COMING HOME

DONGHAE X HYUKJAE

.

.

Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.

Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.

.

.

Thank You

.

.

Happy Reading

.

.

BAB 18

I need to understand

Why you and I come to an end

-"Broken Vow", Josh Groban-

.

.

Kita saling menatap, tetapi tak dapat saling menyentuh, bagai dua bayangan.

Donghae gelisah. Sudah bekali-kali digantinya kompres Haru, tetapi panasnya belum juga turun. Gadis kecil itu merintih dan bergumam tidak jelas. Tubuhnya yang terbungkus selimut, gemetar dan keluar keringat dingin. Donghae membetulkan letak selimut putrinya itu seraya tak henti mengucap doa. Ia begitu takut kehilangan makhluk mungil itu.

Detik-detik terus berjalan. Sekarang, pukul sepuluh malam. Donghae menyibak tirai jendela ruang depan. Hyukjae belum datang juga. Atau... benar-benar tidak akan datang? Hujan lebat di luar, membuat rumah ini terasa dingin. Hatinya bertambah gusar membayangkan Haru, membayangkan hal-hal yang akan terjadi, dan membayangkan hidupnya akan begitu sepi untukk dinikmati sendiri.

Donghae duduk lemas memandangi jam dinding. Otaknya terasa buntu, tidak tahu harus melakukan apa atau bagaimana. Waktu terasa panjang tanpa akir pasti. Donghae mengusap wajanya, merasakan kepalanya sendiri ikut berdenyut-denyut.

Suara bel langsung membuatnya bangkit menyibak tirai jendela. Hyukjae berdiri di balik pagar rumah mengenakan mantel hujan bersama sepedanya. Di luar begitu gelap, tetapi remang cahaya lampu jalan dan lampu depan rumahnya cukup menerangi wajah lelaki manis itu. Senyum Donghae mengembang. Tuhan menjawab doanya. Setengah berlari menerobos hujan, ia membukakan pintu pagar.

"Terima kasih." Ujar Donghae, menghela napas lega.

Hyukjae tidak menjawab. Dalam sejekap, mereka saling tatap, membisu. Sama-sama tidak tahu harus mengatakan apa. Pada detik berikutnya, Hyukjae tersadar. "Bagaimana keadaan Haru?" suaranya menyiratkan kecemasan.

"Masih demam" Donghae menutup kembali pagar dan membantu Hyukjae menuntun sepeda ke pelataran rumah.

Hyukjae membuka mantel hujannya seraya berjalan masuk. Langkahnya sedikit terburu-buru menuju kamar. Ia mendekati tempat tidur, melihat gadis kecil itu menggigil. Perlahan-lahan, diulurkannya tangan menyentuh kening Haru. Panas.

"Tadi, aku mengajak di jalan-jalan pasar malam. Sepertinya, Haru kelelahan dan kedinginan karena hujan." Ujar Donghae yang berdiri di sisi pintu. Matanya menatap Haru sedih.

Hyukjae masih tidak menanggapi. Ia kembali menyentuh tubuh Haru, merasakan dingin dan sekitar tengkuknya basah. "Hae, ada handuk kering?"

Donghae segera mengambilkannya. Ia ikut duduk di samping tempat tidur, memperhatikan lelaki manis itu mengusap tengkuk Haru. "Haru..." Ia mengusap lengan putrinya ketika melihatnya membuka mata.

Haru melihat sekelilingnya. Mungkin terasa pusing sehingga sulit menegaskan pandangannya. "Sonsengnim..." Hanya itu yang bisa diucapkannya. Lemah.

"Iya Sayang. Ssshh..." Hyukjae mengusap rambutnya, membiarkan anak itu kembali tertidur. Lalu ia menoleh pada Donghae. "Kau sudah kasih obat penurun panas, Hae?"

Donghae menggeleng. "Belum"

Hyukjae terbelalak. "Belum dikasih apa-apa?" Menyadari suaranya terlalu keras, ia melirik Haru dan mengecilkan suaranya. "Hae, dia panas tinggi!"

"Aku tidak tahu obatnya apa, Hyuk! Aku takut memberikan obat sembarangan."

"Kau bisa tanta ke apotek atau cepat-cepat ke dokter, kan? Bagaimana kalau Haru terkena demam berdarah atau typus atau apa?" Napas Hyukjae naik turun karena emosi dan panik. Ia mengambil handuk kecil di kening Haru dan memerasnya di baskom.

"Aku—"

Hyukjae seakan-akan tidak peduli penjelasan laki-laki itu selanjutnya. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya. "Aku telepon klinik dulu. Siapa tahu masih buka." Ia segera keluar kamar membawa ponselnya.

Donghae menatap punggung Hyukjae. Ia tahu lelaki manis itu tidak kalah paniknya, tidak kalah cemasnya. Tetapi, ia tidak ingin suasana antara mereka seperti ini. Donghae mendesah pasrah dan mengembalikan perhatiannya pada Haru.

.

.

.

Donghae mengembuskan napas lega ketika kembali ke mobil. Tidak ada yang serius dengan Haru. Hanya radang tenggorokan, begitu kata dokter. Ia merasakan jantungnya kembali berdetak normal. Anak itu terkulai lemas di pangkuan Hyukjae. Wajahnya masih kuyu dan matanya masih mengerjap-ngerjap sayu. Donghae tersenyum, padanya. Haru hanya mampu menggerakan bibirnya sedikit dan menyandarkan kepalanya di dada Hyukjae.

"Haru lapar, Sayang?" tanya Hyukjae pelan, seperti berbisik. Gadis kecil itu menggeleng lemah, tangannya memegang erat lengan Hyukjae. Lelaki manis itu mengusap rambutnya, menyentuhkan pipinya di kening Haru untuk tahu suhu badannya, dan sesekali mencium puncak kepalanya. Hatinya bergetar menyadari bahwa ia begitu menyayangi gadis kecil ini.

"Maaf selalu merepotkanmu, Hyuk." Ujar Donghae seraya menjalankan mobil. Ekor matanya melihat sesaat perhatian Hyukjae terhadap putrinya. Dada Donghae berdesir, lalu merasakan nyeri.

Hyukjae menyandarkan kepalanya dan menoleh keluar jendela. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya, sementara tangannya masih mengusap rambut Haru yang kini terlelap. Jantungnya berdetak kencang. Ada yang berkecamuk, ada yang mengganjal, ada yang merekat erat pada bibirnya sehingga tak mampu membuka. Kulitnya merasakan dingin dari jendela mobil yang terbuka. Malam yang dingin, sisa hujan masuk ke mobil, membekukan tubuhnya.

"Aku tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih, Hyuk." Donghae menyesali basa-basi ini.

Hyukjae bungkam, terus memperhatikan jalan. Otaknya tidak mampu berpikir, tidak mampu membayangkan apa pun. Ada resah menyelinap di antara degupan jantungnya. Sesaat. Ia memejamkan mata, meredakan gejolak dadanya dan menghela napas panjang.

Donghae sibuk merangkai kalimat dalam benaknya. Ia tidak ingin membuat Hyukjae semakin menjauh darinya karena satu hal yang ia mulai sadari dengan jelas, ia tidak bisa menjauh dari lelaki manis itu. Donghae ingin waktu berhenti beberapa menit saja, atau setidaknya, keadaan dingin ini mencair sesaat.

"Hyuk, kau..." Donghae memikirkan pertanyaan yang tepat. "Kau ingin makan sesuatu?" Sialnya, ia kembali berbasa-basi.

"Aku tidak lapar." Jawab Hyukjae dengan nada datar. Ia bermaksud melempar senyum, tapi segera mengurungkan niatnya.

"Hyuk..." Donghae menelan ludah. "Tentang kita—"

"Aku tidak ingin membicarakan itu lagi, Hae" Hyukjae terus menatap keluar jendela. Sudut hatinya tergelitik rasa lain, yang ingin cepat-cepat ia hilangkan.

Jakun Donghae naik turun menahan emosi dan kesedihannya yang bercampur-aduk di dalam dadanya. Tangannya meremas erat setir. Udara malam membuat atmosfer antara mereka semakin dingin. Otaknya tiba-tiba berubah tumpul, tidak bisa memikirkan sesuatu untuk jalan keluar.

"Hyuk, aku—"

"Aku tidak butuh dengar apa pun, Hae. Cukup! Sekarang kita ke apotek, lalu aku pulang." Hyukjae mengatur napas.

Donghae tidak membantah. Suasana hening. Hujan masih rintik-rintik. Tetesnya terpias mengenai wajah mereka. Mobil menyusuri jalan yang sedikit berbatu dan becek. Jaraknya terasa tanpa ujung.

Setelah lama menunggu di apotek dekat rumah, ternyata obat yang mereka butuhkan tidak ada. Donghae khawatir Haru semakin kedinginan kalau terlalu lama terkena udara malam, jadi ia memutuskan segera mengantar lelaki manis dan gadis kecil itu pulang.

Sesampainya di rumah, Hyukjae segera membawa Haru ke kamar tidur. Napas gadis kecil itu masih berat dan wajahnya pucat. Ia mengusap rambutnya. Haru begitu pulas.

"Hyuk, kau bersedia menunggu sebentar, kan? Aku akan ke apotek dekat minimarket." Donghae berdiri di depan kamar.

Hyukjae hanya mengangguk tanpa menoleh padanya. Ia menyelimuti Haru dan kembali mengompresnya.

"Gomawo." Donghae menatap sekilas.

.

.

.

Donghae kembali ke ruma lewat pukul dua belas malam. Suasana rumah yang hening membuatnya membayangkan dunianya begit sepi seperti ini. Sendirian. Tidak memiliki siapa atau apa pun. Dingin dan hujan malam ini seakan-akan meresap ke dinding-dinding rumah, membekukan dirinya. Bungkusan obat diletakan di meja makan.

Dari pintu kamar yang terbuka, Donghae menatap Hyukjae yang tertidur di sisi tempat tidur sambil menggenggam erat jemari Haru. Dibukanya pintu lebih lebar, memandangi wajah Hyukjae yang terbingkai rambut hitam mengilap dan napasnya yang naik-turun teratur. Donghae merasa bersalah membuat lelaki manis itu tampak kelelahan, sekaligus ingin melindunginya.

Donghae melangkah perlahan ke sisi lelaki manis itu agar jangan sampai terbangun. Hyukjae akan kedinginan jika dibiarkan sebagian tubuhnya di lantai. Beberapa saat Donghae berpikir, lalu dengan hati-hati mengangkatnya ke tempat tidur, di samping Haru. Hyukjae bergumam pelan seraya memutar tubuhnya ke pinggir tempat tidur. Donghae masih membungkuk di sisi tempat tidur, menikmati aroma manis lelaki berkulit putih itu. Tangannya terulur untuk mengusap rambutnya, tetapi dibatalkannya.

Donghae mengambilkan selimut dan menyematkannya di tubuh Hyukjae. Matanya tertaut lama pada lelaki manis itu. Jatungnya berdegup kencang. Ia merindukan Hyukjae. Mengingat mimik wajahnya, suaranya, dandanannya yang natural, kepeduliannya. Seharusnya, ia dulu tetap sadar bahwa Hyukjae selalu menjadi pengecualian. Hyukjae tidak pernah memina apa pun yang berlebihan, begitu juga saat dari kehidupannya. Hyukjae pergi membawa barang-barangnya sendiri dan—tanpa sadar—juga sisi hati yang mencintainya.

Memang hanya Hyukjae yang ada di hatinya. Tidak ada Sohyun. Tidak juga seseorang lain. Sifat dan sikap lelaki manis itu yang membuatnya nyaman, membuatnya merasa berarti, membuatnya selalu ingin begitu, membuatnya tidak peduli pada apa pun, asalkan bisa bersama Hyukjae. Kemana hati dan pikirannya dulu, begitu tega membuat lelaki manis itu terluka?

Aku menginginkanmu, Hyuk, dan aku membutuhkanmu. Bagaimana menjelaskan perasaannya kepada Hyukjae? Bagaimana memperlihatkan kekhawatirannya akan kehilangan Hyukjae lagi? Apakah ia masih memiliki keberuntungan untuk bisa meluluhkan hati lelaki manis itu seperti dulu? Ia benar-benar takut menghadapi kenyataan bahwa Hyukjae memang tidak pernah ada lagi untuknya.

Kalau saja Donghae bisa menukar rasa sakit Hyukjae dengan apa saja. Kalau saja bisa memutar waktu dan mengembalikan Hyukjae menjadi miliknya. Donghae duduk di lantai samping tempat tidur, memandangi wajah Hyukjae dari dekat. Napasnya hangat. Aroma tubuhnya begitu manis. Semanis permen. Seandainya bisa membisikkan kata-kata seperti dulu sebelum tidur, hei lelaki manis penuggang taksi, aku mencintaimu. Donghae tertawa getir dalam hati.

Rambut Hyukjae yang terlihat lembut, Donghae mengulurkan tangan rambut yang jatuh di dahi Hyukjae. Kecantikannya tidak pernah berubah. Hyukjae memang tidak pernah berubah. Donghae memajukan wajahnya sedikit, mengecup kening Hyukjae singkat. Mungkin, itu yang terakhir sebelum kenyataan membawanya ke sisi terburuk.

Donghae berdiri dan melangkah ke pintu. Sebelum meraih handle pintu, ia menoleh, memastikan lelaki manis dan gadis kecil beda generasi itu tidur tenang. Dengan hati-hati agar tidak menganggu, Donghae membuka pintu dan mematikan lampu.

.

.

.

Bagiku dirimu tetap nyata.

Sedikit demi sedikit, Hyukjae membuka mata, merasakan sesuatu yang menyilaukan. Disentuhnya selimut lembut yang melingkupi tubuhnya. Matanya mengernyit merasakan sesuatu yang tidak biasa. Ketika menatap langit-langit, ia tersentak kaget. Ia ketiduran! Jantungnya berdegup kencang menyadari Donghae membetulkan letak tidurnya dan menyelimutinya.

Hyukjae menoleh pada Haru yang masih terlelap. Ia mengulurkan tangan memegang dahi Haru, masih panas dan wajahnya masih merah, tetapi sudah tidak menggigil. Terdengar beberapa kali anak itu batuk. Hyukjae menyibak selimut. Haru butuh sarapan dan obatnya.

Sebelum sempat melangkah jauh, pintu kamar dibuka. Donghae berdiri di sana dengan nampan berisi air putih, roti, dan obat. Laki-laki itu tampak segar, penuh aroma sabun—meski matanya terlihat lelah. "Haru sudah minum obat penurun panas semalam. Aku ingin membangunkanmu, tapi kau lelap sekali. Aku takut menganggu." Ujar Donghae.

"Seharusnya, bangunkan aku saja. Aku tidak enak dengan tetangga dan Bibi Jang kalau tahu menginap disini." Hyukjae meraih nampan itu dan kembali duduk di sisi tempat tidur. Matanya menghindari kontak dengan laki-laki tampan itu.

"Maaf." Donghae tampak bingung antara menyesal dan perasaan lain yang dirasakannya. Kakinya tetap berdiri di dekat tempat tidur dan matanya mengawasi Hyukjae.

Hyukjae membasahi handuk dan kembali meletakkannya di kening Haru. Lalu, ia menepuk pelan pipi Haru. "Haru..." panggilnya.

Haru membuka mata. "Sonsengnim." Panggilnya terdengar lega karena mendapati Hyukjae masih bersamanya. Lalu, ia menoleh lemah. "Appa mana?"

"Appa disini , Sayang." Donghae segera mendekat dan mendudukkan putrinya dengan bantal ditumpuk untuk menyangga punggungnya.

"Haru makan dulu, ya, kan harus minum obat." Hyukjae mengusap tangan Haru sambil menyodorkan roti.

Anak itu menggeleng. "Tenggorokan Haru tidak enak, Sonsengnim."

"Haru harus makan, kalau tidak, nanti lama sembuhnya. Sonsengnim suapi, ne? Mau, kan?" Hyukjae menatap penuh kelembutan. "Nanti kita jalan-jalan lagi, mau, kan?"

Haru mengangguk. Matanya menatap kedua orang dewasa disisinya dengan saya. Ia menerima suapan roti kecil-kecil dan mulai batuk-batuk. Wajahnya semakin memerah. "Kenyang" ia menolak suapan di depan mulutnya.

Hyukjae mendekatkan air ke bibir mungil itu. "Minum yang banyak, Sayang." Tangannya mengusap rambut anak itu. Hatinya terus diliputi kekhawatiran melihat Haru seperti ini.

Donghae di sisi tempat tidur yang lain menuangkan obat sirup ke sendok putih cekung dan mengulurkannya ke bibir mungil itu. "Minum obat dulu, biar bisa gambar lagi." Bujuknya. Anak itu menerima suapan obat dengan patuh. Lalu, Donghae membantu putrinya kembali berbaring.

"Haru tidur, ya." Hyukjae kembali mengganti kompres dan mengusap wajah Haru yang masih sayu.

"Haru mau Appa mendongeng?" Donghae tersenyum pada putrinya.

"Mau." Haru menggerakan bibirnya pelan.

Hyukjae membereskan sisa roti, gelas, dan botol obat. Telinganya mencuri dengar Donghae berdongeng dengan suara pelan sambil mengusap kepala putrinya. Sesaat, Hyukjae tertegun tak bersuara. Seandainya ia tidak perlu berada sejauh ini di antara dua orang itu. Seandainya Donghae tidak membukakan pintu untuknya masuk. Seandainya ia tidak perlu merasakan sesal dan sakit sekaligus seperti ini.

"Aku akan buat bubur dulu." Hyukjae lekas menutup pintu kamar agar bisa mengatur napas. Matanya terpejam erat sesaat, kemudian membawa nampan ke dapur dengan perasaan campur aduk.

.

.

.

Pagi semakin menampakkan cerahnya, semburat warna yang berbeda di wajah Hyukjae. Lelaki manis itu sibuk mengelilingi dapur. Mencuci piring menengok panci berisi bubur, menggoreng ayam, menyediakan kecap dan mangkuk di pantry, juga memasukkan piring-piring bersih ke rak. Ketika menyadari ada seseorang memperhatikannya, Hyukjae menoleh. Tepat, di jendela dapur di depannya, Donghae menyembulkan wajahnya. Lelaki itu menatapnya. Hyukjae menghentikan gerakannya dan mereka saling bertatapan.

"Haru sudah tidur." Ucap Donghae saat berada di pintu dapur.

Hyukjae tidak menanggapi. Ia mengelap tangannya dan kembali memastikan semua di dalam dapur sudah beres. "Buburnya sudah matang." Ujarnya pelan.

"Terima kasih, Hyuk." Donghae merasa tercekat seraya merutuki dirinya. Ia menyadari perasannya mendebarkan, kuat, dan hangat.

Hyukjae mengangguk. "Aku pulang dulu." Ia melangkah melewati laki-laki itu.

Sebelum langkah lelaki manis itu jauh, Donghae mengejarnya. "Sebentar, Hyuk."

Hyukjae menatapnya, tidak mengerti dengan arti sorot mata laki-laki di hadapannya ini. "Ada yang bisa aku bantu lagi?" Dalam suaranya, tersirat rasa lelah dan jengah.

Donghae menelan ludah susah payang. Keheningan menengahi suasana cukup lama. Ia memandang Hyukjae dalam, tidak tahu harus mulai dari mana. Wajahnya tampak tenggelam dalam ekspresi frustasi.

"Hae?" Hyukjae menunggu.

"Aku..." Donghae menghela napas sesaat. "Aku ketakutan membayangkan kau benar-benar pergi dari hidupku dan Haru, Hyukjae."

Mata Hyukjae membesar tak percaya. Ia tertawa. "Kau ketakukan?" Diulangnya perkataan itu dan berkata sinis, "Hae, bukannya kau yang pergi meninggalkanku lebih dulu?"

"Hyuk, aku bodoh, tuli, buta! Aku tidak menyadari arti hadirnya kau dalam hidupku!" Tatapan Donghae terlihat merana.

"Sekarang, kau menyadari itu?" sergah Hyukjae, masih tak percaya. "Terlambat, Hae!"

"Aku tidak bisa berhenti mencintaimu, Hyukjae." Kata Donghae dengan mimik putus asa.

Hyukjae terdiam menatap Donghae dengan wajah datar. Tak ada senyum di wajahnya. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Kembali hening. Kembali terdengar helaan napas berat.

"Aku tahu ini harapan yang sia-sia. Aku tahu keadaan tidak bisa berubah. Tapi..." Donghae menarik napas dalam. "Bisa kau beri kesempatan untukku agar bisa memperbaiki semuanya?"

Hyukjae terdiam. Jantungnya berdebar cepat. Ia mulai tidak mengerti ke mana arah membawanya kini. Sungguh, percakapan ini seperti membawanya ke dunia percakapan remaja. Mereka melakukan kesalahan, mereka berpisah, lalu mereka kembali bersama. Berputar dalam arus hubungan seperti itu.

Donghae meraih tangan lelaki manis itu. Digenggamnya erat. "Hyuk, kau dengar aku tadi?"

Hyukjae menghimpun seluruh kekuatannya. "Kita pernah bersama, Donghae. Kita pernah membangun mimpi. Aku memikirkan semuanya panjang lima tahun ini. Aku bahagia pernah menjadi bagian dalam hidupmu. Aku merasa nyaman dan meraka kau orang yang akan mendampingi aku selamanya." Matanya berkaca-kaca. Ditahannya sekuat tenaga agar tidak menetes. "Tapi, aku salah, Hae."

Donghae membawa tangan Hyukjae ke pipinya. Suaranya bergetar. "Aku ingin kau jadi bagian dalam hidupku lagi, Hyuk. Karena hanya kau dan selalu kau."

"Hae..." Air matanya menetes juga dan segera diusapnya, "Kita bukan remaja lagi. Alasan mencintai tidak pernah cukup untuk membangun sebuah pernikahan!"

"Maksudmu?" Donghae merasakan hangan kulit Hyukjae di wajahnya yang membuat semakin khawatir dan ketakutan. Ia mencoba mengabaikan rasa sakit yang semakin kuat didadanya.

"Aku takut, Hae. Aku mencoba menjalani hidupku setelah kau meninggalkanku. Aku belajar melupakanmu sampai kau datah lagi dalam hidupku. Dekat denganku. Memberi harapan padaku. Tapi, aku tidak bisa." Matanya basah, tidak dapat lagi menahan bendungannya. "Aku takut merasakan sakit lagi, Hae."

"Kau pikir aku tidak takut, Hyuk?" Mata Donghae ikut berair.

"Perasaan takut kita berbeda, Hae!"

Donghae menggeleng. "Aku takut kau mencintaiku dengan segala yang kau miliki dan perasanku tidak bisa sesempurna itu." Ia menatap manik mata kecoklataan itu. "Walaupun pernah ada orang lain dalam hidupku, tapi aku sadar, aku tidak bahagia. Dan, aku tahu kenapa. Karena dia bukan kau."

"Hae..." Hyukjae menarik sebelah tangannya dari pipi laki-laki itu. "Aku tidak ingin memulai sesuatu yang tidak mungkin. Kita tidak bisa bersama lagi. Saat ini dan seterusnya. Kau mengerti itu, kan?"

Donghae merasakan tubuhnya menegang. "Aku tidak mengerti, Hyuk. Ada banyak hal yang tidak mungkin. Banyak hal yang tidak punya masa depan. Tapi, setidaknya, kita punya, Hyuk—sekecil apa pun."

"Hae, kita tidak bisa. Kita tidak punya masa depan itu." Hyukjae menatapnya lekat. "Kita pernah gagal, Donghae. Aku hanya tidak ingin kita melakukan kesalahan yang sama, itu saja."

Donghae diam. Wajahnya terlihat muram dan penuh penyesalan. Bola matanya bergerak mencari kata-kata yang tepat. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap sepasang mata di depannya, mata lelaki manis yang memberikannya banyak hal.

"Aku memang tidak bisa kasih jaminan apa pun, tapi aku akan berusaha untukmu." Suara Donghae terdengar lirih. Hatinya bergejolak perih. Badannya bergetar.

Hyukjae menatapnya dengan diliputi keraguan. Ada serpihan amarah, ada serpihan kekecewaan, ada begitu banyak rasa takut. Waktu seakan-akan melambat. Keheningan menyisir pagi yang redup oleh awan gelap.

"Aku percaya orang bisa berubah, Hae. Tapi, orang bisa lepas kendali lagi dalam satu detik saja." Air matanya mengalir. "Kau tidak bisa mengubah itu, kan? Kau tidak bisa memegang kendali dirimu sendiri?"

Donghae memejamkan mata, tidak mampu mendengar atau melihat lelaki manis itu didepannya seperti itu. Dirasakannya, matanya semakin memanas. Donghae mengulurkan tangan untuk mengusap pipi Hyukjae. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang. Ia hanya ingin Hyukjae percaya, ingin Hyukjae memaafkannya, dan ingin Hyukjae memberinya satu kesempatan terakhir. Hatinya terpilih menghadapi semua ini.

"Mungkin, dulu seharusnya aku tidak menerima tawaran satu taksi denganmu, Hae. Kita tidak perlu saling mengenal, karena kita tidak pernah berada di arah yang sama." Hyukjae menghela napas. "Aku hanya menjadi jalan lain sampai kau mendapatkan apa yang kau inginkan, bukan benar-benar menjadi jalan yang sedang kau tempu, bukan benar-benar menjadi jalan yang sedang kau tempuh. Dan, aku tidak pernah bisa jadi jalan lain itu lagi." Hati Hyukjae hancur saat itu juga.

"Kau tidak pernah menjadi jalan lain buatku, Hyukjae." Donghae menahan sesaknya.

Hyukjae merasakan dadanya berdetak kencang. Ia bimbang. Bisakah ia memberi Donghae kesempatan? Ia tidak memungkiri, ia masih mencintai laki-laki ini. Tetapi, ia masih takut untuk percaya. Ia takut semua tidak seindah harapannya semula, tidak seperti yang dia inginkan. Hyukjae menarik napas dalam-dalam, mengurangi sesaknya.

"Aku..." Air matanya kembali mengalir. "Aku benar-benar tidak bisa, Hae. Sebaiknya, kita hidup seperti ini saja karena hidupku lebi tenang sekarang. Dan, aku yakin, hidupmu juga akan lebih tenang tanpa aku."

"Hyukjae, hidupku tidak lebih mudah tanpa kau."

Hyukjae menggigit bibir bawahnya, menahan air mata tidak semakin deras. Dirasakannya tangan Donghae menangkupkan wajahnya, mengusap pipinya, dan mengangkat dagunya agar mereka bertatapan. "Satu-satunya alasanku adalah kau, tidak ada seseorang yang lain."

Hyukjae tidak mampu berkata-kata. Donghae memeluknya, membuat Hyukjae merasa kaku, sama sekali tidak dapat bergerak. Laki-laki itu mendekapnya erat. Hyukjae tidak apa yang harus ia lakukan, hanya saja, seandainya mampu, ia ingin berada dalam dekapan ini selamanya.

"Maafkan aku," ucap Donghae di telinganya.

Hyukjae melepaskan pelukannya. Saat ini, mereka tidak berjarak, tetapi, sesungguhnya, jarak mereka begitu jauh. Sangat jauh. Hyukjae membayangkan masa depan mereka terlalu mustahil. Semua kejadian berkelebatan di dalam pikirannya. Pandangan mata Donghae membuat lelaki manis itu gamang. Perasannya buram.

Hyukjae menatapnya lekat. "Maafkan aku juga." Ia mencoba bertahan dalam tatapannya. "Kita benar-benar tidak bisa. Semua memang sudah selesai, Hae. Lima tahu lalu."

Donghae membeku di tempatnya menatap senyum Hyukjae. Senyum yang sulit ia mengerti. Senyum di paksakan yang terlihat begitu pahit.

"Aku permisi." Hyukjae mengusap matanya, lalu melangkah menjauh.

Donghae melihat Hyukjae berlalu meninggalkannya. Tubuhnya terpaku. Udara di sekitarnya terasa semakin menyesakkan. Kenyataan ini menyakitkan. Sel-sel dalam tubuhnya seakan-akan hancur. Remuk. Satu-satu pemandangan di sekililingnya memudar. Tidak dapat dia ingkari lagi kenyataan yang terhampar di depannya.

Matanya mengabur. Dadanya sesak. Berkeping-keping kenangan berada di benaknya. Ia tidak pernah tahu dan tidak pernah ingin memilih mana yang harus dilupakan, mana yang harus tetap disimpannya. Satu hal yang di pahaminya kini, belajar mencintai berarti belajar memiliki, dan belajar memiliki berarti juga belajar merelekannya pergi.

.

.

.

TBC

.

.

.

Hai, masih nunggu FF Remake ini? Terima kasih untuk semua review kalian. Dan, maaf kalau typo masih bertebaran. Oh ya, buat informasi nih, bentar lagi FF Remake ini bakalan Ending. Jadi yang udah pada penasaran Hyukjae mau balikan lagi sama Donghae atau tidak, tunggu sebentar lagi ya^^

.

.

.

Big Love

Cutie Monkey