One

"Roommate"

Seokjin melangkahkan kakinya turun dari bus yang berhenti di sebuah halte, pemuda itu menenteng sebuah tas tangan besar dan juga sebuah tas punggung yang kelihatannya cukup berat. Membenarkan letak kacamatanya, dia berjalan menatap lurus ke depan, manik berwarna coklatnya menangkap dengan jelas gedung tinggi yang terlihat dari kejauhan.

Dia menghembuskan napasnya kencang-kencang.

Setelah berlibur panjang di kampung halaman, dia akhirnya harus kembali ke Seoul menuju ke asrama sekolahnya. Ini tahun kedua Seokjin belajar dan tinggal di asrama Sekolah Menengah Atas khusus pria di Seoul, setelah mendapatkan nilai yang sangat tinggi di Sekolah Menengah Pertama, dia mencoba melanjutkan sekolah di Seoul demi mendapatkan ilmu dan fasilitas yang lebih baik.

Bukan hal mudah tentu saja untuk meminta izin kepada kedua orangtua, serta kakek dan neneknya untuk pindah ke Seoul dan tinggal di asrama, karena Seokjin adalah anak bungsu dalam keluarga kehadirannya paling di gemari oleh kakek dan neneknya, keputusan Seokjin tentu mendapatkan pertentangan di keluarga. Ibunya takut Seokjin sakit karena melupakan makan, ibunya tahu betul anak bungsu kesayangannya tersebut paling tidak bisa telat makan apalagi merasa kelaparan.

Beruntung, ayahnya mengizinkan dengan bijaksana dengan syarat nilai Seokjin tidak boleh merosot selama bersekolah di Seoul. Itu juga sesuatu yang tidak bisa Seokjin janjikan, karena dirinya mendaftar ke sekolah elit dan tersohor dengan banyaknya murid berprestasi. Kim Seokjin tidak pernah membantah keinginan orangtuanya, mungkin inilah kali pertama dirinya mengemukakan keinginannya pada mereka maka dari itu ayahnya memberikan dia ultimatum keras mengenai nilai di sekolah. Seokjin berjanji kembali ke kampung halaman jika pada dua semester nilainya mengalami penurunan, namun dengan kerja kerasnya selama satu tahun bersekolah dia masih menduduki ranking teratas.

Selama satu tahun, tidak ada kendala yang menyebabkan dia kesusahan selain fakta bahwa dialah satu-satunya yang tidak memiliki teman sekamar di asrama. Itu di karenakan kamar Seokjin adalah satu-satunya kamar di lantai lima yang bersebelahan dengan ruang musik yang tidak memiliki pengedap suara, Lee Jae Hwan pernah menjadi teman sekamarnya selama dua bulan dan kemudian mengajukan pindah ke lantai dua bersama Byun Baekhyun karena pemuda itu merasa terusik tiap kali seseorang berlatih di ruang musik.

Sebenarnya, Seokjin tidak merasa terganggu karena pada dasarnya dia memang suka belajar sambil mendengarkan musik jadi dia cukup menikmati kamarnya yang sekarang seorang diri.

"Jin!" Sebuah panggilan menginterupsi langkah Seokjin, tidak perlu menoleh dia bisa tahu siapa yang baru saja memanggilnya dengan suara berat. Tangan kanan pemuda itu melingkar manis di leher Seokjin, ketika Seokjin menoleh dia bisa mendapati wajah temannya itu tersenyum lebar di sampingnya.

"Kau pulang hari ini?" Tanya Seokjin pada pemuda yang jauh lebih tinggi di sebelahnya tersebut, Park Chanyeol. Pemuda itu mengangguk untuk menjawab pertanyaan Seokjin.

"Biasanya kau lebih suka kembali ke asrama di hari masuk sekolah," Seokjin berkata lagi, mengamati wajah Chanyeol yang berada di sampingnya.

"Kau tahu 'kan ayah dan ibuku tidak akur. Selama aku liburan mereka terus dan terus saja ribut di depanku, aku malas berlama-lama diam di rumah." Jawab Chanyeol.

Seokjin mengangguk-angguk, menyingkirkan lengan Chanyeol yang sedari tadi 'menumpang' di bahunya. Dia mengenal Park Chanyeol, sangat mengenalnya. Chanyeol adalah orang pertama yang menyapa Seokjin ketika acara masuk sekolah, pemuda itu juga yang mengajarkan aksen Seoul padanya. Meskipun awal pertemuan mereka tidak sebaik yang di perkirakan, karena Chanyeol menertawakan aksen daerah Seokjin dan itu sempat membuat dia kesal pada Chanyeol untuk waktu yang cukup lama.

Chanyeol sering menceritakan tentang dirinya sendiri pada Seokjin, bagaimana keluarganya, bagaimana hidupnya dan sebagainya. Awalnya, Seokjin cukup terkejut karena baru kali ini dia bertemu dengan orang yang terbuka mengenai hal sensitif tersebut padahal mereka belum cukup dekat. Namun, lama kelamaan dia menjadi terbiasa dengan keluhan-keluhan pemuda itu.

"Kau sudah mengerjakan seluruh tugas liburan?" Tanya Chanyeol setelah menyelesaikan keluhan mengenai ayah dan ibunya.

"Jangan bilang kau ingin melihat tugasku lagi, takkan kuberikan!" Seokjin berkata dengan cukup tegas hingga membuat Chanyeol tertawa,

"Aku tahu aku tahu, anak pintar dan memiliki ranking jauh di atasku pasti tidak akan meminjamkan buku tugasnya,"

Seokjin menghela napas,

"Bukan karena itu, kau bahkan dulu berada di urutan kedua. Tapi, akhir-akhir ini kurasa kau terlalu santai sampai-sampai kini kau menempati peringkat akhir di sekolah. Berhenti memberontak Chanyeol, ini bukan cara yang bagus untuk menarik perhatian orangtuamu,"

Chanyeol terdiam, tak merespon jawaban Seokjin yang sebenarnya sangat mengenai sasaran. Pemuda itu diam-diam menyerah dalam belajar karena orangtuanya, dia merasa tidak di hargai meskipun berusaha keras mendapat ranking teratas. Chanyeol menatap Seokjin dan tertawa lebar, menampilkan deretan giginya yang rapi pada pemuda di sampingnya, mengacak rambut Seokjin yang cemberut karena dia tidak suka seseorang memperlakukannya demikian.

Keduanya berjalan dalam diam, Chanyeol sibuk memainkan ponselnya dan Seokjin sibuk dengan tas di tangannya yang semakin lama terasa semakin berat. Entah apa yang ibu dan neneknya masukkan ke dalam. Setelah berjalan selama sepuluh menit mereka memasuki gerbang asrama sekolah, Seokjin bisa melihat beberapa wajah baru dan wajah lama yang sangat dia hapal di lapangan sekolah.

Sebagian murid sudah kembali ke asrama.

"Ini waktunya murid baru untuk masuk?" Tanya Seokjin pada Chanyeol,

Chanyeol mengalihkan pandangannya dari ponsel ke Seokjin, dan mengikuti arah pandangan Seokjin.

"Hm, kurasa ya, dua hari lagi 'kan kita mulai ajaran baru."

Seokjin mengangguk, dia berpikir apakah akhirnya dia akan mendapatkan teman sekamar kali ini? Sebenarnya, Seokjin lebih suka sendirian di kamarnya karena dia takut seseorang menyentuh figurine Mario kesukaannya seperti Jae Hwan yang pernah menghilangkan figurine Mario limited edition yang harganya sangat mahal. Cukup menyebalkan tapi karena pemuda itu mencarikan figurine Mario lain yang jauh lebih mahal, Seokjin bisa memaafkannya. Tapi, terkadang jika dia melihat teman-temannya yang lain mendapatkan teman sekamar Seokjin cukup merasa 'cemburu' karena mereka bisa berbagi ilmu ketika belajar, Seokjin lemah dalam bahasa inggris terutama mengenai percakapan maka dari itu jika saja dia memiliki teman sekamar dia berharap orang itu jauh lebih pintar berbahasa inggris darinya.

"Kurasa tahun ini kau tidak akan sendirian lagi," Chanyeol tiba-tiba berkata di belakang Seokjin, seperti seorang cenayang yang tengah membaca pikiran.

"Apa maksudmu?"

Chanyeol memperlihatkan ponselnya pada Seokjin, percakapannya dengan Ketua Kelas mereka Kim Jongdae di Kakaotalk terpampang jelas di depan wajah Seokjin.

Jongdae :

Seokjin akan mendapatkan teman sekamar, mereka sudah memasang peredam suara di ruang musik. Kau mau pindah?

"Kenapa kalian konyol sekali selalu membicarakanku di setiap percakapan, entah di grup entah di private chat. Sialan!" Seokjin menggerutu dan Chanyeol tertawa,

"Aku tidak akan mau pindah ke lantai lima meskipun kau memohon padaku!" Ujar Chanyeol, Seokjin memutar kedua bola matanya malas mendengar ucapan Chanyeol.

Keduanya berpisah di lantai tiga, kamar Chanyeol berada disana pemuda itu sekamar dengan Son Hyun Woo ketua klub Taekwondo sekolah yang bertubuh besar dan berotot. Seokjin sangat tidak menyukai kamar Chanyeol dan juga Hyun Woo, baginya kamar mereka adalah kamar paling jorok yang pernah dia masuki. Baju kotor, selimut kotor dan bantal untuk tidur menjadi satu di bawah lantai, kamar mereka sangat tidak terkendali.

Seokjin mengelap peluhnya, dia baru saja sampai di lantai empat. Dia benar-benar merasa kecapaian karena membawa tas di tangannya yang semakin terasa berat.

"Jin-ah!"

Seseorang memanggil namanya lagi, Seokjin menoleh dan mendapati Lee Jung Hwan berdiri tepat di belakangnya.

"Ibumu membawakan banchan lebih banyak dari tahun kemarin? Kau terlihat kelelahan membawa tas di tanganmu." Jung Hwan tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya, memperlihatkan gusinya.

"Stop mengejekku dan cepat bantu aku membawa tas ini," Perintah Seokjin, Jung Hwan kembali tertawa dan membantu temannya itu membawa tas.

"Kudengar kau akan mendapatkan teman sekamar tahun ini,"

"Jongdae pasti mengatakannya di grup kelas?" Ujar Seokjin, Jung Hwan tertawa lagi, membenarkan ucapan Seokjin dengan mengangguk, Seokjin rasanya ingin menendang Jongdae sekarang juga.

Jung Hwan menceritakan bagaimana teman-teman yang lain mulai menebak-nebak siapa yang akan menjadi teman sekamar Jin dan bagaimana frustasinya Jin jika teman sekamarnya menghilangkan figurine kesayangannya seperti yang dilakukan Jae Hwan tahun lalu. Seokjin hanya mendengus kesal mendengarkan cerita Jung Hwan, dia belum memeriksa ponsel semenjak menaiki bus dari rumahnya itu di karenakan tas berat yang sedari tadi merepotkannya.

Jung Hwan mengantarkan Seokjin sampai ke kamar dan membantu pemuda itu membongkar barang bawaannya, dia memisahkan beberapa banchan yang ibu Jin berikan untuknya seperti tahun lalu. Jung Hwan menyukai masakan ibu Jin, dan itu adalah alasan mengapa ia sangat senang jika Jin kembali dari kampung halamannya.

Seokjin membereskan barang-barangnya setelah kepergian Jung Hwan dia memasukkan makanan yang ibunya packing ke dalam kulkas, ibunya benar-benar takut dia kelaparan dan berakhir membawakan banyak sekali makanan pendamping untuknya selama di asrama. Seokjin meregangkan tubuhnya, bahu dan juga kedua tangannya terasa pegal sekali, dia merebahkan diri di atas kasur dan mulai membaca pesan di grup Kakaotalk. Si ketua kelas sialan, Kim Jongdae dan juga teman sekelasnya yang lain berbicara mengenai dirinya di grup tersebut, saling tertawa membicarakan betapa buruk nasibnya karena mendapatkan kamar yang paling tidak di inginkan di sekolah.

Seokjin membalas pesan Jongdae dan berjanji akan menendang bokong pemuda itu jika bertemu di perpustakaan malam nanti.

Jae Hwan :

Haha, tapi Jin kau memang akan mendapatkan teman sekamar.

Sun Woo :

Ya, aku juga mendengarnya dari staff sekolah.

Me :

Jangan bercanda, berhenti meledekku!

Jong Dae :

Mereka berkata benar, bodoh

Me :

Siapa yang kau sebut bodoh, sial!

Chanyeol :

Dia murid kelas akselerasi, usianya lebih muda dua tahun darimu. Teman sekamarmu anak Amerika,

Baek Hyun :

Bukan anak Amerika bodoh, dia pindahan dari Amerika!

Seokjin membaca pesan-pesan itu, dia sama sekali tidak mempercayai ucapan teman-teman sekelasnya tersebut. Mereka terlalu senang meledek Seokjin yang selama satu tahun tidak memiliki teman sekamar, apa bagusnya teman sekamar jika nantinya akan menyusahkan Seokjin? Dia lebih baik sendirian menjalani hari-harinya di asrama.

Seokjin melemparkan ponselnya, berusaha mengangkat tubuhnya yang kaku untuk sekali lagi beranjak dari kasur empuk untuk segera mandi. Dia harus kembali berkutat dengan buku-buku pelajarannya dan ke perpustakaan sebelum sekolah di mulai kembali, jadi dengan malas dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sepuluh menit berlalu dan Seokjin berjalan keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggang, dia memakai kembali kacamatanya yang baru saja di bersihkan karena mengembun, Seokjin berjalan menuju lemari pakaian ketika seseorang dengan kasar menendang pintu kamarnya.

BRAK!

Suaranya kencang itu membuat Seokjin hampir saja terkena serangan jantung, pintu di depannya terbuka lebar, seseorang membawa kardus bertumpuk di kedua tangannya sehingga menutupi wajah berjalan masuk ke dalam kamar tanpa permisi. Seokjin terdiam di tempat, dia masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Pemuda yang tengah berjalan masuk ke kamarnya tersebut memakai baju berwarna hitam lengan panjang, Leather Jeans hitam ketat, boots hitam dan rambutnya berwarna merah muda!

Si pemuda berambut merah muda itu menurunkan kardus-kardus di tangannya dan berbalik, menatap Seokjin yang masih mematung di tempatnya.

"Hello, aku murid baru disini! Salam kenal!" Setelah berkata demikian, pemuda itu mendekat pada Seokjin dan memeluknya.

Butuh waktu yang benar-benar tidak sebentar untuk Seokjin memahami apa yang sedang terjadi, dia mengurutkan kejadian demi kejadian di kepalanya setelah pemuda itu melepaskan pelukannya.

1) Dia baru saja selesai mandi, belum memakai baju.

2) Seseorang membuka pintunya, oh, bukan membuka tapi MENENDANG pintunya dengan kencang sampai terbuka.

3) Pemuda berambut berwarna merah muda itu masuk, menurunkan kardus di tangannya dan memeluk Seokjin.

Ada yang terlewat?

"Kau tidak akan memakai bajumu?" Suara berat pemuda itu mengejutkan Seokjin, dia menoleh dan mendapati pemuda itu tengah tersenyum dan mengacungkan telunjuk padanya.

Seokjin berdehem, menyadari apa yang terjadi. Dengan sedikit canggung dia mengambil baju dan celana di dalam lemari, kembali ke kamar mandi untuk berganti baju. Mengacak rambutnya, Seokjin bersumpah ingin menendang bokong Jongdae sekarang juga. Ucapan si sialan itu ternyata bukan ledekan seperti biasanya, dia memang benar-benar kedapatan teman sekamar tahun ini! Sialan!

Teman sekamarnya, yang rambutnya berwarna merah muda dan kelihatannya sikap pemuda itu sedikit bar-bar karena membuka pintu dengan sebuah tendangan di bandingkan menggunakan tangan. Dan juga sebuah pelukan. Meskipun dia berasal dari Amerika, seharusnya izinkan Seokjin memakai baju terlebih dahulu sebelum memeluk. Rasanya, Seokjin tidak ingin keluar dari kamar mandi karena malu.

Tapi, beberapa saat kemudian dia keluar dengan handuk di tangan kanan dan mencoba menyibukkan dirinya sendiri dengan mengeringkan rambutnya. Pemuda itu tengah menyeret koper menuju kasur di sebelah kasur Seokjin, kasur yang selama setahun tidak pernah di tempati oleh siapapun itu akhirnya terisi oleh seseorang.

"Kau anak baru?" Tanya Seokjin, mencoba mencairkan suasana meskipun kelihatannya yang canggung hanyalah dirinya sendiri.

Pemuda itu mengangguk tanpa menjawab, Seokjin hampir saja mengutuk karena merasa tidak di hargai.

"Namamu?" Seokjin bertanya lagi, duduk di atas kasurnya menatap ke arah pemuda yang memunggunginya.

Beberapa saat hanya keheningan panjang yang Seokjin dapatkan, pemuda itu tidak menjawab. Seokjin sudah siap memberikan ceramah panjang kali lebar kepada pemuda itu mengenai sikap yang baik kepada seorang senior ketika kemudian ia berbalik, melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi bertengger di hidungnya dan tersenyum dengan lebar sambil menyodorkan tangannya pada Seokjin,

"Namaku, Kim Namjoon. Salam kenal, hyung!"

Seokjin terdiam, dia mengerjapkan matanya berkali-kali.

Matanya,

Senyumnya,

Wajahnya,

Lesung pipinya,

Namanya,

Seokjin masih bisa mengingatnya dengan jelas, dia mengenali pemuda di depannya. Dia sangat mengenalinya meskipun tujuh tahun sudah berlalu.

Kim Namjoon.

Seokjin dengan ragu menjabat tangan Namjoon,

"Namaku, Kim Seokjin." Dia berkata dengan pelan menyebutkan namanya di depan pemuda itu.

"Aku tahu," Ucap Namjoon.

Mata Seokjin membulat, apakah Namjoon mengingatnya?

"Kau tahu namaku? Kau mengenaliku?" Tanya Seokjin lagi,

Namjoon mengangguk, "Tentu saja, staff sekolah yang bilang padaku bahwa teman sekamarku adalah murid bernama Kim Seokjin."

Seokjin terdiam, merasa ada yang salah.

"Kau baru pertama kali bertemu denganku?"

Namjoon mengerutkan kedua alisnya, kedua bola mata pemuda itu melirik ke kanan dan ke kiri, berusaha keras untuk berpikir, bibirnya masih tersenyum dengan kaku.

"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, hyung?"

.

.

.

Seokjin rasanya ingin menenggelamkan dirinya sendiri ke danau di belakang sekolah ketika dengan polos Namjoon bertanya apakah mereka pernah bertemu sebelumnya. Kim Namjoon kecil yang dia temui ketika tersesat tidak mengingat sama sekali siapa dirinya, padahal Seokjin sangat mengenali wajah pemuda itu meskipun kini tingginya jauh melebihi Seokjin, namun wajahnya masih tetap sama, bahkan senyumnya masih jelas di ingatan Seokjin.

Tapi, mengapa Namjoon tidak mengenalinya?

Memang tidak ada yang spesial dari pertemuan itu, apa spesialnya dari 'bertemu hyung yang tersesat' dan mengantarkan ke kantor polisi, serta menemaninya sampai si paman tiba, kemudian bersama-sama makan di sebuah restoran dan di antar pulang ke rumah.

Tidak ada yang spesial,

"Hei," Tepukkan kecil di bahu mengejutkan Seokjin, Hyosang berdiri di sampingnya dengan wajah bangun tidur.

"Kau terlambat." Seokjin berkata, menyerahkan kantong berwarna putih berisi banchan dari ibunya yang di kemas khusus untuk Hyosang. Sahabatnya dan juga tetangganya sejak kecil. Alih-alih mengambil kantong tersebut Hyosang malah menguap dengan lebar, duduk di sebelah Seokjin, dan mengusap wajahnya sesekali.

Mereka sedang berada di kantin di lantai satu.

"Ambilkan aku air minum," Perintah Hyosang, Seokjin menatapnya sebal, melemparkan kantong putih tersebut ke arah Hyosang dan berjalan menuju dispenser di pojok kantin mengambilkan segelas air untuk sahabatnya tersebut.

"Kau memotong rambutmu lagi, kalau ada waktu untuk pergi memotong rambut kenapa tidak pulang sehari saja? Orangtuamu selalu bertanya padaku," Keluh Seokjin, menyerahkan gelas plastik itu pada Hyosang dan duduk kembali di sebelahnya.

"Aku sedang sibuk, kau tahu kan aku sudah di kontrak perusahaan besar untuk memproduksi sebuah lagu tidak ada lagi waktu untuk bermalas-malasan." Hyosang berkata setelah menyesap habis air di dalam gelas.

Seokjin terdiam, memandang sahabatnya tersebut. Hyosang memang tidak perlu lagi meminta uang kepada orangtuanya karena meskipun masih sekolah, kemampuan bermusiknya di akui sampai-sampai sekolah mengizinkannya untuk tidak mengikuti kelas jika dia sedang bekerja. Hyosang membawa nama baik sekolah dengan bermusik, Seokjin cukup iri karena bagaimanapun dia belajar dan mendapat peringkat terbaik, dia belum tahu ingin menjadi apa.

"Sesuatu mengganggumu?"

Seokjin menatap Hyosang setelah sahabatnya itu bertanya.

"Kau sedang menstruasi?"

Seokjin menjitak kepala Hyosang dengan cukup keras hingga membuat pemuda itu meringis kesakitan. Sahabatnya itu berteriak bahwa ia hanya ingin bercanda karena Seokjin kelihatan sedang frustasi.

"Aku mempunyai teman sekamar," Ucap Seokjin kemudian.

"Anak Amerika yang Baekhyun sebutkan di Kakaotalk?"

"Kau membacanya? Kupikir kau tidur seharian ini." Seokjin berkata, mengubah posisi duduknya.

"Aku membacanya sekalian menunggumu turun dari lantai lima tadi, ada apa dengan anak Amerika itu?" Hyosang bertanya lagi, bersandar pada tembok di belakangnya, sejujurnya dia masih setengah mengantuk.

Seokjin menghela napas,

"Kau ingat Kim Namjoon?"

Dahi Hyosang mengerenyit mendengar nama itu, tentu saja di mengingatnya, karena Kim Namjoonlah sahabatnya tersebut mengakui sebuah rahasia yang membuatnya terkejut setengah mati ketika di Sekolah Menengah Pertama.

"Dia menjadi teman sekamarmu?"

Seokjin mengangguk wajahnya terlihat jauh lebih frustasi di bandingkan tadi.

"Kau yakin dia orang yang sama? Anak laki-laki yang kau temui saat masih kecil?" Tanya Hyosang, mencoba meyakinkan kalau-kalau Seokjin salah mengenali orang.

"Sangat yakin, aku masih sangat mengenali wajahnya Hyosang-ah. Tapi, dia sama sekali tidak mengenaliku!"

"Tidak mengenalimu? Wajar saja sih, apa bagusnya mengingatmu?"

Lagi-lagi jitakan Seokjin mendarat di kepala Hyosang dan jeritan terdengar nyaring dari mulut pemuda berambut cepak itu.

"Aku serius, kupikir dia mengingatku ketika aku menyebutkan namaku dan dia bilang dia tahu namaku. Tapi ternyata, dia tahu namaku dari staff sekolah." Seokjin berbicara dengan cukup cepat dengan wajah di tekuk pada Hyosang.

"Jin, kupikir kau salah orang. Bukankah dia berasal dari Amerika?"

Seokjin terdiam sebentar, mengingat-ingat wajah Kim Namjoon kecil yang dia temui tujuh tahun lalu dengan Kim Namjoon besar yang dia temui beberapa menit lalu.

"Tidak, aku tidak mungkin salah mengenali orang! Aku benar-benar mengingatnya,"

Hyosang menghela napas, menatap Seokjin yang kini sedang cemberut di hadapannya. Ia tahu betul apa yang sedang Seokjin pikirkan dan mungkin tahu apa yang tengah Seokjin rasakan, sahabatnya tersebut pasti sangat kecewa mengetahui fakta bahwa pertemuan mereka yang dia anggap istimewa nyatanya tidak seistimewa itu untuk seorang Kim Namjoon untuk di ingat selama tujuh tahun.

Fakta bahwa hanya Seokjinlah satu-satunya yang mengingat siapa yang dia temui tujuh tahun lalu pastinya membuat sahabatnya tersebut sedikit sedih, karena Kim Namjoon adalah orang yang membuatnya mengambil keputusan untuk menentang orangtuanya dan melanjutkan sekolah di Seoul.

"Lalu, kau mau apa jika dia memang benar-benar Kim Namjoon?" Pertanyaan Hyosang mengejutkan Seokjin, pemuda itu terdiam, matanya yang menatap Hyosang perlahan turun ke bawah.

"Kau tidak mungkin mengakui padanya kalau selama tujuh tahun ini kau diam-diam berharap bertemu lagi dengannya 'kan? Terutama, Jin, kau tidak mungkin mengakui terang-terangan pada dia kalau kau menyukainya 'kan?" Hyosang menatap Seokjin, "-kau tidak bisa memberitahu orang lain bahwa pada kenyataannya kau memiliki penyimpangan seksual, kau seorang gay. Kau tahu, negara ini belum terlalu mendukung percintaan sesama jenis."

Seokjin terdiam ketika dengan terang-terangan Hyosang mengungkit kembali mengenai 'masalah' yang pernah dia sampaikan pada sahabatnya itu ketika mereka masih di Sekolah Menengah pertama.

Hyosang adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa Seokjin seorang gay, bahwa pada kenyataanya pemuda itu menyukai sesama jenis. Dulu, ketika Seokjin mengakui hal itu pada Hyosang dia berkata sudah sangat siap jika Hyosang menjauhinya. Tapi, dia harus mengatakan yang sejujurnya pada Hyosang mengenai 'masalah'nya tersebut meskipun harus kehilangan Hyosang sebagai sahabatnya.

Hyosang tentu saja terkejut, selama bertahun-tahun mengenal Seokjin dia melihat sahabatnya tersebut tumbuh seperti laki-laki pada umumnya. Namun, kenyataannya Seokjin menyukai seorang anak laki-laki yang dia temui di Seoul dan karena anak laki-laki itu juga Seokjin mengakui 'masalah'nya pada Hyosang, agar Hyosang mau ikut pindah dengannya ke Seoul sehingga keluarganya tidak khawatir berlebihan.

"Jangan berpikiran bodoh hanya karena dia mempunyai nama yang sama dengan anak laki-laki yang kau temui dulu, ataupun kalau benar itu dia, aku hanya ingin kau memikirkannya lagi jika ingin mengakui perasaanmu."

Seokjin terdiam, mengangguk dengan pelan di depan Hyosang. Ada rasa khawatir di dalam diri Hyosang melihat Seokjin yang sedih dan frustasi, namun dia harus mengatakan hal itu secara terang-terangan agar sahabatnya tersebut jauh lebih berhati-hati mengenai rahasianya.

"Sudah, kembali ke kamarmu. Aku harus kembali bekerja, terima kasih untuk bingkisannya aku akan menelepon ibumu." Hyosang berkata, mengelus puncak kepala Seokjin yang masih menunduk.

"Jangan lupa menelepon ibumu,"

"Berisik, aku tahu." Ujar Hyosang, berjalan menjauh dari Seokjin.

Seokjin menghela napas, berjalan menaiki tangga demi tangga menuju lantai lima. Rasanya dia enggan kembali ke kamarnya setelah mendengar ucapan Hyosang, memang benar dia tidak mungkin bisa mengakui terang-terangan mengenai perasaannya kepada Kim Namjoon. Tidak semua orang sama sepertinya, mungkin di Korea hanya dialah satu-satunya orang yang menyukai sesama jenis. Hanya saja, Seokjin sudah menunggu selama tujuh tahun untuk kembali bertemu Kim Namjoon.

Dia tentu saja bahagia karena pada akhirnya bisa bertemu orang yang selama ini dia rindukan.

Seokjin menatap pintu kamarnya, ada rasa ragu dalam dirinya untuk masuk ke kamar tersebut. Apa yang akan dia lakukan jika dia bertemu Namjoon? Seokjin menghela napasnya sekali lagi, namun kali ini dengan penuh semangat. Dia membuka pintu dan mendapati kamarnya penuh dengan baju-baju yang berserakan di lantai. Matanya membulat tak percaya, kamarnya yang selama ini rapi dan bersih menjadi amburadul tak karuan, padahal dia hanya meninggalkannya beberapa menit untuk mengobrol dengan Hyosang.

"A-apa yang terjadi?" Tanya Seokjin, masuk ke kamar dan mendapati Namjoon tengah berada di tumpukkan baju-baju.

"Oh hai hyung, aku sedang melipat baju-bajuku untuk di masukkan ke lemari. Tapi sepertinya banyak sekali dan memakan waktu lama, tidak apa 'kan kamarmu berantakan?"

Seokjin menatap Namjoon, rasa kaku dan canggungnya mendadak menguap begitu saja melihat kelakuan menyebalkan bocah itu. Dia mencoba menarik napas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan-lahan untuk menetralisir kemarahannya, Seokjin mengambil baju-baju Namjoon yang berserakan dan duduk di lantai.

"Aku akan membantumu, kali ini saja."

Namjoon menatap Seokjin dan kemudian senyumnya mengembang, "Thank you!" ucapnya dengan penuh semangat.

Seokjin menatap senyum itu lagi, senyum yang selama bertahun-tahun terpampang jelas di dalam memorinya. Namun, mengapa kali ini senyum itu membuat darahnya mendidih? Entah dia Namjoon yang sama yang dia temui ketika kecil entah bukan yang pasti Seokjin benar-benar merasa kesal sekarang.

"Hyung, mohon bantuannya selama kita menjadi teman sekamar!"

Seokjin terdiam, tak menjawab.

Ya, dia dan Kim Namjoon kini menjadi teman sekamar. Itu berarti mereka akan selalu bersama setiap harinya di kurangi waktu ketika sekolah karena Namjoon berada di kelas yang berbeda dengannya. Setiap hari, dengan kelakuan Namjoon yang sepertinya sangat bar-bar itu, mendadak Seokjin merasa bulu romanya berdiri.

Semoga,

Semoga saja, dia berharap pemuda di hadapannya sekarang bukan Namjoon yang dia temui dulu. Dia tidak ingin memori cinta pertamanya rusak hanya karena sikap pemuda itu.