Disclaimer: I do not own Inuyasha!


Matahari bersinar terang, cahayanya menembus dari sela-sela dedaunan. Sesshoumaru berjalan perlahan di antara pepohonan hutan di Wilayah Selatan, tempat sasarannya yang terakhir. Sebenarnya dia bisa saja melesat terbang menembus awan, tetapi, selain mengemban misi penaklukan, ia pun sedang dalam misi pencarian. Sesshoumaru sedang mencari benda keramat yang disembunyikan oleh sang ayah. Dan, benda yang ia cari itu tersembunyi di suatu tempat di daerah Selatan yang dikuasai oleh Takigawa.

Suara seorang wanita dan bunyi gemericik air di kejauhan memutus begitu saja rentetan pikirannya. Suara wanita yang ia dengar sudah pasti bukan milik manusia, karena dia berada di hutan terdalam, jauh dari sumber berbagai macam bau yang tidak enak yang berasal dari daerah yang dihuni oleh manusia. Untuk seorang Dai youkai, yang menganggap manusia hanyalah mahluk rendah yang menebar kerusakan pada alam dan tak lebih baik daripada binatang pengerat, pemukiman manusia adalah polusi bagi hutan dan alam.

Semakin dekat dia berjalan ke sumber air semakin jelas dia mencium baunya, bau dari wanita yang baru-baru ini diselamatkannya. Dia menyembunyikan lagi auranya, dia bisa mendengar wanita itu menggumamkan sesuatu. Sesshoumaru tidak terkejut mendapati dugaannya benar, wanita yang kini dilihatnya adalah wanita yang membunuh Kuroichi, seorang hanyou yang pernah dihidupkannya lagi dengan Tenseiga. Entah mengapa saat wanita itu sekarat di dekatnya Tenseiga bergetar hebat, selapis cahaya biru menyinari pedang itu saat berteriak meminta perhatian dari sang pemilik, Tenseiga memaksa untuk digunakan.

'Dia tidak membuang-buang waktu, setelah Kuroichi, sekarang dia sedang mengincar Takigawa, Penguasa Wilayah Selatan,' pikir Sesshoumaru.

.

Kagome sedang dalam perjalanannya saat ia melewati sebuah kolam air panas kecil, kolam itu begitu indah, tenang, dengan beberapa batu besar mengelilinginya. Walau selapis tipis asap mengepul di permukaan, kolam itu begitu jernih hingga ia bisa melihat bebatuan di dasarnya. Sumber air panas alami itu seakan memanggilnya untuk beristirahat sejenak dan melemaskan otot-ototnya yang kaku. Kaki kanan Kagome sudah melangkah tetapi kemudian terhenti, untuk sesaat dia terpaku sejenak di tempatnya berdiri.

"Berendam sejenak tidak akan membuat matahari terbit dari Barat, ya kan?" Katanya kepada dirinya sendiri.

Dia mendekati kolam air panas itu, membuka kimono birunya. Sebelum mencelupkan kaki ke dalam air, Kagome berkonsentrasi untuk memantau sekelilingnya sesaat, adakah aura youkai atau bau manusia lain di sekitarnya? Setelah yakin tidak ada bahaya yang mengintai, barulah ia mencopot seluruh pakaiannya, lalu menyampirkannya di batu terdekat di pinggir kolam.

Kagome duduk di tepi kolam, perlahan-lahan mencelupkan ujung jari-jari kakinya. Dia merintih pelan saat dia merasakan hangatnya air memijat kakinya yang sedikit lelah setelah berlari seharian. Dia masuk ke air, lalu berjalan ke tengah kolam dan mulai membasuh badannya. Dia mengerang pelan saat dia membasahi rambutnya yang kini tergerai, memijat kulit kepalanya. Selesai menggosok tubuhnya ia bergeser ke tepi kolam yang airnya hanya sebatas pinggang.

Kagome duduk di bebatuan kecil di dasar kolam lalu menyadarkan kepalanya di tepi kolam, kini air sedikit lebih tinggi di atas dadanya. Dia mendongakkan kepalanya, menatap awan putih tebal berkejar-kejaran di langit biru, tangannya memainkan air di sisi tubuhnya dengan membuat gerakan seperti angka delapan. Kagome memejamkan kedua matanya dan merasakan kedamaian yang sangat jarang sekali dia dapatkan.

Sesshoumaru terus berjalan mendekat, lalu terhenti beberapa kaki dari bibir kolam. Kepala wanita itu bersandar di sebuah batu, dia mendongak menatap langit. Rambutnya yang hitam panjang lebat bergerak-gerak dipermainkan oleh air. Perhatian Sesshoumaru teralih ke wajahnya yang terlihat begitu damai, kini kedua matanya terpejam, manik emasnya berpindah fokus ke kulit halus wanita itu, lalu ke keindahan yang lain di dadanya yang membumbung. Air yang jernih dan asap tipis tidak bisa menyembunyikan keindahan tubuhnya dari penglihatan Dai youkai seperti Sesshoumaru.

Apa yang Sesshoumaru lihat pada wanita itu sangat kontras bila dibandingkan dengan apa yang ia lihat pertama kali, wajah wanita itu melembut penuh kedamaian, senyumnya mengembang. Matanya yang biru kini bersinar dengan kehangatan, pipinya merona, bibirnya yang penuh kini berwarna merah muda. Diantara kolam yang dikelilingi rumput hijau, pepohonan rindang yang diselimuti selapis tipis sinar matahari, wanita itu seperti puncak dari keindahan alam yang mengelilinginya. Figurnya saat ini terlihat begitu lemah, tapi cantik.

"Sial!" Kagome memaki dirinya sendiri untuk kecerobohannya.

Kagome terkesiap ketika menyadari ada seseorang di dekatnya, dia membenamkan dirinya di air untuk menyembunyikan tubuh telanjangnya. Kedua tangannya bersilang di dada, bagaimanapun juga, dia tetaplah wanita dan youkai yang berada di dekatnya itu adalah lawan jenis.

Kagome mengutuk diri sendiri karena tidak mencium bau kedatangan si pengganggu. Apakah penciumannya mulai tumpul? Pikirnya. Atau mungkin dia terlalu terbawa suasana yang damai sehingga tingkat kewaspadaannya tidak seperti biasanya. Hidungnya tidak salah, bau youkai itu tidak tercium karena auranya pun tidak terdeteksi. Dengan sekilas pandang pun Kagome bisa mengenalinya, youkai itu, dewa penolongnya yang juga targetnya, berhasil menyembunyikan diri dengan baik. Terlalu baik hingga terasa menakutkan!

Tapi, apa yang ia lakukan disini? Yang utama yang benaknya pertanyakan adalah, mengapa pria itu tidak memalingkan wajah karena malu saat tertangkap basah memandangi tubuh polos seorang wanita?! Yang youkai itu lakukan hanyalah mengalihkan pandangannya ke tengah kolam dengan acuh tak acuh, itupun setelah puas menatapnya.

Kagome memberikan tatapan mengancam kepadanya, tetapi Sesshoumaru tidak terpengaruh. Perlahan dia mendekat ke kolam, Kagome menggeram lalu melompat keluar dari kolam. Dengan cepat dia bersembunyi di balik batu tempat pakaiannya berada. Celakanya, batu itu hanya cukup untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Lekas-lekas ia mengenakan kosode, kimono, dan mengikat obi-nya.

Sesshoumaru memperhatikan bagaimana wanita itu tergesa-gesa keluar dari air lalu meraup semua pakaiannya, kemudian melompat ke balik batu yang gagal menutupi tubuh bagian atasnya. Walaupun wajahnya masih belia, tetapi liukkan sempurna di tubuhnya adalah milik wanita dewasa yang diinginkan semua pejantan.

Punggungnya terasa panas oleh tatapan youkai asing itu, wajahnya memerah, tapi dia berusaha menutupi rasa malu dengan sikap kasarnya. Setelah dia selesai berpakaian, Kagome melompat mendekati Sesshoumaru. "Kau, apa yang kau lakukan disini?" dagunya terangkat, yang ditanya malah mengalihkan pandangannya.

Wajahnya yang memerah tidak luput dari perhatian Sesshoumaru, caranya memakai kimono salah untuk pandangan manusia. Cara memakai kimono yang benar seharusnya untuk menutupi lekuk tubuh wanita, tetapi kimono yang dikenakannya malah semakin menonjolkan lekuk-lekuk ditubuhnya, belum lagi paha dan kaki jenjang yang dipamerkan olehnya.

Tanpa memberikan respons, pria itu terus mendekati kolam.

Sial! "Kau baru saja merusak waktu paling pribadiku, melihat tubuhku, dan kini kau mengacuhkanku?" nadanya iritasi. Kagome yang wajahnya memerah oleh rasa malu dan amarah bertambah jengkel karena pria yang ia ajak bicara sama sekali tidak terpengaruh. Alih-alih menanggapi, youkai misterius itu malah terus berjalan. "Tunggu! Aku ingin berbicara denganmu," ujar Kagome sambil menyamakan langkahnya.

Sesshoumaru berhenti tepat di tepi kolam air panas tersebut, matanya memicing. Dia menarik Tenseiga beserta sarungnya, memegangnya tepat ditengah secara horizontal. Setelah beberapa detik berlalu tanpa ada reaksi dari Tenseiga, dia menyelipkan benda itu kembali ke obi-nya.

Apa yang dicarinya tidak ada di kolam itu, dia hampir yakin benda yang disembunyikan itu berada di suatu tempat di dalam air. Suatu tempat yang tidak tersentuh oleh angin, dan tidak tersentuh matahari. Sebuah tempat yang tak terjamah. kolam air panas itu tak mungkin menjadi tempat yang tak terjamah, kali ini, ia tidak memikirkan baik-baik tindakan sia-sianya. Apa yang membuat perhatiannya teralih? Apakah suara wanita itu? Atau baunya yang kali ini begitu menggoda tanpa dinodai oleh bau darah lawannya seperti dulu? Atau, perhatiannya teralih karena tubuh hanyou perempuan itu?

Sesshoumaru menarik napas dalam, mencoba mengusir pikiran yang dianggapnya menggelikan. "Bicaralah!" Perintahnya tanpa merasa harus menatap sosok yang menjadi lawan bicaranya saat itu.

"A-aku ...," Kagome tergagap tanpa mengetahui sebabnya. Apakah kekeluan lidahnya itu karena pria itu pernah menolongnya? Benaknya mengumpat, Kagome mendengus kesal.

"Aku tidak butuh rasa terima kasih darimu," kata Sesshoumaru sebelum berbalik dan meninggalkan Kagome.

Kagome merasa bodoh karena sempat merasa gugup di depan youkai misterius itu. Hanyou tangguh itu kembali berhasil menguasai dirinya, "Aku tidak akan mengucapkan terima kasih kepadamu!" Kagome mengangkat dagunya, kata-kata Sesshoumaru yang congkak membuatnya jengkel. "Menyelamatkanku adalah keputusanmu, bukan permintaanku," suaranya tegas. Dengan satu lompatan, sang hanyou berdiri di depan pria itu.

Intonasi sang Dai youkai datar saat ia berucap, "Bukan menyelamatkanmu, tapi menghidupkanmu kembali."

Wanita yang ada di hadapannya menatap garang. Seringai di satu satu sudut wajah menampakkan taringnya. Rambutnya yang hitam dan panjang kini tergerai, air masih menetes dari ujung-ujung rambutnya sebelum meluncur turun ke kulitnya yang terlihat sehalus pualam. "Apa maumu, hanyou?" Untuk sedetik, alis Sesshoumaru sedikit berkerut sebelum kembali lagi ke wajah-tanpa-ekspresi-lamanya. "Kau ingin aku mengambil kembali apa yang telah kuberikan padamu?" Tanyanya dingin.

Kagome tertawa kecil. "Apakah kau pikir kau itu Dewa, hah?" Ia yang diremehkan kini mulai merasa geram. "Tarik pedangmu!" Tantangnya.

Sesshoumaru tidak terpengaruh, dia bahkan tidak memandangnya. "Aku tidak tertarik bertarung denganmu," hanya itulah jawabannya, dan ia melangkah pergi.

Lagi-lagi Kagome menghalangi jalannya. "Jangan meremehkanku!"

"Pergi dari pandanganku!" Perintah Sesshoumaru sambil melemparkan sorot mata mematikan.

Dengan keras kepala, Kagome menolak, "Aku tidak akan pergi hingga kau melawanku!"

"Aku hanya melawan musuh yang tangguh." Dengan itu Sesshoumaru berlalu.

"Kau akan menyesal telah meremehkanku!" Kagome tersenyum sinis, dia melayangkan cakarnya ke arah Sesshoumaru yang dengan cepat sudah berpindah tempat.

"Dengan pedangpun kau tidak akan dapat mengalahkanku," ucapnya. Hinaan terdeteksi dari nada lurusnya.

"Aku akan membuktikan ucapanku kepadamu." Saat kata terakhir terucap, Kagome sudah melompat untuk menyerang.

"Kau ingin mencoba kesabaranku?" tangan Sesshoumaru menggenggam Bakusaiga. "Aku tidak mempunyai banyak kesabaran untukmu, Hanyou."

Kagome memperhatikan Sesshoumaru menarik sebuah pedang, tapi bau pedang kali ini berbeda dengan bau pedang yang menyelamatkannya waktu itu. Tidak, pedang yang ada di genggaman pria itu telah bau oleh berbagai macam darah. Pedang pria itu kali ini adalah pedang untuk bertempur.

"Kau harus tahu tempat. Karena hanyou sepertimu hanyalah sebuah penyimpangan!"

Kagome tertawa kecil. "Semua hinaan darimu tidak ada yang belum pernah aku dengar sebelumnya."

Suara Sesshoumaru lantang, "Kau tidak seharusnya terlahir."

"Bisakah aku memilih terlahir sebagai apa saat aku dilahirkan kembali suatu saat nanti?" Kagome melisankan pertanyaan retoris itu dengan nada bercanda, tapi kedua sudut alisnya turun kebawah. Wajahnya tidak dapat menutupi apa yang sebenarnya dia rasakan. "Oh, aku tahu, satu hal yang pasti, terlahir kembali sebagai apapun aku nanti, aku tidak ingin menjadi youkai dingin, pecundang dan sombong seperti dirimu!"

"Kau seharusnya musnah!" Sesshoumaru mengacungkan pedangnya lalu, ledakan energi berwarna biru menghantam Kagome dan membuatnya terlempar jauh kebelakang.

Tanpa menoleh, Sesshoumaru memasukkan lagi pedang ke sarungnya dan melanjutkan lagi perjalanannya. Langkahnya mantap kala menembus hutan, tetapi pikirannya jauh tertinggal di tempat yang tadi ia tinggalkan. Apa tujuan hanyou itu memburu para Penguasa Wilayah? Pertanyaan itu belumlah terjawab. Mengapa tadi dia tidak menanyakannya saja secara langsung? Pikiran itu ditolak Sesshoumaru mentah-mentah, harga dirinya terlalu tinggi untuk menunjukkan rasa penasarannya pada seorang mahluk rendahan yang tidak pantas mendapatkan secuil perhatian pun di otaknya.

Akan tetapi, sekeras apapun ia berusaha, Sesshoumaru tak dapat menyangkal dirinya setiap saat. Berkali-kali figur wanita itu berkelebatan di otaknya. Wajahnya yang damai saat berendam di kolam, memandang langit dengan sebuah senyuman. Rambutnya yang sangat kontras dengan kulitnya, dan yang paling mengganggunya selain bau khas wanita itu adalah matanya. Matanya biru keabu-abuan, begitu dalam oleh misteri. Seakan menyimpan begitu banyak cerita.

Yang teramat jelas tergambar di benak sang Dai youkai bukanlah tatapan mata yang penuh keberanian dan kepercayaan diri yang tak terbantahkan milik wanita itu, tapi, pandangan yang tertunduk malu dengan pipi yang bersemu merahlah yang telah menggelitik sesuatu di dalam dirinya. Langkahnya terhenti, dia memejamkan mata sesaat. Dengan segera dia mengusir pikiran-pikiran itu dari otaknya dan memfokuskan diri untuk menelaah petunjuk yang ditinggalkan demi menemukan benda yang di carinya. Sebuah pedang berkekuatan dahsyat yang disembunyikan oleh sang ayah tanpa alasan yang tidak diketahuinya.

Petunjuk yang ia dapat dari pandai besi yang telah menempa pedang tersebut hanya terdiri dari dua kata, 'Minami' dan 'Antatchaburu'.

Bertahun-tahun sudah ia menghabiskan waktu dengan paham yang salah, Minami yang disebutkan bukanlah 'Tiga Gelombang, Gelombang Indah, maupun Cinta dan Kecantikan'. Minami juga bukanlah nama seorang wanita. Minami yang dimaksud adalah arah mata angin. Minami berarti Selatan. Wilayah yang selama ini tak pernah ia telusuri.

Sedangkan makna 'Antatchaburu' adalah tak terjamah. Itu artinya, pedang yang dikatakan memiliki kekuatan yang lebih dahsyat dari keempat pedang yang dimiliki oleh para penguasa wilayah tersembunyi di sebuah tempat aman yang bahkan tak tersentuh cahaya matahari dan tak terjangkau oleh hembusan angin.

Sayangnya, teramat banyak tempat yang memenuhi kriteria. Sebuah tempat yang tersembunyi, dan tempat teraman. Sesshoumaru menguras otak, tempat yang seperti itu bisa berada di mana saja di hutan yang sangat luas ini. Walau Tenseiga akan bereaksi bila ia mendekati tempat persembunyian pedang itu, tetap saja, itu tidak menjamin bahwa ia akan dengan mudah menemukannya.

Kedua alis inu youkai itu berkumpul di tengah, ia tak habis pikir, mengapa orang tua itu melakukan ini kepadanya? Bukankah sudah jelas bahwa hanya ia seoranglah yang pantas memiliki benda itu dan menyadang gelar penguasa. Dialah satu-satunya yang pantas.

Walau keberadaan pedang tersebut masih belum bisa ia temukan, sang Dai youkai penguasa Wilayah Barat teramat yakin bahwa ini adalah waktu yang tepat baginya untuk menyandang pedang yang telah diwariskan oleh sang ayah dan menguasai seluruh wilayah. Tak ada yang dapat menghalanginya, bila Sesshoumaru telah bertekad, dia akan segera menemukan pedang itu.

Pasti.

.

Kagome terbaring di tanah, imbas dari kekuatan pedang Sesshoumaru telah merenggut kesadaran darinya. Didalam keadaannya itu, Kagome terbawa jauh ke masa lalu. Deretan pepohonan yang ada di hadapannya berubah menjadi pondok kecil tempat dia tinggal bersama ibunya dahulu. Ingatan itu bagaikan menari-nari di dalam kepalanya.

Pada suatu malam beberapa tahun lalu, ia terjaga begitu saja dari tidurnya. Saat ia hendak kembali memejamkan mata, ia mendengar bunyi kayu berderit, sejenak hening, sebelum kembali terdengar bunyi yang sama. Tak lama kemudian, ia mendengar suara seseorang berbisik. Telinga di puncak kepalanya bergerak-gerak, Kagome memasang pendengaran dan penciumannya baik-baik. Dia mengendus, tidak ada bahaya yang tercium, tapi samar-samar, dia mencium bau lucu yang sudah seharian ini muncul dari ibunya.

"Aku merindukanmu," suara ibunya yang berbisik terlalu jelas untuk pendengarannya yang super sensitif.

Kagome bangkit lalu duduk, kala itu ia mendengar ibunya tertawa pelan. Tak lama, suara seorang laki-laki yang bergumam pun terdengar. "hm."

Rasa penasaran menguasainya. Dia berdiri, lalu berjalan perlahan, berusaha sebisa mungkin tidak membuat kayu yang dia injak berbunyi. Tiap langkah yang ia ambil membuat jantungnya kian berdetak cepat. Jantungnya seakan terhenti sesaat ketika ia tiba di ambang pintu, dari celah kecil antara tirai, dia bisa melihat ruang depan dengan leluasa. Cahaya dari tungku di ruangan itu memang sudah padam, tetapi keremangan itu sudah lebih dari cukup untuk penglihatannya.

Kagome bisa melihat sang ibu berbaring membelakanginya. Selain sebuah benda seperti bulu-bulu berwarna putih yang menutupi sebagian tubuhnya, tidak ada sehelai benang pun yang menyelimutinya. Seorang laki-laki mendekap ibunya, dan yang paling menyita perhatiannya adalah rambut panjang laki-laki itu. Sayangnya,wajah pria itu tertutup oleh helaian silver yang terjuntai. Menganggap yang dilihatnya hanyalah mimpi, Kagome mundur dan merebahkan tubuh di atas futon-nya.

"Otou-san?" Kagome yang masih terbaring di tanah membisikkan nama itu seperti sedang mengucapkan satu kata tabu.

Sekarang ia ingat, keesokan paginya, bau ibunya sedikit berubah! Kala itu, bau khas sang ibu sedikit tercampur dengan bau seseorang. Apa yang dahulu dilihatnya adalah kenyataan, bukan mimpi. Dan di hari yang sama, dengan sebuah senyum, suara halus, dan belaian lembut di kepalanya, sang ibu menjanjikan sesuatu yang tak pernah ia pinta, kepulangan sang ayah. 'Sebentar lagi, kita akan berkumpul. Setelah menyelesaikan urusan penting yang terakhir, kita akan tinggal bersama.' Saat itu, ada keyakinan yang kuat di dalam suaranya yang membuat Kagome tenang, tidak ada alasan untuknya untuk tidak mempercayai sosok yang menjadi satu-satunya alasan untuk hidup.

Semenjak itu, ibunya tidak pernah menyinggung lagi tentang kedatangan sang ayah. Wanita yang telah melahirkannya itu selalu menunggu dengan senyum dan harapan, dan ibunya masih menceritakan kisah tentang ayahnya sebagai cerita pengantar tidur. Ibunya wanita tangguh yang keyakinannya terlalu kuat untuk digoyahkan oleh apapun. Dan Kagome tidak ingin merubah itu, tetapi takdirlah yang berkehendak. Setelah seminggu dalam penantian, bukan reuni yang di damba yang di dapatkan, tetapi takdir pahit yang dikecap oleh mereka.

Sejak saat dia mulai bisa mengingat, hingga saat ini, tak pernah sekalipun ia bertemu dengan sang ayah. Meski begitu adanya, setiap hari, semasa hidupnya, ibunya selalu menceritakan bagaimana sang ayah yang belum pernah ditemuinya dengan cerita heroik. Bagaimana mereka bertemu, bagaimana sang ayah menolong ibunya dari bahaya yang mengancam, dan bagaimana mereka saling mencintai. Ibunya selalu menceritakan bagaimana mereka bersatu karena cinta, lalu dikaruniai anugerah terbesar yang ibunya pernah miliki selain ayahnya, yaitu dirinya.

Tetapi ibunya tidak pernah menceritakan mengapa mereka harus hidup terpisah, dia hanya menerangkan bahwa itulah yang terbaik bagi Kagome, ibunya, dan ayahnya. Tetapi mereka akan selalu mencintainya, ayahnya akan selalu melindungi mereka, dan semua penjelasan lainnya yang terkadang tidak mudah untuk dipercayai. Dan sang ibu sama sekali tidak menceritakan bagaimana terlarangnya hubungan mereka, seorang miko dan seorang youkai.

Tidak ada akhir bahagia di cerita cinta ibunya, yang ada hanyalah hancurnya keteguhan yang telah dibangun bertahun-tahun. Terobek-robek oleh kekejaman takdir, terinjak-injak oleh keadaan sehingga hangus menjadi debu. Dan nasib sang ibu telah meninggalkan bayangan kelam yang panjang yang harus ia jalanani sebagai sang garis keturunan yang berjalan di titian benang hitam takdir yang menanti.

Darah mengalir dari sudut pipinya karena tergores batu saat terjatuh, dengan punggung tangan, gadis itu menghapus darah di pipinya. Dengan itu rentetan pikirannya yang berkubang di masa lalu terputus begitu saja, Kagome bangkit, menepuk-nepuk kimono-nya agar bersih dari tanah yang menempel lalu berjalan masuk kembali ke hutan untuk melanjutkan perjalanannya yang sedikit tertunda.

Titik fokusnya kembali kepada sosok yang baru saja ditemuinya. Serangan yang tadi ia terima mungkin hanya seujung kuku dari semua kekuatan yang dimiliki pria itu. Entah karena alasan apa dia menahan diri untuk menyerangnya, ia tidak tahu. Yang dia tahu, youkai itu kuat. Meskipun begitu, ia tidak akan takut, dia tidak akan melepaskannya, kata menyerah pun tidak akan keluar dari mulutnya. Dan suatu saat nanti, pria itu akan ia buat menyesal karena telah mengacaukan waktu santainya, dan membuatnya mencium tanah setelah berendam lama.

Kepalanya mendongak, hidungnya mengendus. Bau youkai misterius itu sudah tidak tercium, begitupun auranya yang tak lagi terdeteksi. Tapi Kagome yakin, suatu saat mereka pasti akan bertemu lagi. Dan kelak, ia akan melontarkan pertanyaan yang sama yang ia lontarkan pada setiap targetnya. 'Apakah kau mengenal seorang miko bernama Kikyou?'


E/N: Bau yang dimaksud disini, bau yang kecium kalo orang dewasa lagi terangsang. Cuma bayangin (krn anjing penciumannya tajam) mungkin bagi inu hanyou kecil bakalan tercium 'lucu' karena bau ibunya berbeda dari yg biasanya.

Minna saiko arigato^^.

Edit on 23-12-2015, mengganti panggilan Kagome dari mama ke Okaa-san karena lebih sesuai dengan setting. Di anime Kagome memang manggil ibunya dengan sebutan mama, tapi di BHT dia hidup di sengoku jidai, jadi Okaa-san lebih tepat.

Revised 24/08/2017