Hai reader, ketemu lagi dengan saya :v saya bawa ending FF Secret. Awalnya udah kehabisan ide dan gak niat buat ending nya, Cuma ada yang menyadarkan ane bahwa FF yang gantung lebih menyakitkan dibanding Bad Ending ^_^ ( Thanks For that people ) ane juga gak yakin reader masih inget atau kagak awal cerita ini, :D jadi silahkan dibaca jika suka, kalau tidak lewati saja juga boleh :D
Maaf kalau ada typo atau kesalahan penulisan kalimat ^_^ Saya hanya manusia biasa :v
Happy Reading dan tolong tinggalkan jejak kalian :D
SECRET
Genre : Romance,Action
Boys x Boys
Cast : Infinite
R&R
Happy reading,readers ^_^
xXx
.
.
Sungyeol membuka matanya. Kepalanya yang berdenyut nyeri membuat nya meringis. Pemandangan sekitar yang sangat asing bagi nya membuat pria tinggi yang masih mengenakan seragam pasien RSJ itu mengerutkan kening nya. ia sedang berada diruangan yang cukup kecil, sekitar 3x4 meter dengan warna cokelat tua dan disertai bau kayu mahoni yang khas. Kamar itu terkesan sederhana dengan beberapa prabot yang sederhana pula, hanya ada sebuah ranjang kusam yang sedang ia duduki sekarang, dan sebuah meja kecil dengan cermin seukuran separuh badan yang ada disudut ruangan. Diatas meja itu terdapat sebuah vas bunga dengan beberapa krisan putih yang mulai layu dan sebuah lilin. Sungyeol menuruni ranjang dan menuju jendela kecil yang ada disana. Dengan tolakan halus ia membuka jendela tanpa teralis itu, angin sejuk langsung menyergap nya dalam kesejukan. Semilir dingin nya menyibak rambut pria itu. sepanjang matanya memandang hanya ada pepohonan pinus dan beberapa pohon mahoni yang mulai menua. Warna hijau mendominasi sepanjang penglihatan nya. beberapa burung kecil berkicau menyambut nya. dan beberapa rakun bercicitan diatas pepohonan saling berebut kenari yang menua. Beberapa tupai juga mulai beranjak menampakkan wujud nya. keheningan yang menyergap dan rasa sunyi membelenggu Sungyeol dalam alam khayal nya. suasana yang terlampau sunyi itu menusuk nya. membenamkan nalurinya dalam kebimbangan. Sejenak kemudian ia mengerang lirih. Tangannya menjambak rambutnya sendiri.
"mengapa tak berhenti juga! ilusi sialan! " teriaknya. Suaranya mengaung diantara keheningan yang semakin menggigit. Sungyeol menggigit tangan nya sendiri. Merasakan perih dari luka lama yang terdapat disana. Matanya berair dan tubuhnya perlahan mulai menggigil. Spontan sebuah sosok terbayang dimata nya. Kim Myung Soo.
"myungie. .myungie. .kau dimana? " erang nya. tangan nya bergerak kasar memukuli wajah nya sendiri.
"arghhhhh! " teriaknya histeris sambil mengadu kepala nya dengan dinding kayu yang keras. Benturan kepala nya terdengar sangat mengerikan seolah kepala itu akan rengkah karena nya.
"yeollie. .apa yang kau lakukan? " suara itu berseru dengan penuh khawatir dari belakang. Sungyeol mengangkat kepala nya. ia melihat Myung Soo tengah berdiri disana dengan roman khawatir. Sungyeol tertawa kecil.
"sudah cukup. . "ujar nya. Sungyeol kembali mengantukkan kepala nya pda dinding disebelah nya. Myung Soo dengan segera menarik tangan pria itu menjauh.
"apa yang kau lakukan yeollie. .kau bisa mati! " teriak nya. Sungyeol kembali tertawa kecil. Ia mengusap wajah Myung Soo dengan pandangan geli.
"mengapa ilusi bodoh seperti mu tak pernah bisa hilang? Mengapa kau selalu datang pada ku, dan semakin menyakiti ku? " lirih Sungyeol. nada histeris nya menghilang berganti dengan isakan kecil. Air matanya mulai luruh. Myung Soo memeluk nya.
"aku bukan ilusi. .aku Myung Soo. .Myungie mu Yeollie. . " ucap nya penuh haru. Sungyeol mendorong nya menjauh.
"kau kira bisa membodohi ku kali ini ha? Dasar ilusi payah. "
Myung Soo menarik Sungyeol dengan cepat. Pria bermata dingin itu menempelkan bibirnya dengan kilat. Mengulum bibir Sungyeol hingga membuat pria itu membeku. Ia menatap Myung Soo dengan tatapan tak percaya. Myung Soo mengambil tangan Sungyeol dan menempelkan nya pada pipi nya.
"katakan pada ku sayang. .apa aku hanya ilusi? " ucap nya sendu. Sungyeol melepaskan tangan nya. jari jemari nya menyusuri wajah Myung Soo dari lekuk pipi hingga bibir nya.
"kau. .myungie. . " ujar nya terbata. Myung Soo hanya bisa mengangguk haru.
"kau. .Myung Soo? Benar2 myungie ku? " tanya Sungyeol lagi. Myung Soo mengangguk dengan lebih tegas. Ia memeluk pria itu dengan erat.
"ahh. .ukh. .kemana saja? kau kemana saja? " tanya Sungyeol dengan isak tangis nya yang semakin menjadi. Myung Soo mengecup kepala Sungyeol berkali kali.
"mianhae Yeollie. .aku terlalu lama. .maaf membuat mu menunggu terlalu lama. . " ujar nya.
Ucapan itu semakin menambah rasa sesak dan haru dalam diri Sungyeol. kerinduan selama setahun lebih ini membuncah tanpa dapat ia tahan lagi. Mereka terlarut dalam elegi pagi yang semakin menyurut, bahkan tak mampu lagi menyadari beberapa pasang mata yang menatap pemandangan itu dengan haru.
.
.
xXx
ke enam pria itu mengelilingi meja besar yang terdapat ditengah ruangan. Sungyeol mengenal dua orang didepan nya, Sunggyu dan Woohyun, namun tidak dengan dua orang lain nya. seorang pria dengan kumis memutih dan keriput yang sudah menghiasi wajah tua nya. namun tak bisa menyembunyikan sisa ketampanan dan ketangguhan nya dimasa muda. Wajah nya senantiasa dihiasi senyum ramah yang menyenangkan bagi Sungyeol. sementara satu orang lagi seorang pria muda seusia dengan nya, pria yang memiliki kulit putih bersih, dengan mata lebar yang indah dan wajah yang tampan untuk kalangan pria, namun bisa juga dikatakan cantik dengan kemulusan wajah nya. tatapan matanya penuh kelembutan dan sorot percaya diri yang besar. Rambutnya hitam lurus dengan sentuhan harajuku dibeberapa bagian. Tubuhnya kurus dan nyaris setara dengan Sungyeol. Sungyeol bahkan harus mengakui bahwa pria muda itu akan mampu meluluhkan hati siapapun yang melihat nya dalam sekali pandang.
"emhh. .ini tuan Choi Dhal Po, dia adalah orang yang menyelamatkan ku saat aku terjatuh dari jurang itu. dan ini cucu nya, Lee Sungjong, dia yang merawatku selama aku tak sadarkan diri dan saat dalam proses penyembuhan. . " ujar Myung Soo memulai karena ia tau ke 3 orang lain nya tak mengenali kedua pria itu.
"senang bertemu dengan anda tuan Choi. .dan Sungjong. . " ujar Sunggyu yang diikuti dengan tundukan kepala Sungyeol dan Woohyun.
"jangan terlalu formal. .kami sudah menganggap Myung Soo keluarga kami, jadi kalian bertiga adalah keluarga kami juga, atau lebih tepat disebut cucu2 ku juga. " ujar tuan Choi sambil tertawa menimpali sikap hormat Sunggyu. "baiklah, mari kita nikmati sarapan nya, maaf hanya ini yang bisa kami sajikan. " ucap tuan Choi lagi dengan kerendahan hati nya. Sungjong dengan sigap menyendokkan sup kedalam mangkuk kakek nya dan entah sengaja atau memang sudah terbiasa, ia juga menyendokkan sup kedalam mangkuk Myung Soo.
"jangan terlalu merepotkan diri mu Jongie. . " ucap Myung Soo lembut. Sungjong tersenyum manis. "aniyo. .ini kan sudah kebiasaan ku. . " ujar nya tanpa menyadari tatapan dingin dari Sungyeol menatap adegan itu. Myung Soo yang menangkap perubahan ekspresi Sungyeol menarik mangkuk Sungyeol dan menuangkan sup kedalam mangkuk nya.
"makan yang banyak Yeollie. .agar kau cepat sehat. Masakan Sungjong sangat enak, kau pasti menyukai nya. " ucap Myung Soo yang diangguki tipis oleh Sungyeol.
"kalau aku boleh tau. .bagaimana kau bisa selamat dari kejadian itu? " tanya Woohyun setelah beberapa saat mereka saling sibuk dengan makanan didepan mereka. Myung Soo menghentikan aksinya yang sedang menyuapi Sungyeol dengan sup nya dan menatap pada Woohyun. Myung Soo menghela nafas nya berat.
"saat terjatuh dari jurang itu, kukira aku akan mati. Ternyata aku masih beruntung, dibawah ku ternyata ada sebuah sungai dan aku jatuh kedalam nya. dan Sungjong menemukan ku diantara bebatuan sungai. "
"saat itu kondisi nya sangat mengenaskan, tangan nya patah, tulang kakinya retak dan kepalanya mengalami pendarahan serius. Beberapa organ dalam nya juga mengalami luka, mungkin akibat ia menghantan batang pepohan sebelum jatuh kedalam air. Ia tak sadarkan diri selama satu minggu Dan juga, ia mengalami amnesia selama 3 bulan. " ujar Tuan Choi melanjutkan penjelasan Myung Soo. Semua yang mendengar nya bergidik ngeri. Kalau bukan Myung Soo orang nya, mungkin saja orang itu sudah tewas saat itu juga dengan luka separah itu. tak terkecuali sungyeol yang memberikan tatapan penuh sesal yang dibalas dengan bisikan baik2 saja dari Myung Soo.
"dan kalian tau? Selama satu minggu tak sadarkan diri, ia selalu mengigau dan menyebut nama Sungyeol. " tambah tuan Choi membuat Myung Soo merona malu.
"harabuji, seharusnya bagian itu dihapus saja. . " ujar nya malu. Sungyeol menatap Myung Soo dengan perasaan takjub. "benarkah? " tanya nya. myung Soo berdecak kecil. Ia akhirnya mengangguk dengan lugu dan wajah memerah. Sungyeol tersenyum penuh haru. Ia mengecup kilat pipi Myung Soo tanpa canggung didepan orang lain. hal itu membuat Myung Soo terkejut dan membuat Woogyu dan tuan Choi tertawa terbahak bahak karena melihat rona merah dadu yang terlihat jelas diwajah Myung Soo. Berbeda dengan Sungjong yang hanya tersenyum penuh arti.
"setelah satu tahun menghilang, aku kaget sekali ketika tiba2 ia muncul didepan pintu rumah ku. Aku kira aku melihat hantu, namun setelah mendengar penjelasan singkat darinya aku menjadi mengerti. Dan akhirnya kami menyusun rencana untuk membawa mu lari. " kini Sunggyu yang mengeluarkan kalimat nya.
"gomawo Gyu. .Woo. .kalau tanpa kalian, aku masih akan berada didalam sel itu. " ujar Sungyeol yang diangguki Woohyun dan Sunggyu. Dan kemudian percakapan beralih pada kecapan demi kecapan makan malam yg terasa lebih nikmat dari sebelum nya.
.
.
xXx
Plakkkk!
Myung Soo terhuyung kebelakang ketika pukulan Sungyeol yang cukup keras menghantam wajah nya. ini sudah ketiga kali nya sejak hari pertama Sungyeol tiba di tempat itu. dan Myung Soo yang menyadari bahwa kejiwaan pria tinggi itu sama sekali belum pulih total hanya bisa memandang dengan perasaan haru, memeluk nya dalam pelukan nya meski ia terkadang harus merelakan pipi atau dagu nya berdarah akibat cakaran Sungyeol yang meronta ronta hebat. Perilaku itu selalu Sungyeol tampakkan saat pagi sudah menjelang, saat ia membuka matanya dan tak melihat Myung soo disamping nya ia akan berubah menjadi beringas dan menghancurkan apapun yang ada didekatnya. Awalnya Myung Soo mengira dengan ia tidur menemani Sungyeol hingga pagi, pria itu tidak akan histeris lagi, nyata nya tidak. Ia masih saja meronta meskipun wajah yang pertama ia temukan adalah wajah terlelap Myung Soo. Yang ada ia malah menganggap Myung Soo adalah ilusi seperti hari pertama nya. biasanya ia hanya akan tersadar ketika melihat darah yang mengalir dari bibir Myung Soo, atau wajah sendu pria itu yang terus memeluknya dengan erat. Hal tak terduga seperti itulah yang memaksa Sunggyu dan Woo Hyun terpaksa menginap selama seminggu untuk membantu memulihkan kondisi Sungyeol. dan beruntung nya tuan Choi sang pemilik rumah cukup mengerti akan obat2an yang bisa membantu terapi pemulihan seseorang meskipun ia tak bisa menjanjikan akan berdampak baik dalam waktu dekat namun pria tua itu dengan senang hati mengolah ramuan obat untuk Sungyeol setiap hari nya. sementara Sungjong hanya bisa membisu, diam, dan terkadang melangkah pergi dengan wajah kesal.
Seminggu sudah berlalu, namun kondisi Sungyeol sama sekali tak ada perubahan, trauma yang ia alami seperti nya sangat berat dan tak bisa disembuhkan dengan mudah. Tuan Choi sudah mengusulkan untuk membawa Sungyeol ke seorang psikolog di kota, namun rasa ketakutan Myung Soo akan tuan Lee yang bisa saja menemukan mereka saat berada dikota membuat Myung Soo dengan tegas menolak ide itu. ia dengan yakin mengatakan bahwa ia akan menyembuhkan Sungyeol dengan cara nya sendiri.
.
.
Sungyeol merebahkan tubuh nya pada balai-balai sedang dibelakang rumah. Pemandangan hijau yang terlihat menawan disana membuat Sungyeol tertarik untuk sekedar merebahkan diri dan memandangi nya. sementara Myung Soo sudah pergi sejak tadi mengantar Woo Hyun dan Sunggyu kembali kekota karena rute yang sulit membuat kedua pria itu merasa tak yakin jika mereka dapat keluar dengan selamat jika hanya berdua. Sungyeol tersenyum kecil, yah, jika menilik sikap cerewet Gyu yang seperti itu, akan bahaya jika mereka mengalami mogok atau slip ban selama dalam perjalanan, pria bermata sipit itu bukan membantu melainkan hanya akan mengeluarkan keluhan panjang lebar dan Woo Hyun lah pria yg akan dengan sabar nya mendengar omelan yang lebih mirip curahan hati itu.
Selagi Sungyeol termangu dalam bayangan2 konyol nya, Sungjong tiba2 sudah berdiri disamping nya. Sungyeol bahkan nyaris terjatuh karena ia terkejut melihat kehadiran pria itu.
"kau mengejutkan ku Sungjong. " ujar Sungyeol sambil membenarkan letak duduk nya. sementara Sungjong hanya mendengus kecil tanpa bisa dimengerti apa maksud nya.
"jadi kau orang nya? " ucap Sungjong perlahan namun cukup jelas ditelinga Sungyeol.
"apa yang sedang kau bicarakan? " tanya Sungyeol. Sungjong mendengus lagi, dan kali ini hal itu cukup membuat Sungyeol merasa kesal. Ia merasa pria didepan nya itu seperti hendak mendorong nya jatuh sampai mati dengan sikap sombong nya.
"aku hanya tak mengira, org yang diperjuangkan oleh Myung Soo hingga sedemikian menyakitkan hanya orang seperti mu. "
"Mwo? " Sungyeol bangkit dari duduk nya. ia merenggut kerah baju sungjong dan menatapnya dengan geram. "katakan sekali lagi. " ujar Sungyeol dengan nada geram.
"jangan berpura-pura tuli Lee Sungyeol, aku yakin meskipun kau gila, kau masih bisa mendengar dengan jelas. " balas sungjong tanpa ampun. Sungyeol berteriak garang. Ia mendorong tubuh Sungjong hingga terjerembab ke tanah. Pria berwajah manis itu menyeringai kecil sambil berusaha kembali berdiri.
"kenapa? Kau tersinggung? Apakah aku salah mengatakan kau gila? Kau sama sekali tak pantas mendapat perhatian sedemikian besar dari Myung Soo.! Dia perluu seseorang yang normal! Yg bisa menyanyangi nya tanpa menyakiti nya sedikitpun. Dan itu bukan kau! Itu aku! Seharusnya Myung Soo menjadi milikku! Dan seharusnya kau mati saja! "
Plakkk!
Sebuah tamparan melayang dengan keras menghantam wajah Sungjong hingga membuat pipi putih pria itu memerah.
"kau berani memukul ku? Kau kira diri mu siapa? " bentak Sungjong sambil berusaha memukulkan tinjunya pada wajah Sungyeol. namun Sungyeol yang semasa kecil dibekali pendidikan bela diri dasar dapat menghindari serangan langsung itu dengan mudah. Tinju Sungjong lolos dan Sungyeol menarik dengan cepat lengan atas Sungjong hingga pria itu tertarik kedepan, dan dengan gerakan cepat Sungyeol menghantamkan lutut nya pada perut pria itu.
Bughh!
"ughh" Sunjong tersedak dengan perut melilit. Rasa sakit melingkupi perut nya hingga membuat ia nyaris muntah dan terjerembab kebelakang. Melihat itu Sungyeol yang sudah termakan amarah nya mendekati Sungjong dan menarik kerah pria itu hingga terangkat keatas. Ia mengepalkan tinju nya.
"hentikan Yeollie! " teriakn keras itu menghentikan gerakan Sungyeol. Sungyeol mengeram marah. Didepan nya Myung Soo sudah berdiri dengan wajah kaku. Ia mendekat dan menarik tangan Sungyeol hingga melepaskan cengkraman nya pada kerah Sungjong.
"gwenchana? " tanya nya pada Sungjong yang masih memegangi perut nya.
"Hyung. .ia menendang perut ku. Rasanya sakit sekali dan aku tak sanggup berdiri" ucap nya terbata bata. Myung Soo menatap Sungyeol dengan tatapan kecewa. Dengan susah payah ia menaikkan Sungjong keatas papahan nya.
"Myungie. .aku. . "
"hentikan Yeollie. . " potong Myung Soo. Sungyeol menunduk pilu.
"aku kecewa pada mu Yeollie. . " ujar Myung Soo sambil kemudian berlalu memapah Sungjong masuk kedalam meninggalkan Sungyeol yang hanya bisa terpaku melihat pemandangan itu dengan mata basah.
.
.
"apa yang terjadi? " tanya Myung Soo lembut sambil menaikkan Sungjong keatas ranjang. Ia menyingkap kemeja Sungjong dan melihat bekas biru di atas pusar nya.
"aku tak tau. Awal nya aku menyapa nya, dan ia tiba2 berteriak dan mengatakan aku adalah org suruhan ayah nya. ia menggila, menyerangku dengan membabi buta. Aku berusaha menenangkan diri nya tapi malah begini. . "
Myung Soo menatap wajah Sungjong yang menahan nyeri dengan pandangan menyesal.
"mianhae. . " lirih nya.
Sungjong meringis kecil. " tak apa Hyung. .jangan sedih seperti itu. .aku baik2 saja. "
Myung Soo menganggukkan kepala nya.
"aku akan mengambil kompres. " ujar nya yang diangguki Sungjong.
.
.
Myung Soo mendesah bingung melihat Sungyeol yang duduk menyendiri dibelakang rumah. Tuan Choi ternyata pergi sejak tadi dan belum kembali. Ia mengusap leher nya dan mendekati pria tinggi itu.
"kau harus meminta maaf pada nya Yeollie. . " ujar Myung Soo. Sungyeol mengalihkan pandangan nya kebelakang.
"aku tak melakukan kesalahan apapun. . " lirih nya. Myung Soo masih bisa melihat sisa air mata yang mengalir diwajah pria tampan itu. ia mendekat dan memeluk Sungyeol dari belakang.
"mian. .aku meninggalkan mu tadi. .aku tak menyangka kau akan lepas kontrol saat itu. " ujar nya lembut. Namun kalimat itu seolah berubah bagai jarum panas yang menyengat telinga Sungyeol. ia melepaskan tangan Myung Soo dari nya dan bergerak menjauh.
"jadi kau ingin mengatakan aku orang gila yang lepas kendali dan menyerang nya begitu? "
"ani. Bukan begitu Yeollie. .hanya saja kau tau Sungjong dan kakek nya sudah sangat banyak membantu kita. .jadi aku pikir. .tidak baik jika kita membiarkan masalah ini. .kita harus meminta maaf pada nya Yeollie. . "
Sungyeol membisu. Matanya yang kembali membasah menatap gelapnya malam di kejauhan, ia bahkan tak pernah membayangkan seseorang yang sangat ia cintai itu tak bisa mempercayai nya, kenapa? Hanya karena ia memiliki gangguan mental ? lantas dengan mudah Myung Soo menyalahkan nya begitu saja.
"Yeollie. . " lirih Myung soo sambil kembali melayangkan pelukan nya pada tubuh Sungyeol.
"aku mencintai mu sayang. .sangat dan sangat mencintai mu. .jangan pernah berfikir hal yang buruk. .baiklah aku mempercayai mu, namun tak ada salah nya jika pihak kita yang meminta maaf terlebih dahulu bukan? Ayolah sayang. .mana Yeollie ku yang dulu selalu periang dan selalu memaafkn dengan tulus.? "
"baiklah. . " ujar Sungyeol akhirnya. Hatinya memang tak bisa mengakui semudah itu, namun ia tak ingin memperparah keadaan nya dengan Myung Soo.
"aku akan meminta maaf padanya jika itu mau mu. . " lanjut Sungyeol lagi.
"nah. .ini baru kekasih ku. . " ujar Myung Soo menimpali. Ia memutar tubuh Sungyeol hingga berhadapan dengan nya. tanpa aba2 Myung Soo melayang kan ciuman kearah bibir Sungyeol membuat pria tinggi itu sedikit tersentak namun kemudian membiarkan Myung Soo melakukan hal agresif pada bibirnya dan membalas dengan lumatan2 kecil sebisanya. Namun dibalik kebahagiaan itu seseorang dengan tatapan tajam menatap kearah mereka berdua, seorang pria dengan gigi gemeletuk menahan rasa sakit hatinya. Sungjong.
.
.
xXx
"aku minta maaf sudah melukai mu. . " ucap Sungyeol tulus ketika bertemu dengan Sungjong diruang tengah dimana pria itu sering duduk disana untuk membaca.
Sungjong hanya menyeringai tipis dengan ekspresi muak. Ia kemudian melanjutkan bacaan nya tanpa sedikitpun niat membalas ucapan maaf dari Sungyeol. melihat hal itu Sungyeol hanya bisa menahan emosi nya, ia kemudian berbalik hendak meninggalkan pria itu.
"asal kau tau. .aku tak akan pernah menarik kata kata ku. .suatu saat Myung Soo akan memilih ku dan membuang mu. . "
Sungyeol mengepalkan tangan nya. sebisa mungkin ia berusaha untuk tidak jatuh pada pancingan Sungjong. Ia berbalik dan tersenyum tipis pada pria itu.
"coba saja. .tapi kusarankan sebaiknya kau menyerah karena kau tak akan mampu. . "
Kalimat balasan yang tak terduga dari Sungyeol itu membuat Sungjong membeliak marah. Ia melemparkan buku ditangan nya hingga mengenai kepala Sungyeol dengan tepat, tapi hal itu tak membuat Sungyeol meringis sedikit pun melainkan semakin tersenyum lebar penuh kemenangan.
"selamat malam Sungjong. . " ujar nya sambil berlalu. Sungjong yang melihat pria itu menjauh kehilangan kesabaran nya, ia melihat teko keramin berisi kopi panas didalam nya, tanpa ragu ia meraih teko itu dan menumpahkan isi nya keatas tangan nya sendiri.
"akhhhhh! " teriaknya penuh rasa sakit. Suara gaduh terdengar dari dalam ruangan, mendengar hal itu Sungjong semakin bersemangat, ia menubrukkan kepala nya kearah dinding hingga membuat pelipis nya memar. Belum cukup ia memapas vas bunga dimeja nya hingga vas bunga itu jatuh dan pecah.
Beberapa detik kemudian tuan Choi masuk diikuti dengan Myung Soo.
"apa yang terjadi Jongie? " tanya tuan Choi khawatir, begitu pula dengan Myung Soo yang dengan segera mendekat kearah Sungjong.
"Hyung. .sakit. . " lirih nya sambil menunjukkan tangan kanan nya yang melepuh.
"siapa yang melakukan ini pada mu? " tanya Myung Soo gusar sambil menatap pada memar di pelipis Sungjong dan tangan kanan nya yang melepuh seperti udang rebus.
"Sungyeol. . ia tiba2 datang dan menyerang ku, katanya aku menyebabkan kau memarahi nya. . "
Myung Soo serta merta mendelik tak percaya. Dengan gusar pria berwajah dingin itu berdiri dan bergerak menuju ruangan Sungyeol dengan cepat. Ia membuka pintu kamar Sungyeol dan tak menemukan pria itu. matanya yang tajam melihat pintu belakang yang sedikit terbuka, dengan setengah berlari ia menuju kearah sana. Matanya yang tajam melihat kearah sekitar dan menemukan pria itu sedang berdiri didekat pohon pinus tak jauh dari rumah.
"Myungie. .kau belum tidur? " ujar Sungyeol ketika melihat Myung Soo mendekat kearah nya.
"mengapa kau melakukan itu? " kata Myung Soo tanpa basa basi.
"wae? apa yang kulakukan Myungie? " tanya Sungyeol tanpa sedikitpun mengerti arah pembicaraan pemuda itu.
"kau masih mengelak Yeollie? Aku kecewa pada mu! Sekarang ikut aku. Kau harus menjelaskan perbuatan mu dan meminta maaf pada Sungjong! " ujar Myung Soo dengan gusar. Ia menarik pergelangan tangan Sungyeol dengan kasar, genggaman nya yang kuat bahkan membuat Sungyeol meringis kesakitan.
"lepaskan aku ! apa yang kau katakan? Kesalahan apalagi yang aku perbuat? " ucap Sungyeol berusaha meronta dari paksaan Myung Soo.
Rontaan dari Sungyeol sama sekali tak digubris oleh Myung Soo. Ia terus memaksa pria itu untuk mengikuti nya dengan sedikit menyeret nya masuk kedalam.
"lepaskan aku Myungie! Kau menyakiti ku! " teriak Sungyeol. Myung Soo menghentikan langkah nya ketika mereka tiba diruang tengah dimana tuan Choi sedang sibuk mengompres tangan Sungjong dengan es batu.
"lalu mengapa kau melakukan hal itu pada Sungjong? " tanya Myung Soo. Sungyeol menoleh kearah Sungjong yang menundukkan wajah nya. sungyeol bisa melihat air mata mengalir dari pemuda itu.
"wae? apa yang kulakukan? Aku tak melakukan apapun. " jawab Sungyeol terbata bata.
"Yeollie! Jangan membuat kesabaran ku habis! Sekarang minta maaf pada nya! " seru Myung Soo keras hingga mengejutkan Sungyeol. pria yang ia kenal itu tak pernah sedemikian kasar nya pada nya.
"tapi aku benar2 tak tau apa yang terjadi Myungie. . " lirih Sungyeol.
"jangan dipaksa Hyung. .kalau Sungyeol tak meminta maaf tak jadi masalah. .kita semua tau dia masih dalam tahap penyembuhan. Harusnya kita bisa memahami hal itu. "
"mwo? Apa maksud perkataan mu itu Sungjong? " potong Sungyeol dengan nada gusar.
"ya. .kita mengerti kalau kondisi mu kejiwaan mu masih labil Sungyeol. .jadi, tak masalah jika kau menyakiti ku, mungkin emosi mu sedang tak terkendali. " ujar Sungjong lagi.
Sungyeol membeliak marah. Ia melepaskan tangan Myung Soo dan mendekat dengan cepat kearah Sungjong. Gerakan itu dihalangi oleh tuan Choi dengan sigap pria paruh baya itu menahan tubuh Sungyeol agar tak dengan gusar menyerang cucunya.
"kau ingin mengatakan aku orang gila yang menyerang mu tanpa alasan begitu? Mulut mu seperti ular Sungjong! Kau bukan manusia melainkan iblis! " teriak Sungyeol kehabisan kesabaran nya. ia meronta dengan kuat hingga tuan Choi kewalahan menahan nya. saat itu Myung Soo mendekat dan ikut menahan tubuh Sungyeol yang berontak.
"Hentiakan Yeollie! " seru nya.
"dia yang gila Myungie! Dia ingin merebut mu dari ku dan mengarang semua nya! lepaskan aku! Aku harus memukul mulut berbisa itu! "
Plakkk!
Teriakan Sungyeol serta merta menghilang berganti dengan rasa shock di hati nya. baru kali ini Myung Soo dengan sadar menampar wajah nya dengan keras. Tamparan itu juga membuat Myung Soo membeku, ia juga sama sekali tak menyadari mengapa ia bisa sampai melakukan hal itu.
"yeollie. .mianhae. . " ucapnya. Pegangan nya melemah. Sungyeol yang masih membisu kemudian mendorong tubuh Myung Soo hingga terjatuh. Dengan cepat Sungyeol berbalik dan berlari memasuki kamarnya dan mengunci nya dari dalam.
"yeollie. .mian. .aku tak sengaja. .sayang. .buka pintu nya. . "
Kata kata memohon dari Myung Soo sama sekali tak Sungyeol gubris. Ia hanya berkutat pada pikiran nya yang kalut. Sementara air mata semakin membanjir dengan deras, berusaha meredam setiap kesakitan demi kesakitan yang mulai menyeruak.
.
.
Sungyeol membuka matanya. Tanpa sadar ia sudah terlelap sambil bersandar pada pintu kamar nya. suasana yang sepi dan temaram membuat Sungyeol menyadari waktu sudah mendekati dini hari. Matanya melirik jam yang menempel pada dinding dan menunjukkan waktu 4.00 pagi. Sungyeol beranjak dari posisi nya, rasa haus yang menyergap tenggorokan nya membuatnya membuka pintu dan menuju dapur untuk mengambil air. Suasana sepi disepanjang lorong menyergapnya. Sambil mengendap2 Sungyeol berjalan perlahan menuju arah dapur yang berada dibelakang rumah. Sesampainya disana Sungyeol meraih gelas dan langsung menuang air putih kedalam nya, saat bibirnya akan menyentuh mulut gelas matanya tanpa sengaja melihat pintu belakang yang terbuka.
Terbuka? Apakah tuan Choi atau Myung Soo lupa menguncinya? Atau ada maling yg masuk?
Pikiran terakhir itu membuat Sungyeol sedikit merinding. Namun ia mengentaskan pemikiran itu karena mereka berada jauh dari jangkauan orang lain, jd tidak mungkin ada pencuri disekitar sana kecuali pencuri yang tersesat.
"mungkin mereka lupa menguncinya. . "
Sungyeol menenggak isi dalam gelas nya kemudian beranjak menuju pintu dan hendak menutup nya. namun aksinya terhenti ketika ia menyadari ada dua orang yang sedang duduk bersama dibelakang rumah tak jauh dari posisi nya. namun tampaknya kedua orang itu sama sekali tak menyadari kehadiran Sungyeol yang berada dibelakang mereka.
"Hyung. .kau terlalu banyak minum " ujar pria pertama yang ternyata Sungjong. Myung Soo yang berada disebelahnya menoleh dengan pandangan sayup. Wajah nya yang memerah membenarkan kalau ia sudah dalam keadaan mabuk berat.
"Yeollie. . " desis nya. Sungjong mengerutkan kening nya mendengar Myung Soo memanggil nya dengan Sungyeol.
"Hyung. .aku bukan Sungyeol. . " ujarnya. Myung Soo tertawa lirih. tanpa disangka pria tampan itu meraih wajah Sungjong dan mencium nya dengan agresif.
"aku mencintai mu Yeollie. .sangat. .sangat mencintai mu. . "
Sungjong yang sama sekali tak menduga kejadian itu hanya bisa bersorak didalam hati. Baru kali pria yang sangat disukainya itu menciumnya, meskipun dalam keadaan mabuk namun Sungjong sudah merasa sangat senang hingga nyaris berteriak.
"Hyung. . " lirih Sungjong dengan nada mendesah manja. Myung Soo yang masih melihat Sungjong sebagai Sungyeol tersenyum senang. Entah siapa yang memulai hingga kemudian tanpa sadar mereka sudah dalam kondisi tidak berpakaian dan saling memagut satu sama lain. desahan demi desahan serta erangan tertahan karena rasa nikmat yang keluar dari bibir Sungjong memecah sepinya malam, tanpa menyadari sepasang mata berair dibelakang sana hanya bisa menggigit bibir nya hingga nyaris berdarah. Rasa sakit dan sesak menyeruak dengan cepat dalam dirinya, tanpa mampu bertahan lagi pria yang tak lain adalah Sungyeol berlari dengan cepat kearah dalam. Dengan tergesa gesa pria tinggi itu memasuki kamarnya. Tangannya mencengkram pintu ketika nyaris terjatuh. Nyeri yang menusuk memaksanya membungkukkan tubuhnya hingga bertumpu pada lantai. Dalam keheningan Sungyeol menangis dengan suara tertahan. Berupaya memadamkan api yang membakar seisi ruang hatinya dengan air mata yang tak kunjung bisa ia hentikan.
.
.
xXx
.
.
Sinar matahari yang menyeruak diantara dedaunan membuat Myung Soo terpaksa membuka matanya yang berat. kepala nya yang nyeri membuatnya meringis beberapa kali. Matanya yang nanar memandang area sekitar yang hanya dipenuhi pepohonan. Dengan penuh rasa heran Myung Soo beranjak dari tempatnya, ia nyaris berteriak karena menyadari ia bertelanjang dada dengan celana jeans nya yang turun hingga kelutut.
"apa yang terjadi? " serunya ketakutan dengan kondisinya. Sesaat kemudian keterkejutan nya semakin bertambah ketika menyadari seseorang sedang berbaring dalam kondisi yang sama disebelahnya.
"Sungjong? " desisnya. Sungjong yang saat itu terbangun menatap Myung Soo dengan sendu.
"Hyung. .kau sudah bangun. . " ujarnya tanpa menyadari beliak tak percaya dari Myung Soo.
"apa yang sudah kita lakukan jongie? " tanya Myung soo sambil beranjak mundur.
Sungjong merapikan pakaian nya. " apa Hyung lupa. .kita melakukan "itu" semalam. Ujarnya tanpa menghilangkan kesan manja dari ucapannya.
Myung Soo melangkah mundur. Ia memegang kepalanya yang terasa akan pecah. Ia masih tak bisa mengingat apapun yang terjadi kemarin malam. Tiba2 wajah Sungyeol terbersit dikepalanya.
"Yeollie. . "
Tanpa mengindahkan Sungjong yang berteriak memanggilnya Myung Soo berlari memasuki rumah. Rasa takut yang tiba2 muncul dihatinya membuatnya bahkan tak perduli pada tuan Choi yang terjatuh karena tertabrak oleh nya.
"Yeollie! Buka pintunya! " serunya sambil menggedor pintu kamar Sungyeol.
Clak.
Pintu terbuka dengan mudah nya. dengan gemetar Myung Soo mendorong pintu hingga terbuka. Ruangan itu kosong tanpa ada sosok Sungyeol disana. Rasa khawatir menyergapnya. Dengan gusar pria itu berlari menuju kearah depan. Nihil. Ia kembali berlari kearah belakang, namun sama saja, ia tak bisa menemukan Sungyeol disana.
"Hyung. .ada apa? " tanya Sungjong yang sudah merapikan pakaian nya. tuan Choi yang melihat pria itu berlari kesana kemari dengan gusar juga jadi bertanya2 dengan heran.
"sungyeol. .Sungyeol menghilang. . " seru Myung Soo ketakutan. Ia kembali berlari kesana kemari berusaha menemukan keberadaan pria tinggi itu.
"Hyung. . " ujar Sungjong ketika menyadari sebuah kertas terlipat diatas meja. Sungjong mengambilnya dan menunjukkan nya pada Myung Soo. Dengan cepat Myung Soo mengambil kertas itu yang ternyata sebuah surat.
Myungie. .
Saat pertama aku melihat mu dulu, aku merasa yakin, bahwa memang kau adalah yang terbaik yang Tuhan kirim untuk ku. .
Hanya saja sepertinya aku salah. .aku terlalu naif menganggap mu adalah satu2nya, dan mungkin terlalu bodoh untuk percaya akhir indah seperti dalam novel2 lama.
Aku menyerah sayang. .mungkin memang benar, kau membutuhkan seseorang yang normal, bukan pria gila seperti ku. .
Jangan pernah mencariku Myungie. .hidup dan berbahagialah, ,jalani hidupmu seperti dulu, tanpa perlu bersembunyi karena ku,
Jangan pernah berfikir aku lari karena tak mencintai mu lagi, karena sampai kapan pun, hanya kau pria satu2nya yang akan aku cintai. .
Berbahagialah sayang ku. .dengan begitu. .mungkin aku bisa bertahan dan menata hidup ku.
Selamat tinggal. .
Sungyeol.
Tubuh Myung Soo sontak luruh kebawah. Setelahnya kemudian pria itu berlari membabi buta tanpa arah, menuju kesembarang arah demi menemukan sosok yang ia cari, namun usaha yang ia lakukan sama sekali tak membawa hasil. Sejak saat itu pula, tak seorangpun yang mengetahui keberadaan pria tinggi itu. sosoknya seolah lenyap ditelan bumi.
.
.
30 tahun kemudian.
Myung Soo mengerjapkan matanya yang mulai diisi dengan keriput. Hal yang biasa disaat usia mulai senja. Tubuhnya bergerak teratur diatas kursi goyang. Matanya sejak tadi memandangi taman yang ada didepan nya. ia menyeruput kopinya. Seperti biasa, ia hanya akan duduk diam diatas kursi goyang nya setiap pagi sambil memandangi pemandangan sekitar yang ia tata dengan rapi. Ia tak akan pernah bosan melihat sekumpulan kumbang yang mulai berbondong2 menyerap madu dari bunga2 yg ia tanam. Sudah 30 tahun berlalu, dan kini Myung Soo sudah berusia 52 tahun. Wajahnya yang dulu tampan mulai menua dimakan usia, rambutnya yang dulu hitam legam dan bersinar sekarang mulai memutih, dan kulitnya mulai dipenuhi dengan keriput. Namun meski demikian sisa ketampanan tak lekang dari paras manis nya. setelah kepergian Sungyeol, Myung Soo nyaris menghabiskan sisa hidupnya dengan mencari pria itu, bahkan ia dengan berani mendatangi kediaman tuan Lee namun dihadapkan dengan kenyataan bahwa pria berkuasa itu sudah meninggal karena depresi akut yang dideritanya. Ia sudah kesana kemari mencari, namun pria itu seperti peri yang menghilang dibalik kabut fajar. Hanya misteri, dimana dan sedang apa dia.
Myung Soo menyeruput kopinya lagi. Wajah Sungyeol yang masih saja terbayang dimatanya membuatnya kembali bernostalgia. Apalagi sejak tuan Choi meninggal 10 tahun lalu dan ia meninggalkan Sungjong sendirian. Meski terkadang hatinya meminta untuk kembali dan melihat pria itu namun kakinya seolah tak ingin melangkah. Yang ia bisa harapkan hanyalah semoga pria itu diberi kebahagiaan meski tanpanya. Dengan menggunakan tabungan yg ia kumpulkan selama 20 tahun itulah ia bisa membeli sebuah rumah kecil didaerah pedesaan, menikmati indahnya angin sejuk pegunungan dan berusaha melepaskan dirinya dari bayang2 Sungyeol, meski ia mengakui tak mudah melepaskan ingatan tentang pria itu. keramahan tetangga dan alam lah yang membuatnya mampu bertahan hidup sendiri hingga sekarang. ia sudah berjanji tak akan menikahi siapapun. Ia akan menjaga hatinya untuk pria itu, meski entah dimana, atau sedang bersama siapa dia, namun memikirkan Sungyeol diluar sana mungkin dalam kondisi yang baik bisa membuatnya bertahan.
Myung Soo mengedarkan pandangan nya hingga bertemu dengan sosok wanita muda berparas cantik yang entah sejak kapan berdiri didepan pagar rumah nya. wanita itu tersenyum sembari melambaikan tangan nya. dengan segera Myung Soo mendekati pagarnya dan membukanya.
"ada yang bisa saya bantu nona? " tanya nya. wanita berwajah cantik itu tersenyum.
"nama ku Lee Jung Hwa. .apakah anda tuan Kim Myung Soo? " ucapnya balik bertanya pada Myung Soo.
Myung Soo mengangguk perlahan sambil memandangi tamunya itu.
"wah. .akhirnya aku bisa bertemu dengan anda juga. . " ujar gadis itu girang.
"maaf, siapa kau? Apa aku pernah mengenal mu sebelum nya? " tanya Myung Soo lagi.
"mungkin anda tidak mengenal ku, namun saya mengenal anda dari ayah ku. . "
"ayah mu? " gumam Myung Soo mengerutkan keningnya karena tak mengingat gadis itu. mungkinkah Sunggyu atau Woohyun? Kedua pria itu memang sudah menikah sejak 25 tahun lalu namun seingatnya mereka mengadopsi anak laki2.
"nama ayah ku adalah Lee Sungyeol. .senang bertermu dengan anda tuan Kim. " ucap gadis itu seolah mengerti kebingungan diwajah myung Soo. Tak ayal hanya rasa terkejut yang nampak pada raut wajah nya mendengar hal itu.
"kau? Kau tak bergurau bukan? " ujarnya tak percaya. Tubuhnya melangkah mundur. Jung Hwa menarik secari kertas dari tas nya. sebuah foto usang.
"bukankah ini anda? "
Myung Soo membelalak tak percaya. Ia dengan segera menarik foto usang itu. foto ia dan Sungyeol saat Sungyeol masuk SMA di hari pertama nya. saat itu Sungyeol memaksanya mengambil foto berdua dengan kamera polaroid. Tanpa sadar air mata Myung Soo mulai menetes. Riak kerinduan yang ia pendam selama ini membuncah dengan kuat.
"maafkan jika aku hanya membuka luka lama mu. .hanya saja. .aku merasa harus melakukan ini. . " ucap Jung Hwa. Myung Soo mengusut air matanya.
"mari kita berbicara didalam. . " ujarnya. Jung Hwa mengangguk. Ia mengikuti langkah Myung Soo dan mengambil duduk berhadapan di kursi santai yang berada didepan rumah.
"sudah sangat lama aku mencari nya. .aku tak menduga hari ini akan datang. . "
Jung Hwa tersenyum kecil.
"ia juga selalu bercerita tentang anda.. "
"aku senang mengetahui ia hidup bahagia dan memiliki putri yang cantik seperti mu. .ibu mu juga pasti wanita yang sangat baik.. " ujar Myung Soo sembari tersenyum simpul. Jung Hwa menggeleng lemah.
"anda salah. .ia adalah ayah dan ibu ku. .ia memungutku saat aku masih bayi, ibuku membuangku dijalanan, dan jika ayah tak mengambilku, mungkin aku akan mati. . "
Pengakuan pendek itu serta merta membuat Myung Soo merasa bersalah. "mianhae. .aku tak tau hal itu yang menimpamu. . " ujarnya.
"tak apa. .aku sudah bahagia. .ayah menyayangiku dengan segenap hatinya. Ia memberikan apa yang aku mau dan juga memperlakukan ku dengan baik. Ia adalah ayah sekaligus ibu untukku. . "
Myung Soo menganggukkan kepalanya. " dia memang pria yang baik. . "
"ia juga sangat mencintai mu tuan Kim. .bahkan sejak mengadopsiku, hingga sekarang ia tak menikahi wanita atau pria lainnya. Hingga akhirnya ia mengatakan alasannya bahwa ia tak bisa melupakan pria pertama yang ia cintai. .yaitu anda. dan aku mencari mu selama 2 bulan ini adalah untuk membawa mu padanya "
"seharusnya ia melupakan ku. .karena aku sudah menyakiti perasaan nya dengan pengkhianatan ku. .selama berpuluh2 tahun aku mencarinya, hanya untuk mengatakan maaf.. tapi sekarang keinginan itu sudah hilang. .aku sudah senang mendengar ia baik2 saja. .dan hidup bahagia dengan mu. .dan kurasa hal itu sudah cukup. . " ujar Myung Soo lirih.
"ia sakit parah. . " ucap Jung Hwa memutus kalimat Myung Soo.
"sakit? "
"ya. .ia terkena kanker stadium akhir, dan kata dokter ia hanya bisa bertahan selama sebulan lagi. .jadi aku mohon. .ikutlah dengan ku. Aku yakin ia ingin sekali bertemu dengan mu walau hanya sekali. . "
Myung Soo hanya bisa menunduk untuk menahan air mata yang hendak melarikan diri dari matanya. Hingga kemudian ia menganggukkan kepala nya. ya. ia harus ada disana, walaupun untuk terakhir kali nya.
.
.
Tubuh tua itu terbaring dengan mata nya yang menutup. Wajah nya yang mulai dipenuhi keriput masih menyisakan sisa ketampanan masa mudanya. Deru nafasnya terdengar tenang. Myung So mengusut air matanya. Hatinya terasa ditusuk melihat kondisi seseorang yang sangat dicintainya sejak dulu itu. liat tubuhnya yang dulu tinggi berisi, kini hanya tersisa tubuh kurus yang terbaring lemah tanpa daya. Rambutnya yang dulu berwarna cokelat tua itu kini tak tersisa sehelai pun. Myung Soo membekap mulutnya agar isakan nya tak terdengar. Ia hanya bisa membungkuk menahan desakan rasa sakit yang menguar keluar dari dalam dirinya. Hingga Jung Hwan yang ada disamping nya hanya bisa mengelus punggung nya untuk menenangkan nya.
"dia sangat ingin bertemu dengan mu. . " ucap Jung Hwan. Myung Soo mengangkat kepalanya. Mengusut air matanya yang membanjir. Kemudian mendekati tubuh lemah Sungyeol dan meraih tangan pria itu. menggenggam nya penuh kasih. Genggaman yang mewakili rasa rindunya yang selama ini ia tahan. Ia meraih tangan Sungyeol dan meletakkan ke pipinya. Merasakan hawa hangat dari tangan pria itu. Jung Hwan yang melihat hal itu melangkah keluar untuk memberikan waktu bagi Myung Soo menumpahkan rasa rindunya.
"aku sangat merindukan mu Yeollie. . " ucapnya penuh haru. "sangat sangat merindukan mu. .aku ingin kau mendengar penjelasan ku. .aku ingin kau mendengar kan keluh kesah ku. .betapa tersiksanya aku mencari mu selama ini. .dan aku bahagia. .aku bahagia bisa menemukan mu sebelum aku mati. . " lirih Myung Soo.
"myungie. . "
Myung Soo membuka matanya dan melihat kearah suara itu. didepan matanya Sungyeol tengah menatapnya dengan senyum simpulnya. Ya. senyum yang sangat sangat Myung Soo ingin lihat lagi. Hingga tak ada kata yang dapat mereka berdua katakan untuk beberapa saat.
.
.
Deru lembut angin pegunungan menyibak rambut putih Myung Soo. Udara hari ini terasa begitu sendu. Ia kemudian menarik kursi dan duduk disana. Menatap jauh ke pemandangan gunung yang menentramkan hatinya. Sudah seminggu berlalu sejak Sungyeol pergi untuk selamanya. Meskipun pada awalnya ia bisa bertahan selama sebulan lebih lama dari perkiraan dokter, hanya saja Tuhan sepertinya sudah ingin mengambilnya kembali. Meninggalkan Myung Soo yang hanya bisa mengiringi kepergian pria itu dengan genggaman erat tangan nya. selama dua bulan, ia sudah merasa cukup dapat bersama pria yang ia kasihi itu. dua bulan ia terus ada disamping nya. menghabiskan waktu bersama mereka yang terlah hilang. Mengulangi masa2 muda mereka yang berlalu dan tak sempat mereka nikmati berdua.
Ya. .masa yang menghilang itu. .
Masa yang tak akan ia lupakan.
Myung Soo memejamkan matanya. Ia seolah bisa mendengar tawa Sungyeol ditelinga nya. suara merdunya yang membuat ia selalu terbawa suasana. Tawa riang pria itu terdengar nyaring.
"Hyung. . "
Myung Soo membuka matanya. Disana ia melihat dua orang pria tengah bersenda gurau satu sama lain. pria pertama yang tak lain adalah dirinya sendiri itu tengah duduk dengan kaki memanjang sementara Sungyeol tengah tertidur di atas kedua paha nya.
"Hyung. . " panggil Sungyeol sekali lagi. .
"ne Dongsaeng. . " ujar myung Soo sambil mengusap lembut daun pohon pinus yang jatuh diatas dahi Sungyeol.
"saranghae. . " ujar Sungyeol tanpa ragu.
Myung Soo tersenyum mendengar hal itu. hatinya tak ragu lagi.
"nado. .nado saranghae. .Lee Sungyeol. "
.
.
The End-
Sorry kalau bad ending T_T thanks buat semua yang suka sama FF ini dari chapter 1-8. Maaf kalau ada salah kata atau ending yang tak sesuai keinginan reader T_T
Akhir kata sampai jumpa di FF selanjutnya
