semoga beruntung dengan kunci koper."
Kakashi menarik wajah Sakura ke wajahnya dan menciumnya dalam-dalam. Lalu ia pergi tanpa menoleh ke belakang.
A/N:
Maaaaf sekali untuk waktu yang lama buat update hehehehehehehehehehe.
Semoga suka. Terima kasih telah membaca, menunggu dan me-review.
Terima kasih untuk yang selalu pm saya dan memberikan semangat.
Sayang kalian
