SELAMAT MEMBACA.
BAB 6
Kopi sudah dihidangkan, pertanda meeting santai itu sudah usai. Beberapa lelaki memilih keluar untuk merokok, sedang Chanyeol duduk diam di ujung sofa, mengamati Jongin yang masih sibuk mempelajari berkas-berkas di tangannya.
Jongin bukanlah lelaki yang bisa membaur, lelaki ini penyendiri, dan wataknya yang terkenal membuat orang- orang segan mendekatinya. Chanyeol tidak akrab dengan
Jongin , mereka hanya berbicara tentang bisnis. Dan apabila menyangkut bisnis, Jongin cukup kooperatif. Kerja sama mereka telah membuahkan banyak keuntungan bagi perusahaan masing-masing.
Chanyeol ragu untuk menanyakan perihal Kyungsoo kepada Jongin. Rasanya terlalu aneh untuk membahas masalah itu di sini. Tetapi isterinya – Baekhyun yang cantik – telah berhasil membuatnya berjanji untuk melakukannya.
Chanyeol berdehem, menarik perhatian Jongin dari berkas berkas yang ditelusurinya dengan serius,
"Kami, aku dan isteriku bertemu dengan kekasihmu semalam"
Kepala Jongin langsung terangkat seperti disentakkan, ia menatap Chanyeol dengan waspada,
"Oh ya?," nada suaranya santai, tetapi ketegangan dalam suara Jongin tidak bisa menipu Chanyeol, ada sesuatu di sini, batin Chanyeol dalam hatinya, ada sesuatu yang dirahasiakan Jongin...
"Yah, dia berkenalan dengan isteriku kemarin, dan berbicara panjang lebar dengannya," Chanyeol berusaha memancing Jongin dan sepertinya pancingannya kena karena mata Jongin menyipit dan menatapnya curiga.
"Apakah dia mengatakan sesuatu kepada isterimu?" Chanyeol menatap jongin lurus-lurus,
"Dia meminta tolong kepada isteriku untuk diselamatkan, supaya dia bisa keluar dari rumahmu"
Bibir Jongin mengetat membentuk garis tipis, lalu dia segera berdiri, "Bilang pada isterimu untuk tidak melakukan apa-apa. Perempuan itu milikku, dan siapapun tidak akan bisa melepaskannya dari rumahku, kecuali atas seizinku," Jongin menatap Chanyeol lurus, menimbang-nimbang, "Aku menghormatimu Chanyeol, kau adalah salah satu dari sedikit orang yang aku hormati dan aku tidak ingin hubungan saling menghargai ini rusak. Maaf aku permisi dulu karena ada janji pertemuan dengan pihak lain setelah ini"
Setelah mengangguk kaku, Jongin melangkah pergi meninggalkan ruangan meeting besar itu. Chanyeol duduk diam dan menyesap kopinya, matanya masih menatap pintu di mana Jongin menghilang di baliknya.
Tingkah Jongin mengingatkannya pada dirinya dulu. Senyum muncul di bibir Chanyeol. Jongin mungkin akan mengalami hal yang sama seperti dirinya, kalau dia tidak hati-hati kepada Kyungsoo.
Ketika pintu kamarnya dibuka dari luar, Kyungsoo tidak menyangka kalau Jongin-lah yang masuk. Lelaki itu telah sepenuhnya mengabaikannya akhir-akhir ini. Kyungsoo bahkan hampir tidak pernah melihat lelaki itu, kecuali dari pemandangan ketika Jongin memasuki mobilnya di teras bawah yang kelihatan dari jendela lantai dua tempat Kyungsoo dikurung. Dan seperti biasanya, lelaki itu tampak marah. Kyungsoo mengerutkan alisnya, kenapa lelaki itu tidak pernah sedikitpun tampak ceria dan tersenyum? Kalaupun tersenyum, senyumnya hanyalah senyum jahat dan sinis.
Apakah lelaki itu tidak pernah merasakan bahagia sedikitpun di dalam hatinya? Tanpa basa basi, Jongin melempar jasnya ke kursi dan melonggarkan dasinya, lalu menatap Kyungsoo tajam,
"Apa yang kau katakan kepada Isteri Chanyeol?"
Kyungsoo langsung mengkerut takut. Baekhyun mungkin telah menyampaikan permintaan tolongnya kepada Chanyeol, dan Chanyeol mengatakannya kepada Jongin. Ketika rasa ketakutan menggelayutinya, Kyungsoo langsung menggelengkan kepalanya mencoba mengembalikan keberaniannya. Diingatnya wajah ayah dan ibunya yang bahagia, lalu tergantikan dengan wajah pucat mereka yang terbaring di peti mati. Kebencian dan kemarahan adalah senjatanya untuk menghadapi Jongin,
"Aku memang meminta tolong kepada Baekhyun untuk menyelamatkanku," Kyungsoo mengangkat dagunya angkuh, menantang Jongin. Jongin menggeram marah, matanya menyala,
"Coba saja kalau kau berani. Minta Baekhyun untuk membebaskanmu, dan kalau perempuan itu berani melakukan sesuatu, aku akan melenyapkan nyawanya," Jongin mendesis geram, "Dan aku tidak pernah main-main dengan perkataanku Kyungsoo , kebebasanmu akan diganti dengan nyawa orang-orang yang lengah atau orang-orang yang mencoba menyelamatkanmu"
Wajah Kyungsoo memucat. Apakah Jongin benar-benar akan melukai Baekhyun? Diingatnya senyum lembut di wajah cantik Baekhyun dan kebaikan hati perempuan itu. Ah ya Tuhan, Baekhyun adalah satu-satunya kesempatannya untuk melepaskan diri. Tetapi jika gantinya Jongin akan melukai Baekhyun, maka Kyungsoo tidak punya kesempatan apa-apa lagi.
"Kenapa kau tidak melepaskanku? Aku muak menjadi tawananmu"
Jongin menyipitkan matanya, mengamati Kyungsoo dari ujung kepala sampai kaki,
"Terlalu mudah jika aku melepaskanmu, kau pasti akan mencari cara untuk membalaskan dendammu lagi… dan terlalu mudah pula kalau aku membunuhmu, tubuhmu terlalu nikmat untuk mati sia-sia…," Jongin melangkah mendekat, dan otomatis Kyungsoo langsung melangkah mundur.
"Jangan… jangan mendekat!," Kyungsoo tanpa sadar mencengkeram dadanya dengan gerakan melindungi diri.
Jongin sudah pernah memaksakan kehendak kepadanya, memar di tangannya masih terasa nyeri, bekas ikatan dasi yang kejam di pergelangannya. Jongin hanya tersenyum meremehkan melihat gerakan Kyungsoo itu,
"Kau tahu kau tidak bisa menolak kalau aku ingin memaksamu. Apakah kau tidak belajar dari pengalaman bercinta kita kemarin?," dengan tenang lelaki itu melemparkan dasinya yang sudah dilonggarkan ke lantai, lalu melepas kancing kemejanya, satu demi satu.
Kyungsoo menatap pemandangan di depannya itu dengan panik, "Kau… kau mau apa?"
"Menurutmu aku mau apa?." Jongin melemparkan kemejanya dan berdiri dengan dada telanjang di depan Kyungsoo. Tubuh lelaki itu luar biasa indah, ramping tapi kuat dengan otot ototnya yang menyembul, terlihat begitu keras.
"Aku mau mandi," Jongin tampak geli melihat keterkejutan Kyungsoo, "Dan kau ikut denganku" Wajah Kyungsoo memucat dan menatap Jongin dengan marah. "Apa-apaan? Kenapa kau mandi disini? Kau… kau kan punya kamar mandi sendiri di kamarmu… ini… ini adalah…"
"Ini adalah kamar kekasihku," Jongin menyelesaikan kalimat Kyungsoo dengan tenang, "Ya. Kau kekasihku kyungsoo, kau harus terima itu. Kau ada di sini untuk memuaskan nafsuku"
"Kurang ajar!," Kyungsoo menyembur marah, dan didorong akan rasa tersinggungnya atas hinaan Jongin, Kyungsoo maju dan mencoba mencakar wajah Jongin. Tetapi Jongin cukup gesit, digenggamnya lengan Kyungsoo, dan dengan gerakan cepat di telikungnya tangan Kyungsoo di belakang punggungnya,
"Tidak semudah itu Kyungsoo, ingat itu, aku laki-laki yang cukup kuat, kalau kau bersikap baik, aku akan bersikap baik kepadamu, tetapi kalau kau menantangku, aku mungkin akan menyakitimu," Dengan satu tangan masih menelikung Kyungsoo, Lelaki itu meraih dagu Kyungsoo dan memaksa mengecup bibirnya dengan panas, "Ketika aku bilang kau harus mandi denganku, maka kau akan melakukannya"
Jongin mendorong Kyungsoo masuk ke kamar mandi dengan nuansa marmer putih itu
***
Jongin merasa dirinya hampir gila. Dia tidak berhubungan seks dengan wanita manapun akhir-akhir ini. Karena dia tidak tertarik. Gairahnya terpusat kepada Kyungsoo, perempuan ini membuatnya ingin menundukkannya, menaklukkannya, dan mendominasinya dengan posesif. Jongin ingin Kyungsoo tunduk di kakinya, memujanya seperti yang dilakukan banyak orang kepadanya.
Well itu mungkin butuh waktu lama, Jongin mengernyit melihat ekspresi Kyungsoo. Perempuan ini harus selalu dipaksa, harus selalu diikat, dan Jongin sebenarnya tidak suka menyakiti perempuan yang akan ditidurinya.
Bukti gairahnya terlihat jelas, dan Kyungsoo menolak untuk melihatnya, Jongin mendorong tubuh Kyungsoo ke pancuran, membiarkan air hangat membasahi mereka berdua. Ketika Kyungsoo sekali lagi mencoba memberontak, Jongin mencengkeram kedua tangannya erat-erat ke dinding dan merapatkan tubuhnya, menempelkan bukti gairahnya ke pusat tubuh Kyungsoo, membuat muka Kyungsoo merah padam,
"Hati-hati Kyungsoo , aku tidak ingin menyakitimu, aku cuma ingin mandi"
Kyungsoo mengerjap, "Mandi?" Ada sinar geli di mata Jongin,
"Ya, mandi, kau pikir aku mau apa?"
Pipi Kyungsoo makin memerah, apalagi ketika matanya tersapu pada kejantanan Jongin yang mengeras, terlihat jelas laki-laki itu sudah amat sangat terangsang. Jongin mengikuti arah tatapan Kyungsoo dan tersenyum,
"Aku cuma ingin mandi, tetapi sepertinya kau lebih tertarik ke yang lain"
Kyungsoo menatap marah ke mata Jongin, tetapi lelaki itu hanya terkekeh,
"Terserah kau, kau mandi di sini bersamaku. Atau kalau kau lebih memilih menantangku, kita bisa berakhir dengan hubungan seks yang hebat di kamar mandi. Sekarang tolong gosok punggungku dengan sabun," Jongin melepaskan celananya, terkekeh lagi ketika Kyungsoo langsung memalingkan mukanya, tak mau melihat.
"Ayo, gosok punggungku," Jongin membalikkan tubuhnya, membiarkan pundak dan bahunya diterpa air hangat dari shower, yang mengalir menuruni punggung berototnya dan turun ke pantatnya yang kencang…
Kyungsoo terpana dan mengerjapkan matanya ketika menyadari bahwa matanya terpaku pada keindahan tubuh Jongin yang berotot dan keras. Ramping tapi jantan, dan semua begitu proposional pada tempatnya, seolah Tuhan menciptakan laki-laki ini sambil tersenyum.
Jongin menolehkan kepalanya dan menangkap basah Kyungsoo yang sedang mengamati tubuhnya. Tatapan sensualnya memancar, panas, dan bergairah. Tetapi kemudian dia mendapati mata Kyungsoo yang berputar ke seluruh penjuru kamar mandi. Perempuan ini masih belum menyerah dalam usahanya untuk melukai Jongin. Jongin berani bertaruh bahwa Kyungsoo sedang mencari-cari senjata, sesuatu – mungkin untuk dipukulkan ke kepala Jongin yang sedang lengah,
"Kyungsoo," suara Jongin terdengar rendah dan mengancam, meskipun sebenarnya lelaki itu sangat menikmati mengucapkan nama Kyungsoo lambat-lambat di mulutnya, "Kalau kau tidak melakukan perintahku dan sibuk mencari cara untuk melakukan – entah rencana apa yang ada di dalam kepalamu yang cantik itu, maka mungkin saja aku akan berubah pikiran dan langsung menyetubuhimu saja"
Kyungsoo terlonjak, dan langsung meraih sabun cair, lalu mengusapkannya ke punggung Jongin yang keras dan berotot itu. Sentuhan itu membuat keduanya sama-sama terkesiap. Jongin bahkan tidak bisa menahan erangannya, kejantanannya sudah begitu keras. Seperti batu di bawah sana hingga terasa menyakitkan, memprotes untuk dipuaskan. Sentuhan tangan lembut Kyungsoo di punggungnya semakin memperburuk keadaan, membuatnya terangsang sampai di tingkat dia tak dapat menanggungnya. Kyungsoo mengernyit mendengar suara erangan Jongin. Dia tidak dapat melihat ekspresi Jongin , hanya bisa melihat rambut belakang Jongin yang kecoklatan dan sekarang basah, menempel di tengkuknya.
"Kenapa?," Kyungsoo bertanya, pada akhirnya ketika Jongin mengerang lagi. Jemarinya menggosok lembut bahu dan punggung Jongin yang sekarang licin karena sabun. Guyuran air hangat membasahi mereka berdua, membuat kaca-kaca kamar mandi itu berembun karena uapnya.
Jongin menggertakkan giginya, mencoba menahan gairahnya. "Tidak apa-apa," suaranya berupa erangan yang dalam, mencoba menahan dirinya ketika tangan lembut Kyungsoo yang berlumuran sabun itu menyentuh pinggangnya. Dia ingin merenggut tangan Kyungsoo itu, menyentuhkan ke kejantanannya yang sangat menginginkannya, dan kemudian memuaskan dirinya di dalam tubuh Kyungsoo.
Tetapi dia tidak bisa. Jongin ingin membuat Kyungsoo menyerah dengan sukarela. Dua percintaan mereka yang terakhir tidak dilakukan dengan sukarela. Meskipun pada akhirnya Jongin bisa membuat Kyungsoo merasakan kenikmatan. Kim Jongin tidak pernah memaksa perempuan jatuh ke dalam pelukannya. Para perempuanlah yang berebut untuk dipeluk olehnya. Dan itu harus terjadi pada Kyungsoo. Kyungsoo-lah yang harus menyerah dalam pelukannya.
Jongin memejamkan matanya, membayangkan bagaimana nikmatnya nanti ketika Kyungsoo pada akhirnya menyerah ke dalam pelukannya dan memohon kepadanya. Jongin melirik kepada Kyungsoo, dan …. Astaga ! Demi para dewa yang ada di semesta alam ini…. Kyungsoo masih memakai pakaian lengkap, dan yang membuat semuanya lebih buruk, pakaian Kyungsoo adalah rok tipis berwarna putih. Dan ketika baju itu basah kuyup, malahan membuat tubuh Kyungsoo begitu seksi, tercermin samar-samar di balik pakaian putih yang membuatnya tampak misterius.
Jongin menggertakkan giginya. Dia tidak tahan lagi bermainmain seperti ini. Ada di dekat Kyungsoo, telanjang, dan siap seperti ini membuatnya merasa hampir gila. Perempuan ini harus menyerah padanya. Harus!
***
Jongin memasang jasnya dan menoleh pada minjoong yang berdiri menungguinya di dekat pintu.
"Bagaimana dengan kasus terakhir itu? Sudah kau bereskan?" Minjooong mengangkat bahunya
"Tuan Yunho memendam kemarahan kepada tuan. Apalagi karena tindakan tuan sudah menggilas habis seluruh perencanaan proyeknya"
Jongin tersenyum, membayangkan muka Jung Yunho saat ini pasti sedang merah padam karena marah.
"Dia selalu marah kepadaku, sejak awal. Tetapi sampai sekarang dia tidak akan bisa berbuat apa-apa kepadaku. Dia tahu dia akan mati kalau sekali saja dia mencoba membunuhku, lalu gagal."
"Bagaimana kalau dia mencoba dan berhasil?," Minjoong menyela dengan cepat, "Tuan Yunho sangat licik dan bertangan kotor. Dia menggunakan banyak orang untuk mencapai tujuannya, kita tidak boleh meremehkannya dan harus selalu berhati-hati." Minjoong menatap Jongin dengan tatapan mata serius. "Seharusnya tuan menyuruh saya untuk membereskan orang itu dari dulu, supaya dia tidak berani berbuat macam-macam"
Jongin menggelengkan kepalanya tak peduli,
"Dia tidak akan berani, dan kalaupun dia berani melakukan apapun… aku sendiri yang akan menghabisinya"
Jung Yunho adalah salah satu musuh bisnis Jongin. Lelaki itu bersikap munafik karena di depan Jongin dia selalu bersikap baik dan bersahabat. Tetapi Jongin tahu kalau lelaki itu menyimpan kebencian yang amat mendalam kepadanya karena bisnisnya semakin terpuruk akibat gilasan ekspansi yang dilakukan Jongin.
Jongin sadar dia memang tidak boleh meremehkan Yunho, karena Yunho punya teman-teman penting di balik bisnis kotornya. Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan anak buahnya, lelaki itu berhubungan dengan sindikat senjata gelap dan kelompok-kelompok bawah tanah. Tidak menutup kemungkinan Yunho pada akhirnya akan menyewa salah seorang dari mereka untuk membunuhnya. Jongin , meskipun dibekali dengan kemampuan bela diri dan sangat ahli dalam berbagai jenis senjata serta dikelilingi oleh pasukan pengawalnya yang kompeten, harus selalu waspada.
Suatu saat, ketika Yunho sudah terasa sangat mengganggu seperti hama penyakit yang harus dibasmi, Jongin sendiri yang akan membereskannya. Tetapi tidak sekarang, mungkin reputasi Jongin yang kejam membuat Yunho sangat berhati-hati dalam bertindak, Jongin ingin melihat sejauh mana gerakan Yunho, baru setelah itu dia memutuskan akan dibagaimanakan sampah itu Nanti. Gumam Jongin dalam hati, Sekarang dia harus makan malam dengan merasa puas dengan penampilannya, Jongin memutar tubuhnya dan mengedikkan bahunya kepada Minjoong.
"Dia sudah siap?" Minjoong menganggukkan kepalanya,
"Eunsuk sudah menyiapkannya dari satu jam yang lalu," Minjoong membungkukkan badannya, lalu membukakan pintu untuk Jongin.
***
Ketika didandani oleh Eunsuk, Kyungsoo sudah terlalu lelah untuk melakukan pemberontakan sekecil apapun. Dia bahkan tadi tidak bertanya apapun ketika Minjoong mengantar Eunsuk ke kamarnya dan laki-laki itu tiba-tiba mendandaninya,
"Sepertinya kau berubah menjadi pendiam, kau tidak ingin tahu mengapa kau didandani?," Eunsuk bertanya setelah dia selesai mengoleskan eye shadow warna keemasan di kelopak mata Kyungsoo. Kyungsoo hanya menggelengkan kepalanya, tidak mampu menjawab. Ingatan akan kejadian di kamar mandi tadi membuat perasaannya campur aduk. Oh ya, sesuai janjinya, Jongin hanya mandi. Setelah Kyungsoo selesai menyabuni punggungnya, Jongin meneruskan mandi dan kemudian dengan tatapan lancang, menawarkan diri untuk memandikan Kyungsoo – yang tentu saja langsung ditolaknya mentah-mentah dengan berbagai sumpah serapah yang menyembur dari bibirnya. Jongin hanya tersenyum, mengambil handuk putih, mengikatkannya di pinggangnya dan melangkah pergi dengan santai. Meninggalkan Kyungsoo yang masih terpaku dalam guyuran air shower kamar mandi itu.
Jongin benar-benar terangsang. Kyunsoo tidak perlu memegang untuk mengetahui itu, bukti kejantanan Jongin sudah menonjol tanpa tahu malu. Tetapi kenapa lelaki itu tidak melakukan apa-apa kepadanya? Bukannya Kyungsoo ingin Jongin melakukan apapun kepadanya. Tetapi bayangan itu, bayangan Jongin yang bergitu bergairah tidak bisa hilang dari pikirannya.
Entah kenapa perasaan malu dan terhina merambati pikiriannya, Sungguh memalukan! Mungkinkah sebenarnya di dalam dirinya tersembunyi sosok perempuan jalang yang siap meledak? Atau jangan-jangan Jongin memang begitu ahli merayu perempuan sehingga membuat Kyungsoo hampir-hampir bertekuk lutut di kakinya?
"Sudah selesai," suara Eunsuk terdengar puas, mengembalikan Kyungsoo dari lamunannya.
Kyungsoo sedikit melirik ke cermin, pada mulanya tidak begitu tertarik akan hasil dandanan Eunsuk, tetapi mau tak mau pandangan matanya tertahan lebih lama di sana.
Gaun hitamnya tampak menjuntai di belakang, dengan potongan sederhana, tetapi elegan. Rambutnya diangkat ke atas, memamerkan telinganya yang dihiasi anting rubi dengan ukiran emas. Secara keseluruhan, penampilannya tampak begitu elegan dan berkelas. Eunsuk memang hebat bisa membuat penampilannya berubah drastis seperti ini.
"Tuan Jongin akan mengajakmu makan di Atmosphere," Eunsuk mengernyit ketika melihat Kyungsoo tampak biasa saja mendengar nama restaurant itu, "Hei itu restaurant bintang lima paling berkelas di sini, di sana akan ada banyak mata yang melihat dan menilamu, tapi jangan pedulikan mereka," Eunsuk memutar matanya genit, "Mereka hanya iri karena kau bersama bujangan yang paling diminati."
Bujangan paling diminati? Tanpa sadar Kyungsoo memutar matanya, mungkin orang-orang itu terlalu silau akan ketampanan Jongin hingga buta akan semua sifat buruknya.
Pintu terbuka dan Minjoong masuk, "Sudah siap?," pengawal berwajah dingin itu sedikit mengangkat alisnya melihat penampilan Kyungsoo, tetapi wajahnya tetap datar, " Tuan Jongin sudah menunggu di bawah."
Kyungsoo diantar ke ballroom bawah dan Jongin berdiri di sana. Lelaki itu sekilas melemparkan pandangan memuji, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Di dalam mobilpun dilalui dalam keheningan. Lelaki itu rupanya berniat mempertahankan keheningan sampai ke tujuan. Tetapi Kyungsoo tidak tahan, satu-satunya senjata agar dia tidak jatuh dalam pesona Jongin adalah dengan terus menerus melawannya.
"Kenapa kau ajak aku makan malam di luar?," akhirnya Kyungsoo memecah keheningan itu dengan pertanyaannya. Jongin menoleh sedikit dan menatap Lana dengan pandangan malas,
"Aku lapar" Kyungsoo mendengus jengkel mendengar jawaban itu,
"Kau punya 3 koki hidangan internasional di rumahmu," begitu yang sempat Kyungsoo dengar dari obrolan para pelayan. "Aku sedang ingin makan di luar, dan kau….,"Jongin menatap Kyungsoo dengan tatapan – awas kalau kau berani membantah-, "Kau adalah kekasihku, jadi kau harus mendampingiku"Tentu saja Kyungsoo membantah, "Aku bukan kekasihmu"
"Ya, kau adalah kekasihku. Perempuan yang kutiduri lebih dari satu kali otomatis menjadi kekasihku"
"Bukan!," Kyungsoo menyela keras kepala, mukanya memerah mendengar omongan Jongin yang vulgar itu.
"Kyungsoo," Jongin mengeluarkan suara mengancamnya yang khas, "Jangan menantangku. Kau tahu aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, suasana hatiku sedang buruk dan aku muak dengan semua perlawananmu. Jadi jangan coba coba memancing kesabaranku"
"Kalau kau muak denganku seharusnya kau lepaskan aku,"
"Tidak," Jongin menjawab cepat, hanya sepersekian detik setelah Kyungsoo menutup mulutnya, "Hentikan Kyungsoo, kau tidak akan kulepaskan."
"Kenapa?'
"Kau tahu kenapa.," Jongin jelas tampak jengkel. "Tidak, aku tidak tahu," jawab Kyungsoo keras kepala. "Karena," suara Jongin sedikit menggeram, dan dalam sekejap lelaki itu mencengkeram rahang Kyungsoo dengan jemarinya, lembut tetapi mengancam, "Karena aku sangat suka memasukimu, merasakan kewanitaanmu membungkusku dengan panas, lalu mendengarmu merintih karena orgasmemu. Jelas?"
Sangat Jelas. Dan Jongin berhasil membuat Kyungsoo terdiam. Sepanjang perjalanan mereka tidak berucap sepatah katapun lagi.
***
***
Di suatu sudut yang gelap sebuah telephone terangkat, Jung Yunho sedang duduk di kursi besarnya sambil merokok. Segelas brandy dengan botolnya yang setengah penuh tampak di sampingnya, tampangnya yang menjadi jelek dengan hidung memerah karena mabuk tampak waspada,
"Sudah berhasil?," lelaki itu bertanya cepat. Jeda sejenak, lalu suara dalam di sana menjawab dengan tenang,
"Mereka sudah keluar dari rumah itu. Rencana akan dijalankan nanti ketika mereka pulang."
"Bagus, kabari aku kalau sudah beres."
"Baiklah. Anda tidak akan kecewa karena telah menyewa saya untuk membunuh Kim Jongin."
Telephone ditutup, dan Yunho terkekeh dalam kegelapan. Menenggak minumannya, untuk perayaan awal. Kim Jongin, musuh besarnya. Lelaki itu sudah menghancurkan bisnisnya dengan ekspansi yang dilakukannya. Dan bukan hanya itu, Yunho didera oleh perasaan iri dan benci yang luar biasa kepada Jongin. Entah kenapa Jongim diciptakan begitu sempurna, dari segi fisik. Sehingga semua wanita berhamburan untuk berlutut di kakinya.
Yunho dengan wajah pas-pasannya sudah terlalu sakit hati karena ditolak perempuan, semua perempuan yang mau tidur dengannya hanyalah pelacur-pelacur yang harus dibayar.
Kim Jongin harus dienyahkan, lelaki seperti itu tidak boleh hidup di dunia ini. Dan malam ini mungkin adalah malam terakhir lelaki itu hidup.
TBC
Updatenya kecepetankan? Enggak apa-apakan? Soalnya minggu depan bakalan update lama karena udah ulangan senin ini, jadi harus fokus belajar.
Mudah mudahan suka.
