COMING HOME
DONGHAE X HYUKJAE
.
.
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 23
So keep me awake to memorize you
Give me more time to feel this way
We can't stay like this forever
But i can have you next to me today
-"awake', Josh Groban-
.
.
Jejak-jejak yang membawaku pada keajaiban.
Senja memerah di pantai Gwanggalli. Angin membawa punggung air beriak bergulir, tersusun menjadi serangkaian gelombang yang bergulung dan pecah di bibir pantai, menghapus segala yang tertinggal di pasir. Suara burung-burung terbang rendang menggema di antara tebing-tebing di sebelah timur.
Donghae berdiri memandangi laut lepas, merasakan pasir basah di sela-sela jarinya. Di pantai yang ramai, ketenangannya tidak terusik. Matanya menatap lurus batas cakrawala, biru bercampur kemerahan dan mentari semakin turun. Air laut terasa begitu dingin, tetapi jiwanya terasa hangat. Begitu hangat hingga ia menikmati setiap hela napasnya.
"Appa!"
Mata laki-laki itu menangkap sepasang kaki mungil muncul di sampingnya. Haru menunjukkan botol kecil putih berisi cairan kehijauan yang baru dibelinya. Gelembung sabun. Anak itu sudah lebih tinggi. Kakinya setengah melompat menyibak burung-burung. Haru meniup gelembung sabunnya dan tertawa riang. Semilir angin menerbangkan rambutnya yang dikucir kuda. Senyumnya begitu lepas, seperti samudra tanpa batas.
"Haru, jangan terlalu jauh ke laut, ya!" Hyukjae berseru khawatir karena palung-palung cukup dalam berada di dekat bibir pantai.
Donghae tersenyum pada lelaki manis yang mendekat padanya itu. Masih lelaki manis sederhana, namun memberikan arti besar untuk hidupnya.
"Pa!"
Senyum Donghae melebar melihat Jeno, anak laki-laki berumur dua tahun yang semula tergolek di pundak Hyukjae turun dari gendongan, dan berlari ke arahnya. Ia membungkuk sambil membentangkan kedua tangannya, membiarkan bocah itu masuk ke pelukannya. Diujungnya anak laki-laki itu melewati kepalanya seraya menggelitik perutnya dengan hidung. Anak itu memekik senang. Rambut hitam lurusnya bergerak tertiup angin. Anak itu miniatur dirinya, tetapi memiliki sesuatu yang mirip Hyukjae.
Hyukjae tersenyum mengamati ayah dan anak itu berain di sekitar pantai. Kehadiran dua anak itu memang bukan sesuatu yang biasa. Haru dan Jeno memberinya kesadaran bahwa ia memiliki cinta dan pertahanan. Kehangatan mucul dalam hatinya. Ia tertawa ketika Jeno tak sengaja membentur pipi Donghae. Laki-laki itu mengaduh dan minta dicium oleh putranya.
Mendengarkan deburan pantai yang melengkapi keramaian. Semilir angin menerbangkan anak-anak rambut, menyentuh kulit, terasa sejuk. Damai, indah, seperti merasakan waktu berjalan lambat. Hati Hyukjae berdesir begitu Donghae menatapnya. Tatapan begitu dalam, menyentuh dasar hati.
Jenp turun dari gendongan Donghae, berlari ke Hyukjae. Lelaki manis itu maraih tubuh Jeno dan mendudukkan di pangkuan. Diciumnya rambut hitam legam itu. "Jeno ingin minum susu, Sayang?" tanyanya di telinga anak itu.
"Ne!" Jeno mengangguk.
Hyukjae mengeluarkan botol susu dari tas biru besar, lalu di selipkannya diantara dua tangan Jeno agar memegangnya. Anak itu bersandar di tubuhnya, berselonjor menatap laut.
Donghae duduk di sampingnya. Ia menghela napas panjang, menikmati pemandangan ombak yang menggulung tinggi. Senyumnya terulas. Diraihnya tangan Hyukjae dan digenggamnya. "Satu bulan aku di Incheon, rindu tidak?" tanyanya menggoda tanpa melepaskan pandangan dari keelokan pantai. Angin yang sedikit kencang, membuat rambut depannya terurai.
"Sedikit" Hyukjae tertawa seraya meletakkan kepalanya di bahu bidang itu.
"Sedikit lebih banyak, kan?" Donghae mengecup puncak kepala istrinya.
Hyukjae meremas tangan Donghae dalam genggamannya. Ia mengangkat kepalanya, melihat wajah Donghae dari samping. Sangat segar dan jernih. Rambutnya dipangkas lebih rapi. Matanya berbinar-binar. Bola matanya menatap semburat matahari.
Donghae menoleh. "Maafkan aku kalau dulu aku terlalu bodoh, Hyuk." Ujarnya. Suaranya pelan dan tenang.
"Asalkan kau tetap bersamaku, Haru dan Jeno, hidup kita akan baik-baik saja." Hyukjae mengelus pipinya.
Donghae mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Diciumnya bibir tebal lelaki manis itu. Lembut. Seperti angin yang menggoda. "Aku akan terus berusaha keras," katanya lebih pelan.
Hyukjae tersenyum. "Aku percaya."
Donghae mencium telapak tangan lelaki manis itu dan membawa ke pipi. "Kau, Haru dan Jeno adalah yang terpenting bagiku."
Kemudian, mereka kembali menatap matahari yang semakin turun ke batas cakrawala. Burung-burung pulang ke sarang. Langit semakin cerah menuju gelap. Angin semakin terasa dingin. Hyukjae memakaikan jaket Jeno. Anak itu menunjuk burung-burung yang melintas di langit.
Donghae mendekatkan mulut ke Hyukjae. "Ingin mendengar satu rahasia, Hyuk?"
"Apa?" Hyukjae ikut berbisik.
"Aku mencintaimu." Diciumnya bagian bawah telinga istrinya.
"Itu rahasia?" Hyukjae sedikit menjauhkan kepalanya dan mengernyit, pura-pura bingung.
"Selalu jadi rahasia. Antara aku dan kau."
Hyukjae tertawa. Dipukulnya pelan lengan Donghae. Di depan mereka, Haru berjalan mendekat dengan wajah ceria. Mata pekatnya berbinar.
"Appa, kita jadi makan es krim, kan?" Haru menunduk, menggoda pipi adiknya.
"Haru kan baru sembuh batuknya?" Donghae menatap putrinya, nada suaranya terdengar khawatir.
"Eomma..." Haru merajuk sambil menggoyangkan tangan Hyukjae. "Haru mau es krim."
Hyukjae menghela napas. Di tatapnya Donghae yang terdiam dan Haru memasang wajah memohon. "Hadiah untuk juara kelas, Appa," ujarnya lembut kepada suaminya.
"Kan, kemarin katanya hadiahnya jalan-jalan ke Jeju?" Donghae mengernyit.
Hyukjae menepuk punggung tangan suaminya. "Es krim hadiah tambahannya?"
"Es krim!" Jeno berujar girang.
Donghae menyerah. Ia menghela napas pasrah, kalah suara dengan tiga orang yang dicintainya ini. "Oke, kita makan es krim."
Haru memekik senang. Ia memeluk leher Hyukjae dan mencium pipinya. "Haru sayang Eomma." Lalu mencium pipi Donghae. "Haru sayang Appa."
Matahari tinggal seperempat. Gradasi merah kekuningan memenuhi langit dan perlahan mentari senja mulai menghilang dari permukaan laut. Langit berubah gelap. Ombak semakin rendah dan semakin tak terdengar. Donghae menggadeng tangan Jeno dan Hyukjae menggandeng tangan Haru. Anak perempuan itu berceloteh panjang, di sahuti anaknya. Mereka tertawa lepas.
Mungkin ini takdir mereka. Mungkin ini menjadi awal perjalanan mereka yang lain. Mereka pernah melangkah di hutan belantara dan kini mereka ingin mulai diantara hamparan rumput luas. Satu hal yang mereka yakini, Tuhan menciptakan kehidupan begitu adil—manusia tidak lepas dari kesalahan, tetapi memiliki antrean kebaikan yang amat panjang.
.
.
.
Aku menemukanmu
Saat rintik hujan berhenti
Mengubah rona semestamu
Dalam isyarat sunyi
Dan aku menemukanmu
Di sini
.
.
.
END
.
.
.
Selesai Remake novel ini. Terima kaih banyak kepada teman-teman yang selama ini dukung buat remake novel yang menurut aku sangat keren ini.
Nanti, sekiranya aku menemukan Novel yang cocok untuk diremake jadi HaeHyuk versi Boys Love akan aku Remake lagi.
Sampai ketemu di lain cerita ^^
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey
