Title: SECRET

Chapter : Chapter 5

Thanks buat komen2 yang udah masuk di Chapter2 sebelumnya atau ke inbox saya, komen kalian menguatkan saya ? :D dalam mengetik dan mencari ide lagi. Oke lanjut. .!

Maaf kalau ada typo atau kesalahan penulisan kalimat ^_^ Saya hanya manusia biasa :v

Happy Reading dan tolong tinggalkan jejak kalian :D

SECRET

Genre : Romance,Action

Boys x Boys

Cast : Infinite

R&R

Happy reading,readers ^_^

xXx

.

.

Day 3-

"jadi semua hanya tipuan mu? "

Malam yang gelap di koyak oleh seruan lirih Sungyeol yang membelalak tak percaya ketika ia melihat Myung Soo sudah mengeluarkan sebuah pistol dari balik jas nya. air mata pria tinggi itu perlahan mengalir. Semua yang ia kira adalah kebenaran dan kenyataan nyatanya tak lebih dari sebuah sandiwara hebat yang ia peran kan dengan Myung Soo.

Clak!

Myung Soo menarik pelatuk pistol ditangan nya. matanya menatap dingin.

"mian. .sepertinya aku terlalu menghayati peran ku. " ucap nya. tangannya mengacung tepat lurus kearah kepala Sungyeol.

"wae? mengapa kau lakukan ini padaku? " tanya Sungyeol lagi. Myung Soo hanya menatap nya datar.

"jawab aku Myung Soo! " teriak Sungyeol frustasi sambil berusaha menerjang pria didepan nya itu.

Dorr!

"ughh! " Sungyeol terhenti seketika. Ia mendelik ketika menyadari bahu kiri nya tertembak. Menyebabkan darah mengalir dengan deras dari sana. Rasanya menyakitkan. Hingga Sungyeol bahkan harus menggigit bibir nya hingga berdarah.

"selamat jalan. .Lee Sungyeol. " ucap Myung Soo perlahan.

Sedetik kemudian sebuah peluru melesat tepat menuju kepala Sungyeol, menembus topi rajut yang ia pakai. pria tinggi itu tersentak perlahan. Tubuhnya limbung sebelum kemudian jatuh. Cahaya matanya meredup. Yang ia lihat hanya bintang2 yang berterbaran digelap nya langit malam, seolah mengiringinya ke alam kematian. Sungyeol tersenyum pahit. Mungkin ini memang akhir nya. seandainya, seandai nya ada waktu untuk kembali. .walau semenit saja. ia ingin kembali. Bukan untuk menyesali semua nya, melainkan ingin untuk terakhir kali saja. ia bisa memeluk Myung Soo dan meyakinkan hatinya. Bahwa ini hanya sebuah mimpi buruk.

"aku menyukai Hyung. .sangat menyukai Hyung. .maukah Hyung selalu ada bersama ku? "

"baiklah. .Hyung akan selalu ada bersama tuan Muda. . "

.

.

xXx

Day 1-

Sungyeol berlari dengan tergesa-gesa ketika melihat papan nama toko yang Myung Soo katakan pada nya. sesaat Sungyeol melihat ponsel nya dan meyakini tempat itu adalah yang Myung Soo katakan pada nya. ia melihat pria tampan itu duduk dengan tenang disalah satu meja dan Sungyeol bergegas mendekatinya.

"annyeong. . " sapa Sungyeol. Myung Soo hanya menggumam pelan sambil menyeruput kopi nya. Sungyeol mengomel pelan. Meskipun sudah menjadi sepasang kekasih dan kemarin mereka sudah ehm, sedekat itu ( kalian pasti mengerti) namun tetap saja pria itu masih sering menampilkan ekspresi dingin pada nya.

"apa yang ingin kau bicarakan? " tanya Sungyeol langsung. Myung Soo menatap nya. sesaat kemudian memberikan dua buah tiket bioskop pada Sungyeol.

"temani aku menonton. " ujar nya. sungyeol mengangkat alis nya.

"ha? " tanyanya tak percaya pada pendengaran nya.

"kalau kau tak mau kau boleh merobek nya. " ujar Myung Soo lagi.

"andwe! Baiklah! Ayo kita menonton. Biar pun aku tak tau film apa ini. "

"bagus. Ayo kita pergi. " ucap Myung Soo sambil menarik tangan Sungyeol segera sebelum pria itu sempat mengatakan apapun lagi.

.

.

xXx

.

.

Sunggyu mengguncang2kan tubuh Woo Hyun yang masih terlelap disebelah nya. seruan ibu nya yang sejak tadi setengah berteriak pada nya membuat Sunggyu mau tak mau membuka matanya. Beruntung hari itu adalah hari minggu jadi ia tak perlu berlari ketakutan karena takut terlambat masuk sekolah.

"woo. .buka mata mu. Ini sudah siang. " ujar Sunggyu. Woo Hyun hanya menggumam tanpa membuka mata nya. Sunggyu berdecak kesal. Ia mengguncang2kan tubuh Woo Hyun dengan lebih keras.

"hei. Kita harus bangun atau ibuku akan mendobrak pintu dan menyiram kita dengan air. " ujar Sunggyu lagi.

"cium aku. . " lirih Woo Hyun.

"mwo? " tanya Sunggyu memperjelas pendengaran nya.

"cium aku dan aku akan bangun. " ucap Woo Hyun lagi dengan nada lebih lembut dari sebelum nya. Sunggyu mendelik mendengar nya. ia mendekatkan mulutnya pada telinga pria tampan itu.

"apa kau yakin aku tak membangun kan yang lain? " bisik Sunggyu pelan. Woo Hyun menggeliat perlahan. Tanpa membuka matanya ia menarik wajah Sunggyu hingga bibir mereka menempel satu sama lain.

"morning kiss. . " bisik Woo Hyun mesra. Sunggyu bahkan sampai harus menahan gejolak hatinya untuk tidak membalas ciuman pria tampan itu.

"wae.? mengapa kau terus menatap ku seperti itu? " tanya Woo Hyun ketika menyadari Sunggyu hanya terdiam sambil memperhatikan nya.

"aku hanya ingin memastikan kau nyata. " ucap Sunggyu pelan sambil menyunggingkan senyum nya. Woo Hyun tersenyum simpul. Ia kembali mendekatkan wajah nya dan mencium Sunggyu untuk kedua kali nya.

"apakah sudah terasa lebih nyata? "

Sunggyu mengangguk senang. Akhirnya hati mengakui bahwa ia sama sekali bukan sedang bermimpi. Ia tidak sedang ber fatamorgana melihat Woo Hyun sedang berbaring disamping nya dan ia juga meyakini ucapan Woo Hyun kemarin padanya adalah sebuah kenyataan.

"hei anak2. .apakah kalian akan terus dikamar seharian? "

Seruan Nyonya Kim membuyarkan khayalan2 bahagia Sunggyu. Dengan segera pria bermata sipit itu menjawab seruan ibu nya.

"ne eomma. Kami akan segera keluar. " seru Sunggyu.

"oke. Eomma akan pergi ke pasar. Sarapan sudah siap diatas meja. Ajak tuan muda untuk sarapan. Ibu harus segera pergi. "

"ne eommonim. Terimakasih atas kebaikan nya. " kali ini Woo Hyun yang menjawab mendahului ucapan Sunggyu. Nyonya kim tertawa kecil, kemudian langkah nya terdengar menjauh dan menghilang dari pendengaran.

"baiklah. Mari kita sarapan. " ajak Sunggyu. Woo Hyun menggelengkan kepala nya. bukannya menuruti ucapan Sunggyu, ia malah menarik Sunggyu kembali berbaring disamping nya. kali ini pria tampan itu memeluk Sunggyu dengan erat.

"wae. .? kau sangat aneh hari ini? " ucap Sunggyu. Woo Hyun hanya mendesis kecil sebelum mencium puncak kepala Sunggyu berkali kali.

"aku merindukan mu. Sudah sejak lama aku ingin melakukan hal ini pada mu. "

Sunggyu mendongakkan kepala nya.

"Woo. .mengapa kau menerima ku? Bukankah sejak dulu kau hanya menganggap ku sebagai budak? " tanya nya dengan nada sendu. Woo Hyun mengecup pelan kening Sunggyu.

"mian. .sebenar nya. aku sangat menyukai mu sejak dulu. "

"kau bergurau. . " desis Sunggyu tak percaya.

"kau ingat ketika pertama kali kita bertemu di saat SMP dulu? kau begitu lucu Gyu. .dengan kacamata bulat itu. dengan tas mu yang agak kekecilan, hingga aku berfikir, mungkin kau menggunakan tas itu sejak kau masih ditaman kanak2. "

Sunggyu berdecak pelan. Ia memukul bahu Woo Hyun hingga membuat pria itu tertawa kecil. Ia menarik Sunggyu kembali kedalam pelukan nya.

"saat itu semua siswa lain menganggap mu aneh. Awal nya aku juga. namun semakin lama, melihat sikap ramah mu. Sikap penyabar mu. Membuat ku menyukai mu secara perlahan. . "

"lalu mengapa kau menolak ku saat pertama kali aku menyatakan cinta pada mu.? "

Woo Hyun tersenyum. Ia menarik tangan Sunggyu dan menempelkan pada pipi nya.

"semua salah ku. .mungkin kalau saat ini aku bisa kembali. .aku akan menerima mu saat itu. . "

.

.

"aku menyukai mu. Aku menyukai Nam Woo Hyun. jadilah kekasih ku. "

Ucap Sunggyu pada pria yang sedikit lebih pendek dari nya itu. pria dengan pandangan agak angkuh itu. pria yang bernama Nam Woo Hyun itu membalikkan tubuh nya. matanya memerah dan memandang dengan muak pada Sunggyu.

"Woo. .kau baik2 saja? " tanya Sunggyu khawatir.

"baik2 saja? baik2 saja kata mu? Apa yang kau tau tentang ku? " seru Woo Hyun dengan nada menyentak. Sunggyu bersurut mundur. Ia sama sekali tak pernah melihat Woo Hyun semarah itu pada siapapun, yang ia tau bahwa pria itu selalu bersikap ramah dan periang. Dia juga menjadi salah satu pujaan disekolah karena kharisma dan sikap lembut nya.

"woo. .aku. . "

"apa!? Kau juga ingin mengasihani ku? Seperti anak2 lain nya!? apa yang kau tau tentang ku!? Yang kau tau hanya tentang perasaan mu saja!? kau sama sekali tak mengerti tentang ku! Enyahlah. Sebelum aku menghajar mu. "

Sunggyu tersurut mundur. Rasa takut dan syok mengikat nya. tanpa ia sadari ia sudah berlari menjauh dari Woo Hyun. meninggalkan pria yang sesaat kemudian menyesali kebodohan nya sendiri.

.

.

"sejak saat itu kau menghilang dan aku tak pernah menduga akan bertemu kembali dengan mu di SMA. Saat itu, aku ingin sekali menyapa mu dan meminta maaf karena aku sama sekali tak mengetahui bahwa saat itu ibu dan ayah mu. . "

Woo Hyun meletakkan jarinya di bibir Sunggyu. Membuat pria itu mengerti dan menghentikan ucapan nya.

"jangan ungkit masalah itu lagi. . "

Sunggyu mengangguk pelan. Ia menyusupkan tangan nya pada tubuh Woo Hyun yang hanya mengenakan kaus dalam tipis itu.

"lalu. .mengapa kau menerima ku sekarang? Aku sudah menembak mu sebanyak 26 kali kurasa. . " lirih Sunggyu.

"mian. .sejak saat itu aku sangat takut melihat mu. .aku selalu menyesali setiap ucapan yang aku keluarkan dulu. saat bertemu dengan mu di SMA, aku ingin sekali berbalik dan mengatakan maaf. .namun sikap brengsek dan bajingan yang kumiliki membuat ku merasa malu pada mu. Yang ada, aku berusaha menutupi nya dengan mempermain kan setiap pria yang mendekati ku. Berharap kau akan semakin membenci ku dan aku bisa melupakan mu. Nyatanya kau semakin berani mendekati ku. Dan aku berfikir, dengan membuat mu menjadi budakku akan membuat mu menjauh. Nyatanya. .sekali lagi aku salah. .kau tak tau kata menyerah ya. Sebegitu cinta nya kah kau pada pria brengsek ini? "

Woo Hyun meringis kecil ketika Sunggyu mencubit kecil lengan nya.

"lalu kau menjauhi ku, dan kukira aku berhasil. Nyatanya. .saat kau menjauh, semakin aku menyukai mu. .aku merasa sangat bodoh, dan kali ini. .aku meyakin kan diriku bahwa. .aku akan mencoba sekali lagi. .sekali lagi memiliki mu. "

"kau memiliki ku sekarang. . " desis Sunggyu. Woo Hyun mengusap rambut kecoklatan Sunggyu.

"berhati2lah. .karena aku tak akan melepas mu lagi. Jadi jangan coba melarikan diri dari ku. "

Sunggyu menganggukkan kepala nya. Woo Hyun kembali mengeratkan pelukan nya. pipi putih Sunggyu kembali menjadi sasaran ciuman mesra nya.

"gomawo. . " bisik nya. Sunggyu hanya membisu. Yang bisa ia lakukan adalah membalas pelukan pria itu dengan erat. Seolah meyakinkan, ia takkan pergi kemana pun. Ia akan tetap disini, disamping pria yang ia cintai.

.

.

xXx

.

.

Sungyeol mengetuk2kan kaki nya kelantai. Ia sama sekali tak menyukai film yang baru saja mereka tonton. Film itu bercerita tentang sepasang kekasih yang akhirnya terpisah karena kematian. Sungyeol sangat membenci ending nya karena ia harus berulang kali mengusap matanya dengan hati2 sambil memperhatikan Myung Soo yang hanya menatap datar tanpa ekspresi. Dasar pria dingin. sesedih itu dan ia hanya menatap datar seperti mayat tanpa jiwa.

"kau menyukai film nya? " tanya Myung Soo ketika melihat Sungyeol hanya berdiri dengan ekspresi kesal disebelah nya.

"tidak. Mengapa kau membawa ku melihat film menyedih kan seperti itu? aku sangat tidak menyukai nya karena akan membuat ku menangis. "

Myung Soo tersenyum kecil. Ia mengusak rambut Sungyeol hingga membuat pria tinggi itu mengerutkan kening nya.

"apa? " tanya Myung Soo ketika melihat Sungyeol seperti keheranan melihat nya.

"apa kau benar2 Myung Soo? Kim Myung Soo? Atau jangan2 kau adalah alien yang menyamar? "

"apa yang kau bicarakan? Ayo kita pulang. " ajak Myung Soo kemudian tanpa memperdulikan keheranan Sungyeol.

Sungyeol akhirnya menuruti tarikan tangan Myung Soo meski dengan rasa heran dihatinya. Sejak kemarin pria dingin itu seolah terkena keajaiban dan berubah nyaris 180 derajat. Mulai dari bibir nya yang sekarang lebih sering tersenyum saat bersama Sungyeol. kalimat2 romantis yang juga kerap muncul dari pria itu membuat Sungyeol merasa seolah pria itu adalah seseorang yang sedang bersembunyi dibalik beberapa macam topeng dan membuka nya satu demi satu untuk menampakkan sisi nya yang lain.

Dan juga seperti saat ini. .

"ano. .Myung Soo. .bolehkah aku bertanya sesuatu? "

Myung Soo menggumam tak jelas. Sungyeol berdecak pelan. Ia ingin sekali memukul kepala pria itu namun ia tahan.

"wae? mengapa kau tidur disini, lagi? " tanya Sungyeol lagi. Ya, pria tampan itu tanpa perkataan apapun dengan santainya membaringkan tubuh nya di ranjang Sungyeol. myung Soo hanya menggumam lagi, ia menarik kepala Sungyeol hingga berbaring disebelah nya.

"bukankah ini permintaan mu? " bisik nya. Sungyeol mengerutkan dahi nya.

"permintaan ku? Kapan aku mengatakan nya? "

Myung Soo tersenyum tipis.

"suatu saat kau akan ingat. . "

Kalimat itu lagi2 membuat Sungyeol mengerutkan dahi nya.

"kau penuh misteri Myung Soo. . "

"kau tak suka misteri? "

"tidak. Aku orang yang terbuka. . "

Myung Soo membuka matanya. Ia mendekatkan wajah nya pada sungyeol hingga hidung mereka bersentuhan satu sama lain.

"aku juga. .jadi, bisakah kita mulai membuka nya satu persatu? "

"mwo? " tanya Sungyeol namun sesaat kemudian mengerti dengan tindakan Myung Soo yang perlahan membuka kancing kemeja nya.

"chogi. . "

Myung Soo semakin berani. Ia mulai meraba dada Sungyeol yang sedikit terbuka.

"Hyaaa! Myung Soo! Kau sangat mesum! Ummph? "

Kalimat Sungyeol terhenti ketika dengan cepat Myung Soo menyambar bibir nya dan mengulumnya dengan agresif, Sungyeol bahkan tak perduli lagi ketika dengan mudah nya Myung Soo menaikkan tubuhnya keatas pahanya. Sungyeol benar2 terpikat oleh kemampuan Myung Soo dalam melumat bibir nya tanpa ampun, bahkan Sungyeol hanya bisa menarik nafasnya sekian detik hingga Myung Soo kembali membius nya dalam kenikmatan. Membius, hingga Sungyeol benar2 kehilangan kesadaran nya.

Saat menyadari Sungyeol sudah tak sadarkan diri Myung Soo meletakkan Sungyeol diatas ranjang dengan posisi rapi. Perlahan pria dingin itu menuruni ranjang dan mengambil sebuah botol yang tergeletak diatas meja. Dengan segera ia meminum isi cairan itu hingga habis.

Klek!

Myung Soo mengalihkan pandangan nya pada pintu yang terbuka dan Gong Soo masuk kedalam. Seperti sudah mengetahui sebelumnya, Myung Soo hanya diam dan mengekori gerakan wanita paruh baya itu dan beberapa orang yang tiba2 muncul dibelakang nya. Gong Soo membuka mata Sungyeol dengan hati2.

"dia benar2 pingsan total. "

Myung Soo mengangguk pelan.

"apa kau sudah memasukkan penahan sakitnya? "

"ya. Aku sudah memasukkan secara langsung bersama dengan bius nya. "

Ucap Myung Soo sambil mengusap bibirnya.

"kau benar2 nekat. Bagaimana jika kau juga menelan cairan bius yang kau balurkan di bibir dan lidah mu itu. ? seharusnya kau memasukkan ke makanan nya saja saat di gedung bioskop."

Myung soo hanya tertawa kecil mendengar teguran wanita dibelakang nya itu.

"aku hanya ingin mencoba hal baru, lagipula aku sudah meminum cairan yang kau berikan. Itu sangat ampuh mempertahan kan kesadaran ku. "

"dasar anak nakal. Baiklah. Segera kita mulai saja. aku takut kita tidak memiliki banyak waktu. Tuan Lee sepertinya akan kembali malam ini. " ucap nya sambil menganggukkan kepala nya pada 5 orang disebelah nya. ke 5 orang itu mengangguk paham, mereka mulai memasang masker dan mengeluarkan alat2 keperluan operasi.

Myung Soo mengeluarkan sebatang rokok dari saku nya. sebelum ia sempat menyalakan nya Nyonya Gong dengan cepat menarik rokok itu dari mulut Myung Soo dan meremasnya hingga hancur.

"merokok bukan kebiasaan mu L. . "

Myung Soo berdecak kesal. Ia kemudian melangkah menuju keluar diikuti pandangan mata Gong Soo.

"kau telah kalah pada perasaan mu Myung Soo. . "

.

.

xXx

.

.

Sungyeol membuka matanya yang berat. kepalanya terasa pusing dan berat. disaat itu matanya mengedar dan menemukan Myung Soo tengah terbaring lelap disebelah nya. Sungyeol memiringkan tubuhnya dan menatap langsung pada wajah lembut itu. tanpa disadari jari2 Sungyeol sudah mendarat pada pipi bersih Myung Soo dan mengelusnya secara hati2. Jari Sungyeol terus bergerak hingga menyentuh bibir tipis Myung Soo. Sedetik kemudian Sungyeol terkejut ketika merasakan mulut Myung Soo terbuka dan menghisap jarinya dengan lembut.

Sungyeol yang tak menyangka sama sekali hanya membelalak kan matanya menikmati hisapan2 kecil dari Myung Soo pada jari nya.

"selamat pagi Yeollie. . " sapa Myung Soo sambil membuka matanya. Sungyeol mengangguk pelan.

"selamat pagi Myung Soo. .ah. .Myungie. .aku akan memanggil mu dengan itu sekarang. "

"aku suka. . " ujar Myung Soo meredupkan matanya. Sungyeol menelan saliva nya melihat ajah Myung Soo yang seolah menggoda nya. Sungyeol menarik jari nya, membuat Myung Soo sedikit terkejut dan melebarkan matanya.

"aku mencintai mu. . " ucap Sungyeol setengah berbisik. Myung Soo membeliak seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.

"aku mencintai myungie. .sangat. .sangat mencintai mu. " ucap Sungyeol lagi sambil memberanikan dirinya mengecup singkat kening Myung Soo yang tak dapat menghilangkan ekspresi kaget nya. Myung Soo hanya tak mengatakan apa2 dan hanya memasukkan Sungyeol dalam pelukannya. Mendekap erat pria tinggi itu tanpa dapat mengatakan jeritan2 dalam hatinya.

"Tuhan. .aku mencintainya. .aku juga mencintai nya. . "

.

.

xXx

Day 2-

Sungyeol bernyanyi2 riang didalam kamar mandi sambil membasuh dirinya sendiri. Kejadian tadi pagi semakin menambah semangat nya. meskipun ia belum mendengar sekalipun Myung Soo mengatakan perasaan padanya, namun sikap pria dingin itu sudah cukup menguatkan hati Sungyeol bahwa ia memiliki harapan kalau suatu hari nanti Myung Soo akan benar2 mencintai nya dengan tulus.

"ahh. . " erangan kecil keluar dari bibir Sungyeol ketika meratakan busa sabun di bagian perutnya dan mengenai sebuah goresan tipis disana. Dahi pria tinggi itu mengerut. Ia tak mengingat bagaimana goresan yang dapat lebih dikatakan luka kecil itu ada di perut nya. Sungyeol menekan luka itu dan hanya merasakan nyeri kecil sebelum kemudian nyeri itu hilang. Sungyeol akhirnya memutuskan untuk tidak memperdulikan hal itu dan kembali hanyut dalam alunan lagunya.

Setelah menyelasaikan mandi nya Sungyeol bergegas menuju lemari pakaian nya, tanpa sengaja ia melihat kemeja nya dilantai kamar nya. Sungyeol mengambil kemeja itu dan hendak mencampakkan nya ke tempat pakaian kotor.

"Hyaaa! Myung Soo mesumm! "

Sungyeol menghentikan gerakan nya. sedikit demi sedikit ingatan nya menguar namun menemui titik yang tak jelas.

"aku ingat tadi malam Myung Soo ada dikamar ku, namun setelah itu apa yang terjadi? Mengapa aku melupakan nya? "

"dan juga. .setiap aku bersama Myung Soo, aku selalu melupakan peristiwa selanjutnya. Shh. Ada dengan ku? Ah sepertinya aku kurang vitamin otak. " desis Sungyeol sambil mengacuhkan rasa penasaran di hatinya. Ia kemudian sibuk memilih pakaian yang akan dikenakan nya karena sudah berjanji akan pergi dengan Sunggyu hari ini.

.

.

Ding Dong!

Sunggyu bergegas merapikan pakaian nya, ia melirik jam dinding dan melihat jam masih menunjukkan pukul 10.30. Sunggyu mengerutkan dahinya, tumben sekali Sungyeol datang lebih awal dari perjanjian mereka? Pikirnya.

"sebentar. . " seru Sunggyu ketika dering bel berganti dengan gedoran yang cukup keras. Membuat Sunggyu semakin heran dengan sikap Sungyeol yang tak biasa nya.

"mengapa kau berisik sekali? " tanya Sunggyu sambil membuka pintu rumah nya. namun bukan Sungyeol yang ia temui melainkan Woo Hyun yang seharusnya sudah kembali sejak satu jam lalu.

"apa kau melupakan sesuatu? " tanya Sunggyu sambil memperhatikan Woo Hyun yang sedang berupaya mengatur nafas nya. tanpa berkata apapun pria itu menarik lengan Sunggyu mengikuti langkah nya yang setengah berlari.

"Woo. .kau kenapa? " tanya Sunggyu.

"hei? Apa yang terjadi pada mu? " seru Sunggyu sambil menarik tangannya. Woo Hyun menghentikan langkah nya. ia menatap Sunggyu dengan khawatir sambil kembali menarik tangan pria itu.

"lepaskan aku Woo! apa yang sebenar nya terjadi? Mengapa tiba2 kau begini? " cecar Sunggyu sambil menghentakkan tangannya lagi.

"aku sudah berjanji pada Sungyeol untuk pergi dengannya. Mian. Aku tak bisa pergi dengan mu. . " ucap Sunggyu sambil membalikkan badan nya.

"merunduk! " teriak Woo Hyun sambil menabrak tubuh Sunggyu hingga mereka terjatuh kebawah. Sunggyu berteriak kesakitan.

"apa yang kau lakukan!? " teriak Sunggyu. Pertanyaan itu segera terjawab dengan dentuman besar yang berasal dari rumah nya. Suara Sunggyu tercekat ditenggorokan. Ia melihat dengan jelas rumah nya hancur lebur dengan kobaran api yang menghanguskan dinding2 rumah nya.

"Eommaa! " teriak Sunggyu kemudian sambil mendorong tubuh Woo Hyun dengan kasar.

"Gyuu! Jangan kesana itu bahaya! " teriak Woo Hyun menarik Sunggyu. Sunggyu sebisa mungkin memberontak dari kuncian Woo Hyun. tangannya menggapai2 mencoba melepaskan diri dari dekapan Woo Hyun yang sangat kuat.

"Woo! ibu ku! Bagaimana dengan ibuku! Aku harus menolong nya! "

"dengarkan aku! Kami sudah membawa ibu mu pergi. Dia ditempat yang aman! Aku kesini untuk menyelamatkan mu! Kita harus pergi dari sini Gyu. Mereka akan kembali untuk memastikan kau mati. "

Sunggyu masih tak bisa mengerti dengan semua kalimat yang Woo Hyun katakan padanya, namun insting nya mengatakan bahwa ia harus mengikuti pria itu. mereka terus berlari hingga mendekati jalan raya dan sebuah mobil hitam mendekat kearah mereka. Woo Hyun dengan segera membuka pintu mobil dan membawa Sunggyu masuk kedalam nya. didalam mobil Woo Hyun terus mendekap tubuh Sunggyu yang menggigil mengingat rumah nya, rumah yang ia tempati dengan ibunya selama 17 tahun itu harus musnah begitu saja didepan nya tanpa ia tau alasannya.

"Woo. .apa yang sebenarnya terjadi? " lirih Sunggyu. Woo Hyun mengecup kepala pria yang sudah jadi kekasihnya itu untuk menenangkan nya.

"bila sampai nanti. Aku akan menceritakan semuanya. .sekarang kami harus membawa mu ketempat yang aman. " Sunggyu mengangguk lemah. Ia menyusupkan kepala nya dalam pelukan Woo Hyun. pria tampan itu mengusap2 rambut kekasihnya berkali kali untuk meyakinkan semua akan baik2 saja.

"aku tak akan membiarkan apapun terjadi pada mu Gyu. .aku janji. "

.

.

xXx

.

.

Langkah Sungyeol terhenti di pertengahan anak tangga ketika melihat seorang pria paruh baya berdiri ditengah ruangan seolah menunggunya. Tanpa memikirkan apapun Sungyeol meneruskan langkah nya.

"apakah kau akan pergi? " tanya pria itu yang ternyata adalah Tuan Lee.

"ya. " jawab Sungyeol singkat.

"apakah ayah boleh tau, kemana kau akan pergi? "

Sungyeol menghela nafas nya. ia berjalan mendekati pintu namun mendengus kesal ketika menyadari pintu besar itu dalam keadaan terkunci.

"apakah sekarang aku terkurung dirumah sendiri? " ujar Sungyeol kesal. Tuan Lee tertawa kecil. Ia melangkah mendekati putra tunggal nya itu dan menepuk bahu nya.

"sesekali. .temani ayah mu dirumah. Ayah juga sangat jarang pulang. "

Sungyeol menepis tangan pria paruh baya itu.

"mengapa kau mempermasalahkan hal seperti ini sekarang? Bukankah sejak 10 tahun lalu kau sudah mencampakkan ku? Lalu mengapa sekarang kau mempermasalahkan hubungan ayah dan anak ini? Tuan Lee yang terhormat. Kau sudah terlambat untuk bersikap sebagai seorang ayah didepan ku. " ujar Sungyeol dengan nada menantang. Tuan Lee hanya berdehem kecil. Alih2 ia marah seperti sebelumnya, kini pria paruh baya itu hanya menyunggingkan senyum diwajah nya.

"kau berubah semakin berani sekarang. Apakah ini karena pengaruh teman baru mu itu? "

Sungyeol tercekat. Ia menoleh pada ayah nya itu dengan tatapan tak percaya.

"jadi sekarang kau sudah memata matai ku? " tanya Sungyeol dengan suara bergetar. Ia sudah menahan amarah sedari tadi dan siap untuk dilepaskan.

"ya. Apakah itu salah? "

"untuk apa kau melakukan itu? apa sekarang kau sudah bosan dengan permainan mencari uang mu dan beralih bermain dengan hidup ku? "

Tuan Lee melangkah dengan tenang mengambil teh yang berada diatas meja nya.

"mungkin. . " ujar nya tenang. Jawaban itu sontak membuat Sungyeol semakin memanas. Ia mendorong pintu dan berusaha mendobrak nya. namun ia sama sekali tak bisa membuat pintu itu bergeming sedikit pun. Dengan kesal Sungyeol menuju kembali ke kamar nya. tuan Lee mengikuti langkah anak nya itu dengan santai tanpa sedikitpun merasa bahwa ia sudah melakukan sesuatu yang salah.

"ARGHHHH! DASAR TUA BANGKA! "

Tuan Lee menyesap teh nya. ia kembali duduk dan menikmati teh nya sambil menyalakan televisi.

.

.

Sungyeol berteriak frustasi ketika melihat kearah bawah dari jendela kamar nya dan melihat sekumpulan orang berbaju hitam sudah berdiri dan berjaga jaga disekitar rumah nya.

"arghhh! Dasar Tuan Bangka! " teriaknya. Padahal beberapa saat lalu ia sudah mempersiapkan diri untuk lompat dan lari melalui balkon kamar nya. namun sepertinya hal seperti itu sudah diantisipasi oleh ayah nya dan memasang beberapa penjaga disana.

"sekarang aku sudah benar2 terkurung disini. " desis Sungyeol. ia melihat jam yang menunjukkan pukul 12.00. hal itu semakin membuat Sungyeol kesal. Ia meraih ponsel nya dan mencari nomor Sunggyu dengan cepat. Ia mengirim pesan bahwa ia tak bisa pergi dengan pria itu sambil menambahkan beberapa emoticon sedih. Beberapa saat kemudian ia menerima balasan.

"tak apa. Lagipula aku juga sedikit demam hari ini. . "

Sungyeol menarik nafas nya lega. Ia kemudian menjatuhkan dirinya keatas ranjang sambil mengetik nomor seseorang.

"halo. . "

Suara datar itu membuat Sungyeol berubah menjadi sedikit bersemangat.

"Myungie. .apa yang sedang kau lakukan? " tanya Sungyeol.

"hanya menonton Tv. .bagaimana dengan mu? "

"tak ada. Hanya sedang terkurung dalam sangkar. .apa kau sedang sibuk sekarang? Bunyi apa itu? " tanya Sungyeol dengan nada heran ketika mendengar bunyi suara pecah diseberang sana.

"ah tak ada. Hanya seekor kucing menjatuhkan vas bunga ku. Aku akan membersihkan nya sebentar. "

"hmm. Berhati2lah. Kaca nya dapat mengenai jari mu. . "

Sungyeol mendengar nada menggumam sebelum kemudian memutuskan percakapan nya.

Ia memandang keluar jendela yang tepat berhadapan dengan kamar Myung Soo.

Sesaat kemudian ponsel pria tinggi itu kembali bergetar dan memunculkan nama Myung Soo disana.

"wae.? " tanya Sungyeol. disana ia mendengar Myung Soo berdehem sebelum memulai kalimatnya.

"dengarkan ini. Ini khusus untuk mu. " ujarnya. Sungyeol mengerutkan dahi nya sebelum kemudian tersenyum senang mengetahui maksud kata2 Myung Soo barusan. Pria tampan tanpa ia duga sama sekali mengambil take dan mulai menyanyi dengan suaranya yang Sungyeol nilai cukup bagus.

"bagaimana? Kau menyukai nya? " tanya Myung Soo setelah ia menyelesaikan lagu nya. Sungyeol mengangguk.

"emh. Aku tak menduga kau sangat hebat dalam bernyanyi. . "

Sungyeol dapat mendengar tawa kecil dari seberang sana.

"apa kau ingin jalan2 dengan ku? "

"mwo? Ah. Aku ingin sekali, tapi seperti yang ku katakan, aku sedang di kurung di rumah. "

"benarkah? Lalu bagaimana aku bisa ada didepan kamar mu sekarang? "

"mwo? " tanya Sungyeol tak percaya dengan kalimat yang seperti guarauan itu.

"kau bercanda. . "

Tok Tok Tok!

Sungyeol serta merta mengalihkan pandangan nya pada ketukan yang terdengar dari pintu kamar nya.

"itu. .bukan benar2 diri mu kan? " desis Sungyeol.

Myung Soo hanya membisu, membuat Sungyeol semakin penasaran dengan orang yang ada didepan kamar nya. dengan cepat Sungyeol membuka pintu kamar nya.

"ba-bagaimana bisa kau ada disini? "

Sungyeol membulatkan matanya ketika melihat orang yang berdiri didepan kamar nya benar2 Kim Myung Soo. Pria dingin itu sedang memegang ponsel ditangannya.

"annyeong. . " sapa pria tampan itu dengan nada datar. Sungyeol bahkan nyaris menjatuhkan ponsel nya.

"bagaimana. .bagaimana bisa kau ada disini? "

Myung Soo menyunggingkan senyum dibibir nya. ia mendorong tubuh Sungyeol hingga ia bisa masuk kedalam dengan santai.

"kajja. .kita pergi jalan2. . " seru Myung Soo tanpa menjawab sedikitpun pertanyaan2 Sungyeol.

"jalan2. .kemana? "

Myung Soo bergerak perlahan hingga tubuhnya melekat dengan tubuh Sungyeol.

"wae. .wae? apa yang ingin kau lakukan? " tanya Sungyeol dengan ekspresi gugup.

"ayo kita jalan2. .ke surga. . " ucap Myung Soo dingin. Sungyeol bahkan harus mengerutkan keningnya mendengar ucapan Myung Soo yang bernada menyeramkan itu.

"apa yang. .kau kata. .kan. . "

Tubuh Sungyeol luruh kebawah setelah Myung Soo tanpa terduga dengan cepat menekan syaraf yang ada dibagian belakang leher pria tinggi itu.

Myung Soo dengan sigap menopang tubuh Sungyeol yang terjatuh dan menggendong nya dengan mudah menuju kebawah ruangan.

Dibawah ruangan sama sekali tak terduga, bergeletak sekitar 20 orang disana dalam keadaan pingsan. Myung Soo bergerak dengan tenang.

Setelah keluar dari bangunan besar itu, Myung Soo menarik ponsel Sungyeol dan menjatuhkan nya ke lantai. Dengan sekali injak ponsel itu hancur. Kemudian ia mengambil ponsel milik nya sendiri.

"target sudah ada ditangan ku. Persiapkan semuanya sekarang. "

Setelah berkata demikian Myung Soo bergerak menuju ke dalam mobil yang berhenti didepan gedung dan memasukinya. Didalam mobil yang bergerak cepat Myung Soo terus memeluk tubuh pingsan Sungyeol.

"aku akan melindungi tuan Muda. .apapun yang terjadi. . "

.

.

xXx

Day 3-

Sungyeol menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku. Sesaat kemudian matanya terbuka dan seberkas cahaya menembus kornea nya dan memaksa nya berkedip beberapa kali. Ia mengedarkan matanya kepenjuru ruangan dan menyadari bahwa ia berada disuatu tempat yang sama sekali asing bagi nya.

"dimana aku? " desis nya. kepalanya yang berdenyut membuatnya semakin kesulitan untuk mengingat kejadian yang terjadi pada nya.

"kau sudah bangun? "

Sungyeol mengalihkan pandangan nya dan melihat Myung Soo sedang berdiri dipinggir ruangan, didepan jendela yang terbuka.

"Myungie. .dimana kita? " tanya nya. Myung Soo tersenyum kecil. Ia mendekati pria tinggi itu dan mengecup kening nya secara kilat.

"di busan. . "

Kalimat yang dikatakan Myung Soo serta merta membuat Sungyeol berdecit tak percaya. Ia mendorong tubuh pria didepannya itu dan bergerak menuju jendela yang terbuka. Sontak matanya mengerjap tak percaya ketika sambaran angin menghembus wajah nya. dan pemandangan pantai menjadi panorama pertama yang ia lihat.

"kau pasti bercanda. . " desis Sungyeol.

"apa yang kau lihat adalah gurauan? " tanya Myung Soo sambil mendekap tubuh Sungyeol dari belakang.

"bagaimana mungkin? " tanya Sungyeol tanpa peduli dengan pertanyaan untuknya.

"aku menculik mu. . " ucap Myung Soo santai sambil menyusupkan wajah nya pada leher Sungyeol.

"tapi bagaimana. .penjaga ayahku. . "

"kekuatan cinta mu membuat ku menjadi hebat. .dan disinilah kita. . " ujar Myung Soo lagi. Sungyeol yang mendengar hal itu mau tak mau tersipu juga.

"kajja. .sarapan sudah siap. Aku bisa mendengar suara perut mu. . "

Telinga Sungyeol lantas memerah ketika mendengar hal itu. tapi harus ia akui, perutnya sudah meronta ronta sekarang. Ia kemudian menuruti tarikan tangan Myung Soo menuju keluar ruangan.

.

.

Sungyeol mengedarkan pandangannya dengan takut. Di ruang makan itu terdapat beberapa orang pria dengan jas hitam dan bertampang garang. Sungyeol menahan gerakan Myung Soo namun pria itu seolah tak merasa takut dan terus menarik nya menuju meja makan.

"Myungie. .siapa mereka? " tanya Sungyeol dengan nada takut. Sementara Myung Soo hanya menyeringai kecil dan melepaskan tangan Sungyeol dari lengan nya. ia mengambil sebuah kursi dan duduk disana, tangannya membuat isyarat agar Sungyeol duduk disamping nya. Sungyeol hanya menuruti pria itu, dengan cepat ia mengambil posisi disamping Myung Soo dan seorang pria berambut panjang dengan luka codet disebelah nya.

"selamat datang Sungyeol. . " sapa seorang pria diujung meja makan. Bisa Sungyeol tebak pria dengan tubuh tinggi besar dan berambut cepak itu adalah pemimpin ruangan itu. Sungyeol menganggukkan kepala nya dengan mata menunduk kebawah. Tangannya sejak tadi meremas kemeja Myung Soo.

"ah. Maaf kalau bersikap tidak sopan. Nama ku Ji Kwang, sandi ku M, Kami adalah relasi kerja Myung Soo, atau biasa kami panggil L ini. Kami mendengar hari ini adalah ulang tahun mu. Jadi kami memutuskan untuk membuat sedikit kejutan. "

Sungyeol mengernyitkan alis nya. ia sama sekali lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 18. Ia memandang ke arah Myung Soo dengan pandangan takjub, tak mengira pria dingin itu mengetahui hari ulang tahun nya. sementara Myung Soo yang ditatap hanya memandang datar pada menu ditengah ruangan.

"nah. Ayo kita rayakan hari ulang tahun mu. Aku sangat menyukai hal seperti ini. Apalagi ini adalah hari ulang tahun terakhir mu. "

"apa. .apa maksud mu? " tanya Sungyeol ketika mendengar akhir kalimat pria diujung meja makan itu.

"wah. .sepertinya kau lugu sekali dan belum mengetahui nya ya? L, kau suka sekali mempermainkan orang lain. "

Pandangan Sungyeol beralih pada Myung Soo. Pria itu masih tak bergeming dengan ekspresi kosong.

"Myung Soo. .katakan apa maksud perkataan nya. . " tanya Sungyeol. ia menarik tangan Myung Soo hingga pria itu sedikit tersentak.

"Myungie! Jawab aku. .mengapa kau hanya diam? " desak Sungyeol lagi.

Myung Soo mengalihkan wajahnya. "aku tak pernah tau kau sebodoh ini. Artinya adalah. .kau akan mati. " jawab Myung Soo datar.

"apa? " Sungyeol seolah disambar petir mendengar kalimat penjelasan Myung Soo barusan. Ia menyunggingkan senyum nya.

"kau bercanda kan? Ini hanya kejutan ulang tahun ku kan? Katakan kau berbohong Myungie. . "

"kau terlalu polos Sungyeol. dan terlalu mudah percaya pada orang lain. "

"kau terlalu lugu Sungyeol. kau bahkan tak tau dia telah menghabisi ayah mu dan semua penghuni rumah mu. " ujar Ji Kwang menimpali dan disambut dengan gelak tawa seluruh orang yang ada diruangan kecuali Myung Soo yang hanya menyeringai kecil. Pria dingin itu mengambil gelas yang berisi wine dan meminumnya dalam sekali teguk.

"dan dia juga percaya. Aku mencintai nya. " ujar Myung Soo dan kembali disambut gelak tawa yang riuh. Sungyeol mengerjapkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Myung Soo padanya. Sungyeol berdiri.

"jadi kau hanya berpura2? " seru nya sengit. Myung Soo berdecak kecil. Ia menganggukkan kepala nya. hal itu cukup membuat emosi Sungyeol memuncak. Ia melayangkan tamparan nya pada pipi pria tampan itu.

Plakk!

Semua yang hadir disana berseru riuh. Sementara Myung Soo hanya tertawa kecil sambil mengusap pipi nya yang memerah. Melihat hal itu Sungyeol kembali melayangkan tangan nya, namun kali ini berusaha meninju wajah Myung Soo dengan telak.

Tap!

Myung Soo dengan tepat menahan pukulan Sungyeol dengan tangan kirinya. Tangan itu menggenggam tangan Sungyeol dengan kuat dan lebih tepat disebut dengan meremas nya. tenaga Myung Soo yang teramat kuat membuat Sungyeol meringis. Tangannya seolah remuk.

"jangan mengira aku akan berbelas kasih pada mu. Yeollie. "

"jangan menyebut nama ku dengan mulut busuk mu! " hentak Sungyeol dengan berani. Kemarahan yang terkumpul dikepala nya seolah menimbun rasa takutnya sendiri.

Myung Soo berdecak kecil. Dengan sekali kelebat, tangan kanan nya sudah memukul telak perut Sungyeol. membuat pria tinggi itu terhenyak dan nyaris memuntahkan isi perut nya. sedetik kemudian Sungyeol kehilangan kesadaran dirinya.

"bawa dia. . " ucap Myung Soo dan dua orang disamping nya bergerak menarik Sungyeol menuju keluar ruangan. Dua pria itu memasukkan Sungyeol dengan paksa kedalam kamar sebelumnya dan mengunci nya dari luar.

.

.

Sungyeol memaksa membuka matanya yang terasa berat. ia meraba perutnya yang terasa sakit. Matanya mengerjap beberapa saat untuk membiasakan dirinya. Kepalanya dengan cepat mengingat apa yang baru saja terjadi pada nya beberapa saat lalu. Dengan refleks Sungyeol bangkit dari tempatnya, matanya melihat kearah luar dari ventilasi dijendela dan menyadari bahwa hari sudah gelap gulita. Telinga nya sama sekali tak mendengar sedikitpun suara dari arah luar. Ia bergegas mendekati pintu dan hei, pintu itu sama sekali tak terkunci. Dengan hati2 Sungyeol memutar handle dan melongok keadaan diluar. Sepi dan gelap. Suasana temaram menambah kesuraman kondisi ruangan itu. dengan berjingkat2 Sungyeol memutuskan untuk keluar. Sebelum keluar ia masih sempat menarik sebuah topi rajut dan memakainya. Ia kemudian menelusuri koridor dan menemukan pintu keluar dengan mudah. Sebelum memutar handle pintu ia menyempatkan untuk melihat situasi terlebih dahulu. Setelah yakin ia sendirian disana, Sungyeol melangkah keluar dengan perlahan.

Sesampai nya diluar Sungyeol segera berlari dengan cepat. Ia tak memperdulikan kakinya yang tak memakai alas dan tergores beberapa kerikil tajam.

Setelah beberapa lama berlari tanpa arah Sungyeol merutuki nasib nya dan menyadari ia sama sekali tak menemukan jalan keluar. Kemanapun ia berlari hanya ada pepohonan dan sungai kecil. Namun bukan Sungyeol nama nya jika ia hanya diam dan tak berbuat sesuatu. Meskipun merasa sia2 ia terus berlari tanpa arah. Hingga akhirnya ia berhenti didepan sebuah lembah landai yang cukup dalam. Ia menjambak rambutnya karena frustasi memikirkan nasib nya.

"apa kau sudah puas berlari? " suara itu membuyarkan harapan Sungyeol. ketika berbalik ia melihat Myung Soo sudah berdiri disana.

"jadi semua ini hanya tipuan ? " lirih Sungyeol. tanpa sadar air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan. Ia mendelik ketika melihat Myung Soo menarik sebuah benda hitam yang ia yakini adalah sebuah pistol.

"mian, seeprtinya aku terlalu menghayati peran ku. . " ujar Myung Soo. Ia mengacungkan pistolnya tepat kearah kepala Sungyeol.

"wae? mengapa kau melakukan ini? "

Myung Soo membisu.

"jawab aku Myung Soo! " teriak Sungyeol sambil berusaha menerjang kearah Myung Soo.

Dorr!

"ughhh. . " gerakan Sungyeol terhenti ketika sebuah peluru menembus bahu kanan nya. rasa sakit dengan cepat menjalar. Membuat Sungyeol terbungkuk untuk menahan rasa sakit yang tak terhingga itu.

"selamat tinggal. .Lee Sungyeol. " ucap Myung Soo. Sungyeol membeliak kan matanya, ketika Myung Soo menarik pelatuk pistolnya dan sebuah peluru melesat cepat kearah kepala Sungyeol. waktu seolah terhenti ketika rasa nyeri menyeruak dikepala Sungyeol, matanya mengabur, darah mengalir dari pelipis nya. semua kenangan seolah melesat didepan mata Sungyeol, menampilkan kenangan2 bahagia yang ternyata hanya sebuah ilusi.

Tubuh Sungyeol ambruk. Matanya nyalang menatap atap malam yang berkilauan. Seolah bintang2 itu sedang menunduk sendu menangisi nasib malang nya.

Sedetik kemudian Sungyeol kehilangan kesadaran nya.

Seorang pria mendekat dari kegelapan dan memegang bahu Myung Soo. Pria itu menyunggingkan senyum nya.

"kau melakukan nya dengan baik. Ji Kwang. Periksa dia. "

Pria yang bernama Ji Kwang tiba2 keluar dari persembunyian nya dan mendekat kearah tubuh Sungyeol. ia meraba urat nadi dileher Sungyeol dan mendekatkan telinga nya ke dada Sungyeol.

"dia sudah mati. . " ujar nya yakin. Pria misterius disebelah Myung Soo terkekeh pelan. Ia menepuk2 pundak Myung Soo dan melangkah pergi. Ji Kwang bergerak mengikuti, ketika ia berselisih dengan Myung Soo ia menghentikan langkah nya.

"tugas mu sudah selesai. Kembali lah ke markas. " ujar nya kemudian berlari kearah belakang. Myung Soo mengangguk pelan. Ia mendekati tubuh Sungyeol dan berjongkok disamping nya. tangannya mengusap topi rajut Sungyeol dan menatap wajah pria tinggi itu.

"semua sudah selesai tuan muda. .dengan begini. Kau terbebas dari semuanya. "

Setelah mengucapkan kalimat itu Myung Soo melangkah pergi. Setelah agak jauh, ia menarik ponsel nya. ia mendekatkan ponsel itu ketelinga nya.

"bergerak sekarang. . "

.

.

TBC-

Yuhuu! Selesai! :v jangan lemparin ane karena Sungyeol ane buat mati T_T ane juga berat ngelakuin semua ini T_T :v

maaf chapter ini lama karena laptop ane sempat error kemaren, jadi tertunda dah -_-

Ane usahakan chapter 6 segera meluncur ^_^

Akhir kata sampai jumpa di chapter depan ^_^