DISCLAIMER : Masashi Kishimoto
Asal cerita : Naruto
Author : Saiaaah. Hahahaha
Genre : Romance, Drama, dan Agama pastinya.
Warning : AU, OOC (terutama buat Hinata), ada unsur agama Islam.
Saya tahu sy lama banget ngapdet cerita ini, saya tahu mungkin banyak yang uda gemes (baca:sebel) sama saya karena angin-anginan bikin cerita ini. Saya tahu... hiks..saya tahu...saya tahu kalo saya ganteng *digampar*. Yah, intinya saya minta maaf atas keterlambatan saya ngapdet ini fic. Saya keasikan main di Indonesia Hogwarts, sampe lupa pulang. Ckckckck. Tapi bener kok, niat saya untuk melanjutkan fic ini selalu ada. Saya masih pengen sama-sama belajar sama minna san semua *nyedot ingus terharu*. Oke, tanpa berlama-lama lagi, inilah fic (yang semoga masih ditunggu) saya. Semoga tidak mengecewakan dan tetap bermanfaat :D. Tapi sebelumnya saya balas review dulu ya :D. Oke, cekidot, gan :
uchihyuu nagisa: Agama sasuke di sekolah itu rahasia, uchihyuu... hehehe, makasih ya fav dan reviewannya. D tunggu komen selanjutnya :D
Haruno Aoi : Haloo mbak Aoii. Makasih banyak komen dan pujiannya, saya jadi terharu *srooot, narik ingus* wuahahahaha, statistik itu emang luar biasa ya. Luar biasa nyusahinnya ;D.
L. Riona : Rionaaa, maaf ngapdetnya lama, muehehehehe. Aaaah~gaara gak punya maksud apa-apa kok sama hinata. Itu mah saya aja yang punya maksud 'apa2' sama mereka berdua *digampar*, komen lagi yaa ;D
shiorinsan : shiorinsaaannnn *peyuk2shiorinsan* makasih pujiannya, saya jadi maluu. Komen lagi yaa ;D
Ryuzaki'89: ryuzaki chan, makasih pujiannya *peyuk2 ryuzaki*, baca terus ya. Dan mohon komennya seperti biasa ;D
kana seiran: kanaaaa *peyuk2kana* makasih ya komennya ;D. Maaf saya lama banget komennya. Btw, PM kana sangat membangun semangat loo, arigato again ;D
Dhinie minatsuki amai : dhinie, makasih komennya ;D. Iya, saya juga suka liat naruto di bully (looh?) hehehehehe ;D. Komen lagi yaa
Nara Aiko: makasih naraaa, ayo kita belajar agama sama-sama ;D. Komen lagi yaaa
Mayachan: makasih ya mayaaa. Jadi terharu saya. wahahahaha, sasukenya memang binal ya *digampar* okeee, komen lagi yaa
Thi3x : halooo thiex, makasih yaa komennya ;D. Saya jadi makin semangat. Waaah, untung thiex gak kayak sasuke ya. Imannya masih bener, ga jadi atheis. Mantaaab :D. Yosssshhhh, ini sy update. Komen lagi yaa
mayraa : haloo mayraaa *nyiapain semangat 45* hadudu, makasih komennya, saya jadi terharuuu *ngelap ingus* tetep komen yaa, biar sy selalu semangat :D
rainhaquee : haloo rain, makasih banyak ya komen dan pujiannya ;D. Saya jadi makin semangat. Yooosh, ini lanjutannya, maaf lamanya jadi bablas gini, komen lagi yaaaa.
Shion Parashie: wah shion, jujur saya terharu banget baca komennya shion. Alhamdulillah kalo fic ini bisa d ambil manfaatnya untuk shion. Ayoo kita belajar islam sama2. Semangat shiooon *peyuk2shion* makasih ya komennya, komen terus yaaaa ;D
Rara: raraaa *sungkem* maaf updatenya lama tenan. Semoga terbalas ya penantiannya *err, mulai ga jelas saya* komen lagi yooo ;D
Ayatul Husna: halooo husnaa ;D, salam buat ustadz ilyas yaa, muehehhehe. Makasih komen dan pujiannya, kalo ada yang mau d kritik jangan ragu yaa. D tunggu komen selanjutnya ;D
JustReadrl: Ini updatennya mbaak, maaf ya lama ;D. Komen lagi yooo
Lady GuGu : haloo mbak gugu, saya jadi inget salah satu lagu masa kecil, muehehehe *digampar* ampun, saya cuman bercanda. Err,, do i know you, mbak gugu? Mbak gugu mengingatkan saya sama seseorang :D
Dikalausayagilabeneran: pupnya lancar mbaaak ;D
YamanakaemO : haloo yamaaaa, makasih ya komennya. Ayo kita belajar agama sama2 ;D. D tunggu ya komen selanjutnya.
kikyou21: makasih ya kikyou, semoga bermanfaat yaaa. D tunggu komen selanjutnya ;D
Bab VI- The Beginning-
[Pemukiman Babakan Siliwangi, Bandung]
Kita mulai kisah kali ini dengan dua tokoh utama kita, Gaara dan Hinata. Seperti yang telah dijanjikan di chapter sebelumnya, kedua insan ini ditakdirkan secara semi paksa untuk mengunjungi pak RW di kawasan Babakan Siliwangi demi keselamatan tugas akhir mata kuliah Kesehatan Lingkungan mereka. Apakah ini akan menjadi bencana baru dalam kehidupan masing-masing? Ataukah jalan menuju drama percintaan korean style mereka? (Hinata dan Gaara teriak, "Ogah gue!"). Oke, sebelum makin melantur, kita mulai saja kisah sekawanan anak-anak muda ini. Jadi begini ceritanya kawan...
Jika ini adalah salah satu scene dalam telenovela atau sinetron, maka Gaara dan Hinata sudah dipastikan akan memulai adegan romansa mereka detik ini juga. Berjalan berdua beriringan di atas jalan kampung dengan lebar satu meteran lebih dikit, dengan bahu yang saling bersenggolan. Senyum malu-malu dari Hinata, ditambah tatapan romantis dari Gaara yang mulai berani menyentuh jemari Hinata, mesra. Kemudian saling lempar pujian macam "Iih, kamu imut banget deh, Gaara. Kayak panda," atau, "Kamu juga imut. Bola mata kamu itu lo, persis kayak matanya pocong kereta Manggarai."
Kriiiiik.
Tapi maaf ya pembaca budiman, karena ini bukanlah sinetron atau telenovela. Maka, dapat saya pastikan adegan di atas mustahil terjadi. Limit mendekati nol. Titik.
Boro-boro berjalan berdua beriringan sambil bersenggolan bahu, keadaan yang sebenarnya adalah Gaara yang sedang menghela napas frustasi melihat tingkah Hinata.
"Sampai kapan lu mau ngekor di belakang gue?" Gaara menghentikan langkahnya yang otomatis juga membuat Hinata melakukan hal yang sama. Hinata yang berdiri dengan jarak satu meter di belakang Gaara menatap (pura-pura) bingung lelaki berambut merah yang meski ucapannya bernada kesal tetapi wajahnya tetap sedatar triplek.
"Ya sampai ketemu rumak pak RW." Hinata menjawab. Gaara menaikan salah satu alisnya, jelas tidak puas dengan jawaban Hinata.
"Lu jalan di sebelah gue. Sekarang." Gaara mengedikkan kepala ke sisi kosong jalan di sebelahnya. Matanya tidak putus menatap Hinata.
Hinata mengerling sekilas spot yang ditunjuk Gaara. Dia mengerti maksud Gaara. Memang sejak awal mereka menginjakkan kaki di jalan kecil pemukiman Babakan Siliwangi, Hinata sengaja menyuruh Gaara berjalan di depannya sedangkan dia mengekor di belakang sambil menyerukan kapan harus belok kiri atau kanan. Alasannya simpel, demi menjaga keselamatan diri dari hal-hal tak terduga atau tak bertanggung jawab yang mungkin dilakukan Gaara. Mengingat mereka jauh dari kata akur jika bersama, apalagi sekarang hanya berdua. Hinata takut dia tidak bisa menahan diri jika berkonfrontasi dengan Gaara, misalnya dengan menendang Gaara ke dalam sungai yang ada di sisi kiri mereka.
"Gak usah, makasih. Jalannya sempit, aku di belakang aja sambil ngasih petunjuk jalan." Hinata pura-pura bodoh. Meskipun sempit, jalan yang sedang mereka lewati sebenarnya cukup untuk dilewati dua orang secara berdampingan. Hinata hanya mencari-cari alasan.
Gaara menyipitkan matanya, Hinata sedikit jiper melihat muka Gaara yang makin jauh dari kesan manusiawi.
"Itu—" Gaara melangkah mendekati Hinata, "—bukan tawaran. Itu perintah. Kalo lu gak mau jalan di sebelah gue, berarti lu harus jalan di depan gue. Jangan pura-pura bego!"
Hinata sudah siap melontarkan alasan baru ketika seseorang yang datang dari arah depan mereka membuat apapun yang hendak di ucapkan Hinata tertahan di tenggorokannya.
"Hinata?" Sebuah suara yang sangat familiar bagi Hinata menyapanya. Hinata dan Gaara otomatis mengalihkan fokus mereka kepada orang tersebut, yang ternyata adalah...
"Nyak?" Hinata menatap ibunya yang kini sudah berdiri tepat di depan Gaara, memandang Gaara dengan tatapan menyelidik.
"Elu digangguin preman?" Ibu Hinata bertanya sambil menatap Gaara galak. Rupanya pengamatan sekilas ibu Hinata yang melihat putrinya dan Gaara sedang beradu pendapat dianggapnya sebagai ancaman putrinya sedang dipalak.
Gaara yang merasa dialah satu-satunya tertuduh yang dianggap 'preman' tersebut membuka mulutnya—memberi penjelasan.
"Saya bukan preman." Gaara's style as usual. Cukup, tidak perlu penjelasan lebih. Hinata yang khawatir akan terjadinya battle royal di hadapannya segera menyambung kalimat Gaara.
"Nyak, ini...ini te-teman Hinata, namanya Gaara." Hinata segera maju dan berdiri disamping ibunnya yang kini mulai memandang Gaara dengan tatapan ingin tahu.
"Ooo, nyak kirain preman lagi malak elu." Ibu Hinata berkata sambil tersenyum lebar. "Pantes, enyak gak pernah lihat sebelumnya. Lagian tampangnya ganteng amat buat jadi preman, ya? Tampilannya anak gedongan gini. Maapin enyak ye, nak Gaara?" Ibu Hinata menepuk bahu Gaara sok akrab. Hinata yang ngeri melihat tingkah ibunya segera menarik tangan ibunya dari bahu Gaara yang masih saja belum mengubah ekspresi datarnya.
"Nyak, jangan sok akrab gitu. Dia gak suka dipegang-pegang." Hinata membisikkan karangan asalnya.
"Gak apa-apa." Gaara akhirnya mengeluarkan reaksi. Menatap dua orang hawa di hadapannya yang menurutnya sangat bertolak belakang.
"Tuh kan gak papa." Ibu Hinata berseru ketika mendengar jawaban Gaara. "Enyak kan bukan maksud ganjen ke nak Gaara. Biar lebih akrab aja, kan tadi udah enyak pelototin." Ibu gaara berkata lagi. Hinata yang takut Gaara akan menemukan senjata baru untuk 'membullynya' di kampus, segera mengalihkan pembicaraan. Dia tidak tahan jika nanti Gaara mengadu pada Sasuke atau teman-teman kelompoknya bahwa dia sudah dicolak-colek oleh ibu Hinata. "Eh, lu tahu gak, ibunya Hinata naksir gue. Masak baru ketemu gue udah dicolak-colek." No way! Parno amat lu Hinata, memangnya Gaara senista itu apa?
"Ngg, Gaara, ini ibu saya." Sumpah, Hinata tidak tahu harus mengatakan apalagi. Dia tidak bisa merangkai kalimat yang lebih kreatif dari ini.
Gaara hanya mengangguk singkat sambil tersenyum tipis ketika Hinata memperkenalkan ibunya. Ibu Hinata dengan tatapan keibuan tersenyum lebar menatap Gaara. Tangannya terjulur, minta disambut oleh Gaara. Gaara menatapnya bingung.
Hinata merasa napasnya seakan disedot vacuum cleaner.
"Nyaak!" Hinata berteriak frustasi, berusaha menarik tangan ibunya.
Ibu Hinata menepis tangan Hinata lembut. "Eeh, kalo ketemu orang tua musti cium tangan, Hinata! Lu kayak kagak tau aja!" Ibu Hinata berkata dengan logat betawinya yang kental. Wajahnya kembali dialihkan kepada Gaara yang masih mengernyitkan alisnya.
"Eeh, nak Gaara, kalau ketemu orang tua biasain cium tangan!" Ibu Hinata menyodorkan tangannya persis di depan muka Gaara. Gaara yang merasa 'terintimidasi' akhirnya meraih tangan ibu Hinata dan menempelkan punggung tangannya ke keningnya. Hinata merasa perlu menjedotkan kepalanya ke tembok saking frustasinya.
"Ngomong-ngomong, lu gak kuliah, Hinata? Bolos, ye?" Ibu Hinata yang merasa misi mengajar tata krama pada Gaara sudah selesai ganti menanyai Hinata.
"Lagi jam kosong, Nyak. Ada perlu untuk tugas kuliah ke rumah Pak RW. Nanti juga balik lagi ke kampus. Enyak sendiri kok belom ke rumah Bu Kushina?" Hinata balik bertanya.
"Ooh, tugas kuliah," Ibu Hinata mengangguk-angguk, "Iye, ini juga enyak mau ke sana. Tadi ngambil minyak nyonyong dulu. Suaminya Bu Kushina kumat lagi encoknya, tadi Bu Kushina mau mijat suaminya tapi gak punya minyaknya. Enyak ambilin dulu deh di rumah." Ibu Hinata mengeluarkan satu buah botol kecil dari saku roknya. "Ya udah deh, enyak pergi dulu ya. Hati-hati kalian bedua." Ibu Hinata menyodorkan punggung tangannya pada Hinata.
"Iya, Nyak. Hati-hati ya." Hinata menempelkan punggung tangan ibunya ke keningnya. Untungnya ibu Hinata tidak lagi menyodorkan punggung tangannya pada Gaara, Hinata bisa bengek di tempat.
Kesunyian menyusul beberapa detik setelah ibu Hinata berlalu. Hinata yang masih menatap punggung ibunya untuk mengulur-ulur waktu akhirnya memutuskan kembali menghadapi dunia nyata setelah seringaian Gaara tertangkap melalui ekor matanya.
"Nyokap lu..." Gaara menghentikan ucapannya sambil menyeringai pada Hinata. Hinata mengepalkan tangannya. Kalau Gaara berani mengejek ibunya dia bersumpah akan menendang Gaara ke sungai.
"Kenapa memang enyak gue?" Hinata bertanya galak.
"Wooaaa...take it easy, Girl." Gaara makin melebarkan seringainya. sungguh memprihatinkan, keadaannya sangat OOC. "Gue kan belom ngomong apa-apa." Lanjut Gaara lagi membuat Hinata yang memang tidak biasa marah jadi salah tingkah. "Ya sudahlah." Tiba-tiba saja Gaara berbalik dan mulai melangkah. Hinata yang heran hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya.
Siang itu rencananya Hinata dan Gaara akan mengunjungi rumah salah satu RW yang ada di Baksil. Sekedar meminta perizinan saja, belum melakukan wawancara. Karena naskah proklamasi eh salah, maksud saya, naskah wawancara dan kuisioner masih dikerjakan oleh Naruto, Kiba, dan Sasuke (yang masih meratapi nasib karena gagal berpartner dengan Hinata).
Sekedar info tambahan, Hinata dan Gaara tidak berangkat bersama dari kampus. Jadi pembaca budiman sebaiknya menghentikan imajinasi mengenai mereka berdua yang berada satu mobil atau berboncengan dengan motor, apalagi berbagi sepetak lahan duduk dalam angkot (Kalau yang ini sepertinya Gaara tidak bersedia) :D. Naruto meng-sms Hinata bahwa dia dan Gaara belum bisa keluar kelas tepat waktu karena masih harus mengurus tugas kuliah program studi mereka. Hinata yang melihat peluang bisa kabur dari Gaara segera membalas sms Naruto dan mengatakan bahwa dia akan menunggu Gaara di apotek dekat pintu masuk pemukiman Baksil. Naruto jelas kecewa berat karena Hinata tidak bersedia menunggu Gaara, tapi Gaara menanggapinya acuh. Dia tidak peduli Hinata mau berangkat bersamanya atau duluan.
Oke, kembali pada Hinata dan Gaara yang masih menyusuri jalan di Baksil. Hinata yang akhirnya takluk di bawah tatapan bengis Gaara, kini berjalan sejajar dengan si pemuda ganteng berambut merah. Merasa tidak nyaman dengan kesunyian yang tercipta di antara mereka, Hinata iseng menatap wajah Gaara. Lebih karena tidak ada kerjaan.
Sayangnya Hinata tidak mempersiapkan diri dari efek samping akibat memandang wajah miskin ekspresi namun ganteng milik Gaara. Sama seperti pertemuan pertama mereka di tenda penjual ayam, Hinata seolah terhipnotis oleh wajah Gaara. Garis rahangnya yang keras, hidungnya yang mancung, kulitnya yang putih, dan bola matanya yang sewarna rumput.
So Handsome.
"Kenapa? Muka gue ganteng, ya?." Gaara yang sadar dirinya diperhatikan melirik Hinata. Hinata yang baru tersadar dari aktivitasnya langsung membuang muka—malu .
"Gak."
Iya kamu ganteng. Sayang nyebelin.
"Oh, ya?" Tanya Gaara lagi dengan nada mengejek. Matanya masih terus melirik Hinata yang makin terlihat tidak nyaman
"Iya! Tadi cuman iseng, gak ada kerjaan." Jawab Hinata, separo jujur separo berbohong. Gaara mendengus mendengar jawaban Hinata yang kentara sekali grogi.
Untunglah saat itu Naruto yang berada di kampus memilih untuk mengirimi Gaara sms.
Merasa HPnya berbunyi, Gaara merogoh saku jeansnya dan mengeluarkan Androidnya. Sementara Hinata bersyukur karena akhirnya Gaara memiliki objek lain untuk dilihat. Setidaknya bukan dia.
"Sial, Naruto." Gaara memaki pelan saat membaca sms Naruto. Tak lama kemudian ganti HP Hinata yang berbunyi. Pengirimnya sama, Naruto Namikaze.
Hinata mengerutkan keningnya saat membaca sms Naruto. Mau tidak mau dirinya tersenyum membaca rangkaian kalimat yang ada di layar HPnya.
"Naruto, ya?" Tanya Gaara tiba-tiba. "Nanyain kabar lu masih selamat apa enggak?"
Hinata yang sedang berusaha menahan senyumnya mengangguk singkat. Tidak perlu orang jenius untuk menyimpulkan bahwa isi sms Naruto pada Gaara intinya juga sama.
"Sial, dia pikir gue mau ngapa-ngapain elu." Gaara memasukkan Androidnya jengkel.
[Hari yang sama, Kampus gajah, Bandung]
Sementara itu, disebuah kelas kosong di kampus gajah, Naruto tengah memandangi layar Hpnya dengan ekspresi puas. Sasuke yang duduk di sisi kirinya melirik Naruto dengan ekspresi bosan.
"Gue saranin lu jangan ketemu Gaara hari ini." Sasuke membuka mulutnya.
"Kenapa emang?" Naruto yang tidak mengerti dengan ucapan Sasuke menyuarakan keheranannya.
"Karena Naruto, lu baru aja mengusik ketenangan batin Gaara. Artinya lu nyari perkara sama tu bocah. It means you're gonna die! Hahahaha." Kiba yang duduk di sisi kanannya, mengetik kuisioner, menjawab pertanyaan Naruto dengan ekspresi bahagia.
"Yah, kira-kira gitu deh." Timpal Sasuke lagi yang kini tengah menopang dagunya sambil menyeringai menatap Naruto.
"Mengusik ketenangan batin apaan? Gue kan cuman memastikan kalau Hinata baik-baik aja sama tu bocah setan! Meskipun gue yang ngotot supaya mereka pergi bareng, tapi gue juga masih punya rasa tanggung jawab, Man! Gimana misalnya kalo tiba-tiba Hinata gak balik ke kampus habis pergi ke Baksil sama Gaara!" Naruto menjawab tidak terima dengan suara khas toa-nya. Kiba yang sedang mengetik di sebelahnya akhirnya menolehkan kepalanya.
"Lebay lu! Ya kalo Hinata kagak balik ke kampus, artinya dia pulang ke rumahnya di Baksil, bego! Lu pikir dia bakal diapain sama Gaara? Dilelepin di Sungai Cikapundung?" Kiba berkata sebal.
"Ya mana gue tahu! Kali aja Hinata dicekek dari belakang. Si Gaara kan emosinya gak jelas. Kadang tenang, kadang kayak setan. Hobinya aja nonton Sinchan. Gak matching kan sama mukanya." Naruto membela diri.
Sasuke terkekeh mendengar ucapan Naruto. "Aduh, aduh, jangan sampai Gaara tahu kalo lu pernah ngomong kayak tadi soal dia, Naruto. By the way, lu sms apa ke Gaara?" Sasuke memajukan sedikit tubuhnya ke arah Naruto. Naruto mendengus sebal.
"Haah, gue cuman nanya kalau Hinata baik-baik aja apa kagak. Mastiin doang, tapi biar lebih afdol gue juga nanya Hinata. Biar cover both side gitu loh." Naruto cengar-cengir menatap Sasuke.
"Beneran sarap ni bocah." Kiba menatap Naruto dengan tatapan mencela khas sinetron Indonesia.
"Gue turut berduka atas apa yang akan menimpa elu nanti, Naruto. Serius, mending lu gak usah masuk kelas ntar. " Sasuke mendesah sok prihatin, wajah gantengnya pura-pura sedih.
"Ah diem lu bedua!" Naruto berkata emosi, sedang kedua temannya tertawa puas melihatnya.
Kita tinggalkan pria-pria kesepian di atas. Mari kita kembali pada Hinata dan Gaara. Singkat cerita, mereka berdua telah berhasil menuntaskan misi meminta izin kepada Pak RW. Meskipun sebenarnya keberhasilan misi mereka sangat bergantung pada keuletan dan keaktifan Hinata berdiplomasi dengan Pak RW. Gaara hanya menyumbang anggukan singkat dan kata-kata seperti "Ya" atau "Tidak". Tidak terlalu berguna sebenarnya, tapi Hinata sudah cukup bersyukur setidaknya Gaara masih memberikan respon.
Dan di sinilah mereka sekarang, di atas trotoar Jalan Siliwangi, hendak kembali ke kampus. Ketika pergi dari kampus, Hinata yang tidak bersama Gaara memilih berjalan kaki dari kampus ke Baksil, sedangkan Gaara menggunakan motor kesayangannya yang diparkir di apotek. Sesuai dugaan, Gaara tidak mungkin mengajak Hinata pulang bareng ke kampus. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Gaara meninggalkan Hinata yang masih berdiri canggung di trotoar menuju apotek tempat motornya diparkir. Hinata yang melihat Gaara pergi tanpa salam hanya bisa menghela napas. Di satu sisi dia merasa senang karena tidak perlu berduaan lagi dengan Gaara, tapi di sisi lain dia merasa sebal melihat Gaara yang seolah menganggapnya tidak ada.
Maka Hinata pun memutuskan kembali ke kampus menggunakan kendaraan yang paling murah bahkan free of charge. Yup, kaki memang selalu bisa diandalkan. Hehehe.
Belum genap sepuluh langkah Hinata berjalan, tiba-tiba bahunya ditepuk seseorang. Dan orang itu adalah... Jreng Jreng Jreng... Siapa coba? Hah, Gaara? Yaaak, anda salah.
"Hinata?" Neji Hyuuga sudah berdiri di belakang Hinata, Hinata yang awalnya kepedean karena mengira Gaara kembali untuk mengajaknya ke kampus sedikit kecewa mendapati Nejilah yang berada di hadapannya. Waduh Hinata, kenapa musti kecewa?
"Eh, kak Neji?" Hinata yang bingung dengan kemunculan tiba-tiba Neji mengerutkan keningnya.
"Wah, kebetulan ya. Saya baru aja dari kost-an temen." Neji mengedikkan kepalanya ke arah gang yang ada di seberang jalan. "Begitu keluar gang ngeliat kamu di sini."
"Oh," Hinata hanya meng-oh saja.
"Mau ke kampus? Bareng?" Neji menatap Hinata sambil tersenyum.
"Ah iya, tapi saya jalan kaki loh, Kak." Hinata menjawab, membalas senyuman Neji, membuat pria gondrong itu merasa jantungnya berdebar lebih cepat. Tenang kawan, saya tidak berniat menciptakan kisah brother-sister complex dalam cerita ini. Neji murni hanya merasa senang mendapat balasan senyum dari Hinata.
"Gak papa, saya juga biasa jalan kaki kok. Yuk." Neji menjawab, menunggu Hinata bergerak. Hinata hanya tertawa kecil sambil mengangguk, memulai langkahnya yang segera diikuti Neji. Tanpa mereka sadari, beberapa meter di belakang mereka seseorang dengan sepeda motor sedang menatap mereka melalui kaca helmnya—Gaara.
[Beberapa hari kemudian, Masjid Salman]
"Yaak, sampai disini dulu ya mentoring kita hari ini." Shikamaru menatap khidmat adik-adik mentornya yang masih duduk mengelilinginya-Chouji, Lee, Naruto, Kiba, Shino, dan Gaara. Sai Izin terlambat karena masih mengurus tugas kuliahnya, tapi nyatanya sampai akhir mentoring belum muncul juga.
"Jangan lupa pekan depan dibawa terus Al-qur'annya. Setiap mentoring akan selalu dibuka dengan tilawah." Melirik Naruto yang cengar-cengir tanpa dosa setelah dua pekan berturut-turut lupa membawa Al-qur'annya dan selalu nebeng pada Kiba.
"Iya, lu jangan nyusahin orang mulu dong! Gaara aja yang kagak bisa ngaji masih bawa Qur'an!" Kiba berkata sewot menatap Naruto, tidak menyadari Gaara yang sedang menatapnya bengis dengan satu alis terangkat.
"Eh, Sai gak jadi datang, ya?" Naruto bertanya, berusaha mengubah pembicaraan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!"
"Gue gak ngalihin pembicaraan, gue lagi mencemaskan personel kita yang lain."
"Bohong." Gaara mendengus.
"Dusta." Lee mengangguk-angguk, setuju dengan ucapan Gaara.
"Berisik! Mentoringnya belum ditutup nih!" Shino yang biasanya kalem tiba-tiba berubah galak. Bukan apa-apa, dia khawatir jika mereka tidak segera dihentikan obrolan tidak penting ini akan berlanjut sampai maghrib.
"Hei, jangan pada berisik. Itu Sai datang." Shikamaru berkata sambil menunjuk satu titik dengan kalem. Benar saja, Sai baru saja mencopot sepatunya dan dengan tergesa menaiki tangga masjid.
"Maaf telat, Bang. Tugasnya banyak banget." Sai langsung ngedeprok ngos-ngosan di samping Lee. "Oh iya, lupa, slemlekum semuanya." Lanjutnya lagi.
"Kumsalam." Jawab mereka semua-minus Gaara-kompak.
"Ehem, biasakan mengucapkan dan menjawab salam dengan benar. Itu doa loh." Shikamaru tersenyum menatap adik-adik mentornya.
"Hehehe, kebiasaan sih, Bang." Sai berkata polos, diikuti dengan anggukan teman-temannya—masih minus Gaara (karena doi emang jarang banget ngucapin salam).
"Kalo gitu kebiasaannya harus diubah, karena arti salam itu luar biasa. Sayang kan kalau udah buang-buang napas tapi gak dapat doa dari salam itu sendiri." Shikamaru berkata lagi, masih memajang senyumnya.
"Emang artinya apaan sih, Bang? Terus kalo kita salah ngucapin emang doanya jadi berubah?" Chouji yang biasanya jarang bersuara membuka mulutnya ingin tahu.
"Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh itu punya arti, yaitu: Semoga keselamatan dari Allah menyertaimu, begitu juga rahmat dan berkahNya. Luar biasa kan, bayangkan kalau kita bertemu banyak orang dan mereka mengucapkan salam dengan lafaz yang benar kepada kita. Kita didoakan terus setiap hari. Abu Hurairah r.a pernah menyampaikan bahwa Rasullah Saw bersabda, kira-kira begini, 'Hak muslim yang mesti dilakukan terhadap muslim lainnya itu ada enam. Jika kamu bertemu ucapkanlah salam kepadanya; jika ia mengundangmu, datangilah; jika ia minta nasihat, nasihatilah; jika ia bersin lalu memuji Allah (Alhamdulillah), doakanlah; jika ia sakit, jenguklah; dan jika ia meninggal, maka antarkan jenazahnya."
Naruto meng-ooh panjang mendengar ucapan Shikamaru.
"Nah, kenapa kita tidak boleh asal-asalan dalam mengucapkan salam, itu karena salah pengucapan huruf dalam bahasa Arab bisa mengubah arti. Jika kita tidak tahu kalau kita salah mengucapkan, maka itu tidak apa-apa. Tapi ketika kita tahu dan sengaja mengabaikannya atau malah mempermainkannya malah bisa jadi dosa lo. Contohnya begini, dahulu ada seorang Yahudi yang memberi salam kepada Rasulullah dengan ucapan 'Assamu'alaika ya Muhammad. Sepintas memang kelihatannya mirip ya pelafalannya dengan Assalamu'alaikum, tapi ternyata artinya adalah 'semoga kematian dilimpahkan kepadamu, Muhammad."
"Buset, kurang ajar amat tu orang nyumpahin Rasul mati." Naruto berkomentar.
"Yah, itu salah satu ujian dari Allah buat beliau. Balik lagi ke topik kita, jadi begitu kira-kira, pentingnya mengucapkan salam dengan benar. Dan jangan lupa, bagi yang diberi salam wajib menjawab salam. Masak kita saja yang mau didoakan, yang mengucapkan salam juga mau dong didoakan. Jawab dengan benar."
"Supaya artinya gak jadi berubah, ya?" Shino bertanya sambil manggut-manggut.
"Iya benar. Wa'alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakaatuh, dan semoga atas kalian pula keselamatan, rahmat, dan berkahNya." Shikamaru menatap semua adik mentornya dengan tatapan kalemnya.
"Wow, rugi amat berarti gue selama ini, ngucapinnya asal-asalan. Hahaha." Kiba menepuk pahanya sok dramatis. Naruto mencibirkan mulutnya.
"Kalau kita cuman ngucapain 'Assalamu'alaikum aja, gak semuanya, boleh gak, Bang?" Sai bertanya penasaran.
"Boleh, jadi dalam mengucapkan dan menjawab salam itu boleh mengucapka 'Assalamu'alaikum' saja, atau 'Assalamu'alaikum wa rahmatullah', atau komplit . Tapi ya keutamaan yang didapat beda-beda. Makin lengkap kita mengucapkannya, makin besar rewardnya."
"Hoo, gitu ya, bang?" Lee mengelus-elus dagunya macam detektif.
"Yep, semakin lengkap ucapan salam seseorang, maka semakin banyak pula keutamaan yang diraihnya. Imran Bin Hushain r.a menceritakan tentang seseorang yang mendatangi Rasulullah Saw dan mengucapkan salam:"Assalaamu'alaikum!" Rasulullah SAW menjawab salam tersebut, dan kemudian memberikan komentar:"Sepuluh!" Kemudian datang orang lain yang mengucapkan salam:"Assalaamu'alaikum warahmatullaah!" Rasulullah SAW menjawab dan kemudian memberikan komentar:"Duapuluh!" Dan datanglah orang ketiga dan mengucapkan salam:"Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh!" Maka Rasulullah SAW menjawab:"Tigapuluh!" (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
"Nah, dalam menjawabnya juga begitu. Jika yang mengucapkan salam menyebutkan salamnya dengan komplit, maka balaslah dengan komplit pula. Dalam Al-Qur'an surat An Nisaa ayat 86 Allah SWT berfirman : "Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu." Shikamaru mengakhiri penjelasannya yang sudah mirip ceramah.
"Oke kalau begitu," Naruto tiba-tiba menegakkan tubuhnya, membuat Kiba yang berada disebelah kanannya menjengit sebal. "Gaara, Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wabarakaatuh!" Ucapnya lantang sambil menatap Gaara yang berada di sisi kirinya.
Gaara memandangnya malas, "Konslet ya, Lu?" Jawab Gaara, menunda jawaban salamnya, "wa'alaikumussalam wa rahmatullahi wabarakaatuh." Gaara menjawab cepat, terlihat canggung.
Naruto nyengir sambil menepuk bahunya. "Thanks, buddy."
"Nah, kalo yang ngucapin salam non muslim, gimana tuh? Kan sekarang 'Assalamu'alaikum' itu udah kayak biasa banget diucapkan siapa aja." Shino bertanya.
"Rasulullah menjawab dalam Hadist riwayat Bukhori-Muslim, kita cukup menjawabnya dengan 'Wa'alaikum' (semoga anda juga), begitu." Shikamaru menjawab, senang melihat antusiame di wajah adik-adiknya. "Ada yang mau ditanyakan lagi?" Tambahnya, mengedarkan pandangannya.
"Enggak." Sebagian menjawab, sebagian mengangguk, Gaara cuman mingkem.
"Oke kalau begitu, kita sudahi saja sampai disini ya? Saya dan Gaara mau lanjut belajar ngaji lagi hari ini." Shikamaru berkata sambil memasukkan buku dan Al-qur'an ke dalam ranselnya. Gaara yang mendengar namanya disebut hanya menatap pasrah seniornya.
"Wooow, lembur nih, Bro?" Entah kenapa Lee antusias sekali mendengat Gaara yang akan lanjut belajar ngaji, kedua tangannya bertepuk-tepuk senang.
"Berisik." Ucap Gaara dengan nada dingin menusuk kalbu. Lee langsung mingkem (tapi masih cengar-cengir).
"Jadi mau ditutup gak nih, atau mau lanjut sampe maghrib?" Shikamaru bertanya dengan nada mengancam dan efeknya sempurna.
"No!" Kiba dan Naruto berteriak bersamaan (yang langsung mendapat jitakan gratis dari Shino karena sudah bikin kupingnya sakit).
"Jangan, bang, ampun." Chouji mengangkat tangannya, memberi tanda perdamaian.
"Yes, gak jadi ngaji kalo gitu." Gaara berkata datar, emotionless seperti biasa.
"Gak apa-apa sih, gue kan belom dapet materi nih." Sai mencoba bercanda yang langsung dihadiahi death glare gratis dari teman-temannya.
"Ah, tidak berguna kalian semua!" Lee tiba-tiba bersuara, "saya aja bang yang tutup. Oke semuanya, terimakasih atas kerjasamanya selama dua jam ini. Jangan lupa materinya diresapi baik-baik. Terutama untuk yang banyak dosa macam Naruto—," Lee menghentikan ucapannya karena dipelototi Naruto,"—ayo kita ucapkan hamdalah sama-sama, istigfar tiga kali, dan doa akhir majelis." Lee mengkomando teman-temannya yang dengan patuh menurutinya.
"Amiin," Lee berucap ketika selesai memimpin pembacaan do'a akhir majelis. "Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wabarakaatuh." Lee mengakhirinya dengan salam, tak lupa senyum sok manis yang merekah di bibirnya.
"Wa'alaikumussalam wa rahmatullahi wabarakaatuh." Jawab semuanya kompak.
[Sore hari, hari yang sama, rumah Gaara]
Gaara memarkir belalang tempurnya di garasi rumahnya, disampingnya, Shikamaru juga baru saja turun dari motor bebeknya. Ini kali pertama Shikamaru berkunjung ke rumah Gaara. Matanya sedikit melebar demi menyaksikan betapa besarnya rumah adik kelasnya. Namun mengingat Shikamaru bukanlah Naruto yang cenderung ekspresif dan reaktif, wajahnya hanya menunjukkan ekspresi sekadarnya.
Gaara yang masih memegangi helm di tangan kanannya menoleh ke arah Shikamaru.
"Ayo." Ujarnya singkat sambil meletakkan helmnya di atas jok motornya dan mulai melangkah masuk ke dalam rumah. Shikamaru mengekor dibelakangnya.
Gaara membuka pintu rumah dan seketika langsung bertemu muka dengan kakaknya, Temari.
"Gaara...udah pulang?" Pertanyaan yang tidak perlu sebenarnya. Gaara yang jelas-jelas ada di rumah berarti memang sudah pulang.
"Hn." Jawab Gaara singkat.
"Assalamu'alaikum wa rahmatullah." Shikamaru yang mengekor di belakang Gaara muncul di depan pintu. Temari menatapnya sedikit cengo'.
"Eh?" Jawab Temari bego.
"Wa'alaikumussalam wa rahmatullah." Gaara yang sudah mengenyakkan tubuhnya di sofa menatap malas ke arah Temari dan Shikamaru.
"Temari, itu Shikamaru. Bang Shika, itu Temari." Gaara masih menatap dua makhluk di hadapannya. Yang satu tersenyum kalem, yang satu mengerjap-ngerjap bodoh. Pembaca budiman bisa menebak kan yang mana kalem yang mana yang satu lagi (gak tega saya ngomongnya)?
"Eh, iya, kenalin, Temari." Temari yang rupanya sudah menemukan kembali kesadarannya mulai memperbaiki imejnya yang tadi sempat terjun bebas, tangannya terjulur pada Shikamaru. Gaara yang melihatnya tiba-tiba menarik senyum asimetrisnya, bisa menebak apa yang akan dilakukan Shikamaru.
"Shikamaru." Shikamaru menjawab sopan sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Temari shock memandangnya. Tidak disangkanya adegan yang hanya pernah dilihatnya sepintas di sinteron terjadi kepadanya.
"Eeh..." Temari yang mendadak kehilangan kemampuan bicaranya sesaat akhirnya menurunkan tangannya dan menoleh menghadap Gaara dengan tatapan sebal, seakan Gaara yang bersalah akan ketidakmauan Shikamaru menjabat tangannya.
Gaara hanya memberikan seringainya sambil mencopot sepatunya.
"Masuk bang," Gaara bangkit dari duduknya sambil menenteng sepatunya, "saya mau ganti baju dulu, tunggu sebentar." Kemudian berjalan meninggalkan Shikamaru yang kini duduk nyaman di sofa.
"Siapa sih tuh orang? Homo, ya?" Temari yang mengikuti Gaara dari belakang bertanya kesal. Jelas Shikamaru adalah cowok pertama yang menolak menjabat tangannya. Penghinaan besar untuk Temari yang selalu merasa pesonanya bisa menaklukan semua cowok.
Gaara yang mendengar pertanyaannya terkekeh pelan. Seirit-iritnya ekspresi Gaara, dia masih manusia biasa yang bisa tertawa, kawan.
"Kakak kelas gue. Orangnya emang—apa istilahnya?—sholeh?. Pesona lu gak bakal menang." Gaara sengaja menekankan kata pesona untuk menggoda kakaknya yang makin memajukan bibirnya—manyun.
"Haah, mana gue tau kalo kakak kelas lu itu sholeh! Selama ini kan temen-temen lu gak ada yang sholeh. Rata-rata begajulan. Gue kirain dia homo." Temari membela diri.
"Excusme? Begajulan?" Gaara menoleh kebelakang dan menaikkan alisnya, kakinya kini menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
"Sasuke kan begajulan!" Temari bertahan pada argumennya. "Ngomong-ngomong sejak kapan lu temenan sama yang sholeh begitu? Pake dibawa ke rumah segala. Tapi yah, mukanya ganteng sih. Cool gimanaaa gitu." Celoteh Temari.
Gaara menghentikkan langkahnya sejenak. Tersadar kalau orang-orang rumahnya memang tidak tahu akan misi Shikamaru yang ingin mengajarinya mengaji. Tiba-tiba Gaara menyesali Temari yang berada di rumah. Gaara yakin nanti malam dia akan menjadi bulan-bulanan kedua kakaknya jika tahu apa tujuan Shikamaru ke sini.
"Gaara?" Temari yang tidak mengetahui pergolakan batin Gaara kembali menanyainya.
"Dia mau ngajarin gue ngaji." Ujar Gaara singkat sambil kembali meneruskan langkahnya, berusaha suaranya terdengar dingin seperti biasa. Padahal hatinya ketar-ketir menunggu reaksi Temari.
"..." Temari yang shock mendengar pengakuan jujur Gaara menghentikan langkahnya. Gaara yang menyadari langkah kakaknya terhenti (meski tidak membalik tubuh melihatnya) pura-pura cuek dan terus melangkah.
"HAH? APA? SITU OKE?" Temari setengah berteriak sekarang. Gaara akhirnya kembali menghentikan langkahnya dan memutar tubuh menghadapi kakaknya.
"Yep. Dan kuping gue masih oke. Gak perlu teriak-teriak." Gaara memberikan tatapan kutub utaranya pada Temari yang sedang memandangnya ngeri. Bukan ngeri karena tatapan Gaara, tapi ngeri karena menduga adiknya kesambet hantu blau.
"Bukan—bukan itu maksud gue. Tapi serius? Lu kena NII ya?" Perlu usaha ekstra bagi Temari menyusun kalimatnya. Gaara yang mulai sebal dengan kakaknya mendengus murka.
"Please, Temari. Kalau gue kena NII, lu udah gue gadain buat bayar setoran bulanan. Lagian gak mungkin gue ajak terang-terangan ke rumah, kan? Jawab Gaara mulai senewen. Temari yang tidak terima akan jawaban Gaara soal 'menggadaikan dirinya'mendelik menatapnya.
"Ya terus, kenapa dong? Pala lu kejedot tembok?" Ujarnya tak kalah sengit.
Gaara merasa perlu memasukkan kepalanya ke kulkas saat ini, dia perlu pendingin kepala.
"Dia mentor agama gue. Udah jelas sekarang?" Jawabnya dengan ekspresi dinginnya yang aduhai.
"Ooh," respon Temari bloon, "hahaha, gue gak nyangka adek gue mau belajar ngaji. Kankuro bisa kena serangan jantung kalau tahu." Temari mulai mengeluarkan tawanya yang dari tadi nyangkut di tenggorokan.
Merasa pasrah akan nasibnya, Gaara membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan Temari yang masih tertawa-tawa bak orang gila. Menjadi orang baik memang penuh dengan cobaan, kawan. Itulah yang sedang dialami Gaara saat ini.
Alhamdulillah *sujud syukur*. Akhirnya selesai juga chapter ini, semoga pembaca puas. Muehehehehe. InsyaAllah seperti saran Kana, saya mau bikin episode mereka di bulan ramadhan. Ayo kita belajar agama sama-sama. Nyahahaha. Oh iya, masih bersedia ngereview, kan? Itu satu-satunya bayaran saya nulis di FFN ini, jadi review ya, kawan? Jangan ragu untuk mengkritik, saya terima dengan senang hati. Saya doain murah rejeki, umurnya berkah, ujiannya bagus :D *ngerayu dot kom*
Sumber : .com/2007/03/11/salam-dalam-kehidupan-muslim/
.com/2008/04/518/salam-jika-kamu-melakukannya-kamu-saling-mencintai/
