Gomenasai, Sakura

»«

.

.

.

»«

Summary: Mungkin inilah saatnya kau melepas Sasuke, Sakura. Berbahagialah dengan Itachi. Itu yang Sasuke inginkan darimu. You know it so well/Kau harus bahagia/Aku akan bahagia di sampingmu/Tidak denganku./Apa yang kau bicarakan, Baka?!/.../Kau tahu aku mencintaimu/Aniki... dia mencintaimu/Apa?/Uchiha Itachi mencintaimu, HarUchiha Sakura.

»«

.

.

.

»«

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Story © Uchiha Raikatuji

Rate: T

Genre: Romance, Hurt

Pairing: ItaSaku, SasuSaku.

Warning: Miss typo(s), GJ, abal, Sakura sentric, semi canon, alur terlalu cepat (banget), etc. Di sini ceritanya Sasuke nggak ngebunuh Itachi.

Words: 1.164

Sequel The Last Time request by Cherry480.

»«

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

Don't Like Don't Read!

.

.

.

»«

Seseorang terdengar membuka pintu kamarku.

"Sasuke-kun," panggil suara yang sangat aku kenal. Siapa lagi kalau bukan kakak iparku. Uchiha Sakura.

Aku membalikkan tubuhku menatap dua sosok Uchiha itu.

"Aku dan Sakura akan pergi ke rumah sakit hari ini." kata Itachi memberitahuku.

Terlihat sudah perut Sakura yang kini mulai membuncit. Wajahnya menyunggingkan senyuman lebar walau agak sedikit pucat.

"Aku akan memeriksa kandugan bersama Itachi-kun, Sasuke. Jaga rumah, ya." Sakura melambai ke arahku sebelum mereka berdua pergi berbalik.

"Hn."

Awalnya kupikir Sakura sakit. Syukurlah ia baik-baik saja.

Dengan terpaksa aku tidak jadi berangkat ke kantor Dobe. Awalnya aku ingin mengajukan misi lagi mengingat Itachi sudah pulang dari misinya. Aku hanya merasa tidak nyaman berada diantara mereka berdua. Apalagi setelah kehamilannya memasuki 5 bulan. Itachi semakin sering menolak misi dengan alasan menjaga Sakura. Aku bisa paham itu.

Semakin sering Itachi di rumah, maka semakin sering aku akan mengambil misi dan melarikan diri. Lari dari masalah? Siapa peduli?

Pengecut? Ya, kalian bisa bilang begitu.

Kugulung kembali laporan misiku yang masih setengah selesai karena mungkin aku tidak akan bisa menyerahkannya hari ini mengingat ini hari ulang tahun pernikahan nii-san dan Sakura yang kedua. Mereka pasti akan memilih pergi ke luar sebentar dan menghabiskan waktu berdua.

Aku akan selalu berada di belakang apa pun yang terjadi.

Setelah selesai merapikan meja dari beberapa gulungan, aku memilih bangkit dan mengambil segelas air mineral dari dapur. Aku meremas rambutku.

"Kau harus mulai melupakan Sakura-chan dan mencari penggantinya, Teme."

Kata-kata bodoh yang sialnya benar itu kembali terngiang di telingaku. Mungkin kali ini aku harus mengikuti apa yang Dobe katakan. Sial sekali ia kini bahkan sudah memiliki anak. Aku menggeram.

Sial.

Kenapa aku emosional sekali?

»«

.

.

.

»«

Aku membuka mataku merasakan sebuah pergerakan. Aku menoleh ke sampingku. Ia tidak di sana. Di mana dia?

"Sakura?" panggilku berusaha bangkit.

Mungkin ia di dapur? Nafsu makannya memang meningkat akhir-akhir ini. Aku menghela napas lega sesampainya di dapur. Syukurlah, ternyata ia memang di dapur.

"Eh? Apa aku membangunkanmu?" tanya Sakura setengah menyesal. Ia menaruh sebuah sendok dari genggamannya ke mangkuk besar berisi ramen. Mungkin ia memasak dua porsi sekaligus.

"Sebenarnya, ya." Jujurku membuat ia makin menyesal. "Karena aku khawatir. Masih lapar?"

Sakura mengangguk menggemaskan. Pipinya semakin bertumbuh sehingga ia terlihat tembam. Sebentar lagi aku akan menjadi ayah.

"Kau memasak ramen instan?" tanyaku hendak mengomelinya.

Kini istri cantikku menggeleng berusaha membela diri. "Tidak, sungguh."

"Lalu dari mana kau mendapatkan itu?" tanyaku lagi menunjuk mangkuk besar di depan Sakura lalu berkacak pinggang. Menuntut balasan.

"Tadi aku mencari makanan." Ia mengaduk-ngaduk isi mangkuknya dengan sendok. "Tapi tidak ada apa-apa. Lalu kulihat Sasuke terbangun. Ia menghampiriku di dapur."

"Sasuke?" tanyaku kurang nyaman. Aku seakan selalu merasa terganggu kalau kita sudah membahas Sasuke. Sekali pun ia adikku satu-satunya. Keluargaku yang tersisa.

"Ya. Dia menawarkan diri untuk membelikan sesuatu di luar." Jelasnya. "Awalnya aku menolak, tapi akhirnya dia memaksakan diri. Ini bahkan sudah pukul dua."

Aku menghela napas melihat ia menunduk dalam menyesal kemudian aku duduk di sampingnya.

"Kau bisa membangunkanku saat kau ingin sesuatu." Jelasku lembut dan mengecup keningnya.

"Mana mungkin aku tega?" ia menghela napas. "Kau tidur lelap sekali. Kau juga pasti lelah. Selalu memaksaku tidak melakukan pekerjaan rumah. Kau yang justru melakukannya. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu, Itachi-kun."

Aku tersenyum lembut.

"Lalu kenapa Sasuke membelikanmu mie dan bukannya sesuatu yang bergizi?"

Sakura merengut kepadaku dengan tatapan kau-tidak-pengertian-sekali.

"Ini pukul dua, Anata. Sasuke bahkan sudah sampai mengetuk kedai Ramen Ichiraku hanya untuk mendapatkannya." Ia membalas berkacak pinggang.

"Maaf." Ucapku lembut dan memeluknya.

"Itachi-kun." Panggil Sakura membuatku melepas pelukan kami.

"Ya?"

"Apa kau cemburu?" tanya Sakura.

Aku tersenyum. "Kau ingin aku berbohong atau jujur?"

Ia merengut. "Tentu saja jujur."

"Ya, aku cemburu."

"Kau selalu cemburu." Ucap Sakura seolah mengoreksi.

"Aku selalu cemburu." Aku menurut.

"Bahkan pada Sasuke?" tanya Sakura mengejar.

Aku menempelkan keningku pada kening Sakura. "Hanya pada Sasuke."

"Kenapa?" gadis itu mengernyit.

"Karena kau mencintainya."

"Hey. Aku tidak mencintainya, ok?" Sakura seakan berusaha mengelak dari tuduhanku. "Aku mencintaimu."

"Kau pernah mencintainya." Kini aku membenarkan. "Dan aku takut kau akan kembali padanya saat kau tahu ia juga mencintaimu sebegitu besarnya."

Aku mendekap Sakura erat. Enggan melepaskannya. Aku tak akan pernah melepaskannya. Entah kenapa tanganku bergetar. Aku sungguh pengecut jika semua hal sudah disangkut pautkan dengan Sakura.

"Aku tahu." Bisik Sakura. "Aku tahu Sasuke mencintaiku sebesar aku mencintainya dulu. Ia sempat mengatakannya sebelum pergi dulu."

Aku menghela napas. Mendengarkannya.

"Tapi itu dulu. Saat ini yang aku pikirkan hanya kamu."

Tanganku meraih tangannya dan menggengam dengan erat. Menunjukkan bahwa aku percaya padanya.

"Dulu aku berpikir kalau kau tidak menaruh rasa padaku—mungkin kau hanya kasihan padaku. Sosok yang begitu mencintai adikmu setengah mati. Kau hanya kasihan padaku. Lalu kau menawarkanku untuk membantu menyembuhkan luka itu. Aku akan melakukan apa pun agar aku berusaha sadar kalau sebenarnya aku memang tidak pantas dicintai."

"Namun saat itu aku bertemu dengannya di hutan." Jelas Sakura. Ia menaruh sendoknya yang ia pakai untuk memakan ramen sebelumnya. "Dia bilang kalau kau mencintaiku."

Sakura menghela napas.

"Aku sungguh bodoh karena tidak menyadarinya sejak awal." Ucap Sakura lembut dan mengelus perutnya. "Sasuke yang menyuruhku untuk mencintaimu dan kehadirannya di sini semakin membuatku sadar. Aku juga tidak boleh egois."

Aku tersenyum.

"Kenapa kau tidak memintanya untuk tetap bersamamu? Kalian saling mencintai." Aku menatap istriku dengan tatapan setengah hancur.

"Ia ingin kau bahagia. Ia tahu selama ini mungkin keegoisannya sudah terlalu tinggi. Sasuke menghancurkan keegoisannya kali ini meski tahu kami dulu saling memendam rasa yang sama. Ia ingin aku membahagiakanmu. Sasuke membuatku merasakan cinta lain yang sama besarnya di sini." Sakura menyentuh lembut dadaku. "Di hatimu."

"Kini aku sepenuhnya mencintaimu. Kami sudah saling menyelesaikan semuanya. Kisah kami sudah tamat bahkan sebelum kami memulainya. Dan kini aku mencintaimu. Jangan pernah mencoba untuk pergi, Uchiha."

Selama ini Sasukelah yang membuat kisahku bermula. Lalu aku dengan egoisnya cemburu pada adikku sendiri. Hah. Bodoh. Aku memang kakak yang bodoh.

Aku bahkan tidak bisa berpikir lagi. Selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri. Nyatanya semua kecemburuanku itu hanya ilusi. Aku bodoh.

"Maaf." Aku mendekap Sakura erat. "Maafkan aku yang bodoh ini."

"Kau menyebalkan." Ucap Sakura. Kembali membenarkan diksiku.

"Aku menyebalkan?" tanyaku memastikan. Menggodanya.

"Ya, jadi sekarang menyingkirlah dan biarkan aku makan dengan tenang." Ucap istriku mengusir dan medorong tubuhku menjauh.

Setengah tertawa aku mengambil jarak diantara kami. "Makanlah yang banyak, Sayangku."

Sakura menyendokkan sesendok penuh ramen ke dalam mulutnya demi menutupi warna merah di wajahnya.

"Aku sangat mencintaimu, Uchiha Sakura."

Pipinya semakin merona. Ia menelan mie di dalam mulutnya.

"Berhentilah menggodaku dan pergi tidur sana." Usirnya lagi.

"Kau ingin aku pergi tidur? Bagaimana kalau aku tidur untuk selamanya?" tanyaku setengah sedih. Masih berusaha menggoda istri gendut yang amat kusayangi itu.

"Kau tidak boleh bicara sembarangan, Anata." Sakura memeringatkanku.

Aku terkekeh.

"Maaf." Bisikku. "Mungkin kalau saja kejadian itu tidak terjadi… tragedi itu… mungkin sekarang Sasuke akan berbeda."

Sakura menggeleng. "Ssshhh, Anata." Bisiknya lembut dan menahan telunjuknya di bibirku. "Kau ini Si-Jenius-Uchiha. Kau sudah melakukan yang benar. Jangan pernah ada penyesalan lagi. Tidak usah ada kata maaf, tidak usah merasa menyesal. Karena jika semua itu tidak pernah terjadi… mungkin aku tidak akan pernah tahu perasaan itu ada di hatimu."

Aku menyentuh pipi Sakura dengan lembut. Membelainya. "Kau gendut, Sakura." Lalu aku menciumnya. Membungkam protes yang hendak keluar.

"Ini semua karena anakmu, Baka." Balasnya saat aku melepas bibir kami. Aku memeluknya dengan sangat erat.

"Aku mencintaimu juga, Sakura-chan." Pipinya tiba-tiba memerah lagi mendengar aku memanggilnya dengan tambahan suffix 'chan' sekarang. Lalu ia membuang muka dan melanjutkan makannya. Aku hanya memerhatikan gadis itu sambil tersenyum.

"Kemarilah, Sasuke, aku tidak akan marah." Ucapku tiba-tiba.

Sosok yang kukenal sebagai adikku menoleh dari sela-sela pintu yang terbuka. Aku tersenyum ke arahnya. Sakura memasukkan sesendok penuh ramen yang lagsung ia makan satu kali suap.

Sasuke perlahan masuk dan duduk di sisi lain meja makan.

"Terima kasih sudah membelikan makanan untuk kakak iparmu yang rakus ini." Ucapku sembari terkekeh dan melihat Sakura seolah menggeram pelan.

"Maaf aku sudah egois. Maaf untuk semuanya, Sasuke. Termasuk untuk mencintai orang yang sama, tapi aku tidak pernah menyesal akan hal ini."

"Hn." Sasuke membalas tak acuh.

Aku kembali tersenyum. "Aku tidak menyesal kenapa kau meninggalkan Sakura di sini bersamaku. Mungkin memang egois. Maafkan Kakakmu yang egois untuk kali ini saja."

Sasuke mengangguk. "Aku justru tidak boleh egois kali ini saja, Nii-san. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama."

"Aku menyayangimu, Otouto." Aku mengacak-ngacak rambutnya. Sakura tersenyum lembut.

Semua masalah keluargaku bisa tuntas kini. Apa yang mungkin saja terjadi?

»«

.

.

.

»«

To Be Continued…

»«

.

.

.

»«

Autho's Bacots Ceria:

Huhuhu… aku sempat butek di fic ini. Bingung mau lanjutinnya gimana. Udah terlanjur naro scene itu, tapi males lanjutinnya. *ditajong* Nah, maafnya dengan alasan aku sempat terbuai akan anime kemaren-kemaren. Aku nonton Ruugajou Nanana no Maizoukin. Hehehe… dan aku sempet leor bikin KakaSaku *promosi* di Little Struggle. Sakura untuk semua dan Sasuke untuk aku. ({})

Ok, tanpa banyak bacot lagi… review-nya, ya?