COMING HOME
DONGHAE X HYUKJAE
.
.
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 22
You're the one I've always thought of
I don't know how, but i feel sheltered in your love
You're where I belong
And when you're with me if I close my eyes
There are times I swear I feel like I can fly
For a moment in time
-"When You Say You Love Me," Josh Groban-
Ada saatnya kita benar-benar mengerti. Dan, waktu tidak pernah berhenti.
Ruangan itu hampir seluruhnya kosong. Donghae berdiri di tengahnya, merasakan kehampaan yang dalam, seperti hidupnya yang hanya bisa ia nikmati lewat detak jantungnya. Tersisa beberapa lukisan di dinding, pot besar berisi bunga plastik , dan sebuah foto yang tersimpan di bawah tangga. Donghae membuka pintu kayu kecil di sana dan meraih foto itu. Foto pernikahannya dengan Hyukjae. Ia menyentuh alis, mata, hidung, pipi, dan bibir lelaki manis itu.
"Kenapa kau ingin menikah denganku, Hae? Bukankah banyak seseorang di luar sana yang lebih daripada aku?"
Sekarang Donghae tahu jawabannya. Bukan karena kecantikan fisiknya, seperti jawabannya dulu. Namun, karena hidup yang menyenangkan hanya jika bersama lelaki manis ini.
Sekarang, semua memang benar-benar telah selesai. Betapa pun kerasnya ia menghindar, tak bisa disangkal bahwa sisi hatinya yang lain terguncang. Bukan suatu hal yang mudah untuk memulai, begitu juga dengan melupakan. Waktu terasa berhenti untuk Donghae. Tidak ada suara atau gerak apa pun. Tidak ada hangat atau rasa nyaman. Ia sampai pada satu jalan yang tidak memiliki arah balik.
Donghae melangkah ke jendela yang mengarah ke halaman belakang. Di bentangkan daun jendela lebar-lebar. Tercium aroma manis Hyukjae di udara. Donghae memejamkan mata, menikmatinya. Ia merasakan masa-masa lelaki manis itu berada dirumah ini. masih berlama-lama di kolam renang. Masih menunggunya hingga tertidur. Masih tersenyum sambil membawakan kopi. Ketika membuka mata dan tahu Hyukjae tidak ada, dadanya terasa sesak.
"Hae, coba dengar." Hyukjae masuk ke ruang kerjanya membawa sebuah buku dan membacakannya, 'Aku tidak tahu berapa kali seseorang bisa jatuh cinta pada lelaki sama yang dinikahinya.' Lalu, lelaki manis itu tersenyum dengan binar dimatanya. "Akhirnya, aku tahu kenapa aku jatuh cinta padamu setiap hari."
Ruangan itu masih tenang dan sunyi. Pagi yang hangat terasa dingin menerpa kulit Donghae. Angin yang bertiup menerbangkan ujung rambutnya. Matanya menatap kosong. Jiwanya seakan-akan ikut terbang bersama kenangan itu. Setiap sel tubuhnya berhenti bekerja.
"Tuan, foto dan lukisan-lukisan juga dibawa?" tanya seorang tukang angkut di belakangnya.
Donghae berbalik. Ia menatap foto itu sejenak, merasakan berat, kemudian berkata, "Ya." Matanya mengikuti arah foto dibawa. Langkah-langkah menjauh dan semua kembali hening.
Beberapa detik berlalu. Pada detik berikutnya, Donghae merasakan kelelahan di sekujur tubuhnya. Tidak lama lagi, ia akan kehilangan lelaki manis itu beserta segala memori mereka selamanya.
Haru memanggilnya di ujung pintu. Wajah mungil itu mengerut tak sabar. Sesaat Donghae tidak bergerak, merasakan tulang-tulangnya lolos. Kakinya dipaksakan melangkah. Sekarang, saatnya melepas semuanya karena dari seluruh rentang waktu, inilah jalan yang Tuhan tunjukan untuk mereka.
.
.
.
Hyukjae merasakan kakinya melangkah keluar dari gerbong kereta. Aroma basah sisa hujan menyergap hidungnya. Suara-suara bersahut-sahutan, beriring dengan kereta di jalur lain meninggalkan stasiun. Begitu kental suasana Seoul di sini. Hiruk-pikuknya, kesibukannya, ramainya. Ia hampir tak mengenali kota tempatnya melewati hari-hari sekian tahun.
Di depan stasiun, Hyukjae memberhentikan taksi yang melintas. Hanya satu tempat itu yang ingin ia tuju. Tempatnya menyematkan mimpi agar bisa berubah nyata.
Jalan sepanjang distrik Seocho tampak lengang. Diam-diam, Hyukjae takut pertemuan ini terlalu mustahil. Jantungnya berdegup kencang. Jemarinya mengetuk-ngetuk tas.
Ketika taksi sedikit sudah dekat dengan tempat tujuannya, Hyukjae merasakan dadanya berdebar. Rasa takut, gugup, bingung, terus menghantuinya. Dalam hati, ia berdoa memohon waktu pada-Nya, agar semua berjalan baik-baik saja. Agar ia tetap bertahan dalam seberat apa pun yang akan ia hadapi.
Taksi berhenti di depan sebuah rumah dua lantai berpagar hitam dengan halam depan cukup luas. Sepi, seperti tidak berpenghuni. Apakah Donghae sedang ke luar? Sekilas ia melirik jam tangan dan tersenyum menyadari lelaki itu belum pulang kerja. Hyukjae mengeluarkan ponselnya, menekan serangkaian nomor, tapi urung menelepon. Ia ingin memberi kejutan untuk Haru dan Donghae.
Hyukjae mencari kunci cadangan yang masih disimpannya, di dalam tas punggungnya. Tetapi, sebelum tangannya terulur ke pagar, ia tertegun membaca papan bertuliskan "Rumah Ini Dijual" tergantung di pagar. Seketika nyawanya seakan terbang bersama angannya. Serenceng kunci jatuh dari tangannya.
Dijual? Hyukjae masih tidak percaya. Apa ia tidak salah lihat? Papan itu benar tergantung disana. Tubuhnya terasa lemas. Dadanya sesak. Disentuhnya pagar rumah itu. Rumah yang begitu indah. Tempatnya dan Donghae menyimpan masa depan. Tempatnya menunggu laki-laki itu. Tempatnya berbagi banyak hal. Tempatnya pulang.
Hyukjae menunduk melihat jam tangannya. "Katanya kau merindukanku, Hae." Bisiknya sambil terisak. Sekujur tubuhnya dihantam rasa sakit dan ngilu.
Ada sesuatu yang naik dari dadanya berkumpul di tenggorokan. Suaranya tercekat. Mimpi yang dikiranya akan berubah nyata, ternyata hanya tetap menjadi mimpi. Seharusnya, ia tahu semuanya tak mungkin.
.
.
.
Satu dari semua kesempatan menjadi awal dari segalanya.
Tidak terkunci? Donghae mengernyit melihat gembok rumah itu terbuka. Seingatnya, ia mengunci pagar ketika pergi mengantar Haru tadi pagi. Apa ada seseorang yang masuk? Jantungnya langsung berdebar kencang memikirkan hal itu. Dengan perlahan, ia membuka pintu pagar agar tidak menimbulkan banyak suara dan menutup kembali dengan gerakan yang sama.
Lantai krem di tempat parkir mobil menuju garasi tidak menunjukkan ada satu langkah pun tertinggal di sana. Halam depan dengan rumput baru dipangkas, pohon-pohon berwarna keunguan, dan air mancur kecil di tengahnya, teduh. Suara gemericik air diantara keheningan sepertin ini membuat darahnya berdesir. Tangannya membuka handle pintu utama yang tekunci. Siapa orang yang masuk kerumahnya? Apa pula yang orang itu cari di rumah kosong seperti ini? Donghae semakin waspada.
Tidak ada gema-gema suara di ruang depan, ruang tengah, atau dua kamar yang berada di lantai bawah. Mata Donghae menyipit menyadari pintu kaca besar yang mengarah ke halaman belakang terbuka. Langkahnya dipercepat, tetapi tidak ingin menimbulkan suara. Ia menangkap bayangan seseorang sedang berdiri disana. Napasnya tertahan. Dan ketika semakin mendekat dengan bayangan itu, langkahnya terhenti.
"Hyukjae?" tanyanya seakan suaranya keluar sendiri dari mulutnya.
Donghae tertegun. Sekuat tenaga ia menahan tubuhnya. Kebekuan menyerang jiwa dan raganya. Ia tidak tahu apa yang bergumul di hatinya menatap punggung lelaki manis dalam balutan kemeja putih dan celana jeans hitam. Tidak pernah terlintas dalam benaknya lelaki manis itu akan berdiri di sana.
Apa ini hanya ilusi? Donghae ingin percaya, tetapi takut terlalu mustahil. Mungkin, harapannya terlalu membumbung tinggi sehingga tidak siap dengan kenyataan sesuram ini. ia menghela napas putus asa. Namun, ketika mencium aroma manis itu, ia langsung terkesiap. Lelaki manis itu benar-benar nyata.
Hyukjae membalikan badan, kakinya mendadak tidak bisa bergerak, matanya tidak bisa berkedip, sendi-sendinya kaku, dan suaranya hilang. Hyukjae mematung, merasakan debaran jantungnya dan desiran darahnya.
"Hyukjae?" Donghae masih tampak tak percaya. Ia tak henti-hentinya menatap Hyukjae. Tidak ada garis kebahagiaan di wajah lelaki manis itu, yang tampak cekung dibagian bawah matanya berkantung. Tubuhnya jauh lebih kurus. Wajahnya pucat.
Hyukjae benar-benar merasa lemas. Kalau saja ada sesuatu yang menjadi pegangan, tubuhnya akan goyah disana. Mata pekat dengan pesona gelapnya. Leluk bibir tipis yang seimbang dan rahang yang kokoh. Laki-laki itu tampak sedikit berbeda setelah lima bulan tidak melihatnya. Rambutnya memanjang. Cambangnya tipis dibiarkan tumbuh memenuhi dagunya. Sorot matanya terlihat sangat lelah. Satu hal yang sama, lelaki itu tampak tidak terurus.
Donghae menatap cemas. Sepasang bola mata kehitaman Hyukjae tampak berair dan memerah. Pipinya pun terlihat basah. Donghae gelisah. Sejak kapan lelaki manis itu disini? Apakah Tuhan membawa ia sebagai takdirnya?
Dengan pikiran berkecamuk, Hyukjae masih menambatkan matanya di mata pekat itu. Air matanya kembali turun dari bendungannya. Dadanya bergerak tidak teratur mengikuti napasnya yang tersendat.
Donghae merasakan dadanya bergumuruh. Ia melangkah lebih dekat, mengulurkan tangan untuk meluruskan rambut Hyukjae yang tertiup angin. Matanya menatap dalam-dalam mata Hyukjae. Donghae tahu apa yang dicarinya selama ini. Ia bertemu beberapa teman lelaki manis itu setelah kembali ke Seoul, tetapi semua yang diingikannya hanya ada mata lelaki manis itu.
"Kenapa?" ucap Hyukjae pelan. Hanya itu sisa suaranya. Air matanya membentuk dua aliran sungai di pipinya. Ia tidak menghapusnya, tidak ingin kehilangan satu detik pun tatapan yang diingatnya, yang begitu dirindukannya.
Tanpa bisa dikendalikan, Donghae meraih Hyukjae dengan kedua tangannya. Direngkuhnya erat. Seperti waktu tak akan pernah berakhir. Donghae memejamkan mata, menikmati aroma manis Hyukjae. Lalu, hening. Segala suara mendadak hilang. Bahkan, tidak terdengar degup jantung mereka. Begitu sunyi.
.
.
.
Lengan kokoh itu masih memeluknya. Hyukjae meringkuk lebih dalam. Ia menyimpan diri dalam pelukan yang tak ingin dilepaskannya. Detak jantung Donghae memenuhi relung telinganya. Ia pernah berhenti dan melepaskannya pergi. Tapi, kali ini tidak. Ia tidak ingin melepaskannya lagi.
Donghae membenamkan kepalanya di bahu lelaki mansi itu. Matanya ikut basah. Ingin disekanya, tetapi Donghae terlalu takut Hyukjae akan menghilang jika ia bergerak sedikit saja.
Hyukjae menarik tubuhnya agar bisa melihat wajah yang membayangi malam-malamnya itu. Mata pekat itu memerah penuh air. Disentuhnya kening dan pipi Donghae. "Kau sudah baikan?"
Donghae melepaskan tangannya dari pinggang ramping lelaki manis itu. Perasaannya dilingkupi kecemasan. "Jawab aku dulu, Hyuk. Sejak kapan kaku disini? Kenapa tidak memberi kabar?"
"Sejak tadi siang." Hyukjae menjawab pelan. Ditatapnya mata pekat itu lekat. "Kenapa menjual rumah ini?"
"Rumah ini masa depan kita, Hyuk. Tapi katamu, kita tidak punya masa depan,kan?" suara Donghae bergetar.
Hyukjae menunduk, bahunya terguncang. Ia terisak pelan. Dadanya nyeri. "Kalau... akhirnya aku berpikir kita punya?"
Kedua tangan Donghae menangkup wajah Hyukjae, mengangkatnya agar mereka bertatapan. "Kau tahu, Hyuk, aku jadi gila karena kehilanganmu!"
"Aku lebih gila setelah mendengar kau dan Haru sudah pergi!" napas Hyukjae tersendat-sendat karena isakannya.
Air mata turun dari sudut mata Hyukjae. Perlahan diturunkan tangannya dari wajah Hyukjae. Sebelah tangannya mengusap matanya cepat dan meraih tangan Hyukjae, merasakan hangat kulitnya. "Seharusnya kau meminta padaku agar tidak pergi, Hyuk."
Hyukjae mengusap pipinya yang basah. Lalu disentuhnya kembali wajah Donghae. "Kau benar sudah tidak apa-apa, Hae?"
"Hanya flu biasa, Hyuk." Donghae meremas tangan Hyukjae dalam genggamannya. "Seharusnya tadi kau telepon, jadi aku bisa cepat-cepat pulang dari kantor!"
Hyukjae tersenyum menahan desakannya—antara haru dan bahagia. Ia mersakan hangat kulit Donghae dibawah tangannya. "Hae, aku tidak tahu kenapa kita harus bertemu lagi dan kenapa kita harus berada dalam situasi ini. Jujur, aku sering berkhayal kau kembali dalam lima tahun itu, tapi aku tahu itu tidak mungkin. Aku berusaha berhenti mencintaimu, berhenti memikirkanmu, tapi tidak bisa."
Donghae terdiam. Terasa dinginnya angin merasuk ke dalam sel-sel tubuhnya. Ada kegelisahan dan penyesalan yang menggeliat dalam dadanya.
Suara Hyukjae terdengar begitu pelan. "Aku sadar, aku bukan bagian dari mu dirimu dan Haru."
Donghae menggeleng. Bibirnya melengkungkan senyuman tulus. "Hyuk, kau selalu menjadi bagian dari kami. Kau Ibu untuk Haru." Donghae mendenguk ludah. "Tapi, aku juga sadar, Hyuk. Aku salah. Aku mengkhianatimu, meninggalkanmu, aku menyakitimu, meninggalkanmu, aku menyakitimu, dan tanpa berpikir panjang, aku datang lagi padamu, memintamu kembali." Nyeri semakin terasa di dadanya. "Aku tidak ingin jadi egois lagi, Hyuk. Kalau mencintaimu berarti harus melepaskanmu dan itu yang terbaik, aku..." ada getar dalam suaranya. Tidak mampu meredakan getir. "Aku siap."
"Hae..." Hyukjae menyentuh garis sepanjang rahang laki-laki itu. Menghirup aroma sitrun yang kental. Merasakan cambang tipis yang menggelitik jari-jarinya. "Aku datang jauh-jauh ke sini karena ingin bersamamu dan Haru!"
Donghae memeluk lelaki manis itu kembali. Diciumi bahunya, rambutnya. Rasa tidak percaya bertebaran dalam dadanya. Ia merasa tidak cukup layak untuk mendengar semua itu. Hyukjae terlalu sempurna sehingga ia tidak yakin mampu aoa yang dimilikinya sanggup memenuhi semuanya. Namun, ia tidak bisa sedikit pun melonggarkan dirinya dari Hyukjae. Perasaannya begitu menyengat. Begitu luar biasa. Donghae menginginkannya. Membutuhkannya.
"Kalau mencintaiku, berarti harus berada disisiku, Hae." Ujar Hyukjae didadanya.
Mata Donghae terpejam singkat dan ketika membuka, air mata menggelayuti bulu matanya. Aroma manis yang selalu dirindukannya. Kehangatan yang diinginkannya. Diusapkan tangannya di rambut lelaki manis itu. Jakunnya naik turun karena seringnya menelan ludah. "Saat kita bertemu lagi, lalu kita dekat, aku melihat siapa diriku sebenarnya, Hyuk. Aku juga melihat siapa lelaki manis yang aku tinggalkan dulu untuk mengejar sesuatu yang tidak ada, yang sekarang di sini, yang tahu bagaimana berengsek dan bodohnya aku, tapi tetap mencitai aku."
Hyukjae kembali meletakkan kepalanya di dada bidang itu. Luka yang ada memang masih tersimpan di dadanya. Ingatan masa lalu ada dalam memorinya. Namun, ada bentuk kekuatan lain yang memberinya ruang untuk memberikan pengampunan. Untuk laki-laki ini. Untuk dirinya sendiri. Untuk masa lalu mereka. "Ketika seseorang tahu tempat dimana dirinya merasa bahagia, sesulit apa pun, asalkan bisa terus berada ditempat itu, pasti akan dilakukannya," bisiknya di dada Donghae.
Donghae melepas pelukkannya, lalu menuntun Hyukjae yang terlihat lemas, duduk disebuah bangku santai yang berada di pinggir kolam renang. Diluruskannya kaki lelaki manis itu agar lebih rileks. "Kau belum ingin makan dari siang, kan? Mau aku pesankan bimbimbap?"
Hyukjae menggeleng dan tersenyum. Sorot matanya berubah muram. "Kau tetap menjual rumah ini, Hae?"
Donghae mengulurkan sebelah tangan yang lain mengusap pipi Hyukjae. "Tidak, Hyuk. Aku berniat membatalkannya saat melihatmu disini."
Tubuh Hyukjae bergetar mendengarnya. Ia beranjak dari sandaran dan memeluk Donghae. Tangannya menyusuri bidang dadar dada lelaki tampan itu. Merasakan kehangatan yang menggetarkan. Kepalanya dialiri sebuah pikiran bahwa ia berada di tempat yang akan ia singgahi selamanya. "Bilang apa pun yang kau inginkan, Hae. Bilang aku harus bagaimana, supaya aku mengerti. Aku akan berusaha keras, asal kau bersamaku."
Donghae mengecup puncak kepala lelaki manis itu. "Kau yang paling mengerti aku, Hyukjae. Kau yang paling tahu apa yang aku inginkan."
Hyukjae menengadahkan wajahnya, melihat tatapan lelaki tampan itu. Masih serupa labirin. Tapi ia bersedia tersesat di sana, karena ia sadar ketidakmampuannya untuk mengingkari keinginan tetap berada dalam likunya. "Aku mencintaimu, Hae." Ujarnya parau.
Donghae menyingkirkan helaian rambut yang menutupi mata Hyukjae dan mengusap wajahnya. "Kita perbaiki semuanya. Kita mulai dari awal. Kita bangun lagi keluarga kita." Ia menyentuh kulit halus, bibir tebal, kelopak mata dalam, dan bulu mata lentik. "Melihat anak-anak kita tumbuh."
"Anak kita?" ujar Hyukjae pelan, tak percaya dengan pendengarannya.
"Anak kita—aku dan kau. Yang katamu punya mata sepertiku, dan mempunyai bibir serta rambut sepertimu." Matanya semakin pekat ketika mendekat, serupa langit malam.
Wajah Hyukjae merona. Ia menyentuh punggung tangan Donghae di wajahnya. Namun ronanya memudar mengingat sesuatu. "Tapi, Hae, seandainya kita gagal lagi?"
"Aku takut berjanji, Hyuk. Tapi kau tidak akan berusaha sendiri. Aku juga akan berusaha keras." Donghae meyakinkan lewat sorot matanya. "Kau mau, kan, kita belajar lebih mengerti, lebih memahami?"
Hyukjae mengangguk, merasakan tubuhnya semakin gemetar menatap mata pekat Donghae. Jantungnya berdegup kencang. "Aku juga akan belajar untuk percaya."
Donghae meraih wajah Hyukjae dengan satu tangannya. Ibu jarinya mengusap bibir kissable lelaki manis itu, lalu menunduk untuk menyapukan ciuman. Sangat lembut dan ringan, membuat bibir lelaki manis itu bergelitik. Hyukjae meletakan tangannya diatas pundak Donghae, menarik perlahan tubuh lelaki itu bersamanya hingga punggungnya kembali bersandar, lalu membalas setiap ciuman dan sentuhannya. Donghae merindukan lelaki manis ini setiap hari, bahkan setiap detik. Dan laki-laki itu bisa merasakan seberapa banyak Hyukjae merindukannya.
Hingga beberapa saat, Donghae menghentikan bibirnya. Matanya meneliti wajah Hyukjae seraya menyapukan ciuman di pelipis lelaki manis itu, kemudian berkata sangat pelan. "Jadi, kau bersedia menikah denganku lagi?"
Hyukjae dapat melihat cinta laki-laki itu dimatanya. Cinta yang selama ini dicarinya. Hyukjae mengusap sepanjang leher ke bahu Donghae dari kancing kemeja yang terbuka. Diembuskannya napasnya di sekita telinga laki-laki itu dan berkata seperti berbisik. "Ya."
Donghae kembali memeluk erat Hyukjae. Sekarang, ia merasa tidak perlu jauh melarikan diri, karena ia punya tempat untuk kembali.
"Haru dimana? Aku tidak sabar bertemu dengan dia." Bola mata Hyukjae bergerak menelusuri wajah Donghae yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Haru dirumah Eomma." Donghae menyentuhkan keningnya ke kening Hyukjae. "Tapi, kita di sini dulu sebentar lagi. Aku masih ingin berdua denganmu, sekaligus memikirikan bagaimana menjelaskan ke Eomma dan Leeteuk Hyung kalau aku ingin menikahimu lagi." Ia tertawa.
Hyukjae ikut tertawa seraya mengalungkan lengannya di pundak Donghae.
Sebentuk kesadaran membawa mereka untuk tidak akan membiarkan keadaan seperti ini hilang dari kehidupan. Donghae tersenyum memikat dan penuh kehangatan, lalu kembali menunduk menggoda bibir Hyukaje dengan bibirnya. Ciuman yang membawa hangat temaram senja di dinding-dinding rumah yang kosong, di ruang-ruang yang begitu luas, di dinginnya air kolam renang, dan di diri masing-masing.
.
.
.
TBC
.
.
.
Hai^^ Ini bab 22, disini udah ketahuan kan endingnya gimana? Satu bab lagi selesai, dan aku sekalian update setelah bab ini.
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey
