"Kau benar-benar nekat menantang tuan Jongin seperti itu", Eunsuk bergumam setengah menggerutu. Dari tadi lelaki gemulai itu memang sibuk menggerutu karena harus memulai dari awal mendandani Kyungsoo. Apalagi ketika tatapannya terarah pada gaun hijau Kyungsoo yang sekarang teronggok seperti sampah di lantai, Eunsuk akan mendesah secara dramatis, lalu menggerutu lagi dengan kata-kata tidak jelas.
Untunglah Eunsuk membawa gaun cadangan. Gaun itu cukup bagus meskipun tidak semewah dan seindah gaun hijau yang sudah dirobek oleh Jongin. Warnanya merah marun dan berpotongan sederhana, membungkus tubuh Kyungsoo dengan sempurna. "Nah sudah selesai", Eunsuk meletakkan kuas bibir di meja dan menatap bayangan Kyungsoo di cermin, "Lumayan cantik, meskipun tidak semewah tadi."
Kyungsoo tanpa dapat ditahan melirik ke gaun hijau di lantai itu dan menghembuskan napas sedih. Tetapi bagaimanapun juga, dibalik kekecewaannya ada kepuasan karena setidaknya dia bisa menunjukkan kalau dia bisa melawan Jongin.
Betapa mengerikannya lelaki itu kalau marah, Kyungsoo mengernyit. Sejak usahanya yang terakhir kali untuk melarikan diri, penjagaan atas dirinya diperketat. Ada dua orang laki-laki berjas hitam dan berbadan kekar yang berjaga di depan pintunya.
Malam ini adalah pertama kalinya Kyungsoo diberi kelonggaran, untuk turun, keluar dari kamar ini. Kalau Kyungsoo cukup waspada, mungkin dia bisa melarikan diri dari rumah ini.
"Nah, pakai sepatu ini", Eunsuk meletakkan sepatu emas yang cantik di karpet, "Lalu aku akan mengantarmu turun, Tuan Jongin menunggu di bawah, karena pesta sudah dimulai".
***
Ketika Kyungsoo menuruni tangga, seketika itu juga hatinya terasa kecut. Semua orang yang hadir di pesta ini berpakaian spektakuler, semuanya pasti gaun rancangan terbaru dari desainer terkenal.
Para laki-laki berjas tampak berkumpul dan mengobrol di satu sudut dekat perapian, dan para perempuan tampak berkelompok dengan sahabat-sahabatnya menyebar di semua sisi ballroom itu. Sebuah meja sajian besar di sudut menyajikan berbagai jenis makanan mewah. Bartender di satu sudut sibuk melayani permintaan tamu dan para pelayan berpakaian hitam putih hilir mudik, menawarkan nampan-nampan hidangan dan sampanye yang mengalir tak ada habisnya.
Ketika kyungsoo menuruni tangga, semua pandangan tertuju padanya, hingga dia merasakan tangannya berkeringat. Kyungsoo mencari-cari Jongin, tetapi lelaki itu sepertinya tidak ada. Dengan gugup, merasa terasing di keramaian, Kyungsoo berdiri diam, di sudut dekat jendela, memilih untuk mengamati daripada membaur. Dia mengernyit ketika menyadari bahwa di setiap akses pintu keluar, semuanya berdiri dua atau tiga orang pengawal Jongin dengan jas hitam yang serupa dan tampak selalu waspada. Kyungsoo harus melewati mereka kalau ingin keluar dari tempat ini.
"Itu kekasih Jongin yang terbaru?", sebuah suara sinis terdengar, rupanya pemilik suara sengaja supaya Kyungsoo mendengarnya.
Kyungsoo menoleh dan mendapati segerombolan perempuan perempuan cantik tengah berbisik-bisik dan menatapnya dengan tatapan benci. Salah seorang perempuan, yang paling cantik dengan gaun hitamnya yang sangat seksi terang-terangan mengamati Kyungsoo dengan pandangan meremehkan dari atas ke bawah,
"Aku mendengar Jongin mengajaknya tinggal bersama bayangkan! Tidak ada satupun perempuan yang pernah diajak Jongin tinggal bersama... Kupikir dia perempuan yang sangat cantik! Ternyata dia biasa saja, mungkin Jongin sedang mabuk saat membawanya tinggal bersama"
"Aku pikir juga begitu", perempuan di kelompok itu, yang bergaun merah muda menyahut dengan suara yang tak kalah sinis "Mengingat sejarah kekasih-kekasih Jongin selalu luar biasa cantiknya... Tapi lihat dia, dia tampak tak cocok berada di sini, dia pasti bukan perempuan berkelas!"
"Gaunnya gaun lama, rancangan keluaran bulan lalu, dia pasti gadis miskin", suara perempuan lain berambut kemerahan dengan gaun biru muda, berbisik jahat, ikut memanaskan suasana, "Dia mempermalukan Jongin dengan penampilannya"
"Dia tak pantas bersanding dengan Jongin, berani bertaruh, sebentar lagi Jongin pasti muak dan mencampakkannya", perempuan seksi berbaju hitam itu mengibaskan rambutnya angkuh, "Begitu melihatku, Jongin pasti akan menyukaiku dan membuangnya"
Pipi Kyungsoo memerah mendengar hinaan-hinaan yang dilemparkan terang-terangan kepadanya, Sabar Kyungsoo, desisnya dalam hati. Perempuan-perempuan jalang itu terbiasa hidup kaya sehingga kadang tak punya sopan santun. "Menungguku, sayang?" suara Jongin terdengar dekat sekali di belakang Kyungsoo hingga ia terlonjak kaget. Kyungsoo menoleh dan mendapati Jongin berdiri santai, sedikit bersandar di jendela di dekatnya. Lelaki itu tampaknya sudah lama berdiri di sana, dia pasti mendengar jelas semua hinaan-hinaan yang dilontarkan kepadanya tadi. Pipi Kyungsoo makin merona, merasa malu sekaligus terhina. Jongin mendekat, dan perempuan-perempuan di gerombolan itu tampak terkesiap dengan ketampanannya. Lelaki itu memang tampan, Kyungsoo menggumam dalam hati. Merasa kesal karena mau tak mau dia harus mengakui kebenaran yang terpampang di depannya.
Dengan rambut coklat yang sedikit acak-acakan, mata coklat muda yang dalam tapi tajam, bibir yang melengkung jantan, dan tulang pipi tinggi yang membentuk sudut wajahnya sedemikian rupa, diimbangi dengan jas hitam legam yang membungkus tubuh ramping berototnya dengan pas, membuatnya tampak seperti malaikat tampan dengan nuansa jahat yang mempesona.
Jongin tampaknya tahu sedang diperhatikan dengan terkesima oleh gerombolan perempuan-perempuan muda itu, tetapi dia sama sekali tidak menatap mereka. Matanya terpaku menatap kyungsoo, dan senyum miring muncul di bibirnya, "Kau cantik sekali sayang", Jongin meraih Kyungsoo, merangkul pinggang Kyungsoo dengan lembut, lalu mengecup hidung Kyungsoo mesra, "Dari semua perempuan di ruangan ini, kau yang paling cantik. Yang lainnya cuma sampah", Jongin mengucapkan kata-kata itu dengan lantang, yang terdengar langsung oleh gerombolan perempuan itu. Suara terkesiap terdengar dari sana, dan ketika Kyungsoo menoleh, perempuan perempuan itu tampak berdiri dengan wajah merah padam, malu luar biasa atas hinaan Jongin. Lalu dengan berbagai alasan, mereka membubarkan diri dan berpindah tempat.
Jongin terkekeh, melihat tingkah mereka. Lalu menunduk dan menatap Kyungsoo, senyumnya langsung hilang,
"Jangan coba-coba melarikan diri dan jangan mencoba meminta tolong pada siapapun di sini, mereka tidak akan bisa menolongmu, dan kalau sampai aku tahu kau melakukannya, kau akan dihukum", bisiknya dingin. Sikapnya berubah kaku dan dia melepaskan pelukannya dari Kyungsoo dan tanpa kata-kata lagi meninggalkan Kyungsoo.
Kyungsoo termangu, masih terpesona oleh pertunjukan sandiwara kasih sayang yang diperagakan Jongin tadi. Apakah lelaki itu sengaja melakukannya untuk membelanya dari gerombolan perempuan-perempuan jahat itu?
"Sungguh kekasih yang baik", sebuah suara lembut terdengar di belakangnya. Kyungsoo menoleh dan berhadapan dengan perempuan cantik berbaju putih yang tersenyum lembut kepadanya. Mungkin perempuan inilah satu-satunya tamu pesta ini yang mau menyapanya.
"Siapa?", Kyungsoo mengernyit ketika menyadari komentar perempuan itu barusan, Perempuan itu tertawa kecil, bahkan tawanya pun terdengar merdu, Kyungsoo membatin dalam hatinya.
"Kim Jongin, kekasihmu", Perempuan itu mengedikkan bahunya ke arah kepergian Jongin, "Dia membelamu dengan gagah berani dihadapan perempuan-perempuan menjengkelkan itu..ups", perempuan itu menutup bibirnya dengan jemarinya yang lentik, "Aku tidak boleh mengatakannya, tapi mereka memang menjengkelkan bukan? Kalau bukan karena suamiku, aku tidak akan mau menghadiri pesta ini dan berbaur dengan mereka", perempuan itu tertawa lagi.
Dia perempuan yang bahagia, Kyungsoo membatin dalam hati. Perempuan cantik yang bahagia, ralat Kyungsoo. Dengan gaun putih keemasannya yang indah, tatanan rambut sempurna, make up sederhana, dan tatapan matanya yang berbinarbinar penuh cinta. Perempuan di depannya ini tampak
memancarkan kebahagiaan. Suaminya pasti sangat mencintainya, Kyungsoo mengambil kesimpulan dalam hati.
"Ah ya maaf, aku mengoceh ke sana kemari, tetapi lupa memperkenalkan diri", perempuan itu mengulurkan tangannya dan tersenyum, "Aku baekhyun"
Senyum ramah perempuan itu menular, Kyungsoo membalas uluran tangan baekhyun dan ikut tersenyum lebar,
"Kyungsoo", gumamnya memperkenalkan dirinya, "Terima kasih sudah mau menyapaku"
Baekhyun tersenyum lagi, dan menatap ke arah gerombolan perempuan-perempuan tadi yang sekarang sudah saling berpencar dan asyik bergosip satu sama lain,
"Jangan pedulikan mereka, mereka hanya iri padamu" Kyungsoo mengernyit,
"Iri padaku? Kenapa?"
"Ah kau pasti tak pernah mendengar dunia luar", Baekhyun tertawa lagi, "Gosip menyebar dengan cepat di dunia elit ini. Kau adalah perempuan yang paling hangat dibicarakan akhir-akhir ini"
"Kenapa?", Kyungsoo menatap Baekhyun penuh ingin tahu.
"Karena Kim Jongin, lelaki paling dingin di sini, mengajakmu tinggal bersamanya di rumahnya", Baekhyun mengedikkan dagunya, "Meskipun memiliki banyak kekasih, Jongin dikenal berprinsip mensterilkan rumahnya dari kehadiran perempuan. Tidak pernah ada satu perempuanpun -selain pelayan -yang bisa tinggal di rumah ini. Bahkan katanya, kekasih-kekasihnya yang dulu belum pernah ada yang menginap di rumah ini, Jongin lebih memilih menemui kekasih-kekasihnya di hotel miliknya", Baekhyun menatap Kyungsoo dan tersenyum, "Kaulah satu-satunya perempuan yang diajaknya tinggal dirumahnya, dan bahkan tak keluar-keluar sampai sekarang. Mereka semua merasa iri, karena apa yang kau alami adalah impian mereka semua, tinggal bersama dengan bujangan paling diminati di sini"
Kyungsoo tercenung. Mereka semua tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kyungsoo bukan kekasih Jongin, dia tinggal di rumah ini bukan sebagai kekasih Jongin, tetapi lebih seperti tawanan. Dia disekap dan dilecehkan semau Jongin.
"Apakah kau juga salah satu dari mereka? Mengagumi ketampanan Jongin?"
Spontan Baekhyun tertawa mendengar pertanyaan Kyungsoo.
"Tidak, menurutku suamiku yang paling tampan di dunia ini. Aku tidak sempat mengagumi lelaki lain", Baekhyun tersenyum dan matanya berbinar penuh cinta ketika membayangkan suaminya.
Kyungsoo memalingkan muka, tiba-tiba merasa sedih menyadari betapa beruntungnya Baekhun dibandingkan dirinya. Perempuan itu tampak begitu bahagia dan tanpa beban, sedang dirinya, bahkan dia tidak tahu akan dijadikan apa dirinya oleh Jongin. Mata Kyungsoo berkaca-kaca ketika membayangkan kegagalan rencananya untuk melukai Jongin yang malah membuatnya terjebak dalam cengkeraman lelaki iblis itu.
Baekhyun memperhatikan raut kesedihan di wajah Kyungsoo, dan dahinya berkerut,
"Kenapa? Kau sakit?"
Kyungsoo menatap Baekhyun lagi, perempuan ini baik hati, mungkin saja Baekhyun bisa menolongnya...
"Tolong aku...", Kyungsoo berbisik lemah, takut suaranya ketahuan, oleh Jongin ataupun para pengawalnya yang bertebaran di mana-mana, "Tolong aku keluar dari sini"
Baekhyun mengernyit, jelas-jelas merasa kaget mendengar permintaan Kyungsoo, matanya menatap penuh tanda tanya,
"Apa? Tapi... Bukankah.."
"Disini kau rupanya, aku mencarimu kemana-mana sayang", suara yang dalam itu mengalihkan perhatian Baekhyun dari Kyungsoo.
Kyungsoo menoleh dan terpesona menatap Lelaki yang melingkarkan lengannya di pinggang Baekhyun dengan posesif. Lelaki itu tampan, dengan rambut cokelat yang berpadu nuansa keemasan dan mata coklat. Baekhyun rupanya tidak main-main ketika mengatakan bahwa suaminya luar biasa tampan. Kyungsoo pun, kalau memiliki suami setampan itu, pasti tidak akan mau melirik lelaki lain.
"Chanyeol", Baekhyun bergumam lembut, pipinya memerah, tampak malu-malu atas kemesraan terang-terangan yang dilakukan Chanyeol. Suami Baekhyun tampak amat sangat mencintai isterinya, Kyungsoo berkesimpulan dalam hati. Lelaki itu menatap Baekhyun seolaholah akan melahapnya.
"Kita harus segera pulang. Mari kita berpamitan dulu pada tuan rumah"
"Tapi chanyeol, kita baru sebentar di sini... Apakah sopan kalau..."
"Ssshh", chanyeol menghentikan protes Baekhyun dan menyentuh bibir Baekhyun dengan jemarinya lembut, "Aku lebih ingin berada di rumah, bersama isteriku", gumamnya penuh arti.
Siapapun mengerti apa maksud kata-kata Chanyeol. Bukan hanya Baekhyun, pipi Kyungsoo pun memerah mendengar nada kepemilikan penuh gairah Chanyeol kepada isterinya. Baekhyun menyentuh lengan Chanyeol lembut, mengalihkan perhatian Chanyeol yang tampaknya tidak bisa lepas dari isterinya kepada Kyungsoo,
"Ini, kenalkan, Kyungsoo", gumam Baekhyun lembut.
Kyungsoo mengulurkan tangannya dengan sopan, dan Chanyeol menjabat tangannya, lalu menatapnya dengan tajam. Membuat Kyungsoo merasa nyalinya sedikit menciut di bawah hujaman tatapan tajam dari mata coklat itu.
"Kyungsoo yang itu?", ada tanya dalam suara Chanyeol, Baekhyun menyentuh lengan Chanyeol lagi, mengingatkannya, lalu menatap Kyungsoo penuh permintaan maaf, "Gosip cepat menyebar, bahkan di kalangan laki-laki", gumamnya pada Kyungsoo meminta pengertian.
Kyungsoo tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ada sedikit kekecewaan terbersit di hatinya. Chanyeol sepertinya rekan bisnis Jongin. Kalau begitu, pupus sudah harapannya meminta bantuan kepada Baekhyun.
"Ayo sayang, kita berpamitan", Chanyeol mengangguk pada Kyungsoo, lalu menarik pinggang isterinya untuk mengikutinya.
"Tunggu sebentar", Baekhyun mengeluarkan kartu emas kecil dari tasnya, "ini kartu namaku", digenggamkannya kartu nama itu di jemari Kyungsoo, "Hubungi aku kapan saja kau mau. Aku pikir kita bisa bersahabat". Dan kemudian, pasangan sempurna itu menjauh dan tenggelam di keramaian pesta. Meninggalkan Kyungsoo yang masih berdiri terpaku di sana, menggenggam kartu nama itu erat-erat seolah hanya itulah tiket penyelamatannya.
***
"Dia meminta tolong kepadaku", Baekhyun mengernyit sambil merebahkan kepalanya di dada Chanyeol. Lelaki itu masih berbaring santai dengan mata terpejam, menikmati saat-saat tenang setelah percintaan mereka yang panas,
Mata Chanyeol terbuka, menatap Baekhyun penuh ingin tahu, "Siapa sayang?"
"Kyungsoo, kekasih Jongin"
Chanyeol tercenung, lalu mengangkat bahunya, "Kurasa kita tidak usah ikut campur dalam urusan Kim Jongin. Dia rekan bisnis yang luar biasa, dan aku senang perusahaanku menjalin kerjasama dengan perusahaannya, Tetapi dari segi pribadi...", Chanyeol mengusap-usapkan jemarinya di
punggung telanjang Baekhyun, "Aku tidak terlalu menyukainya"
"Kenapa?", Baekhyun menatap Chanyeol ingin tahu,
"Yah... Jongin terkenal sangat...kejam. Dia berpenampilan dingin dan kaku, tetapi ketika terusik, dia tak punya ampun. Kadang-kadang aku sedikit tak simpati atas sikap tak berbelas-kasihannya"
"Kalau begitu aku semakin mencemaskan Kyungsoo", Baekhyun mengingat permohonan Kyungsoo tadi kepadanya, "Dia minta tolong kepadaku untuk membantunya melepaskan diri dari rumah itu. Pandangannya begitu tersiksa, apakah mungkin Jongin menyanderanya di rumah itu dengan paksa?"
"Mungkin saja", Chanyeol mengecup dahi Baekhyun lembut, "Tetapi seperti kataku tadi, itu bukan urusan kita"
"Setidaknya maukah kau mencoba berbicara dengan Jongin? Kau ada pertemuan besok pagi dengannya kan?", Baekhyun menatap Chanyeol penuh permohonan. Ada kecemasan di suaranya, apalagi ketika mengingat betapa Kyungsoo tampak sangat tersiksa ketika memohon kepadanya tadi.
Chanyeol terkekeh, lalu menggulingkan tubuhnya menindih tubuh Baekhyun, "Baiklah tuan puteri, akan kucoba", didekatkannya wajahnya ke wajah Baekhyun, menggoda bibir Baekhyun dengan usapan bibirnya yang panas, "Sekarang bisakah kita menghentikan pembicaraan kita tentang orang lain dan bercinta lagi?"
Baekhyun tidak menolak, bercinta dengan Chanyeol selalu menjadi kegiatan yang luar biasa menyenangkan
***
Tbc
Maaf jika banyak penulisan atau kata yang belum ku edit, terimakasih buat yg udah nyempetin read and review.
