DISCLAIMER : Masashi Kishimoto

Asal cerita : Naruto

Author : Saiaaah. Hahahaha

Genre : Romance, Drama, dan Agama pastinya.

Warning : OOC, AU, lebay, jablay, ahaaay

Haloo Minna san. Akhirya kita masuk ke chapter 3 yaaa. Agak telat updatetannya karena saya lagi banyak ujian belakangan ini, ujian hidup maksudnya nyahahahahah*ditabok*. Terimakasih untuk semua readers dan reviewers yang telah meluangkan waktunya membaca cerpen saya yang amatir ini. Semoga bisa memberikan kesenangan dan manfaat yaa. Okee, chapter 3 ini lebih berkisah pada konfrontasi Hinata dan Gaara, muatan agamanya lebih sedikit dari chapter sebelumnya (ntar d chapter 4 dst yaa), cerita lain kayak kisah sasuke dll menyusul di chapter depan yaa. Happy reading. Oh iya, ini tidak boleh lupa

Spescial thanks to :

Yuuana : Terimakasih yaa,saya juga jadi inget dosa-dosa saya yang entah segede

Haruno Aoi : Aaah, mba aoi mah suka merendah, konflik d fic2 mba bagus2 , jadi mba, masih pertanyaan yang sama, mana lanjutan es krimnya?*ditabok* Hinata di sini belum berjilbab mba. Hehehe.

Ryuzaki'89 : Makasih ryuzaki san, tetep minta kritik, saran, dan pujiannya

Kana Seiran : Aduuh, saya jadi terharu dipuji begini, makasih banyak yaa. Semoga ceritanya bs menginspirasi.

Mayachan : Niiih, adegan berantem GaaHina-nya udah saya

Mayraa: Makasih ya mayraa, ga saya bikin sinetron deh tapi telenovela


Bab III- I'm Sorry-

[Naruto's house]

Naruto memandangi layar hapenya kesal. Bukan karena tidak bisa membuat sambungan telepon karena pulsanya habis, bukan pula karena download-an lagu-lagu dangdutnya belum masuk ke hapenya, dan tentu saja bukan karena sms romantisnya ke Kiba belum di balas (Naruto teriak "Najis!").

Gak.

2011 Feb.12 09:05

From : Elektro08 Gaara

"Nih anak, ngajak gue perang yak! Jawabannya bikin gue pengen nelen sendal!" Naruto marah-marah menatap balasan sms dari Gaara di layar handphone-nya. Satu menit yang lalu dia baru saja mengabari Gaara mengenai kumpul kelompok untuk tugas Kes-Ling mereka besok, Minggu jam 10 pagi di kampus. Balasan sms dari Gaara yang sangat cepat awalnya membuat Naruto senang, namun isi smsnya membuat Naruto murka. Tanpa alasan yang jelas Gaara hanya mengetikkan kata 'gak' kepada Naruto sebagai jawaban dari pertanyaan Naruto akan kesediannya ikut dalam kumpul kelompok besok. Dengan beringas dimasukkannya Samsung Corby kuning cerianya ke dalam saku celana sontognya.

"Tidak bisa dibiarkan! Gak Gaara, gak Sasuke, sama aja dua-duanya!" Naruto mengambil jaket di dalam lemarinya dengan kesal. Dia berencana akan menyambangi Gaara ke rumahnya, baru setelah itu mengurus Sasuke yang belum juga membalas smsnya. Just for your information, Sasuke sebenarnya saat ini masih terlelap dengan damainya setelah tadi malam ngeronda—eh, maksud saya kelabing sampe subuh.

"Naruto, mau kemana?" Kushina yang sedang memasak di dapur melongokkan kepalanya dari balik pintu. Naruto yang sedang mencari-cari kunci motor di lemari ruang makan menoleh menatap ibunya.

"Ngg, mau ke rumah Gaara, Bun." Naruto memasukkan tangannya ke dalam laci lemari. Masih mencari-cari kunci motornya.

"Eeehh, kamu kan udah janji mau bantuin ayah cabut rumput!" Kushina protes mendengar jawaban anaknya.

"Dapat—eeh, ntar Bun. Masalah yang ini lebih penting, menyangkut kemaslahatan ummat." Naruto menjawab dengan ekspresi sok penting sambil menggenggam satu set kunci motor ditangannya.

"Tidak bisa!" Kushina melotot memandang anaknya. Naruto jiper, ibunya kalau ngamuk bisa melakukan tindakan tak terduga. "Dari kemaren kamu bilang nanti-nanti terus! Kasihan kan ayah kamu dari beberapa hari lalu ngebabat rumput sendiri, sampai-sampai encoknya kumat!"

Naruto mingkem, membayangkan ayahnya –Namikaze Minato—mengenakan berlembar-lembar koyo di punggungnya plus sarung sebagai pengganti celana dan menirukan iklan di tv "Aduh, pinggang babeh encok!"

Naruto menutup mulutnya, takut senyumnya dilihat sang bunda. "Beneran, Bun. Abis dari rumah Gaara langsung Naruto kerjain deh." Naruto merayu Kushina. Kushina sudah mau melontarkan kembali rentetan amarahnya ketika sesosok perempuan lain yang sebaya dirinya muncul di samping Kushina, Ibunya Hinata.

"Biar aye aja nanti yang kerjakan, Bu Kushina. Kasihan Den Narto." Ibu Hinata yang baru saja diterima kerja hari ini oleh Kushina berusaha membela Naruto. "Den Narto, biar bibi aja yang cabut rumputnya." Ibu Hinata masih melontarkan kalimat penyelamatan tanpa menyadari kedua manusia di dekatnya sedang terperangah memandangnya, lebih tepatnya mendengar ucapannya.

Narto? Buset dah, nama gue disamain sama sodaranya Paijo! Naruto protes dalam hati.

"Makasih, Bi. Tapi nama saya Naruto, ada huruf 'U' sebelum huruf 'T'. Masak udah cakep begini dipanggil Narto." Naruto cengengesan.

"Aduh, maapin bibi, Den. Bibi kurang denger soalnya. Iya ya, masak udah cakep begini namanya bibi ganti-ganti begono ya. Maapin ya, Den." Ibu Hinata mengakhiri ucapan maafnya dengan senyum lima jari.

"Gak usah, Bi. Nanti Naruto keenakan. Biar dia saja yang kerjakan, bibi bantu saya bikin kue saja ya." Kushina akhirnya menemukan kembali suaranya setelah memastikan nama anaknya –yang dia buat dengan sepenuh hati—akhirnya diucapkan dengan baik dan benar oleh Ibu Hinata. "Naruto, jangan lupa lagi sama janji kamu!" Kushina menunjuk Naruto dengan centong nasi yang digenggam dari tadi di tangannya.

"Sip, Bun. Beres itu." Naruto tersenyum lebar sambil mencium punggung tangan kanan ibunya dan mengangguk singkat pada Ibu Hinata. "Bun, Bi, Naruto pergi dulu ya. Assalamu'alaikum." Naruto melesat ceria menuju pintu keluar dan menghentikan langkahnya sebentar, baru ingat untuk menyalami satu lagi penghuni rumah yang sedang berbaring di kasur karena encok yang kumat. "Ayaaahhh, Naruto pergi dulu!"

[Rumah Gaara]

Gaara sedang mengunyah satu baskom keripik pisang ketika pelayan rumahnya, Mak Chiyo tergopoh-gopoh menghampiri dirinya.

"Den," Mak Chiyo berdiri di samping Gaara, berusaha mengatur napasnya karena tergesa-tergesa menghampiri tuannya. Gaara menolehkan kepalanya dari layar televisi, menatap wanita tua di sampingnya tanpa bersuara. "Ada temennya aden di luar, katanya namanya Naruto." Mak Chiyo melanjutkan ucapannya.

Gaara menaikkan alisnya. Sekitar dua puluh menit yang lalu, dia baru saja membalas sms Naruto. Dan kehadiran tiba-tiba Naruto di rumahnya membuatnya heran.

"Bawa ke sini aja, Mak." Gaara berkata singkat, kembali memutar kepalanya menatap layar televisi yang sedang memutar DVD kartun kesayangannya. Salah satu tokoh kartun favoritnya, Sinchan, sedang melontarkan kalimat lucu nan mesum kepada temannya Boo. Bagi kebanyakan orang yang memiliki kadar humor dan ekspresi normal, adegan Sinchan tersebut tentu cukup untuk memanggil keluar gelak tawa atau minimal sedikit senyuman, tapi tidak dengan Gaara. Sambil tetap memakan keripik pisang dari baskom yang nangkring nyaman di pangkuannya, ekspresi Gaara tetap datar. Buset, Sinchan bisa nangis kalau tahu ada orang macam ini yang gak mempan sama tingkah menggemaskannya.

"Baik, Den." Mak Chiyo yang mendengar jawaban Gaara segera pergi untuk memberitahu Naruto. Beberapa menit kemudian, Naruto sudah ada di ruangan yang sama dengan Gaara.

"Hei, Gaara!" Naruto menyapa Gaara dengan ketus dan mengambil tempat duduk di samping Gaara. Gaara yang merasa namanya dipanggil menolehkan wajah putih mulusnya pada Naruto. Naruto memandangi Gaara lekat-lekat. Rambut merah Gaara berantakan, mencuat kesana-kemari persis kemoceng bulu ayam di rumahnya, pakaiannya kaos tanpa lengan ditambah celana selutut, dan bau badannya -Yah, badannya memang tidak bau sih, tapi pengamatan kilat Naruto cukup untuk menyimpulkan bahwa Gaara baru bangun tidur.

"Ada apa? Sms gue gak nyampe?" Gaara bertanya dengan nada polos pada Naruto. Naruto menyipitkan matanya, kesal.

"Ada apa, ada apa! Sms elu tuh yang ada apa? Masak gue sms panjang lebar elu balesnya cuman 'gak' doang!" Naruto mencomot keripik pisang Gaara dengan kesal.

Gaara menatap keripik pisangnya yang berpidah tangan dan sedang digilas oleh geraham Naruto.

"Jadi, cuman itu alasan lu datang ke sini?" Gaara menatap Naruto dengan tatapan tanpa ekspresinya yang biasa. "You're wasting my time." Gaara menambahkan dan sukses membuat Naruto hampir kejang saking marahnya.

"Excusme! Gue ke sini bukan buat dikatain membuang-buang waktu lu yang berharga! Tapi buat minta penjelasan kenapa elu gak bisa datang besok! So you better have good explanation, or you'll be sorry, Sayang!" Naruto berkata sok nginggris sambil memberikan tatapan mautnya pada Gaara. Tiga tahun satu satu kelas dengan Gaara di kampus tetap belum bisa membuat Naruto menjadi lebih sabar mendengar komentar-komentar Gaara yang irit dan seringkali menusuk kalbu.

Gaara sontak menolehkan kepalanya pada Naruto begitu mendengar kata 'sayang' di akhir ocehan teman berambut kuning di sebelahnya. Sekarang baru Gaara mengerti kenapa Sasuke meneriakkan kata 'Najis' dengan sepenuh hati saat dia menggoda Sasuke dengan kata 'sayang' seperti yang baru saja Naruto lakukan padanya. Ternyata kata itu memang mampu mendirikan bulu roma dan merusak mood.

"Gue emang gak bisa ikut. Bokap gue balik dari Singapore besok, gue di suruh jemput." Gaara menjawab, masih memandang Naruto dengan tatapan miskin ekspresi. "Dan, jangan pernah panggil gue 'sayang' lagi." Gaara menambahkan sambil sedikit menyipitkan matanya.

"Laah, kan ada supir." Naruto melontarkan protesnya, tidak peduli dengan ancaman terakhir Gaara.

"Bokap gue gak mau." Gaara kembali memalingkan wajahnya ke layar TV, "Gue kira si Hinata itu udah ngasih tau kalo gue gak mau datang." Gaara melanjutkan ucapannya, teringat pada gadis berambut panjang yang kemarin malam marah-marah padanya.

"Hinata?" Naruto mengernyitkan alisnya, "Lu kenal dia? Kok bisa?"

Gaara terdiam sesaat sebelum menjawab. "Kemaren malam gue ketemu dia di tempat makan, tiba-tiba dia ngajak kenalan gue dan ngancem mau nyoret nama gue dan Sasuke kalo kita berdua gak datang."

Naruto makin bingung mendengarnya. Hinata? Mengancam? Naruto seperti tidak percaya mendengarnya.

"Ngg, gue juga baru kenal sama Hinata, tapi kayaknya dia bukan tipe cewek preman deh. Sebenarnya gimana sih ceritanya?" Naruto memandang Gaara ingin tahu. Kalaupun saat ini Gaara merasa sebal pada Naruto karena telah mengganggu waktu luangnya, ekspresi wajahnya tidak menunjukkan demikian. Ditatapnya Naruto yang sedang cengengesan disampingnya. Gaara sadar dia tidak akan bisa mengusir laki-laki ini keluar sebelum menjelaskan semuanya. Maka Gaara memutuskan menceritakan kejadian semalam pada Naruto.

"Hmmm,, gitu toh, pantes aja dia marah." Naruto mengangguk-angguk paham. "Gue paham kalo elu emang dari lahir udah begini, Gaara. Tapi orang-orang yang gak kenal elu kayak gue kenal elu dengan baik pasti banyak yang sakit hati dengan sikap dingin lu itu!" Naruto berkomentar panjang lebar, sok kenal Gaara luar dalam. Gaara menaikkan alisnya mendengar ucapan Naruto.

"Bukan urusan gue kalo mereka gak bisa nangkap maksud gue. Yang jelas, tuh cewek yang bikin gue jadi beneran gak mau datang."

"Jadi, kalo kita asumsikan tragedi semalam gak terjadi dan lu gak harus jemput bokap, elu sebenernya mau datang?"

"Maybe," Gaara menjawab singkat. Naruto memandangnya, seperti tengah berpikir.

"Jam berapa lu nyampe lagi ke Bandung?" Naruto tiba-tiba bertanya.

"Kenapa?" Gaara memandang Naruto curiga.

"Kita nunggu lu pulang dari Jakarta aja, tempat kumpulnya kita ganti jadi di rumah lu, biar lu gak capek." Naruto tersenyum licik pada Gaara.

"No way!" Gaara menjawab cepat.

"Hah, kenapa? Kan lu sendiri yang bilang tadi kalau lu sebenarnya mau datang kalo gak harus jemput bokap lu!" naruto protes. Gaara hanya memandang layar TV-nya.

"Hinata. Gue males ketemu tuh cewek." Gaara mengeluarkan alasannya.

"Kagak bisa! Jangan bawa urusan pribadi, ni tugas punya kita bersama. Lu jangan kayak anak kecil gitu dong, si Hinata kan gak maksud ngajak elu berantem!" Naruto menarik rambutnya frustasi.

"Kalo gitu dia harus minta maaf sama gue, di depan yang lain." Gaara memasang senyum liciknya yang sukses membuat Naruto bengong.


[Minggu, menjelang ashar]

Hinata termenung di dalam angkot Lembang yang berjalan merayap di sepanjang jalan Setiabudhi. Minggu, akhir pekan yang identik dengan jalanan macet, kontribusi mobil berbagai plat yang berkunjung ke Bandung. Hinata mendesah, mengingat kembali perbincangannya dengan Naruto di telepon. FYI, Naruto dan Hinata sama-sama tidak tahu identitas orang tua masing-masing, yang artinya Naruto tidak tahu kalau bibi yang bekerja di rumahnya adalah ibunya Hinata. Oke, back to the story, Kemarin siang Naruto menelepon hapenya.

"Ayolah Hinata, Gaara dan Sasuke itu aset buat kelompok kita. Bukan cuman karena otak mereka yang pintar, tapi mereka bisa kita berdayakan untuk tugas kedua nanti. Kata senior gue yang udah pernah ngambil mata kuliah ini, tugas kedua ntar itu ribet. Kita gak bisa ngerjain bertiga doang." Suara Naruto yang sedikit memaksa terdengar dari seberang telepon.

"Tapi kan mereka gak mungkin bolos ngerjain tugas terus-terusan. Aku sudah bilang kalau nama mereka bisa dicoret dari kelompok." Hinata tetap pada pendapatnya.

"Kamu gak tahu sih seberapa nekatnya Gaara. Dia itu pede banget sama kemampuan otaknya. Tugas cuman nyumbang 15-20% untuk nilai akhir kita, sisanya dari UTS dan UAS. Dia masih tetap bisa lulus asal nilai UTS dan UASnya diatas 85, dicoret dari kelompok bukan masalah buat dia. Sasuke juga bakal ngikutin Gaara, mereka itu udah kayak kembar Srikandi!"

"Kembar Srikandi?" Hinata bertanya heran.

"Eh, maksud gue kembar siyam." Naruto meralat ucapannya. Rupanya dangdut benar-benar telah merasuk dalam dirinya, sehingga kalimatnya pun tak bisa lepas dari perbendaharaan dangdut.

"Tapi mereka seenaknya, Naruto." Hinata masih memperjuangkan pendapatnya. Hinata dapat mendengar desahan napas Naruto di handphonennya.

"Hinata, gue tahu kamu itu cewek baik. Masalah kalian semalam itu cuman salah paham. Kamu gak kenal Gaara dan Gaara juga belum kenal kamu, jadi komunikasi kalian gak bisa berjalan normal –wajar aja." Naruto berkata lembut. "gue udah ngomong sama Gaara, dia sebenarnya gak maksud ngajak kamu berantem atau apa. Tapi kalian sama-sama salah interpretasi. Jadi please, salah satu ngalah ya?" Naruto kembali memohon pada Hinata.

Kenapa musti aku yang minta maaf? Lagi pula siapapun yang liat muka laki-laki itu pasti tidak akan salah menafsirkan ekspresi mukanya yang menyebalkan itu. Hinata protes dalam hati.

"Hinata?" Suara Naruto kembali terdengar di telepon. Hinata tersadar dari lamunannya. Memang dasar Hinata perempuan yang baik dan berhati lembut, akhirnya meski dengan keengganan dia meng-iyakan permohonan Naruto.

"Oke, besok aku minta maaf sama dia." Hinata menjawab lesu. Naruto yang mendengarkan jawaban Hinata sebenarnya merasa tidak enak pada gadis itu. Tapi demi kelompok Kes-Ling mereka yang harus dalam personil lengkap, Naruto terpaksa menyanggupi syarat yang Gaara ajukan. Syaratnya simpel, Hinata minta maaf sama Gaara, Dan Naruto yakin Gaara tidak akan menerima tawar-menawar yang lain. Dasar laki-laki kepala batu! Naruto hanya bisa mengumpat dalam hatinya.

Hinata, gadis manis baik hati yang tidak suka berkonfrontasi dengan orang lain. Sebisa mungkin dia akan menghindarinya. Tapi Hinata juga heran sendiri, kenapa malam pada saat dia bertemu Gaara dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak marah-marah terhadap pemuda berambut merah itu. Dan permintaan maafnya nanti pasti tidak akan dibuat mudah oleh laki-laki minim ekspresi itu.

Hinata menyetop mobil sejuta ummat alias angkot yang ditumpanginya di depan Rumah sozis. Naruto mengatakan padanya bahwa komplek rumah Gaara ada di dekat Rumah sozis, jalan sedikit ke atas lalu belok kiri. Hinata mengikuti petunjuk Naruto yang sudah terekam jelas di otaknya, dan lima belas menit kemudian Hinata sudah berdiri didepan sebuah rumah modern dua lantai dengan pekarangan luas, dan tambahan lima menit lagi Hinata sudah duduk manis di ruang besar (Hinata menganggapnya ruang santai) yang berisi rak buku, sofa dan meja besar, TV plasma, dan berbagai perelatan elektronik lainnya yang tidak akan mampu dibeli Hinata kecuali dia bersedia menjadi istri kesekian Hugh Hefner, si bos Playboy.

"Silahkan, Neng." Seorang wanita tua masuk kedalam ruangan sambil membawa baki berisi minuman dan toples-toples makanan. Hinata yang tengah mengagumi ruang santai keluarga Gaara menolehkan kepalanya.

"Ah, iya, terimakasih." Hinata tersenyum manis, "Ngg, apa yang lain belum datang, Bu?"

"Belum, Neng. Tapi Den Gaara sebentar lagi turun dari kamarnya. Tunggu saja ya, Neng." Mak Chiyo kemudian bergegas pamit dan meninggalkan Hinata yang menjadi resah mendengar ucapannya. Hinata mengerling jam dinding di ruangan itu, 15.13. Dia terlalu cepat berangkat dari rumahnya.

Gawat!

Saat itulah sesosok tubuh bergender laki-laki masuk ke dalam ruangan. Gaara dengan kaos dan jeans gombrang berdiri beberapa meter dari tempat hinata duduk. Matanya menatap Hinata dari atas ke bawah. Hinata balas menatap Gaara dengan canggung. Hinata benar-benar benci dengan situasi ini.

Gaara mengambil tempat duduk di sofa single di samping kanan Hinata. Kalau bukan karena ayahnya yang menyuruhnya segera menemui 'tamu'nya, Gaara tidak akan mau menemui Hinata apalagi menemaninya sambil mengobrol menunggu yang lain datang, jelas bukan sifat seorang Gaara. Tapi kata-kata ayahnya adalah perintah, maka dengan kekesalan di dada Gaara turun menemui Hinata.

Sial, ni cewek nyusahin aja. Siapa suruh datang terlalu cepat.

Gaara memandangi Hinata yang tampak tidak nyaman hanya berdua di satu ruangan dengannya. Tiba-tiba Gaara tersenyum tipis, menyadari ketidaknyamanan gadis itu malah membuatnya ingin membuat Hinata merasa semakin tidak nyaman.

"Aku minta maaf soal kejadian malam itu." Hinata membuka pembicaraan. Jika dia harus minta maaf, maka sekarang adalah saat yang tepat, hanya ada Gaara di ruangan ini.

Gaara menaikan salah satu alisnya. "Apa Naruto gak bilang kalau lu harus minta maaf di depan yang lain?" Hinata terkejut mendengarnya, Naruto memang tidak bilang apa-apa soal itu.

"Kenapa harus di depan yang lain? Yang penting minta maaf, Kan?" Hinata mulai kesal.

"Karena gue pengennya begitu." Gaara memandang malas ke arah Hinata.

Childish. Mungkin seperti itulah Gaara saat ini dipandangan Hinata. Tetapi Hinata tidak tahu bahwa Gaara yang childish dan keras kepala ini bertindak seperti ini karena merasa ditantang oleh Hinata. 20 tahun hidup dalam kemewahan dan keinginan yang selalu dituruti, menjadikan Gaara sebagai tuan muda yang tidak peduli dengan kesopanan menjaga perasaan orang lain. Dia tidak peduli pada perkataan atau sikapnya yang seringkali menyakiti hati orang lain. Maka, ancaman Hinata malam itu, yang menjadi ancaman pertama seorang gadis padanya terasa melukai harga dirinya. Dan Gaara tidak suka ada orang -apalagi gadis yang baru dikenalnya- memberikan ancaman padanya, tidak satu katapun.

"Dan kenapa aku harus nurutin keinginan kamu yang seenaknya itu?" Hinata berusaha menahan perasaan marahnya. Gaara menatap Hinata intens kemudian tersenyum licik pada pada Gadis di sampingnya.

"Karena, Nona—" Gaara mencodongkan tubuhnya ke arah Hinata "—lu gak punya pilihan lain. Lu gak bisa ngeluarin gue dari kelompok. Naruto gak bakal rela kalau gue dan Sasuke keluar dari kelompok. Kecuali kalau lu pengen nyari kelompok lain." Gaara mengakhiri ucapannya dan menarik kembali tubuhnya pada sandaran sofa. Hinata menatapnya benci.

Gaara menyadari tatapan benci Hinata yang diarahkan padanya. "Oops, Jangan marah sama gue. Lu duluan yang nyari masalah. Gue cuman melanjutkan apa yang sudah lu buat." Gaara menatap dingin pada Hinata.

Saat Gaara dan Hinata saling berusaha menciptakan es batu dari mata masing-masing, Sasuke masuk ke dalam ruangan.

"Sori gue te—" Sasuke menggantungkan kalimatnya ketika dilihatnya Gaara sedang bertatap-tatapan dengan seorang gadis yang tidak dikenalnya. Dari aura mistis bin horror yang menggantung di ruangan itu, Sasuke sebenarnya tahu kalau Gaara tidak sedang kencan romantis dengan gadis yang kini tengah memandang Gaara benci.

Benci? Gadis macam apa pula yang berani menatap Gaara seperti itu? Biasanya tatapan mereka gak jauh-jauh dari ekspresi takut atau terpesona. Apa-apaan cewek ini? Sasuke memandang sedikit takjub pada Hinata.

"So, apa gue menganggu kencan-tatap-romantis kalian?" Sasuke tidak bisa menahan dirinya untuk menggoda Gaara, yang segera menyesali ucapannya setelah mendapat tatapan maut dari Gaara dan Hinata sekaligus.

"Err, oke. Jadi kalau kalian tidak sedang kencan, berarti dia anggota kelompok kita juga ya?" Sasuke mengedikkan kepalanya ke arah Hinata. Gaara mengangguk singkat.

Sungguh sopan sekali. Hinata memandang Sasuke. Benar-benar dua orang ini, sikap mereka berdua mampu membuat tensi seseorang naik.

"Tumben datang cepat?" Gaara menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul 15.21.

"Sial! Jadi si Naruto itu nipu gue. Dia bilang kerja kelompoknya dimulai jam tiga." Sasuke menjawab kesal.

"Kayaknya dia bikin keputusan tepat." Gaara mengomentari. Sasuke mendengus sebal. Saat itu terdengar sayup-sayup suara azan Ashar. Hinata berencana akan sholat Ashar sekarang, tapi dia bingung mau sholat di mana.

"Ehmm, aku mau ikut sholat. Boleh pinjam ruangan?" Hinata menanyai Gaara yang sukses menarik perhatian Gaara dan Sasuke sekaligus. Gaara menatap Hinata dengan ekspresi tak terbaca, Sasuke kini memandang Hinata dengan tatapan tertarik. Tepat saat itu Mak Chiyo masuk ke dalam ruangan membawakan minuman untuk Sasuke.

"Mangga diminum, Den." Mak Chiyo meletakkan satu gelas jus jeruk dingin kesukaan Sasuke di atas meja. Sasuke tersenyum sambil mengangguk.

"Mak, dia mau numpang sholat." Gaara berkata pada Mak Chiyo sambil mengedikkan kepalanya pada Hinata. Mak Chiyo yang biasanya menjadi satu-satunya orang yang sholat di rumah besar ini memandang Hinata dengan takjub.

"Ooh, boleh, Neng. Ayo, ikut mak ya." Mak Chiyo menatap Hinata ramah. "Mak punya mukena cadangan di kamar."

"Terimakasih, Mak." Hinata memutuskan memanggil Mak Chiyo dengan sebutan Mak. "Tapi saya juga bawa mukena sendiri." Hinata berkata sopan. Sasuke melebarkan matanya. Gaara memandangi Hinata. Maka dengan senang hati Hinata meninggalkan kedua laki-laki yang sudah membuat tensinya naik dan mengikuti Mak Chiyo keluar.

"Woow, bawa mukena sendiri. Biasanya cewek-cewek lebih memilih bawa make-up, kan?" Sasuke mengeluarkan isi kepalanya. Gaara hanya diam. "Pantes tuh cewek lebih tertarik buat nabok elu tadi ketimbang nyium elu. Ternyata emang cewek yang agak beda, ya?"

"Lu pikir mentang-mentang sholat udah jaminan dia cewek baik-baik? Open your eyes, Sas! Zaman sekarang juga banyak perempuan jalang berkerudung." Gaara berkata pedas, yang membuat Sasuke mengangkat bahu. Tapi meskipun begitu, pertanyaan sederhana Hinata tentang sholat tadi cukup membuat Gaara merasa heran. Heran, karena selama ini Gaara tidak terbiasa bergaul dengan gadis seperti Hinata, yang bergegas untuk sholat begitu mendengar azan. Heran, karena Hinata yang bisa sangat garang padanya bisa bersikap lembut pada orang dengan status pembantu seperti Mak Chiyo, satu hal yang jarang dilakukannya pada orang yang sudah mengasuhnya sejak ia kecil.

Di bagian lain dari rumah Gaara yang luas, Hinata baru saja selesai mengambil wudhu dan sedang mengikuti Mak Chiyo ke dalam kamarnya. Kamar sederhana khas emak-emak dengan bau minyak kayu putih, minyak nyonyong, dan minyak telon yang bercampur di udara. Buset deh Mak.

"Hmm, apa yang sholat disini cuman Mak?" Hinata bertanya.

"Iya, Neng." Mak Chiyo menjawab sedih. "Den Gaara dan keluarganya sebenarnya Islam, tapi ya begitulah Neng. Cuman sekedar status di KTP saja."

Hinata meng-O saja mendengar jawaban Mak Chiyo.

"Gaara itu, orangnya menyebalkan ya, Mak?" Pertanyaan itu tiba-tiba meluncur dari bibir Hinata. Hinata yang merasa pertanyaannya sedikit tidak sopan segera membekap mulutnya.

"Hahaha, Neng ini perempuan pertama yang sepertinya gak suka sama Den Gaara. Biasanya perempuan yang lain menanyakan makanan kesukaan, hobi, atau lain-lain menyangkut kebiasaan Den Gaara." Mak Chiyo terkekeh menatap Hinata.

"Mmm, habis di mata saya dia memang menyebalkan, Mak. Eh, maaf, bukan bermaksud menjelek-jelekkan Gaara." Hinata buru-buru menambahkan.

"Gak papa, Neng. Memang sikap Den Gaara tidak bisa dibilang menyenangkan juga sih ya. Neng, Mak minta tolong boleh?" Mak Chiyo tiba-tiba berubah serius. "Mak tahu Neng baru kenal sama Mak, tapi gak tahu kenapa Mak kok ngerasa Neng ini perempuan baik-baik ya, gak seperti Neng Kari—eh, maksud mak perempuan lain yang biasa deket sama Den Gaara. Karena itu mak minta tolong eneng buat ngingetin Den Gaara kalau dia berbuat aneh-aneh. Kalau bisa diingatkan sholat juga, Neng." Mak Chiyo berkata panjang lebar, tanpa sadar membuat Hinata hampir terkena epilepsi mendadak.

Tidak! Tidak mungkin! Gak masuk akal! Hinata megap-megap dalam hati.

"Eeh, Mak. Saya juga baru kenal dengan Gaara, dan rasanya gak mungkin bisa dekat dengan dia apalagi sampai mengingatkan yang begituan segala. Bukannya saya gak mau bantu, tapi—" Perkataan Hinata terputus saat Mak Chiyo menggenggam tangan Hinata dengan penuh harap.

"Saya gak tau mau minta tolong sama siapa lagi, Neng. Biarpun Den Gaara begitu, saya sayang sekali sama Den Gaara dan kakak-kakaknya, mereka sudah saya anggap cucu saya sendiri. Saya kasihan lihat Den Gaara dan kakakknya, Neng."

Hinata menatap frustasi Mak Chiyo yang sedang menggenggam tangannya. Hinata lebih suka menyuruh buaya kayang daripada menyuruh Gaara sholat, setidaknya buaya tidak akan memberikan respon mendengar kata-katanya, paling dianggap orang gila saja oleh orang lain .

"Sa-saya coba ya, Mak." Hinata akhirnya menyerah dibawah tatapan mata memelas Mak Chiyo. Mak Chiyo pun secepat kilat berubah ceria dan segera meninggalkan Hinata setelah menjejalkan sajadah ke tangan Hinata.

Sepuluh menit kemudian setelah shalat Ashar

Hinata sedang setengah jalan menuju ruang santai keluarga Gaara ketika sebuah suara super besar menghantam indra pendengarannya. Suara Naruto. Naruto sepertinya sedang tertawa-tawa heboh sebelum akhirnya teriakan Kiba yang menyuruh Naruto tutup mulut sedikit mengendalikan situasi.

"Aah, Hinata." Naruto berkata senang saat melihat Hinata menyembul dari balik tembok. Dengan enggan Hinata kembali melangkahkan kakinya memasuki ruangan santai tersebut. "Habis sholat, Ya?" Tanya Naruto ceria. Hinata mengangguk.

"Kalian... gak sholat dulu?" Hinata bertanya pada semua orang yang ada di ruangan. Dia tidak tahu siapa saja yang beragama Islam di ruangan itu, yang dia tahu hanya Gaara. Dan sebenarnya pertanyaannya tersebut merupakan pertanyaan tersembunyi untuk Gaara, karena jelas tidak mungkin jika Hinata tiba-tiba berkata "Heh mata panda, sana sholat!" Tidak-tidak-tidak, dia masih menyayangi nyawanya.

"Nanti." Naruto masih menjawab ceria, Kiba mengangguk-angguk setuju dengan naruto, Sasuke bersiul pelan, dan Gaara memandang Hinata tanpa ekspresi.

Aku sudah mencoba pokoknya. Hinata berkata dalam hati sambil menyesali nasibnya berada bersama pria-pria barbar ini.

"Okeee, mari kita mulai tugas kita!" Naruto tiba-tiba berteriak lantang, sukses membuat Kiba terjengkang karena kaget, oke lebay.

"Mati kauuu!" Kiba menyerang Naruto dengan bringas karena sudah membuatnya jatuh dengan hina.

"Gak, ini belum akan dimulai." Gaara bersuara, menatap Hinata intens. Hinata menarik napas kesal. Kiba dan Naruto menghentikan pergumulan mereka. Naruto sudah menceritakan 'masalah' Hinata-Gaara pada Kiba, dan Sasuke juga baru saja mengetahui percekcokan Adam dan Hawa ini baru saja, ketika Hinata sholat.

Oke, kita selesaikan ini, Gaara.

Hinata menatap Gaara mantap, dia tidak akan membiarkan Gaara melihat rasa kesal atau terhina di dirinya. Dia tidak akan memberikan kepuasaan tambahan pada Gaara.

"Aku minta maaf." Hinata berkata cepat.

"Dan buat siapa lu ngucapin itu?" Gaara bertanya datar. Hinata balas menatap Gaara datar.

"Gaara, aku minta maaf atas sikapku waktu itu." Hinata mengulang perkataannya. Singkat, tegas, dan jelas. Ditatapnya Gaara tanpa kedip. Gaara balas menatap Hinata dengan tatapan dingin. Kiba dan Naruto saling bertatapan. Sasuke tersenyum kecil. Menarik sekali. Pikir Sasuke.

"Eehh, oke kawan, kayaknya kita bisa mulai sekarang, kan?" Naruto berusaha mengalihkan Hinata dan Gaara yang masih saling menatap dingin. Keduanya enggan menurunkan pandangan lebih dulu, akhirnya Hinata melepaskan pandangannya dan ganti menatap Naruto. Gaara? Tentu saja Gaara merasa bersyukur Hinata melepaskan kontak matanya lebih dulu, karena saat ini Gaara sedang memejamkan matanya yang perih akibat terlalu lama menatap tanpa kedip. Kasihan Gaara.


Yaaak, selesai sudah chapter 3 ini. seperti biasa kritik, saran, dan lainnya saya harapkan hehehe. review yaaa kawan ;)