Oke ini chap 2 nya~~ kalau masih penasaran, kalau rasanya masih belum ada penerangan tentang cerita ini, berarti harus baca chap selanjutnya XD~~
jeongmal gomawo untuk reviewnya~ aku ga bisa balas satu-satu, jadi aku cuma akan jawab beberapa pertanyaan yang rasanya memang harus di jawab ^^
Apa KyuHyuk menikah/suami istri/mereka sekamar?
Tidak, aku tidak bilang mereka menikah XD itu kan hanya pikiran-pikiran Sungjin saja XD
Mereka juga tidak sekamar, aku ga bilang mereka sekamar kan? Aku hanya bilang 'mereka sedang dikamar...' hehehe XD
KyuHyuk punya hubungan apa?
Hn, gimana ya? Aku kan sudah bilang mereka hanya friendship, brothership XD
Siapa masa lalu Hyuk?
Tunggu, aku akan jawab disini^^
Ada yang bilang ini mirip FF lain.
Ah, jinjja? Aku ga tau^^
Jeongmal Gomawo :
ressijewelll, Baby-ya, Leeyasmin, Pumpkin Ite,
Minnie Trancy, Hyeri, RAY HYUNG^^, Shion tsuzuka,
Cho Yooae, Marcia Rena, Yukihyemi, anchofishy,
Rhie sparkyu'min, Day KyuMin's Fujoshi, Thania Lee,
Cho Miku, JiYoo861015, kyurin minnie,
Momo6, S.J. 1315, Ryu, LabuManis,
Rima KyuMin Elf, Chikyumin,
Bunny Ming.
^^v~
Sudah itu saja. Baca yang ini, RnR, No Bashing! Enjoy~~~
CHAP 2
One Second Love
"Kita akan meeting di Lotte World? Taman bermain? Kau bercanda, Hankyung-sshi?" tanya Sungmin pada sekretaris pribadinya. Tuan Muda itu menghentikan sejenak kegiatannya memeriksa berkas laporan itu.
"Ne, Sungmin-sshi. Cho Kyuhyun-sshi baru saja memberi kabar seperti itu. Saya sudah memberi tahu pada Mr. Lee dan beliau setuju. Beliau meminta saya untuk membawa anda ke tempat meeting segera," jawab Hankyung sambil menunduk sopan.
Sungmin menggelengkan kepalanya heran. Siapa itu Cho Kyuhyun? Kenapa Appanya menurut begitu saja? Kenapa harus di taman bermain? "Bukankah kita harus melakukan survey ke beberapa lokasi?" tanyanya masih bingung.
"Ne, Sungmin-sshi. Survey akan dilakukan setelah meeting perdana ini selesai dan perusahaan kita menyetujui adanya kerja sama," jawab Hankyung menjelaskan kembali rincian tugasnya.
"Ada berapa tempat yang akan kita kunjungi untuk survey?" tanya Sungmin sambil membolak-balik lagi berkasnya. Kepalanya masih dipenuhi pertanyaan kenapa kliennya kali ini mengajaknya meeting di taman bermain.
"Anda hanya akan pergi untuk survey lapangan di Gyeonggi-do, Sungmin-sshi," jawab Hankyung lagi. Dia juga terlihat sibuk memperhatikan berkas lain. "Sisanya akan dilakukan oleh Mr. Lee sendiri," sambungnya.
Sungmin mengerutkan keningnya lagi. Dia sudah bosan ke tempat itu. Kenapa Appanya tidak mengirimnya untuk survey lapangan di luar negri atau tempat lain? "Bukankah aku disuruh menyelesaikan semua urusan ini? Kenapa aku hanya pergi ke Gyeonggi-do?"
"Mr. Lee bilang anda sudah sangat tahu tentang Gyeonggi-do, jadi beliau menunjuk anda, Sungmin-sshi. Tentang hal lain saya juga tidak mengetahuinya," kata Hankyung seperti mengerti apa yang ada dalam pikiran Sungmin.
Sungmin menghela nafas pasrah. Tentu saja dia tahu, Gyeonggi-do itu kampung halamannya. Tempat faforitnya jika dia sedang dalam keadaan stress. "Sudahlah, jika Appa sudah menyetujuinya. Lebih baik kita pergi sekarang," kata Sungmin dan masuk ke dalam mobilnya.
"Ne, Sungmin-sshi," sahut sekretarisnya dan ikut masuk ke dalam mobil.
..
.
"Umma tidak pelgi dengan Dongie?" tanya Donghyuk yang kini sudah ada dalam gendongan Kyuhyun.
Eunhyuk menggeleng sambil tersenyum lembut. "Umma ada sedikit urusan. Dongie jangan nakal saat dengan Appa ne, arrasseo? Umma akan ada di rumah sebelum Dongie pulang," jawabnya lembut. Eunhyuk merapikan lagi topi yang terpasang di kepala kecil Donghyuk, membuat wajah namja kecil itu terlihat sangat lucu.
"Ne, Umma~" jawab Donghyuk sambil mengangguk cepat dan ikut tersenyum. Bocah pintar itu terlihat sangat sumringah saat tahu Appanya akan membawanya jalan-jalan.
"Aku tidak akan lama-lama," kata Eunhyuk.
Kyuhyun menyerahkan Donghyuk pada sekretarisnya, Ryeowook—yang sepertinya hari ini bertugas untuk menjaga Donghyuk. Menyuruhnya untuk membawa Donghyuk masuk ke mobil duluan. "Aku hanya tidak ingin saat aku pulang kau masih belum ada di rumah dan tidak ada makanan yang tersedia," sahut Kyuhyun.
Eunhyuk mengangguk sambil tersenyum. Dirapikannya dasi Appa Donghyuk itu. "Semoga meetingmu berjalan lancar, ne," katanya lembut.
"Hm, kau juga. Semoga berjalan lancar. Kabari aku jika terjadi apa-apa," kata Kyuhyun dan mengacak lembut rambut namja didepannya itu.
Eunhyuk hanya menggerutu pelan. "Sudah sana pergi, jangan sampai membuat klienmu menunggu," katanya.
Kyuhyun mengangguk dan masuk ke dalam mobilnya. Ryeowook sudah duduk di jok belakang—disampingnya—sambil memangku Donghyuk. Perlahan mobil meninggalkan rumah mereka dan si kecil Donghyuk tertawa riang sambil melambaikan tangannya pada Eunhyuk.
"Apa kata Mr. Lee saat kita minta untuk meeting di taman bermain? Ah, aku sungguh merasa tidak enak," tanya Kyuhyun sambil mengurut-urut pelan pelipis matanya.
"Mr. Lee bilang kita akan meeting dengan putranya hari ini, Kyuhyun-sshi. Beliau juga mengatakan putranya pasti akan sangat senang karena putranya juga sudah lama tidak pergi ke taman bermain," jawab Ryeowook sambil bermain dengan tangan Donghyuk.
"Putranya tidak lama ke taman bermain? Mr. Lee sungguh ceria," kata Kyuhyun tersenyum geli. Dia sudah cukup lama menjadi rekan kerja dengan Mr. Lee itu.
"Setelah meeting ini selesai, anda dan putra Mr. Lee yang akan melakukan survey untuk pembangunan proyek di Gyeonggi-do, Kyuhyun-sshi," kata Ryeowook mengingat uraian tugasnya.
Kyuhyun mengangguk. "Aku harap putra Mr. Lee mudah di ajak bekerja sama," kata Kyuhyun.
"Tentu saja, Kyuhyun-sshi. Putra Mr. Lee sangat ramah dan baik. Seorang namja yang manis," sahut Ryeowook sambil mengingat-ingat.
"Kau pernah bertemu dengannya?" tanya Kyuhyun.
"Waktu itu tidak sengaja bertemu saat ada urusan ke kantor Mr. Lee beberapa waktu yang lalu," jawab Ryeowook.
Kyuhyun mengangguk. Dadanya tiba-tiba bergetar hebat saat mendengar penjelasan Ryeowook tentang rekan bisnisnya itu. Entah karena apa.
xxXxx
Seorang namja berambut pirang terlihat menunggu seseorang di depan sebuah café. Dia hanya mengenakan t-shirt putih dengan jins coklat biasa. Dia juga menggunakan hoodie berwarna cerah yang dilapisi lagi dengan coat coklat selutut. Dia sudah berdiri ditempatnya dari sepuluh menit yang lalu.
Café ini lagi. Café yang selalu dia kunjungi dulu, saat dia masih menjadi mahasiswa di salah satu unversitas ternama di Seoul. Dulu hampir setiap hari dia disini, menghabiskan sisa waktunya selama senggang perkuliahan. Café penuh kenangan yang terukir indah begitu saja dan sangat sukar dilupakan.
Café ini dan Lee Hyukjae memang satu memori yang tak bisa dipisahkan. Ya, namja pirang itu memang Eunhyuk. Dia terlihat menunggu dengan gelisah. Sekelebat kenangan masa lalu mengganggu dan menyesakkan hatinya. Sudah bertahun-tahun dia mencoba melupakan kenangan ini. Tidak pernah lagi terniat dihatinya untuk menginjakkan kaki di sekitar sini. Bahkan dia sempat berjanji tidak akan pernah mau lagi datang. Tapi sepertinya hari ini dia akan mengingkari janjinya.
Café ini jadi saksi bisu. Saksi bisu pertemuan pertamanya dengan seorang namja yang membuat hatinya terkurung saat itu. Tidak, tidak hanya saat itu. Ah, tidak juga—entahlah, Eunhyuk tidak tahu apa hatinya masih terkurung pada namja yang sama. Café ini menjadi saksi tentang kisah cintanya. Ah, Eunhyuk tidak seharusnya mengingat itu.
"Aissh!" gerutu Eunhyuk.
Sepertinya hanya dia yang terlalu menggebu-gebu untuk bertemu dengan orang itu. Bahkan sampai membuat Kyuhyun marah tadi malam. Eunhyuk tersenyum mengingat namja berambut coklat itu. Teman hidupnya beberapa tahun ini, namja yang Donghyuk panggil Appa. Namja yang mengurus hidupnya beberapa tahun ini. Namja yang sudah dia anggap keluarga kandungnya sendiri.
"Lee Hyukjae—" terdengar satu suara lembut tertahan dari belakang Eunhyuk. Suara itu terdengar gugup dan tertahan.
Eunhyuk berbalik mencari tahu siapa yang menyebut namanya. Seketika urat syarafnya menegang. "Kau—"
..
.
Sungmin menghirup aroma coklat hangatnya. Dia sudah duduk dan memesan secangkir coklat hangat dan satu buah waffle strawberry. Hankyung juga sudah duduk disampingnya, sibuk dengan ponselnya.
"Sibuk dengan kekasihmu, Hankyung-sshi?" tanya Sungmin tersenyum sendiri melihat sekretarisnya itu tersenyum-senyum sendiri sambil menatap ponselnya. Seperti remaja yang baru jatuh cinta.
"A-ah, ne, Sungmin-sshi," jawab Hankyung tersipu.
"Kalian sudah cukup lama kan?" tanya Sungmin.
Hankyung mengangguk pelan.
"Kim Heechul ne? Yang kau perkenalkan padaku dulu?" tanya Sungmin mengingat-ingat namja cantik yang dulu pernah Hankyung perkenalkan padanya saat ada acara di kantor mereka.
Hankyung mengangguk malu sekali lagi. "Ne, Sungmin-sshi," jawabnya.
"Dia sungguh namja yang cantik," kata Sungmin.
Hankyung tersenyum senang mendengar kekasihnya di puji seperti itu.
"Sepertinya hubungan kalian tidak sulit ya? Maksudku, orang-orang seperti 'kita' biasanya sulit menjalani hubungan seperti ini," kata Sungmin.
"Tidak juga, Sungmin-sshi. Masyarakat terbuka sudah mulai memaklumi dengan percintaan sesama namja seperti kita," sahut Hankyung.
Sungmin tersenyum. "Heechul pasti seorang namja yang setia," gumamnya.
Hankyung tertegun. Dia tahu kemana arah pembicaraan ini sekarang. "Anda masih mengingatnya, Sungmin-sshi?" tanyanya.
Sungmin menggeleng sambil tersenyum. "Hanya lukanya saja yang masih tersisa, Hankyung-sshi."
Hankyung mengangguk mengerti. Bertahun-tahun bekerja di perusahaan milik Mr. Lee memang sudah membuatnya dan Sungmin seperti sahabat, bukan hanya sekedar hubungan antara bos dan sekretaris. Tak jarang saat sedang senggang mereka membicarakan hal pribadi seperti ini. Namja keturunan China yang memang lebih tua dari Sungmin ini mengerti apa yang Sungmin rasakan.
"Gwenchana, Hankyung-sshi," kata Sungmin sambil menepuk pundak Hankyung pelan.
"Hah~ Mianhamnida, Hankyung-sshi, Lee Sungmin-sshi. Mianhamnida kami terlambat," terdengar satu suara menghampiri mereka.
"Ah, Ryeowook-sshi," kata Hankyung dan langsung berdiri dari duduknya. Keduanya saling membungkuk. "Perkenalkan ini Ryeowook-sshi, Sungmin-sshi," katanya.
Sungmin ikut berdiri dan membungkuk. "Senang bertemu dengan anda, Ryeowook-sshi," katanya sambil tersenyum dan berjabat tangan dengan Ryeowook.
Ryeowook tersenyum dan mengangguk. "Sama-sama, Sungmin-sshi," jawabnya. "Kyuhyun-sshi sedang menuju kemari. Donghyuk tiba-tiba ingin pergi ke kamar mandi tadi."
Sungmin dan Hankyung mengangguk. Sungmin bertanya-tanya siapa itu Donghyuk? Mereka bertiga kembali duduk. Tak lama seorang namja tampan tampak datang dari arah belakang Sungmin. Dia berjalan tergesa sambil menggendong seorang namja kecil imut. Hankyung dan Ryeowook segera berdiri. Ryeowook meraih namja kecil itu dalam pelukannya.
"Mianhamnida," kaat namja itu. Suranya terdengar sangat merdu.
Sungmin langsung berdiri dan berbalik. Seketika senyumannya menegang, jantungnya berdetak cepat dan kakinya gemetar. Ya Tuhan, aku sudah berjanji melupakannya kenapa sekarang dia ada dihadapanku, batin Sungmin.
Kyuhyun tertegun menatap siapa namja yang didepannya. Astaga, ini namja manis itu, katanya dalam hati. Keduanya saling berpandangan lama. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Hm, mianhamnida—" gumam Hankyung tertahan. Bingung ingin mengatakan apa pada dua namja yang masih sibuk saling memandang itu.
"Ah, m-mianhamnida. Cho Kyuhyun imnida," sapa namja berambut coklat itu dan mengulurkan tangannya.
Sungmin tersentak. Dengan ragu disambutnya tangan itu. "L-Lee Sungmin imnida," sahut Sungmin gugup.
"Kau-kau namja yang kemarin di swalayan itu?" tanya Kyuhyun langsung.
Omo! Dia mengingatnya! seru Sungmin dalam hati. Sungmin hanya mengangguk pelan. "Lebih baik langsung saja kita mulai, Cho-sshi," katanya mengalihkan pembicaraan yang membuat jantungnya berdebar itu. Tiba-tiba mata Sungmin beralih pada bocah kecil yang sibuk dengan gulali ditangannya itu. Ini juga namja kecil kemarin.
"Eng, ini—" Sungmin menggantung kata-katanya sambil menatap bocah itu.
"Donghyuk, Cho Donghyuk," jawab Ryeowook ceria sambil memainkan tangan kecil Donghyuk membuat sebuah lambaian tangan.
Sungmin terdiam. Dia tersenyum menatap Donghyuk. "Ah, Cho Donghyuk. Annyeong, Donghyuk~" sapanya.
Donghyuk hanya mengangguk dan tersenyum polos. Dia masih sibuk menjilati gulalinya.
"Ryeowook, lebih baik kau bawa dia jalan-jalan atau bermain wahana. Aku yakin Donghyuk tidak akan betah duduk berlama-lama disini," kata Kyuhyun.
"Ah, itu tidak masalah jika dia disini bersama kita, Cho-sshi," kata Sungmin melarang.
"Aniya, Sungmin-sshi. Donghyuk memang tidak betah duduk berlama-lama," jawab Kyuhyun.
"Kalau begitu kau temani Ryeowook-sshi, Hankyung-sshi," perintah Sungmin.
"Bagaimana dengan meeting?" tanya Hankyung diikuti anggukan Ryeowook.
"Ini hanya meeting santai, aku bisa mencatat hal-hal yang perlu kita lakukan sendiri," jawab Sungmin. "Kasihan jika Donghyuk memang tidak tahan," sambungnya.
"Anda yakin, Sungmin-sshi?" tanya Ryeowook. "Saya tidak masalah jika harus pergi dengan Donghyuk berdua saja."
Sungmin mengangguk dan tersenyum. "Aku tidak masalah, Ryeowook-sshi," jawabnya.
Hankyung terpaksa mengangguk dan menuruti kemauan bosnya itu. Dia merasa tak berguna sebagai sekretaris hari ini.
Kyuhyun mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya. "Belanjakan apa saja yang dia mau," katanya.
Ryeowook mengangguk. Dia menurunkan Donghyuk. "Donghyuk ingin berjalan saja? jika Donghyuk lelah katakan pada ahjusshi dan ahjusshi akan menggendong Donghyuk. Arraseo?" tanyanya.
"Ne, ajuci," jawab Donghyuk sambil tersenyum. "Appa tidak ikut?" tanyanya.
Kyuhyun menggeleng sambil tersenyum. "Appa akan menyusul nanti. Ada yang harus Appa selesaikan dulu, ne?" jawabnya.
Donghyuk mengangguk. "Donghyuk beljanji akan jadi anak baik pada Umma tadi," katanya.
Kyuhyun tertawa pelan. "Ne, anak Appa memang anak baik. Ryeowook dan Hankyung ahjusshi akan menamani Donghyuk," katanya.
Donghyuk mengangguk dan tersenyum. "Arraco, appa," katanya.
Ryeowook tersenyum menatap bocah kecil itu. Dia dan Hankyung membungkuk sopan saat pamit dan meninggalkan bos mereka.
"Anak yang pintar," komentar Sungmin. Hatinya tiba-tiba terasa aneh saat tadi Kyuhyun dan Donghyuk berbicara tentang 'Umma'.
Kyuhyun mengangguk dan tersenyum. Matanya masih terpana pada wajah manis Sungmin. Wajah yang lembut, kulit putih susu yang indah, bibir yang terlihat menawan. Dan terutama, mata foxy yang masih menariknya sama seperti saat mereka pertama bertemu.
"Ehem, s-sebaiknya kita mulai saja, Cho-sshi," kata Sungmin gugup dipandangi seperti itu.
Kyuhyun tersentak, tersadar dari lamunannya mengagumi wajah manis itu. "N-ne, Sungmin-sshi. Mianhae sebelumnya, harus mengajakmu meeting di tempat seperti ini. Umma Donghyuk ada sedikit keperluan, jadi aku yang harus menjaganya," kata Kyuhyun.
Sungmin mengangguk dan tersenyum. "Tidak masalah, Cho-sshi."
"Cukup panggil aku Kyuhyun," kata Kyuhyun.
Sungmin memiringkan kepalanya, lucu. "Ah, ne, Kyuhyun-sshi," panggilnya.
Kyuhyun terkesiap lagi. Betapa imutnya Sungmin saat tadi bersikap seperti itu. Aniya! serunya dalam hati. "Aku sudah pesan tempat yang lebih private disini, agar kita bisa lebih tenang membahas ini semua. Mari, Sungmin-sshi," ajaknya.
"Ah, ne~" sahut Sungmin dan mengikuti Kyuhyun.
xxXxx
"Cukup lama tak bertemu," kata Eunhyuk pelan.
Sekarang dia sedang duduk didalam café itu. dihadapnnya duduk seorang namja berbadan tegap, berambut hitam sedikit panjang dan sangat tampan. Eunhyuk belum berani menatap mata namja itu langsung, dia hanya sesekali melirik diam.
"Sangat lama, maksudku," kata Eunhyuk meralat kata-katanya sendiri. "Tiga tahun lebih itu bukan waktu yang sebentar."
Namja itu hanya menatap Eunhyuk tanpa berkata-kata. Dia masih menikmati keindahan wajah namja dihadapannya itu. Rahang tegasnya, bibirnya, wajahnya. Eunhyuk adalah pemilik hatinya sampai kapan pun. Hanya saja, rambut pirang namja itu agak menganggu.
"Lee Donghae!" seru Eunhyuk mulai kesal karena sejak tadi namja itu hanya menatapnya dalam diam.
"Ne, Hyukkie?" tanya Donghae—namja itu—tenang. "Aku tidak suka warna rambutmu. Aku lebih suka rambut hitam Hyukkie yang lembut seperti dulu," sambungnya.
Eunhyuk tercekat. Dialihkannya pandangannya dari mata hitam itu. "Jangan memanggilku seperti itu lagi. Lagi pula, sesukaku mau ku apakan warna rambutku. Rambut hitam itu hanya masa lalu," katanya.
Donghae menghela nafas. "Aku harus minta maaf bagaimana lagi denganmu, Hyukkie? Bertahun-tahun aku menunggu maafmu. Setelah aku pergi aku selalu mengirimimu e-mail hanya untuk mengungkapkan rasa bersalahku. Aku berjanji akan pulang, dan kau lihat sekarang? Aku kembali, Lee Hyukjae," katanya. nada suaranya terdengar sangat frustasi.
Eunhyuk hanya diam tak menanggapi. Dia sudah mendengar kata-kata itu berkali-kali. E-mail katanya? Eunhyuk tidak pernah meminta dikirimi e-mail setiap hari seperti itu. Dia tidak butuh.
"Aku ingin bertemu Donghyuk," kata Donghae.
"Kyuhyun tidak mengizinkan kau bertemu dengan Donghyuk," kata Eunhyuk.
"Kyuhyun? Dia—"
"Dia berhak menentukan siapa saja yang boleh bertemu dengan anakku," Eunhyuk segera memotong kata-kata Donghae saat merasa namja itu akan marah. "Dia yang selama ini mengurus kami."
Donghae menjambak rambutnya frustasi. "Kau menamai Donghyuk dengan marga Cho, kau selalu mengurus Donghyuk dan dia, kau selalu memberi perhatian padanya. Aku tahu dia yang selama ini mengurus Donghyuk dan kau, Hyukjae. Aku tahu! Tapi tahu kah kau betapa frustasinya aku saat aku jauh darimu seperti beberapa tahun ini?" katanya.
Eunhyuk menatap tajam Donghae. "Kau yang meninggalkanku, Lee Donghae!" desisinya geram.
Donghae menatap Eunhyuk dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku minta maaf, Lee Hyukjae—"
"Kau yang meninggalkanku setelah kau buat banyak janji! Bahkan kau berjanji untuk menikahiku! Tapi—"
BRUK! Eunhyuk terdiam saat punggungnya tersandar tiba-tiba pada sandaran sofa café yang didudukinya. Donghae memeluknya erat.
"Hiks—Mianhae, Lee Hyukjae. Mianhae, jeongmal mianhae. Hiks—aku akan jelaskan—hiks. Aku sungguh membutuhkan banyak waktu untuk kembali—hiks… dan aku disini sekarang. Tolong dengarkan aku, Hyukjae. Hiks—" Donghae menangis.
Eunhyuk terdiam lama. Tidak membalas pelukan itu, tapi juga tidak ingin melepaskan. Pelukan ini rasanya masih sama. Masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Sangat sama saat pertama kali Donghae menyatakan cinta padanya, pelukan pertama mereka. Masih sangat sama saat setiap kali Donghae memeluknya setiap saat, dulu. Masih sangat sama rasanya. Masih sangat… hangat.
Masih sangat sama saat mereka diam-diam saling berpelukan di taman kampus. Hanya mereka yang berani melakukan itu di depan umum dengan hubungan aneh mereka. Pelukan ini, masih sangat sama. Eunhyuk terbawa kembali dengan semua kenangan mereka. Bahkan wangi ini… Eunhyuk tidak bisa berbohong, dia merindukan wangi ini.
"Kau tahu hiks—kau tahu kenapa aku mengambil keputusan itu. Hiks—" gumamnya mmasih terisak.
Eunhyuk hanya diam. Dia tak tahu harus menanggapi apa. Ya, dia tahu alasan kenapa Donghae meninggalkannya. Impian besar Donghae untuk menjadi pebisnis besar dan menerima beasiswa di Amerika yang membuat Donghae meninggalkannya dan Donghyuk.
"Kau egois..." gumam Eunhyuk pelan.
"Mianhae, hiks—jeongmal mianhae—" balasnya.
Eunhyuk terdiam lagi. Donghae pun masih belum mau melepas pelukannya.
"Aku ingin bertemu dengan anakku, Hyukjae…" bisik Donghae.
..
.
"Kita bisa sesuaikan jadwal untuk survey itu dengan jadwalmu, Sungmin-sshi," kata Kyuhyun sambil mencatat rincian meeting mereka.
Sungmin yang juga sibuk dengan catatannya berfikir sejenak. "Aku bisa kapan saja, Kyuhyun-sshi. Lagi pula pembangunan yang akan berjalan memerlukan waktu yang cukup panjang. Jika hanya untuk survey awal, aku rasa aku bisa kapan saja," sahutnya.
"Lebih baik kau tanya pada Hankyung-sshi dulu. Sepertinya dia yang lebih tahu tentang jadwalmu," kata Kyuhyun tersenyum menatap Sungmin yang terlihat bingung mengingat-ingat jadwalnya.
"Ah, ne. Kau benar, Kyuhyun-sshi," katanya dan kembali sibuk dengan catatannya. Dia akan memberikan ini pada Hankyung, biar sekretarisnya itu saja yang menyelesaikan laporan ini.
Kyuhyun masih menatap Sungmin yang sibuk dengan catatannya. Entah kenapa, matanya sukar untuk beralih dari wajah Sungmin. Jika diingat-ingat, dia sudah bereaksi seperti ini sejak pertama kali bertemu dengan Sungmin. Merasa diperhatikan, Sungmin menengadahkan wajahnya, balas menatap Kyuhyun.
"Ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Sungmin.
"Hn? Eh, aniya. Aku akan mengurus semuanya langsung pada Mr. Lee setelah ini. Kami perlu membicarakan beberapa hal lagi," jawab Kyuhyun.
Sungmin mengangguk. Dia melirik jam tangannya, tak terasa sudah tiga jam dia dan Kyuhyun membahas ini. "Aku rasa kita sudah selesai," kata Sungmin. Dia membereskan berkas-berkasnya.
"Kau akan langsung kembali, Sungmin-sshi?" tanya Kyuhyun cepat.
Sungmin menatapnya heran. "Waeyo?" Sungmin bertanya.
"A-ani, hanya bertanya," jawab Kyuhyun.
Sungmin berfikir lagi. "Sepertinya aku akan berkeliling dulu, sedikit menyegarkan pikiran. Kyuhyun-sshi akan menemani Donghyuk?" katanya.
Kyuhyun mengangguk. "Mari kita pergi bersama," ajaknya.
Seketika wajah Sungmin memerah. Dia tertunduk menyembunyikan wajahnya. "Nn-ne, mungkin kita bisa sekalian bisa bertemu dengan Hankyung-sshi," katanya.
Kyuhyun mengangguk. Hatinya berdebar-debar, seperti akan kencan, batinnya. "Aku akan panggil mereka ke sini dulu untuk mengantarkan ini ke mobil," katanya.
"Tidak perlu, aku bisa mengantar ini ke mobilku sendiri," tolak Sungmin. Dia tidak suka terlalu merepotkan orang lain.
Kyuhyun mengeluarkan ponselnya, menyentuh-nyentuh layar dan kemudian kembali pada Sungmin. "Supirku akan menjemputnya, kita tunggu saja," katanya.
Sungmin tersenyum. "Apa memang semua urusanmu di urus oleh orang lain?"
Kyuhyun menggedikkan bahunya balas tersenyum. "Mereka yang membiasakanku," jawabnya.
Sungmin hanya menggeleng sambil tersenyum kecil. Dia hanya berusaha untuk menghilangkan rasa gugupnya. Sungmin sudah berusaha bersikap profesional selama meeting beberapa jam tadi. Melupakan begitu saja debaran jantungnya dan mengendalikan wajahnya yang memerah saat dia harus menatap Kyuhyun saat mereka membahas bisnis mereka. Belum lagi tentang Kyuhyun yang sadar ini bukan pertemuan pertama mereka.
Tapi sepertinya saat ini, baik Kyuhyun atau pun Sungmin, kembali merasa canggung satu sama lain. Kyuhyun sesekali melirik Sungmin yang hanya tertunduk. Entah kenapa selama meeting tadi Kyuhyun merasa seperti sudah kenal lama dengan Sungmin. Ide-ide cemerlang Sungmin sangat menarik baginya, Sungmin memang cerdas. Mereka berbincang dengan santai. Entahlah, entah karena Sungmin yang memang ramah dan mudah akrab dengan orang lain, atau karena getaran-getaran yang menggelitik hati mereka masing-masing. Ya, getar-getaran yang berusaha mereka tepis.
Tak lama supir Kyuhyun datang untuk mengambil semua barang-barang mereka.
"Tolong jangan sampai berserakan, ahjusshi. Ini berkas penting," kata Kyuhyun.
"Ne, Kyuhyun-sshi," sahutnya sambil sedikit membungkuk sopan.
"Kamsahamnida, ahjusshi," kata Kyuhyun balas membungkuk.
"Kamsahamnida," Sungmin ikut membungkuk.
"Ah, ne," kata ahjusshi itu dan pergi meninggalkan mereka.
Kyuhyun menatap Sungmin. "Jadi kita pergi sekarang?" tanya Kyuhyun.
Sungmin mengangguk sambil tersenyum. Mereka mulai berjalan meninggalkan tempat itu. "Donghyuk dimana?" tanyanya.
"Aku tak tahu, kita bisa cari dia sambil berjalan-jalan," jawab Kyuhyun. Dia seperti tak ingin waktu terlalu cepat berlalu. "Jadi… kau namja yang di swalayan kemarin?" Kyuhyun mengulangi lagi pertanyaan saat mereka bertemu tadi.
BLUSH! Wajah Sungmin memerah lagi. Aiish, kenapa dia bertanya seperti itu dengan santai, batinnya. "A-ah, ne. Mianhae jika saat itu membuatmu tidak nyaman," jawabnya gugup.
"Eh? Aniya. Sungguh bukan seperti itu. Hanya saja, aku gugup saat kau melihatku seperti itu," gumam Kyuhyun pelan.
Sungmin menatap Kyuhyun. "Kau bilang apa?" tanyanya.
Kyuhyun balas menatap Sungmin. Dia tersenyum menatap wajah manis namja dihadapannya ini. "Aniya, bukan apa-apa. Kajja, kita jalan lagi," jawabnya mengalihkan pembicaraan.
Sungmin mengangguk canggung. Ah, andai saja bayangan Donghyuk dan namja berambut pirang itu tidak datang dipikirannya, pasti dia perlu repot-repot menahan debaran indah didadanya seperti sekarang.
Kyuhyun melirik Sungmin yang berjalan disampingnya. Ah, andai saja Sungmin tahu sejak kemarin jantungnya tak bisa tenang. Ah, andai saja…
Sepertinya memang ada satu hal yang merasuki perasaan mereka.
xxXxx
