Gomenasai, Sakura

»«

.

.

.

»«

Summary: Mungkin inilah saatnya kau melepas Sasuke, Sakura. Berbahagialah dengan Itachi. Itu yang Sasuke inginkan darimu. You know it so well/Kau harus bahagia/Aku akan bahagia di sampingmu/Tidak denganku./Apa yang kau bicarakan, Baka?!/.../Kau tahu aku mencintaimu/Aniki... dia mencintaimu/Apa?/Uchiha Itachi mencintaimu, HarUchiha Sakura.

»«

.

.

.

»«

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Story © Uchiha Raikatuji

Rate: T+ (Setelah kupertimbangkan, ini memang T+)

Genre: Romance, hurt

Pairing: ItaSaku, SasuSaku.

Warning: Miss typo(s), GJ, abal, semi canon, alur terlalu cepat, etc. Di sini ceritanya Sasuke nggak ngebunuh Itachi.

Sequel The Last Time request by Cherry480

Word: 2.074

»«

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

Don't Like Don't Read!

.

.

.

»«

Aku akhirnya memilih untuk menekuni gulungan-gulungan yang harus kuselesaikan. Melihat adegan tadi membuatku geram. Aku harus menahan emosi. Dia adikmu, Itachi. Aku cemburu padanya? Adikku? Oh, ayolah. Mana mungkin? Itu tidak masuk akal.

Ya, aku cemburu padanya. Lalu kenapa?

Lagipula, Sakura sudah jadi istrimu, batin Itachi berusaha menenangkan diri.

Aku kini menyesal. Mungkin tak seharusnya aku mengikuti Sakura dan menyamarkan cakraku. Mungkin sebaiknya aku tak mendengar pmbicaraan mereka.

"Tadaima, Itachi-kun." suara Sakura membuatku lebih tenang. Aku menoleh.

"Okaeri." jawabku sambil tersenyum hangat, sebelum wajahku terasa memucat.

Itu Sasuke. Tidak. Mimpi buruk itu tak akan terjadi. Tidak mungkin. Sakura mencintaiku. Buktinya dia selalu menghawatirkanku.

"Itachi, aku membawa Sasuke." gadis itu membalas senyum hangatku. Dalam satu detik wajahnya berubah. "Anata, daijoubu ka?"

Benar, kan?

Uchiha Sakura mencintaiku.

"Ha'i. Daijoubu."

Sakura menyentuh dahiku.

"Tidak panas, tapi aliran cakramu agak kacau. Kenapa? Ada yang kau pikirkan?"

Benar, kan?

Sasuke yang merasa tidak dibutuhkan akhirnya memilih pergi dan mundur.

"Sasuke-kun."

Langkah Sasuke terhenti.

"Kita sudah bicara soal ini."

Benar...kah? Batinku menolak untuk setuju.

Aku mengeram melihat tatapan sendu Sakura. Tatapan yang tidak pernah Sakura berikan untukku. Aku benci ini. Ini semua gara-gara otouto.

Masih kuusahakan memertahankan senyumanku di depan Sakura.

Selama ini, aku lelah mengalah darinya. Aku selalu mengalah darinya. Hanya untuk satu hal ini. Hanya untuk Sakura… aku tidak ingin mengalah untuk kesekian kalinya. Untuk sekali ini saja aku ingin tetap egois.

Sakura menyentuh lembut pelipisku.

"Apa ada yang salah?" tanya Sakura khawatir.

Apa dia benar-benar khawatir? Atau semua ini memang hanya pura-pura? Ah, kenapa aku ini? Sejak awal pernikahan ini hanya pura-pura, kan? Sekalipun kepura-puraan hanya ada di pihaknya.

Lengan Sakura kini mengalirkan cakranya. Berusaha melancarkan aliran cakraku. Aku menatap adikku yang kemudian berlalu ke kamarnya yang sudah lama kosong.

Aku tersenyum pada Sakura dan bangkit berdiri. Memeluknya erat. "Aku baik-baik saja." bisikku tepat di telinganya.

"Kau tidak terlihat baik-baik saja." Sakura balas memelukku.

Hah?

Setelah lima bulan pernikahan kami, ini pertama kalinya Sakura membalas pelukanku. Jantungku menggila merasakan harapan. Biasanya ia hanya meringkuk di pelukanku dan memosisikan diri. Sama sekali tidak terlihat menolek, namun tidak ada respon positif darinya. Sekali pun dia selalu memberikan kecupan kecil setiap kali ia berpamitan, tapi dia sama sekali belum pernah membalas pelukanku.

Apa ini tanda?

"Sakura…" aku memeluknya lebih erat.

Seharusnya semua tidak terjadi seperti ini. Aku melepas pelukan kita. Tanganku mengelus surai merah jambunya yang panjang. Dan ia berhenti di pelipisnya yang halus.

"Aishiteru." sebuah kecupan di hidungnya.

Sakura hanya tersenyum setengah kaku. Sepertinya ini memang masih terlalu cepat baginya.

"Aku tidak menuntut kau untuk mencintaiku, ta−"

"Aku tahu." potong Sakura cepat. "Aku tahu, Anata."

Iris klorofil yang selalu kusukai itu meredup. Jangan. Jangan lagi. Ia tidak boleh meredup. Tidak, tidak. Tidak sekarang. Tidak kelak. Tidak selamanya.

"Maaf, aku masih membiasakan diri. Kau pria yang baik." ucap Sakura tulus. "Aku seharusnya tidak egois dengan perasaanku sendiri. Aku bahkan tidak pernah merasakan kasih sayangmu."

Aku menatap wajah cantiknya yang menggambarkan penyesalan.

"Padahal kasih sayangmu jelas tergambar." sebuah isakan tertangkap oleh indra pendengarku.

"Aku tidak peduli akan persepsimu."

Kembali kurengkuh Sakuraku ke dalam pelukanku. Menenangkan isakannya.

Bohong. Tipuan bagus, Uchiha. Siapa yang akan percaya kalau kau terlihat semenyedihkan itu? Aku mengeratkan pelukanku.

"Maaf, Sakura."

Aku masih tak ingin melepas pelukan kami.

"Untuk apa?"

"Untuk segalanya."

Untuk kebahagiaanmu yang kuambil. Untuk segala kepura-puraan ini. Untuk semua paksaanku. Untuk terlalu mencintaimu.

Tidak terdengar jawaban dari Sakura. Aku memilih untuk tetap membawanya dalam pelukanku. Aku terlalu bahagia.

Bertahan untuk mencintai orang lain saat orang yang kau cintai ada di depan mata mungkin tidak seburuk yang kubayangkan. Nyatanya memang tak seburuk itu. Aku justru lebih bisa merelakan Sasuke-kun sejak saat itu. Sejak dia tinggal di Uchiha Mansion.

Kutepuk perlahan pipi suamiku.

"Anata, bangun."

Dia tidak merespon sama sekali. Kini aku menaruh telapak tanganku di wajahnya dan mengelus lembut pipinya.

"Bangun, Uchiha Pemalas." godaku.

Itachi menggeliat kecil.

"Ah, ya sudah, aku pergi saja." aku memilih bangkit dari sisinya. "Eh?"

Dia menahan lenganku saat aku berusaha menjauh.

"Kemari kau, Uchiha." bisik Itachi langsung bangkit dan di detik selanjutnya ia langsung mengunciku di dinding. Menahan kedua lenganku.

Aku merasakan napasnya yang hangat. Sekalipun baru saja bangun, dia sungguh memiliki aroma yang memabukkan. Aku sedikit terbuai dan tergoda. Siapa yang akan tahan dengan pesona Uchiha?

Tubuhku memanas hanya karena napasnya yang menggoda pipiku. Aku menatap onyx yang persis milik Sasuke. Iris kebanggaan Uchiha.

"Can I kiss you?" tanyaku. Tanpa mendapat jawaban, aku langsung mencium bibirnya. Entah apa yang kulakukan saat ini. Aku sudah gila. Aku mengajaknya berpanggutan. Aku meraih bibirnya seraya berjinjit. Menggenggam erat kedua tangan Itachi yang mengunciku.

"Aku belum mandi, Sakura." kata Itachi setengah tertahan melepas panggutanku.

Bibirku kembali membungkam bibirnya. Astaga, sepertinya aku terlihat terlalu agresif. "Tak ada yang peduli, ne?"

Aku memiringkan kepalaku. Berusaha semakin mencumbunya. Entah apa yang membuatku seperti ini. Kini dengan mengingat pria di depanku saja bisa membuat wajahku memerah.

"As your wish, My Lady."

Itachi kini membalas ciumanku dengan panas. Kedua kakiku melemas. Tangan kanan Itachi menahan pipiku sedangkan tangan kirinya menjaga tubuhku agar tetap seimbang. Memelukku di bagian pinggang. Aku meremas pakaiannya saat dia sudah membebaskan kedua tanganku.

Aku harap Itachi tak berpikir aku gadis mesum dengan kejadian ini.

Bibir tipis pria itu mulai membasahi bibirku. Mengundang. Dengan cepat aku mengeluarkan lidahku dan memulai pertarungan lidah kami di mulutnya.

Aku merasa oksigen di sekitarku semakin menipis. Namun hal yang kulakukan adalah menahan kepalanya. Meremas raven hitamnya yang panjang. Enggan melepas suatu rasa yang membuncah dalam diri. Ada perasaan aneh yang kurasakan kini.

Beberapa hari lagi adalah 1st anniversary kami.

Ada banyak hal yang terjadi. Terutama dalam hati ini. Ada degupan yang berbeda setiap kali Itachi mendekapku. Setiap kali kukecup bibir tipisnya. Setiap kali kuteliti setiap inchi dari wajahnya saat ia tertidur di sisiku. Sejak aku berusaha menerimanya.

Saat aku sudah tak tahan lagi, aku berusaha mendorong pelan bahunya.

Aku meraup oksigen sebanyak yang aku bisa. Kakiku seakan mati rasa dan tidak bisa dipakai untuk bertumpu lagi.

"Kau harus menyiapkan sarapan." kata Itachi sambil berusaha mengatur napas.

Aku masih mengatur napas. "Satu kali lagi." Kedua tanganku kini memeluk lehernya. Menunggu pria itu mengambil langkah terlebih dahulu.

Oh tidak, aku sudah kehilangan kewarasanku sekarang.

Kedua kening kami beradu. Ujung-ujung hidung kami bersentuhan. Aku kembali memiringkan kepalaku. Menggoda. Mencondongkan tubuhku ke arahnya. Dengan lembut Itachi kembali menciumku. Tangan kanan pria itu beralih ke belakang kepalaku.

Wajahku semakin memerah.

Kedua tanganku menahan rahangnya agar semakin dekat denganku. Lidahnya masuk ke dalam mulutku. Kembali memulai pertarungan lidah. Itachi menggelitik langit-langit mulutku membuatku menggeliat.

"Ngah.." aku mendesah kecil. Rasanya geli dan menyenangkan.

Sulung Uchiha itu menyesap lidahku. Saliva kami bercampur. Aku meremas rambutnya lagi. Dia menjauhkan kepalanya. Aku berusaha menahannya, namun ternyata ia beralih ke leherku. Menghembuskan napasnya di sana. Menghirup aroma tubuhku. Membuatku semakin gila akan sentuhannya.

"Aahh…" sebuah ciuman agak keras di area leherku lagi-lagi memuatku mendesah. Itachi menjilatinya membuatku kembali merasa nyaman. Aku menikmati perbuatannya yang lembut.

"Sudah." Itachi mengakhirinya dengan kecupan ringan di bibir.

"Lagi." pintaku. Memohon. Padahal napasku sendiri sudah nyaris habis. Aku terengah. Rasanya sungguh menyenangkan. Aku menyukai sensasi yang diberikannya. Lenganku menggantungkan diri di bahunya.

Dia mengetukkan ibu jari dan telunjuksnya di keningku.

"Aduh." aku mengusap keningku pelan. "Ittai."

"Lihat siapa yang 'Uchiha Pemalas' sekarang?" dia tertawa kecil.

Aku mendengus kesal. Sebelum tersenyum.

"Kau mau makan apa?" tanyaku. Itachi memeluk pinggangku lagi.

"Kamu."

Pipiku memerah.

"Bercanda." Ia kembali tertawa. Ha. Tidak lucu. "Aku suka apapun selama itu masakanmu."

Aku berusaha menenangkan jantungku.

"Baiklah." aku berjalan ke dapur. Meninggalkannya.

Kalau boleh aku jujur, ini ciuman terpanas kami. Sungguh. Setelah satu tahun kami bersama, bahkan dia belum pernah memulai untuk menyentuhku. Aku sangat beruntung memilikinya. Pria yang lembut. Aku suka perilakunya yang seperti itu.

Jariku menyentuh kembali bibir yang masih lembab akibat apa yang aku mulai tadi. Dia bisa membuatku sampai segila ini. Bahkan Sasuke tak pernah membuatku segugup ini sebelumnya.

Aku merasa seakan akulah gadis paling bodoh dan mesum. Kuharap Itachi tak berpikir begitu.

Setelah aku selesai masak, aku melangkah ke kamar Sasuke. Akhir-akhir ini dia terasa sedikit menjauhiku dan jarang sekali menatap mataku. Aku menggigit bibir. Mengetuk pintunya.

Apa mungkin aku melakukan kesalahan? Lagipula ia bukan tipe terbuka seperti kakaknya. Sasuke adalah pribadi yang tertutup. Aku tak bisa menanyakan hal yang privasi padanya sesukaku.

"Sasuke-kun, sarapan sudah siap. Kau tidak turun?"

Tak ada jawaban dari dalam.

Tok.. tok.. tok..

"Sasuke-kun, kau di dalam?" tanyaku berusaha membuka pintu kamar adik iparku.

Tidak terkunci.

Sasuke di sana. Di bawah selimut berwarna putih-birunya. Bergelung menutupi nyaris seluruh tubuhnya. Memunggungiku. Aku berusaha medekatinya.

"Sasuke, kau baik-baik saja?" aku menyentuh bahunya dan mengguncang-guncangkannya perlahan.

Dengan guncangan lembutku membuat tubuhnya terlentang.

"Sasuke!" aku hampir memekik kaget saat melihat wajahnya yang memerah. Tangan kananku menyentuh dahinya. "Kau demam."

Sasuke menggigil.

Demamnya sangat tinggi.

"Ada apa?" Itachi masuk karena mungkin aku menjerit terlalu keras.

"Sasuke sakit. Bagaimana ini?"

Aku berusaha mengalirkan cakraku ke tubuh Sasuke, lalu aku menyisir rambut Sasuke dengan jari-jariku ke arah belakang. Mengusap beberapa bulir keringat di keningnya.

Itachi menatap tak suka. "Dia akan baik-baik saja."

"Hei, kau ini kakaknya." aku menahan tangan suamiku. "Kau tidak boleh begini."

"Dia hanya demam, kan?" pertanyaan itu seakan meremehkan sebuah penyakit. Aku berkacak pinggang mendengarnya.

"Jadi lain kali kalau kau demam, kau mau aku mengabaikanmu?" aku membalikkan tubuhku. Menatap Sasuke. "Sasuke, aku akan menyiapkan bubur , obat, dan air hangat untuk mengompresmu."

Sasuke tidak pernah sakit sebelumnya. Ini semua karena aku selaku mantan kunoichi, rajin merawat dua Uchiha yang tersisa ini dengan baik. Namun melihat Sasuke kini sakit membuatku merasa tidak becus mengurus mereka.

Aku menyalakan dua buah kompor. Satu kompor aku pakai memasak air sedangkan yang lainnya aku gunakan untuk memasak bubur. Aku harus menambahkan beberapa potong sayuran di dalamnya. Mungkin telor dan sosis juga. Makanan ini harus sehat dan lezat.

Kekhawatiranku mungkin berlebihan, tapi entahlah, rasanya kesal saat tahu Itachi tidak begitu peduli pada adiknya sendiri.

"Itachi, kau makan sendiri dulu, ya, nanti aku menyusul. Aku mau menyuapi Sasuke." Aku berlalu dengan sebuah nampan di tanganku.

"Itu tidak perlu, Sakura. Dia bisa makan sendiri." ucap Itachi setengah merengut. Dia memundurkan kursi untuknya duduk.

Aku tidak mendengarkannya. Astaga. Kakak macam apa dia? Kakak mana yang tidak peduli pada adiknya saat ia sakit? Apa semua kakak laki-laki sepertinya? Aku mendengus sebal.

Menyebalkan sekali.

"Sasuke -kun, ayo makan dulu, aku sudah buat bubur." kataku khawatir.

Aku menaruh nampan yang kubawa di atas nakas sebelum membantu Sasuke bangkit dari posisi tidurnya.

Sasuke makan dengan amat perlahan. Mungkin tenggorokkannya sakit. Apa aku harus membelikannya vitamin C juga?

Setelah selesai makan bubur, aku menyodorkan sebutir obat dan segelas air hangat ke arah Sasuke. "Minumlah. Kau harus istirahat." Pria itu mengambil obat itu dari tanganku.

Kulit kami bersentuhan.

Aku memejamkan mata. Berusaha mencari sebuah rasa yang terpedam dulu.

Kosong. Hampa.

Tak ada lagi perasaan aneh yang kurasakan dulu. Skin ship diantara kami kini terasa hambar.

"Nah, sekarang aku akan turun, ya, kau tidurlah." Aku meletakan sebuah handuk kecil putih yang basah akan air hangat di atas dahinya. "Kalau kau butuh sesuatu, kau boleh memanggilku."

"Hn." balas Sasuke dingin seperti biasanya sejak dulu.

Aku memberinya sebuah senyuman sebelum berbalik dan kembali ke dapur hendak menaruh piring kotor bekas Sasuke.

"Itachi-kun?" pria itu masih di tempat yang sama sebelum aku ke kamar Sasuke. Menungguku. Aku mendengus mengingat kejadian ketidakpedulian pria itu pada Sasuke. Berlalu langsung ke westafel.

Aku berbalik hendak menuju meja makan.

"Eh."

Aku menengadah. Tiba-tiba Itachi ada di depanku.

"Kau kenapa?" tanya Itachi kini dengan tatapan tidak sukanya.

"Apa maksudmu? Seharusnya aku yang bertanya padamu." Aku memberi tatapan yang sama untuknya. "Kau kenapa?"

Itachi mempersempit jarak diantara kami membuat sebagian tubuhku terhimpit dengan dinding westafel.

Sebuah tatapan penuh keseriusan diberikan Itachi padaku. Kernyitanku memudar.

"Aku cemburu, oke?"

Jantungku terpacu oleh kalimatnya. Tangan Itachi mengelus pipiku dengan lembut. Menyalurkan seluruh emosi yang dirasakannya melalui benang-benang sarafku.

"Aku cemburu." dia mengulangi kalimat itu.

Aku mengedipkan mataku beberapa kali. Berusaha mencari kebohongan di dalam onyx-nya. Dia cemburu pada adiknya sendiri? Tak banyak lelaki yang memilih jujur bahwa mereka cemburu. Itu hal kedua yang membuatku sedikit terkejut.

Aku berjinjit.

Cup.

"Aishiteru mo, Itachi-kun."

Aku memeluk tubuhnya yang jauh lebih tinggi dariku. Mendekapnya erat. Itachi memeluk pinggangku. Memosisikan kepalanya di perpotongan bahuku.

"Are you kidding me?"

Dia menggeram di dalam kamarnya. Egois memanglah bukan suatu hal yang bisa dengan mudah kau kendalikan. Beberapa orang bahkan mempertaruhkan nyawa hanya untuk mencapai keinginan mereka.

Geraman pria itu tertahan.

Amarah yang dipendamnya selama ini seakan meledak. Rasa egoisnya yang selalu terpenuhi kini menuntut saat semuanya tak berjalan sesuai keinginannya. Bagai dedaunan kering yang tersulut api. Membara. Tidak ada sesiapa yang dapat menghentikannya terus menjalar ke segala pelosok.

"No. time's up."

Terlihat jelas aura mengerikan menguar di sekelilingnya.

»«

.

.

.

»«

To Be Continued

»«

.

.

.

»«

Author's Note:

Sasuke… kalau Sakura tak mau dikau, dirimu untuk diriku saja… Aku rela, aku ikhlas mencintaimu seumur hidupkuu.. T.T #Jones

Uhuk. *mengembalikan wibawa* Kuharap ini nggak pedek-pendek banget. Dengan segala penyesalan aku bakalan bilang satu hal mutlak yang aku sudah putuskan: alur cerita ini bakal cepet bingitz. Kuharap ini bisa tamat dengan 3 chapter. Btw, ini cerita bakal jadi GJ. Eh, maaf ya ceritaku banyak yang hot kiss scene.-. Tapi aku udah 17, kok. *alesan*