INI FF YG AKU REMAKE DARI SALAH SATU NOVEL SANTHY AGATHA,SEKALI LAGI AKU CUMAN MENGREMAKE .JIKA KALIAN INGIN MENCARI NOVELNYA KALIAN BISA CARI DENGAN NAMA YG JADI JUDUL FF INI KARENA AKU ENGGAK MERUBAH APAPUN KECUALI UNTUK MENDUKUNG BERJALANNYA FF INI.
CASH:
DO KYUNGSOO
KIM JONGIN
DAN AKAN BERTAMBAH KEDEPANNYA
Rate : M
Warning: INI FF GS,
SELAMAT MEMBACA
BAB 2
Perjalanan itu terasa menyiksa dan kyungsoo dilempar begitu saja dengan kasar oleh bodyguard jongin ke bagasi dan dikunci dari luar.
kyungsoo berusaha menendang, berteriak, meronta, tetapi pada akhirnya dia kelelahan dan kehabisan oksigen. Menyadari bahwa ruang bagasi ini begitu sempit dan pengap dengan asupan oksigen yang makin menipis, kyungsoo terdiam. Ia berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar keras, campur aduk antara rasa takut dan ingin tahu, akan dibawa kemanakah dirinya ?
Lama sekali kyungsoo menunggu, sampai akhirnya mobil itu melambat. Terdengar suara pintu gerbang yang berat dibuka, lalu mobil itu melaju lagi, melambat, dan kemudian berhenti. Suara pintu mobil dibanting. Dan syukurlah, ada gerakan membuka bersiap melompat dan menyerang siapa saja yang membuka pintu bagasi itu, lalu kabur. Ah ya Tuhan, semoga semudah itu.
Pintu bagasi terbuka sedikit dan secercah cahaya masuk melalui celah yang hanya dibuka sempit.
"kyungsoo," itu suara jongin dan lelaki itu memanggil namanya. Wajah kyungsoo langsung pucat pasi. Lelaki itu sejak awal sudah mengetahui penyamarannya!
"Aku akan membuka pintu bagasi ini, tapi kau harus berjanji untuk bersikap tenang dan tidak memberontak," Ada seberkas senyum di suara jongin. Kurang ajar. Lelaki itu pasti dari tadi sudah menertawakan kebodohannya!, "Kau ada di rumahku, dan perlu kau tahu, para pengawalku sangat tidak kau turun dengan sikap penurut dan tenang, demi dirimu sendiri, karena para pengawalku mungkin akan melukaimu kalau kau bertindak bodoh" Rumah jongin. kyungsoo memejamkan matanya frustrasi. Dari informasi yang dia dapatkan, rumah jongin yang terletak di atas tanah begitu luas di kawasan elite pinggiran kota. Rumah itu dipagari dengan pagar tinggi di sekelilingnya dan setiap akses masuk dijaga oleh pengawal-pengawal jongin. Tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke area rumah ini tanpa sepengetahuan jongin. Begitupun, tidak akan ada orang yang bisa keluar dari rumah ini tanpa seizin jongin.
"Bagaimana kyung? Apakah kau berjanji untuk bersikap baik,dan aku akan mengeluarkanmu secara manusiawi. Atau kau memilih bertindak bodoh lalu mungkin aku akan mengikatmu dalam karung dan kusekap di gudang," suara jongin di luar menyadarkan kyungsoo dari lamunannya.
"Kenapa kau membawaku kemari?," gumam kyungsoo penuh keberanian. Terdengar suara jongin terkekeh di luar sana,
"Menurutmu kenapa kyungsoo? Apa kau pikir aku semudah itu diracuni di tempat umum? Apa kau pikir aku tidak tahu kalau kau selama ini mengendus-endus mencari kesempatan untuk membalaskan dendammu?" Suara jongin terdengar dekat,
"Kau sudah bermain api," bisiknya, "Sekarang saatnya kau untuk terbakar."
Pintu bagasi itu terbuka tiba-tiba dan kyungsoo belum siap meronta. Lagipula, percuma meronta. Di belakang jongin yang berdiri dengan pongahnya, ada beberapa bodyguard dengan tubuh kekar bertampang seperti batu. Dan melihat tampang dan penampilan mereka, kyungsoo tahu, mereka tidak akan segan-segan melukainya kalau dia berbuat sesuatu yang sekiranya akan mencelakakan majikan mereka. jongin mundur selangkah, lalu mengulurkan tangannya setengah membungkuk,
"Silahkan tuan puteri, biarkan aku membantumu keluar," gumamnya mengejek.
kyunsoo menatap tangan itu lalu menggeram marah. Kurang ajar sekali iblis yang satu ini! Dengan marah, ditepiskannya tangan jongin dan dia berusaha keluar sendiri dari bagasi sempit itu meskipun sedikit kesulitan karena kaki dan tangannya kaku dilipat di ruangan sempit dan menempuh perjalanan entah berapa puluh kilo. Akhirnya kyungsoo berhasil berdiri keluar dari bagasi, dengan sepenuh harga dirinya. jongin mengamati kyungsoo dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan melecehkan, lalu senyum muncul lagi di sudut bibirnya,
"Mari, silahkan masuk. Selamat datang di rumahku," setengah memaksa lelaki itu mencengkeram lengan kyungsoo yang kaku lalu membawanya masuk ke dalam rumahnya. Bagian depan ruang tamu jongin sangat megah, dengan arsitektur gaya lama yang entah kenapa bisa tampak modern. Lantai marmernya berkilauan dengan warna gading, dan pilar-pilar besar di ruang tamu dengan warna serupa begitu menjulang tinggi, dipadukan dengan nuansa warna merah dan emas.
jongin membawa kyungsoo menuju ke sebuah tangga besar melingkar berwarna putih dan sekali lagi setengah menyeretnya menaiki berdua berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih,
"Kau akan tinggal di kamar ini mulai sekarang," gumam jongin datar. kyungsoo membelalakkan mata, marah pada jongin,
"Atas dasar apa kau memutuskan aku harus tinggal di mana. Aku mau pulang" Bibir jongin masih menyiratkan senyum, tapi matanya tidak. Mata itu bersinar dengan tatapan tajam dan dingin,
"Kau tidak bisa pulang. Sekarang, ini adalah rumahmu. Bersamaku" Dengan cepat lelaki itu merengkuh pundak kyungsoo, dan detik itu kyungsoo menyadari bahwa lelaki itu akan menciumnya. Secepat mungkin dia memalingkan muka, mencoba memberontak, hingga bibir jongin hanya mendarat dipelipisnya. Cengkeraman jongin di pundaknya makin kuat sehingga terasa menyakitkan,
"Aku sudah memutuskan untuk memilikimu. Dan satusatunya cara kau lepas dariku adalah ketika aku memutuskan untuk melepaskanmu, atau ketika kau… Mati," dengan kalimat penutupnya yang begitu kejam,jongin membuka pintu putih itu, dan mendorong kyungsoo masuk. Lalu menguncinya dari luar, meninggalkan kyungsoo yang menggedor gedor dan menendang-nendang pintu itu dari dalam dengan histeris.
"Menurutmu apakah dia sudah siap untukku?," jongin mengenakan jubah tidurnya, sutera hitam, dan duduk di sofa di dalam kamarnya. Hidangan lengkap tersedia untuknya di meja. Dengan tenang, lelaki itu menyesap anggurnya, lalu menatap min joong , pengawal pribadinya sekaligus orang kepercayaannya yang berdiri di depannya dengan wajah khasnya yang tanpa ekspresi.
"Saya pikir dia sudah siap, bukan untuk menyerah kepada Anda, tetapi siap membunuh anda. Tatapan matanya adalah tatapan pembunuh yang penuh kebencian" jongin tersenyum tipis mendengar jawaban mni joong itu,
"Ya, tatapan matanya membakar, penuh kebencian.," jongin menyesap anggurnya lagi, memejamkan matanya, "Tapi kau tahu bagaimana aku sangat ingin memilikinya malam ini"
"Ya saya tahu," jawab mi joong tenang, "Apakah Anda akan memaksanya…?"
"Aku tidak suka memaksa perempuan, kau tentu tahu" jongin terbiasa dikelilingi perempuan yang menyerahkan diri adanya. Tidak ada seorang perempuanpun yang mampu menolak pesona kim jongin. Dengan rambut hitam legam yang sedikit panjang mengena kerah, mata cokelat pucat dan wajah aristrokatnya hampir bisa dikatakan sempurna seperti malaikat… Kalau saja matanya tidak begitu dingin, tanpa perasaan dan menyimpan kebencian mendalam, menakutkan. jongin bagaikan iblis yang terperangkap dalam raga malaikat.
"Aku ingin dia menyerahkan dirinya padaku dengan sukarela" Tentu saja. Gumam min joong dalam hati. Kata-kata jongin bagaikan perintah baginya.
Obat ini sangat keras, dan tidak bisa digunakan untuk mainmain. min joong mengamati bubuk putih dalam wadah kecil di depannya. Sangat keras, sekaligus sangat efektif. Dan kalau perempuan itu meminumnya, maka perempuan itu akan menyerah pada jongin, dan menyenangkan tuannya.
Dengan gerakan pelan penuh perhitungan,min joong mencampurkan bubuk putih tanpa rasa itu ke dalam minuman kyungsoo. Obat ini akan membuat perempuan tersiksa, meminta dipuaskan. Kalau tidak ada yang memuaskannya, perempuan itu akan merasa seluruh tubuhnya terbakar, kesakitan. Dan min joong yakin, kyungsoo akan meminta, bahkan memohon-mohon pada tuannya malam ini.
Malam ini perempuan itu akan menyerah dalam tanganmu, Tuanku. min joong tersenyum dalam hati, menanti apa yang akan terjadi.
Sudah hampir satu jam kyungsoo dikurung di dalam kamar ini, kamar mewah bernuansa putih, di karpet, di ranjang, di semua furniture-nya. Kamar ini dibuat untuk perempuan, dan kyungsoo merasa jijik membayangkan bahwa mungkin kekasihkekasih jongin yang sebelumnya juga ditempatkan di ruangan ini.
Salah seorang pengawal jongin yang bertampang paling dingin, setengah jam yang lalu masuk, membawa nampan makanan, meletakkannya di meja. Lalu tanpa berkata apa-apa pergi dan mengunci kembali pintu itu dari luar. Dan selama setengah jam yang panjang itu pula, kyungsoo mencoba setengah mati untuk tidak melirik pada nampan yang sangat menggoda itu.
Perutnya keroncongan, dan dia merasa haus. Dia belum makan dari siang karena terlalu gugup merencanakan pembalasan dendamnya pada jongin, dan sekarang dia kena batunya. Aroma makanan itu terasa begitu menggoda, aroma manis dan gurih masakan yang masih panas. Mungkin jika aku mengintip sedikit apa makanannya…..tidak! kyungsoo menghardik dirinya sendiri dalam hati. Dia tidak akan makan, lebih baik dia mati kelaparan daripada harus menyerah pada kekuasaan jongin. Tapi jika hanya minum mungkin tidak apa-apa. kyungsoo melirik haus pada minuman di nampan itu. Sari jeruk segar yang tampak begitu menggoda.
Akhirnya kyungsoo menyerah. Dia haus sampai terasa mau pingsan, dan dia harus minum, kalau tidak dia mungkin akan benar-benar pingsan. kyungsoo tidak boleh pingsan, dia harus mencari cara untuk melarikan diri dari kamar ini, dari rumah ini. Dengan cepat disambarnya gelas itu, diminumnya langsung berteguk-teguk karena begitu hausnya. Aliran dingin air itu terasa begitu segar ketika membasahi kerongkongannya. Tanpa sadar segelas minuman itu tandas sudah, kyungsoo meletakkan gelas itu dengan pelan, sedikit merasa bersalah. Tapi bagaimanapun juga dia tidak menyesal. Dia merasa lebih baik. Sekarang dia bisa memikirkan cara untuk kabur dari rumah ini,
Mata kyungsoo berputar, ke sekeliling ruangan, mencari cara untuk melarikan diri. Ada jendela besar di ujung sana, yang dilapisi gorden berwarna putih, mungkin kyungsoo bisa mencari cara keluar dari sana. Dengan hati-hati kyungsoo melangkah ke arah jendela itu untuk memeriksanya, tetapi seketika itu juga hatinya kecewa. Jendela itu sudah dilapisi kaca tebal, dan penuh dengan teralis besi yang sangat kuat. Lagipula kyungsoo baru menyadari bahwa dia ada di lantai dua, kalaupun dia bisa membuka jendela itu, dia harus mencari cara agar bisa turun dari lantai dua dengan selamat.
kyungsoo mencoba berpikir, dia belum memeriksa kamar mandi yang ada di ujung kamar, mungkin ada jalan keluar dari sana yang lolos dari pengawasan. Dengan cepat dia melangkah ke kamar mandi, tetapi langkahnya terhuyung. Entah kenapa kepalanya terasa pening, dan seluruh tubuhnya menggelenyar…. Kepanasan…
Ada apa ini? kyungsoo meraba dahinya sendiri, terasa panas, Apakah dia demam? Napas kyungsoo terengah, semuanya terasa panas….. terasa panas… kyungsoo sangat butuh…
jongin membuka pintu kamar tempat kyungsoo dikurung dengan pelan. Sudah larut malam, dan jongin tidak mengharapkan kyungsoo masih bangun. Kamar itu gelap dan remang-remang, tapi mata jongin menangkap nampan makanan yang masih utuh, hanya minumannya yang habis.
Gadis keras kepala. Geram jongin dalam hati, dia pikir dia bisa mengancam jongin dengan membiarkan dirinya sendiri kelaparan. Dia tidak tahu bahwa jongin akan menggunakan segala cara untuk membuat kyungsoo menyerah padanya…
Gerakan gemerisik di ranjang membuat jongin menoleh waspada. Dalam keremangan kamar itu, jongin melihat kyungsoo terbaring di sana, gelisah. Perempuan itu belum tidur rupanya…. Dan dia tampak… tidak tenang. Ingin tahu,jongin mendekat, dan menemukan kyungsoo berbaring disana dengan tatapan mata tersiksa. Tubuhnya menggeliat di atas ranjang berseprei satin putih itu seperti kepanasan,
"Tolong…panas….," suara kyungsoo mendesah, serak seperti kesakitan.
Mengernyitkan keningnya, jongin duduk di tepi ranjang, dan menyentuhkan jemarinya ke dahi kyungsoo, suhunya normal, dia tidak demam. Kerutan di kening jongin makin dalam, lalu kenapa perempuan ini bilang kalau dia kepanasan?
"Kau mau minum?," dengan cekatan jongin mengambil gelas air di meja pinggir ranjang,
"Sini, aku bantu kau minum."jongin bangkit dan mengangkat tubuh kyungsoo, lalu mencoba membuatnya berdiri. Tubuh kyungsoo menggayut lemah dilengannya, dan napas perempuan itu terengah,
"Panas…. Tolong… panas sekali….," Sekali lagi kyungsoo
mendesahkan suara itu, suara kepanasan, seperti meminumkan air itu kepada kyungsoo, dan dengan rakus kyungsoo meminum air itu. Tetapi napasnya tetap terengah, dan dia masih tampak tersiksa oleh rasa panas yang mendera tubuhnya.
Pasti ada sesuatu…. Jangan-jangan….
jongin memundurkan tubuh kyungsoo yang bersandar padanya, supaya dia bisa mengamati kyungsoo dengan jelas. Wajah kyungsoo merona kemerahan, napasnya terengah, dan matanya sedikit tidak fokus, dia selalu mengeluh
kepanasan…. Jangan-jangan…
Dengan cepat jongin membaringkan kyungsoo di ranjang, dan melangkah keluar dari kamar bernuansa putih itu, membanting pintunya, dan berteriak,
"min joong!"
Sekejap, tanpa suara seolah menggunakan sihir, min joong muncul di depan jongin,
"Ya Tuan"
"Kau campurkan apa di minuman kyungsoo?"
Norman sedikit membungkukkan tubuhnya, wajahnya tanpa ekspresi, "Saya mencampurkan obat milik saya, Tuan tahu itu obat apa"
Wajah jongin mengeras, "Ya. Aku tahu itu obat apa. Dan aku menolak memperalat wanita dalam pengaruh obat. Kau melakukan sendiri tanpa meminta izinku, kau tahu kalau aku marah aku bisa menghukummu"
min joong tampak tidak terpengaruh dengan kata-kata jongin,
"Anda memerintahkan saya untuk membuat perempuan itu menyerah. Dia sangat membenci anda, dan pasti akan berontak mati-matian. Obat itulah satu-satunya cara membuat dia menyerah," min joong menatap mata jongin,
"Anda bisa meninggalkan kamar ini kalau anda tidak ingin memanfaatkannya"
"Dia kesakitan, kau tahu itu," geram jongin marah. min joong mengangkat bahunya,
"Anda bisa meredakan sakitnya. Dan besok, setelah Anda memilikinya, mungkin dia akan menjadi lebih penurut"
"Berapa banyak obat yang kau berikan padanya?"
"Dosis biasa tuan, tetapi efeknya berbeda-beda tergantung orangnya"
"Jadi ini bisa berlangsung selama berjam-jam atau bisa juga sepanjang malam?"
"Ini bisa berlangsung selama Anda ingin bersenang-senang,Tuan"
jongin terdiam. Kata-kata min joong terasa begitu menggoda.
jonin kembali masuk ke dalam kamar, didorong perasaan yang kuat untuk melihat kyungsoo kembali. kyungsoo masih menggeliat dan mengerang-erang di atas ranjang, ketika jongin duduk di ranjang. kyungsoo menatap jongin dengan mata berkabut, seolah tidak mengenalinya.
"Aku sakit….tubuhku… panas…" jongin tersenyum dengan kelembutan yang aneh. kyungsoo benar-benar tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya, bahwa hanya ada satu cara untuk menyembuhkan kyungsoo dari kesakitannya. Dan dia membutuhkan jongin untuk itu.
jongin mencondongkan tubuhnya dan menyapu lembut bibir kyungsoo, mendapati mata gadis itu membelalak kaget. tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum. Sungguh luar biasa, perpaduan antara kepolosan dan gairah yang kuat sungguh-sungguh menggodanya.
"Kau tidak menyukainya?," bisik jongin lembut. kyungsoo menatap jongin, atau setidaknya mencoba menatap dengan matanya yang sulit fokus,
"Aku… apa yang terjadi pada diriku?" jongin mengulurkan jemarinya, dan menyapukannya di pipi kyungsoo, membuat tubuh kyungsoo bergetar.
"Anak buahku mengambil keputusan sendiri dan mencampurkan obat di minumanmu…"
"Obat…? Apakah aku diracuni?"
"Itu bukan racun, obat itu akan merangsangmu sampai hasratmu tak terkendali, dan kau akan kesakitan jika dirimu tidak dipuaskan"
kyungsoo butuh waktu sesaat untuk mencerna, sampai kemudian menyadari arti kata-kata jongin sedikit kesadarannya meneriakkan peringatan akan bahaya. Dan tubuhnya langsung beringsut, susah payah mencoba menjauhi jongin.
Tetapi jongin merengkuh kyungsoo lagi dan berbisik lembut di telinga kyungsoo,
"Aku bisa membantumu menyembuhkan rasa sakitmu,"
sambil berbicara, tangannya yang bebas turun ke dada kyungsoo.Erangan kyungsoo ketika merasakan jemari jongin menyentuhnya terdengar begitu menderita, "Terlalu sensitif, sayang? Kau membutuhkan pelampiasan dengan segera bukan?," Tangan jongin bergerak ke pusat gairah kyungsoo.
"Tidak!," kyungsoo mencoba berteriak dan mencengkeram lengan jongin, "Jangan! Kau tidak boleh melakukannya!"
"Ini satu-satunya cara agar kau tidak kesakitan lagi, Sayang," suara jongin terdengar sedikit parau, "Biarkan aku membantumu"
kyungsoo mengerang ketika denyutan itu meningkat seiring dengan sentuhan jongin. Otaknya memberontak atas apa yang dilakukan pria itu dengan jari-jarinya, tapi tubuhnya tak kuasa menolaknya. kyungsoo membutuhkan jemari jongin itu….
Ia membutuhkan….
"Aku akan menolongmu kyungsoo, tapi kau juga harus menolongku. Aku juga butuh pelepasan sendiri. Lihat aku kyungsoo , lihatlah tubuhku"
jongin membuka jubah sutra hitamnya, dan tubuhnya telanjang di balik jubah itu. Dan napas kyungsoo tercekat ketika melihat bukti gairah jongin begitu keras.
"Gunakan diriku kyung, biarkan aku merasakan tubuhku ada di dalam dirimu dan menyembuhkanmu,"
Kata-kata itu adalah satu-satunya kata yang mirip dengan permintaan yang pernah jongin gunakan pada perempuan, dan hanya dia lakukan kepada kyungsoo. jongin melakukannya karena dia sangat bergairah kepada kyungsoo, dia amat sangat bergairah, dan kyungsoo tidak dalam kondisi untuk menolak gairahnya.
Tubuh jongin sudah menindih kyungsoo, dan perempuan itu menggodanya dengan pinggulnya yang menggeliat dan mengundang. jongin menyangga tubuhnya dengan siku, menjaga agar dadanya yang keras tidak menindih tubuh mungil gadisnya. jongin menunduk dan mencicipi bibir kyungsoo yang begitu menggoda dan menggairahkan, bibir itu begitu manis dan menggoda,
"Tenang sayang, aku mungkin akan menyakitimu," jongin menahan pinggul kyungsoo dengan tangannya, karena pinggul itu bergerak-gerak mendesaknya dengan mengundang. kyungsoo sudah sepenuhnya ada di bawah pengaruh obat itu, "Tapi aku berjanji, setelah rasa sakit itu, kau akan merasakan kenikmatan"
Detik itu juga jongin mendesakkan dirinya ke dalam tubuhkyungsoo. Hati-Hati. jongin menggertakkan giginya, mencoba menahan gairahnya yang begitu kuat, mencoba meredakan dorongan untuk menerjang dan menenggelamkan tubuhnya dalam-dalam ke dasar balutan sutera panas milik kyungsoo.
Hati-hati, perempuan ini masih perawan. jongin mencoba mengingatkan dirinya lagi. Penghalang itu ada, seolah mencoba menahan jongin memasukinya, dan jongin mendesak maju, mengklaim apa yang menjadi miliknya.
kyungsoo adalah miliknya!
tbc
terima kasih udah respon ff remake ini dan juga untuk dukungannya *bungkuk
sebenarnya aku tau kalau udah ada yg ngeremake cerita ini dan itu ver hunhan ,dan chanbaek tapi aku kurang tau kalau udah ada ver kaisoonya jadi aku pikir mending bikin ver kaisoonya aja karena kebetulan mereka couple favoriteku tapi ternyata udah ada... jadi aku serahkan kepada readers ,kalian mau ff ini dilanjutkan atau di discoun?
selamat malam ahad
