Jeongmal Gomawo :
ressijewelll, Baby-ya, Leeyasmin, Pumpkin Ite,
Minnie Trancy, Hyeri, RAY HYUNG^^, Shion tsuzuka,
Cho Yooae, Marcia Rena, Yukihyemi, anchofishy,
Rhie sparkyu'min, Day KyuMin's Fujoshi, Thania Lee,
Cho Miku, JiYoo861015, kyurin minnie,
Momo6, S.J. 1315, Ryu, LabuManis,
Rima KyuMin Elf, Chikyumin,Bunny Ming.
Aegyo lee, Park HyunRa,
Vain Vampire, Cho Gyumin Lee,
Secret Blackheart, Mayuka57, Saeko hichoru,
Chikyumin, Kitsune Diaz isHizuka, MinnieGalz,
Ceekuchiki, CloudsomniaElf, Pinkyu. ^^v~
Wuah, mianhae telat banget updatenya ;A; ada sedikit kesalahaan teknis sama laptop jadi telat. Saya mau jelasin di sini apa sebenarnya yang terjadi antara HaeHyuk. Kalau belum jelas, katakana saja. Nanti di jelasin lagi deh di chap berikutnya^^
Ini baru chap 3, sengaja di bikin gini biar pada penasaran sama kisah main character kita KyuMin, hehe^^v Untuk yang masih penasaran tentang Kyuhyuk, bersabar ne~ nanti saya jelasin kesemuanya termasuk ke Sungmin yang juga salah paham seperti kalian. Hehe^^
Sudah itu saja. Baca yang ini, RnR, No Bashing! Enjoy~~~
CHAP 3
One Second Love
Kyuhyun menatap keluar jendela dengan senyuman lembut yang terpampang diwajahnya. Sejak tadi bayangan wajah Sungmin tergambar jelas dipikirannya. Dia tidak bisa bersikap professional sepertinya jika tidak sedang meeting. Seperti saat mereka bermain bersama dengan Donghyuk dan yang lainnya tadi. Bahkan Kyuhyun tidak bisa menghentikan debaran jantungnya saat itu. Hh, kalau saja Kyuhyun tidak mengingat Donghyuk, pasti dia tidak susah payah menahan perasaan seperti ini.
"Anda terlihat sangat senang, Kyuhyun-sshi," kata Ryeowook yang sejak tadi memperhatikan tingkah Kyuhyun. Donghyuk sudah tertidur kelelahan dipangkuannya.
"Aish, berhenti memperhatikanku seperti itu, Ryeowook," kata Kyuhyun malu.
Ryeowook tertawa. "Aku hanya akan berekspresi sepertimu saat aku sedang jatuh cinta," katanya.
"Kau akan bilang aku sedang jatuh cinta, huh?" tanya Kyuhyun.
Ryeowook mengangkat bahunya santai. "Aku ingat, saat kencan pertamaku dengan suamiku, ekspresiku sama percis dengan ekspresimu sekarang," jawabnya.
"Hn, dengan Yesung-hyung? Aish, aku yakin itu sudah terjadi bertahun-tahun lalu," kata Kyuhyun.
"Aku baru menikah enam bulan yang lalu, Cho Kyuhyun, jangan berlebihan," kata Ryeowook kesal. Dia lelah bersikap formal pada namja yang sudah terlanjur terlalu akrab dengannya ini.
Kyuhyun tertawa. Dia dan keluarga besar Ryeowook memang cukup dekat. Orang tuanya— Mr. dan Mrs. Cho— memang bersahabat dengan orang tua Ryeowook. Itu kenapa dia mengenal suami Ryeowook, Kim Jongwoon—mereka memanggilnya Yesung. Yesung adalah pemilik sebuah toko kacamata terkenal. Jika kalian bertanya kenapa Ryeowook tetap bekerja pada Kyuhyun padahal suaminya adalah seorang pengusaha sukses, jawabannya karena keegoisan Kyuhyun yang tidak ingin mengganti sekretarisnya dengan orang lain. Bahkan dia yang meminta ijin sendiri pada Yesung agar Ryeowook tetap bekerja padanya. Hubungan Kyuhyun dan Yesung juga sangat baik. Karena paham betul sifat Kyuhyun, mau tak mau Yesung mengijinkan istrinya itu bekerja untuk Kyuhyun.
"Apa kau jatuh cinta pada Sungmin-sshi?" tanya Ryeowook.
Kyuhyun tersenyum. "Entahlah, Wook. Aku… hanya seperti terhipnotis dengan mata indahnya. Wajahnya juga," jawabnya.
Ryeowook mengangguk. Dia tersenyum menatap namja yang sudah dia anggap namsaeng tapi tidak pernah berbicara sopan padanya ini. "Sungmin-sshi memang menarik," komentarnya.
Kyuhyun mengangguk. Dia menatap Donghyuk yang tertidur dipangkuan Ryeowook. "Aku hanya takut menjalin hubungan dengan orang lain, Wook. Donghyuk masih membutuhkanku," gumamnya.
"Ne, kau benar. Eunhyuk dan Donghyuk masih membutuhkanmu. Tapi kurasa, Kyu, itu bukan alasan untuk menutup diri untuk menjalin hubungan dengan orang lain," kata Ryeowook.
Kyuhyun mengangkat bahunya bingung.
"Kau dan Eunhyuk bukan suami istri, Kyu. Hubungan kalian hanya hyung dan dongsaeng. Kau sendiri yang bilang begitu padaku dari dulu. Jadi itu bukan alasan," sambung Ryeowook.
"Aku tahu. Hanya saja, aku takut jika nanti aku memiliki kekasih, maka Eunhyuk akan membawa Donghyuk menjauh dariku. Pasti akan menjadi canggung, Wook," sahut Kyuhyun.
Ryeowook menggeleng pelan. "Eunhyuk bukan orang yang seperti itu. Dia itu hyung yang bijaksana," katanya.
Kyuhyun hanya diam dan tersenyum. Mungkin Ryowook ada benarnya. Tapi, dia memang benar-benar takut jauh dari Donghyuk. Dia sangat menyayangi namja kecil itu. Donghyuk benar-benar sudah dia anggap anak kandungnya sendiri. Meski pun sebenarnya bukan.
"Apa benar dia kembali, Kyu?" tanya Ryeowook hati-hati. Dia tahu pertanyaannya agak sensitif.
Kyuhyun menghela nafas. Bahkan Ryeowook tahu tentang ini. "Eunhyuk bilang begitu," jawabnya.
"Biarkanlah mereka memperbaiki apa yang sudah terjadi, Kyu," kata Ryeowook.
Kyuhyun menggeleng pelan. "Aku hanya tidak ingin Eunhyuk tersakiti lagi. Aku hanya ingin dia sadar tidak segampang yang dia pikirkan untuk mendapatkan kembali apa yang sudah dia tinggalkan. Donghyuk dan Eunhyuk itu tanggung jawabku sekarang."
Ryeowook menghela nafas pelan mendengar kekeras kepalaan Kyuhyun. "Apa menurutmu Eunhyuk akan baik-baik saja dengan keputusanmu?"
"Entahlah, Wook. Apa menurutmu Eunhyuk masih mencintainya?"
Ryeowook hanya mengangkat bahunya, tak tahu.
"Aku tidak terima! Aku tidak mau dia mengambil anakku begitu saja!" seru Kyuhyun.
"Ne, Kyu, aku mengerti. Tapi, bagaimana jika ternyata Eunhyuk masih mencintainya? Apa yang akan kau lakukan? Jangan bersikap seperti kau ini suaminya!" kata Ryeowook.
"Aku ini hanya namsaeng yang posesif, kau mengerti?" kata Kyuhyun tegas.
Ryeowook hanya menghela nafas. Ya, Kyuhyun memang namsaeng yang posesif.
..
.
"Kau sudah pulang, hyung?" tanya Sungjin saat Sungmin masuk ke rumah dengan wajah yang terlihat cerah, tapi juga lelah.
"Ne, mana Appa dan Umma?" jawab Sungmin dan langsung bertanya karena tidak melihat orang tua mereka. Seharusnya mereka sedang berkumpul sekarang.
"Umma menamani Appa, ada pertemuan dengan beberapa rekan bisnis Appa," jawab Sungjin.
Sungmin mengangguk paham dan duduk di samping adik bungsunya itu. Melepaskan beberapa kancing bajunya dan tersandar di sofa. Menghela nafas berat.
"Apa meetingnya berjalan lancar?" tanya Sungjin.
"Begitulah," jawab Sungmin. "Sungjinnie," gumamnya.
"Hm?" jawab Sungjin.
"Aku… aku bertemu lagi dengan namja yang kemarin aku ceritakan padamu," kata Sungmin pelan. Dia memjamkan matanya, lelah.
Sungjin terlihat berfikir sebentar. "MWO? Namja yang sudah memiliki anak itu?" serunya. Sungmin mengangguk. "Aiish, bagaimana bisa?" tanyanya.
"Dia itu orang yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita untuk proyek di Gyeonggi-do," jawab Sungmin.
"Aish! Aku tidak tahu tentang proyek perusahaan, hyung," kata Sungjin gusar. Sang Appa masih belum membiarkannya turun tangan untuk masalah bisnis keluarga.
"Yah, pokoknya begitulah. Aku bertemu dengannya tadi, membicarakan bisnis. Kami meeting di Lotte World, kau tahu. Dia membawa anaknya yang bernama Cho Donghyuk itu," kata Sungmin. Tersirat ada kekecewaaan dari nada bicaranya.
"EEH? Dia membawa anaknya dan mengajakmu meeting di taman bermain? Apa-apaan itu?"
Sungmin hanya diam melihat kehebohan Sungjin. Dia tahu, Sungjin pasti sangat tidak setuju jika dia bertemu lagi dengan Kyuhyun. Dia mengerti sang adik sangat mengkhawatirkannya. "Ku mohon, Jinnie, tidak bisakah aku merasakan bahagia sekali lagi?" gumamnya.
Sungjin menghela nafas. "Hyung, kau boleh bahagia, tapi tidak dengan suami orang. Terkadang ke-pabbo-anmu tentang cinta itu sungguh keterlaluan. Jangan terlalu polos seperti ini! Kau tahu kan, hyung, hatimu itu jauh lebih sensitif dibandingkan dengan orang lain. Aku tidak mau kau terluka lagi seperti dulu. Kejadianmu yang dulu saja sudah membuatmu menenangkan diri sebulan di Gyeonggi-do. Aku tidak mau kau mencoba untuk yang satu ini. Hubunganmu dengan Siwon dulu saja sudah cukup membuatmu terluka. Aku tidak mau itu terulang lagi," katanya panjang lebar.
"Jangan menyebut namanya," kata Sungmin pelan.
Sungjin terdiam. Ah, sungguh dia tidak sengaja menyebut nama namja dari masa lalu pahit hyung-nya itu. Namja yang membuat Sungmin seperti mayat hidup selama satu bulan itu. "Mianhae, hyung," katanya.
Sungmin hanya mengangguk. Bayangan wajah tampan Kyuhyun berputar-putar dipikirannya.
"Kau harus bisa mengatur hatimu lagi, hyung. Jatuh cinta pada pandangan pertama itu tidak seharusnya kau turuti terus," kata Sungjin lagi.
Sungmin terdiam. Sungjin benar, seharusnya dia seperti itu. Dulu juga cinta pada pandangan pertama. Ah, Sungjin mengingatkannya lagi pada namja Choi itu. "Tapi Kyuhyun sangat baik," katanya.
"Ah, namanya Kyuhyun, huh?" tanya Sungjin.
Sungmin mengangguk. "Aku berjanji akan melupakannya kan, Jinnie? Bagaimana jika aku mengingkari janjiku?" tanya Sungmin.
"Maksud hyung?" tanya Sungjin tak mengerti.
"Aku akan mengurus proyek di Gyeonggi-do bersamanya beberapa hari lagi. Appa yang menyuruhku. Itu berarti aku akan menghabiskan waktu bersamanya," jawab Sungmin.
Mata Sungjin membulat. "Aish! Kenapa Appa selalu menyuruhmu untuk mengurus proyek disana? Bersama dia pula?"
"Entahlah, terkadang aku bingung. Aku tahu, aku memang sangat mengerti Gyeonggi-do, itu kampung halaman kita dan tempat meditasiku. Tapi apa harus aku terus yang kesana."
Sungjin menggelengkan kepala sambil menggaruk kepalanya. "Aku akan ikut denganmu," katanya.
"EH! Maksudmu?" tanya Sungmin kaget.
"Aku akan ikut bersamamu ke Gyeonggi-do. Jadi kau bisa mengontrol perasaanmu jika ada aku disana. Kau tahu, hyung, aku tidak mau kejadian dulu terulang lagi," jawab Sungjin.
Sungmin menatap Sungjin dalam diam. Sungjin sangat mengkhawatirkannya ternyata. "Ya! Aku akan baik-baik saja, tenanglah. Kau tidak perlu seperti itu," kata Sungmin.
"Hyung, jatuh cinta pada suami orang itu lebih beresiko, kau tahu," kata Sungjin lagi. Wajahnya terlihat sangat khawatir. Dulu, saat Sungmin bilang dia jatuh cinta pada namja Choi itu, Sungmin juga bilang semua akan baik-baik saja. Tapi tetap saja akhirnya seperti ini.
Sungmin tersenyum. "Aku pasti akan menahan perasaanku," katanya pelan. Ada nada ketidak yakinan dari perkataannya.
Sungjin menghela nafas. Dia tetap akan meminta pada Appanya untuk ikut ke Gyeonggi-do!
xxXxx
"Gomawo, Wookie," ucap Eunhyuk sambil tersenyum pada Ryeowook. "Mampirlah untuk makan malam disini," sambungnya.
"Cheonman, Hyukkie-hyung. Aku harus pulang, Yesung pasti sudah menunggu," sahutnya.
Eunhyuk tersenyum. "Baiklah, hati-hati ne," kata Eunhyuk dan melambaikan tangan pada Ryeowook yang sudah masuk ke mobil.
"Ryeowookkie, gomawo!" seru Kyuhyun sambil melambaikan tangan dan tersenyum lebar.
Ryeowook hanya mengangguk dan melambaikan tangan. Perlahan mobil itu meninggalkan kediaman Kyuhyun.
"Kapan kau akan bersikap sopan, Kyu? Sadarlah kau itu lebih muda dari kami," kata Eunhyuk sambil menggelengkan kepala dan masuk ke dalam rumah.
Kyuhyun hanya tersenyum. "Aku akan mandi dulu, Hyuk," katanya mengacuhkan kata-kata Eunhyuk dan berlalu masuk kekamarnya.
"Aku akan siapkan makan malam!" seru Eunhyuk dan berjalan menuju dapur. Menyiapkan makanan untuk Kyuhyun.
Aku ingin bertemu dengan anakku, Hyukjae…
Eunhyuk menghela nafas. Sejak tadi kata-kata itu tak bisa hilang dari pikirannya. Belum lagi wajah Donghae yang terisak dan menangis seperti tadi, bahkan namja itu masih sama cengengnya. Bahkan Eunhyuk pergi begitu saja saat Donghae berusaha menjelaskan kenapa dia memilih impiannya sendiri dari pada Eunhyuk. Bagi Eunhyuk, semua itu tetap hanya keegoisan seorang Lee Donghae, apa pun alasannya.
Lee Donghae. Bagi seorang Eunhyuk, nama itu adalah bagian dari masa lalunya. Entah itu masa lalu yang indah atau sebaliknya. Eunhyuk hanya tidak ingin pusing-pusing memikirkan itu. bertahun dia mencoba melupakan semuanya. Tidak peduli dengan semua e-mail permintaan maaf dari Donghae, tidak peduli dengan hatinya, yang jujur saja, masih terus menuntut. Tidak peduli tentang Donghyuk yang harus tahu tentang kebenarannya. Donghyuk masih terlalu kecil untuk tahu tentang hal ini, pikirnya.
Eunhyuk tidak bisa berbohong. Dia memang senang saat mendapat kabar dari Donghae sendiri bahwa dia akan kembali ke Seoul setelah bertahun-tahun pergi. Eunhyuk merasa ada sedikit pencerahan untuknya. Tapi tetap saja, rasa sakit hatinya jauh lebih besar dari rasa senang itu. Tidak, Eunhyuk memang tidak membenci Donghae. Eunhyuk memang terlalu baik, dia memang tidak bisa membenci siapa pun.
Dia hanya takut pertahan dihatinya runtuh ketika Donghae membujuknya lagi. Sekian tahun dia menguat diri untuk tidak lagi peduli dengan apa pun hal yang berhubungan dengan Donghae. Siapa suruh dia begitu egois? Lebih memilih beasiswa di Amerika itu dari pada Eunhyuk yang sedang mengandung Donghyuk.
[Flashback On…
Eunhyuk melangkah pelan dengan wajah sumringah menuju taman kampus. Tempat yang selalu dia datangi bersama namjachingunya. Wajahnya sesekali bersemu merah mengingat berita yang akan dia berikan pada namja berbadan tegap itu. Belum lagi bayangan-bayangan 'kegiatan malam' mereka yang memang ada sangkut pautnya dengan berita ini.
Langkah Eunhyuk semakin cepat saat manik matanya menemukan namja yang dia cari itu.
"Hae-ah!" serunya bergembira dan langsung memeluk namja yang duduk di bawah sebuah pohon rindang itu.
"Ah, Hyukkie! Kau disini! Baru saja aku akan menghubungimu!" sahut Donghae dengan nada yang tak kalah bersemangat.
"Hn, waeyo?" tanya Eunhyuk mengerutkan keningnya.
"Aku ada kabar bagus untukmu—ah, untuk kita! Ini tentang masa depanmu bersamaku!" jawab Donghae dan langsung mendudukkan Eunhyuk dihadapannya.
Eunhyuk terlihat makin sumringah. Mereka sama-sama punya kabar bahagia. "Aku pun begitu! Aku juga punya berita untuk kita! Ayo beri tahu aku apa berita baik untuk kita itu?" tanyanya.
Donghae menggenggam tangan Eunhyuk pelan. Ditatapnya manik mata indah kesayangannya itu. "Tapi tolong jangan marah. Kau tahu ini demi kebaikan masa depan kita. Kau tahu ini impian terbesarku," katanya pelan.
Eunhyuk terdiam. DEG! Sebuah getaran aneh tiba-tiba merasuki hatinya. Sepertinya bukan berita yang baik. Tapi… entahlah! Jika bukan berita baik, kenapa wajah Donghae begitu bahagia? "Hn, Hae. Berita apa?" tanyanya mencoba mengusir debar-debar tak mengenakkan dihatinya.
"Ah, ini—" Donghae mengeluarkan sebuah amplop coklat besar dari dalam tasnya. Diberikannya pada Eunhyuk.
"Ini apa?" tanya Eunhyuk pelan.
"Kau boleh buka ini jika kau beri tahu aku berita baik apa yang akan kau berikan padaku," jawab Donghae dengan senyuman yang mengembang.
Eunhyuk tersenyum. Dia mengambil sebuah kotak dari dalam tasnya, diberikannya pada Donghae. "Ini masa depan kita. Kau boleh buka itu duluan," kata Eunhyuk.
Donghae mengerutkan keningnya. "Aku buka sekarang?" tanyanya memastikan. Eunhyuk mengangguk dan perlahan Donghae membuka kotak itu.
Sebuah… tes kehamilan. TES KEHAMILAN! Dengan dua garis merah.
Sebuah perasaan sangat bahagia merasuki hati Donghae. Dia mengerti itu tanda apa. Donghae menangkupkan tangannya pada mulutnya sendiri. Menahan rasa haru yang sepertinya tak dapat di tahan. "Ya Tuhan—" gumamnya.
Eunhyuk mengangguk sambil tersenyum.
Donghae dengan cepat meraih Eunhyuk dalam pelukannya. "Gomawo, Hyukkie. Hiks—jeongmal gomawo. Gomawo sudah bersedia hiks—m-mengandung anakku, anak kita," bisiknya. Ya, Donghae menangis. Itu adalah tes kehamilan milik Eunhyuk.
"Ne, Hae. Aku bisa hamil, aku hiks—" Eunhyuk tak sanggup menyambung kata-katanya lagi. Dia hanya sanggup mengangguk bahagia dalam pelukan Donghae.
Donghae melepas pelukannya dan mengelus perut Eunhyuk. "Anakku, ini Appa. Selamat datang. Appa akan segera menikahi Umma. Mianhae menghadirkanmu ke dunia sebelum kami menikah, tapi tenang saja. Appa akan menikahi Umma dan kita akan pindah ke Amerika—"
"Eh? A-Amerika?" tanya Eunhyuk terkejut dengan pernyataan Donghae.
Donghae mengangguk. "Surat itu adalah surat diterimanya aku sebagai mahasiswa yang mendapat beasiswa di Amerika. Impianku untuk menjadi seorang pebisnis besar akan menjadi kenyataan jika aku berkuliah disana. Ini mimpiku, Hyukkie," jawabnya bahagia.
"Tapi, Hae… Aku tidak ingin tinggal di Amerika—"
Flashback Off..]
Eunhyuk menghela nafas. Dia tidak menyangka Donghae bersikeras tentang mimpinya saat itu. Mereka terus bertengkar karena Donghae tetap ingin pergi ke sana, tapi Eunhyuk tak ingin. Dia ingin Donghae ada di Korea, di Seoul, menikahinya, dan menemaninya merawat anak mereka. Tapi nyatanya, Donghae tetap pergi. Mengejar mimpinya. Meninggalkan Eunhyuk dan rela melepas kuliahnya di Seoul. Mengabaikan impian tentang pernikahan mereka.
"Cih! Dia bilang dia pergi untuk kami? Apanya yang untuk kami?" gerutu Eunhyuk saat mengingat semuanya.
"Apa? Kenapa kau menggerutu tak jelas seperti itu?" tanya Kyuhyun tiba-tiba datang.
Eunhyuk berbalik dan menemukan Kyuhyun yang sudah berpakaian santai menghampirinya dan langsung duduk di meja makan. "Makanlah, Kyu," katanya tak menjawab pertanyaan Kyuhyun.
"Apa ini tentang Lee Donghae itu?" tanya Kyuhyun.
Eunhyuk hanya diam dan ikut duduk di depan Kyuhyun.
"Apa dia menanyakan Donghyuk?"
Eunhyuk mengangguk. Dia menuangkan air putih ke dalam gelas kosong di samping pirng Kyuhyun. "Dia menangis untuk itu," jawabnya.
Kyuhyun menyeringai. "Air matanya tak cukup untuk bisa bertemu dengan anakku," katanya sinis. Eunhyuk tak menanggapi. "Ya, Lee Hyukjae! Jangan bilang pertahananmu mulai runtuh."
Eunhyuk menatap mata Kyuhyun, berharap namja itu mendapat jawaban dari pertanyaannya sendiri.
"Aissh! Aku menyesal membiarkanmu pergi jika begini akhirnya," desis Kyuhyun.
Eunhyuk hanya mengangkat bahu. Sepertinya kyuhyun paham dengan maksudnya. "Dia menangis bahkan merengek padaku," gumamnya.
"Itu bukan urusanku, Hyuk. Itu urusan perasaanmu dengannya. yang pasti bagiku itu tak mempan," sahut Kyuhyun.
Eunhyuk menghela nafas.
"Ah, saat aku ada proyek di Gyeonggi-do, jangan coba-coba membawa Donghyuk bertemu dengannya!" perintah kyuhyun saat tiba-tiba ingat tentang itu.
"Eh? Kau akan ada proyek di Gyeonggi-do? Berapa lama?" tanya Eunhyuk.
Kyuhyun mengangkat bahunya. "Ryeowook belum mengatur jadwalnya," jawabnya.
"Izinkan aku mempertemukan mereka, Kyu," kata Eunhyuk pelan.
Kyuhyun menghentikan kegiatan makannya dan menatap Eunhyuk tajam. "Aku bilang tidak, Lee Hyukjae. Aku tidak suka lelaki tidak bertanggung jawab sepertinya dengan mudah mengambil kembali apa yang dia tinggalkan begitu saja! Setidaknya dia harus sedikit berjuang untuk anakku!"
"Dia sudah berusaha, Kyu. Jika tidak, tidak mungkin dia ada di Seoul saat ini," kata Eunhyuk.
"Ya! Kau bahkan membelanya sekarang! Aisshh!" seru Kyuhyun penuh emosi.
Eunhyuk terdiam. Dia sungguh tidak sadar ternyata dia membela Donghae seperti itu.
"Kau masih mencintainya, huh?"
"Hatiku masih sakit karenanya."
"Itu bukan jawaban, Lee Hyukjae!"
Eunhyuk tertunduk. "Tolong jangan tanya tentang hal itu padaku sekarang."
Kyuhyun menghela nafas, mencoba meredam emosinya. "Aku tidak ingin kau kembali jatuh di tempat yang sama, Hyuk. Kau pikir aku akan tahan melihatmu menangis setiap malam, menjadi lebih kurus dari sekarang, mengurung diri di kamar? Bahkan dulu kau sangat tidak perduli dengan keadaanmu yang sedang mengandung Donghyuk. Kau pikir aku mau melihatmu seperti itu lagi? Tidak, Hyuk, kau tahu."
"Mianhae, untuk semua kerepotan yang aku timbulkan dulu," gumam Eunhyuk.
"Aku tahu dia selalu mengirimimu e-mail. Meminta maaf padamu, bahkan dia tidak hanya sekali mengirimimu uang untuk biaya Donghyuk. Aku tahu itu bentuk rasa tanggung jawabnya. Tapi tidak semudah itu, Hyuk," kata Kyuhyun. Dia menatap namja pirang itu.
"Aku tidak pernah memakai uang yang dia kirim. Aku akan mengembalikannya setelah keadaan ini agak membaik," kata Eunhyuk tertunduk.
"Itu terserah padamu. Yang jadi masalah untukku adalah, dia tidak bisa mengambil Donghyuk dariku. Kau tahu betapa aku mencintai anak itu. Aku yang menyaksikan kelahirannya, aku yang mengajarinya untuk tumbuh dengan baik," kata Kyuhyun.
Eunhyuk terdiam. Dia tahu baik dulu maupun sekarang, Kyuhyun hanya takut kehilangan sosok Donghyuk. Kyuhyun hanya takut kehilangan namja kecil yang sangat dia cintai.
"Aku juga tidak ingin rasa sakitmu terulang lagi," gumam Kyuhyun.
"Aku akan baik-baik saja. Lagi pula aku belum tentu akan kembali padanya," kata Eunhyuk dan berusaha tersenyum. "Hanya saja—" Eunhyuk menatap Kyuhyun yang memandangnya.
"Hn?" tanya Kyuhyun.
"Ku mohon, tolong izinkan aku mempertemukan Donghyuk dengan Appa kandungnya, Kyu…"
xxXxx
TBC~^^
