COMING HOME
DONGHAE X HYUKJAE
.
.
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 16
When you go
Would you even turn to say
"I don't love you
Like i did
Yesterday"
-"I don't Love You", My Chemical Romance"-
.
.
Karena aku percaya, tak pernah ada kata salah untuk cinta.
Sambil membawa buku dalam dekapan. Hyukjae membuka pintu kelas lebih lebar. Ia memberikan senyum pada Kim Sonsengnim yang baru menemuinya dan melihatnya melangkah pergi. Namun, saat menangkap sosok Donghae, tubuhnya tak bergerak. Ada sebentuk emosi yang muncul meski tahu lelaki itu tidak melihatnya.
Sejak kapan Donghae dan Haru berada disana? Dan sedang apa? Pandangan Donghae terlihat kosong. Apa yang lelaki tampan itu pikirkan?
Sesaat terbesit untuk tidak menghiraukan dan melangkah ke ruang guru. Tetapi, tubuhnya menolak. Hyukjae tetap berdiri di sana, memandangi Donghae dengan getar di dadanya. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Bukan rasa marah yang dirasakannya kini, melainkan kecewa dan takut. Donghae adalah sebentuk labirin dengan likunya. Hyukjae merasa tidak akan mampu masuk ke tempat itu dan tersesat.
"Sonsengnim!" Haru memanggil riang, membuat Donghae ikut menoleh. Anak itu berlari mendekati Hyukjae dengan senyumnya yang membawa damai.
Hyukjae mengusap rambut anak itu. "Ada yang ketinggalan, Haru?"
Sebelum Haru sempat menjawab, Donghae lebih cepat menyahuti. "Aku ingin berbicara denganmu, Hyuk." Nada suaranya terdengar tenang, tetapi mengandung sesuatu yang berat.
"Saya tidak bisa. Banyak yang harus saya urus." Jawaban Hyukjae terdengar formal, sama datar dan dinginnya dengan sorot matanya.
"Sebentar saja." Donghae mengiba.
"Saya benar-benar tidak bisa." Hyukjae mempertegas wajahnya.
"Hyuk, aku mohon." Matanya benar-benar menyorotkan sebuah permohonan. Sekilas, Donghae melirik Haru yang menatap kedua orang dewasa itu. "Kita keluar, makan es krim?"
Mata Haru melebar. "Haru mau es krim!"
Hyukjae terdiam sesaat. Ia ragu. Bingung. Ditatapnya bening mata Haru. Selalu, ia merasa terjebak jika berhadapan dengan anak itu. Ingin ia bisa mengucapkan penolakan, tapi tubuhnya mengkhianatinya, ia mengangguk. Hyukjae menghela napas panjang. Kali ini, ia kembali bertanya-tanya, apa yang diinginkan Donghae darinya.
.
.
.
Sebuah taman yang ramai oleh anak-anak yang menaiki permainan terasa sepi bagi Donghae dan Hyukjae yang duduk di sebuah bangku panjang, menatap Haru bermain dalam keheningan. Tidak ada suara yang keluar di antara mereka. Tubuh mereka pun tidak ada yang bergerak.
Selama di kedai es krim, Donghae merasakan lidahnya kelu. Ia menelan setiap es krim yang masuk ke mulutnya dan terasa pahit. Ia tidak tahu harus mulai dari mana untuk menjelaskan pada Hyukjae. Dan, memilih kedai es krim yang berarti membuat mereka dekat dengan Haru, itu pilihan salah. Tidak mungkin mereka mendiskusikan atau bertengkar di depan anak itu.
Di sampingnya, terdengar Hyukjae membersihkan kerongkongan. Donghae melirik sekilas. Mendadak, ia disergap keraguan, apakah Hyukjae akan mendengarkan dan mengerti? Atau apakah ia harus bersikap jika lelaki itu bergerak menjauh?
"Hyuk..." perlahan, Donghae membuka suara. Hatinya masih diliputi keraguan. Melihat lelaki manis itu hanya menoleh tanpa mengatakan apa pun, jantungnya berdetak cepat. "Aku ingin minta maaf."
"Untuk?" tanggapannya terdengar begitu dingin. Pandangannya tidak berpindah dari Haru.
Donghae menjilat bibir yang terasa kering. Ia berusaha mencari kata-kata. Ditatapnya lelaki manis itu lekat. Lekuk wajahnya dari samping dengan rambut yang bergerak tertiup angin terlihat sangat tenang, tanpa ekspresi . "Aku minta maaf untuk kejadian malam itu. Mungkin, itu memang salahku sepenuhnya. Apa yang terjadi benar-benar di luar kehendakku. Aku tidak bermaksud sejauh itu."
"Lalu?" suaranya masih datar.
"Hyukjae..." Donghae menahan gejolak hatinya. "Aku ingin membicarakan serius tentang kita."
Hyukjae menoleh dengan kening mengerut. "Kita?" ia hampir tertawa, merasa sangat lucu dengan kata itu. "Ada apa dengan kita, Tuan Donghae? Saya guru Haru dan Tuan adalah orangtua murid saya. Bukan begitu?"
Donghae menekan emosinya. Sorot mata dan nada bicara lelaki manis itu mengisyaratkan semua ini tidak penting. "Hyuk, apa menurutmu sebuah kesalahan kalau kita memiliki perasaan yang sama dengan berharap bisa kembali seperti dulu?"
Kerutan di kening Hyukjae semakin dalam. Matanya memandang seperti mendenga sebuah lelucon. Ia tidak menanggapinya, membiarkan lelaki tampan itu melanjutkan ucapannya.
"Kenapa? Kau menganggap itu juga salah?" Donghae menahan napas, terlihat rahangnya mengeras. "Dan, apa juga sebuah kesalahan ketika aku menyadari kebodohanku saat bertemu denganmu disini, aku tidak menginginkan apa pun lagi, tidak ingin melihat atau mendengar apa pun lagi. Aku ingin tetap disini, melihatmu. Aku ingin terus bersamamu. Apa itu salah, Hyukjae?"
"Tahu kenapa saya tertawa, Tuan Donghae?" Hyukjae kini menatap tegas. "Karena Anda yang lebih dulu menganggap semua adalah kesalahan!"
"Ya! Dan aku tahu kesalahanku, Hyuk! Aku mencoba memperbaikinya!" Donghae menatap dengan kilatan di matanya. Terasa remuk redam. Ia hampir menggeram.
Hyukjae menyeringai seakan tak peduli. "Tuan Donghae, sebuah kesalah kalau Anda menganggap ada sesuatu yang lebih dari hubungan ini!"
Donghae terdiam, mencoba menyeimbangkan antara emosi dan pikirannya. Gejolaknya semakin mendidih. Rahangnya yang mengeras menunjukkan urat-urat kekesalannya. Ia diantara gamang, bingung, marah. Ditatapnya Hyukjae lebih lekat dan tahu ada yang tersembunyi di sana, berbeda dengan gerak yang ditunjukkannya.
"Dan satu hal lagi, Tuan Donghae," Hyukjae tampak berusaha menguasai diri. "Saya tidak mempunyai perasaan apa-apa lagi terhadap Anda."
Jantung Donghae seperti di tinju begitu keras. Jika ini ring, ia sudah tertata mundur atau terjatuh berdebum. Hampir K.O. "Bisa ulangi, Hyukjae?" suaranya bergetar.
Hyukjae menegakkan tubuhnya, menatap lurus, dan berkata mantap, "Saya tidak mempunyai perasaan apa-apa lagi terhadap Anda."
Donghae terkesiap. Dunia seakan berhenti berputar. Wajahnya memucat. Ternyata, ia tidak butuh persiapan apa pun karena lelaki manis itu telah menyiapkan arahnya sendiri, berbeda dengannya. Sesaat, Donghae tidak dapat berkata-kata. Tidak dapat bergerak. Ia merasakan dinginnya Hyukjae mampu membekukkan semua harapannya. "Kau bohong, Hyuk...," desis Donghae.
Hyukjae menarik napas dalam, lalu berkata. "sebaiknya, kita tidak perlu bertemu lagi di luar jam perlajaran, Tuan Donghae." Ia mengenakan tas dan bersiap berdiri. "Saya permisi."
Donghae menatap lelaki manis itu melangkah pergi melewatinya. Jiwanya luruh bersama masa-masa yang hilang. Namun, dengan sisa kekuatan, ia ikut berdiri, mengejar, dan berhenti tidak jauh di belakang Hyukjae. "Hyuk! Kalau aku bilang, aku tidak bahagia bersama Sohyun, apa kau percaya?"
Hyukjae mematung memunggunginya. Sama sekali tidak menggerakan kepalanya menoleh.
"Setelah kita bercerai, setiap pulang kerja, aku mencarimu, Hyuk! Aku ingin kau menunggu ku!" Suara Donghae keras dan bergetar. Ia tahu orang-orang melihat kearahnya, tapi ia tidak peduli. "Aku bingung, Hyukjae! Aku stress! Aku jalani hiudp yang aku pilih, tapi kenyataan yang aku lihat, bukan kau yang ada disampingku!"
Punggung lelaki manis itu masih tegak, tidak bergerak sedikitpun.
Donghae merasakan hatinya menjerit. Matanya berair. Napasnya naik turun. Suaranya merendah. "Kau ingin dengar alasanku?" Tubuh lelaki manis itu memaku. Donghae memejamkan matanya sejenak, kemudian berkata tegas. "Karena aku sangat mencintaimu."
.
.
.
Aku sangat mencintaimu.
Hyukjae mendengar jelas ucapan itu. Detak jantungnya seakan terhenti. Pikirannya mendadak kosong, seperti berada dalam kehampaan. Tubuhnya berdiri kaku. Dirasakannya Donghae meraih tangannya, namun ia segera melepaskannya.
Setengah berlari, Hyukjae meninggalkan taman. Ia harus pergi. Ia harus menghentikan semua ini.
Sempat di dengarnya panggilan Haru. Ia ingin menoleh, tapi sang otak melarangnya. Ia menghentikan becak dan segera naik. Ada kepedihan samar. Ditariknya napas berat. Ia memang harus melakukan ini. Hyukjae menguatkan hati. Harus. Matanya mengerjap, mengalirkan bulir membasahi pipinya.
Mata Hyukjae menangkap sisa bayang Donghae di kejauhan. Ia tidak mau membiarkan hatinya memilih kembali pada laki-laki tampan itu. Selamanya, ia akan menyimpan baik-baik sosok Donghae. Ia akan mengingatnya suatu waktu untuk menebus rindu pelukannya, tatapannya, hangat tubuhnya, lembut ciumannya. Air matanya kembali bergulir. Tuhan, jangan kehendaki tubuhku berbalik. Karena, ia tahu, ketika ia berada begitu dekat dengan Donghae, ia tidak tahu bagaiman melepasnya.
Aku sangat mencintaimu.
Kata-kata itu terus menggema, membuat sakitnya semakin terasa.
Hingga beberapa lama, ia menyadari sopir taksi menanyakan tujuannya untuk kesekian kali. Ia hanya menyuruhnya jalan. Tidak peduli kemana pun, asalkan membawa pergi hatinya.
Drrrrt.
Satu pesan masuk: Donghae.
Maaf.
Aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Tapi masih bolehkah aku menyimpan harapan yang tak terbatas untukmu, Hyukjae?
Hyukjae terdiam menatap ponselnya. Jarinya tidak mengetik apa pun. Ia benar-benar goyah, tetapi tidak mempuntai sesuatu apa pun menjadi pertahanannya. Bening air matanya jatu di atas layar itu. Memang dirinya yang ingin tenggelam dalam gelap pesona Donghae. Kini, ia tidak mampu mencari jalan keluar karena sudah terlanjur jauh.
Aku sangat mencintaimu.
Kali ini, disuarakan hatinya sendiri.
Hyukjae menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan, mulai terisak-isak.
.
.
.
Tidak tersisa harapan. Satu atau sekecil apa pun.
Donghae duduk gamang sambil melihat Haru makan bimbimbapnya dengan lahap, sedangkan miliknya masih utuh belum tersentuh. Ia hanya meneguh kopi hangatnya, kehilangan selera makan. Pikirannya masih terfokus pada apa yang terjadi. Hyukjae memilih mengakhiri semuanya. Mengakhiri.
Apa yang sebenarnya ia lakukan? Ketika kembali ke kota ini, ia tidak mempunyai pikiran apa pun hingga pertemuannya dengan Hyukjae membuatnya segalanya jadi lain. Ia menginginkan lelaki manis itu dan sadar hanya dengan Hyukjae ia merasakan bahagia. Hanya dengan lelaki manis itu—satu-satunya.
"Appa tidak makan?" Haru menatap ayahnya dengan mata polosnya.
"Appa sudah kenyang, Sayang. Haru mau tambah?" Donghae mengusap sekitar mulut putrinya dengan tisu.
"Haru menggeleng. "Aniyo, Haru kenyang." Anak itu menyedot jus strawberry-nya, lalu kembali menatap ayahnya yang murung. "Appa, kenapa Sonsengnim tidak mau pulang bersama?"
"Sonsengnim ada perlu, Sayang." Donghae tersenyum, mencoba menenangkan putrinya. Sejak melihat Hyukjae meninggalkan mereka, selalu itu yang ditanyakan.
"Haru sayang Appa." Haru menyandarkan kepalanya di lengan lelaki itu.
"Oh ya?" Donghae pura-pura tak percaya seraya mengusap rambut anak itu. Hatinya sedikit terhibur.
"Haru sayang sama Sonsengnim juga."
Kali ini, pernyataan putrinya itu membuat jantungnya yang lebam, di pukul lebih keras. kepalanya berdenyut-denyut, perutnya perih. Bagaimana menjelaskan pada Haru bahwa mereka tidak bisa bersama-sama lagi? Bagaimana jika anak ini tahu benar-benar berpisah dari gurunya? Kelak, hari itu akan ada. Tapi, ia tidak tahu kalau hadir lebih awal. Disisirnya rambut Haru. Anak ini terlalu kecil untuk memahami semuanya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey
