My little Byunie
Author : BaekToYou
Main cast : Baekhyun
Chanyeol
Chanyeol pulang ke rumah hanya untuk mendapati Kim Yejin yang dengan seenaknya berbaring di tempat tidurnya. Seharusnya perempuan itu tahu diri, dia bukanlah siapa siapa—hanya seorang teman lama—yang berkunjung ke rumahnya. Dan ketika chanyeol menyuruhnya ke luar, perempuan itu malah berinisiatif ingin mandi juga. What the—pikir chanyeol. Kamarnya bukan hotel!
Chanyeol sendiri adalah sosok yang dingin dan temperamental di balik sifat hyperaktifnya tentu saja. Juga moody. Entah karena apa, hari ini dilaluinya dengan pikiran kacau dan membosankan. Padahal hari ini adalah hari dimana ia tak harus direpotkan dengan mengantar pulang anak orang atau beradu mulut dengannya.
Jauh di dasar hatinya, ia berkata bahwa..
.
.
Hari ini…kosong.
"Kumohon keluarlah. Aku lelah." Ucapnya yang keberapa kali dan untuk kesekian kali juga, yejin masih berpura-pura bahwa ia adalah tunarungu.
Chanyeol menghela nafasnya. "Aku tidak mengerti apa maksudmu. Jadi, kalau kau tak mau keluar, aku yang keluar." Ucapnya dingin dengan bantingan tasnya pada lantai. Perempuan itu belum sadar sepenuhnya hingga bunyi debuman dan deru mesin mobil terdengar.
"Ada masalah?" sungmin datang tergopoh-gopoh. Seumur umur ia melihat sisi lain chanyeol yang seperti itu adalah 10 tahun silam. Dengan suara mesin mobil yang diganti dengan bunyi kayuhan sepeda. ketika kucing yang amat ia sayangi meninggal dan ia merasa kesepian. Sungmin tahu, betapa sensitifnya hati anaknya itu.
"Aku—tidak tahu. Dia datang dan—keluar begitu saja. Apakah chanyeol orang yang seperti itu?"
Sungmin tersenyum lembut. Ia menggeleng lemah. "Aniyo. Mungkin ada sesuatu hal yang sedang dialaminya."
…o0o0o…
Ini hari kelima. Ketika chanyeol mendengus sebal sebelum mengambil kunci mobilnya lalu keluar.
Ia baru sadar, mobilnya—atau ia—suka sekali ngebut hingga sosok kecil itu menangis meraung-raung karena ketakutan. Mungkin itulah sebabnya kenapa sekarang ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan lamban.
Mobilnya sudah berhenti di beberapa tempat, seperti taman kanak-kanak, taman bermain dan kedai es krim. Chanyeol sendiri tak habis pikir, kenapa ia jadi suka dan berhenti untuk sekedar melihat tempat tempat itu. Berharap ada satu saja seorang anak yang ia kenali disana—chanyeol mengelak pikiran itu.
Sebenarnya ia tak perlu berpikir, karena ia pergi dengan tujuan pasti.
Kim yejin datang lagi, kali ini membawa serta kedua orang tuanya yang chanyeol kenal baik. Mereka makan malam dengan hikmat di selingi canda tawa—terkecuali chanyeol. Ia tak ambil pusing dan tak mau tahu sebelum akhirnya kalimat itu terucap.
"Jadi, kapan tanggal pastinya?" nyonya kim tertawa mendengar pertanyaan dari sungmin. Ia menoleh pada suaminya, "Lebih cepat, lebih baik 'kan?"
"3 bulan lagi?"
Chanyeol menghentikan gerakan tangannya.
"Apa?!" Ia melirik sungmin. Berharap bahwa kalimat 'anak dan ibu memiliki ikatan batin' memang terbukti adanya. "Itu terlalu lama! Bulan depan, bagaimana?" dan dengan itu chanyeol ingin sekali menusuk kepalanya dengan garpu. Demi dewa neptunus, ada apa dengan otak ibunya?!
"Aku sudah selesai."
Gesekan lantai dengan kaki kursi itu menjadi penghancur kebahagiaan antara dua calon besan. Chanyeol keluar serta merta membawa mobilnya dengan kencang. Ia mungkin takkan pulang malam ini, percayalah keluarga kim yejin memang suka sekali tidur di kasur orang—sebut saja menginap.
Cukup lama bermain angin, chanyeol memutuskan untuk memesan kamar di sebuah apartement. Dan setelah melepas batterai ponselnya, ia tidur pulas.
Ini hari minggu jadi ia tidak perlu sekolah. Chanyeol bangun hanya untuk mengambil nampan susu dan koran di pintu depan.
"Aih~ terimakasih sayang, kuenya enak sekali loh."
"Baekhyunie yang membuatnya ahjummaa, eung..dibantu eomma juga sih ^^/ " Padahal baekhyun hanya menabur chocochips saja.
"Oh ya? kyeowo~ cepat besar ya baekhyun, salam untuk eomma mu."
"Besar? Eum..apanya ._. ? Ya sudah, annyeong haseyooo ahjumaaa *^^* "
Chanyeol menoleh, didapatinya anak kecil dengan balutan kaus tanpa lengan kebesaran—mungkin untuk 1-2 tahun diatasnya—berjalan dengan membawa keranjang yang lebih besar darinya hingga ia harus menggunakan kedua tangan mungilnya. Ia berjalan terhuyung ke kanan dan ke kiri. Matanya hanya focus pada keranjang itu. Tiba tiba kaki kanannya tersandung kaki kirinya sendiri (?)
"Eh!" kaget chanyeol melihat dari belakang. Tapi ajaibnya, anak itu tidak jatuh. Applause ._.
Baekhyun menoleh, "Eh? eung.." memiringkan kepalanya imut, baekhyun mengingat-ingat. "CHANYEOLIE?! AAAAAA~~ *o* " chanyeol gelagapan, pasalnya baekhyun kini berlari masih dengan keranjang besar itu. bagaimana jika ia jatuh, kalau berjalan saja hampir menabrak tembok.
"Baekhyun! Berhenti! Nanti jatuh bodoh! Ya!" lagi, kakinya tersandung jempolnya sendiri hingga ia—BRUK.
Isi keranjang itu sukses mendarat di gundukan coklat rambut chanyeol yang tadi berusaha menangkap tubuh baekhyun.
" ( ._.) chanyeol?"
"Hm?" jawab chanyeol dengan muka menghadap lantai (?)
"Baekhyun tidak tahu kalau chanyeolie tinggal di sini juga ._. kalau tahu, baekhyun sudah main sama chanyeolie setiap hari ^o^ " anak itu berlari memutari meja makan dengan merentangkan tangannya. Sementara chanyeol tengah mengeringkan rambutnya sehabis keramas.
ia tidak tahu apa yang anak dan ibu itu campurkan pada kue –kuenya, yang jelas, itu sangat manis dan..manis...dan benar-benar manis. Chanyeol tidak suka itu.
terakhir kali ia mencoba sesuatu yang manis adalah saat baekhyun sedang mengaduk aduk es telernya, ia heran, kenapa mata anak itu bisa begitu berbinar-binar hanya dengan semangkuk es teler?
Ketika chanyeol selesai dengan urusan rambutnya, ia tak sengaja melihat anak kecil itu tengah berjongkok di pinggiran kolam ikan di balkon apartemennya. Kampungan, baru melihat kolam ikan ya? Senang sekali anak itu. Pikir chanyeol.
Tapi tunggu—
Ia berjalan mendekat dan mendapati baekhyun tengah mengambil satu persatu ikan-ikan itu dengan tangannya dan meletakkannya di lantai. "Ya Tuhan, apa yang kau lakukan?!"
"Membuat koloni ._.) ikan biru dengan ikan biru, merah dengan merah dan...chanyeol?" ia memanggil chanyeol yang sedang menjambak rambutnya. "APA?!"
"Tangan baekhyun di gigit ;_;)" ia menarik tangannya dari dalam air untuk menunjukan pada chanyeol ada seekor kepiting tengah menggigit ujung jari mungilnya.
"Bagaimana? Sakit?" tanyanya pelan sambil membalut jari baekhyun dengan plester. Ia melirik tangannya sendiri yang juga ikut diplester, pasalnya sehabis baekhyun berkata seperti itu, ia menyodorkan tangannya membuat kepiting itu berpindah haluan ke tangan chanyeol.
Lebih bodohnya, chanyeol menerima uluran tangan itu.
"Sedikit, tapi plester ini terlalu polos. Tidak ada gambarnya, punya baekhyun ada gambar ularnya." Ia menggerak-gerakkan jarinya di depan wajah chanyeol. "Ini plester, bukan buku gambar." Jawab chanyeol ketus.
Lelaki itu tak menghiraukan tatapan memelas baekhyun. ia menatap jarinya dengan pandangan pilu, seolah sebuah plester polos adalah hal yang sangat menyedihkan yang pernah ada. Hidungnya memerah dan bibirnya melengkung ke bawah.
"Ayolah, tidak perlu sesedih itu =_=" baekhyun menatapnya, ia menambah kadar kemelasannya menjadi berkali-kali lipat dengan efek sendu dan mata yang berkaca-kaca.
"Okay okay, pakai ini dan gambar plestermu." Ia menyodorkan sekotak penuh spidol warna-warni dan meninggalkan anak kecil itu di tengah ruang tamu untuk pergi ke balkon. Apa lagi kalau bukan mengurus kolam ikan. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan baekhyun sampai membuat koloni ikan seperti itu.
Ting tong. Ting tong.
Ting tong. Ting tong.
Cklek.
"Annyeonghaseyo, apa anakku ada disini? Dia kecil, kausnya putih dan membawa sekeranjang—omo, itu keranjangnya!"
Chanyeol melirik keranjang kosong itu. "Baekhyun ada disini, dia sedang—"
"Eomma!" belum selesai chanyeol berbicara, anak itu datang dan memeluk kaki ibunya. "Ini chanyeolie, ahjussi yang baekhyun ceritakan itu." tunjuknya pada chanyeol dan chanyeol bisa melihat hasil gambaran baekhyun pada plesternya. Satu buah lingkaran kecil dengan dua titik besar di tengahnya dan...apa itu gambar dirinya?
"Oh yang itu ya? Aduh, maaf merepotkanmu waktu itu dan terimakasih banyak. Kalau begitu, kami permisi dulu chanyeol-ssi."
"Ne annyeong."
Ia baru akan menutup pintu sebelum sebuah suara menginterupsinya. "Tunggu—em, anu, kulihat kau orang baik dan baekhyun menyukaimu." Eunhyuk tersenyum canggung, ia mengusap tengkuknya. "Begini, besok aku ada kunjungan untuk guru honorer di Busan, sedangkan appa-nya sedang ke luar kota. Apa aku bisa menitipkan baekhyun padamu? Titipkan saja baekhyun pada penjaga kantin saat kau ada pelajaran, dia kenal kami kok."
Chanyeol menatapnya dengan tatapan 'yang benar saja..'
"Aku.."
"Oh, tidak bisa ya? kau sekolah di sma jungsang kan? Kau tahu aku juga seorang guru honorer di sana kan?"
Chanyeol merasa ada sesuatu yang mematikan dibalik kata-katanya. Mampus kalau ada masalah dengan sekolahnya, apalagi dengan nilainya. Kyuhyun—ayahnya, tidak akan segan segan mencabut kartu atmnya. Atau sungmin—ibunya, akan mempercepat hari tunangannya dengan kim yejin itu.
"B-baiklah."
TBC.
Maaf updatenya lama bingit dan ga memuaskan =_= saya udah mulai sibuk sama sekolah, udah kelas tiga ._. doain saya ya ;A;
Oh ya, buat jarak sama pemisahnya, udah saya perbaiki. Makasih udah rcl, rcl lagi ya ._.
Plis jangan jadi siders /.\
