COMING HOME

DONGHAE X HYUKJAE

.

.

Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.

Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.

.

.

Thank You

.

.

Happy Reading

.

.

BAB 19

And I don't know to laugh or cry

I don't know wheter to live or die

And it cuts like a knife

-"She's Out of My Life", Josh Groban-

.

.

Ternyata, kita tidak pernah berlari. Hanya berdiri menatap dalam mimpi.

Hyukjae menggambar garis bayangan simestris yang membuat lingkaran terlihat seperti telur dan menggambar bulatan lebih kecil di depannya, juga setengah lingkaran di kanan-kirinya. Lalu, ia menggambar bulatan yang lebih kecil lagi di atas bulatan kecil itu dan menggarisnya. Diberinya dua titik sebagai matanya. Hyukjae tersenyum-senyum sendiri melihat gambar buatannya.

Anak-anak di kelas mengikuti gambarnya dengan serius. Mereka mencoret-coret kertas gambarnya sambil sesekali melihat ke arah papan tulis. Seperti biasa, terdengar ribut-ribut kecil di sudut kelas. Taejun mengambil penghapus temannya dan membuatnya menangis. Hyukjae melerai kedua anak itu dengan memberi pengertian, tetapi Taejun tetap menginginkan penghapus itu hingga keduanya sama-sama menangis.

Untuk Hyukjae, keributan itu berada di tingkat umum dan hari itu merupakan hari yang berjalan cukup baik. Ia berhasil melerai Taejun, berhasil mendiamkan seorang anak yang menangis, juga berhasil mengatasi seorang anak yang mengompol. Bukan hari yang buruk. Hyukjae berdiri memperhatikan satu-satu muridnya dan terhenti pada sosok Haru yang tampak asyik sendiri menggambar. Senyumnya langsung mengembang.

"Haru sudah sehat, Sayang?" Hyukjae berjongkok di samping gadis kecil itu. Tiga hari Haru tidak masuk setelah malam ia merawatnya itu. Wajah anak ini sudah lebih segar.

"Sudah." Haru mengangguk. Lesung pipi yang mucul saat ia tersenyum membuatnya menggemaskan. "Bubur buatan Sonsengnim enak."

"Oh ya? Haru mau lagi?" Hyukjae mengusap pipi bulat itu.

"Iya" Haru menjawab penuh semangat.

Hyukjae kembali memperhatikan gambar gadis itu yang sudah membentuk kepala anjing. Lucu. Sebelah kepala anjing diberi warna putih keabu-abuan, sedangkan sebelah lagi diberi warna cokelat. Tampak anjing itu sedang tersenyum. Goresan tangan Haru selalu manis, semanis pemilik mata sendu mungil itu.

"Sonsengnim..." tiba-tiba Haru menghentikan gerakan tangannya. Raut wajahnya yang semula ceria, berubah sendu. Matanya meredup.

"Kenapa, Haru?" Sontak Hyukjae cemas. Disentuhnya kening anak itu, tetapi suhu badannya normal.

"Kata Appa, Haru sama Appa mau pindah ke Seoul." Suaranya terdengar sedih.

Pindah ke Seoul? Hyukjae tertegun menatap anak itu. Berarti waktunya juga tidak lama lagi bersama Haru? Entah darimana, ada desakan didadanya yang membuatnya merasa sesak. Dia akan kehilangan Haru? Apakah setelah penolkannya, Donghae memutuskan untuk kembali ke Seoul?

"Nanti Haru masih bisa ketemu Sonsengnim, tidak?" Haru menatapnya dengan sorot yang mampu membuat siapa saja terenyuh. Tangannya yang memegang pensil, belum bergerak untuk melanjutkan.

Hyukjae menarik napas dalam-dalam, menguatkan hatinya untuk tetap bicara. "Sonsengnim tidak tahu, Sayang. Tapi, kalau Sonsengnim ada waktu, nanti kita pasti bisa ketemu. Ya?" diusapnya rambut Haru dan ditatapnya lekat bening mata itu.

"Sonsengnim kangen sama Haru nanti?" Wajah mungil itu menunjukkan ingin menangis.

"Tentu, Sayang." Hyukjae merasakan desakan dalam dadanya mulai naik. Ia kembali menarik napas dalam, tidak ingin menangis di depan anak-anak muridnya.

"Appa bilang, Haru pasti bisa belajar sendiri." Hidung Haru sudah kembang-kempis menahan tangis. "Tapi, Haru mau ada Sonsengnim. Haru mau terus sama-sama Sonsengnim. Jalan-jalan sama Sonsengnim."

"Haru punya Appa, kan? Punya Halmonie?" rasanya ia benar-benar ingin menangis, tetapi terus ditahannya. Semakin ia sulit untuk bernapas.

"Tapi, Haru maunya ada Sonsengnim juga." Mata bening itu mulai berkaca-kaca.

Hyukjae tersenyum menenangkan. Diusapnya terus rambut anak itu. Ini jawaban dari kegelisahannya. Wajah Haru yang menangis, yang tidak mungkin bisa diraihnya lagi. Menatapnya makin lekat, bayangan seluruhnya silih berganti muncul seperti benang hampir putus yang sulit dipahaminya.

Sisi terdalam hatinya masih tidak bisa memaafkan atau tidak mengerti apa makna semua ini. Hyukjae tidak berkata sepatah pun lagi. Mungkin, dia tidak akan bisa seperti ini dengan Haru. Selamanya.

.

.

.

Hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di cafe ini. Donghae merapikan kertas yang telah dipilah-pilahnya menjadi dua tumpuk. Beberapa catatan keuangan juga sudah dirampungkannya. Sudah selesai. Sejenak, Donghae termenung memandangi meja kerjanya. Kepulangannya ke Seoul lebih ironis daripada saat kedatangannya ke kota ini. Kehilangan seseorang—yang baru disadarinya—begitu berarti dalam hidupnya.

Ia kalah. Telak.

Lebih pahit. Lebih nyeri.

Donghae berjalan ke luar toko, mencari suasana lain untuk mengurangi gundahnya. Namun, ramai dan padatnya lalu lintas Busan, justru menambah penatnya. Suara pedagang-pedagang menawarkan dagangan, suara klakson, juga udara hangat benar-benar gaduh. Donghae tidak bergerak, tetapi tetap berdiri memandangi jalan dan memasukkan tangan ke saku celananya. Tidak ada sap atau aroma apa pun yang menganggu, tapi Donghae merasa sesak.

Sedikit berjalan kedai kecil, Donghae memesan kopi vanilla kesuakaanya. Diembuskan asap dari hidungnya dan mengisap rokoknya. Ia tidak mampu berpikir lagi. Ia tidak mampu membayangkan apa pun. Memang ini terbaik. Pergi sebelum jatuh lebih dalam lagi. Donghae tidak bisa menyalahkan siapa atau apa, karena kenyataannya, ia pernah menyakiti lelaki manis itu.

"Sedang makan? Kebetulan aku juga sedang lapar," kata Yesung yang menghampirinya. Ia langsung memesan makanan.

Donghae menatap sahabatnya sekilas. "Hanya duduk-duduk saja." Ia menyeruput kopinya. "Kerjaan aku taruh di meja."

"Aku sudah cek." Yesung menerima piring dari penjual. "Kapan berangkat ke Seoul?"

"Lusa." Donghae sedang malas untuk bercakap-cakap panjang. Diembuskan asap rokoknya, sementara matanya menatap kosong gelas berisi kopi didepannya.

"Kau tahu, Hae." Yesung menunda untuk menyuap saat menyadari sikap sahabatnya, "kenapa waktu dulu kau minta pendapat tentang Sohyun, aku tidak jawab? Karena aku menyesali sikapmu. Pernikahanmu dan Hyukjae tidak lancar bukan karena kalian tidak cocok. Tapi, kalian belum berhasil memperbaiki." Yesung menghela napas panjang. "Kalau atap bocor, kita cari tahu kan di mana bolongnya? Itu yang seharusnya kau lakukan, bukan menghancurkan rumahnya."

Donghae tersenyum getir tanpa menoleh. "Sayangnya, aku baru tahu di mana bolongnya saat aku dan Hyukjae bukan siapa-siapa lagi."

"Setidaknya, Hyukjae tahu apa yang kau lakukan untuk memperbaikinya." Yesung menepuk bahu laki-laki itu.

Donghae tersenyum, tidak menanggapi. Perasaanya semakin tidak menentu, membuatnya kehilangan kemampuan untuk berkata-kata. Dimatikan rokoknya dalam asbak plastik dan kembali diteguk kopinya.

Mereka sama-sama terdiam. Yesung melanjutkan makannya dengan tenang, sedangkan Donghae masih berusaha mengatasi kegelisahannya. Mata mereka tertuju ke arah masing-masing. Donghae tahu kali ini, tidak ada pilihan untuknya. Tidak ada lasan lagi untuk bertahan. Kalau lubang bocor itu sudah terlanjur rapuh, tidak ada jalan lain selain membiarkan begitu selamanya.

"Kau akan menerima tawaran JungCorp?" tanya Yesung.

"Mungkin. Aku belum tahu." Donghae mengangkat bahu, lalu beranjak dari kusinya. "Aku ke cafe. Ada yang lupa aku bereskan."

Yesung mengernyit sesaat, tetapi lekas mengangguk. "Ya sudah." Dan ketika sahabatnya sudah berbalik, ia berkata, "Hasil akhir bergantung bagaimana Tuhan menentukan semuanya untuk kalian, Hae."

Donghae tidak menjawab meski mendengarkan jelas. Ia memberikan uang kepada penjual dan berlalu.

.

.

.

Hari ini mungkin jadi hari terakhir Donghae dan Haru berada di sekolah ini, juga di kota ini. Setelah hari-hari yang mereka lalui, semua benar-benar berlalu. Seperti datangnya hujan yang membuka hatinya kembali untuk Donghae, tanpa isyarat. Dan, semua harus berhenti begitu saja, diam-diam.

Hyukjae menyalami anak-anak muridnya saat jam pelajaran berakhir. Haru masih tetap tersenyum manis. Melihatnya, Hyukjae sadar, gadis kecil itu tidak baik-baik saja. Ia tidak ingin anak itu pergi. Tanpa sadar digigitnya bibir. Pedih menekan ulu hati. Kenapa jadi begitu sulit?

Setiap malam, Hyukjae menutup mata, membayangkan mereka. Setiap bertemu Haru dan Donghae, dan melihat laki-laki itu berjalan memunggunginya tanpa pernah menoleh lagi. Ego memaksa Hyukjae tidak mengacuhkannya, tidak memberikannya ruang sedikit pun. Meski ia ingin. Sangat ingin.

Murid-murid seluruhnya sudah keluar kelas menghambur kepelukan orangtuanya. Diantara penjemput, Hyukjae menemukan Donghae di sana, yang langsung mengalihkan pandangan ketika ia menatapnya. Hyukjae menarik napas panjang, memantapkan hati untuk bicara dengannya.

"Hae." Sapanya pelan.

Donghae mencoba tersenyum. "Hai,"

"Kau akan kembali ke Seoul?" Hyukjae merasa begitu ketakutan ketika bayangan kehilangan menyergapnya.

"Ya." Donghae tetap berusaha mengalihkan matanya pada Haru.

Hyukjae mengangguk-anggukkan kepala. Diusapnya rambut Haru yang berada di samping laki-laki itu. Melihat mata bening gadis kecil itu, membuat dadanya sesak. Ia akan kehilangan anak ini. Ia akan kehilangan detik riangnya, detik candanya, detik lucunya. Ia akan kehilangan semua yang ada pada mereka.

"Semoga kau bahagia, Hyuk." Donghae menelan ludahnya susah payah, berusaha tersenyum getir. "Kau pasti bahagia, aku tahu itu."

Ucapan itu membuat lidah Hyukjae kelu tidak bisa berkata sepatah pun. Desakan dalam dadanya semakin kuat. Sakitnya semakin terasa.

"Kau akan mendapatkan seseorang yang lebih baik daripada aku. Pasti jauh lebih baik." Mata laki-laki tampan itu memerah dan berair. Suaranya bergetar. "Yang akan menjagamu, mencintaimu, selalu ada untukmu, tidak pernah menyakitimu, dan tidak pernah meninggalkanmu."

Senyap. Rasanya sunyi sekali. Halaman sekolah terasa mengecil, serupa dengan kotak kecil. Tidak ada suara, tidak ada gerak. Hyukjae menemukan kenyataan bahwa dia akan kehilangan laki-laki itu—lagi. Kehilangan yang benar-benar hilang. Lenyap.

"Maaf." Suara Hyukjae terdengar sangat pelan. Ia merasakan sebuah luka baru.

"Aku yang seharusnya minta maaf, Hyuk. Benar-benar minta maaf untuk semuanya." Donghae tersenyum miris. "Maaf karena aku tiba-tiba datang ke hidupmu, maaf karena aku memintamu kembali, maaf karena aku tidak bisa mengubah apa pun." Ia berusaha menghela napas menahan desakan dadanya dan melanjutkannya. "Hyuk, aku tidak akan mencari pembenaran apa pun lagi. Satu hal yang benar adalah..." suaranya berubah serak, "Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Sejak sepuluh tahun yang lalu."

Ada nyeri meremang di sudut benak Hyukjae. Tatapan mata Donghae begitu pedih. Laki-laki itu ada di depannya, tapi perlahan semakin jauh. Lalu, ia memalingkan wajah, menyembunyikan bening yang jatuh dari ujung matanya. Aku mencintaimu. Kalimat itu berdengung di telinganya dan juga disuarakan hatinya.

Air mata Hyukjae bergulir kembali, tetapi lekas disembunyikannya dengan berjongok, memberikan segenggam permen untuk Haru. "Kalau Haru ingat Sonsengnim, Haru makan satu permen ini, ya, Sayang." diusapnya pipi bulat itu, dibetulkan pini anak itu yang sedikit berantakan, dan dicium keningnya dalam. "Sonsengnim sayang Haru."

"Haru juga Sayang Sonsengnim." Jawab gadis kecil itu polos/

Hyukjae meraihnya ke dalam pelukan. Diciumnya rambut Haru berkali-kali. Gadis kecilku. Air matanya tumpah disana. Ia sangat bisa masuk dalam dunianya. Tuhan, aku masih ingin bersamanya. Aku masih ingin mencintainya. Diciumnya lagi Haru, membuat dadanya semakin perih. Ia butuh sesuatu agar tubuhnya tidak roboh ketika melepaskan anak ini.

"Sonsengnim kenapa?" Haru melonggarkan pelukannya, lalu mengusap wajah lelaki manis itu. Bibir anak itu ikut bergetar melihat kesedihan di wajah Hyukjae dan akhirnya ikut menangis.

"Sayang..." Hyukjae tersenyum seraya mengusap rambutnya. Diusapnya wajah mungil itu. "Haru jangan nakal, ya." Dicuilnya hidung anak itu.

Haru mengangguk dengan isakan tertahan. "Haru janji tidak nakal. Tapi, nanti Haru ketemu Sonsengnim lagi, kan? Haru bisa main sama Sonsengnim lagi, kan?"

Hyukjae kemali mencium kening Haru dan tersenyum pilu. Tidak tahu harus berkata apa.

Donghae sungguh tidak ingin pergi. Ia ingin tinggal dan melihat lelaki manis itu. Jika tidak bisa memilikinya, asalkan ia bisa melihatnya bahagia, lebih dari cukup. Tapi, ia tidak ingin memaksakan kehendaknya sendiri. Ia harus memberikan Hyukjae dunia yang diinginkannya. Dunia tanpa dirinya dan Haru. "Kami pamit, Hyuk." Ujar Donghae. Ia berbalik sambil menggandeng tangan Haru, melangkah pergi tanpa berkata-kata lagi.

Hyukjae tertegun gamang. Nanar ditatapnya Haru menjauh. Dua orang itu sudah pergi. Perlahan-lahan, mereka menghilang meninggalkan debu yang tertiup angin. Hyukjae memejamkan mata. Semua mengabur dalam genangan air matanya. Selesai sudah. Semua kisah yang ada dalam perjalanan ini terurai, menjadi kisah-kisah kecil.

Lalu, sunyi. Sepi. Terasa pedih menekan ulu hati. Hyukjae benar-benar sendiri.

.

.

.

TBC

.

.

.

Big Love

Cutie Monkey