COMING HOME
DONGHAE X HYUKJAE
.
.
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 15
I should have seen it coming
I should've read the signs
Anyway
I guess is it's over
-"Fool Again", Westlife-
.
.
Ada harap di hatiku meski tahu itu mungkin sia-sia
Anak-anak tampak gembira ketika sampai di Danau Nomunho yang berada di tenggara Gunung Geumjong—arah sebaliknya dari letak air terjun. Matahari bersinar cerah, tersisa semburat kuning keemasan yang menyepuh dedauan. Beberapa orang terlihat berjalan-jalan di jalan yang mengelilingi Danau. Anak-anak berseru gembira sambil menunjuk ke danau yang berair biru kehijauan. Hyukjae dan Sungmin tampak sibuk memberi arahan kepada murid-murid mereka, menjelaskan apa saja yang ada di sana.
Hyukjae merangkul anak-anak muridnya mendekat ke danau. Pandangannya melayang ke permukaan danau yang tenang. Kabut tipis masih melingkupi udara pagi itu. Latar belakang perbukitan yang lebat membuat danau tampak indah. Seorang anak di sebelah kananya menunjuk burung-burung yang terbang dari arah perbukitan. Hyukjae mengusap kepalanya dan tersenyum. Ia mengagumi perbukitan di sekeliling danau dan kapas-kapas langit yang menyelimuti puncak Gunung Geumjong.
Mendengar pekik senang seorang anak tidak jauh darinya, Hyukjae menoleh, melihat Haru mengusap-usap tubuh kuda yang datang menawarkan tunggangan. Hyukjae tersenyum menatap keriangannya. Namun, ketika lelaki di samping anak itu melihatnya, ia buru-buru memalingkan wajah. Pagi ini, Hyukjae memoleh sedikit membubuhkan bedak agar menutupi kantong mata yang membengkak akibat menangis semalaman.
Dalam hati, Hyukjae berdoa, semoga Donghae berbelas kasihan untuk menghindarinya. Ia tahu lelaki itu tahu bagaimana perasaannya semalam, jadi sakan cukup peka menghadapinya hari ini. Hyukjae memang tidak mungkin berbicara jujur tentang hatinya—hal yang paling mustahil. Lelaki itu hanya menginginkan pemuasan biologisnya. Bukan cinta. Bukan perasaan lain. Hanya sebentuk permainan untuk menyakitinya.
Udara dingin mulai merayapi leher dan pipinya sehingga Hyukjae menaikkan kerah sweaternya. Ia terpaku, menguatkan pegangan di anak di depannya. Perasaannya mulai tidak menentukan, berdebar, dan diam-diam mulai gemetar. Detik dan menit berlalu dalam senyap. Meskipun Hyukjae berusaha keras tenang, ia tidak dapat menghentikan detak jantungnya. Lalu, ia menarik napas lega ketika Donghae berhenti di sebuah pohon besar tidak jauh dari tempatnya, memberikan minum untuk Haru.
Hyukjae benar-benar tidak dapat memusatkan perhatiannya. Setiap kali menangkap bayangan langkah Donghae, tubuhnya langsung menegang, takut tiba-tiba lelaki itu muncul. Anak-anak di sekelilingnya menghambur ke orang tua mereka, duduk nyaman di bawah pohon besar. Sementara itu, tubuh Hyukjae masih kaku di tempat, berdiri menatap hutan cemara, bukit-bukit tinggi, dan perahu berlayar warna-warni yang tertambat di ujung danau.
"Astaga, Hyukjae, kau baik-baik saja?" ucap Sungmin saat menghampirinya. Ia menyentuh lengannya, cemas. "Kau sakit, Hyuk? Wajahmu pucat."
Hyukjae menggeleng. "Aku baik-baik saja, Ming."
"Terjadi sesuatu antara kau dan Donghae semalam?" mata Sungmin menatap dalam, seakan-akan membaca sesuatu di balik sorot mata kecoklatan sahabatnya.
Sesuatu? Hyukjae menelan ludah. Jantungnya berdegup semakin kencang. Ya, mereke bercinta. Tentu itu lebih dari sesuatu. Ia mencoba mengalihkan pandangannya dari Sungmin. "Tidak terjadi apa-apa." Ia mengusap lengannya, mengusir dingin. "Hanya saja, aku sadar betul perjalanan waktu benar-benar tidak mengubah apa pun."
"Kau dan Donghae bertengkar?" Sungmin semakin bertanya-tanya mendengar penuturan lelaki manis itu. Bisa dirasakannya keresahan Hyukjae dari sikap tubuhnya.
Hyukjae mengangkat bahu, tidak tahu harus menjelaskan seperti apa. "aku merasa tidak ingin mengenalnya lagi." Ada nyeri, ada sakit saat mengucapkannya. Reaksi tubuhnya mendustai apa yang diucapkannya. Ada desakan di dadanya, tapi berusaha di tahannya.
"Hyuk, bukankah kau bilang, kau menikmati apa yang sebenarnya ingin kau nikmati?" Sungmin tampak bingung sekaligus penasaran. Ia mencari jawaban dari pandangan Hyukjae. "Dan, apa yang ingin kau nikmati itu bersama Donghae, kan?"
Desakan itu semakin kuat. Matanya mengerjap untuk mengusir segala resahnya dan menguatkan diri. Ia menatap Sungmin tegas. "Aku ingin bersikap realistis sekarang, Ming! Dan melupakan semua harapan konyol!" tersirat emosi di dalam suaranya yang bergetar.
Hening. Hyukjae menarik napas dalam, mengusir gundah yang mulai memenuhi kepalanya. Ia melangkah meninggalkan Sungmin, mengikuti beberapa orang tua dan anaknya ke arah sungai yang menjadi pengairan perkebunan. Senyumnya diulas begitu tenang. Ia tidak ingin memikirkan tulisan Haru, tidak ingin mengingat ucapan Haru, tidak ingin memikirkan apa yang terjadi semalam, tidak ingin memikirkan masa lalu, dan segalanya. Ia lelah. Butuh waktu untuk dirinya sendiri dan menjernihkan pikirannya.
.
.
.
Sepasang mata Donghae memandangi puncak bukit yang berselimut kabut. Danau di depannya begitu tenang. Membayangkan kedalamannya, ia seperti menatap mata Hyukjae. Lelaki manis itu sama sekali tidak mau melihatnya kini, hanya mengajak Haru jalan bersama teman-temannya tanpa mengatakan apa pun padanya. Matanya bergerak menatap langit, tertumbuk pada awan-awan menutupi perbukitan dengan selimut basah transparan. Ia merasa benar-benar kacau.
Hari-hari yang di lewatinya di Busan membuatnya sedikit banyak mengerti tentang perbedaan membutuhkan dan menginginkan. Ia benar-benar tidak peka. Bodoh. Atau dulu ia memang benar-benar tidak mau tahu? Akhirnya, ia bisa membaca senyum, tawa, dan tangis Hyukjae. Dan, akhirnya, ia juga bisa mengerti mengapa Hyukjae mau menunggunya sepanjang malam, bahkan saat sakit sekalipun. Karena Hyukjae benar-benar mencintainya. Karena Hyukjae mau mengorbankan apa pun untuknya. Karena Hyukjae adalah keajaiban yang tidak pernah dilihatnya.
"Hae."
Donghae melihat Sungmin berdiri di sampingya. Ia tersenyum tipis karena tidak mampu bersuara. Lalu mengembalikan pandangan ke danau. Speedboat terlihat berlalu lalang disana. Suara music tradisional terdengar memenuhi sekeliling danau. Anak-anak berkumpul di sana, menonton dengan penuh semangat.
"Aku tidak akan bertanya apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Hyukjae." Sungmin membuka suara. Ia menatap laki-laki yang memandangi danau dengan sorot sendunya. "Tapi, aku ingin kau jujur, apa kau masih mencintai Hyukjae?"
"Aku tidak tahu, Ming." Suaranya terdengar datar, tetapi mengandung emosi yang ia sendiri tidak dapat menerkanya.
"Ya, kau masih mencintainya."
Perkataan Sungmin membuat Donghae menoleh. "Tidak sesimpel itu, Ming."
Sungmin mengangguk. "Memang tidak sesimpel itu. Masalah kalian bukan hanya perkara cinta atau tidak cinta. Kalian pernah hidup bersama, berbagai banyak hal, lalu berpisah dan akhirnya bertemu lagi." Ia melemparkan pandangan pada air kehijauan itu.
Hening sesaat antara mereka. Angin dingin berembus. Aroma syamgyupsal yang dimakan dua orang di samping mereka menguar. Namun, sama sekali tidak menggoda. Mulut Donghae terasa pahit untuk menelan sesuatu dan kepalanya berdenyut. Ia mengeluarkan rokoknya.
Sungmin mentap Donghae. "Seseorang mana pun pasti akan bersikap sama seperti Hyukjae jika di khianati. Marah, kecewa, sakit, pedih, perih. Maaf aku bicara seperti ini." Meliha anggukan Donghae, ia melanjutkan. "Aku tahu Hyukjae saat itu berusaha keras mempertahankan pernikahan kalian. Tapi, dia akhirnya menyerah, karena sadar tidak punya pertahanan apa pun. Dan, kau memilih meninggalkannya."
Donghae menoleh ke arah lain dan memejamkan mata sejenak.
"Kau ini kerasukan apa sebenarnya, Hae? Melupakan istri. Menghamili anak orang. Dan sekarang ingin bercerai?"
Ia ingat-ingat ucapan Eommanya dulu. Di hatinya, terasa ada benda berat yang membentur keras. ngilu. Batinnya terus merutuk.
"Perceraian jadi ujian terbesar untuk semua yang mengalaminya. Karena itu, aku mengajak Hyukjae mengajar di Kindergaten. Aku tidak ingin Hyukjae terpuruk." Sungmin menghela napas panjang. "Dan, kau datang lagi bersama Haru. Aku tahu itu beban berat untuk Hyukjae. Dia berusaha menghadapi keadaan. Aku senang melihat kalian bisa dekat lagi. Sampai kemarin aku dengar dia bilang ingin menikmati apa yang sebenarnya dia ingin nikmati. Artinya dia bahagia, kan?" melihat pandangan Donghae langsung beralih padanya, Sungmin sadar tersimpan sesuatu di wajah lelaki tampan itu. "Tapi, tadi dia bilang ingin bersikap realistis sekarang dan melupakan semua harapan konyol."
Realistis? Harapan konyol? Donghae terperangah. Tubuhnya terasa goyah meski tetap tegak berdiri. Lidahnya terasa kelu.
"Kisah kalian lucu, Hae." Sungmin tertawa getir. "Tapi, pernah kau berpikir kalau ini takdir?"
Donghae merasakan hatinya ikut tertawa. Ia menjilat bibirnya yang terasa kering. "Awalnya aku pikir hanya kebetulan, tapi belakangan aku mulai berpikir ini mungkin takdir."
"Lalu, apa yang kau inginkan sekarang?"
"Kesempatan, Ming."
"Kesempatan untuk?"
"Memperbaiki segalanya." Donghae kembali menatap kosong danau. "Tapi, kalau kesempatan itu tidak ada. Aku hanya menginginkan Hyukjae memaafkanku. Itu saja."
"Mungkin Hyukjae perlu waktu memahami ini semua, Hae. Memberikan kesempatan kepada orang yang pernah menyakiti kita, bukan hal yang mudah, kan?"
Donghae merasa berada di ruang gelap. Pengap. Keributan anak-anak terdengar dari kejauhan. Tubuhnya bergetar hebat. Ia merasa ada sebuah gulungan yang menyerapnya hingga tandas. Diisap rokoknya dalam-dalam, mengalirkan resahnya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey
