Sungguh ironis, keperawanannya terenggut oleh bajingan berhati iblis yang ingin dibunuhnya. Tubuhnya gemetar, dipenuhi oleh rasa campur aduk yang menyesakkan ketika dia mencoba berdiri.
Noda merah di ranjang itu sangat mengganggunya, hingga dengan kasar dia merenggut seprai itu dan membantingnya ke lantai. Napas kyungsoo terengah-engah dan entah kenapa kemudian tubuhnya ambruk ke lantai, menangis penuh emosi.
Ingatannya melayang kepada ayah dan ibunya, kepada dendamnya yang belum terbalaskan, dan kepada nasibnya yang membuatnya terperangkap di sini, dalam cengkeraman musuh besarnya.
Kini dia terpuruk di sini, dalam cengkeraman jongin ,dan yang sangat menyakitkan dia tidak berdaya menghadapi lelaki itu.
Kyungsoo mengusap air matanya tiba-tiba. Tidak! Dia sudah cukup menangis, dia harus melawan, dengan segala cara!
Dengan pelan kyungsoo melangkah ke kamar mandi, dia harus mandi dan menghapus semua jejak dan noda yang ditinggalkan jongin di tubuhnya.
Lelaki itu boleh saja menodainya, tetapi bukan berarti lelaki itu memilikinya. Kyungsoo wanita bebas, wanita bebas yang bertekad untuk menghancurkan jongin. Tunggu saja, dia hanya belum punya kesempatan.
Kyungsoo hanya duduk di kursi putih itu putus asa sebab setelah sekian lama berkeliling ruangan, memeriksa setiap sudut di kamar mandi dan jendela, tetap benar-benar tidak ada celah yang bisa digunakan sebagai jalannya untuk melarikan diri.
Putus asa, kyungsoo duduk sambil memeluk lututnya, Kalau begini, bagaimana caranya dia bisa keluar dari rumah ini? Sedangkan keluar dari kamar ini saja dia tidak mampu. Matanya melirik ke pintu kamar. Pintu yang terkunci itu satu satunya jalan.
Tetapi yang bisa keluar masuk dari pintu itu hanya jongin, dan juga seorang lelaki bertampang dingin bernama min joong, yang selalu ada di sebelah jongin setiap ada kesempatan. Lelaki bertampang dingin itu sepertinya ditugaskan untuk mengantarkan makanannya.
Pikiran kyungsoo berputar… memang rasanya tidak mungkin, jika tidak dicoba dia tidak akan tahu…
Seperti sudah diatur, pintu kamar itu terbuka, dan kyungsoo langsung terduduk tegak waspada, menanti siapapun yang akan masuk.
Minjoong muncul di sana membawa nampan makanan, wajahnya datar tanpa ekspresi seperti biasa. Dan kyungsoo langsung sengaja memasang wajah kesakitan,
"Aku minta tolong….," rintihnya sesakit mungkin. Minjoong mengernyit dan mendekat,
"Ada apa nona?'
"Aku… aku mau muntah… tolong aku," kyungsoo meremas perutnya, berusaha semeyakinkan mungkin.
Dan sepertinya minjoong tidak curiga, lelaki itu mendekat, dan menatap kyungsoo,
"Kau mau dibantu ke kamar mandi?" kyungoo mengangguk lemah. Dengan tangan kuatnya, minjoong membantu kyungsoo berdiri dan memapah tubuh kyungsoo yang lunglai ke kamar mandi. Ketika min joong membuka pintu kamar mandi, kyungsoo berakting seolah-olah muntahnya akan keluar, hingga min joong langsung bergegas membawanya ke kamar mandi, Di wastafel, kyungsoo menundukkan kepalanya seolah-olah akan muntah hebat,
"Handuk… tolong….," gumam kyungsoo lemah, melirik ke arah lemari handuk yang ada di ujung ruangan kamar mandi, Masih tanpa curiga, min joong melangkah ke arah lemari handuk. Saat itulah dengan secepat kilal kyungsoo melompat dan berlari ke arah pintu keluar kamar mandi.
Min joong menyadari kalau dia ditipu ketika melihat kelebatan langkah cepat kyungsoo. Dia berusaha mengejar tapi terlambat, kyungsoo yang melompat gesit sudah keluar dari kamar mandi dan membanting pintunya dari luar, lalu menguncinya rapat-rapat.
Dengan napas terengah karena pacuan adrenalin, kyungsoo menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi, memejamkan mata, tak peduli akan gedoran-gedoran marah minjoong dari dalam,
"Kau tidak akan bisa melarikan diri," ancam minjoong, berteriak dari dalam, "Tuan jongin pasti akan menemukanmu, dan aku bersumpah, kalau kau sampai membuat Tuan jongin marah, kau akan menyesalinya"
Teriakan-teriakan minjoong makin keras dibarengi dengan gedoran-gedorannya di pintu, Kata-kata minjoong sempat membuat hati kyungsoo kecut, tapi dia menggelengkan kepalanya,jongin memang lelaki kejam, tetapi kyungsoo tidak boleh takut. Dia harus berani menantang jongin, menunjukkan pada lelaki itu kalau dia bukanlah perempuan yang bisa ditundukkan dengan begitu mudahnya.
Dengan langkah hati-hati, kyungsoo membuka pintu putih yang tak terkunci itu, matanya mengintip sedikit keluar, khawatir kalau-kalau ada penjaga yang menjaga di pintu. Tetapi rupanya jongin beranggapan kyungoo terlalu lemah sehingga tidak perlu menempatkan penjaga di pintu. Lorong itu kosong. Dengan hati-hati kyunsoo melangkah keluar. Suara gedoran-gedoran pintu kamar mandi dan teriakan minjoong masih terdengar ketika kyungsoo keluar, tetapi ketika kyungsoo menutup pintu putih besar itu, suara itu lenyap dan menjadi senyap. Rupanya ruangan putih tempatnya dikurung itu kedap suara.
Kyungsoo melangkah lagi melewati lorong itu. Tidak ada pintu lain di lorong itu, arahnya langsung ke tangga spiral yang besar menuju ke pintu depan. Dengan hati-hati, kyungsoo mengintip dari ujung tangga ke arah bawah. Kosong. Kemanakah para penjaga yang dia lihat kemarin?
Pelan dan waspada, kyungsoo melangkah menuruni tangga. Dia sudah berhasil menyeberangi ruangan dan memegang handle pintu besar itu, ketika suara dingin yang mulai dikenalnya terdengar tepat di belakangnya,
"Kau pikir kau akan kemana?"
Terlonjak kaget, kyungsoo membalikkan badan dan hampir menabrak dada bidang jongin. Lelaki itu berdiri dekat sekali di belakangnya, dan menekannya ke pintu, tatapannya menyala penuh kemarahan, seperti iblis yang siap membakar musuh-musuhnya.
"Berani sekali kau mempermalukan minjoong seperti itu, dan berani sekali kau mencoba melarikan diri dari rumahku," Tangan besar jongin mencengkeram lengan kyungsoo dengan kasar lalu menyeret kyungsoo yang tidak bersedia.
Kyungsoo meronta-ronta, mencoba bertahan, tetapi jongin tidak peduli, tetap menyeret kyungsoo dengan kekuatan besarnya. Hingga kyungsoo mau tidak mau harus terseret-seret mengikuti daripada tangannya putus.
Jongin menyeret kyungsoo menaiki tangga dan kembali menuju kamar putih tempat kyungsoo tadi dikurung.
Di sana beberapa pengawal jongin berkumpul, dan minjoong berdiri di sana. Rupanya dia berhasil menghubungi jongin dan dibebaskan dari kamar mandi.
Kyungsoo mengernyit dalam hati, seharusnya tadi dia lebih cepat, atau mungkin dia pukul kepala minjoong dengan sesuatu sehingga lelaki itu pingsan dan tidak bisa menghubungi teman-temannya dengan segera.
Jongin melepaskan cengkeramannya lalu mendorong kyungsoo ke depan dengan kasar,
"Kau lihat minjoong? Perempuan kecil seperti ini, dan kau, pengawalku yang sudah bertahun-tahun lamanya bisa-bisanya dibodohi seperti ini"
Minjoong hanya terdiam, menatap jongin dengan muka datar, sepenuhnya mengabaikan keberadaan kyungsoo. Hingga kyungsoo mengernyit, apakah lelaki ini memang tidak punya ekspresi?
"Dan kau kyungsoo," jongin melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya, "Ini adalah peringatan untukmu. Kalau kau membodohi salah satu pegawaiku lagi untuk melarikan diri, kau akan membuang satu nyawa, karena aku akan langsung membunuh pegawaiku,"
Tanpa dinyana, jongin menghantam minjoong dengan satu pukulan telak hingga kepala minjoong mundur ke belakang, darah menetes dari sudut bibirnya.
Kyungsoo terkesiap mundur dan makin terkesiap ketika jongin menghajar minjoong, lagi dan lagi tanpa perlawanan hingga lelaki itu jatuh berlutut dengan memar dan bibir berdarah yang mengotori kemejanya.
Jongin mundur satu langkah ketika minjoong terjatuh, dia menoleh dan menatap kyungsoo.
"Kalu lihat itu kyungsoo? Setiap kau mencoba melarikan diri, aku bersumpah akan ada nyawa yang berkorban untukmu. Mereka semua yang lengah hingga memberi kesempatan padamu untuk lari, akan kubunuh!,"
Dengan kejam jongin mengarahkan pukulannya sekali lagi ke arah minjoong. Kyungsoo berteriak, spontan mencengkram lengan jongin yang terayun, mencegah jongi menghabisi minjoong.
"Jangan…. ! Jangan ! Aku yang salah, aku yang salah! Jangan bunuh dia! Aku yang salah ! ", teriaknya panik.
Jongin terdiam dan mematung, ketika akhirnya dia menatap kyungsoo, matanya sedingin es. Lelaki itu tampak amat sangat marah kepada kyungsoo "Jadi kau mengaku salah..," jongin mundur lagi dan kyungsoo merasa lega luar biasa karena lelaki itu tidak jadi melampiaskan kemarahannya kepada minjoong yang sudah berlutut tak berdaya di lantai.
"Aku hanya ingin keluar dari tempat ini," teriak kyungsoo marah, frustrasi karena jongin menggunakan ancaman licik untuk mencegahnya melarikan diri.
"Kau milikku, dan tidak ada milikku yang bisa keluar dari sini tanpa seizinku"
"Atas dasar apa?," kyungsoo berteriak marah, "Aku bukan milik siapa-siapa, apalagi lelaki jahat sepertimu. Aku cuma mau keluar dari sini, aku muak terhadapmu, muak atas semua yang ada di sini….Aku cuma mau keluarr!
"Kau mau keluar hah?," jongin mencengkeram lengan kyungsoo lagi, di tempat yang sama hingga kyungsoo merasa lengannya memar,
"Mari kita keluar!"
Tak ada yang berani menolong ketika kyungsoo berteriak-teriak dalam seretan jongin.
Sepertinya kemarahan jongin adalah hal biasa di rumah ini dan tidak ada satupun yang berani melawan laki-laki itu. Jongjn membawa kyungsoo ke ujung lorong, ke jendela kaca lantai dua yang mengarah langsung ke balkon.
Dengan kasar jongin mendorong kyungsoo keluar lalu mendesaknya ke ujung balkon, hingga kepala kyungsoo mengarah ke bawah dan menatap ngeri ke kolam renang yang sangat luas di bawahnya.
Kolam itu tampak sangat bening dan dalam. Kyungsoo bergidik. Dia tidak bisa berenang, apakah lelaki ini akan mendorongnya ke bawah?jongin benar-benar mendesak tubuh kyungsoo sampai ke ujung balkon, membuat kepalanya terbungkuk ke bawah, sementara tangannya di kekang oleh jongin di belakangnya,
"Kau lihat itu? Salah sedikit aku melemparmu ke bawah, kepalamu bisa pecah terkena ubin pinggiran kolam," napas jongin sedikit terengah oleh kemarahan, "Kau perempuan tak tahu diuntung, harusnya kau bersyukur atas kebaikan hatiku padamu dan keluargamu, hingga kau masih bisa hidup sampai sekarang…. Tahukah kau kalau aku bisa dengan mudah mencabut nyawamu kapanpun aku mau"
"Tuhan yang berhak mencabut nyawaku, bukan iblis seperti kau." kyungsoo berteriak berusaha menantang meski jantungnya makin berpacu kencang diliputi ketakutan luar biasa. "Perempuan tidak tahu terima kasih," jongin mendorong kyungsoo lagi sampai ke ujung, "Ada kata-kata terakhir?"
Kyungsoo memalingkan kepalanya sehingga tatapan matanya yang penuh kebencian bertemu dengan mata dingin jongin,
"Terima kasih karena sudah membebaskanku" Lalu tubuh kyungsoo terlempar, melayang di udara kemudian meluncur ke bawah, ke kolam renang yang dalam itu. Setidaknya kalau aku mati, aku sudah mencoba membalaskan dendam kita, Ayah….
Sedetik kemudian, tubuh kyungsoo terbanting menembus permukaan kolam lalu tenggelam. Kyungsoo tidak berusaha menyelamatkan diri, membiarkan tubuhnya makin tenggelam dalam kolam itu. Matanya menggelap dan memejam, dan entah berapa banyak air kolam yang tertelan olehnya. Napasnya terasa sesak dan paru-parunya terasa mau pecah.
Oh Tuhan… aku akan mati….
Ketika kyungsoo sudah sampai di titik akan kehilangan kesadarannya, terdengar ceburan lain yang tak kalah kerasnya di kolam.
Tak lama kemudian, sebuah lengan yang kuat merengkuhnya dan mengangkat tubuhnya, lalu membawanya ke permukaan. Tubuh lemas kyungsoo dibaringkan di lantai di pinggiran kolam, lalu dia merasakan perutnya di tekan dengan ahli hingga aliran air yang tertelan keluar.
Kyungsoo memuntahkan banyak air dan terbatuk-batuk kesakitan. Paru-parunya masih terasa begitu sakit dan nyeri Siapakah penolongnya? Apakah dia memang belum diizinkan mati? Tangan kuat itu terus menekan hingga seluruh cairan terpompa keluar dari perut kyungsoo. Mata kyungsoo mulai buram, kesadarannya semakin hilang, ketika suara itu terdengar tenang di atasnya,
"Panggil Dokter"
Itu suara jongin. Apakah jongin yang menyelamatkannya? Lagipula… kenapa lelaki itu menyelamatkannya?
Tbc
Terimakasih buat para pembaca dan yg ngereview.
