DISCLAIMER : Masashi Kishimoto
Asal cerita : Narto, eh masksudnya Naruto
Author : Saiaaah. Hahahaha
Genre : Romance, Drama, dan Agama pastinya.
Warning : OOC, AU, lebay, jablay, ahaaay
Spescial thanks to :
Mayra : Terimakasih reviewannya. Haduh, dapet reviewan dari sempai euy ;D
Haruno Aoi : lanjutan Aisu Kurimu-nya mana mbaa? *nagih* wakakak. Makasih reviewannya. Saya terharu *nyedot ingus*. Ayo kita buat fic ginian lebih banyak, hehehe.
Ryuzaki'89 : Hyahaha ketauan saiah orang yang suka menggantungkan cerita. Baik, nyang ini serius mau saya tamatin (dengan jangka waktu yg tak ditentukan, wakakak)
: makasih mbaa, sy juga ikut terharu. Ayo kita belajar ngaji bareng
Puthey puny'Zelf : Hatur nuhun, tetap minta reviewannya ya. Biar sy semangat ;). nyah nyah nyah
Bab II- And the story begin-
Hinata melipat mukena biru yang baru dipakainya. Dengan hati-hati diletakkannya lipatan mukena beserta sarungnya yang sudah rapi kedalam lemari kecil di sudut mushola. Hinata mengambil ranselnya dan sedikit mengobok isinya, mengeluarkan Nokia jadul yang dibelinya murah di pasar elektronik. Sembilan kurang tiga menit. Sip. Belum telat untuk masuk kelas. Toh kalau telat sedikit pun tidak masalah, dosennya sudah memberikan toleransi terlambat masuk kelas maksimal sepuluh menit. Hinata merapikan pakaiannya sedikit, mengelus rambut panjangnya sebelum melangkah keluar mushola. Sholat Dhuha. Kebiasan yang mulai rutin dilakukan Hinata beberapa bulan lalu.
Dari Abud-Darda' ra, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, "Siapa yang shalat Dhuha 2 raka'at, maka ia tidak tercatat sebagai orang yang lalai. Siapa yang shalat Dhuha 4 raka'at, maka ia tercatat sebagai ahli ibadah. Siapa yang shalat dhuha 6 raka'at, maka akan diberi kecukupan pada hari itu. Siapa yang shalat 8 raka'at, Allah SWT mencatatnya sebagai Qanit (ahli taat/patuh), dan siapa yang shalat Dhuha 12 raka'at, maka Allah SWT akan membangunkan rumah untuknya di surga. Dan tidaklah satu hari dan tidak juga satu malam, melainkan Allah SWT memberikan karunia kepada seseorang yang lebih baik daripada mengilhaminya untuk selalu ingat kepada-Nya." Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani.
Hinata teringat kembali ucapan kakak mentornya saat mengutip sebuah hadist tentang shalat Dhuha beberapa bulan silam. Yah, Hinata memang hanya gadis dengan pemahaman seadanya tentang Islam, belum shalehah-shalehah amat. Apalagi sampai bisa mengerjakan Dhuha yang 12 raka'at itu, tapi setidaknya dia ada keinginan jadi shalehah. Dan ini dimulainya dari hal yang mudah dillakukannya dulu. Shalat Dhuha selalu bisa memberikannya rasa tenang dan semangat memulai hari.
Status dunia boleh belum kaya coy (alias miskin,) tapi status akhirat gue harus jadi orang kaya amal.
Maka, dengan langkah semangat Hinata menaiki gedung kuliah umum yang terletak disebelah barat kampusnya. Eeeh iya, latar belakang Hinata selain derita masa lalunya belum kita sebut-sebut, kan? Oke kawan, izinkan saya menarasikannya sedikit. Hinata, mahasiswa tingkat tiga Teknik Lingkungan (TL). Nasibnya yang seringkali merana tidak semanis wajahnya yang ayu dan lembut. Jika anak-anak lain berkuliah dengan dana full dari orang tua, maka hal itu tudak berlaku bagi Hinata. Uang kuliahnya bergantung dari beasiswa yang setiap semester selalu ia perjuangkan agar sampai ke tangannya. Untungnya Hinata adalah gadis lumayan cerdas dengan IPK tiga koma.
Hinata memasuki ruang kelasnya yang kini sudah penuh dengan mahasiswa berbagai jurusan. Kesehatan Lingkungan. Itu judul mata kuliahnya. Bagi Mahasiswa (TL), matakuliah 3 sks ini adalah matakuliah wajib, tapi bagi mahasiswa jurusan lain yang kena kebijakan harus mengambil matakuliah berbau lingkungan dari kampus ini, matakuliah ini adalah matakuliah pilihan. Makanya jangan heran jika sekarang kelas dipenuhi berbagai manusia -dengan didominasi laki-laki—dari berbagai jurusan.
Hinata mengedarkan pandangannya, mencari tempat duduk kosong. Sebagian besar tempat duduk di bagian belakang sudah penuh terisi oleh siswa laki-laki, yang Hinata tahu sebagian dari mereka adalah anak Elektro atau Informatika, sisanya campuran jurusan lain. Hinata menghembuskan napas, sedikit menyesali nasibnya yang salah memasukkan kode kelas pada saat pendaftaran online beberapa minggu lalu. Seharusnya anak TL punya kelas tersendiri bersama kawanan anak-anak TL lainnya. Tapi apa mau dikata kawan, sebagai anak dengan predikat agak ceroboh, sedikit grasa-grusu, dan 'sering ketiban sial' sebagai nama tengahnya, Hinata sendiri yang memasukkan takdirnya ke dalam sarang penyamun ini.
"Kita mulai kuliah kita hari ini, semuanya jangan ribut!" Sebuah suara tegas menyapa para mahasiswa yang sedang ribut dengan urusan masing-masing. Kelas hening. Tidak ada yang berani bersuara lagi. Semua mata tertuju pada sosok perempuan setengah baya berkerudung yang menatap mereka semua dengan tatapan elang, atau gampangnya tatapan telenovela –Rosalinda yang sedang memandang galak Fernando Jose yang ketahuan selingkuh sama Fedra—. Siapa juga yang berani berkonfrontasi dengan Ibu Raden Roro Indah Tsunade alias bu Tsunade. Cuman mahasiswa dengan taraf cedera otak permanen alias rada-rada sarap yang mungkin mau mengambil resiko itu.
"Oke, jadi setelah minggu lalu kita membahas materi Manusia dan Lingkungan, minggu ini kita masuk ke Toksikologi Lingkungan dan pengertiannya." Tsunade melanjutkan.
"..." Para mahasiswa mingkem. Sebagian nahan napas tegang *lebay ini mah*
"Jadi, ada yang bisa menjelaskan pada saya apa itu Toksikologi?" Tsunade mengedarkan manik matanya yang tajam kayak silet pada para mahasiswa yang sedang ngedeprok tak berdaya di tempat duduk masing-masing. Sebagian dari mereka bahkan sedang memohon dalam hati.
Jangan gue, pliisss. Jangan tanya ke gue! Teriakan hati salah satu mahasiswa yang takut kena tunjuk. Hening. Tsunade mulai menyipitkan mata, kesal.
"Tidak ada yang tahu? Atau tidak ada yang mau jawab?" Tanya Tsunade dengan nada berbahaya. Buset ni dosen killer amat dah. Julukannya aja Killer Tsunade dengan moto 'Awas, Tsunade galak'. Hahaha, gak deng, ga segitunya.
Para siswa yang ngakunya nyandang status 'maha' ini mulai saling lirik-lirikkan. Bukannya mereka gak tahu, tapi aura Tsunade bikin mereka ciut. Padahal mahasiswa perguruan tinggi ini biasanya terkenal akan kekritisan dan kecerdasan mereka.
"Bu..." Sebuah tangan dengan kulit punggung tangan putih bersih teracung ke udara. Hermione Granger. Oh bukan, maksud saya Sakura. Gadis pintar berkerudung lebar dan rapih memanggil Tsunade yang sedang menatap Naruto dan Kiba yang menciut di kursi saking parnonya sama Tsunade.
" Ya, kamu mau jawab?" Tsunade menatap Sakura.
"Toksikologi itu ilmu yang mempelajari racun atau toksin serta efeknya, terutama untuk makhluk hidup." Sakura menjawab dengan lancar. Suaranya yang merdu dan parasnya yang cantik membuat sebagian besar cowok memandangnya takjub dan penuh rasa terimakasih. Sakura yang duduk di kursi tengah bagian atas masih menatap Tsunade.
"Ya, benar." Tsunade mengangguk. "Lain kali yang laki-laki jangan diam saja! Ini kelas mayoritas laki-laki, masak gak ada yang berani jawab! Kalian bukan orang bodoh, kan?" Tsunade melempar pandang mata elangnya. Sebagian mahasiswa langsung mengangguk-angguk. Naruto entah karena setuju atau takut mengangguk-angguk kalap, udah kayak orang ayan.
"Kamu, kenapa heboh begitu?" Tsunade menunjuk Naruto. Naruto menghentikan gerakan anggukan kalapnya.
"Ngg anu, saya setuju, Bu!" Naruto menjawab.
"Setuju kalau kamu termasuk yang gak berani jawab?" Tsunade berkata tegas.
"Eeeh, nganu.. maksud saya. Haduh, maksud saya bukan yang itu, Bu." Naruto menggaruk-garuk kepalanya, stress. Teman-temannya terkikik perlahan melihat Naruto yang jadi korban Bu Tsunade.
"Yah sudahlah." Tsunade mengakhiri terornya, sedikit tersenyum melihat Naruto. Dia tidak bermaksud menyebabkan siswanya kena serangan jantung mendadak karena takut padanya. Dengan sigap sang Tsunade menghidupkan laptop dan infocus untuk memulai kuliah pagi itu.
Singkat cerita kuliah berjalan tertib dan aman sebagaimana biasanya. Ketika materi kuliah berakhir dan anak-anak mulai berani berceloteh, Tsunade kembali mengeluarkan suara toanya.
"Mohon perhatian sebentar. Seperti yang sudah saya jelaskan dulu di awal perkuliahan, kalian akan saya berikan dua tugas berkelompok. Satu tugas kecil dan satu tugas besar. Untuk menghindari berkumpulnya orang-orang dengan gender yang sama atau jurusan yang sama, maka saya yang menentukan kelompok beserta isinya. Kelompok beserta orang-orangnya akan saya tampilkan di layar. Masing-masing kelompok untuk tugas pertama akan diminta menyusun makalah mengenai zat Xenobiotik. Isi makalah harus mencakup Ekokinetika dan Efeknya terhadap organisme. Nanti setelah saya umumkan nama-nama kelompoknya, masing-masing kelompok berkumpul sebentar dan tentukan zat yang akan kalian bahas. Berikan beberapa opsi, siapa tahu ada yang sama dengan kelompok lain. Saya akan mengungumkan apakah zat itu bisa digunakan atau tidak. Jangan lupa buat slide untuk presentasi, kira-kira 10 slide. 2 Minggu lagi dikumpulkan dan presentasi. Mengerti?" Tsunade mengakhiri pidatonya.
"Mengerti bu!" Jawab para mahasiswa kompak.
"Ini kelompoknya." Sederet nama dalam tabel muncul di layar. Mahasiswa-mahasiswa mulai ribut membaca nama dan teman kelompok mereka.
"Naruto, Kiba, Sasuke, Gaara. Haduuh, gak ada yang aku kenal." Hinata membaca daftar teman-teman kelompoknya.
"Hinata, ada yang namanya Hinata?" Suara toa Naruto terdengar memanggil-manggil Hinata.
"Ya, saya Hinata." Hinata menjawab. Naruto dan Kiba yang sudah bangkit dari kursinya mendekati Hinata dan duduk di samping dan depannya.
"Halo, kenalin, gue Naruto Elektro 08." Naruto mengulurkan tangannya.
"Gue kiba, Fisika Teknik 08." Kiba melanjutkan perkenalan.
"Hinata, TL 08." Ucap Hinata sambil menjabat tangan Naruto. "Ngg, kalian tahu yang dua lagi?"
"Ooh, Gaara sama Sasuke? Iya, kami tahu. Tapi tu anak dua gak keliatan batang idungnya." Naruto menjawab.
"Alaaah, palingan bolos lagi. Nongkrong entah dimana." Kiba berkata sebal.
"Ntar deh, gw sms dulu ya." Naruto merogoh ponsel di saku celananya. Kemudian dengan hati-hati mengetik pesan, takut ketahuan Tsunade.
Beberapa menit kemudian.
Bang Thoyyib, bang thoyyib ken...
"Wuanjir! Lupa gue silent hapenya!" Naruto dengan brutal langsung membekap hapenya. Menoleh ke depan kelas, takut Tsunade dengar.
"Pencet aja tombolnya napa? Kan ntar mati sendiri! Lagian lu masang ringtone pesan panjang amat sih, Bang Thoyyib pula!" Kiba memandang Naruto dengan tatapan menghina. Hinata tersenyum melihat kedua pria dihadapannya.
"Berisik lu! Dangdut itu musik jiwa gue, sama kayak elu yang demen musik keroncong. Tampang preman, tapi musik keroncong!" Naruto membalas. Kiba sweatdrop. Merasa harga dirinya dipermalukan di depan Hinata, Kiba langsung protes.
"Bawel lu! Keroncong kan musik warisan Indonesia, wajar lah gue pengen lestariin."
"Dangdut juga tahu! Itu musik persatuan Indonesia. Kalo nanti ada pooling mengenai lagu-lagu yang bisa dijadiin jadi lagu nasional, gue akan dukung dangdut! It's our song, man!" Naruto membalas.
"Aaah, udah! Stress gw ngomong sama lu. Dasar orang stress! Baca tu sms, dari Gaara, kan?" Kiba menarik rambutnya frustasi.
"Elu yang stress!" Naruto berkata lagi sebelum membuka smsnya. Hinata menutup mulutnya, menahan tawa.
"Haaah, dasar Gaara. Dia lagi ngedate sama Sasuke di kantin Tambang. Katanya kita aja dulu yang ngehandle tugas, mereka ngikut aja." Naruto membacakan inti sms dari Gaara. Hinata mengerutkan alisnya.
"Hmm,, mereka berdua Elektro juga? Sering bolos ya?" Hinata bertanya.
"Gaara iya dari Elektro, tapi Sasuke dari Teknik Perminyakan, sama-sama angkatan 2008." Kiba menjawab sambil menggaruk hidungnya, "Dan iya, mereka rajanya bolos. Sayang aja mereka pintar, padahal kan asik tuh kalo mereka dapet D terus ngulang kuliah." Kiba mendesah sok prihatin.
"Gampang deh, ntar gue yang damprat tu anak dua. Sekarang kita tentuin dulu zatnya." Naruto mengakhiri obrolan Gaara-Sasuke mereka.
Sementara itu di tempat lain, di salah satu kantin di Kampus Naruto dkk, duduklah dua orang manusia berjenis kelamin pria. Kedua pria nan tampan dan menawan itu tengah mengobrol santai sambil menyantap sepiring chicken katsu dan segelas jus jeruk.
Tiit. Tiiit.
Andorid Gaara berbunyi. Gaara melirik Androidnya yang nangkring di samping piring chicken katsunya. Sasuke yang sedang menyesap jus jeruk dihadapan Gaara memandang ingin tahu.
"Naruto." Gaara berkata, menjawab tatapan ingin tahu Sasuke. "Kita dapat tugas dari si Tsunade. Tugas kelompok." Gaara melanjutkan lagi, mereply sms Naruto dan meletakan kembali Andoridnya, tampak tidak peduli.
"Aaah, gara-gara elu maksa gue ngambil ni matakuliah nih, gue jadi ketiban sial. Padahal kan gue punya opsi kuliah pilihan yang lain." Sasuke menatap Gaara. Gaara balas menatap. Mereka tatap-tatapan *ga penting*.
"Justru karena gue tahu matakuliah ini ribet di tugas, gue gak mau menderita sendiri. Mana janji lu yang bilang mau sehidup semati sama gue, Sayang." Gaara menjawab dengan sok manis, membuat Sasuke melotot.
"Najis!" Sasuke menjawab. "Biarpun lu good-looking, tapi gue bukan maho!" Sasuke menambahkan. Gaara tersenyum tipis. Kejadian yang sangat langka mengingat Gaara yang irit ekspresi.
"Udah hampir jam 11 nih, lu gak Jum'atan?" Sasuke melirik jam di tangan kirinya, melontarkan pertanyaan basa-basi. Sebenarnya dia sudah tahu jawaban Gaara, tapi sekali-kali dia mau jadi sahabat yang baiklah, mengingatkan pada kebaikan.
Gaara menaikkan sebelah alisnya. "Nanti, kalo ada keajaiban yang bikin lu gak atheis lagi." Jawabnya sambil menaikan satu sudut bibirnya. Sasuke mendengus sambil tersenyum.
"Well, berarti gue pastiin lu gak bakal pernah shalat Jum'at. Gak sampai lu berniat mengubah patokan lu mengenai kapan lu mau shalat Jum'at." Sasuke berkata santai. Gaara tersenyum tipis, lagi. Sebenarnya Gaara juga tidak peduli akan keputusan Sasuke yang memilih Atheis sebagai 'kepercayaannya', toh dia juga gak jauh beda dengan laki-laki emo dihadapannya. Islam KTP, tidak pernah menjalankan ajaran agamanya.
"Gue jadi penasaran. Agama apa yang lu cantumin di KTP sebagai samaran? Jelas Atheis gak diizinkan buat dicantumin di dikumen-dokumen penting, kan?" Gaara bertanya lagi.
Sasuke mengangkat bahu sebelum menjawab. "Tergantung mood gw, mana yang gue lagi pengen lah." Sasuke tersenyum simpul. Makanya gue juga gak terlalu pusing milih mata kuliah agama yang pengen gue masukin."
Huh, tapi gue ajakin bareng sama gue lu gak mau." Gaara mendengus sebal.
"Hahahaha, yang bener aja, Bro! Dan memasrahkan hidup gue menderita satu semester? No way! It's a big No! Hell, no!" Sasuke tertawa mengejek. Gaara hanya bisa mengangkat bahu mendengar jawaban sahabatnya.
Maghrib bergulir menuju Isha. Langit berubah warna menjadi hitam kelam. Barisan bintang menggugus, terserak damai di langit. Angin malam yang sejuk bertiup. Membawa berita dari berbagai sudut Kota Bandung. Suara merdu yang mengalunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an beradu dengan hingar-bingar klub-klub malam yang mulai menampakkan taringnya. Kebaikan dan kejahatan, bagaikan dua sisi berbeda pada sekeping uang logam. Akan selalu ada dan saling mengalahkan. Hingga Zat Yang Maha Kuasalah nanti yang memutuskan salah satunya akan mendominasi dan berkuasa sebelum kiamat terjadi.
Hinata berjalan cepat sambil merapatkan jaketnya. Menghalau dinginnya udara Bandung di malam hari yang cukup membuatnya gemetar kecil. Hinata baru saja pulang dari rumah temannya, mendiskusikan proyek dosen yang akan mereka tangani bersama. Alhamdulillah, Allah SWT memang Maha Baik, di saat Hinata bingung belum menemukan pekerjaan untuk menyokong keuangan ibunya, dosennya secara tak terduga menawarinya ikut dalam proyek sang dosen dengan sebuah perusahaan swasta. Maklum, pemasukan dosen-dosen di kampus ini memang salah satunya dari proyek-proyek yang mampir meminta keahlian mereka. Gajinya memang tidak seberapa. Tapi cukup untuk sementara waktu menyokong kehidupannya dan ibunya.
Hinata melangkahkan kakinya menuju sebuah tenda medium size yang menjual kebutuhan pokok manusia-manusia kelaparan. Warung nasi ayam dan kawan-kawannya. Tempat ini cukup ramai dikunjungi manusia, terutama mahasiswa-mahasiswa yang memang terbatas dalam dana makan. Selain lumayan murah, rasa nasi ayam di tempat ini juga gak kalah sama ayam yang dijual di restoran-restoran di mall-mall. Oke, saya lebay.
"Pak, nasi ayamnya dua ya, dibungkus." Hinata menyapa si bapak penjual nasi ayam. Mumpung dia sedang ada rejeki, Hinata ingin membelikan ibunya ayam, lauk yang jarang mereka dapat.
"Iya, Neng. Sakedap ya neng, iyeu seeur nu mesen." Si bapak menjawab permintaan Hinata sambil tersenyum. (Iya, Neng. Sebentar ya neng, ini banyak yang pesan). Hinata tersenyum sebagai jawaban dan beranjak ke bangku kosong.
Saat itulah dua sosok pemuda dan pemudi memasuki tenda. Sang pemudi menempel manja, melingkari lengan si pemuda dan tak henti melempar senyum, seakan ada puluhan wartawan yang sedang mengabadikan momen mesranya dengan pemuda keren berambut merah yang memasang muka tidak peduli bin tidak antusias.
"Nasi ayamnya satu, Pak." Gaara berkata pada si bapak, "Lu mau apa?" Gaara menanyai wanita berambut panjang dengan kacamata yang nagkring dihidungnya.
Karin mengernyit memandang Gaara. "Honey, kamu tahu kan kalau tempat beginian bukan level aku." Jawabnya angkuh. Gaara memandangnya dingin.
"Terserah." Jawab Gaara tak peduli dan mencari tempat kosong, yang otomatis membuat Karin yang sedang memegang lengannya manja ikut terseret.
Gaara?
Hinata mengulang nama yang Karin sebut dalam hatinya. Tiba-tiba dia teringat teman satu kelompoknya yang belum pernah ia temui. Hinata memandangi Gaara dari atas kebawah. T-shirt merah yang matching sama rambutnya, celana kargo coklat tua, sneakers, jam tangan Hublot dominan hitam dengan sedikit warna merah melilit kulit pergelangan tangannya yang putih. Kaum Hawa mana yang gak nelen ludah lihat penampilan Gaara. Plus mukanya itu man, kayak orang hidup segan mati tak mau, alias datar sedatar triplek.
Gaara menyadari pandangan mata Hinata. Mendengus kecil dalam hati melihat pandangan Hinata yang persis sama seperti pandangan cewek-cewek lainnya. Hinata yang kaget dipandang oleh Gaara mengalihkan tatapan matanya.
Ya ampun, kayak belum pernah lihat cowok cakep aja! Hinata mengutuki dirinya dan diam-diam memuji keberuntungan Karin yang bisa menggandeng cowok seperti Gaara.
Gaara melangkahkan kakinya mendekati Hinata, tentu saja bukan berniat mengajak kenalan, tapi karena memang bangku itulah yang masih kosong dan paling mudah dicapai dari tempat Gaara berdiri. Hinata yang menyadari tujuan duduk Gaara mulai merasa tidak nyaman.
"Huuh, kamu kok demennya makan di tempat begini sih, Honey." Karin berkomentar sambil memandang sekeliling tenda. Gaara menatapnya tajam.
"Gue gak minta lu buat ikut kesini." Jawabnya singkat dan menusuk. Hinata sedikit terkejut medengar jawaban Gaara pada Karin yang penuh sarkasme. Hinata tidak menyangka ternyata laki-laki dihadapannya lebih dingin dari es batu.
"Iiih, gitu aja kok marah sih, Gaara. Pasti kamu ketularan Sasuke deh! Jadi nyebelin gitu." Karin berkata cemberut sok imut. Hinata yang mendengar dua nama yang dikenalnya langsung mendongakkan kepalanya menghadap Gaara.
Gaara dan Sasuke. Terlalu kebetulan rasanya kalau ini hanya kebetulan biasa. Nyaah, apa pula nih maksud kalimat. Yah, saya yakin pembaca yang budiman semua mengerti lah yaa.
"Sori, kamu Gaara Elektro 08?" Hinata memberanikan diri bertanya. Gaara yang merasa namanya dipanggil oleh orang selain Karin menolehkan kepalanya pada Hinata.
Hening, Gaara tidak langsung menajawab. Matanya menatap Hinata, cuman beberapa detik sebenarnya, tapi Hinata merasa dirinya ditatap selama 10 menit.
"Iya." Gaara menjawab singkat. Hinata meringis dalam hati.
Gak sopan nih orang. Bikin posisi gue susah aja.Hinata membatin.
"Ngg, kenalin saya Hinata. Kita satu kelompok di matakuliah kes-Ling." Hinata melanjutkan. Ragu hendak mengulurkan tangannya untuk bersalaman atau tidak. Akhirnya dia memutuskan tidak melakukannya. Gaara menatap Hinata dengan ekspresi tak terbaca. Karin memandang Hinata dengan tatapan tidak suka.
"So?" Gaara bertanya, masih tampak tidak peduli atau lebih tepatnya tidak tertarik dengan perkataan Hinata. Hinata terkejut mendengar dan melihat sikap Gaara yang sungguh tidak sangat bersahabat. Saat itu juga rasa kagum pada penampilan cowok yang ada di hadapannya sirna, tergantikan oleh perasaan sebal luar biasa.
"So," Hinata memulai ucapannya. Matanya menyorot dingin pada Gaara. "Gue cuman pengen ngingetin aja, siapa tahu Naruto lupa bilang ke elu kalau hari Minggu kita ada kumpul di kampus. Bagi-bagi tugas dll. SEMUA HARUS HADIR." Hinata menekankan tiga kata terakhir pada Gaara. Ucapannya tidak lagi saya-kamu. Percuma juga sopan sama orang kayak gini. Hinata membatin.
Gaara menaikkan alisnya, masih menatap Hinata, kemudian, "Gue gak mau." Tandas Gaara. Hinata menyipitkan matanya, tidak suka dengan jawaban Gaara.
"Terserah, tapi kalo alasan lo ga dateng karena alasan gak penting 'Gue gak mau', nama lo bakal di coret dari kelompok. Tolong kasih tahu Sasuke juga." Hinata membalas dengan kemarahan yang berusaha ditahannya. Gaara memandang Hinata, tatapannya makin intens, sedikit menyipitkan mata.
"Gak ada yang bisa maksa gue, dan we will see, apa lo bisa nyoret nama gue semudah itu." Itu pernyataan, bukan pertanyaan. Gaara sudah tidak tertarik lagi memandang Hinata. Dengan cuek dikeluarkannya sang Hape tercinta dan mulai browsing ria. Kini ganti Karin yang menatap Hinata penuh rasa tidak suka.
"Kalo ngomong hati-hati lo! Belagu banget lo sok ngancem cowok gue." Sebagai tunangan Gaara Karin merasa wajib membela pujaan hatinya.
"I'm not your man." Gaara berkomentar singkat tanpa memandang Karin.
Yup, Gaara memang bukan pacarnya karin. Hanya seorang anak laki-laki yang dipaksa orangtuanya untuk dijodohkan dengan Karin, anak rekan bisnis papanya Gaara. Gaara sendiri awalnya menolak, tapi melihat sia-sia saja dia mati-matian menolak paksaan kedua orang tuanya, Gaara akhirnya tak ambil pusing. Toh cuman tunangan ini, bukan menikah. Dia tidak peduli.
Hinata mau tidak mau jadi ingin tertawa melihat perubahan ekspresi Karin yang kini tengah menatap Gaara , sebal. Gaara sepertinya tidak menyadari tatapan mata Karin karena sibuk dengan gadgetnya.
"Ngapain lo liat-liat!" Karin menghardik Hinata yang tengah asik menatap Karin dan Gaara. Hinata hanya angkat bahu. Lebih baik diam, marah-marah gak ada untungnya juga buat dia.
"Neng," Suara bapak penjual nasi ayam mengalihkan Hinata, "Ini pesanannya, janten Dua puluh rebu." Si bapak menyerahkan dua bungkus nasi ayam. Hinata segera berdiri dan menyerahkan dua lembar uang sepuluhribuan.
"Nuhun, Bapak." Balas Hinata sopan, dan tanpa pamit – ga perlu juga sih—Hinata berjalan keluar dari warung makan itu. Meninggalkan Karin yang melotot memandang kepergiannya dan Gaara yang berubah autis dengan Hapenya.
"Jadi bener, Pa?" Neji berusaha menahan nada suaranya agar tidak berteriak pada sosok pria dihadapannya, "Bener kalau Neji sebenarnya punya adik?"
Hiashi, laki-laki setengah baya yang duduk di hadapan Neji memandang putranya, tatapannya sedih. Ibu Neji, wanita anggun yang masih terlihat cantik di usianya menatap Neji dengan tatapan kesal.
"Neji, cukup! Itu bukan urusan kamu!" Mama Neji berkata kesal, suaranya bergetar karena marah.
"Bukan urusan Neji mama bilang? Tolong jelaskan ma, jelaskan bagian mana dari masalah ini yang bukan urusan Neji?" Kini ganti suara Neji yang bergetar menahan amarah. "Dua puluh tahun mama dan papa berbohong pada Neji. Dua puluh tahun Neji tidak tahu kalau Neji ternyata punya adik meskipun kami berbeda ibu!" Neji setengah berteriak sekarang.
Plak!
Bunda Neji tak bisa menahan tangannya yang menapar putra semata wayangnya. Hiashi bangkit, kaget dengan tindakan istrinya.
"Ma!" Tegur Hiashi. Neji menyentuh pipinya yang tertampar. Perih. Tapi bukan karena perih oleh tamparan, melainkan perih mengetahui kenyataan yang disembunyikan kedua orang tuanya.
"Selama ini Neji sudah curiga papa dan mama menyembunyikan sesuatu dari Neji, tapi Neji tidak menyangka ini merupakan suatu rahasia busuk. Teganya papa meninggalkan istri kedua papa dan anak papa yang waktu itu belum genap setahun. Teganya papa menelantarkan mereka. Neji tahu kalau mereka bukan dari keluarga berada seperti kita, Pa. Mereka bisa saja hidup sulit setelah papa mencampakkan mereka. Bagaimana kalau wanita dan anaknya itu terpaksa hidup dijalanan atau bahkan sudah meninggal saat ini. Dan papa tidak tahu, atau lebih tepatnya tidak mau tahu! Bagaimanapun dia adik Neji, Pa! Darahnya sama dengan darah Neji. Kami sama-sama anak papa!" Neji mengakhiri kalimatnya dengan getir.
"Neji, please." Hiashi berkata sedih, "Papa sudah coba mencari mereka, papa tahu papa salah. Papa ingin membayar semua itu, tapi Papa tidak bisa menemukan mereka, Nak." Papanya berkata frustasi. Mama Neji memandang Hiashi dengan tatapan marah.
"Papa memang tidak perlu mencari mereka! Wanita perusak rumah tangga orang!" Hardik mama Neji keras.
"Ma, kalau ada orang yang harus disalahkan, itu papa. Bukan mereka!" Hiashi menjawab istrinya dengan tatapan murka.
"Sudahlah Pa, Ma. Cukup. Mama restui atau tidak, Neji akan cari mereka sampai ketemu! Dan begitu Neji menemukan mereka, Neji akan pastikan mereka mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan dari dulu." Bersamaan dengan berakhirnya ucapannya, Neji pun berlalu meninggalkan orang tuanya yang terperangah. Masih dapat didengarnya teriakan mamanya yang memanggil dan menghardiknya.
"Neji, kembali! Dasar anak kurang ajar, mama hanya berusaha melindungi posisimu! Neji!"
Neji mengepalkan tangannya. Rasa bersalah menyusupi dadanya. Neji tidak pernah mengenal istri kedua ayahnya, atau adik tirinya. Tapi sebagai manusia berhati dia tidak dapat membenarkan perbuatan kedua orang tuanya.
"Dia adikku, dia adikku." Neji berkata lirih sambil membawa tubuhnya keluar dari Kediaman keluarga Hyuuga yang dipenuhi kemewahan.
Okeee,, jadi benar-benar seperti sinetron ya. Wakakakak *ketawa setan*.
Jadi sodara-sodara yang budiman, bersamaan dengan diluncurkannya chapter dua ini, maka konflik dari berbagai karakterpun dimulai. Neji dengan pencarian adiknya (pasti ketebak lah ya siapa adiknya itu), Gaara dengan kehidupannya yang akan dipenuhi mentoring, belajar agama, tugas kuliah dan ujian hidup lainnya, Sasuke dengan pencariannya akan keberadaan Tuhan, Hinata dengan segala kemelaratannya, Sasuke dan Kiba sebagai penggembira (upps, ga kok), dan Sakura. Halaah, banyak amat karakternya. Oh iya, Karin, lupa disebut.
Cerita kedepan akan berfokus pada mereka semua, tidak lupa dengan sedikit2 pengetahuan agama yang saya selipi, karena memang itulah salah satu kekuatan cerita ini. Insya Alllah pengetahuan agama yang saya berikan tidak abal-abal alias saya ambil dari sumber yang benar. Semoga kita semua mendapat ilmu dan pahala ya *nyedot ingus*. Wahahahaha. Dimohon review-annya yaa. Karena itu semangat bagi saya :D
Hatur nuhun
