SEBELUMNYA AKU MAU MINTA MAAF KARENA CHAP 6 YANG TADI KU POSH ITU ERROR, ENGGAK TAU JUGA KENAPA. DAN SEKARANG AKU UDAH NGEDIT ULANG UNTUK CHAP 6. SEMOGA SUKA.
SELAMAT MEMBACA
Jongin keluar dari kamar mandi dengan masih menyimpan kemarahan. Rambutnya basah kuyup. Dan seluruh pakaiannya yang basah teronggok di lantai. Sebuah gerakan di sudut kamar membuatnya menoleh. Minjoong berdiri di sana, bekas-bekas pukulan jongin masih menimbulkan memar-memar di sana sini, tetapi lelaki itu sepertinya sudah diobati,
"Bagaimana dia?," tanya jongin dingin.
"Dokter sedang menanganinya, paru-parunya kemasukan cairan…Anda sendiri Tuan jongin, Anda tidak apa-apa? Terjun dari lantai dua seperti itu hanya untuk menyelamatkan perempuan itu…"
Jongin melirik pada minjoong dengan tatapan tajam, lalu meraih handuk untuk menggosok rambutnya yang basah,
"Tadinya aku berniat membunuhnya"
"Kalau begitu kenapa Anda menyelamatkannya?"
Jongin membalikkan tubuhnya dan menatap minjoong dengan mata menyala-nyala,
"Karena aku memutuskan, belum saatnya dia mati," mata cokelat jongin bagaikan berbinar di kegelapan, "Dan kau…. Kenapa kau sengaja membiarkannya lolos?"
Minjoong menatap jongn, tampak ada keterkejutan di matanya meskipun sekejap kemudian dia langsung memasang wajah datar, "Saya tidak sengaja membiarkannya lolos"
"Kau pikir aku bodoh?," suara jongin menajam, setajam tatapannya, "Kau adalah pengawalku paling berpengalaman, tak mungkin kau bisa diperdaya gadis itu, kecuali kau memang membiarkan dirimu diperdaya"
Minjoong menelan ludahnya, "Saya ingin membebaskannya, saya takut dia akan membawa masalah untuk kita" jongin melempar handuknya dengan marah ke sofa,
"Dalam dua hari ini kau sudah dua kalI mengambil keputusan sendiri dan menentangku. Dengarkan ini baik-baik minjoong" suara jongin dalam dan mengancam, "Sekali lagi kau membuat kebodohan yang merepotkanku, bukan hanya pukulan yang kau dapat, aku akan menghabisimu secepat aku bisa"
Suara ancaman itu masih menggema di kegelapan, bagaikan janji Iblis yang memanggil-manggil meminta nyawa.
Ketika kyungsoo terbangun, yang dirasakannya pertama kali adalah rasa sesak di dadanya. Dia menggeliat panik, mencoba menarik napas sekuat-kuatnya, dalam usahanya mencari oksigen sebanyak-banyaknya.
"Tenang, kau sudah ada di daratan, kau bisa bernafas secara normal," Suara jongin membawa kyungsoo kembali pada kesadarannya.
Dengan waspada dia menoleh dan mendapati jongin sedang duduk di tepi ranjangnya. Kyungsoo beringsut sejauh mungkin dari jongin dan tingkahnya itu memunculkan secercah cahaya geli di mata jongin,
"Apakah kau takut padaku setelah kejadian tadi?," nada gelipun tersamar dalam suara jongin. Kurang ajar, batin kyungsoo dalam hati. Dia berjuang meregang nyawa, dan lelaki ini malah duduk disini menertawainya. Tetapi, apakah benar jongin yang terjun ke kolam waktu itu dan menyelamatkannya? Kenapa? Bukankah jelas-jelas dalam kemarahannya jongin sudah memutuskan untuk membunuhnya? Kenapa lelaki itu berubah pikiran?
"Ya, aku memang menyelamatkanmu," jongin bergumam seolah-olah bisa membaca pikiran kyungsoo, "Tetapi itu bukan demi dirimu, itu demi kepuasanku."
Kyungsoo menatap jongin geram,
"Apa maksudmu?"
Dengan tenang lelaki itu melepas dasinya, gerakannya pelan tetapi mengancam hingga tanpa sadar kyungsoo bergidik dan beringsut menjauh.
"Aku tidak suka bercinta dengan mayat," Senyum di bibir jongin tampak kejam, "Kau lebih nikmat kalau hidup dan bernafas."
Ketika kyungsoo menyadari maksud jongin, sudah terlambat. Lelaki itu mencengkeram kedua lengannya dengan satu tangan. Kekuatan kyungsoo tidak sebanding dengan kekuatan tubuh jongin yang besar dan kuat di atasnya. Dengan mudahnya lelaki itu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan ikatan mati yang sangat rapi, lalu menalikannya di kepala ranjang,
"Kau…. Kau mau apa ?', kyungsoo mulai panik ketika jongin yang setengah duduk di atasnya membuka kancing kemejanya. Senyum jongin tampak penuh kepuasan melihat kondisi kyungsoo yang tidak berdaya. Lelaki itu membuka seluruh kancing kemejanya sehingga dada dan perutnya yang berotot terlihat.
Sejenak kyungsoo terpana melihat kulit berwarna perunggu yang berkilauan bagai satin itu, tetapi kemudian dia sadar bahwa dia ada dalam kondisi genting. Dengan panik kyungsoo mulai meronta dan menendang, sedapat mungkin bergerak untuk melepaskan diri. Tapi percuma, ikatan jongin ke tangannya sangat kuat, dan dalam kondisi terikat seperti itu, kyungsoo benar-benar tak berdaya.
"Semalam kau bercinta denganku, panas, dan memabukkan…. Tapi kau mungkin tak bisa mengingat dengan jelas dan aku tak suka itu….," suara jongin merendah, penuh gairah, "Malam ini, akan kubuat kau mengingat setiap detiknya"
Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, kyungsoo melihat ketika jongin melepas kemejanya dan setengah menindihnya. Mulutnya sangat dekat dengan bibir kyungsoo, hingga napas mereka beradu, jonginn menundukkan kepalanya, mencium sisi leher kyungsoo, membuat wanita itu berjingkat dan berusaha meronta lagi,
"Sshhh…. Kau akan menyakiti lenganmu kalau kau merontaronta terus seperti itu," bibir jongin merayap dan mendarat di bibir kyungsoo. Lelaki itu mengecup sedikit ujung bibir kyungsoo, lalu lidahnya menelusup masuk, membuka bibir kyungsoo yang lembut, mencecapnya dan merasakan seluruh tekstur bibir kyungsoo yang hangat dan panas. Lidahnya mengait lidah kyungsoo dan memainkannya dengan intensitas yang sangat ahli. Ketika jongin melepaskan bibirnya, napas kyungsoo terengah engah, ciuman ini adalah ciuman yang paling intens yang pernah di rasakannya.
"Kau menyukainya bukan?', jongin berbisik lembut dengan nafasnya yang panas di telinga kyungsoo, "Aku sangat menyukai bibirmu, dan sensasi kelembutannya di bibirku….," tangan jongin merayap ke bawah, meraba kulit leher kyungsoo, "Seluruh tubuhmu hangat sayang, seakan menggodaku….," Jemari jongin menyingkap rok kyungsoo dan menelusup ke dalam sana, menggoda pusat gairahnya, "Di sini…. Yang paling panas"
Kyungsoo menggelinjang, mencoba meronta, tetapi tubuh kuat jongn yang setengah menindihnya membuat gerakannya terbatas. Apalagi tangannya yang terikat di atas, membuat lengannya terasa kram dan pergelangan tangannya ngilu ketika dia menggerak-gerakkannya. Jongin melirik ke pergelangan tangan kyungsoo yang terikat, dan menyadari bahwa ikatan itu menyakiti kyungsoo.
"Jangan bergerak-gerak, atau kau akan mengalami memarmemar ketika ini selesai"
Setetes air mata mengalir di sudut mata kyungsoo, dia putus asa dalam usahanya untuk melepaskan diri.
"Jangan lakukan ini, please…"
Mata jongin sedikit melembut ketika mendengar permohonan kyungsoo, tetapi kemudian senyumannya tampak mengeras, "Aku hanya ingin membuatmu sadar dimanakah tempat kau seharusnya berada kyungsoo ," jongin membuka kancing kemeja kyungsoo satu persatu, membiarkan payudara kyungsoo terbuka bebas untuknya,
"Ini milikku," jongin menyentuh payudara kyungsoo dan menggodanya, menikmati ketika mendengar erangan tersiksa kyungsoo, "Seluruh tubuhmu milikku," jongin mengecup ujung payudara kyungsoo, mencecapnya dengan lidahnya. Lalu bibirnya berpindah menelusuri bagian samping payudara kyungsoo, menikmatinya dengan bibirnya sehingga meninggalkan jejak-jejak basah dan panas di sana.
Kyungsoo melengkungkan punggungnya atas sensasi yang menyiksanya tanpa ampun. Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, merasakan lelaki iblis itu mencumbunya, dan menyiksanya dengan godaan-godaannya yang sangat ahli, ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya. Seperti gelenyar panas yang bergulung-gulung, terasa seperti arus listrik yang mengalir dari jemarinya, dan menjadi semakin panas ketika menyatu di pusat dirinya.
Dan jemari jonginn menyentuh ke sana, dengan begitu ahli, memainkan kyungsoo sesuka hatinya. Tubuh kyungsoo meronta tak tahan akan alunan sensasi permainan jemari jongin, tapi lengan jongin yang kuat menahan tubuhnya. Kemudian bibir jongin mengikuti jemarinya. Kyungsoo terkesiap merasakan hembusan napas panas di pusat dirinya.
Seketika dia menegakkan tubuhnya dan tertahan oleh ikatan di pergelangan tangannya.
"Jangan!,"
teriaknya panik, mencoba merapatkan kaki, mencegah bibir jongin menyentuhnya. Tetapi lengan jongin yang kuat menahannya, dan kemudian, kyungsoo melengkungkan punggungnya dan mengerang keras merasakan sensasi itu. Sensasi sentuhan bibir dan lidah jongin di pusat dirinya, dengan hembusan nafasnya yang panas. Panas bertemu panas dan dia terbakar. Pandangannya menggelap karena sensasi kenikmatan yang tak tertanggungkan.
"Sshhhh…. Semua bagian tubuhmu milikku kyungsoo, Milikku."
Jongin mencumbu pusat gairah kyungsoo menyatakan kepemilikannya. Dan ketika jongin selesai bermain-main, kyungsoo sudah terbaring, lemas, dan tak berdaya dengan nafas terengah engah dan tubuh menaikkan kembali tubuhnya dan mengecup lembut bibir kyungsoo. Dada bidangnya menggesek payudara kyungsoo, dan kyungsoo merasakan kejantanan jongin yang begitu keras menyentuh pahanya dengan begitu menggoda seolah mengerti apa yang paling kyungsoo inginkan.
Jongin menempatkan dirinya dengan begitu tepat, seolah telah mengenal setiap jengkal tubuh kyungsoo. Dan kyungsoo merasakan tubuh jongin yang keras dan panas menyatu dengan tubuhnya, memberikan geleyar kenikmatan yang makin menghujam.
"kyungsoo" jongin mengerang merasakan tubuh kyungsoo yang panas, halus, dan membungkusnya dengan begitu erat, menggodanya untuk mencapai kepuasan secepat mungkin.
Tapi tidak, malam ini untuk kyungsoo. Jongin ingin kyungsoo mengingat setiap detik percintaan mereka malam ini. Ketika jongin bergerak, kyungsoo mengerang. Semua ini terlalu nikmat untuk ditanggungnya, dia tak bisa menjangkau kesadarannya lagi, hampir frustasi karena pada akhirnya tubuhnya menyerah dalam pusaran gairah jongin. Jongin menundukkan kepalanya, lalu mengecup sudut bibir kyungsoo dengan posesif, menyatakan kepemilikannya, dan menghujamkan dirinya dalam-dalam.
"Kau milikku,kyungsoo. Ingat itu baik-baik"
Sedetik kemudian, jongin membawa kyungsoo melewati pusaran gelombang semakin dan semakin naik hingga guncangan orgasme menerjang mereka berdua. Menyatukan mereka dalam satu titik kenikmatan.
Jongin mengangkat tubuhnya dari kyungsoo yang terengah-engah, dengan pikiran masih berkabut karena orgasme. Dengan lembut jemarinya membuka ikatan tangan kyungsoo, Ikatan itu menimbulkan bekas kemerahan di sana. Dan jongin mengecup kedua pergelangan tangan kyungsoo,
"Kau milikku, ingat itu. Kalau kau mencoba melarikan diri lagi, aku akan menghukummu dengan hukuman yang lebih berat" Lalu jongin bangkit, mengenakan pakaiannya dan menatap kyungsoo yang memalingkan muka darinya, tak mau menatapnya, "Kuharap kau tidak melupakan malam ini, setiap detiknya," gumamnya dingin, lalu melangkah pergi meninggalkan kyungsoo yang terbaring diam di ranjang.
Setetes air mata mengalir kembali di sudut mata kyungsoo. Jongin benar, kyungsoo tidak akan pernah bisa melupakan malam ini, setiap detiknya.
Tbc
