Title: SECRET

Chapter : Chapter 7

Thanks buat komen2 yang udah masuk di Chapter2 sebelumnya atau ke inbox saya, komen kalian menguatkan saya ? :D dalam mengetik dan mencari ide lagi. Oke lanjut. .!

Maaf kalau ada typo atau kesalahan penulisan kalimat ^_^ Saya hanya manusia biasa :v

Happy Reading dan tolong tinggalkan jejak kalian :D

SECRET

Genre : Romance,Action

Boys x Boys

Cast : Infinite

R&R

Happy reading,readers ^_^

xXx

.

.

2014-

"Hyung. .aku menyukai hyung. . "

Myung Soo yang semula tertawa karena candaan yang dilontarkan oleh Sungyeol semakin terbahak mendengar kalimat itu. ia harus mengakui bahwa pria yang tumbuh lebih tinggi darinya itu sangat hebat dalam bergurau. Myung Soo mengusap rambut pria yang sedang menumpukan kepalanya pada dada bidang Myung Soo.

"ne. .Hyung juga sangat menyukai Yeollie. . "

Sungyeol menghela nafasnya dalam. Ia berbalik dan menatap lurus pada wajah Myung Soo yang sangat dekat dengan nya itu. pupil hitam legam milik Sungyeol seolah menembus mata tajam Myung Soo, membuat desir2 aneh didalam hati Myung Soo. Sudah berkali kali ia melihat tatapan aneh dari pria tampan itu, namun tak pernah seaneh ini.

"aku menyukai Hyung. . " kalimat itu sekali lagi mencuat dari bibir Sungyeol. menutup mulut Myung Soo yang masih mengatur nafasnya.

"Yeollie. . "

"aku menyukai Hyung sebagai seorang laki laki. .bukan sebagai seorang kakak. . "

"ha? " mulut Myung Soo menganga sempurna tak menyangka arah percakapan lucu mereka beralih pada hal seserius itu.

"Yeollie. .Hyung ini. . "

"laki laki. Dan aku juga laki-laki. .lalu apakah aku salah Hyung? Bukankah cinta itu adalah sesuatu yang timbul dari hati kita? Aku menyukai Hyung. .aku tak mau yang lain. . "

Suara manis Sungyeol berubah parau. Nada manja nya berubah menjadi nada sendu. Saat seperti itu Myung Soo mengetahui bahwa pria itu biasanya akan segera menangis beberapa saat lagi. Ia memeluk tubuh Sungyeol tanpa ragu.

"Hyung Cuma seorang pelindung. .tak seharusnya tuan muda menyukai seorang seperti saya. . " lirih Myung Soo dengan nada formal. Ia bahkan melanggar janjinya untuk tak memanggil Sungyeol dengan kata "tuan muda " lagi.

"tuan muda seharusnya memilih orang lain yang lebih baik. .yang setara. .bukan orang seperti saya. . "

"aku tak perduli. . " ucap Sungyeol. tanpa bisa ditolak myung Soo, pria tinggi itu sudah menempelkan bibirnya dengan cepat pada bibir Myung Soo. Meski terkejut dengan sikap pria yang tiba2 berubah seagresif itu nyatanya Myung Soo tak bisa menolak bahwa lumatan bibir Sungyeol sangat memabukkan baginya, apalagi selama 24 tahun, ia sama sekali belum pernah mencium wanita manapun. Tangan Myung Soo yang semula hendak menahan tubuh Sungyeol malah berubah memeluk nya erat, menarik tubuh Sungyeol untuk lebih melekat padanya. Perlahan namun pasti Myung Soo mulai melakukan aksi2 balasan kecil pada gerakan Sungyeol yang sudah sangat ahli. Entah sejak kapan pria itu belajar melakukan tekhnik berciuman sehebat itu.

"Hyung. . "

Sungyeol gelagapan. Sesaat tadi ia menguasai keadaan, namun ia tak menduga balasan Myung Soo semakin agresif dan terkesan ganas. Pria itu seolah menemukan oasis dipadang pasir dan meraupnya dengan kasar. melumat dengan gerakan abstrak pada bibir Sungyeol dan menyebabkan Sungyeol sedikit meringis karena nyeri.

"Hyung. .emphh. .Hyung. . " Sungyeol berusaha menekan tubuh Myung Soo menjauh. Namun usahanya sedikit terlambat karena Myung Soo malah semakin mendekap erat tubuh Sungyeol. hingga Sungyeol merasakan sesak dari perbuatan Myung Soo padanya. Maklum saja, Myung Soo adalah guard nomor satu dirumah besar itu setelah ayahnya meninggal. Dan kekuatan nya sangat diatas rata-rata. Sungyeol bahkan merasa tulang nya akan patah jika tak segera lepas dari himpitan pria tampan itu.

"Hyung. .sakitttt. . " desis Sungyeol. nada erangan itu tertangkap telinga Myung Soo. Seolah tersadarkan, ia menolak tubuh Sungyeol menjauh darinya. Tubuhnya bergerak menjauh kesudut kamar. Ia menatap penuh sesal pada Sungyeol yang sedang berusaha mengembalikan tenaga nya.

"mianhae tuan muda. .saya lepas kendali. . " ujarnya.

Sungyeol yang terlentang diatas ranjang masih berusaha mengatur nafasnya. Setelah beberapa saat ia melihat pada Myung Soo yang masih tertunduk lesu disudut ruangan. Ia beranjak turun dan mendekati pria tampan itu.

"mianhae. . " desisnya lagi. Sungyeol memeluk tubuh Myung Soo.

"seharusnya aku yang harus minta maaf Hyung. .aku yang memulainya. . "

Myung Soo hanya membisu. Sungyeol menarik dagu Myung Soo dan menatap lurus pada wajahnya. ia mengecup kilat bibir Myung Soo dan melepasnya dengan perlahan.

"jangan tolak aku Hyung. .aku ingin selalu bersama mu. .Hyung mau kan? " lirihnya.

Myung Soo memandang ragu. Namun kemudian menganggukkan kepalanya dengan yakin.

"arasseo. .hyung akan selalu bersama Yeollie. .selamanya. . "

.

.

xXx

suasana temaram sangat terasa dirumah sakit yang khusus menangani orang2 yang mengalami masalah gangguan mental itu. disepanjang lorong yang sepi hanya terdengar erangan2 pilu beberapa pasien yang menderita gangguan kejiwaan yang berat. suasana yang gelap dan sepi bertambah semakin menyeramkan ketika terdengar ketukan ketukan yang berasal dari sebuah ruangan bernomor 301. Setiap penjaga yang piket malam akan berusaha menjauhi kamar itu. karena pasien itu adalah pasien dengan gangguan jiwa berat yang cukup berbahaya. Seringkali ia bertindak diluar kewajaran saat malam hari, namun pada siang harinya ia hanya akan menatap kosong pada jendela kamarnya yang terbuka dan ditutup teralis itu. terkadang bibirnya menyunggingkan senyum dan berbicara seorang diri seolah mengobrol dengan orang lain didalam sana. Semua perawat sangat mengenalnya. Ketenaran yang dimiliki keluarganya membuat semua perawat mengenalnya dengan baik.

"ano. .perawat Kang. . "

Pria yang menyeruput kopi hitam itu menoleh pada pria yang memanggilnya.

"ada apa? " tanyanya pada pria dengan name tag Ji Kwang itu.

"aku. .selalu penasaran dengan pria diruangan 301 itu. .sebenarnya, mengapa dia sampai bisa seperti itu? "

Pria berusia 36 tahun bernama Kang San itu menyeruput kopi nya lagi. Ia memaklumi pria disebelahnya itu tak mengenal pasien di ruang 301 karena ia merupakan penjaga malam yang baru dan berasal dari desa yang jauh dari seoul.

"dia anak keluarga paling kaya di korea. .tak ada alasan yang pasti mengapa dia sampai menderita gangguan jiwa. .hanya saja ketika aku melewati ruangan dokter kepala, aku tak sengaja mendengar nya. . "

Ji Kwang menelan liurnya. Intonasi datar dari Kang San membuatnya semakin penasaran.

"ia menjalin cinta terlarang dengan seorang pengawalnya. .orang tua nya mengetahui hal itu dan berusaha memisahkan mereka. Bahkan yang aku dengar. .pengawal itu tewas karena disiksa oleh ayah dari pria itu. .setelah itulah ia menderita gangguan jiwa. . "

"cerita yang menyedihkan. . " desis Ji Kwang. Ia menoleh pada lorong yang mengarah pada ruang khusus 301. Sayup2 ia mendengar suara ketukan pada dinding, dan suara menangis yang terdengar lirih menyayat hati. Ji Kwang mengusap punggung nya.

"kau akan terbiasa dengan hal itu. . " bisik Kang San yang diikuti anggukan Ji Kwang. Meski bulu kuduknya masih saja meremang.

.

.

xXx

.

.

Sungyeol dan Myung Soo menatap geli pada tiga orang yang sedang mengatur nafas mereka. Sungyeol bahkan dengan santainya bisa menyesap sirup yang ia buat sendiri tadi dengan tenang, seolah kejadian heboh yang terjadi beberapa saat lalu sama sekali tak mengganggu nya. mereka memang telah berpindah sejak satu jam lalu menuju ke bungalow milik Sungyeol. disana sangat sepi dan Sungyeol dapat menjamin tak ada satu orang pun yang bisa menemukan mereka. Ya terkecuali orang2 dari markas pusat.

"aku rasa sudah tidak ada yang bisa kita tutupi lagi. .aku Lee Sungyeol dan ini Kim Myung Soo. .kami orang2 dari intelegensi korea utara. . "

Sunggyu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia menoleh pada Sungyeol dan menatap dengan serius pria itu.

"ano. .sejak tadi kau mengatakan Myung Soo, myung Soo. .siapa sebenarnya pria itu? dan dimana dia? "

Woo Hyun dan Nyonya Kim mengangguk.

"ya. .kami juga penasaran dengan pria itu. . "

"apa kalian buta? Ia sejak tadi disini. .duduk disamping ku. " ujar Sungyeol merasa kesal. Ia merasa ketiga orang itu sedang mempermainkan nya. Woo Hyun memandang Sunggyu dan Nyonya Kim dengan bingung. Ia melirik gyu dan berkata tanpa suara.

"dia gila. . " Gyu mengangguk2 paham. ia menggeser tubuhnya siap melarikan diri jika Sungyeol mulai bertindak mencurigakan dengan senjata didekatnya.

"anak muda. .sejak tadi kau hanya sendiri disini. .saat penyerangan tadi pun kau yang tiba2 menembakkan bazoka itu. .kami sama sekali tak melihat orang lain. . "

Sungyeol berdiri dengan kesal.

"dia disini! Myungie. . "

Pria tinggi itu terbelalak tak percaya ketika melihat ruang kosong disamping nya. dengan gusar Sungyeol menarik bantal duduk disofa dan melempar2kan nya.

"dia disini! Dimana Myung Soo? " matanya nanar dan memerah. Dengan sedikit kasar ia mencengkram kerah Woo Hyun.

"dimana dia? Katakan padaku dimana Myung Soo!? "

"aku tak tau. .sejak awal kau memang sendirian. Kami juga bertanya pada mu sejak tadi. "

Sungyeol berteriak frustasi, membuat Sunggyu dan Nyonya Kim dengan cepat memegang kedua tangan pria tinggi itu. namun ternyata Sungyeol bukan orang sembarangan dengan tenaga lemah. Ia berhasil meronta dengan mudah bahkan tanpa diduga ia berhasil memukul wajah Nyonya Kim hingga wanita paruh baya itu terjajar mundur. Sunggyu berteriak marah. Ia melayangkan pukulan nya kearah Sungyeol, Sungyeol yang sudah sangat terlatih melengoskan tubuhnya dan menghindari pukulan itu dengan mudah, namun ia melupakan posisi Woo Hyun yang ada dibelakang nya. kesempatan itu digunakan Woo Hyun untuk menghantam punggung Sungyeol dengan vas bunga didekatnya.

Prannnggg!

Sungyeol terbungkuk menahan nyeri pada area punggung nya. namun bukan nya melemah, ia malah menatap dengan beringas pada Woo Hyun.

"berani nya kau. . " desisnya. Woo Hyun tersentak mundur, saat itu sebutir timah panas sudah melesat dan mengenai perut nya.

"ughh! " pria tampan itu terjajar mundur dan jatuh sambil memegangi perutnya. Matanya berkunang-kunang, didepan nya ia melihat Sungyeol mengarahkan pistol kearah nya dan Sunggyu yang berteriak nyaring. Sedetik lagi nyawa nya akan melayang, saat itu juga ia melihat Sungyeol berlutut didepan nya dengan kepala berdarah. Pistol ditangan nya terjatuh. Dibelakang nya Sunggyu memegang patung kecil yang terbuat dari batu, dan patung itu nyaris terbelah dua.

"woo. .gwenchana? " tanya Sunggyu dengan cemas. Ia membeliak ketika melihat tangan Woo Hyun berlumuran darah yang keluar dari perut nya.

"kau berdarah! Eomma. .bantu aku. Kita harus membawa Woo Hyun kerumah sakit segera. Palli! "

Sungyeol yang masih memiliki sisa kesadaran nya menatap sendu pada Sunggyu dan Nyonya Kim yang memanggul Woo hyun dan berlari keluar dengan tergesa gesa. Menyisakan angin dingin yang menghembus pelan surai cokelat nya. rasa sakit dan darah yang mengalir tak ia pedulikan, dikepalanya hanya ada bayangan Myung Soo yang secara tiba tiba muncul didepan matanya.

"yeollie. .apa yang terjadi pada mu? "

Saat itu Sungyeol hanya bisa tersenyum pahit. Ia membiarkan Myung Soo mengangkat tubuhnya. Tangannya memeluk pada tubuh pria yang terasa dingin itu.

"mengapa kau datang terlambat? Aku sudah menunggu mu sejak tadi. . "

Myung Soo tersenyum kecil.

"mianhae. . "

Mata Sungyeol terasa berat. sesaat kemudian ia kehilangan kesadaran nya.

.

.

xXx

.

.

"bagaimana keadaan nya dok? "

Pria dengan name tag Dr. Lee Howon itu menggeleng lesu. Ia menatap penuh rasa sesal pada pria paruh baya didepan nya.

"maafkan saya tuan Lee. .sampai sekarang kami belum bisa mengembalikan kondisi mental anak anda. .tekanan dari depresi dan kenangan buruk yang terus melintas dikepalanya membuatnya semakin sulit untuk sembuh. Sekarang keadaan nya semakin diperparah dengan ilusi dari imajinasi nya. terkadang ia membayangkan ia seorang anak SMA yang dibully oleh teman2 nya hingga ia menangis seharian, kadang juga ia berimajinasi bahwa ia adalah seorang agen rahasia yang tak bisa mati karena suatu virus yang dimasukkan kedalam tubuhnya, hal itu sempat membuat kami kewalahan karena ia mencoba mengoyak perutnya dengan kuku2nya. namun terkadang pula ia membayangkan ia sedang bersama teman2 baiknya, hal itu membuatnya tertawa tanpa henti. "

Tuan Lee menundukkan kepalanya.

"ini salah ku. .seharusnya aku tak sedemikian keras pada nya. . "

"penyesalan memang selalu terjadi dibelakang hari tuan Lee. .sekarang sebaiknya kita berdoa dan kami akan berusaha sebaik mungkin mengembalikan anak anda seperti dulu, meskipun saya tak yakin untuk berapa lama. . "

"lakukan yang terbaik untuk anak saya dokter. . " ujar tuan Lee menanggapi kalimat Hoya. Hoya hanya menganggukkan kepalanya. Ia juga sama sekali tak yakin dapat menyembuhkan kondisi pasien nya itu dengan mudah. Dalam kasus lain, hal seperti ini biasanya akan memakan waktu hingga bertahun tahun.

"saya akan berusaha. . " ujar nya menutup percakapan mereka.

.

.

xXx

.

.

Semilir angin menderu terdengar samar2 ditelinga Sungyeol. matanya yang terpejam membuka dan melihat langit yang dihiasi awan berarak. Wangi plum tercium jelas di indra penciuman nya. serta wangi rumput kering khas musim semi yang menggelitik rasa penasaran nya. pria tinggi itu beranjak bangun dan melihat kesekitar nya. sepanjang matanya memandang, hanya ada rerumputan berwarna kecokelatan dan ilalang hijau yang mulai menguning. Didepan nya mengalir sebuah sungai kecil yang jernih dengan ikan2 kecil berwarna merah berkejaran didalam nya. Sungyeol menatap takjub kesekitar nya. ia menyadari sedang duduk diatas sebuah kain beludru berwarna merah dengan hiasan sulaman bunga teratai ditengah nya.

"kau sudah bangun. . " suara itu terdengar lembut dan sangat familiar ditelinga nya. belum sempat ia membalikkan tubuhnya. Sepasang tangan yang terasa hangat memeluk nya dari belakang.

"Myungie. . "

Pria yang memang Kim Myung Soo itu mengecup pipi Sungyeol sekilas.

"kau suka? "

"kita dimana? " tanya sungyeol tanpa menjawab pertanyaan Myung Soo. Pria berambut hitam itu kembali mengecup pipi nya dengan lembut.

"kita di New Zealand, bukankah kau yang mengajak ku kesini? Apa kau lupa? Mungkinkah karena kau tertidur seharian kau jadi amnesia? "

Sungyeol mengerutkan kening nya. New Zealand? Ya ia ingat, tempat itu adalah tempat yang selalu ia ingin kunjungi saat melihat foto postcard dari teman facebook nya yang memperlihatkan suasana indah di padang rumput New Zealand.

"benarkah? Mungkin aku benar2 amnesia. . " lirih nya. myung Soo tertawa kecil. Ia melingkarkan tangan nya pada leher Sungyeol.

"kau suka? " tanya nya perlahan setengah berbisik. Sungyeol mengangguk.

"aku suka. .semilir angin nya sangat sejuk dan pemandangan disini persis seperti yang aku ingin lihat. . "

"seandainya kita bisa terus bersama melihat pemandangan ini. .mungkin akan lebih baik. . "

Mendengar kalimat bernada sendu itu membuat Sungyeol mengalihkan pandangan nya. tubuhnya hendak berbalik namun myung Soo seolah menahan gerakan nya hingga ia hanya bisa diam dalam posisi nya.

"Myungie. . " lirihnya. "kau tak perlu khawatir, ,kita bisa pindah kesini dan melihat pemandangan ini setiap hari. "

"seandainya. . " bisik Myung Soo lagi masih dengan nada penuh kesedihan. Sungyeol yang tak tahan mendengar nya berusaha meronta dan berhasil membalikkan tubuhnya.

"Myungie. .apa yang. .kau. . "

Mata pria tinggi itu menatap tak percaya pada apa yang ada didepan nya. saat itu bukan pemandangan indah new zealand yang ia lihat, melainkan sebuah jurang gelap dan hal yang paling membuat nya syok adalah saat itu Myung Soo tengah bergelantungan disebuah akar pohon yang menjulur kedalam jurang. Matanya berair dan kening nya dipenuhi darah yang berlepotan tanah basah.

"Yeollie. .gwenchana. .tutup matamu dan jangan melihat. . " ujarnya terbata bata. Sungyeol membekap mulutnya tak percaya. Ia kemudian berusaha menarik akar yang berjuntai itu dan berusaha menggapai tangan Myung Soo.

"hentikan! " sungyeol tertarik mundur oleh sepasang tangan yang menarik tubuhnya dengan kuat kebelakang.

"appa? " desisnya. air matanya mengalir deras. "Hyung. . " ucapnya lagi sambil menunjuk kearah jurang. Tuan Lee menatap beringas pada Sungyeol dan memberi tanda pada beberapa pria yang ada disamping nya. seseorang yang Sungyeol kenal dengan nama Park Hyun itu mengangguk. Ia mengambil sebatang kayu dan memukulkan nya kearah tangan Myung Soo dengan keras. Myung Soo melolong kesakitan. Sementara Sungyeol berteriak histeris.

"andwee! Appa! Jebal.! Ini salah ku! Aku yang menyukai Hyung. Dia hanya mengikuti kemauan ku! Lepaskan dia. Dia tak bersalah.! " teriaknya sambil meronta dari cengkraman tuan Lee. Pria paruh baya itu hanya membisu. Sungyeol menoleh pada pengasuh nya Gong Soo.

"eomma! Jebal. .katakan pada ayah untuk menolong Hyung. .eomma. . " Sungyeol menatap hancur pada wanita yang hanya diam itu. namun air mata Gong Soo mau tak mau meleleh juga. ia sangat menyayangi Sungyeol dan sudah menganggap Myung Soo sebagai anak nya sendiri. Namun ia sama sekali tak mampu berbuat apa apa. Ia hanya seorang pengasuh, dan bisa saja ia juga akan diperlakukan dengan sama seperti Myung Soo.

"mianhae Yeollie. .mungkin ini memang yang terbaik. . " desis nya. Sungyeol nyaris luruh dalam rengkuhan ayah nya. satu2nya orang yang ia harapkan bisa menolong Myung Soo malah tak bisa berbuat apa2.

"arkhhh! " teriakan Myung soo kembali terdengar menyayat hati. Sungyeol berontak lebih kuat. Kakinya menginjak kaki Tuan Lee dengan keras hingga pria itu berteriak kesakitan. Tenaganya melemah, saat itu Sungyeol meronta lagi dan berhasil lepas. Ia berlari dengan cepat kearah Park Hyun dan mendorong nya kesamping hingga jatuh.

"Hyung. .jebal. .raih tangan ku. . " parau nya. Myung Soo menyunggingkan senyum lemah. Ia menggelengkan kepala nya. jarak mereka yang cukup jauh membuat Myung Soo tak akan bisa meraih tangan Sungyeol. lagipula akar itu sudah tak mampu lagi menahan tubuhnya lebih lama, ditambah beban tubuhnya yang berat semakin memperburuk keadaan.

"gwenchana. .Hyung baik2 saja. .tutup saja mata mu yeollie. . "

Sungyeol menggelengkan kepala nya. air matanya membanjiri dengan deras. Hatinya hancur melihat kondisi Myung Soo yang sudah diambang kematian itu.

"jebal. .penuhi permintaan Hyung kali ini Yeollie. .sayang ku. . " lirih Myung Soo. Kali ini pria itu juga sudah tak mampu menahan air mata nya.

"hyung. . "

"yeollie. .sayang ku Lee Sungyeol. .jaga diri mu baik2 sayang. .tetaplah hidup dan berbahagia. .hapuslah kenangan kita. .lupakan nama Kim Myung Soo dalam ingatan mu. .dengan begitu, kau akan bisa melupakan semuanya. .dan bisa menjalani hidup mu. .sekali lagi. .tanpa aku. .berbahagialah sayang ku. .jangan pernah terlambat ke sekolah. Patuhi kata nyonya Gong. .dan jangan pernah melupakan PR mu. .kau bisakan sayang? "

Sungyeol menggeleng lagi. Ia ingin mengatakan isi hatinya. Hanya saja rasa sesak dalam dadanya membuatnya tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

"saranghae. .Lee Sungyeol. . " ucap Myung Soo lirih. Saat itu ia kehabisan tenaga nya dan genggaman nya pada akar pohon itu pun terlepas, membuat tubuhnya terhempas jatuh ke dasar jurang yang gelap diiringi teriakan putus asa dari Sungyeol. Myung Soo menutup matanya. Meski terasa menyakitkan, namun ia merasa cukup bahagia dengan memiliki kenangan2 bersama pria tinggi yang sangat disayangi nya itu. saat membuka matanya, ia melihat langit gelap dengan kerlipan bintang2 yang indah, dan menyiratkan wajah kedua orang tua nya. kedua orang yang seolah menyambutnya dalam kerinduan.

"appa. .eomma. .aku merindukan kalian. . "

.

.

xXx

sudah setahun sejak insiden itu. namun masih seperti baru kemarin. Dampaknya adalah Sungyeol yang kehilangan kewarasan nya. pria tampan itu sering berteriak ditengah malam dan Nyonya Gong harus menyuntikkan obat penenang yang diberikan dokter padanya. Semakin hari kondisi nya semakin memburuk, ia bahkan tak menyentuh makanan apapun selama tiga hari. Dan akhirnya terpaksa diberikan makanan cair malalui selang untuk membuatnya tetap hidup. Matanya menatap kosong seolah ia terperangkap dalam dunia nya sendiri. Sesekali ia tersenyum dan kemudian menangis histeris. Sesekali bibirnya menyanyikan lagu kesukaan Myung Soo sebelum kemudian kembali berteriak histeris. Begitu seterusnya hingga satu tahun berlalu, namun kondisi Sungyeol bukannya membaik malah semakin parah. Hingga akhirnya tuan Lee memutuskan untuk memasukkan Sungyeol ke Rumah Sakit Jiwa dengan harapan doter disana mampu mengobatinya. Namun hal itu sepertinya tak berarti sama sekali, Sungyeol semakin menjadi. Ia sering membenturkan kepalanya pada tembok, membuat tuan Lee membuatkan ruang khusus dengan dinding yang dilapisi busa tebal agar ia tak merasa sakit saat membenturkan kepalanya. Sesekali juga ia membiarkan teman baik nya Sunggyu datang menjenguk dan mengajak nya mengobrol dengan harapan Sungyeol akan sembuh. Namun tetap sia-sia. Yang ada dikepalanya hanya ada Myung Soo. Bayangan ketika mereka masih bersama. Bayangan ketika Sungyeol untuk pertama kali nya mencium pemuda itu dengan berani. Atau bayangan saat pertama kalinya Myung Soo dengan nekad menyentuh tubuh nya. bayangan saat untuk pertama kalinya Sungyeol menyerahkan tubuhnya pada pria itu. bayangan wajah manis Myung Soo saat mereka memasak ramen bersama. Saat ia menumpahkan ice cream dibaju Sungyeol dan pria itu harus membujuknya seharian. Hingga bayangan saat Myung Soo menyuapinya dengan bubur saat ia sakit. Saat Myung Soo memeluknya dengan erat saat ia demam tinggi. Bayangan saat Myung Soo memukuli murid2 sekolah lain yang mengganggunya. Ia juga masih bisa mengingat dengan jelas ketika Myung Soo mengajak nya ke bioskop untuk pertama kalinya. Saat pertama kali ia mengunjungi ibu Sunggyu yang sakit typus. Sungyeol bahkan masih bisa mengingat dengan jelas wajah tersenyum myung Soo saat bermain dengan seorang anak pengidap kanker dirumah sakit itu. entah apa yang ia lakukan hingga berhasil membuat anak itu memakan obat nya dan mau mengikuti kemoterapi. Wajah sendu dan lembut itu seolah memikat siapapun yang melihat nya. Sungyeol juga mengingat saat ia dan Myung Soo bertanding diarena Paintball dan berhasil mengalahkan Sunggyu dan Woo Hyun saat itu. Woo Hyun bahkan sampai berlumuran cat karena terlalu banyak terkena. Hingga akhirnya bayangan wajah putus asa Myung Soo berkelebat diingatan nya, dan membuatnya kembali menangis sejadi jadi nya. wajah putus asa itu seolah mencengkram kuat2 kepalanya. Membuatnya menangis tanpa henti. Wajah memelas itu seolah berkata ia akan baik2 saja, membuat Sungyeol semakin merasa berdosa.

"arghhhhhh! "

Kang San dan Ji Kwang melompat dari tempat duduk nya. mereka saling pandang satu sama lain.

"aku nyaris terkena serangan jantung. . " ujar Ji Kwang dengan nada gemetar. Ini pertama kali nya ia mendengar pasien 301 atau Sungyeol itu berteriak sangat keras. Kang San menghela nafasnya. Kejadian seperti itu sudah biasa ia dengar, jadi ia dapat dengan segera menetralisir keterkejutan nya.

"kau akan terbiasa. . " ujar nya. Ji Kwang mengangguk2. Ia kembali duduk dan menyesap kopi nya yang mulai dingin. saat itu terdengar derak brankar yang didorong dengan perlahan. Suara besi tua yang berderit membuat dua pria itu mengerut tegang. Dari lorong yang gelap mereka melihat seorang pria memakai seragam perawat namun memakai masker mendekat kearah mereka.

"ahjussi. . " ujar pria misterius itu.

"nde? " jawab Kang San masih diliputi perasaan aneh nya.

"aku utusan dari rumah sakit Hanjin untuk penambahan penjaga malam disini. "

"oh. .begitu. .oya, kenalkan aku perawat Kang dan ini perawat Ji kwang. . "

Sambut Kang San sambil memperkenalkan diri nya dan Ji Kwang.

"nama saya Nam San. Senang bertemu dengan para senior. Saya mohon bantuan nya. " ujar pria bernama Nam San itu sambil membungkuk hormat.

"ah ye. Senang berkenalan dengan mu juga. lalu. Untuk apa brankar ini ? "

"ah ini. Aku bertemu dengan perawat di koridor depan dan mereka meminta ku untuk mengembalikan ini. Aku dengar brankar ini adalah brankar yang mereka gunakan untuk membawa mayat tuan Han Kyung yang meninggal tadi sore. "

Kang San menganggukkan kepalanya seolah membenarkan pernyatan Nam San.

"oh ia. Aku juga tadi melewati kedai kopi, jadi aku membawakan nya sekalian untuk kalian berdua. . " ujar Nam San lagi sambil mengambil bungkusan yang ada diatas brankar dan menyerahkan nya pada Ji Kwang. Kedua pria itu tersenyum senang sambil mengucapkan terimakasih.

"baiklah. .saya harus mengembalikan Brankar ini terlebih dahulu. . "

"ah ya. .ruangan brankar ada di sebelah ruang 301. "

Nam San mengangguk dan melangkah menuju kearah ruangan 301. Setelah menemukan ruangan 301, ia bukannya melangkah terus namun mengeluarkan sebuah kunci. Dengan tenang ia memasukkan kunci itu dan membuka pintunya. Nam San bergerak perlahan mendorong brankar nya memasuki ruang 301. Disana ia melihat Sungyeol duduk diujung ranjang sambil memeluk lutut nya.

Nam San bergerak perlahan mendekati pria itu. tangan nya mengusap pelan rambut tak terawat Sungyeol. Sungyeol sama sekali tak menunjukkan pergerakan nya.

"yeollie. . "

Bukan karena nama nya disebut melainkan suara itu. suara yang sangat familiar ditelinga Sungyeol itu membuatnya mendongak dengan cepat.

"siapa kau? " tanyanya dengan parau. Nam San membuka masker nya.

"kau. . "

Tanpa menunggu lagi Nam san memeluk Sungyeol yang masih tak percaya dengan penglihatan nya. butuh waktu beberapa menit hingga akhirnya Sungyeol membalas pelukan pria itu.

"apakah kau nyata. .? " desisnya. Nam San mengangguk.

"ya. ini aku yeollie. .Myung Soo. .Kim Myung Soo. "

Bulir bulir bening luruh dari kedua mata Sungyeol. ia membalas pelukan Myung Soo semakin erat. Didorong rasa rindu nya yang teramat kuat, Sungyeol tanpa basa basi mencium bibir Myung Soo. Rasa mint yang selalu ia rindukan itu semakin meyakinkan ia bahwa pria didepan nya benar2 pria yang ia duga tewas setahun lalu.

"kita harus keluar dari sini Yeollie. .naiklah keatas brankar. . " ujar Myung Soo sambil mengecup kening Sungyeol. pria tinggi itu mengangguk. Sungyeol kemudian menaiki brankar dan berbaring diatasnya. Myung Soo melingkupi tubuh sungyeol dengan kain polos dan mendorong nya keluar dengan tenang. Saat melintasi koridor ia masih sempat melihat dua perawat tadi yang tertidur pulas karena obat yang sudah dimasukkan nya kedalam kopi.

Myung Soo terus mendorong brankar dan melewati beberapa perawat yang berjaga di bangsal lain. teriakan2 serta rintihan terdengar menyayat hati. Hingga akhirnya mereka berhasil keluar dengan selamat. Myung Soo melambaikan tangannya pada mobil ambulance didepan nya. mobil itu bergerak mundur perlahan dan dari dalam nya keluar Sunggyu yang juga mengenakan seragam perawat. Mereka mengangkat dan mendorong brankar kedalam mobil.

"Woo. .jalan kan mobilnya. . " ucap Sunggyu ketika mereka sudah berada didalam. Sungyeol yang mengetahui hal itu membuka kain nya dan langsung memeluk Myung Soo yang dibalas dengan pelukan erat dari pria itu.

"aku merindukan mu Myungie. . " isaknya. Myung Soo mengangguk haru. Ia juga sangat merindukan pria yang sangat disayangi nya itu. Sunggyu yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum lega sambil meremas lembut pundak Woo Hyun. Dan roda mobil perlahan bergerak membelah keheningan malam. Melangkah kedalam sesuatu yang bisa dikatakan bahaya. Namun cinta tak mengenal bahaya bukan? Hanya mengenal kata. Kau dan aku.

.

.

TBC-

Hayo. .mau end atau lanjut? :D

Maaf ya readers kalau kelamaan, ane banyak masalah kemaren, dan maunya chapter ini ane buat sampe tamat. Tapi karena kayanya udah kelamaan, jadi author setor aja dulu sampe sini. ^_^ maaf yak -_-

Okeh, sampai jumpa di chapter depan. ^_^