Disclaimer: I do not own InuYasha! But i do own Tomoaki by the way.

Warnings : Character death, graphic violence, blood/gore.

A/N : Ceritanya balik lagi ke saat ini, Kagome adalah hanyou muda berumur 17thn.

Kekkai = Barrier = Penghalang


Dengan hati-hati Kagome menjejak dahan pohon itu agar tidak ada suara derit yang keluar, tubuhnya merapat ke batang pohon dengan sangat berhati-hati dia melongokkan kepalanya. Youkai itu dua ratus meter di depannya, berjalan dengan santai. Kagome sangsi youkai itu tidak mengetahui keberadaannya, tetapi bila dia memang mengetahui kenapa dia diam saja?

Tiga hari telah berlalu sejak terakhir pertemuan mereka, terakhir kali mereka bertemu Kagome terpaksa mencium tanah. Tidak ada kejadian yang dapat diduganya bila bertemu dengan youkai itu, pertama kali bertemu youkai itu menyelamatkan nyawanya, membangkitkannya dari kematian lebih tepatnya.

Pertemuan kedua youkai itu menghinanya dan menyerangnya dengan setengah hati, walau penghinaan yang diterimanya itu bukanlah hal yang sama sekali baru untuk Kagome. Dia sudah kebal dengan segala perkataan buruk tentangnya yang seorang hanyou, sama kebalnya dia dengan terpaan hujan.

Sampai saat ini dia tidak mengerti sama sekali mengapa youkai itu menolongnya? Dan jika memang dia penguasa wilayah barat apa yang dilakukannya di daerah Selatan? Melihat gerak-geriknya sepertinya dia sedang mencari sesuatu, apa yang sedang dicarinya? Dan yang paling membuatnya penasaran siapakah namanya?

Kagome membiarkan youkai itu hilang dari pandangannya untuk menjaga jarak, lalu dengan perlahan melompat lagi ke pohon lain di depannya agar bisa melihatnya dengan jelas. Dia melongokkan kepalanya lagi, youkai itu berhenti. Kagome menarik diri sehingga dia terhalang oleh batang pohon, keheningan itu membuatnya terpaku di tempat. Adrenalinenya meningkat, detak jantungnya berdetak lebih cepat dan kencang.

Dia tersenyum, Kagome menyukai perasaan ini. Perasaan yang membuatnya merasa hidup, semua ketegangan yang dirasakannya akan ketidakpastian yang terjadi. Tantangan seberat apapun itu, karena dia ingin merasakan kenikmatan dan kepuasan yang meluap-luap di dalam dirinya setelah berhasil menaklukan tantangan itu. Setidaknya dia bisa merasakan sesuatu di hidupnya yang hampa, pikirnya.

Dengan jelas Sesshoumaru bisa mencium baunya yang khas, diantara bau dedaunan yang hampir membusuk di tanah, bau kayu yang lembab karena hujan semalam, baunya mengalahkan semua bau hutan di sekelilingnya. Baunyalah yang pertama kali menariknya saat dia bertarung dengan Kuroichi, bau itu kini tertiup semilir angin seratus kaki di belakangnya. Dia bersembunyi di dahan pohon terbesar, ada keantusiasan yang besar tercium darinya. Apa yang wanita itu tunggu? Apa yang dia harapkan?

Sesshoumaru berhenti tanpa menolehkan kepalanya "Keluar!" perintahnya, suaranya sedang tapi dia tahu itu cukup keras untuk terdengar oleh pendengaran Kagome yang seorang hanyou.

Kagome melompat turun dari sebuah pohon besar ratusan meter dibelakangnya, senyum nakal terpasang di wajahnya "Akhirnya kau menyuruhku keluar, aku pegal mengikutimu sambil bersembunyi di pohon" dia menghela nafas, menepuk-nepuk kimononya yang terhiasi oleh ranting kecil dan daun layu yang menempel.

Sesshoumaru menatapnya tanpa setitik emosi apapun yang terlihat di wajahnya.

"Aku tahu kalau kau sudah tahu aku buntuti lebih dari satu jam yang lalu" Kagome bersungut-sungut.

"Kau begitu ingin mati?" tanya Sesshoumaru dengan suaranya yang dingin menusuk.

Kagome tertawa kecil "Sepertinya begitu ya?" tawanya terhenti "mungkin" jawabnya serius.

Sesshoumaru lanjut berjalan mengacuhkan Kagome, Kagome mengikutinya.

"Hei, apa sih yang kamu cari?" dia penasaran, tapi yang ditanya tidak mengindahkannya. "Hei, aku bertanya padamu" nadanya jengkel sambil berusaha mengejarnya dengan setengah berlari.

"Aku tidak punya waktu untukmu, hanyou" suara baritonenya yang dalam terdengar.

Kata terakhir yang diucapkan oleh Sesshoumaru membuat Kagome menggertakan giginya, tapi rasa marah itu di tekannya.

"Siapa namamu?" tanyanya polos, namun yang ditanya mengacuhkannya.

Sesshoumaru terus berjalan, pandangannya tertuju ke sebuah makam besar yang ditandai oleh sebuah batu besar. Kepalanya mendongak, dia tenggelam di dalam pikirannya. Makam yang dicarinya kini di hadapannya, makam yang amat sangat tua. Sesshoumaru berhenti di depan makam tersebut, sebuah batu terukir menarik perhatiannya. Kata-kata serupa dengan petunjuk yang dimilikinya terukir di batu tersebut.

Makam ini telah dikunjunginya bertahun-tahun yang lalu tetapi tidak ada reaksi dari Tenseiga yang memastikan keadaan benda yang dicarinya. Dia melewati makam itu berjalan masuk lagi ke hutan lebih dalam, samar-samar dia mendengar suara gemericik air. Tenseiga mulai bergetar, semakin dia berjalan masuk ke hutan getarannya semakin hebat. Getaran dan detak Tenseiga sama kuatnya saat dia meminta untuk digunakan waktu Kagome meninggal di tangan kuroichi.

Sesshoumaru menggenggam pegangan Tenseiga, "Diamlah!" perintah Sesshomaru tegas.

Alis Kagome berkerut "Hei, aku tidak berkata apa-apa padamu" nadanya jengkel.

Sesshoumaru berkata melalui bahunya "Aku tidak berbicara denganmu, aku berbicara dengan Tenseiga" katanya dengan acuh.

Kagome semakin tidak mengerti, Tenseiga? Siapa atau apa itu Tenseiga? Dari kejauhan di depan Kagome bisa mencium bau air, dan mendengar gemericiknya. Perhatiannya teralih kembali kepada Sesshoumaru yang sudah tidak berada di tempatnya berdiri, dia menghilang dengan cepat. Kagome mencoba mengejarnya, tetapi sialnya dia jauh lebih cepat darinya bahkan setelah dia berlari secepat mungkin.

"Hei, setidaknya jawab pertanyaanku dulu" dia menggerutu, dia memacu dirinya untuk lebih cepat, sampai batas maksimal kecepatannya.

Sesshoumaru melesat menjadi bola cahaya putih kebiruan, tak terkejar walau untuk dia yang seorang hanyou. Walau dia sudah lari sekuat tenaga secepat kakinya bisa menembus angin tetap saja dia tertinggal, dia kehilangan jejaknya, bahkan baunya pun seperti hilang ditelan angin. Kini dia terhenti di sebuah air terjun kecil, dari sinilah asal suara samar-samar gemericik air yang tadi dia dengar.

Nafasnya terengah-engah "Sial!" dia mengelap kening dengan punggung tangannya. "Dia menghilang lagi" gerutunya.

Air terjun dihadapannya itu tingginya tak kurang dari dua ratus meter, suara deburan deras air jatuh membentur batu-batu besar begitu nyaring tetapi berirama di telinganya. Buih-buih berkumpul di tempat jatuhnya air tersebut, membuatnya seperti awan putih besar mengambang di atas air. Batu-batu besar yang lebih besar darinya bertebaran di tepi sungai, padang rumput berada di antara air terjun itu dan hutan.

Dia duduk di atas sebuah batu besar, agak jauh dari air terjun. Air sungai itu begitu bening, Kagome hampir bisa melihat batu dan ikan-ikan kecil yang tinggal di dasar sungai tersebut. Dia membuka sendalnya lalu mencelupkan kakinya yang lelah ke air yang segar, dia membuat pola lingkaran dengan kedua kakinya.

Dingin air begitu nyaman di kakinya, melepas lelah setelah berlari hampir seharian. Segarnya air sungai itu membuatnya ingin berendam di dalam Sungai yang begitu indah dan tenang, sungai ini mengingatkannya dengan sungai dekat tinggalnya dulu bersama ibunya.

Pemandangan yang terbentang dihadapannya membuat sebuah senyum terukir di wajahnya, semua misi yang diembannya, rasa penasarannya terhadap youkai misterius itu telah menghilang begitu saja tertelan oleh kekagumannya terhadap keindahan alam yang terbentang di depan matanya "Indah" gumamnya. Baru saja Kagome menyadari aura dan bau dari keberadaan youkai lain, saat suara terdengar.

"Nikmatilah selagi kau masih bisa, karena ini adalah tempat terakhir yang kau pijak di bumi ini wanita jalang" suara seorang laki-laki yang tidak dikenalnya.

Kagome menoleh dan mendapati sekelebatan bergerak dengan cepat ke arahnya, pedang sudah diayunkannya berusaha menebas kepala Kagome. Dia menghindar, pedang itu membelah batu besar yang tadi di dudukinya menjadi dua bagian. Dia begitu kaget, terlena oleh alam sesaat hampir saja membunuhnya.

"Siapa kamu?" kedua alis Kagome terangkat, kaget menerima serangan yang tiba-tiba. "Setidaknya perkenalkan namamu dulu sebelum menyerang orang lain" kata Kagome dengan sengit.

"Kau tidak pantas untuk diberi penghormatan seperti itu, pelacur" laki-laki itu berlari berusaha memberi serangan yang sama, yang dengan mudah dihindari Kagome.

Kini dia bisa melihat si penyerang lebih seksama, dia memakai suikan berwarna hijau dan hakama berwarna abu-abu terbuat dari sutra seperti yang Sesshoumaru kenakan lengkap dengan pelindung dada dan bahu terbuat dari besi. Youkai penyerangnya itu tergolong youkai dari kelas atas dilihat dari penampilannya, laki-laki muda itu berambut silver sebatas kuping, wajahnya terasa familiar. Sepertinya dia pernah melihat bentuk hidung, rahang dan mulut yang sama baru-baru ini. Laki-laki itu membuang ludah, wajahnya gelap terselimuti oleh amarah dan dendam.

Youkai itu berdiri dengan tatapan menghina "Beraninya kau membunuh ayahku" nadanya muak, tangannya terkepal. Nafasnya memburu, tatapan matanya dipenuhi dengan nafsu membunuh.

"Ayahmu?" Kagome menimbang-nimbang, garis wajah itu mirip dengan lawan terakhirnya. "Kuroichi?" tanyanya.

"Jangan pernah kau sebut namanya dengan mulut hina mu itu" bentaknya, dia menyerang dengan membabi buta.

Youkai yang menyerang masih tergolong muda, cara bertarungnya masih kikuk, cenderung mengikuti teori. Di setiap serangan, gerakannya mudah ditebak karena emosi menguasainya. Dahaga untuk membalaskan dendam. Walaupun itu tidak bisa membawa kembali dia yang telah pergi. Pikiran itu menohok Kagome, seakan-akan dia melihat dirinya sendiri. Anak Kuroichi ini hanyalah sebuah pengulangan, mereka hanyalah pola. Sebuah lingkaran, dendam untuk dendam.

Tidak akan ada habisnya, akan selalu ada yang tersakiti, darah tertumpah dan air mata jatuh mengalir menjadi sungai kesengsaraan yang tiada berujung. Hanya iba yang dirasakannya untuk lawannya, karena youkai muda ini telah terseret paksa oleh Kagome di lingkaran setan yang tiada akhir.

Iba itu dengan segera menghilang sesaat setelah pedang itu menggores pipinya membuat darah mengalir dari luka sayat horizontal di wajah cantiknya, kenyataan menariknya kembali. Tidak ada tempat bagi sang lemah di kulit terluar bumi ini, tidak ada waktu untuk mengasihani lawan bila nyawa adalah taruhannya.

"Berhenti!" perintah Kagome, dia melompat mundur. "Jangan paksa aku untuk melawanmu" kata-katanya setengah memohon setengah memerintah, tetapi youkai itu terus menyerang tanpa memperdulikan perkataannya.

Kagome hanya bisa menghindar, dia agak kewalahan tanpa adanya pedang untuk melawan. Tapi jika dia adalah anak Kuroichi, dia pasti mudah dikalahkan pikirnya. Tidak ada jurus yang dialirkan youki yang keluar dari pedangnya, itu berarti dia masih belum bisa mengalirkan youki ke pedangnya untuk menyerang musuh.

Dia lemah, pikir Kagome. Youkai itu terus menyerangnya, di satu kesempatan Kagome berhasil menangkap tangan kanannya yang memegang pedang, menarik tangannya lalu memuntirnya hingga pedang itu terjatuh. Dia menendang pedang itu, pedang itu melesat jauh lalu jatuh di semak-semak yang rimbun di pembukaan hutan. Musuhnya menggeram, tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya.

"Aku sudah memperingatkanmu, jangan paksa aku untuk membunuhmu. Kau buka tipe laki-laki yang ingin aku bunuh" ujar Kagome dingin, sambil melotot kepada youkai remaja yang tak diketahui namanya itu.

Geraman marah keluar dari mulutnya "Beraninya kau membuat dia mati tidak terhormat, mati di tangan seorang wanita" dia melompat mengarahkan pukulan dan tendangannya ke arah Kagome tetapi meleset. "Terlebih lagi dia mati ditangan pelacur menjijikkan sepertimu!" Nafasnya memburu, dia berlari untuk kembali menyerang.

"Benarkah mati di tangan wanita tidak terhormat? Apakah kau juga merasa sangat terhina telah dilahirkan oleh seorang wanita, hah?" Kagome berbicara sambil sibuk menghindar dari serangan lain yang dilayangkan oleh lawannya.

"Kau begitu menghormatinya ya?" tanyanya datar, nadanya hampir terdengar sedih.

"Tutup mulut sialmu itu dan lawan aku!" teriaknya.

"Aku tidak akan melawanmu, aku sedang tidak ingin" Kagome membalikkan badan, dia berjalan pergi meninggalkan youkai muda itu.

"Kau akan menyesal telah memunggungi aku wanita jalang" dia masih berdiri di tempatnya, semakin marah karena merasa diremehkan oleh seorang wanita.

"Aku akan bersedia melawanmu sepuluh tahun kemudian, persiapkan dirimu saat itu aku akan melawanmu" nada suara Kagome malas.

"Aku, Tomoaki, tidak akan mundur menghadapi wanita murahan sepertimu" suaranya berat dan dalam, dia menggeram.

Matanya berubah menjadi merah, otot-otot menonjol dari tubuhnya seakan-akan ingin meledak di dalam tubuhnya sendiri. Bentuk wajahnya mulai berubah, pakaiannya terkoyak-koyak. Tidak ada lagi laki-laki tanggung yang mengaku bernama Tomoaki, di hadapannya kini berdiri seekor serigala besar berwarna cokelat ke abu-abuan dengan saliva yang menetes dari mulutnya.

Tubuh aslinya sangat besar, tingginya lebih dari empat meter. Taring dan cakarnya berpendar kehijauan, menandakan bahaya bagi apa saja yang disentuh olehnya. Saliva berwarna keijauan itu seperti magma yang melelehkan apa saja di sekelilingnya, bahkan batu-batu besar di tepi sungai menjadi korban keganasan racun yang terkandung di dalamnya.

Kagome menghela nafas berat "Apakah kau menyebut setiap wanita yang kau temui dengan sebutan pelacur?" hidung Kagome berkerut di tengah, menunjukkan rasa jijiknya. "Kau persis sepertinya, kalian butuh bantuan seseorang untuk mencuci mulut kalian" ejeknya, monster itu hanya meraung sebagai balasan dari kalimat Kagome.

Saat batu-batu itu bertemu dengan saliva monster itu timbul bunyi desisan yang dikenalnya, tak lebih dari hitungan menit batu-batu itu telah berubah menjadi bubur hijau kehitaman mengalir ke dalam aliran sungai. Kagome menyayangkan keindahan dan kebersihan air sungai itu kini telah terkotori oleh liur monster yang berusaha membunuhnya, dia marah kepada monster bodoh itu. Sore harinya yang indah, setitik kebahagiaan yang ia rasakan hanya dengan menikmati pemandangan disekitar air terjun ini kini telah hancur sudah, dia akan merasakan akibatnya karena telah mengganggu Kagome.

Serigala raksasa berbulu abu-abu gelap itu menggeram sebelum melayangkan cakarnya yang berpendar kehijauan ke arah Kagome, yang lagi-lagi bisa menghindar. Monster itu melompat dengan lincah ke tempat Kagome mendarat dari lompatannya, Kagome tidak bisa menghindar kali ini. Lawannya lebih besar dan tak seperti dugaannya, ternyata Tomoaki lebih cepat dalam wujud aslinya.

Cakarnya menggores kedua kaki Kagome, baru saja Kagome akan tersenyum karena berpikir luka yang dia dapat tidak parah. Tetapi desisan yang berasal dari kakinya mengingatkannya akan racun yang terkandung di cakar, saliva, dan taring musuhnya. Disaat itu pulalah dia merasakan, sakit yang teramat sangat berasal dari kakinya. Kakinya kini mengeluarkan asap dan bunyi desisan, tulang di bagian kakinya mulai terlihat.

Serigala besar dihadapan Kagome menyeringai menang, suara geraman bergema dari dalam dadanya seakan-akan menertawakannya. Kagome terjatuh di kedua lututnya, dia mengatupkan rahangnya kuat-kuat agar tidak menjerit kesakitan karena itu pasti akan menambah kepuasan musuhnya karena berhasil mengalahkannya. Racun sial! Hanya karena satu goresan luka kecil saja dia sudah tidak berdaya, pikirnya. Rasa sakit semakin menyengatnya, busa kuning kecoklatan semakin melebar menutupi kakinya yang terlahap oleh racun.

Dia menyesal telah memandang remeh musuhnya, kini dia berlutut tak berdaya menunggu belas kasihan musuhnya agar dengan segera mengakhiri hidupnya. Monster itu memandangnya lekat-lekat dengan mata merahnya yang menyala oleh api kepuasan, dia mendorong Kagome dengan punggung kaki serigalanya, sehingga Kagome jatuh terlentang di atas rerumputan.

Bau rumput yang lembab terasa segar di hidungnya, meredakan sedikit sakitnya. Sakit yang dirasakannya semakin lama semakin terasa hebat, seluruh daging yang menempel di kakinya bagaikan di sayat tipis-tipis dengan amat sangat perlahan dengan pisau yang dibakar oleh bara api.

"Hidup..tetap hi..dup.. ba..ha..gia..." kata-kata terakhir ibunya kembali berkelebatan di otaknya.

Ingatan itu menghantuinya, pesan terakhir ibunya yang tidak ia bisa penuhi. Dia belum mencicipi kebahagiaan yang sejati yang diciptakan untuknya semenjak kepergian ibunya, tetap hidup? Dia memang tetap hidup hingga saat ini, namun dia belum benar-benar merasakan hidup! Memang dia merasakan hidup setiap kali dia hampir terbunuh, tapi pasti bukan itu maksud ibunya.

Disini dia terbaring menunggu kematian, tidak ada penyesalan. Hanya kehampaan yang tersisa, tidak ada yang tersisa untuknya di dunia ini. Dia membuka mata melihat wajah monster buas itu kini tepat di hadapannya, hanya sejengkal jarak Kagome dan taring-taring tajam yang siap mengoyaknya seperti pisau yang dapat dengan mudah mengoyak tahu.

Tubuh Kagome diinjak oleh kaki kanan mahluk itu, dia terperangkap diantara cakar-cakarnya. Matanya membelalak merah, taring mencuat terpampang oleh seringaian ganasnya. Saliva beracunnya menetes-netes di kanan kiri kepala Kagome, tanah berdesis meleleh menimbulkan asap dengan bau yang memuakkan.

Udara panas dengan bau yang membuat perut mual keluar dari hidungnya menerpa wajah Kagome saat dia mendengus kesenangan karena sebentar lagi dendam ayahnya akan terbalaskan, kehormatan akan diraih Tomoaki kembali dengan menggigit putus kepala musuhnya dari badannya. Dia akan membawa kepala itu pulang untuk diperlihatkan kepada para youkai yang lain, agar mereka tidak pernah berani terhadap keluarganya yang masih penguasa wilayah bagian Selatan.

Sakit di kakinya sudah tidak bisa dia rasakan lagi, tidak ada bedanya baginya bila dia masih mempunyai kaki ataupun kaki itu sudah meleleh. Kagome tidak tahu apakah itu artinya bagus atau semakin buruk dia tidak perduli, toh sebentar lagi mahluk itu akan memisahkan kepala dari tubuhnya.

Kagome sudah tidak sanggup lagi membuka matanya, tenaga yang tersisa telah menipis. Hanya pendengarannyalah yang masih berfungsi, dia mendengar suara geraman di depannya, dan suara geraman yang lebih rendah di kejauhan.

Tubuhnya telah lumpuh, dia tidak bisa menggerakkannya sama sekali. Dia tidak bisa merasakan apapun, entah kakinya masih menyatu dengan tungkainya atau tidak dia tidak tahu. Yang dia tahu bahwa sepertinya kepalanya masih menyambung dengan badannya, dia masih bisa mendengar detak jantungnya, tarikan nafasnya di sela-sela keributan di sekelilingnya. Lagi-lagi gelap menguasainya, memeluknya erat tidak bersedia mengendurkan rangkulannya.

Di kegelapan dia hanya terdiam, menanti apapun yang akan datang menjemputnya kematian ataukah kehampaan di dalam kegelapan abadi? Tidak bisakah kematian itu berarti benar-benar mati tanpa adanya reinkarnasi? Dia tidak mau mengulangi kehidupan seperti miliknya kali ini, dia hanya berharap kedamaian di alam lain.

Bukan kehidupan yang harus dijalaninya lagi setelah dia mati, dia tidak mau terlahir kembali bila hidupnya penuh dengan penderitaan. Dia tidak mau tersiksa oleh hal yang sama, tersiksa karena kehilangan orang yang dicintai.

Suara benturan besar terdengar, lalu suara hantaman keras. Suara pohon-pohon tumbang, suara burung-burung dan binatang lain yang mencicit kaget. Suara geraman dalam dan benturan silih berganti.

Racun Tomoaki mulai mengkontaminasi aliran darahnya kemudian mengalir ke seluruh tubuhnya, andaikan dia mau Kagome tidak bisa membuka mata. Lolongan yang menyayat hati mengakhiri keributan itu, lolongan kesakitan yang terakhir dia dengar sebelum dia kehilangan kesadaran.


A/N : Cliffhanger, yeah i love and i hated it! Chapter yang asik buat ditulis. Hell yeah, i always love fight scene.

Sesshoumaru! Kenapa setiap liat dia dan denger suaranya di anime bikin gw nahan nafas hahaha XD

Jgn lupa review, gw penasaran bgt sama apa yg kalian pikirin ttg chapter atau keseluruhan cerita ini oke! Thanks ^.~