Two
"Sucks"
Hari-hari tenang milik Seokjin terampas begitu saja semenjak kedatangan seorang teman sekamar yang ributnya bukan kepalang, Kim Namjoon. Pemuda berambut merah muda itu sudah tinggal di kamar Seokjin selama dua minggu penuh, dan selama itu juga hidup Seokjin menjadi tidak tenang. Pertama-tama, Namjoon senang mendengarkan musik dengan volume yang luar biasa memekakan telinga dan lagu-lagu yang di putar pemuda itu sama sekali tidak Seokjin mengerti.
"Ini hip hop, kau tidak tahu hip hop?" Jawab Namjoon ketika Seokjin bertanya musik apa yang tengah pemuda itu dengarkan, masa bodoh itu hip hop atau apapun yang Seokjin dengar hanyalah orang-orang yang mengomel dengan cepat menggunakan bahasa inggris di setiap lagu.
Kedua, pemuda itu benar-benar jorok. Kamar mereka jadi serupa dengan kamar Chanyeol dan Hyun Woo di lantai tiga yang penuh baju kotor –entah bersih– di lantai. Seokjin benar-benar merasa tidak nyaman setiap kali kembali ke kamarnya setelah pelajaran berakhir, karena Namjoon berada di kelas Akselerasi pemuda itu akan kembali dua jam setelah bel pulang sekolah dan Seokjin berakhir membereskan kamarnya sendirian.
Ketiga, Namjoon selalu saja memanggil-manggil namanya ketika istirahat tiba. Bagaikan seorang anak kecil memanggil ibunya, pemuda itu yang kelasnya ternyata berada tepat di sebelah Seokjin selalu dan selalu saja memanggil Seokjin dengan melambaikan tangannya dari luar jendela kelas.
"Seokjin-hyung! Seokjin-hyung! Kau membawa sumpit? Bisakah aku meminjamnya?"
"Seokjin-hyung! Seokjin-hyung! Kau membawa botol minum? Aku malas ke kantin, bisa aku minta? Aku haus sekali."
"Seokjin-hyung!"
"Seokjin-hyung!"
Seokjin seperti sedang mengasuh seorang adik di sekolah.
Keempat, Namjoon mendengkur dengan sangat kencang ketika tidur. Setiap malam, Seokjin kesulitan memejamkan matanya lebih cepat karena 'earthquake' yang terdengar sangat mengganggu, dan jika giliran Seokjin yang mendengkur dalam tidurnya Namjoon akan melemparkan bantal tepat ke wajah hingga membuatnya terbangun meskipun di tengah malam.
"Apa kau yakin dia cinta pertamamu? Orang yang membuat kau membongkar rahasiamu padaku?" Tanya Hyosang pada Seokjin yang baru saja kembali dari depan kelas, memberikan Namjoon sapu tangannya karena anak itu menumpahkan sup ke seragam dan berteriak-teriak meminjam sapu tangan dari luar jendela kelas.
"Diam kau," Seokjin menarik kursinya dan duduk di depan Hyosang.
Seokjin menghela napasnya, menatap Namjoon yang sedang membersihkan kemejanya. Memasukkan sesendok nasi ke mulutnya, Seokjin masih menatap bocah berambut merah muda itu yang kini sudah tertawa dengan geli bersama teman-temannya.
"Anak itu selalu saja menempel padamu, apa yang kau lakukan padanya?"
Seokjin melirik Hyosang dengan tatapan marah, Hyosang mengangkat kedua tangannya dan mundur ke belakang, "Wow, calm down dude, aku 'kan hanya bertanya."
Seokjin juga tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, baru saja dua minggu bersama-sama tapi Namjoon terus saja menempel padanya. Apa karena di hari pertama pemuda itu datang Seokjin membantunya membereskan baju? Atau karena Seokjin membantunya belajar bahasa Korea?
Namjoon sama sekali tidak merasa canggung pada Seokjin, padahal faktanya mereka tidak seumuran dan posisi Seokjin adalah Sunbae bocah berisik itu. Setiap kali percakapan antara dia dan Namjoon terjalin, semuanya kelihatan natural seolah-olah mereka sudah saling mengenal sejak lama.
"Atau karena aku terlalu lembek padanya?" Seokjin bertanya, menatap Hyosang di depannya.
"Kau tidak memarahinya? Dia membuat kamarmu yang super rapi itu berantakan 'kan?"
Seokjin mengangguk. Hyosang menatap sahabatnya tersebut dan berpikir mungkin Seokjin melakukan hal itu karena benar-benar merasa Namjoon adalah cinta pertamanya tujuh tahun lalu. Hyosang sendiri belum tahu apakah Namjoon yang di temui Seokjin dulu dengan Namjoon yang menjadi teman sekamarnya adalah orang yang sama.
Hyosang berdiri dari tempat duduknya, mengelus puncak kepala Seokjin yang sedang mengunyah makan siangnya.
"Kau mau kemana?" Tanya Seokjin,
"Toilet," Hyosang menjawab berlalu meninggalkan sahabatnya tersebut. Dia berjalan melewati kelas Namjoon, melirik, dia tidak mendapati si pemuda berambut merah muda di manapun. Melangkah masuk menuju toilet Hyosang bisa melihat sesosok manusia berambut merah muda keluar dari salah satu bilik.
"Selamat siang, sunbae." Namjoon berkata dan membungkuk dengan sopan sebelum pergi menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
"Kau tahu caranya sopan santun," Hyosang berkata, berdiri di samping Namjoon yang menatapnya dari kaca.
"Tentu saja, bukankah jika bertemu senior aku harus membungkuk dan mengucapkan salam?"
Hyosang mengangguk-angguk, "Siapa yang mengajarimu?"
"Seokjin-hyung, teman sekamarku –ah, maksudku sunbae yang menjadi teman sekamarku."
Hyosang menatap Namjoon, anak itu tidak begitu buruk pikirnya. Dia bisa menyerap dengan baik apa yang Seokjin ajarkan dan bisa bergaul dengan cepat bersama teman-temannya di kelas meskipun setahu Hyosang anak itu baru saja dua bulan berada di Korea.
"Kau lahir di Amerika?"
Namjoon sedang mengeringkan tangannya ketika pertanyaan itu mampir di telinganya, dia berpikir mengapa Sunbaenya tersebut bertanya mengenai hal itu. Jadi, dia menjawab dengan menggelengkan kepala berharap Sunbae aneh yang tengah menginterogasinya bisa membiarkan dia pergi. Namjoon dengar pembullyan di Korea sangatlah menyeramkan, dia curiga Sunbae itu ingin membullynya.
"Jadi, kau tidak tinggal di Amerika sejak kecil?" Hyosang bertanya lagi.
"Tidak, aku pergi ke Amerika ketika usiaku sebelas tahun karena ayah harus bekerja disana. Aku lahir dan di besarkan di Seoul." Namjoon menjawab, menampilkan senyum canggungnya dan berusaha terlihat ramah di depan Sunbaenya tersebut.
Hyosang terdiam sesaat, kemudian tanpa berkata apapun masuk ke salah satu bilik toilet meninggalkan Namjoon yang terbengong-bengong. Kini, Hyosang tahu kemungkinan Kim Namjoon kecil yang di sukai sahabatnya dengan Kim Namjoon besar yang baru saja mengobrol dengannya adalah orang yang sama mendekati angka 90%.
Tapi, mengapa dia tidak mengingat Seokjin?
"Mungkin karena Seokjin membosankan," Hyosang berkata kemudian terkekeh sendirian di dalam bilik tersebut.
Seokjin menatap kamarnya yang luar biasa berantakan, lagi-lagi Namjoon meninggalkan kamar dengan keadaan seperti ini. Di bandingkan kelas Akselerasi, kelas Seokjin memang masuk lebih pagi maka dari itu Namjoon selalu yang paling akhir pergi meninggalkan kamar. Tangan Seokjin mulai mengambil satu persatu baju di lantai, memasukannya ke dalam keranjang cucian milik Namjoon, dia kemudian membereskan kasur pemuda itu dan membersihkan sisa-sisa sereal. Mungkin Namjoon sarapan dengan terburu-buru di dalam kamar.
Seokjin menghela napas, duduk di kursi meja belajarnya.
Apakah dia benar-benar mengira Namjoon adalah orang yang sama dengan tujuh tahun lalu? Seokjin selalu mengamati Namjoon selama dua minggu terakhir, dia yakin betul mereka adalah orang yang sama namun entah kenapa Namjoon sama sekali tidak mengenalinya. Mereka menghabiskan dua jam di kantor polisi bersama-sama menunggu paman Seokjin datang menjemput, kemudian mereka pergi ke sebuah restoran dan makan bersama, kemudian paman Seokjin mengantarkan Namjoon pulang dan menjelaskan pada orangtua anak itu jika Namjoon membantu keponakannya yang tersesat.
Total waktu yang mereka habiskan bersama di hari itu adalah lima jam penuh, hingga Seokjin bisa mengingat dengan jelas setiap lekuk wajah dan gerakan Namjoon kecil. Wajah anak itu tak pernah hilang di dalam ingatan Seokjin, dia menyadari bahwa perasaannya pada Namjoon adalah perasaan suka ketika di Sekolah Menengah Pertama seorang gadis di kelasnya menyatakan cinta.
Yang Seokjin ingat adalah dia bertanya pada gadis itu,
"Apa yang kau rasakan sampai kau yakin, kau menyukaiku?"
Gadis itu terdiam setelah mendengar pertanyaan Seokjin, kemudian ia tersenyum dengan sangat manis mengingat momen-momen pertama kali ia bertemu dengan Seokjin. Gadis itu mengatakan bahwa tak sedikitpun hari-harinya berlalu tanpa mengingat Seokjin di benaknya, dan hatinya berdetak sangat cepat ketika ia dan Seokjin berinteraksi meskipun hal itu sangatlah sepele. Saat itulah, Seokjin menyadari kenapa dia tidak bisa menghilangkan wajah Namjoon di memorinya, mengapa baginya pertemuan dengan Namjoon sangatlah spesial.
Dia menyukai Kim Namjoon pada pandangan pertama.
Seokjin menghela napas sekali lagi, entah mengapa dia merasa kelelahan. Semakin di pikir, semakin menyesakkan. Dia tidak peduli lagi apakah itu Kim Namjoon apa bukan, dia hanya ingin memejamkan matanya sebentar sebelum pergi ke perpustakaan pukul enam sore nanti. Jadi, dia melepas kacamatanya dan menenggelamkan wajah di antara kedua tangannya di atas meja belajar. Beberapa saat kemudian, hening mendominasi kamarnya.
Rasanya sangat nyaman.
.
.
.
Seokjin memicingkan matanya ketika paparan sinar lampu tepat mengenai penglihatannya yang secara perlahan terbuka lebar, dia menguap dan menggeliat, menatap lama ke arah lampu dia baru tersadar dan bangun dari tidurnya. Dia terkejut ketika mendapati dirinya sendiri tengah tertidur di kasur miliknya dengan selimut lengkap menutupi tubuhnya, seingatnya dia tidur di meja belajar beberapa saat lalu.
Menengok ke kanan dan ke kiri Seokjin tidak melihat Namjoon dimanapun,
Apakah dia tidur sambil berjalan?
Seokjin menatap jam dinding yang tergantung tepat di atas meja belajarnya, masih pukul 5.30 dia masih memiliki waktu tiga puluh menit sebelum makan malam dan pergi ke perpustakaan jadi dia kembali merebahkan tubuhnya dan menutup matanya. Kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka, Seokjin membuka mata dan menoleh ke asal suara ketika sosok Namjoon dengan rambut basah berwarna blonde keluar mata keduanya bertemu.
"Oh, hyung! Kau sudah bangun?" Tanya Namjoon santai sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, dia duduk di atas kasurnya dan memakai baju. Seokjin masih mengamatinya, harum sabun milik Namjoon meruak masuk ke hidungnya, wanginya lembut dan juga menenangkan.
Ini kali pertama Seokjin melihat Namjoon selesai mandi karena selama ini mereka tidak pernah bertemu di jam-jam seperti ini. Biasanya Seokjin pergi ke perpustakaan sebelum Namjoon kembali dari kelas dan dia kembali setelah Namjoon tertidur atau sebaliknya.
Seokjin menghindari berduaan dengan Namjoon.
"Hyung? Tidak ke perpustakaan? Baekhyun-sunbae tadi mampir kemari dan berkata dia akan menunggumu di kantin jam 6." Namjoon berkata lagi, menatap Seokjin yang masih mematung.
"A-ah, aku tahu, aku akan segera bersiap-siap," Seokjin mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan Namjoon. Namjoon mengangguk-angguk dan berjalan menuju kaca di depan lemari pakaiannya, pemuda itu kemudian menggerutu karena warna rambutnya kembali seperti semula. Blonde.
"Kenapa kau mewarnainya menjadi merah muda?" Seokjin bertanya, lagi-lagi berusaha mencairkan suasana yang dia anggap kaku. Dia turun dari kasur dan mulai melipat selimutnya, merapikan kasurnya sendiri.
"Bukankah aku terlihat tampan memakai warna merah muda untuk rambutku? Lagipula di sekolah ini tidak ada peraturan mengenai hal itu." Ujar Namjoon sambil menampilkan senyuman khasnya pada Seokjin yang kini wajahnya bak kepiting rebus karena malu, jadi dia pura-pura tidak menggubris ucapan Namjoon dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Namjoon menatap punggung Seokjin, kemudian bersiap pergi menuju perpustakaan, hari ini tugasnya terlalu banyak untuk di kerjakan secara malas-malasan.
Seokjin bertemu dengan Baekhyun di kantin pukul enam lebih lima belas menit dan teman sekelasnya tersebut sudah sangat menggerutu, mereka makan bersama dengan Sun Woo dan juga Jongdae membicarakan tugas kelompok dari guru siang tadi. Mereka harus membuat presentasi untuk pertemuan berikutnya, Sun Woo mulai membagi tugas untuk di kerjakan.
Seokjin mengunyah makanannya dengan malas, hari ini selera makannya menurun drastis karena tugas sekolah yang menanti untuk di kerjakan menyita sebagian isi otaknya. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin dia bisa melihat sebagian teman-teman seangkatannya membicarakan hal yang sama selagi makan malam, tugas sekolah. Sebagian siswa berfokus pada buku di bandingkan makanan mereka, beberapa lainnya sibuk membicarakan pertandingan sepak bola, dan yang lainnya sibuk mengobrol sambil terus mengunyah makanan mereka.
Menjadi seorang murid teladan bukanlah hal yang mudah, dia harus mempertahankan prestasinya dengan belajar terus menerus karena bagaimanapun dia tidak terlahir sebagai seorang jenius. Tapi terkadang dia juga ingin melepaskan label 'Murid Teladan' agar bisa menikmati sedikit waktu bersama teman-temannya.
Pandangan Seokjin berhenti tepat ketika si rambut blonde yang sedang mengunyah makanannya dan duduk di pojok kantin menatapnya lekat-lekat, mata keduanya bertemu untuk beberapa saat sebelum Seokjin mengalihkan maniknya ke arah lain. Hatinya berdegup sangat kencang,
Apakah Namjoon sedang menatapnya?
Dia terdiam sesaat, menelan ludahnya kemudian diam-diam mengintip di balik poni untuk melihat apakah pemuda itu benar-benar menatapnya atau hanya perasaannya saja. Tapi, dia tidak bisa menemukan Namjoon dimanapun. Apakah itu hanya ilusinya saja? Dia berani bersumpah matanya dan Namjoon saling bertemu sesaat tadi. Seokjin mengedarkan pandangannya, tak ada Namjoon dimanapun.
"Jin, kau mendengarkan?" Pertanyaan Baekhyun menghentikan kegiatan Seokjin, dia menatap Baekhyun, Jongdae dan Sun Woo bergantian kemudian menampilkan senyum kaku sebelum jitakan Baekhyun melayang ke puncak kepalanya.
Baekhyun menyudahi diskusi bersama kelompoknya pukul sepuluh malam, setelah banyak perdebatan yang mereka layangkan untuk membuat sebuah presentasi menarik akhirnya setengah tugas tersebut selesai meskipun besok mereka harus kembali bertemu di perpustakaan setelah makan malam untuk mencari bahan-bahan pengisi presentasi.
Seokjin baru saja keluar dari perpustakaan, ketika matanya menangkap sosok Hyosang yang tengah berjalan dengan agak tergesa, pemuda itu mengenakan hoodie hitam kemudian berlalu menuju belakang asrama. Seokjin tahu benar apa yang akan pemuda itu lakukan jika pergi ke tempat seperti itu, jadi dia mengikutinya diam-diam dari belakang sampai Hyosang berhenti dan duduk di sebuah bench yang terletak dekat pagar.
"Kau berjanji padaku untuk berhenti merokok," Seokjin berkata dengan lantang di belakang Hyosang dan pemuda itu terlihat terkejut mendengar suaranya. Hyosang mengumpat di depan wajah Seokjin yang cemberut dan duduk di sampingnya, pemuda itu melirik ke arah tangan Seokjin, empat buah buku tebal masih di genggamnya.
"Anak rajin, kau pasti menghabiskan waktumu lagi di perpustakan." Ledek Hyosang.
Seokjin mengangkat kedua bahunya, tidak menggubris ledekan sahabatnya tersebut. Membuang pandangannya ke arah langit yang hitam pekat, Seokjin melepaskan kacamata agar membuat rileks matanya untuk sesaat. Hyosang menyesap dalam-dalam rokoknya, membuang asapnya lewat hidung dan memainkan batang rokok di jari jemarinya.
"Kau masih ingin bertahan disini?" Suara Hyosang memecahkan keheningan.
"Kau pikir ayahku akan benar-benar memintaku kembali jika tahun ini aku tidak bisa mmepertahankan prestasiku?" Seokjin balik bertanya pada Hyosang yang masih asik menghisap filter rokoknya.
"Kurasa tidak, paman Kim hanya menggertakmu. Lagipula, kau sudah berada di tahun kedua rasanya mustahil memindahkanmu kembali ke kampung halaman."
Seokjin mengangguk-angguk.
"Kau sudah merasa muak karena setiap hari berkutat dengan pelajaran?" Tanya Hyosang lagi,
Seokjin tidak menjawab, hanya mengangkat buku-buku tebalnya ke depan wajah Hyosang dan sahabatnya itu terkekeh geli.
"Aku ingin memiliki sebuah tujuan," Seokjin berkata, menyandarkan punggungnya dan menatap langit yang kini terlihat jauh lebih terang karena cahaya bulan.
"Kau iri padaku?"
Seokjin terkekeh mendengar ucapan Hyosang, tapi dia memang mengakuinya. Dia iri pada Hyosang yang memiliki hobi, sahabatnya tersebut sangat menyukai musik serta mendedikasikan hidupnya untuk musik dan bagi Seokjin sahabatnya tersebut sangat bertalenta karena itulah dia bisa di kontrak oleh sebuah perusahaan besar untuk menggarap lagu meskipun bukanlah lagu utama tapi beberapa lagu ciptaan Hyosang sudah pernah masuk dalam Track List sebuah album artis ternama.
Jadi, ya, dia iri pada Hyosang.
"Kau juga bisa menekuni hobimu kalau benar-benar berminat, sayangnya hobimu tidak ada sangkut pautnya dengan buku-buku tebal itu." Hyosang menunjuk buku-buku di tangan Seokjin dengan ujung dagunya dan kembali menghisap rokoknya.
"Memangnya apa hobiku?"
"Memasak,"
Seokjin memukul bahu Hyosang dengan buku tebal tersebut dan tertawa dengan lebar.
"Aku memasak karena ibu memintaku membantunya, bodoh!"
"Tapi masakanmu enak, sungguh!" Ujar Hyosang dan Seokjin kembali tertawa sambil memukul bahu pemuda itu.
"Kau pasti akan menemukan tujuanmu, Jin-ah. Mungkin tidak sekarang, kau masih punya satu tahun lagi untuk berpikir." Hyosang berkata lagi sambil menatap Seokjin yang juga menatapnya, pemuda itu mematikan rokoknya yang sudah hampir mencapai filter dan mengajak Seokjin kembali ke asrama sebelum salah satu penjaga menangkapnya merokok di lingkungan asrama sekolah.
Seokjin berpisah dengan Hyosang di lantai satu, dia menapaki tangga satu persatu dengan malas. Dia tidak ingin kembali ke kamarnya, kejadian di kantin tadi masih mengganggu pikirannya, dia masih belum yakin apakah Namjoon benar-benar berada disana dan mata mereka bertemu untuk beberapa saat ataukah itu semua hanya perasaannya saja.
Dia terus menaiki tangga dengan pikiran yang tengah melayang dari satu persoalan ke persoalan lainnya secara acak, sampai kakinya berhenti tepat di depan pintu kamar. Seokjin terdiam sebentar, melirik ke arah jam di tangan kirinya yang menunjukkan pukul dua belas malam dia menduga-duga mungkin Namjoon sudah tertidur pulas. Dia menempelkan telinganya ke pintu namun tidak ada suara apapun dari dalam, apakah pintu kamarnya kedap suara atau suara dengkuran Namjoon tidak sekencang perkiraannya?
"Hyung, apa yang kau lakukan?"
Suara Namjoon yang tepat berada di belakangnya mengejutkan Seokjin, jantungnya hampir saja berhenti berdetak karena pertanyaan Namjoon. Dia memegang dadanya dan menoleh dengan mata terbuka lebar serta mulut yang menganga menatap Namjoon, pemuda di depannya itu menatap dengan bingung, dahinya berkerut.
"K-kau mengejutkanku," Ucap Seokjin terbata.
Namjoon berjongkok dan refleks memegang lengan Seokjin yang kini sudah terduduk di depan pintu. Wajahnya memerah karena malu.
"Hyung, kau baik-baik saja?" Tanya Namjoon, Seokjin mengalihkan pandangannya dan mengangguk singkat sebelum mencoba kembali berdiri. Namjoon membantunya.
"K-kukira kau sudah tertidur,"
Namjoon membuka pintu kamar dan membantu Seokjin masuk ke kamar, kedua kaki pemuda itu masih lemas karena terkejut.
"Aku baru saja kembali dari ruang komputer, ada yang harus kukerjakan disana. Lalu, apa yang hyung lakukan di depan kamar?" Tanya Namjoon lagi, berjalan menuju meja belajarnya dan meletakan laptop serta buku-bukunya.
"Aku-itu, kupikir kau sudah tertidur dan aku tidak ingin membangunkanmu."
Namjoon mengangguk-angguk, "Tapi hyung tidak perlu seterkejut itu, aku bukan hantu. Lagipula, sejak di lantai dua aku sudah ada di belakangmu hyung!"
Seokjin menelan ludah mendengar perkataan Namjoon.
"Aku hanya sedang berpikir, jadi tidak menyadari kau berada di belakangku." Ucapnya,
Namjoon duduk di atas kasur dan menatap Seokjin yang sedang berdiri di sebrang kasur miliknya sendiri. Pemuda blonde itu duduk dengan punggung menekuk, kepalanya mulai mengangguk-angguk dan jari-jarinya sibuk bermain dengan jari jemari lain, kemudian dia berkata pada Seokjin,
"Kau terlalu banyak berpikir hyung, kau harus rileks untuk mendinginkan otakmu. Aku melihatmu di kantin dan kau selalu kehilangan konsentrasi padahal hal-hal lain yang jauh menarik di sekitarmu, kurasa itu karena kau mulai bosan dengan obrolan yang sama setiap harinya. Jadi, hal-hal kecil dan terkesan sepele jauh lebih menarik. Menurut pendapatku, murid teladan juga boleh sekali-kali beristirahat."
Seokjin menatap kedua mata Namjoon yang kini menyipit karena tersenyum, lesung pipi pemuda itu kembali mengingatkannya pada hari bersalju tujuh tahun lalu. Dengan kedua tangan mungilnya, Kim Namjoon kecil menggenggam tangannya dan dengan nada berani berkata bahwa dia tidak akan meninggalkan Seokjin sendirian di kantor polisi sampai seseorang menjemputnya.
Perasaan hangat itu menjalar sama seperti tujuh tahun lalu, Namjoon bisa dengan mudah membuatnya nyaman meskipun mereka baru saling mengenal satu sama lain dan kini pemuda itu melakukannya lagi, mengatakan sesuatu yang ingin dia dengar selama ini.
Seokjin terdiam beberapa saat, kemudian tanpa sadar menampilkan senyumnya di depan Namjoon.
"Kau benar, aku butuh waktu istirahat cukup panjang sebelum mencapai batas limitku."
Namjoon mengangguk dan kembali menampilkan senyumnya. "Kau mau bermain game denganku? Aku membawa play station," Ujar Namjoon, menunjuk sebuah box di bawah meja belajarnya.
Seokjin melirik jam, sudah pukul setengah satu dia pasti akan terlambat besok pagi jika tidak tidur segera. Tapi, tawaran Namjoon terdengar jauh lebih menarik setelah seharian penuh ini dia terus di jejali rumus fisika dan matematika di kelas belum lagi tugas sejarah yang di bahas penuh oleh Baekhyun sehabis makan malam tadi.
Jadi, Seokjin mengangguk dan Namjoon mengeluarkan Play Stationnya dari dalam box memasangkan kabel-kabelnya ke TV yang berada tepat di samping tempat tidur Seokjin. Keduanya duduk bersebelahan dan mulai bermain, permainan sepak bola yang bahkan tidak Seokjin kuasai.
Tapi, bermain bersama Namjoon jauh lebih menyenangkan. Duduk bersama dengan Namjoon dan sesekali melirik ke arah wajahnya jauh lebih membuat Seokjin nyaman, diam-diam dia tersenyum kecil jika Namjoon melewatkan kesempatan untuk memasukan bola ke gawang. Ini hari pertama mereka bersama, duduk berdua dan berbicara satu sama lain. Hari ini, tak ada Namjoon menyebalkan, hari ini satu bebannya terasa terangkat karena ucapan menenangkan dari Namjoon.
"Namjoon,"
"Ya, hyung?"
Seokjin terdiam untuk beberapa saat, Namjoon masih sibuk dengan pertandingan yang ada di depan matanya.
"Kau yakin tidak pernah bertemu denganku sebelumnya?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Seokjin, Namjoon menengok ke arahnya dan menatapnya cukup lama.
"Apakah karena aku terlalu santai di depanmu, hyung?"
Seokjin terkekeh, "Tidak, hanya saja sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya."
Namjoon kini terdiam, memiringkan kepalanya ke arah kanan dia sedang berpikir dan Seokjin kembali tersenyum geli melihat tingkah pemuda itu.
"Mungkin kita pernah bertemu, di hari bersalju."
Senyuman Seokjin menghilang seketika, matanya menatap Namjoon yang masih fokus dengan permainan sepak bola di depannya. Jantung Seokjin berdegup dengan cepat, apakah pemuda itu akhirnya mengingatnya? Apakah Kim Namjoon kecil dan Kim Namjoon ini adalah orang yang sama?
Namjoon mengalihkan pandangannya ke arah Seokjin,
"Terdengar seperti sebuah film kan?"
"Eh?"
"Bertemu di hari bersalju, seperti sebuah film musim dingin." Namjoon berkata dan menampilkan senyumnya.
Otak Seokjin mencerna ucapan Namjoon, kemudian dia menghela napas, berdiri dan menjitak dengan sangat keras puncak kepala Namjoon. Pemuda blonde itu berteriak kesakitan dan meraung di tempatnya, Seokjin naik ke kasurnya, melepaskan kacamata dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sedangkan Namjoon masih meraung di bawah bertanya apa yang salah dengan ucapannya.
Kim Namjoon yang ini memang menyebalkan, mengapa tadi dia sempat berpikir Namjoon tidak menyebalkan hanya karena kata-katanya? Dia terlalu terbuai dengan senyum dan lesung pipi pemuda itu.
"Sial," Umpat Seokjin.
Continued..
Notes.
Terima kasih untuk para pembaca yang sudah bersedia mereview Fanficku J semoga suka dengan ceritanya ya, untuk awal-awal aku kayanya cuma bisa bikin 9-10 page di setiap chapter tapi aku janji lama kelamaan pasti lebih dari itu dan jauh lebih panjang. Sekali lagi, terima kasih banyak dan selamat membaca!
