DISCLAIMER : Masashi Kishimoto
Asal cerita : Naruto
Author : Saiaaah. Hahahaha
Genre : Romance, Drama, dan Agama pastinya.
Warning : OOC, AU, ada unsur agama Islam.
Haoooo pembaca yang budiman, maaf sy update ceritanya lama sekali. Lagi susah berkonsentrasi sama cerita, mengingat tiap buka internet yang saya lakukan cuman browsing JabbawokeeZ, sekelompok penari hip hop yang bikin mata saya melotot (liat tariannya), wakakakakak. Saya baru tahu ada acara yang namanya America's best dance crew, udah mau nyampe season 6 malahan. Nyah nyah nyah. Okee, jadi ini chapter 4-nya. Terimakasih untuk pembaca budiman yang setia membaca atau sekalian mereview cerita saya. Saya sangat terharu *narik ingus*.
Terimakasih kepada :
Haruno Aoi : Makasih ya mba selalu setia membaca dan meriview fic sy ini. sy selalu merasa senang dapat reviewan dari mba, membuat kalbu saya bergetar, wehehehe. Bikin saya semangat. Reviewan dari semua juga bikin saya semangat juga ;).
Ryuzaki'89 : Hahaha, kalau Hinata jadi animal trainer Gaara sama Sasuke, bisa2 kedua orang itu gak berumur panjang. Ehehe. Makasih ya sarannya. Kakashinya menyusul. Chapter depan sy bikin Gaa-Sasu-Hina yg agak panjang ;).
Kana seiran : Hehe, Sasukenya terlihat keren kali yak. Ga papa, asal Kana masih setia sama fic saya ini, nyahahaha. Mak chiyo juga mengingatkan sy sama seseorang. Ehehe.
Mayachan : Maaf Maya updatetannya lama. Semoga terbayar ya dengan chapter ini ;).
Mayra gak login : Hehe, sy suka senyum2 sendiri kalau baca reviewan Mayraa. Kayaknya orangnya ceria banget ;D. Makasih yaaa reviewannya. Sy terharu. Sy nantikan fic Mayra yang baru ;)
Sora Hinase : Makasih Sora, semoga ada kebaikan yg bisa d ambil dari fic ini, nyahahahaha. Nasib Hinata baik-baik saja bersama pemuda2 cacat mental itu, jadi sedikit lebih berwarna aja. Hehehe.
Puthey Puny'Zelf : makasih Fav-nya Puthey. Makasih pujian, kritik, sarannya ;). Sangat sy hargai. Hehehe, Gaara memang seleranya gak sesuai tampang, menandakan dia sebenarnya baik hati wakakakak. Sasuke atheis biar nambahin konflik ;D
Yuuaja : Makasih Yuuaja, semoga Yuuaja suka chapter yg ini. Happy reading ;)
Monggo di nikmati ceritanya. Sedoot Gan
Bab IV -It's My Life-
[Selasa, 15 Februari 2011]
Malam yang tenang di kediaman keluarga Gaara, masing-masing penghuni rumah tenggelam dengan kegiatan masing-masing. Sebut saja Kankurou, Kakak laki-laki Gaara yang terpaut satu tahun usia dengan adiknya baru saja menyelesaikan setengah bagian dari bab 4 skripsinya. Kini, setelah hampir seharian bersemedi di kamar –sambil mengetik tentu saja—Kankuro sedang duduk nyaman berhadapan dengan televisi, mengistirahatkan otak dan matanya yang hampir cedera karena terlalu lama berpikir dan memelototi laptop.
Lain Kankurou lain pula Temari, kakak tertua Gaara ini sedang asyik bertelepon ria, mengorek gossip dari temannya di seberang telepon, terkikik atau ngakak dengan perioda konstan 3 menit sekali, membuat Kankurou yang berada dalam satu ruangan yang sama melirik kakaknya kesal. Dan Gaara? Gaara sedang terpekur menatap layar handphone-nya.
Entah Naruto sudah mengutuk Gaara karena waktu itu mengirim sms balasan yang mengusik jiwa dan mendatangkan murka atau memang sekedar karma karena sering kali membuat orang darah tinggi dengan smsnya, kini Gaara-lah yang tengah terpekur menatap layar Andoridnya. Shikamaru baru saja mengabari bahwa besok Gaara sudah bisa mulai mentoring. Rabu jam 1 siang di Masjid Salman, Gaara tiba-tiba merasa moodnya jadi jelek. Gaara tidak tahu darimana Shikamaru mendapat informasi tentang jadwal kuliah dan waktu kosongnya. Bukan urusannya, tapi yang membuat Gaara merasa mendapat azab dari Allah SWT adalah karena Shikamaru mengabari bahwa orang yang akan menjadi mentor Gaara adalah Shikamaru sendiri.
Hebat!
Gaara yakin 100% Shikamaru akan memastikan Gaara mendapatkan 'ilmu agama' yang dibutuhkannya, yang artinya mentoring agamanya akan berlangsung penuh penderitaan. Poor Gaara.
Gaara membuka pintu kamarnya dan berjalan cepat menuruni tangga. Dia baru ingat kalau dia berjanji pada Shikamaru akan memanggil guru ngaji ke rumahnya sebagai ganti tidak ikut mentoring tahsin. Tapi bukan itu sekarang tujuannya, masalah guru ngaji yang belum kunjung dipanggilnya dapat dia atasi dengan mengarang cerita, tapi kalau besok dia datang tanpa persiapan sama sekali, tidak membawa Al-qur'an misalnya, dia khawatir akan mengusik naluri 'sok ustadz' Shikamaru yang artinya bencana baru untuknya.
Jadi disinilah Gaara sekarang, di ruang santai tempat Kankurou dan Temari yang menghentikan aktivitas mereka sebelumnya karena terusik oleh kedatangan Gaara. Gaara mencari-cari sosok tebal Al-qur'an di rak buku yang berdiri kokoh di ruangan. Badannya membentuk irama membungkuk-jongkok-kembali berdiri secara konstan. Kankurou menaikkan salah satu alisnya memandang bagian belakang tubuh adiknya yang kini sedang jongkok untuk yang kesekian kalinya.
"Ngapain sih lu?" Kankurou membuka mulut. Temari menghentikkan dialognya dengan kawannya di seberang telepon yang kini sibuk mengulang pertanyaan yang sama pada Temari, "Temariiii, woooi, masih idup lo?"
"Nyari Al-qur'an." Gaara menjawab tanpa memandang kakaknya yang kini tengah membatu mendengar jawaban Gaara. "Disimpen di mana sih?" Gaara ganti bertanya pada kakaknya. Kankurou berpandangan dengan Temari.
"Buat apaan?" Kankuro kembali bertanya dengan tampang bodoh.
"Ya dibaca lah." Jawab Gaara datar, masih memunggungi kakaknya. Kankurou celangap saking shocknya dan Temari tanpa sadar menekan tombol reject pada handphonenya, mematikan sambungan teleponnya.
"Bego! Masak Gaara mau nyari nomer togel dari Al-qur'an!" Temari akhirnya bersuara dengan tampang sok cool, tidak mau terlihat shock dengan muka mengenaskan seperti Kankurou.
"Mana gue tahu! Lagian tumben amat nyari Al-qur'an!" Kankurou membela diri. Temari memberikan tatapan menghina sebagai gantinya, namun segera mengubah ekspresi wajahnya ketika tidak sanggup menyembunyikan keheranannya pada Gaara.
"Tapi bener sih, Gaara, dalam rangka apa sih baca Al-qur'annya?" Temari ganti bertanya. Gaara akhirnya membalikkan tubuhnya. Ditatapnya Temari dan kankurou yang sedang memandangnya heran. Gaara menyesal sudah jujur pada kedua kakaknya, tapi sudah terlanjur. Temari tidak akan berhenti berkicau menuntut jawaban kalau dia tidak menjawab.
"Mentoring...agama." Gaara menjawab kikuk. Memandang kedua kakaknya yang kini melongo memandangnya.
"Mentoring itu kayak pengajian gitu, kan?" Temari teringat kembali masa SMA-nya, dimana dia pertama kali mendengar kata mentoring. Gaara mengangguk.
"Hah, yang duduknya ngelingker? Yang isinya ibu-ibu itu?" Kankurou bertanya takjub, membayangkan Gaara dikelilingi ibu-ibu yang heboh berusaha mengajaknya ngobrol. Gaara melotot memandang Kankurou.
"Ya dan tidak untuk pertanyaan kedua!" Gaara menyembur, "Sejak kapan gue hobi begaul sama ibu-ibu? Ini mentoring kampus!" Gaara berusaha mengontrol emosinya yang tadi sedikit lepas kendali karena mendengar pertanyaan polos Kankurou yang menjatuhkan harga dirinya.
"Ooh," Temari dan Kankurou menjawab bersamaan, masih memandang Gaara takjub. Buat Temari dan Kankurou yang kuliah di perguruan tinggi swasta Kristen, mentoring agama tidak ada dalam kurikulum perkuliahan mereka.
"Hahahaha! Wooow, selamat deh. Tobat nih yee ceritanya." Kankurou akhirnya bisa mengeluarkan tawanya yang dari tadi nyangkut di tenggorokan. Temari mulai ikut nyengir memandang Gaara.
Gaara merasa pelipisnya berdenyut, rupanya memang dari awal dia seharusnya langsung bertanya pada Mak Chiyo. Apa daya, maksud hati ingin menghindari pertanyaan dari kakak-kakaknya dan Mak Chiyo (yang pasti reaksinya akan lebih heboh dari kedua kakaknya), sekarang Gaara malah ditertawai kedua kakaknya dan mungkin sebentar lagi Mak Chiyo juga akan memberondongnya dengan pertanyaan.
Gaara segera keluar dari ruangan setelah memberikan tatapan –Ku sate kau!- pada Kankurou yang langsung mingkem. Tanpa butuh waktu lama Gaara sudah berada di depan kamar Mak Chiyo dan segera mengetuk kamarnya. Mak Chiyo yang merupakan pelayan siap-antar-jaga tentu saja dengan kecepatan mengagumkan langsung merespon ketukan Gaara.
"Den Gaara, ada apa?" Mak Chiyo bertanya sedikit heran pada majikan bungsunya yang jarang-jarang mau mengunjunginya.
"Mak, Al-qur'an di simpan di mana?"
"Eeeh, saya gak salah dengar, Den?" Bukannya menjawab Mak Chiyo malah balik bertanya. Gaara menghembuskan napas frustasi.
"Enggak." Gaara menjawab singkat, merasa kesabarannya semakin menipis, -jadi, dimana?" Ulangnya.
"Dulu sempat punya, Den. Sama nyonya disimpan di gudang, tapi sekarang mah sudah gak ada, sudah dikasih ke panti asuhan semua." Mak Chiyo menjawab ceria, mungkin Mak Chiyo merasa Gaara akhirnya mau tobat.
"Hnn...Tapi mak punya, kan?"
"Oooh, ada, Den. Aden mau? Saya ambilkan ya, sebentar." Tanpa menunggu jawaban Gaara Mak Chiyo melesat masuk ke dalam kamar dan segera kembali dengan sabuah buku tebal di tangannya. Gaara mengambil Al-qur'an yang di sodorkan kepadanya.
"Den Gaara mau belajar ngaji?" Mak Chiyo menanyai Gaara yang sedang membolak-balik Al-qur'an di tangannya.
"Hnn," Gaara hanya menyahut seadanya yang diartikan 'iya' oleh Mak Chiyo.
Al-Qur'an Terjemah Indonesia
Gaara membaca barisan kata di sampul hijau Al-qur'an yang dipegangnya. Senyum tipisnya terukir di wajahnya. Dibukanya Al-Qur'an dengan sampul sewarna matanya itu, dan Gaara merasa rasa kesalnya terbayar. Al-Qur'an yang Gaara pegang tidak hanya memiliki terjemahan bahasa Indonesia seperti yang tertera di sampulnya, tapi juga dilengkapi transliterasi huruf latin dalam penulisan ayat-ayatnya. Sangat membantu untuk orang-orang yang masih kesulitan membaca tulisan arab. Dia bisa berpura-pura sudah belajar mengaji pada Shikamaru besok.
Kita tinggalkan Gaara yang sedang merasa sedikit lega dengan nasib yang menunggunya besok. Kita beralih sejenak pada satu tokoh yang memiliki nasib mengkhawatirkan di manga maupun di sini. Siapa dia kawan? Aaah, pasti kawan budiman tahu siapa dia, Sasuke 'rambut pantat ayam' Uchiha.
Sasuke 'si ganteng' Uchiha sedang serius menatap layar laptopnya. Sesekali bibirnya melengkung membentuk senyuman saat menyaksikan adegan rated M di layar laptopnya. Coba tebak apa yang ditontonnya? Sinchan nguber-nguber anak ayam tetangga? Bukan, itu kesukaannya Gaara, dan ratednya tidak mungkin M, palingan 'perlu bimbingan orang tua'. Atau adegan Marimar yang sedang curhat dengan anjingnya Pulgoso? Bukan, Sasuke bukan penggemar telenovela, itu kesukaannya Itachi (Ampun, becanda saya. Saya takut disantet sama Itachi lover). Jadi, yang ditonton Sasuke memang adalah adegan rated M beneran, alias video mesum bin porno. Oops, Sasuke kita memang bukan orang baik-baik di sini kawan.
Sasuke mendongakkan kepalanya dengan enggan dari layar laptopnya saat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Tanpa menunggu izin dari Sasuke, sang pengetuk pintu membuka pintu dan duduk di ranjang Sasuke.
"Ada apaan?." Sasuke menatap si pengganggu dan mem-pause filemnya. Si pengganggu alias Itachi Uchiha menatap layar laptop Sasuke sebelum menjawab. Itachi menghela napas saat mengetahui apa yang sedang di tonton adiknya.
"Koleksi baru nih?" Itachi mengabaikan pertanyaan Sasuke.
"Ada perlu apa? Kalo gak penting mending keluar aja deh. Ganggu tahu." Sasuke menyilangkan tangannya, menatap Itachi malas.
"Ya ampun, Sasuke. Lo sama gue itu mukanya lebih omes gue. Tapi kenapa kenyataannya otaknya lebih omes elu sih. Koleksi video porno lo berkali-kali lipat lebih banyak dari gue. Fans cewek lo bisa nangis kalo tahu." Itachi berkata sok prihatin. Sasuke mendengus.
"Bang Itachi ke sini cuman mau curhat soal koleksi abang yang gak sebanyak gue? You're wasting my time, Dude. Ntar gue sedekahin deh koleksi gue." Sasuke membalas ucapan abangnya yang kini sedang menguap. Abangnya memang seringkali datang ke kamarnya hanya untuk menyampaikan hal-hal tidak penting.
"Hmm, ga perlu. Gue cuman mau ngobrol doang sama elo."
"Soal?"
"Udah tertarik masuk ke suatu agama?"
Sasuke menaikkan satu alisnya saat mendengar pertanyaan Itachi. Topik ini merupakan topik sensitif bagi Sasuke di lingkungan keluarganya. Orang tua Sasuke plus Itachi sudah mengetahui bahwa Sasuke adalah seorang atheis sejak beberapa tahun terakhir ini. sebagaimana orang tua normal lainnya, orang tua Sasuke marah dan kecewa dengan keputusan anaknya. Ibu Sasuke berulang kali memaksa anaknya untuk kembali pada agama yang mereka anut, tapi Sasuke menolak. Dan sejak itu sudah tak terhitung berapa kali tergelar diskusi penuh emosi yang diakhiri tangisan ibunya. Sasuke benci jika keluarganya mengungkit-ungkit pilihannya untuk tak ber-Tuhan.
"Lo tahu kan, Bang, kalo gue gak suka sama diskusi ini." Sasuke menatap dingin abangnya. Itachi mengangkat bahu.
"Jadi lo lebih suka ngeliat nyokap lu nangis liat tingkah lo yang makin rajin kelabing, bolos kuliah, nonton filem porno, dan segala macam pergaulan lo yang gak jelas lainnya?" Tepat sasaran, Itachi mengenai titik sensitif pembicaraan.
"None of your bussiness." Sasuke mendesis kepada Itachi. Matanya menyipit tidak suka.
"Jelas ini urusan gue, Sas. Gue abang lo. Dan terus terang gue sedih liat kondisi lo sekarang. Kemana Sasuke gue yang lucu dan polos, yang dulu sering nemplok gak bisa lepas dari gue. Yang sering minta dikelonin kalau tidur." Itachi berkata polos dengan ekspresi muka penuh keprihatinan. Kondisi yang aneh mengingat pembicaraan mereka sudah terarah serius tadinya. Itachi memang pandai memporak-porandakan mood.
"Bang, please. Cacat mental lo itu disembuhin dulu. Lo bisa bikin orang pengen bunuh diri denger ucapan gak penting lo." Sasuke mengangkat sebelah tangannya frustasi sambil menunjuk abangnya.
"Sas, atheis aja udah dosa. Kalau lo tambahin sama bunuh diri, lo bisa jadi kerak neraka." Itachi mengomentari ucapan Sasuke, maksudnya bercanda, tapi Sasuke yang sudah gak enak mood sejak awal meledak mendengar ucapan abangnya.
"Cukup! Gue gak mau ngelanjutin diskusi gak penting ini, oke! End of discussion!" Sasuke berdiri dari duduknya. Kemarahan tampak jelas di wajahnya.
"Fine, Sasuke. Gue juga mau keluar. One last word –err mungkin paragraph, gue lebih suka liat lo milih agama apapun daripada kayak gini. Setidaknya ada yang jadi rem buat lo untuk aktvitas-aktivitas lo yang sekarang lo sebut 'kebabasan gue yang gak berbatas'. Ingat mama, Sas. Setidaknya rem aktivitas-aktivitas hedon lo yang berlebihan itu. Kalaupun athesis, lo masih tetep bisa jadi anak baik, kan?" Pertanyaan retoris. Maka karena tidak merasa harus mendengar jawaban Sasuke, Itachi melangkah keluar dari kamar adik semata wayangnya. Ditepuknya pundak Sasuke sebelum keluar. Senyum sedih yang tulus keluar dari bibir Itachi.
[Masjid Salman, tengah hari]
"Ngg... Gaara, sebentar." Gaara yang sedang membaca salah satu ayat di Al-Qur'an menghentikan bacaannya ketika mendengar panggilan Shikamaru. Diturunkannya Al-qur'an yang sedari tadi dibaca dengan posisi tepat di depan wajah. Pembaca budiman pasti pernah lihat petugas pembaca UUD'45 di upacara sekolah kan? Kira-kira begitulah Gaara menempatkan Al-qur'an di depan matanya.
"Kenapa Al-qur'annya mesti dipegang kaya gitu sih? Kayak mau baca UUD'45 pas upacara aja." Shikamaru bertanya sambil tersenyum. Naruto, Kiba, Sai, Lee, Chouji, dan Shino yang jadi partner mentoring Gaara tidak repot-repot menyembunyikan cengiran di wajah mereka. Gaara memandang Shikamaru, berusaha terlihat senormal mungkin.
"Memang gak boleh?" Tanya Gaara tanpa ekspresi. Sebenarnya Gaara juga tidak mau membaca Al-qur'annya dengan pose begitu, tapi dia tidak bisa meletakkan Al-qur'annya di pangkuannya, karena pasti Shikamaru atau temannya bisa mlihat transliterasi huruf latin yang ada di dalamnya.
"Boleh kok, saya cuman heran aja. Gak capek apa dipegang terus di depan muka begitu? Lagipula.." Shikamaru menggantungkan ucapan terakhirnya, menatap Gaara dengan kening berkerut.
"Lagipula?" Tanya Gaara dengan sok polos. Padahal sebenarnya Gaara sudah khawatir Shikamaru bisa mencium akal bulusnya.
"—Lagipula kok saya ngerasa aneh dengan bacaan kamu ya? Saya senang tentu saja kamu sudah bisa dikit-dikit baca Al-Qur'an sekarang, tapi kok tetep rasanya terlalu cepat dan bacaan kamu itu kayak ngebaca dari tulisan dalam versi huruf Latin, bukan Arab."
Mampus gue!
Gaara sweatdrop. Dia sudah berusaha menyamarkan bacaan (Latin) Al-Qur'annya agar sebisa mungkin terlihat normal bagi orang yang baru belajar ngaji, tapi dasar emang kagak pernah ngaji, Gaara tidak tahu standar bacaan orang baru belajar ngaji itu seperti apa.
"Gaara kan emang pinter, Bang. Mungkin dia emang udah khatamin iqro dari satu sampe 6 kemaren-kemaren. Makanya sekarang udah bisa baca Al-Qur'an." Naruto berkomentar membela Gaara.
"Gaak mungkin!" Kiba, Shino, Chouji, Lee, dan Sai langsung ber-koor kompak menyuarakan isi hati mereka. Gaara memberikan tatapan maut pada kelima temannya itu.
"Hmm, begitu ya." Shikamaru manggut-manggut, "Coba saya pinjam Al-Qur'annya."
Gaara merasa dirinya di ambang kekalahan sekarang. Shikamaru pasti curiga dan ingin membuktikan kecurigaannya. Merasa tidak ada gunanya melawan, Gaara menyerahkan Al-Qur'an ditangannya.
Shikamaru membuka-buka Al-qur'an Mak Chiyo. Matanya melebar dan senyumnya mengembang saat melihat transliterasi huruf latin yang terpahat di bawah setiap huruf arab.
"Khekhekhe, darimana kamu dapat Al-Qur'an ini Gaara?" Shikamaru terkekeh.
"Itu punya saya." Jawab Gaara pendek.
"Hee.. Sejak kapan nama kamu berubah jadi Chiyo Jubaedah?" Shikamaru menunjuk sederet nama yang terpampang di lembar awal Al-Qur'an yang dipegangnya.
Dammit! Gue gak tahu ada nama si Emak di situ.
Gaara mematung, tidak bisa menyangkal ucapan Shikamaru.
"Nyahahahhaa! Gyaahahahaha! Nama panggung tuh ceritanya?" Naruto yang tertawa paling keras diantara teman lainnya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda Gaara.
"Naruto, lu mau mati muda, Ya?" Gaara memberikan tatapan mautnya yang paling maut pada Naruto. Naruto sedikit jiper melihatnya, perkataan yang sifatnya candaan bisa berubah serasa jadi pernyataan serius kalau Gaara yang mengucapkan.
"Oke, Bang, saya ngaku. Itu bukan punya saya. Saya juga belum belajar ngaji, lupa." Gaara mengaku.
Shikamaru manggut-manggut sambil mengulum senyum. "Saya udah prediksi kok." Ucapnya sok cool. Keenam temannya tertawa mendengar ucapan jujur Shikamaru. "Oke, saya bersedia meluangkan waktu saya seminggu sekali untuk ngajarin kamu ngaji. Gak usah lama-lama, Sejam setiap pekannya."
"Bang, serius. Makasih banyak tawarannya. Gak usah repot-repot. Saya bisa belajar sendiri." Gaara merasa dirinya agak panik mendengar Shikamaru yang tulus menawarkan diri mengajarinya.
"Aaah, kalo nunggu elu yang mau belajar sendiri sih bisa-bisa sampe kiamat juga lu belum lulus iqro satu, Gaara." Lee berkomentar dan menepuk-nepuk bahu Gaara yang memang duduk tepat di sebelahnya. Gaara memberikan tatapan mata elang plus rajawalinya yang membuat Lee terdiam dan menarik tangannya.
"Oooh, kamu berencana ikut kelompok tahsin nih ceritanya? Ide bagus juga. Biasanya sih untuk anak dengan kasus kayak kamu dapat service lebih. Yaah, mungkin seminggu bisa dua kali mentoringnya." Shikamaru memandang Gaara dengan senyuman lebar. Gaara merasa dia perlu menonjok sesuatu saat ini untuk menyalurkan rasa frustasinya pada Shikamaru.
"Oke, abang menang. Terserahlah." Gaara ngambek.
Shikamaru tersenyum menatap Gaara. "Rasulullah SAW pernah bersabda 'Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabullah ini maka baginya satu pahala, dan kebaikan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak katakan alif-lam-mim satu huruf.' (H.R. Tirmidzi). Membaca Al-qur'an memang sunnah, tapi sebagai ummat Allah SWT, sudah selayaknya kita membaca dan mentadaburi apa yang Allah SWT turunkan pada kita. Karena itu adalah salah satu pedoman kita hidup di dunia. Lagian pahalanya banyak loh. Bayangkan berapa banyak pahala yang bisa kita panen tuh." Shikamaru tersenyum pada ketujuh adik mentornya.
"Wiii, lumayan tuh buat nutupin dosa gue." Celetuk Kiba senang.
"Iye, dosa lu kan lebih gede dari Gunung Bromo." Naruto berkomentar yang segera mendapat jitakan super kuat+sepenuh hati dari Kiba.
"Heei, jangan berantem!" Shikamaru memelototi kedua bocah sarap di hadapannya. "Iya, memang bisa untuk nambahin amal kita nanti. Tapi jangan lupa, niatkan bacanya untuk beribadah pada Allah SWT, supaya amal kita gak sia-sia. Allah SWT itu Maha Baik, baru niat aja udah dikasih pahala, apalagi kalo beneran direalisasikan ngajinya." Shikamaru melanjutkan ceramahnya. Adik-adik mentornya –minus Gaara—manggut-manggut.
"Laah, terus kalau kayak Gaara gini, yang bacaannya masih ancur-ancuran, gimana tuh?" Sai yang terkenal sangat jujur dalam berucap menanyai Shikamaru. Lee yang prihatin melihat nasib Gaara menepuk pundak Gaara penuh simpati. Gaara sejujurnya sudah pasrah, ditempatkan bersama orang-orang cacat mental dan cacat pikiran macam Naruto dkk merupakan musibah yang tidak dapat ditolaknya. Mungkin ini juga azab dari Allah SWT, begitu pikir Gaara.
"InsyaAllah tetap mendapat pahala. Aisyah ra mengatakan, Rasulullah bersabda 'Yang membaca Al-Qur'an dan dia mahir membacanya, dia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur'an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan, baginya dua pahala.' (HR. Bukhori-Muslim). Jadi jangan khawatir, semua kebaikan ada rewardnya." Shikamaru berkata panjang lebar, yang lain –minus Gaara—manggut-manggut.
"Hmm, kalo ga salah Al-Qur'an juga bisa jadi syafa'at di hari kiamat nanti, kan?" Shino bertanya. (syafa'at: penengah (perantara) bagi yang lain dengan mendatangkan suatu kemanfaatan atau menolak suatu kemudharatan)
"Iya betul." Shikamaru membenarkan.
"Naah, terus yang paling penting, jadi penerang di alam kubur nanti!" Naruto berkata dengan semangat.
"Napa lu semangat gitu sih?" Kiba bertanya heran.
"Soalnya gue takut gelap. Saking parnonya, gue pernah bilang gini ke nyokap gue 'Bun, ntar kalo Naruto mati, jangan lupa pasangin neon ya di dalam liang lahat Naruto, biar terang'. Gitu, eeh, nyokap gue malah mau lempar gue pake sendal." Naruto cengengesan. Yang lain –termasuk Gaara—cengo' menatap Naruto.
"Dasar bego! Lu pikir ngaruh apa! Aduh Naruto, kadang-kadang gue stress mikirin kapasitas otak lu itu dalam berimajinasi!" Kiba menyembur Naruto. Naruto manyun.
"Dasar orang stress." Chouji yang dari tadi mingkem akhirnya terusik mendengar ucapan Naruto.
Lee dan Shino geleng-geleng kepala melihat Naruto yang kerap kali mebuat orang depresi mendengar ocehannya. Shikamaru dan Sai berpandangan, bingung mau berkomentar apa. Dan Gaara, Gaara sedang menutup sebelah mukanya. Mau tidak mau dia merasa ingin tersenyum melihat tingkah teman kelompoknya. Sepertinya mentoring tidak terlalu membosankan seperti yang dia bayangkan.
[Hari yang sama, Pukul 16.00 Petang]
Para mahasiswa kelas Kesehatan Lingkungan sudah duduk manis di kursi masing-masing sambil bergossip ria menunggu kedatangan Ibu Tsunade. Yah, tidak semua anak sedang bergossip ria sebenarnya. Gaara dan Sasuke kompak menempelkan muka di atas meja kursi, memejamkan mata dan sedang berada di alam mimpi. Kiba dan naruto, Kembar Srikandi kita, sedang mengobrol heboh –oke, yang heboh Naruto doang sebenarnya.
Hinata, gadis manis berambut panjang ini sedang mengobrol dengan Sakura, mahasiswi jurusan Matematika angkatan '08. Hinata dan Sakura sudah saling kenal sejak SMP, tapi berpisah sekolah ketika SMA dan akhirnya bertemu lagi di kampus ini. Sakura yang dulu dikenal Hinata sebagai 'preman' sekaligus siswa andalan sekolah karena keberanian dan kecerdasannya, sekarang telah banyak berubah di mata Hinata.
Sakura memang bukan anak yang nakal ketika SMP, tapi ke-macho-annya membuatnya jauh dari kesan feminim. Rambutnya yang soft pink sebahu selalu dibiarkan tergerai ketika SMP. Wajahnya yang cantik namun dengan garis muka yang tegas cukup manjur membuat siswa bergender lelaki di sekolahnya berpikir ulang untuk menggodanya. Namun sekarang, Hinata sedang berhadapan dengan seorang gadis berkerudung rapih yang meskipun masih agak terlihat sangar, namun terlihat jauh lebih feminin. Secara sifat Sakura tidak berubah banyak, tetap Sakura yang pemberani dan lantang menyuarakan pendapat.
Ketika sedang asik-asiknya curhat, seorang bapak dengan kemeja hitam masuk ke dalam kelas. Anak-anak yang melihat kedatangan si bapak menatapnya ingin tahu. Biasanya sih kalau ada utusan datang ke kelas berarti dosen yang mengajar sedang berhalangan, yang artinya tidak ada kuliah.
"Mohon perhatiannya." Bapak berkemeja hitam itu mulai bersuara dengan logat Sunda yang kental. "Bu Tsunade masih ada urusan di kantornya, jadi datangnya agak telat. Tapi kuliah masih akan tetap diadakan, jadi jangan kemana-mana, ada kuis." Bapak tersebut mengakhiri ucapannya yang segera mendapat ucapan 'Yaaah' kecewa dari para mahasiswa.
Kelas kembali ramai setelah Bapak pengantar pesan itu keluar kelas. Sasuke yang sedang tidak enak hati karena percakapan singkatnya semalam dengan Itachi ditambah sedikit ceramah berlinang air mata dari ibunya tadi pagi, memutuskan keluar dari kelas dan menenangkan pikiran di luar. Gaara yang hapal dengan ekspresi muka Sasuke ketika ada masalah menatap Sasuke yang beranjak dari bangku.
Biasanya Gaara membiarkan Sasuke ketika sedang ada masalah, tapi sepertinya dari wajah Sasuke yang kucel kumel dan nelangsa, Sasuke membutuhkan seseorang untuk berbagi *Cuih, bahasa gue*. Sebenarnya bukan itu saja alasan Gaara, dia memang tidak suka dengan kondisi kelasnya yang kelewat ribut (karena ada Naruto).
Sayang sekali, Naruto yang melihat Gaara dan Sasuke yang kini sedang duduk di lantai luar kelas, menganggap ini adalah saat yang bagus untuk diskusi tugas kelompok mereka. Maka dengan semangat '45 Naruto menyeret Kiba dan menghampiri Hinata yang sedang ngobrol dengan Sakura.
"Hinata, kita diskusi kelompok bentar ya, gue tunggu di luar." Naruto mengedikkan kepala ke arah Sasuke dan Gaara yang sedang duduk di luar. Hinata yang dapat melihat kedua cowok menyebalkan itu dari pintu kelas mereka menatap naruto putus asa. Naruto yang tidak menyadari pandangan Hinata kini sedang berjalan ceria menghampiri Sasuke dan Gaara.
"Sakura, ikut yuk." Hinata menarik tangan Sakura.
"Eeh, aku kan bukan kelompok kalian." Sakura berkata bingung.
"Gak papa, siapa tahu bisa sekalian diskusi. Please, aku lagi gak pengen jadi satu-satunya cewek di situ." Hinata setengah memaksa. Bukan Hinata takut atau apa dengan dua cowok cakep yang lagi ngedeprok tak berdaya di luar, tapi dia merasa lebih baik membawa teman dengan gender yang sama untuk jaga-jaga.
Kalaupun Gaara heran dengan kehadiran Hinata yang datang membawa Sakura, Gaara tidak menunjukkannya. Ekspresi wajahnya emotionless seperti biasa. Sasuke yang melihat kehadiran Hinata tersenyum tipis menatapnya. Sasuke jadi sedikit tertarik dengan Hinata setelah pertemuan pertama mereka di rumah Gaara.
"Hai, Hinata. Mau ngobrol sama Gaara?" Mengganggu orang sepertinya bagus untuk memberikan hiburan pada dirinya yang sedang tidak enak mood.
"Enggak, makasih." Hinata tersenyum terpaksa. Gaara tidak bereaksi.
Sasuke terkekeh pelan melihat senyum terpaksa Hinata. Pandangan Sasuke berpindah pada Sakura. Sasuke mengernyit.
"Lo Sakura, kan?" Sasuke menanyai gadis berkerudung biru langit yang kini ikut melantai di sebelah Hinata. Sakura mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, apa kabar, Sasuke?" Sakura balas bertanya. Sasuke yang baru ikut kuliah bersama Gaara memang tidak tahu kalau dia sekelas dengan Sakura.
"Hmm,,,baik." Jawab Sasuke berbohong, Gaara mendengus mendengarnya.
"Laah, kalian kenal?" Kiba bertanya. Sasuke mengangguk.
"Kita satu SMA." Sakura menjawab. "Ooh iya, maaf ikut nimbrung. Saya diajak Hinata." Sakura menepuk punggung Hinata.
Gaara menolehkan kepalanya pada Hinata dan tersenyum tipis, lebih tepatnya senyum mengejek bagi Hinata. Hinata membalasnya dengan seringai lebar lima jari, bermaksud membalas mengejek Gaara, yang berhasil membuat Gaara shock melihat muka tidak kontrol Hinata.
"Oooh, boleh, gabung aja. Kita emang mau diskusi tugas yang kemaren kok." Naruto menjawab dengan senyum lima jarinya. Membuat Sasuke, Gaara, dan Kiba mengerang mendengar kata 'diskusi tugas' yang dilontarkannya. "Oh iya, kenalin, gue Naruto." Naruto menyodorkan tangan kanannya pada Sakura.
Sakura tersenyum dan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, tidak menyentuh tangan Naruto, "Sakura", jawab Sakura ramah.
"Eeeh, iya, bukan mukhrim ya." Naruto cepat-cepat menarik tangannya.
"Masih alim aja, Lo." Sasuke berkomentar, sedikit sinis.
"Oh ya? Saya cuman berusaha ngikutin yang di ajarin di agama aja." Sakura menjawab, tidak terdengar marah. "Kamu juga, Sas, masih sinis aja. Masih athesis?" Sakura nyengir, tidak bermaksud menyinggung Sasuke. Tapi memang sejak kelas tiga SMA Sasuke sudah memutuskan untuk tidak ber-Tuhan. Dan sebagai remaja labil, saat itu Sasuke sering kali mendatangai teman-temannya dengan latar belakang berbagai agama untuk berdebat tentang keberadaan Tuhan.
Sasuke tersenyum sinis. "Yaa, gitu deh. Belum ada yang bisa meyakinkan gue untuk balik lagi jadi orang beragama."
Naruto, Kiba, dan Hinata terdiam menyaksikan obrolan Sasuke-Sakura. Gaara hanya menguap menyaksikan sahabatnya yang sedang menatap dingin Sakura.
"Hmm, mungkin kamu yang nutup diri untuk mencari kebenaran, Sas." Sakura mengomentari.
"Oh iya? Gue udah pernah debat sama orang dengan latar belakang agama berbeda waktu SMA dulu. Gak ada yang memuaskan gue." Sasuke membantah.
"Yah, itu masalahnya, Sas. Kamu datang ke orang yang mungkin gak terlalu paham ilmu agamanya. Kita semua waktu itu masih anak SMA, Sas. Akan lebih baik kalau kamu datang ke pemuka-pemuka agama yang memang ilmunya jauh di atas kami semua waktu itu."
"Gue udah baca buku bermacam agama, browsing di internet. Gak ngaruh tuh. Malah gue jadi males ngeliat orang-orang yang sok suci ngebela agama masing-masing. Gimana tuh?" Sasuke tersenyum tipis, senyum mengejek.
Sakura tertawa kecil mendengar ucapan Sasuke. "Sayangnya untuk 'pencarian' dengan level serius begitu memang seringkali gak cukup hanya dengan membaca dan browsing doang. Kita jadi suka menafsirkan sendiri, jatuhnya jadi meraba-raba. Baiknya kamu memang harus ngobrol dua arah, Sas, dengan orang yang paham."
"Misalnya diskusi sama elo?" Sasuke bertanya dingin.
"Saya sih akan rekomendasikan orang yang lebih paham, tapi kalau kamu mau diskusi sama saya ya silahkan. Saya akan coba jawab sesuai kemampuan saya." Sakura tersenyum sopan.
"Gak masalah. Siapa tahu elo dapet jakpot bisa bikin gue insaf. Pahalanya gede tuh." Sasuke bermaksud mengejek Sakura. Naruto, Kiba, dan Hinata geleng-geleng kepala melihat tingkah Sasuke.
"Amiin. Yaah, saya sih gak nolak kalau ketiban rejeki. Thanks ya Sas, udah ngasih ladang amal. Hehe." Sakura nyengir. Sasuke memandangnya sebal.
Sial, Sakura! Kenapa dia gak marah-marah aja sih.
"Gue minta id YM. Enakan chatting, lebih fleksibel ngobrolnya. Lo jadi gak perlu bedua-duaan sama gue." Sasuke menyodorkan handphonenya.
Sakura mengangkat bahu, "boleh aja."
"Eeeh, diskusi terbuka aja napa. Gue kan penasaran juga." Naruto yang dari tadi mingkem akhirnya bersuara.
"Ini pribadi, Naruto. Gue gak pengen direcokin sama elu." Sasuke tersenyum tipis.
"Tsunade datang." Gaara tiba-tiba bangkit dari duduknya ketika melihat Tsunade yang tengah berjalan ke arah mereka. Gaara mengebut debu dari belakang celananya, membuat Hinata mendelik.
"Ngebut debunya jangan ke muka orang dong!" Hinata protes karena menghirup debu dari celana Gaara. Gaara hanya menaikan salah satu sudut bibirnya, senyum tipis mengejek, dan meninggalkan teman-temannya yang sedang heboh menepuk-nepuk bagian belakang pakaian mereka.
"Dasar mata panda!" Hinata menggumam kesal.
"I can hear that, youl'll be sorry for saying that." Gaara menanggapi gumaman kesal Hinata tanpa melihat si punya suara. Meninggalkan Hinata yang kesal memandang punggung Gaara.
[Travel warna merah ceria –tujuan Jakarta-Bandung-]
Neji menopang dagunya dengan tangan kanannya yang menempel di tepian jendela mobil travel yang sedang membawanya menuju Bandung. Matanya menatap kelebatan pemandangan pepohonan dan lahan terbuka yang seakan berlari ke arah berlawanan dengan gerak mobilnya. Penumpang lain mungkin mengira Neji sedang terpesona menikmati pemandangan Tol Cipularang, tetapi sebenarnya pikiran Neji tengah mengembara entah kemana.
Kelebatan memori kunjungannya ke suatu daerah kumuh Jakarta, tempat istri kedua ayahnya dulu tinggal, kembali bermain di benaknya. Ayahnya memang mendukung diam-diam usaha Neji untuk mencari keberadaan Istri kedua dan anak perempuannya. Dan Neji sangat menghargai itu. Setidaknya sekarang dia sudah mendapat sedikit informasi berharga dari kerabat jauh dan bekas tetangga istri kedua ayahnya.
Satu hal yang dia tahu pasti, adiknya tinggal di kota yang sama dengannya. Semoga masih. Bekas tetangga ibu Hinata mengatakan pernah melihatnya beberapa tahun lalu saat melayat salah satu kerabatnya yang meninggal. Berbekal informasi itu Neji mengunjungi rumah kerabat ibu Hinata, dan setelah diskusi panjang yang menguras emosi akhirnya mereka bersedia memberi tahu Neji bahwa Hinata dan ibunya kini tinggal di Bandung. Mereka tidak bisa memberi tahu Neji alamat Hinata dan ibunya, karena ibu Hinata merahasiakan tempat tinggalnya. Takut bertemu kembali dengan ayah Neji. Maka Neji harus puas dengan informasi seadanya yang didapat, plus sebuah foto yang diberikan oleh kerabat ibu Hinata.
Foto itu diambil saat Hinata dan ibunya kembali ke sana beberapa tahun lalu. Hinata dan ibunya tersenyum dari dalam foto. Adiknya seorang gadis berambut panjang yang cantik, sedangkan ibunya seorang wanita usia empatpuluhan yang kurus dengan mata teduh yang hangat. Neji seakan dapat melihat kesulitan hidup dari garis-garis wajah dan pakaian yang mereka kenakan.
Neji mendesah memandang foto yang kini berada di tangannya. Sudah lebih dari lima kali Neji memandang foto itu dan mengembalikannya lagi ke saku jaketnya. Sebenarnya pencarian adik dan istri kedua ayahnya akan lebih mudah kalau saja Neji tahu dari awal nama asli adiknya. Dia bisa melacak adiknya melalaui internet, karena biasanya institusi pendidikan menyimpan –setidaknya nama dan informasi akademik lainnya yang kadang bisa di akses lewat website. Namun ternyata nama Hinata dulu bukanlah Hinata. Nama yang ayah Neji berikan padanya dulu adalah Casandra. Tapi karena ibu Hinata yang sakit hati dicampakkan oleh Hiashi, tidak rela anaknya dinamai oleh orang yang dibencinya, sehingga berubahlah namanya menjadi Hinata. Dalam hati Neji bersyukur, Casandra tidak cocok untuk Hinata. Nama dan wajahnya gak matching.
Neji memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. Sesampainya di Bandung dia akan segera mencari tahu keberadaan adiknya melalui internet. Semoga saja ada pencerahan dari sana. Sekarang jamannya facebook dan kawan-kawan kan, mudah-mudahan adiknya gak kere-kere amat sehingga internet merupakan hal yang masih dapat dijangkaunya untuk punya akun di dunia maya.
"Aku akan menemukanmu Casandra –eh, Hinata." Neji mengigau dalam tidurnya.
Hyaahhh, akhirnya selesai juga chapter 4. Untuk chapter selanjutnya mungkin agak sedikit berat mengingat akan ada diskusi Sakura-Sasuke. Soalnya mau begimana lagi, sy terlanjur bikin Sasuke atheis, jadi sy harus mempertanggungjawabkan perbuatan saya *ditabok*. Hahahhaha. Saya bukan orang yang pintar berdebat, jadi semoga saya bisa menyajikan perdebatan dengan referensi yang benar. Gak ada maksud untuk memancing kemarahan atau rasa tersinggung seseorang atau pihak tertentu yang baca fic saya ini, ini memang untuk kepentingan cerita. Jadi sy mohon maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan.
Hyahahaha, maaf nama Hinata sedikit saya otak-atik di sini, biar lebih masuk akal pencariannya, atau malah ga masuk akal ya?gyahahaha. tapi beneran lo, asal kita tau nama panjangnya atau minimal nama depannya yang asli, kita bisa menemukan orang-orang yang pernah hilang dari kehidupan kita. wekekekek. Ketahuan sy suka nguntit orang via internet.
Masalah ke-atheisan ini sy ambil dari pengamaln sy di kampus dan lingkungan lainnya yang pernah sy singgahi, jadi memang bukan sesuatu yang mengada-ada. Semoga bisa dijabarkan dengan baik dan benar (biar ga nyesatin orang, wekekeke). Uurghh, jadi berat gini ya ceritanya. Oke, saya janji. Cuman di bagian diskusi sasuke-sakura aja. Selebihnya saya merencanakan kehidupan kampus normal lainnya kok. Wehehehe. Oh iya, masalah Sasuke dan Itachi yang mesum sy mohon maaf, sy merujuk dr kebanyakan juga cowok jaman sekarang. Oke, sampai jumpa d chapter selanjutnya.
Reviewan kawan semua sangat berarti bagi saya ;D. Matur nuon sanget.
