Title: SECRET
Chapter : Chapter 4
Thanks buat komen2 yang udah masuk di Chapter2 sebelumnya atau ke inbox saya, komen kalian menguatkan saya ? :D dalam mengetik dan mencari ide lagi. Oke lanjut. .!
Maaf kalau ada typo atau kesalahan penulisan kalimat ^_^ Saya hanya manusia biasa :v
Happy Reading dan tolong tinggalkan jejak kalian :D
SECRET
Genre : Romance,Action
Boys x Boys
Cast : Infinite
R&R
Happy reading,readers ^_^
xXx
.
.
Perasaan adalah racun sekaligus obat terkecil yang ada dalam tubuh manusia,
Berubah menjadi sesuatu yang baik, namun berubah pula menjadi sesuatu yang buruk. .
.
.
Perasaan. Saat seorang manusia sudah terjebak dalam perasaan dan hilang kendali akannya, ia akan berubah menjadi sesuatu yang lain. terkadang rasa yang tipis sekalipun sanggup mengubah dunia seseorang yang memiliki nya. perasaan begitu mudah larut dalam alur darah dan daging. Menyengat disaat tak diduga dan menjadi sebuah bahaya saat ia tak terkendali. Saat kau mengikuti sesuatu yang disebut perasaan, maka kau akan kalah. Dalam pertarungan, perasaan adalah bom waktu yang harus kau hentikan.
"suatu saat nanti. .bolehkah aku mengalah pada perasaan ku? Ayah? "
Pria besar yang dipanggil ayah itu menoleh pada bocah kecil yang duduk dengan sopan disamping nya. tangannya memegang kendo yang biasa digunakan para samurai saat berlatih pedang. Pria besar itu menunjuk pada kendo yang bocah itu pegang.
"perasaan itu seperti pedang, jika kau salah menggunakan nya, maka kau yang akan terluka. .sebagai seorang pelindung, perasaan adalah hal yang tak penting. Yang kita harus tau adalah, kita harus mampu menyelesaikan tugas apapun yang diberikan. Itulah seorang pelindung. "
Bocah berambut hitam legam itu mengangguk paham. Ia menggerak kan kendo nya kearah depan.
"lalu bagaimana jika aku suatu saat aku terjebak dalam perasaan ku ayah? "
Pria besar itu tersenyum. Ia menepuk kepala anak nya dengan lembut.
"menyerahlah. .kau tak akan mampu mengalah kan nya. "
"apakah, perasaan juga yang sudah membuat ayah menyayangi ibu? "
"suatu saat nanti. .kau akan mengerti, Myung Soo. . "
Bocah kecil yang dipanggil Myung Soo itu terpaksa mengangguk tak puas. Ia ingin sekali ayah nya menceritakan bagaimana hubungan ayah dan ibunya dulu hingga mereka bertemu. Nyatanya ia sama sekali tak tau sedikitpun, yang ia tau hanya ibunya meninggal karena sebuah penyakit kronis ketika ia berusia 2 tahun.
"ayah. .aku akan pergi melihat tuan Muda. .hari ini akan masuk TK untuk pertama kali nya, aku ingin menyemangati nya. " pria besar yang merupakan kepala keluarga Kim itu mengangguk. Myung Soo segera meletakkan kendo nya dan berlari dengan riang. Sebagai anak laki2 tunggal dan hidup dalam kungkungan keluarga yang ketat, Myung Soo tak pernah memiliki teman seperti anak lain nya. sepanjang waktunya hanya dihabiskan untuk menjaga dan bermain dengan anak pemiliki bangunan besar yang mereka tinggali sekarang. Ayah nya adalah pelindung atau bisa dikatakan guard bagi keluarga yang masih memiliki struktur2 budaya lama Korea dalam darah mereka. Bahkan menurut issue yang terdengar, kepala keluarga tuan Mereka masih memiliki hubungan silsilah dengan kerajaan josoen.
.
.
"Hyung. .mengapa kau lama sekali? Aku hampir pergi. . " seru seorang bocah yang berusia lebih muda 5 tahun dibanding Myung Soo. Bola Matanya yang hitam legam membulat karena kesal. Myung Soo yang mengerti kebiasaan tuan muda nya itu hanya bisa menggaruk kepalanya merasa menyesal. Ia kemudian membelai kepala anak kecil didepan nya itu.
"mianhae Tuan Muda. . saya harus berlatih sebelum kemari. . "
"selalu begitu. .Hyung. .kajja, pergi kesekolah dengan ku. . " ucap nya dengan riang sambil menarik tangan Myung Soo yang sudah seperti saudara kandung bagi nya itu. Myung Soo tersenyum pahit. Ia ingin sekali bisa bersekolah seperti anak2 lainnya. Namun karena ia dan keluarga nya merupakan keluarga pelindung, ia harus senantiasa berada didalam lingkungan rumah besar itu. ia bahkan bersekolah dengan diajar oleh guru privat yang sengaja didatangkan untuk nya.
"mianhae. .hari ini aku harus membantu ayah. .tuan muda bisa pergi sendiri bukan? Aku janji suatu saat akan menemani tuan Muda kemanapun tuan muda mau. "
Pria kecil didepannya mengerucutkan mulutnya. Ia hendak menyampaikan kalimat protes nya namun terpotong oleh ucapan wanita berusia 36 tahun yang merupakan pengasuh nya.
"tuan Muda. .kita harus segera berangkat, atau tuan bisa terlambat. . " ajaknya.
"arasseo. .Hyung. .nae pergi dulu, nanti sepulang sekolah Hyung harus janji menemaniku bermain. . "
Myung Soo mengangguk.
"Hyung janji. . " ucap Myung Soo lembut sambil merapikan dasi yang bocah kecil itu pakai. Sesaat kemudian mobil yang mengantar itu pun menghilang dari pandangan dan Myung Soo bergegas menuju kedalam untuk kembali berlatih dengan kendo nya. atau sekedar menjahili pelayan2 lain yang ada didapur.
.
.
xXx
.
.
"ayah. . " desis Myung Soo ketakutan. Bagaimana tidak, saat itu ia menyaksikan dengan mata kepala nya sendiri, ayah nya sedang bergulat dengan seorang pria tua yang tak asing bagi nya. pemilik rumah itu. tuan mereka!
Tuan Kim sontak menoleh kebelakang dan terkejut ketika melihat anak nya berdiri disana dengan terbeliak takut.
"PERGI DARI SINI MYUNG SOO! " teriak nya. Myung Soo membeku, ia melihat pria tua didepan ayah nya sudah sekarat dengan beberapa luka tusuk ditubuh nya.
"ayah. . " lirih nya. tubuhnya menggigil.
Tuan Kim seolah tak perduli lagi. Ia tiba2 menarik sebilah samurai yang tergeletak disana. Myung Soo mengerang parau. Ia berteriak histeris ketika menyadari ayah nya akan membunuh seseorang.
"AYAHH! HENTIKANN! " teriak nya sambil melempar kendo yang ia pegang. Lemparan itu dengan telak mengenai tuan Kim yang membabi buta. Lemparan itu sekaligus mengejutkan nya dan membuat gerakan nya terhenti. Saat itu tanpa disadari sebuah peluru menderu dan langsung menghantam jantung tuan Kim. Pria itu terhenyak seketika. Tubuhnya limbung dan samurai yang ia genggam terjatuh. Myung Soo yang menyadari kondisi ayah nya segera berlari menerjang pria besar itu.
"ayahh! " teriaknya histeris.
"Myung Soo. .mianhae. . " lirih tuan Kim sebelum nyawa nya melayang dari jiwa nya.
Myung Soo membeku. Air matanya mengalir deras. Tubuhnya seolah ditindih sebuah batu raksasa dan membuat nafas nya sesak. Suaranya tak keluar lagi sedikit pun. Jantung nya seolah terpelintir keluar menembus kulit nya.
"ughh! A. .aayahh. . " erang nya parau. Sesaat kemudian sebuah tangan menarik nya dengan cepat. Memeluk nya dan menutup matanya.
"jangan melihat nya. " ujar suara itu penuh sesal. Myung Soo luruh kebawah. Kepala nya terasa sakit dan dada nya penuh rasa sesak yang menyiksa nya. hingga gelap menutup pandangan nya.
Sejak hari itu pula. .
Ia kehilangan sesuatu yang disebut sebagai perasaan.
.
.
xXx
.
.
"apa kau akan membiarkan makanan mu dingin dan hanya melihatiku seperti itu terus? "
Sergah Sungyeol ketika ia menyadari pria tampan didepan nya sama sekali tak menyentuh spagheti yang mereka pesan. Myung Soo mendorong piring nya kedepan pria tinggi itu.
"untuk mu saja. " ucap nya.
"mwo? Kau kira aku pria serakus itu ha? " seru Sungyeol berang. Namun ia menarik piring itu mendekat pada nya. dengan hati2 Sungyeol memuntir garpu nya pada spagheti itu dan menyodorkan nya pada Myung Soo.
"aaaaa. .ayo buka mulut mu. .aaaaa"
"apa kau tak tau malu? Orang2 sedang memandangi mu dengan jijik. " ucap Myung Soo membuat Sungyeol mendelik2 kesal. Ia melirik kesamping nya dan menemukan beberapa pasang mata sedang melihat mereka dengan tatapan aneh. Sungyeol akhirnya hanya bisa mendengus kecil dan mengomel diam2.
"wae? " tanya Myung Soo tiba2. Sungyeol yang masih mengunyah makanan nya hanya melihat dengan pandangan bodoh.
"mengapa kau membawa ku kesini? " perjelas Myung Soo.
"tak ada. Aku hanya lapar dan ingin makan makanan italia. . " jawab nya asal. Myung Soo berdecak kecil.
"kau bisa pergi sendiri. . "
"apa salah nya mengajak dirimu? Aku ingin kau ikut dengan ku. .lagi pula. .kau pacar ku. .emh. .apa salah nya jika kita. . " ucapan Sungyeol terputus, pria tinggi itu seolah ragu untuk melanjutkan perkataan nya. wajah nya saja sudah semerah kepiting rebus sekarang.
Myung Soo mendengus tak percaya.
"sejak kapan kau berubah menjadi se agresif ini Sungyeol. . " katanya dengan nada mengejek.
Sungyeol menundukkan kepala nya. ya, pertanyaan itu benar. Ia sendiri tak menyadari entah sejak kapan ia berani bersikap sedekat itu pada orang lain.
"sejak dulu aku memang type periang dan ramah, hanya saja tak ada yang tau itu karena aku tak memiliki seorang teman sejak dulu. .dan sekarang aku bisa menampakkan wujud asli ku pada mu, inilah aku sebenar nya. " jelas Sungyeol sambil menggigit2 garpunya. Walaupun sudah mengatakan dengan penuh percaya diri namun tetap saja ia gugup ketika melihat mata tajam Myung Soo.
"alasan aneh. . " ucap Myung Soo lagi.
"arasseo. .aku hanya ingin kau ada disamping ku. .apakah aku salah? " ujar Sungyeol akhir nya. ia melihat Myung Soo hanya diam dan membeku seperti biasa. Sungyeol merasa seolah ia sedang melakukan atraksi topeng monyet yang gagal didepan umum.
"aku harus ke toilet. . " ujar Sungyeol terburu2 sambil berlari kearah belakang.
Myung Soo hanya melihat pria tinggi itu menjauh.
"aku selalu ingin berada disamping mu. . "
Sebuah senyuman kecil terukir di bibir pria tampan itu. ia menarik piring Spagheti tadi dan mulai memakan nya perlahan.
"kau tak berubah sama sekali. .tuan muda. . " lirih nya.
.
.
xXx
.
.
Dengan wajah malas dan enggan seorang pria berdiri didepan pintu rumah yang bisa dikatakan sederhana itu. tangannya berulang kali mengetuk pintu hingga mendengar derap kaki terburu buru mendekat pada nya.
Pintu terbuka dengan cepat dan disana berdiri seorang pria bermata sipit yang tak lain adalah Sunggyu dengan nafas terengah.
"kau sudah datang? Mian. .aku sedang membantu ibu ku memasak jadi. . "
"mana Handphone ku? " tanya Woo Hyun langsung tanpa membiarkan Sunggyu menyelesaikan kalimat nya. Sunggyu mendesah perlahan, ia sudah bisa memaklumi sifat pemuda angkuh itu.
"ck. Ia sebentar, aku akan mengambilnya. " Sunggyu berbalik kedalam dan beberapa detik kemudian ia kembali dengan sebuh Handphone merk Apple ditangan nya. Handphone itu terjatuh tanpa sengaja di kamar nya ketika Woo Hyun mabuk dulu. ia mengangsurkan nya pada Woo Hyun. Woo Hyun menerima nya dengan cepat dan hendak beranjak pergi.
"tak bisakah. .tak bisakah kau mengucapkan terimakasih? " sergah Sunggyu ketika melihat Woo Hyun akan benar2 pergi tanpa sepatah kata pun.
"Thank You. " ucapnya malas2an sambil kembali beranjak pergi.
"mengapa kau sangat terburu2? "
Woo Hyun menghentikan langkah nya ketika mendengar teguran itu. ia berbalik dan menemukan seorang wanita paruh baya sedang berdiri disamping Sunggyu sambil memegang sendok sup.
"eomma. .sejak kapan eomma berdiri disitu? " tanya Sunggyu tak percaya. Wanita yang merupakan ibu dari Sunggyu itu tersenyum.
"mari masuk dan makanlah bersama kami. . " ujar nya pada Woo Hyun. Woo Hyun yang tak menduga sama sekali kehabisan kata2nya. ia menggaruk kepalanya.
"terimakasih bi, ,hanya saja aku harus segera pergi. . " tolaknya dengan nada sehalus mungkin. Sunggyu bahkan harus menahan tawanya mendengar pria yang biasa bersikap angkuh itu mencoba berbicara dengan nada lembut. Sama sekali tidak cocok.
"aigoo. .kau baru kali ini datang kerumah ku dan sudah langsung menolak ajakan ku, dimana tata krama mu. .ayo ayo, aku memaksa. . " ujar Nyonya Kim sambil menarik tangan Woo Hyun dan mengajak nya masuk. Woo Hyun yang tak kuasa menolak hanya mendelik2 kan matanya pada Sunggyu. Sunggyu yang mengerti isyarat itu segera menahan langkah ibunya.
"bu. .ia harus pergi, lagipula ia anak orang kaya, ia pewaris Nam Corporate itu, ia tak biasa makan makanan sederhana seperti kita. . " sergah Sunggyu. Nyonya Kim yang mendengar nya seolah tersadarkan. Ia melepaskan tangan nya dari pergelangan Woo Hyun.
"ah, maafkan saya. .saya tak tau jika yang datang adalah seorang tuan muda. .maaf sudah memaksa. Saya hanya merasa senang karena Sunggyu kedatangan temannya, ini sangat jarang sekali terjadi. . maafkan saya. " ucapnya dengan rasa menyesal sambil mencoba menundukkan tubuh nya. Woo Hyun yang melihatnya menahan nya dengan segera.
"Bibi. .jangan begitu. .jangan dengarkan kata anak bibi yang konyol ini, saya hanya sedang ada urusan. .tapi, mungkin saya bisa menunda nya. saya juga ingin mencicipi masakan bibi, dari baunya sepertinya sangat enak. " ucap Woo Hyun cepat bahkan sampai membuat Sunggyu membeliak tak percaya.
"benarkah? Baiklah. .mari kita segera masuk. . " ajak Nyonya Kim tergopoh2 menuju ruang makan sembari menggandeng tangan Woo Hyun. wanita paruh baya itu mengangsurkan kursi pada Woo Hyun dan memberikan nasi pada nya. Woo Hyun mengedarkan pandangan nya pada menu yang ada didepan nya. benar2 sederhana dan asing dimata nya. bahkan ada yang berbentuk aneh dengan warna coklat yang tak menarik.
"silahkan dicoba tuan Muda. . " ucap Nyonya Kim pada Woo Hyun lagi. Woo Hyun mengangguk pelan. Sementara Sunggyu yang melihatnya seolah tak perduli dan dengan lahap mengambil beberapa lauk kedalam mangkuk nasi nya.
"ah, maafkan saya jika menu nya seperti ini. . " ucap nyonya kim lagi ketika menyadari ekspresi tamu nya. Woo Hyun menyunggingkan senyum dibibir nya.
"jangan begitu Bibi, ini terlihat sangat enak. . " balas Woo Hyun sambil menyendok sup didepan nya. dengan enggan ia memasukkan sup itu kedalam mulutnya. Sesaat kemudian ia membeku. Bukan rasa aneh yang ada melainkan rasa nikmat yang belum pernah ia rasakan sebelum nya.
"ini. .enak sekali bibi. . " desis nya. Nyonya Kim tersenyum senang, sementara Sunggyu hanya terkikik kecil melihat ekspresi Woo Hyun. sesaat kemudian pria tampan itu seperti manusia kelaparan yang tak bertemu makanan selama sebulan. Tangannya tanpa henti menyendok nasi dan mengambil lauk dengan cepat. Membuat Sunggyu dan ibu nya terkejut tak percaya.
"wahhhh! Daebak! Bibi. .ini sangat enak sekali. Bagaimana bibi bisa memasak nya? wah, kau snagat beruntung Gyu. " seru Woo Hyun tanpa sadar melupakan aksen angkuh nya. sesaat kemudian ia terhenyak mengetahui Sunggyu dan Ibunya memperhatikannya.
"wae. .? " lirih nya. Sunggyu dan Nyonya Kim sontak menggeleng cepat.
"aniya. .kami hanya tak menduga tuan Muda menyukai nya. saya merasa tersanjung. " ucap Nyonya Kim tersipu. Woo Hyun menyunggingkan senyum nya. senyum tulus yang pertama kali Sunggyu lihat. Sunggyu bahkan nyaris terperangkap dalam buaian senyum manis itu.
"Gyu. .kapan Sungyeol datang kemari? Ibu tak melihat nya hari ini. .biasa nya ia selalu datang kemari. . "
Sunggyu menghentikan suapan nya dan melihat pada ibu nya.
"mungkin ia sedang sibuk bu. .lagipula ia punya kehidupan, jadi ibu tak seharus nya meminta nya untuk kemari setiap hari. . "
"begitu kah? Ibu hanya merasa dekat dengan nya. .lagipula ia sudah menolong ibu dan kau juga. .ibu hanya ingin berterimakasih pada nya. "
Sunggyu mengangguk2 mengerti. Mereka kembali melanjutkan suapan nya dengan beberapa kali diiringi percakapan2 antara anak dan ibu. Tanpa menyadari Woo Hyun memandangi situasi itu dengan sendu. Selera makan nya mendadak hilang. Yang ia tau ia hanya melihat percakapan2 akrab antara ibu dan anak itu. hatinya mendadak terenyuh dan perasaan sedih melanda nya.
"Woo. .mengapa kau menangis? " tanya Sunggyu tiba2. Woo Hyun sontak mengusap pipinya yang tanpa ia sadari sudah basah entah sejak kapan.
"ah. Mungkin aku kemasukan debu. " ucap nya terburu2. "bibi, terimakasih makanan nya, ini sangat nikmat. Dan maaf saya harus segera pergi. .saya sudah berjanji dengan seseorang. " lanjut Woo Hyun sambil menundukkan kepala nya sembari beranjak dari kursi nya. Nyonya Kim mengangguk bingung namun mengikuti gerakan Woo Hyun menuju keluar.
"sering2lah mampir kemari tuan Muda. . "
Woo Hyun tersenyum simpul dan mengangguk. Kemudian ia berlari menuju mobil nya dan bergegas pergi.
.
.
Woo Hyun mengusap air mata nya. tangan nya meraih ponsel nya yang bergetar dan melihat pesan masuk disana. Dengan cepat ia menekan tombol open.
"Woo. .Gwenchana? "
Itu pesan dari Sunggyu. Woo Hyun menggelengkan kepala nya. ia menambah kecepatan mobil nya membelah jalan raya.
"aku tak baik2 saja Gyu. . " bisik nya berkali kali.
.
.
xXx
.
.
Berkali kali Sungyeol berusaha memikirkan nya namun penjelasan yang ada dikepala nya adalah penjelasan yang tak masuk akal. Ia memikirkan lagi dan memikirkan lagi namun tetap saja ia tak berhasil membuat jawaban yang masuk akal.
"ano. .sebenar nya apa yang kau lakukan disini? "
Akhirnya Sungyeol membuka mulutnya. Menurut nya sebuah pertanyaan mungkin bisa memecahkan masalah yang terjadi sekarang, tepat dikamar nya.
"aku? Aku mencoba untuk tidur. "
Sungyeol merenggut bantal nya dengan geram. Ia merasa mati kutu menghadapi sikap dingin dan datar pemuda disamping nya itu.
"Hya! Kim Myung Soo. Aku tak bodoh. Hanya saja, mengapa kau tidur disini? Dikamar ku!? " seru Sungyeol setengah berteriak. Setelah mereka pulang dari acara yang yah, bisa disebut sebagai kencan gagal itu Myung Soo terus saja mengekori nya hingga masuk kekamar nya. awalnya Sungyeol mengira pria itu hanya ingin mampir sebentar atau ehm, mengantar kan sang kekasih karena khawatir. Tapi nyata nya pria tampan itu malah dengan seenak nya masuk kekamar Sungyeol, membuka kemeja hitam nya dan menelentang dengan nyaman diranjang. Atau lebih tepat nya, diranjang miliknya.
"apa kau keberatan? " tanya Myung Soo tak acuh. Sungyeol nyaris saja ingin memukul kan vas bunga disebelah nya kekepala pria itu karena gemas.
"aku kekasih mu kan. .jangan katakan kau lupa. " lanjut Myung Soo lagi seenak nya.
"yah. Yah aku tau itu, karena aku yang meminta mu. Tapi kurasa ini terlalu cepat untuk kau tidur disini. Atau. .ahhh! mengapa aku jadi seperti orang bodoh? " gerutu Sungyeol tak menentu. Myung Soo hanya membalas nya dengan kebisuan dan kembali memejam kan matanya.
"arasseo! Kau boleh menginap disini untuk malam ini! Anggap saja kau sedang ketakutan tidur sendiri dirumah mu yang berhantu! " ujar Sungyeol kesal. Namun ia tak menyangka kalimat nya yang asal2an itu memancing reaksi pada Myung Soo.
"hantu? Apa maksud mu dengan rumah itu berhantu? " tanya Myung Soo.
Sungyeol berbalik dan melihat pria itu. ia masih sempat melihat rona cemas diwajah Myung Soo meskipun dengan cepat menghilang. Sungyeol tertawa nista didalam hati.
"jadi kau tak tau? " lirih Sungyeol.
Sikap nya yang berubah suram membuat Myung Soo merapatkan selimut nya.
"tau apa? " tanyanya kebodoh2an. Sungyeol bahkan nyaris terpekik kegirangan dari balik selimutnya.
"ano. .rumah itu, dulu ditempati oleh keluarga Han, mereka hanya bertahan 6 bulan. .kau tau mengapa? Kabar yang beredar mereka tidak betah karena selalu mendengar suara2 aneh yang mengganggu. . "
Sungyeol nyaris melompat tinggi2 ketika melihat Myung Soo menelan ludah nya.
"wae? suara apa itu? " tanya nya memberanikan diri.
"entahlah. .hanya saja anak bungsu tuan Han sering melihat seorang wanita berambut panjang dan mendengar suara menangis disekitar tangga dan loteng. "
Sungyeol menghentikan kalimat nya sebentar. Ia melihat Myung Soo semakin mendekat pada nya.
"dan kau tau. .suatu malam, anak tuan Kim terbangun, ia mendengar rintihan seseorang didapur. .dengan berani ia mendekati. .dan ia melihat. .ia melihat. . "
"ia melihat pembantu nya sedang menanak nasi? " potong Myung Soo kemudian. Sungyeol menepuk dahi nya. ia kehilangan sisi horror nya karena kalimat bodoh itu.
"dasar bodoh. .ia bukan melihat pembantu nya melainkan sebuah. .bayangan. . " kalimat terakhir Sungyeol tercekat dikerongkongan nya dan membuat Myung Soo yang awal nya ketakutan menjadi mengernyit bingung.
"bayangan? Lalu kenapa dengan bayangan itu? " tanya nya lagi. Namun Sungyeol hanya tercekat diam dengan mata terbeliak takut. Myung Soo yang menyadari keanehan itu berbalik dan mengikuti pandangan Sungyeol kearah jendela.
"bayangan. .hantu. . " lirih Sungyeol syok dengan apa yang terlihat didepan nya. disana, tepat dijendela kamar nya yang terbuka berdiri dengan tenang sesosok tubuh, namun karena lampu yang temaram membuat sosok itu hanya terliat seperti siluet yang menyeram kan.
Myung Soo bertindak cepat. Insting nya mengatakan itu bukanlah hantu atau hal bodoh lain nya yang seperti dikatakan Sungyeol. dengan tak terduga ia menekan urat syaraf yang berada dibelakang leher Sungyeol, membuat pria tinggi itu terhentak kecil sebelum akhir nya tak sadarkan diri.
Setelah memastikan Sungyeol sudah benar2 pingsan Myung Soo dengan tenang mendekat kearah bayangan itu.
"apa mau mu? " tanya nya. sosok itu tertawa kecil. Tangan nya membuang sesuatu yang membara dimulut nya, yang bisa dipastika itu sepuntung rokok cigarette.
"aku tak menyangka akan berjumpa dengan mu disini. . "
Myung Soo mendengus.
"seorang pembunuh bayaran kelas satu yang sangat ditakuti lawan. Sepertinya hari ini adalah keberuntungan ku bisa bertemu dengan mu. .Kim Myung Soo. Ah, atau aku sebut L saja? "
"aku tak butuh basa basi mu. Jelaskan saja tujuan mu kemari. "
Sosok itu melompat turun. Ia mendekat kearah Myung Soo dan bias lampu sedikit menerangi wajah itu. Myung Soo nyaris tercekat ketika melihat wajah pria itu. penuh bekas luka mengerikan dan matanya dalam kondisi buta sebelah.
"jadi kau X? " tanya Myung Soo. Pria tinggi besar itu menyeringai menampakkan gigi nya yang tak rata.
"terimakasih sudah mengenali ku. .aku merasa tersanjung mengetahui kau mengenal kode ku. "
Myung Soo memasang posisi bersiap. Ia tau pria didepan nya bukanlah orang sembarangan. Pria dengan julukan X itu adalah salah satu pembunuh kelas satu yang nama nya sangat jarang muncul dipermukaan. Waktu kemunculan pertama nya dulu ia selalu mendengar nama pria itu sebagai pembunuh bayaran nomor satu dan sulit ditandingi. Namun beberapa tahun lalu ia menghilang tanpa alasan yang jelas. Dan Myung Soo yang muncul sebagai prior utama generasi baru dianggap setara dengan pria itu dan menggantikan posisi nya.
"apa tujuan mu? " tanya Myung Soo lagi. Pria dengan kode X itu mendekat, dengan santai ia duduk dikursi yang ada didekat nya.
"aku hanya mengantar kan pesan dari tuan besar. . "
Myung Soo tercekat ketika mendengar hal itu namun sesegera mungkin menguasai kondisi nya.
"game sudah mendekati final. Kau bisa menyelesaikan permainan mu 3 hari dari sekarang. Setelah itu, kau harus segera kembali. "
Myung Soo mengangguk perlahan.
"katakan pada nya aku mengerti. . " pria besar tinggi itu tersenyum senang. Ia bergerak santai menuju jendela. Dengan sekali lompatan ia menghilang dalam gelap nya malam. Myung Soo menutup jendela dengan segera. Dengan perlahan ia mendekat kearah Sungyeol, tangan nya membelai lembut surai pria yang sedang tertidur itu.
"mianhae tuan Muda. .kita harus segera mengakhiri nya. secepat nya. .aku akan mengakhiri penderitaan mu. " bisik nya sambil mengecup lembut kening Sungyeol. setelah merapikan posisi tidur Sungyeol dengan gontai Myung Soo bergerak menuju keluar. Diluar pintu ia menemukan nyonya Gong sedang berdiri dengan awas disana.
"sudah dimulai. . " desis nya. nyonya Gong mengangguk paham. Wanita paruh baya itu bergerak dengan cepat menuruni tangga. Ditengah ruangan ia bertepuk 3 kali dan sedetik kemudian muncul sekitar 15 orang pria dengan busana hitam2 berkumpul kearah nya. Nyonya Gong mengepalkan tangan nya.
"katakan pada markas pusat. terompet telah dibunyikan. "
Ke 15 pria itu mengangguk paham dan bergegas menuju kesegala arah. Sedetik kemudian mereka menghilang digelap malam. Nyonya Gong melihat kearah Myung Soo. Ia tau pria itu sedang cemas sekarang.
"apa ada sesuatu yang merisau kan mu? "
"pria itu. . X sudah kembali. "
Kalimat itu membuat nyonya Gong terhenyak.
"kita harus memasang proteksi ganda dan lebih berhati2 mulai sekarang. Pria itu sangat licik dan pintar, kita harus ekstra hati2 dalam menjalan kan rencana ini. . "
Myung Soo mengangguk. "ya, kita harus berhati2. . "
Nyonya Gong menepuk pundak Myung Soo. " berjanjilah pada ku L. .kau harus bisa menjalankan misi ini dengan baik. Hanya kau yang boleh membunuh tuan muda. . atau kita akan gagal. "
Myung Soo mengepalkan tangan nya.
"ya. .aku akan melakukan nya dengan baik. "
.
.
xXx
.
.
Sungyeol memaksa membuka matanya yang terasa berat. cahaya matahari yang masuk menyilaukan matanya dan membuat nya mau tak mau membuka matanya. Ia mengucek matanya dan mencoba mengembalikan nyawa nya kedalam tubuh nya.
Wae?
Sungyeol serta merta terkejut ketika menyadari sepasang tangan melingkar pada perut nya. dan bukan hanya itu yang mengejutkan nya. melainkan. .
"Hyaaa! Apa yang kau lakukan!? " pekik nya ketika menyadari sepasang tangan itu milik seorang pria yang dikenal nya sebagai Myung Soo. Dan lagi, mereka berdua dalam keadaan tanpa seutas benang pun alias bugil total!
Myung Soo yang masih baru tersadar dari tidur nya hanya memandang Sungyeol seperti orang bodoh. Setelah menyadari apa yang terjadi ia tidak menjawab pertanyaan Sungyeol melainkan menarik pria itu kedalam pelukan nya.
"Hyaa! Myung Soo mesum! Lepaskan aku! " teriaknya frustasi. Namun bukan nya mematuhi Myung Soo malah semakin mengeratkan pelukan nya pada pria kurus itu.
"mwo! Kau sudah gila sekarang! Hyaa! Myung Soo! Hyaa! " Sungyeol semakin berteriak frustasi ketika myung Soo sama sekali tak mengindahkan perintah nya.
"jebal. . " lirih Myung Soo. Sungyeol menghentikan aksinya ketika mendengar seruan lirih itu. ia melihat Myung Soo yang masih menutup matanya. Rambutnya sedikit basah dan kulitnya berkeringat.
"wae? apa yang terjadi pada mu hm? Mengapa kau gemetar? Kau sakit? " cecar Sungyeol. ia meraba dahi Myung Soo dan terkejut ketika menyadari pria itu benar2 panas.
"kau demam tinggi. .kau harus kerumah sakit. Ayo, aku akan mengantar mu. " seru Sungyeol khawatir.
"kata orang, saat kau demam, cara terbaik menurun kan nya adalah dengan memeluk orang lain tanpa mengenakan baju. . " kata Myung Soo lemah. Sungyeol menepuk dahinya.
"jadi itu alasan semua ini? Astaga, aku bahkan sudah berfikir kau memperkosa ku. " sungut nya. Myung Soo tertawa kecil dan itu sangat nyaman terdengar ditelinga Sungyeol.
"wae? apa aku tak boleh memperkosa pacar ku sendiri? " tanya Myung Soo membuat Sungyeol bergidik ngeri.
"Hya! Tentu saja kau tak boleh melakukan itu, atau kalau kau ingin melakukan nya setidak nya saat aku sadar. . " Myung Soo terkikik geli. Sementara Sungyeol memukul2 mulutnya yang bodoh.
"haruskah kita melakukan nya sekarang? " tanya Myung Soo lagi.
"Hya! Kau gila. Kau sedang sakit. Maksudku. Maksud ku, jelas saja kau tak mau! Kau kira aku pria yang semudah itu tergoda oleh mu? Myung Soo mesum!? "
"kalau begitu. .bisakah aku memeluk mu seperti ini beberapa saat lagi saja? "
Sungyeol menelan ludah nya. ia menatap wajah Myung Soo yang terlihat semakin manis jika diperhatikan dari dekat.
"baiklah. Kau boleh memeluk ku sampai kau sembuh. " putus Sungyeol akhirnya. Ia membalas pelukan Myung Soo dengan erat pula.
"gomawo. . "
Sungyeol menganggukkan kepala nya. ia mencium puncak kepala Myung Soo perlahan sebelum melesakkan kepala Myung Soo dalam rangkulan nya.
.
.
"Myung Soo. . " seru Sungyeol.
"hem. . " gumam Myung Soo.
"singkirkan itu. . "
"singkirkan apa? "
"itu sangat keras kau tau. .dan itu sangat rapat di area paha ku. . "
"lalu. .? apa kau ingin lebih dekat lagi? "
Sungyeol mendorong Myung Soo hingga jatuh dari ranjang membuat pria itu meringis kesakitan.
"HYAAA! DASAR MYUNG SOO MESUM! "
.
.
xXx
.
.
Sunggyu mengetuk2 meja untuk menciptakan irama untuk mengusir rasa bosan nya. ia melihat kearah meja Sungyeol dan Myung Soo yang kosong.
"apa mereka berdua sudah merencanakan untuk bolos berdua? " pikir nya.
"ahh molla. Sebaiknya aku menelpon Sungyeol. "
Sunggyu meraih ponsel nya dan hendak mencari nomor Sungyeol, namun tindakan nya terhalang ketika Mam Bok masuk kedalam ruang kelas dengan tergesa2.
"hei semua! Nam Woo Hyun sedang menghajar Park Jung di ujung koridor! " teriaknya sambil tersengal2.
Semua siswa yang mendengar itu sontak berlari keluar dengan riuh termasuk Kang San dan geng nya. Sunggyu yang mendengar nama Woo Hyun segera berlari mengikuti siswa yang lain.
Benar saja, diujung koridor terlihat Woo Hyun dengan beringas menghantam wajah Park Jung berkali kali hingga pria itu tak kuasa melawan. Darah sudah mengalir dari luka2 lebam diwajah pria yang lebih tinggi dari Woo Hyun itu. sementara Woo Hyun tak jauh beda dengan nya, namun masih lebih baik. Pria itu hanya lebam disekitar pipi kanan nya dan ada luka sobek kecil dibibir dan dagu nya.
Sunggyu yang melihat Park Jung sudah sedemikian lemah nya dan Woo Hyun semakin beringas dengan nekad mendekat pada pria itu.
"hentikan! Hentikan Woo! " teriaknya mencoba menarik tangan Woo Hyun. namun kekuatan Woo Hyun yang berada diatas nya tak sanggup ia halau, alih2 menahan pria itu nyata nya malah kibasan tangan Woo Hyun mengenai wajah nya hingga membuat Sunggyu terhuyung kesamping.
Woo Hyun yang menyadari hal itu sempat menghentikan gerakan nya, namun kembali melanjutkan aksinya memukul wajah Park Jung. Sunggyu yang berada disamping dua pria itu kembali berusaha menarik Woo Hyun.
"Hentikan ! Hentikan Woo ! ibu mu tak akan suka jika ia tau kau seperti ini! " teriak Sunggyu. Nyata nya kalimat itu sontak membuat Woo Hyun berhenti. Ia mengalihkan pandangan nya kearah Sunggyu dengan nanar. Kemudian dengan paksa Woo Hyun melepaskan pegangan Sunggyu dan melangkah menjauh.
Sunggyu yang membeku kemudian mendekati Park Jung untuk menolong pria itu.
"menjauh darinya! " Tae Kyun mendorong tubuh Sunggyu hingga terjatuh.
"ini semua karena mu! Hanya karena Park Jung mengejek mu sekali, ia sampai harus seperti ini! Kau memang tak berguna! " seru Tae Kyun gusar. Mereka berdua memang merupakan anggota Woo Hyun dan merupakan orang terdekat pria itu sejak dulu.
Sunggyu terhenyak. Woo Hyun melakukan hal itu karena nya? mengapa?
.
.
"Gwenchana? " tanya Sunggyu hati2 ketika menemukan Woo Hyun berdiri diatas atap sambil melihat pemandangan kota dari atas sekolah. Pria itu menoleh sebentar kemudian kembali melihat kearah lain.
"apa yang kau lakukan disini? " tanyanya. Sunggyu mendekat. Tanpa berkata apa2, ia menempelkan plester pada luka di pipi Woo Hyun. saat ia akan menempelkan plester kedua pada dagu Woo Hyun, pria itu menangkap tangan Sunggyu dengan cepat.
"hentikan ini. . "
Sunggyu menarik tangan nya. dengan acuh ia kembali menempelkan plester itu.
"aku bilang hentikan. .apa kau tuli? "
"mengapa kau melakukan itu? apa mereka benar? Kau melakukan ini karena ia mengejek ku? " tanya Sunggyu akhir nya. Woo Hyun berdecak kesal. Ia mengalihkan pandangan nya.
"kau tak harus begitu Woo. .aku bukan siapa2 mu, kau tak seharus nya bersikap berlebihan. "
"mereka menyebut mu pelacur. . " desis Woo Hyun. Sunggyu tersenyum pahit.
"mungkin mereka benar. Aku memang sudah menjadi seperti pelacur pada mu dulu. .jadi mereka hanya mengatakan hal yang benar. .kau tak perlu marah dan khawatir pada perasaan ku. .jadi. . "
"tak bolehkah aku khawatir pada mu? Tak boleh kah aku memikirkan mu walau sekali saja? " sergah Woo Hyun.
"Woo. . " desis Sunggyu. Pria tampan itu menoleh pada nya.
"jawab aku. . "
Sunggyu menundukkan kepalanya. "kau tak boleh melakukan itu. .seperti yang kukatakan. .kita bukan siapa2. . "
Woo Hyun menggeram. Ia menarik Sunggyu secara tiba2 dan tanpa aba2 ia melumat bibir Sunggyu dengan agresif. Membuat sunggyu membeliak tak percaya. Meskipun selalu menjadi budak Woo Hyun sejak dulu, namun ia tak pernah merasakan pria itu mencium nya. Woo Hyun melepaskan pagutan nya.
"aku menyukai mu Gyu. . " lirih nya membuat Sunggyu semakin tak percaya. Ia hanya bisa membeku tanpa sepatah kata pun. Woo Hyun memeluk Sunggyu dengan erat.
"aku menyukai mu Kim Sunggyu. . " kalimat itu kembali meluncur dari mulut Woo Hyun. membungkam setiap buncahan rasa penasaran dan tak percaya yang ada dalam diri Sunggyu. Kalimat yang merubah rasa tak percaya menjadi keyakinan. Mengubah nya menjadi ungkapan bahagia yang tak bisa ia uraikan dengan baik. Yang ia tau hanya, ia membalas pelukan Woo Hyun pada nya. merekatkan pria itu padanya. Dan meyakini hal itu sudah cukup untuk menunjukkan perasaan nya. tanpa sepatah pun kata.
.
.
TBC-
Wuhuuu! Chap 4 ending juga. .maaf kalau alur nya kurang greget dan banyak adegan romantis nya :D ane lagi berbunga2 abis liat moment Myungyeol sama WooGyu di Infinite Shining Night, jadi kebawa kedalam perasaan dan tanpa sadar ngebanyakin moment2 manis nya :v
Okeh, sampai jumpa di chapter 5! ^_^
