COMING HOME
DONGHAE X HYUKJAE
.
.
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 17
If I could turn back the time.
I would put you first in my life.
-"Don't Say Is Too Late", Westlife-
.
.
Karena dirimu adalah bintang di langit, sementara aku hanyalah pasir lautan.
Daun-daun masih basah oleh sisa hujan yang mengguyur sepanjang pagi. Desau angin dingin menusuk sendi-sendi tubuh Donghae yang tengah bersandar pada mobilnya, menatap ke halaman sekolah. Anak-anak berhamburan ke luar dari kelas. Refleks dicarinya Hyukjae di depan pintu kelas. Detik itu juga Donghae merasakan ngilu. Jantungnya memukul-mukul kencang. Hyukjae berdiri di sana, tetapi ia tidak akan pernah lagi bisa melihatnya lebih dekat.
Betapa pun menginginkannya, Donghae tidak mungkin memilikinya. Ia sedang benar-benar berhenti harapan. Cinta yang hadir di antara mereka berada di ruang dan waktu yangsalah. Dan, ia telah kalah.
Bolehkah tetap menunggu?
Donghae menggeleng. Seharusnya, ia menyadari bahwa tidak ada awal tanpa akhir. Seorang pelari akan mencapai garis finis dan selesai. Perpisahannya dengan Hyukjae kali ini mengajarkannya memahami bahwa mencintai berarti belajar mengerti. Juga memahami untuk melihat lebih jeli karena manusia tidak bisa benar-benar membaca dirinya sendiri.
"Appa!" Haru berlari ke arahnya.
Donghae berjongkok. "Belajar apa hari ini?" Diusapnya pipi putrinya.
"Belajar membaca." Haru tersenyum manis. "Kita jadi makan pizza, Appa?"
"Jadi dong!" Donghae bangkit berdiri membukakan pintu depan untuk putrinya.
"Haru mau duduk di belakang saja. Nanti, kan Sonsengnim duduk di depan." Anak itu berdiri di depan pintu belakang mobil.
Donghae tersenyum getir. Ditelannya ludah susah payah. Pahit. "Sonsengnim tidak bisa ikut, Haru."
Wajah Haru berubah terkejut. "Kenapa Sonsengnim tidak ikut?"
"Sonsengnim banyak kerjaan, Sayang." Di tatapnya gadis kecilnya dengan pandangan merana. Saat Haru masuk ke pintu depan mobil tanpa berkata-kata lagi, Donghae memejamkan matanya. Ia menghela napas berat. Lalu, berjalan memutar ke pintu kemudi. Ditatapnya Haru yang mengerutkan bibirnya, tidak mau menatapnya. "Nanti Appa belikan es krim juga, Haru mau kan?" ia mencoba merayu.
Haru masih terdiam. Tatapannya lurus kedepan.
Donghae mendekatkan wajahnya ke Haru. "Haru, besok-besok saja yan kita ajak Sonsengnim. Sekarang, Haru makan pizza berdua sama Appa dulu."
Haru menoleh, kerutan di bibirnya berkurang. "Besok Sonsengnim ikut kita, Appa?"
"Mmm..., Appa tanya dulu, ya. Sonsengnim masih banyak kerjaan atau tidak, oke?" donghae merutuki diri karena berjani macam-macam pada putrinya.
Haru mengangguk, tidak berkata-kata. Terlihat raut sedih di wajahnya yang menunduk.
Donghae mencium kepala Haru. Lama. Matanya terpejam erat. Meluapkan gelisah dan pilu hatinya. Menutupi kesedihannya. Membungkus ketidakberdayaannya. Mengurai sesal yang terus mendera. Mungkin, kesalahannya tidak akan tertebus oleh apa pun.
.
.
.
Bayangan Haru berlari ke luar sekolah melintas di benak Hyukjae ketika menghempaskan tubuh ke kursinya. Semangatnya menguap. Tubuhnya terasa tak berdaya. Ia menyandarkan punggungnya dan menatap kosong meja yang penuh tumpukan buku dan kertas. Bukan al mudah melupakan kebersamaan mereka. Tapi, jika di teruskan, ia akan terluka lebih dalam lagi. Ia tidak mau berada dalam dunia rekayasa. Ia ingin dicintai tulus sebagai dirinya dan tidak pernah terbagi lagi.
"Kau mau dengar alasanku? Karena aku sangat mencintaimu!"
Hyukjae memjamkan mata. Ia tidak boleh bimbang. Tidak, jangan lakukan it atau pilihan untuknya tidak pernah ada. Kebimbangan adalah kelemahan hati. Ia tidak selemah itu dan harus memunculkan kembali benteng pertahanannya yang dibangunnya bertahun-tahun. Ia kuat. Ia bisa menghadapi semua ini.
Hyukjae menghela napas berat dan membuka mata. Semua ini memang akibat kebodohannya membiarkan dirinya dekat setelah Donghae menolongnya dengan datang kerumahnya dan membuat semuanya seperti ini. Sungguh bodoh!
Semakin mengingat semuanya, percintaan mereka malam itu mengental. Hyukjae mendengus kesal. Seharusnya, ia tidak menyerah di luar akal sehatnya yang menginginkan sentuhan Donghae—meskipun ia harus berterima kasih lelaki itu bermain aman. Ia tidak mau mengandung anak Donghae dengan status mereka seperti ini. Ia juga tidak mau menikah dengan Donghae karena anak. Harga dirinya tidak serendah itu! Kebahagiannya tidak akan pernah digadaikan untuk sebuah kepalsuan. Dan, ia tidak mau lagi memiliki cinta yang terbelah karena hatinya tidak mampu berbagi.
Keadaan tidak bisa diubah dan mengakhiri adalah satu-satunya pilihan.
.
.
.
Angin yang membawaku padamu, menghempaskan kembali tubuhku karena jarak kita tidak terbatas.
Pasar malam terasa lengang untuk Donghae. Suara ingar-bingar musik, teriakan kegembiraan, langkah-langkah sekeliling, sirine permainan-permainan, seperti dengung jauh. Keramaian yang terlihat layaknya bayangan buram, tanpa setitik pun warna. Hanya ada dirinya menggandeng Haru, berada di tengah, melihat-lihat mana yang mereka tuju.
"Appa, Sonsengnim banyak kerjaannya sampai kapan? Haru kan mau jalan-jalan sam Sonsengnim," ujar Haru kesal.
Sonsengnim tidak mau bertemu Appa lagi, Haru. Donghae berjongkok, menatap binar rindu di mata Haru, sama seperti rindu di matanya. Diusapnya pipi gadis kecil itu. "Appa tidak tahu, Sayang."
"Haru mau sama Sonsengnim..." Hidung anak itu kembang kempis. Bibirnya bergetar. Matanya berair.
Haru telah menemukan sosok ibu dalam diri Hyukjae. Donghae tersenyum pahit dan getir. Sekarang, anak ini menginginkan ibunya. "Haru jalan berdua sama Appa saja, ya?"
"Haru mau jalan sama Sonsengnim! Haru mau main sama Sonsengnim! Haru mau tidur di peluk Sonsengnim!" Haru hampir menjerit dalam tangis.
Donghae merengkuh anak itu dan menggendongnya. Di usapnya rambut tebal itu yang terkulai di bahunya, terisak. Donghae menciumi kepalanya, menahan sakitnya sendiri. "Haru mau naik bianglala tidak?" tanya Donghae pelan di telinganya.
Haru menoleh mengikuti arah yang ditunjuk ayahnya, menatap putaran besar dengan kerlap-kerlip lampu warna-warni. "Mau." Gadis kecil itu mengangguk sambil mengusap matanya dengan punggung tangan.
Donghae melangkah ke tempat pembelian karcis, kemudian mendapatkan kesempatan pertama naik bianglala. Haru duduk di pangkuannya, bersandar di dadanya. Keduanya menatap ke luar, melihat kerlap-kerlip lampu bertebaran di pasar malam. Musik masih terdengar keras, tetapi tidak mengusik keheningan mereka. Napas Haru masih tersendat-sendat.
"Haru mau permen tidak?" Donghae menjulurkan dua permen ke depan anak itu.
"Permen dari Sonsengnim, ya?" Senyum Haru mengembang.
Donghae menelan ludah. "Iya." Ia membukakan satu permen dan menyuapkan ke bibir Haru. Putrinya lebih tenang, merasa Sonsengnimnya bersama permen itu. Donghae mengingat bagaimana raut wajah Haru ketika bersama Hyukjae. Senyumnya riang, tawanya lepas, matanya berbinar. Ia merasa bisa berbagi tugas dengan lelaki manis itu. Namun, kini ia harus kembali memainkan peran ganda dan harus membuat Haru belajar melupakan ibunya.
"Haru kangen Sonsengnim." Ujar Haru pelan.
Donghae mencium rambut Haru. Ia memeluk erat tubuh mungil itu. Seandainya Hyukjae bisa mendengar ucapan Haru. Seandainya Hyukjae bisa mengerti bahwa ia tidak pernah menjadi bayang-bayang siapa pun. Donghae mencintai lelaki manis itu sebagai Hyukjae apa adanya.
Saat bianglala berhenti, guntur terdengar dan kilat terlihat membelah langit. Gerimis mulai turun. Donghae segera menggendong putrinya turun dan melangkah cepat ke parkiran. Bodohnya, ia lupa membawa jaket Haru. Jantungnya berdegup cepat karena khawatir.
"Appa, Haru mau naik itu." Haru menunjuk komedi putar.
"Hujan, Haru."
Gerimis berubah menjadi hujan yang kian deras. Orang-orang di sekitarnya ikut berlari menyelamatkan diri dari kebasahan. Nadinya berdetak cepat, membuat darahnya mengalir deras. Langkahnya semakin cepat.
.
.
.
Hyukjae menuang rebuasan jahe, gula dan daun pandan ke dalam gelas. Sepanjang hari, cuaca tidak cerah dan sekarang hujan turun deras. Di kamar, ia tidak bisa memejamkan mata. Hanya menatap langit-langit. Pikirannya tidak menentu, terus mengarah ke sulur-sulur tak terbatas. Tetapi, yang paling diingatnya adalah dua wajah itu, Donghae dan Haru. Dua orang yang dicintainya, dua orang yang membuatnya berbeda, dua orang yang membuat berbagai rasa hadir tanpa tahu harus diberi nama apa. Manusia memiliki segala keterbatasan, karena itu tidak mungkin mendapatkan semua yang diinginkan.
Hyukjae menyeruput minuman jahe buatannya. Aliran hangat turun melalui kerongkongannya, mengaliri seluruh tubuhnya. Di luar jendela dapur, hujan masih turun deras. Diam-diam, ia membayangkan Haru. Anak itu seperti hujan—mengalirkan kamarau tanpa pernah disadarinya. Hyukjae menghela napas pelan, menekan kerinduannya.
"Belum tidur?" Bibi Jang masuk ke dapur dan ikut menuang minuman jahe sambil memperhatikan gerak-gerik keponakannya. "Ada masalah?"
"Tidak apa-apa, Bibi. Cuma belum mengantuk." Hyukjae tersenyum.
"Sungguh?" Bibi Jang terlihat khawatir.
"Iya, Bibi."
"Yasudah, Bibi mau tidur. Kau juga tidur, ya" Bibi Jang mengusap lengan Hyukjae.
Hyukjae kembali mengulas senyum, menatap perempuan paruh baya itu berlalu. Ia meneguk minumannya dan menatap hujan. Mata pekat Haru hadir disana. Senyumnya, keceriannya, keriangannya. Ia mengeluarkan ponselnya, menakan serangkaian nomor ponsel Dongae. Ia hanya ingin mendengar suara nyaring itu. Tapi, tidak! Hyukjae mengurungkan niatnya. Ia sudah mengatakan pada Donghae agar mereka tidak perlu berhubungan lagi, bagaimana mungkin ia menghubunginya lebih dulu? Bodoh!
Drrrrrttt.
Nama Donghae tertera di layar.
Kenapa bisa lelaki itu menelpon balik dirinya? Hyukjae mengerutkan kening. Ia ingin membiarkan, tetapi perasaanya tiba-tiba resah. Dengan ragu-ragu. Ia menekan tombol untuk menjawab.
"Halo," jawabnya dingin.
"Hyuk, maaf menganggu. Boleh aku minta tolong?" suara Donghae terdengar panik.
"Haru kenapa?" entah dari mana datangnya, ia bisa menduga terjadi sesuatu dengan anak itu.
"Haru panas tinggi, Hyuk! Bisa kerumah?"
Gadis kecilnya sakit? Jantungnya berdegup kencang. Rasa cemas menguasai Hyukjae. Bagaimana jika... Tidak! Ia tidak mau berpikir macam-macam. Ditelannya ludah susah payah, ikut didera panik. "Aku kesana sekarang."
.
.
.
TBC
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey
