COMING HOME
DONGHAE X HYUKJAE
.
.
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 12
Here we are - we've just begun
And after all this time - our time has come
Ya here we are – still goin' strong
Right here in the place where we belong
-"Here I am", Bryan Adams-
.
.
Dan kau menyapu berbagai warna, membuat rasa ini terlihat ronanya.
Benak Hyukjae membara, sementara ia berjalan mengelilingi ruang tengah. Tangannya terulur merapikan majalah, menepuk-nepuk sofa, mengambil mainan yang ditinggalkan Haru di lantai. Dari pintu kamar yang terbuka, terlihat Donghae sedang bercanda dengan Haru sambil memakaikan baju. Tawa keduanya berderai hingga mengisi ruang tengah yang hening. Berada di antara dua orang itu seperti mimpinya—menjadi istri dan ibu sempurna.
Istri? Ibu?
Berkali-kali, Hyukjae memperingatkan dirinya bahwa ia tidak akan pernah menjadi istri dan ibu bagi keduanya. Mustahil. Andai saja kebersamaan mereka tidak pernah ada. Hyukjae tidak ingin jatuh cinta pada keduanya, tapi kehangatan yang dibentuk Donghae dan Haru sulit untuk membuatnya tidak jatuh cinta.
Hyukjae menghela napas pelan melihat baju kotor berada di depan kamar. Donghae selalu lupa menaruh baju kotor di tempatnya. Ia meraih baju-baju itu dan memasukkannya ke keranjang tempat baju kotor. Lalu, ia masuk ke tempat setrika. Setumpuk pakaian bersih belum disentuh sama sekali. Seharian ini, ia, Donghae dan Haru sibuk membersihkan rumah. Hasilnya, rumah ini terlihat lebih baik.
"Haru sudah tidur?"
Suara Donghae di pintu membuat Hyukjae membalikkan tubuh. Menatap lelaki itu membuat hatinya hangat seperti yang ia rasakan setiap kali melihatnya. Setelah mandi dan bercukur, Donghae tampak segar dan menawan. Rambutnya masih basah dan aroma sabun menguar.
Hyukjae tersenyum wajar menanggapinya dan mulai menyetrika.
Donghae melangkah ke dekatnya. "Kau tidak lelah? Seharian tidak istirahat,"
"Tidak apa-apa. Aku akan menyetrika dua atau tiga baju, lalu aku akan pulang." Ujar Hyukjae tanpa menatap lelaki itu.
Donghae mencabut colokan setrika. "kau suka sekai memaksakan diri, Hyuk." Mata pekatnya tampak bercahaya. Tampa cambang rahangnya menjadi lebih tegas. "Besok aku yang akan menyetrikanya. Kau ingin kopi? Kali ini aku yang buat."
Hyukjae terdiam sejenak membayangkan kopi buatan lelaki itu, lalu tersenyum tipis. "Boleh, tapi—"
"Ya, ya. Tiga sendok kopi, tiga sendok gula, jangan terlalu banyak air." Donghae menyela cepat.
Hyukjae mengangguk. "jangan terlalu kental juga."
Keadaan kembali hening setelah Donghae berlalu. Hyukjae tersenyum-senyum sendiri dengan pipi merona. Mengapa ia memikirkan ada takdir lain untuk mereka? Bukankah Donghae sudah memilih jalannya dan tidak ada yang bisa berubah?
Senyum di wajah Hyukjae lekas memudar. Apa yang dipikikannya? Tidak ada kemungkinan lain untuk dirinya dan Donghae. Mungkin benar kata Eomma-nya, hari ini jodoh, besok belum tentu jodoh. Dan seperti kata Donghae, ada kalanya manusia hanya bisa jadi penonton tanpa mengubah apa pun.
Hyukjae masuk ke kamar untuk melihat Haru. Begitu membuka pintu, matanya langsung tertuju pada beberapa lembar foto yang baru dicetak berada di atas di meja dekat tempat tidur. Foto mereka bertiga tersenyum lepas di sana dengan latar belakang Danau disebuah taman. Tadi sebelum Hyukjae terdampar di ruamahnya, Donghae dan Haru mengajak Hyukjae bejalan-jalan, menculiknya setelah rapat di Kindergaten selesai. Sebuah keluarga, desahnya dalam hati. Diambilnya sebuah foto untuk dirinya sendiri.
Hyukjae duduk di tepi tempat tidur, mengapati Haru dalam buaian mimpi. Dada Hyukjae terasa hangat menatap wajah mungil itu. Haru sayang Sonsengnim,dan gadis kecil ini menciumnya. Hyukjae tersenyum bahagia. Dengan lembut, ia membelai rambut tebal Hyukjae. Saat tidur pu, Haru begit mirip dengan Donghae. Ketenangannya, tarikan napas yang halus, dan caranya meletakkan tangan dibawah bantal.
Perlahan-lahan, Hyukjae merebahkan setengaj badannya di samping Haru. Mencium keningnya dalam-dalam. Lalu, meraih tangan mungil itu dan meletakkannya di pipi. Aku tidak ingin kehilangan anak ini. Tanpa disangka, emosi yang tertahan muncul ke permukaan, membuat air mata mengenah di pelupuk matanya, dan mengalir turun membasahi bantal.
.
.
.
Dalam beberapa malam, Donghae bermimpi bertemu Hyukjae. Keadaan yang sama seperti ini—berdekatan. Di antara mimpi dan nyata, satu hal yang tak dapat diubah, takdir. Kuasa Tuhan yang menentukan mereka berada di jalan masing-masing. Melihat mata kecoklatan itu, ia ingat sinar bahagia di sana. Jika ia bisa, ia ingin melihat sinar itu lagi karena hanya itu yang terpenting.
"Bagaimana?" tanya Donghae melihat Hyukjae menurunkan gelas di bibirnya. Mereka duduk berdampingan di bangku halaman samping. Lampu taman yang remang, memantulkan cahaya keemasan pada lelaki manis itu.
Hyukjae meneguk cairan hitam itu. "Masih encer. Tapi sudah ada kemajuan, tidak pahit lagi."
"Berarti, aku belajar dengan baik, kan?" ujar Donghae dengan nada bangga.
"Kebiasaan jelekmu tidak pernah berubah. Cepat merasa puas." Hyukjae melirik jengkel.
Donghae mengangkat bahu santai dan menyeruput kopinya. "Bagaimana kabar keluargamu, Hyuk? Eomma, Appa dan Sora Nonna?"
"Appa meninggal beberapa bulan setelah kita berpisah. Radang paru-paru. Kau tahu sendiri, kan?" matanya menelusuri gelasnya. "Eomma meninggal dua tahun sesudahnya. Penyakit jantungnya semakin parah." Hyukaje menghela napas. "Kalau Sora Nonna, sampai sekarang masih sendir. Sejak Seokmin Hyung meninggal, dia hanya bekerja dan mengurus anak."
Donghae yang hendak meminum kopinya, terpana sesaat. "Maaf, aku tidak tahu kalau Eomm dan Appa sudah tidak ada."
"Aku memang tidak ingin memberi tahumu, Hae." Mata Hyukjae berubah kelam. "Aku pikir, tidak ada yang perlu kita saling ketahui lagi. Kau menjalani hidupmu, aku menjalani hidupku."
Donghae mengembuskan napasnya dan menelan ludah. Pahit. Ditatapnya Hyukjae yang tengah menunduk. "Dulu, Appa suka main catur, kan, Hyuk?" ia mengingat-ingat.
Hyukjae tersenyum membayangkannya."Sejak kau tidak pernah datang ke rumah, Appa malas main catur. Teman-temannya tidak bisa sepertimu, katanya."
Donghae tertawa. Ia senang sekaligus sedih mengingat mantan Ayah mertuanya. Hatinya bergolak merasakan amarah pada dirinya sendiri. "Appa selalu mengajakku main catur setiap aku datang. Dan, aku tidak boleh kemana-mana kalau Appa belum menang." Ia menengadahkan kepalanya agar panas matanya tidak keluar. "Aku sering mengalah, tapi Appa tahu. Appa bilang, banyak orang belajar untuk menang dan sudah seharusnya juga orang belajar untuk mengalah."
Jemari Hyukjae mengelilingi tubuh gelas. Matanya menunduk menatap sisa kopi di dalam gelas. "Kadang-kadang, kita lupa mempersiapkan diri menerima kekalahan." Ia berpaling pada Donghae. "Mungkin, karena kita terlalu banyak berharap yang baik-baik, jadi bingung berbuat apa saat menghadapi hal terburuk."
Donghae diam membalas tatapannya. Mungkin, dirinya lupa mempersiapkan diri menjadi seorang yang kalah. Hatinya tertawa getir. "Oh, ya, dalam lima tahun ini..., kau mempunyai pacar? Atau teman dekat laki-laki?" tanyanya berusaha it adalah pertanyaan biasa tetapi sebenarnya ia resah.
Hyukjae melempar pandangan ke arah lain dan menggeleng. "Aku tidak pernah mempunyai hubungan dekat dengan laki-laki."
Donghae tertegun. "Kenapa?" tanyanya, berusaha menyelidiki mata lelaki manis itu.
"Aku juga tidak tahu." Hyukjae mendesah pelan seraya menyandarkan punggungnya. "Aku khawatir dengan banyak hal."
Perkataan itu membuat Donghae tercenung. Ia menatap wajah Hyukjae yang kehilangan ronanya. Penyesalannya mengental. "Suatu hari, kau pasti mendapatkan seseorang yang baik, yang bisa membuatmu bahagia." Donghae menahan sesak, mengucapkannya.
Hyukjae kembali menatapnya. "Kau sendiri? Berapa kali ganti pasangan lima tahun ini?"
Donghae tertawa pelan dan getir seraya menggeleng. "Tidak ada, Hyuk?"
"Kenapa?" Sorot mata Hyukjae penuh tanda tanya.
"Karena Haru." Donghae mengembangkan senyum ringan. "Saat ada Haru, aku berpikir, seseorang yang menjadi pasanganku nanti bukan hanya perlu mencintaiku, tapi juga Haru. Tidak ada artinya kan, kalau aku bahagia, tapi Haru tidak."
Hyukjae merasa mata Donghae menyimpan sebentuk emosi yang sulit terbaca. Dan mengingat Haru membuat perasaannya berubah sedih. Anak yang sangat manis. Tidak terbayang bila berpisah dengan kerianganny. Tapi, hari itu pasti ada.
Sekilas, Donghae melihat sesuatu di pipi Hyukjae. "Maaf, ada benang menempel." Ia mengulurkan tangan mengusap pipinya. Namun, merasakan kulit halus lelaki manis itu mengalirkan detak yang cukup cepat di dadanya. Mata kecoklatan itu menatap lurus ke matanya. Rambut hitamnya berkilau tertimpa cahaya lampu. Aroma manisnya menyergap. Tubuhnya menegang. Seluruh sel tubuhnya bergolak.
Hyukjae tidak berkata apa-apa. Tubuhnya membeku. Membiarkan tangan lelaki itu tetap di wajahnya. Tubuh mereka begitu dekat, saling memandang dengan getaran dan gejolak yang sama.
Donghae menatap Hyukjae lebih lama. Ada begitu banyak yang terkumpul di bawah sadarnya, begitu banyak yang ingin diberitahukannya, tetapi ia tidak punya kata-kata uang tepat. Tenggorokannya seakan tercekat dan tidak dapat berpikir jernih. Kecantikan Hyukjae membuatnya tidak berkutik.
Tangan Donghae turun ke dagu Hyukjae, menyentuh lembut. Mata Hyukjae dengan bulu mata tebal, serupa telaga—tenang, tetapi menghanyutkan—membuat Donghae berperang dengan batinnya untuk mendekatkan bibirnya ke bibir kissable itu. Bibir yang selalu dikecupnya dulu. "Kau masih seperti cokelat." Gumam Donghae sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hyukjae. Hangat napas Hyukjae menerpa wajahnya. Aroma manisnya semakin kuat. Bibir mereka bersentuhan. Ia ingin menciumnya, tetapi seluruh tubuh Donghae bereaksi seperti alarm tanda bahaya. Dialihkan bibirnya mencium pipi Hyukjae yang kemerahan. " Sebagai ucapan terima kasih sudah membantuku membereskan rumah." Ia beranjak dari kursi ddan melangkah menjauh.
Sinting! Donghae mengawasi kepergian Hyukjae dengan berbagai penyesalan. Beruntung ia bisa menggunakan akal sehat. Beruntung ia tahu posisi mereka. Sangat konyol jika ia mencium mantan istrinya. Mengapa memikirkan perkataan Yesung tentang ibu untuk Haru membuatnya menginginkan Hyukaje? Bisakah takdir di antara mereka berubah? Donghae mengusap wajahnya, menjernihkan pikirannya untuk lebih memahami kehendak dan keadaan.
.
.
.
Sepanjang malam, Hyukjae tidak dapat memejamkan matanya. Donghae hampir mencium bibirnya dan beralih mencium pipinya. Ia menyentuh pipinya yang masih terasa panas oleh bibir lelaki itu. Rasa terkejutnya masih terasa. Dadanya berdebar kencang dan napasnya seperti berhenti. Reaksi dirinya pun membuat tidak kalah terkejut. Ia terdiam, seakan-akan menunggu dan membiarkan Donghae menciumnya.
Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Mengapa ia tidak bisa berpikir bahwa lelaki yang berada di dekatnya adalah mantan suaminya—yang telah menceraikannya? Seorang yang pernah hadi dalam hidupnya. Mereka pernah berbagi banyak hal. Ia tak memungkiri, ia selalu menyukai sentuhan Donghae. Ia menikmati sensasi lelaki itu saat mereka bercinta. Lembut. Menggetarkan. Membuatnya melambung.
Hyukjae menghela napas panjang. Resah. Ia mendengar gumaman Donghae, seperti yang selalu dikatakannya dulu, dirinya seperti cokelat—manis, lembut, menenangkan. Tubuhnya berguling menghadap dinding. Dipeluknya guling erat-erat. Selama lima tahun ia memang tidak pernah membuka hati untuk lelaki mana pun. Ia tidak mau merasakan sakit lagi. Tidak mau kehilangan lagi. Tidak mau dikhianati lagi. Terlebih, ia belum bisa melupakan Donghae. Ia begitu mencintai lelaki itu dulu dan membuatnya benar-benar pergi, seperti merelakan separuh hidupnya dibawa lelaki itu.
Mungkinkah seharusnya ia memang melupakan masa lalu, melupakan Donghae, dan membangun hidupnya kembali dengan lelaki lain? Tetapi kenyataannya lelaki yang dicintainya kembali dalam hidupnya dengan pesona yang sama, dengan banyak kilasan indah antara mereka. Apakah ia bisa percaya ini cara Tuhan mempertemukan mereka kembali? Apakah ia bisa percaya lelaki itu memang untuknya?
Hyukjae mendesah pelan. Hatinya semakin gelisah. Ia membayangkan foto dirinya, Haru, dan Donghae di taman. Lelaki itu mengubah dirinya begitu jauh. Hyukjae menggigit bibir. Apakah Donghae juga merasakan keresahan ini? Apakah Donghae juga berharap waktu mereka kembali? Apakah semua itu cukup membuktikan bahwa Donghae mencintainya tidak akan mempermainkannya lagi?
Kepala Hyukjae mulai berdenyut-denyut. Ia tidak mampu untuk berpikir lagi. Mungkin, ia harus melihat lebih jernih sebelum memutuskan sesuatu. Mungkin, ia harus meyakinkan diri sebelum berpikir memang ada kemungkinan lain untuk mereka. Hyukjae menarik napas dalam dan memejamkan matanya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey
