BAB 12
Hari pertamanya dalam kebebasan dan Kyungsoo luar biasa menikmatinya. Rumah mungil yang dikontraknya masih tertata rapi seolah-olah tidak pernah ditinggalkan sebelumnya. Mungkinkah Jongin mengirimkan orang-orangnya untuk membersihkan rumah ini? Kyungsoo menggelengkan kepalanya dan mencoba menghapus bayangan Jongin dari pikirannya. Dia harus melupakan lelaki itu dan melangkah maju.
Pagi itu yang dilakukan oleh Kyungsoo pertama kali adalah memeriksa kulkasnya dan mengerutkan kening ketika menemukan kulkasnya penuh bahan makanan. Ini pasti pekerjaan lelaki itu, gumam Kyungsoo, menolak menyebut nama Jongin demi usahanya melupakannya. Tetapi Kyungsoo tidak mau membiarkan gangguan ini merusak hari pertama sayuran, daging sapi, dan telur. Lalu dia membuat tumis daging dengan sayuran dan telur yang berbau harum, setelah menuang masakan harum itu dari wajan, Kyungsoo menuang teh hangat yang sudah diseduhnya tadi pagi ke cangkir berwarna putih, dan meletakkan semuanya di meja. Sambil menyantap makanannya Kyungsoo menyalakan komputernya.
Hal pertama yang harus dilakukannya adalah mencari pekerjaan, karena Kyungsoo harus bertahan hidup. Seperti semula. Seingat Kyungsoo, dirinya masih punya tabungan di rekeningnya, tidak banyak memang hanya cukup untuk bertahan hidup selama satu sampai dengan dua bulan setelah dikurangi pembayaran kontrak rumah kecil ini secara bulanan. Setelah itu Kyungsoo harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri sekaligus membayar tempat tinggalnya, kalau Kyungsoo tidak bisa melakukannya, dia akan menjadi gelandangan. Jadi, waktunya untuk mencari pekerjaan sangatlah sempit.
Oh ya, hal kedua yang harus dilakukannya adalah mengambil uang tabungannya, mungkin nanti siang dia akan ke bank. Kyungsoo menghirup tehnya yang terasa harum dan meneguknya dengan tegukan panas yang nikmat. Lalu mulai menyantap sarapannya sambil membuka situs pencari pekerjaan di komputernya. Lowongan kerja… lowongan kerja yang cepat dan sesuai kualifikasinya… mata Kyungsoo bergerak cepat dan mencatat beberapa perkerjaan yang sesuai. Dia mengirimkan email surat lamaran ke beberapa perusahaan tersebut sambil menghabiskan sarapannya.
Ketika Kyungsoo selesai melakukan kegiatannya, waktu sudah hampir jam dua belas siang. Kyungsoo teringat bahwa dia harus ke Bank, dengan bergegas Kyungsoo mengambil tas kecilnya dan hendak keluar rumah ketika ada yang mengetuk pintunya. Seketika Kyungsoo waspada. Dia tidak pernah punya teman sebelumnya. Jadi, itu tidaklah mungkin teman yang bertamu. Lagipula, dalam penyamarannya waktu itu karena berencana membalas dendam kepada Jongin, tidak banyak yang tahu kalau kyungsoo tinggal di rumah mungil ini.
Apakah itu musuh Jongin yang ingin mencelakainya? Kyungsoo bergidik ngeri. Kemudian menggelengkan kepalanya, berusaha menenangkan diri. Tidak, Jongin pasti sudah mengurus masalah itu sebelum memutuskan melepaskan Kyungsoo. Jadi, siapa yang sedang mengetuk pintunya saat ini? Dengan hati-hati Kyungsoo mengintip melalui jendela sebelah dan menemukan seorang lelaki dengan setelan jas mahal dan resmi berdiri di depan pintunya. Dari penampilannya, tampaknya lelaki itu lelaki baik-baik. Tetapi penampilan bisa menipu bukan? Kyungsoo masih tidak bisa percaya bahwa Dokter Teddy yang begitu baik dan selalu tersenyum itu ternyata adalah psikopat berjiwa kejam.
Kyungsoo meraih pisau dapur dan membuka pintu dengan hati hati, membiarkan rantai tetap menahan pintu itu,
"Siapa?," Kyungsoo menatap pria tampan dalam balutan jas rapi itu sambil mengerutkan keningnya.
"Selamat siang, Anda Nona Kyungsoo? Saya Jongdae, pengacara yang dikirim kemari"
Pengacara?,
"Pengacara untuk apa? Saya tidak berkaitan dengan masalah hukum apapun," Kyungsoo masih mengintip dari pintu, belum mau membukanya, menatap Jongdae dengan
curiga.
"Saya dikirim untuk menyerahkan dokumen-dokumen kepada Anda," Jongdae tampak berdehem memikirkan sesuatu, "Anda mungkin tidak mengenal saya, tapi saya teman Chanyeol dan Baekhyun"
Kyungsoo tertarik, "Apakah Baekhyun yang mengirimmu kemari"
"Sayangnya bukan, meski Baekhyun menitip salam dan berharap kalian bisa bertemu di lain kesempatan," Jongdae mengangkat bahu, "Saya dikirim oleh Jongin"
Kyungsoo mengernyitkan kening, setelah berpikir sejenak, dia berpendapat bahwa lelaki yang mengaku pengacara ini tampak meyakinkan. Dia meletakkan pisaunya dan masih dengan waspada dia membuka pintunya.
"Boleh saya masuk, Anda boleh tenang, saya bukan orang jahat," Jongdae tersenyum dengan gaya profesional.
Kyungsoo mempersilahkannya masuk, dan dia duduk menatap lelaki itu mengeluarkan berkas-berkas yang tampak penting dari tas kerjanya.
"Ini adalah surat kepemilikan rumah ini, Jongin telah membelinya atas nama Anda. Dan ini nomor rekening yang dibukakan Jongin atas nama Anda, seluruh kelengkapannya ada di dalam amplop, Anda tinggal menggunakannya," Jongdae meletakkan berkas-berkas itu dalam map terbuka di meja lalu tersenyum lagi,
''Saya hanya diperintahkan menyerahkan berkas-berkas ini kepada Anda, kalau semua sudah lengkap, saya akan berpamitan," Lelaki itu beranjak dari duduknya meninggalkan Kyungsoo yang masih menatap kertas-kertas di meja itu dengan kaget. Surat rumah? Rekening tabungan? Matanya melirik sekilas pada surat-surat itu. Semua atas namanya!
"Tunggu dulu! Saya tidak tahu sebelumnya tentang surat-surat ini! Saya tidak bisa menerimanya!"
"Nona," Jongdae menyela sudah siap pergi dari rumah itu.
"Saya hanya menyampaikan apa yang ditugaskan kepada saya, kalau Anda ada pertanyaan, mungkin Anda bisa menghubungi Jongin langsung" Dan Jongdae pun pergi meninggalkan Kyungsoo yang masih tercenung dan bingung menatap berkas-berkas di depannya.
###
"Saya ingin bertemu tuan Kim Jongin." Kyungsoo bergumam gugup kepada resepsionist di lobby kantor yang mewah itu. Kemewahan lobby itu begitu mengintimidasi dan Kyungsoo merasakan semua mata memandangnya, seolah dia orang aneh yang salah tempat. Tangannya memeluk amplop berkas yang diberikan Jongdae kepadanya tadi siang dan berusaha menantang tatapan mata tajam dari resepsionist yang menatapnya curiga.
"Kim Jongin kata Anda? Anda yakin? Kalau Anda ingin melamar pekerjaan, mungkin bisa Anda titipkan di sini…"
"Saya tidak ingin melamar pekerjaan," Kyungsoo mulai merasa jengkel menerima tatapan meremehkan dari resepsionist itu, "Tolong atur pertemuan saya dengan Kim Jongin"
"Nona, saya tidak bermaksud menyinggung Anda, tetapi Tuan Kim Jongin tidak mungkin bisa ditemui semudah itu, Anda harus membuat janji pertemuan yang rumit dengan sekretarisnya dulu…"
"Biarkan dia masuk, dia datang bersamaku. Saya ada janji temu dengan Jongin jam dua," sebuah suara yang dalam di sebelah Kyungsoo mengagetkannya. Kyungsoo menoleh dan menyipitkan matanya. Sedikit silau akan ketampanan lelaki yang berdiri di sebelahnya. Well satu lagi lelaki dengan anugerah kesempurnaan fisik yang luar biasa. Batin Kyungsoo sambil menatap Chanyeol yang memakai jas warna hitam dan tersenyum samar di sebelahnya. Tapi untunglah yang satu ini lelaki baik dan menyayangi isterinya. Mau tak mau Kyungsoo mengingat kemesraan Chanyeol dan Baekhyun di pesta malam itu, dan merasa kagum melihat besarnya cinta yang terpancar dari Chanyeol dan Baekhyun ketika mereka bertatapan. Resepsionist itu menatap Chanyeol dan sudah pasti mengenalinya,
"Oh, Tuan Park Chanyeol, selamat datang," sikapnya berubah ramah dan Kyungsoo mencibir atas perbedaan perlakuan yang diterimanya, apalagi resepsionist itu menatap Chanyeol dengan tatapan memuja, "Mohon maaf, tadi siang kami sudah mengirimkan pesan kepada sekretaris Anda bahwa pertemuan hari ini dibatalkan, Tuan Jongin mendadak harus ke luar negeri".
Chanyeol dan Kyungsoo sama-sama mengerutkan keningnya. Jongin ke luar negeri?
"Aku tidak menerima pesan itu," gumam Chanyeol tajam, membuat resepsionist itu menunduk gugup hingga Kyungsoo merasa kasihan. Tetapi kemudian Chanyeol mengangkat bahunya,
"Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke kantor dan mengganti waktuku yang tersia-siakan untuk kemari," Chanyeol menoleh kepada Kyungsoo,
"Kalau waktuku tersia-siakan aku akan terlambat pulang ke rumah". Kyungsoo mau tak mau menahan senyum. Chanyeol tampak lebih kesal karena terpaksa terlambat pulang daripada karena batal bertemu Jongin
"Aku akan kembali ke kantor, oh ya, Baekhyun menitip salam kepadamu," dengan senyumnya yang mempesona, Chanyeol mengedipkan sebelah matanya ramah, lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi dari lobby itu. Kyungsoo menatap punggung Chanyeol yang menjauh dan akhirnya tersenyum. Betapa beruntungnya Baekhyun memiliki pasangan yang luar biasa seperti Chanyeol…
"Nona Kyungsoo?," kali ini sebuah suara yang familiar menyapanya. Kyungsoo menoleh dan mendapati Minjoong yang berdiri menatapnya, baru saja keluar dari lift,
"Apa yang Anda lakukan di sini?" Kyungsoo mengerjapkan matanya,
"Aku mencari Jongin," ditunjukkannya amplop berkas itu kepada Minjoong,
"Ini… aku ingin mengembalikan berkas-berkas ini" Minjoong menatap berkas-berkas itu dan mengerti, "Tuan Jongin ingin Anda menerimanya"
"Aku tidak mau menerimanya, aku tidak ingin berhutang budi kepadanya"
"Itu uang anda," sela Minjoong tenang, "Itu adalah bagian saham Anda dari perusahaan ayah Anda yang sudah di take over oleh Tuan Jongin" Kyungsoo tertegun. Bagian sahamnya? Dia tidak pernah mendengar ini sebelumnya
"Bagian saham ini, sesuai dengan surat perjanjian jual beli akan diberikan kepada Anda begitu usia Anda genap 25 tahun," Minjoong menatap sekelilingnya yang ramai dan tampak tidak nyaman,
"Mari saya akan jelaskan kepada Anda"
###
Dia dibawa ke sebuah ruangan dengan perabot kayu dan nuansa cokelat dan elegan di lantai dua. Minjoong duduk di sofa di depannya dan mempersilahkan Kyungsoo duduk,
"Mari duduk dulu, Anda ingin kopi?" Kyungsoo menggelengkan kepalanya, terlalu tercengang dengan semuanya yang tampak begitu tiba-tiba.
"Tuan Jongin saat ini sedang ada di Italia ada beberapa urusan yang mendesak di sana," Minjoong mengubah posisi duduknya supaya nyaman, "Seharusnya dari awal saya menceritakan ini kepada Anda, tetapi Tuan Jongin menahan saya." Cerita apalagi? Kejutan apa lagi? Jantung Kyungsoo berdegup kencang.
"Tuan Jongin tidak pernah menghancurkan perusahaan ayah Anda, apalagi membuat ayah Anda bangkrut," Minjoong mengangkat bahunya,
"Anda boleh tidak percaya, tetapi Anda bisa mencari informasi di manapun, yang dilakukan Tuan Jongin bukanlah membangkrutkan perusahaan-perusahaan, dia menolong perusahaan-perusahaan yang sudah hampir bangkrut dan menghidupkannya lagi. Banyak perusahaan yang sudah dia take over menjadi berlipat-lipat lebih maju berkat kehebatan tuan Jongin" Kyungsoo mengerutkan keningnya membantah,
"Tetapi perusahaan ayahku baik-baik saja sebelum ayah membuat perjanjian dengan Jongin, kami sama sekali tidak bangkrut!," Kyungsoo teringat gaun-gaun dan perhiasan mewah yang dibelikan ayahnya untuk ibunya, pelayan-pelayan yang hilir mudik siap sedia memenuhi kebutuhan mereka, rumah mewah mereka yang nyaman, mobil dan segala kemewahan lainnya yang dicukupkan ayahnya waktu itu. Ayahnya tidak mungkin bangkrut!
"Ayah Anda menyembunyikan hal ini dari keluarganya, dia tidak ingin ibu dan Anda merasa cemas," Minjoong menghela nafas,
"Anda boleh tidak percaya kepada saya, tetapi biarkansaya bercerita dulu, setelah itu Anda boleh memutuskan. Apapun penerimaan Anda nanti, saya tidak akan mempermasalahkan, yang pasti tidak ada sedikitpun kebohongan dari saya kepada Anda"Mata Minjoong menerawang ke masa lalu ketika mulai bercerita.
"Ayah Anda datang kepada Tuan Jongin waktu itu, memohon suntikan dana dan perjanjian kerja sama. Tuan Jongin sebenarnya tidak tertarik dan dia sudah siap menolak mentah-mentah. Perusahaan ayah Anda yang sudah benar-benar kolaps akibat manajemen yang kacau balau, akan
membutuhkan biaya dan perhatian yang luar biasa besar untuk memperbaiki semuanya. Tetapi kemudian ayah Anda memberikan penawaran kepada tuan Jongin"
"Penawaran?" Minjoong menatap Kyungsoo hati-hati, "Ya… penawaran yang sebenarnya konyol, tapi langsung membuat tuan Jongin berubah pikiran"
"Penawaran apa?"
"Anda" Kyungsoo tertegun, pucat pasi, "Aku?"
"Ayah Anda sepertinya sudah sangat putus asa sebelum meminta bantuan kepada tuan Jongin, harap Anda memaklumi," Minjoong menghela nafas, "Mungkin Andalah satu-satunya harta yang dimilikinya yang bisa ditawarkannya kepada tuan Jongin, mengingat waktu itu reputasi tuan Jongin
sebagai playboy sangat terkenal. Mungkin ayah Anda berfikir bisa menggunakan Anda untuk menarik hati tuan Jongin."
Kyungsoo hampir tidak bisa berkata-kata, lidahnya kelu. Ayahnya menawarkannya kepada iblis jahat itu sebagai ganti suntikan dana untuk perusahaannya? Tidak mungkin! Ayahnya tidak mungkin melakukan itu!
"Saya tahu Anda tidak percaya, tetapi kami memiliki bukti penawaran itu yang nanti akan saya tunjukkan kepada Anda. Sekarang saya akan melanjutkan cerita saya," Minjoong berdehem tampak amat mengerti berbagai emosi yang berkecamuk, silih berganti di wajah Kyungsoo, "Segalanya pasti akan berbeda jika yang ditawarkan bukan Anda. Tuan Jongin, saya yakin akan menolak mentah-mentah ayah Anda. Tetapi Tuan Jongin langsung berubah pikiran ketika beliau melihat foto Anda" Fotonya yang sangat mirip dengan almarhumah isteri Jongin. Dada Kyungsoo terasa perih menyadari kenyataan itu.
"Yah Anda mengerti kan…walau hanya dengan tatapan sekilas saja pasti mudah menyadari kemiripan Anda dengan…," Minjoong menghentikan kata-katanya, menyadari wajah Kyungsoo yang pucat pasi
"Anda tidak apa-apa nona?" Kyungsoo menganggukkan kepalanya, "Tidak, aku tidak apa-apa," suaranya terdengar serak, susah payah berusaha dikeluarkannya.
"Tuan Jongin langsung menyetujuinya, tetapi dia tidak mau terburu-buru. Menurut perjanjian itu pada usia 25 tahun Anda akan diserahkan kepada Tuan Jongin, sebagai isteri. Dan mas kawinnya dibayar di muka, Tuan Jongin tidak pernah melakukan take over kepada perusahaan ayah Anda, dia hanya memberikan dana yang luar biasa besar sesuai dengan permintaan ayah Anda….," Minjoong menatap Kyungsoo miris,
"Tetapi ayah Anda rupanya bekerja dengan manajemen yang tidak becus dan mengkhianatinya, uang itu ludes dalam sekejap dan bahkan perusahaan ayah Anda, bukannya terselamatkan malahan makin hancur. Ayah Anda lalu datang kembali meminta tolong kepada tuan Jongin"
Kyungsoo hanya termenung berusaha menyerap kata-kata Minjoong sebaik-baiknya. Apakah Norman berbohong? Tetapi lelaki itu tampak lurus dan jujur….. Kyungsoo cuma masih belum bisa menerima bayangannya selama ini terhadap ayahnya hancur lebur begitu saja. Jika apa yang dikatakan oleh Minjoong adalah kebenaran, maka Kyungsoo harus menerima kenyataan bahwa kehidupannya dulu bersama ayahnya yang bagaikan di negeri dongeng, sebagian besar hanyalah kebohongan semata. Kyungsoo sudah dijual menjadi isteri Jongin di ulang tahunnya yang ke 25, itu seminggu lagi. Kyungsoo mengernyit, dia sudah dibayar di muka. Rasanya seperti dihina dan dihantam secara bersamaan. Ingin rasanya dia berteriak kalau dia bukan barang, dia manusia dan dia punya kehendak yang bebas.
"Tuan Jongin sangat marah kepada ayah Anda, kesempatan yang diberikannya disia-siakan begitu saja oleh ayah Anda, dan tuan Jongin tidak mau memberikan kesempatan kedua lagi. Perusahaan itu tidak boleh ada di tangan ayah Anda lagi kalau tidak mau lebih hancur. Jadi, Tuan Jongin membelinya, dengan harga yang pantas, bahkan masih memberikan jatah bulanan kepada keluarga Anda setiap bulannya meskipun ayah Anda tidak berhak menerimanya," Minjoong menatap Kyungsoo dalam-dalam,
"itu semua karena Tuan Jongin mengkhawatirkan Anda" Jongin mengkhawatirkannya? Tidak mungkin! Lelaki itu hanya cemas, karena Kyungsoo adalah perempuan yang berwajah sama dengan isteri yang dicintainya, perempuan yang diharapkannya bisa menggantikan isterinya….
"Saya mengerti perasaan Anda, tetapi ada beberapa hal yang belum sempat saya jelaskan kepada Anda waktu itu ketika Tuan Jongin menyela pembicaraan kita," Minjoong bekata-kata lagi, "Memang Anda pasti akan melihat bahwa Tuan Jongin hanya menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Yura. Tetapi tidak. Seiring dengan berjalannya waktu, yang dilihat Tuan Jongin adalah benar-benar Anda, diri anda sendiri" Seiring berjalannya waktu?
Minjoong mengangguk, seolah bisa membaca pertanyaan di mata Kyungsoo,
"Yah selama ini kami mengawasi Anda. Rumah mungil yang Anda tempati bersama keluarga Anda waktu itu, merupakan salah satu properti milik tuan Jongin…. Semua sudah diatur supaya kehidupan Anda baik-baik saja meskipun ayah Anda bangkrut"
Tiba-tiba Kyungsoo menyadarinya. Kemudahan-kemudahan yang dia dapat tanpa sengaja, seperti rumah mungil itu yang bisa didapat ayahnya dengan harga yang sangat murah….
"Kami bahkan tahu bahwa Anda berencana membalas dendam atas kematian orang tua Anda," wajah Minjoong melembut melihat pipi Kyungsoo merona merah, lalu menatap Kyungsoo dengan menyesal, "Kematian orang tua Anda juga mengejutkan kami, Kyungsoo. Percayalah, tuan Jongin terkejut atas hal itu. Dia memang terkenal kejam dan jahat tapi yang pasti dia tidak pernah bermaksud melukai orang yang lemah. Dia sudah berusaha membantu ayah Anda – demi Anda,"
Minjoong menekankan kata-katanya, "Semua yang terjadi bukan kesalahan Tuan Jongin" Kyungsoo merasa malu. Bagaimana lagi? Perasaan itulah yang sekarang menyergapnya. Jika kata-kata Minjoong ini benar… dan sepertinya memang semua adalah kebenaran.. maka Kyungsoo harus merasa malu, Semua dendamnya selama ini, pemikirannya selama ini, kemarahannya selama ini, dan kebenciannya semua ini, semuanya dibangun atas persepsi yang benar-benar salah. Dan Jongin bahkan tidak pernah membela diri dengan segala cacian, makian, dan tuduhannya. Kenapa Jongin tidak pernah membela diri dan membiarkannya makin liar dengan emosi
dan kemarahan membabi butanya?
"Sebentar lagi ulang tahun Anda… sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani oleh ayah Anda… Jongin akan memperisteri Anda" Kyungsoo membelalakkan matanya. Apakah Jongin masih menganggap perjanjian bertahun-tahun lalu itu dengan serius? Tetapi perjanjian itu melibatkan uang yang tidak sedikit, yang diberikan Jongin kepada ayahnya dan kemudian disia-siakan begitu saja. Kalaupun Kyungsoo menolak Jongin, maka dia menanggung hutang yang sangat besar kepada lelaki itu.
"Apakah… apakah Jongin menyuruh Anda mengatakan semua ini kepada saya…?"
Minjoong langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Kyungsoo itu,
"Tidak. Tidak ada satupun perintah dari Tuan Jongin kepada saya untuk menceritakan ini semua, bahkan Tuan Jongin berkesan merahasiakan semua ini dari Anda," Minjoong tersenyum,
"Saya hanya memikirkan cara-cara Tuan Jongin, mengingat wataknya, beliau tidak akan menjelaskan apapun kepada Anda. Mungkin beliau akan menculik Anda lagi dan memaksakan pernikahannya dengan Anda, saya hanya menyiapkan Anda kalau itu benar-benar terjadi" Kyungsoo mengernyit,
"Mengingat selama ini dia selalu memaksakan kehendaknya, aku yakin dia akan melakukannya… jadi dia membebaskanku hanya sementara?" Minjoong mengangguk, minta permakluman, "Semoga Anda bisa menghilangkan semua dendam yang tidak perlu. Yang pasti -saya bisa menjamin itu-Tuan Jongin benar-benar peduli kepada Anda. Perlu Anda tahu, Tuan Jongin benar-benar serius ingin menikahi anda, beliau saat ini berada di Italia, mengunjungi makam nyonya Yura. Meminta izin kepada isterinya." Kyungsoo memejamkan matanya pedih. Setelah dendam itu menghilang, yang ada didadanya hanyalah kekosongan yang perih… kekosongan yang menyesakkan dadanya…. Hampir seperti… patah hati.
###
Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Kyungsoo sudah tahu hari ini akan tiba. Entah kenapa dia tahu, bahwa Jongin akan datang menjemputnya dan merenggutnya kembali, dan jantungnya berdegup kencang. Ketukan di pintu rumahnya membuatnya terlonjak, meskipun Kyungsoo sudah mengantisipasinya. Dan ketika membuka pintu, Kyungsoo bertatapan wajah dengan Jongin. Lelaki itu tampak luar biasa tampan, bahkan lebih tampan dari terakhir mereka bertemu. Mengenakan kaca mata hitam dan kemeja biru berlapis jacket khaki dan celana yang senada, dengan rambut cokelatnya yang acak-acakan. Dia seperti malaikat yang diturunkan di depan pintu Kyungsoo.
"Aku sudah tahu apa yang akan kau katakan," Kyungsoo berkata, mencoba mencari-cari mata Jongin, tetapi kesulitan karena kacamata hitam itu menghalanginya. Jongin terdiam, "Aku tahu kalau kamu tahu, Minjoong menceritakan pertemuan kalian," Lelaki itu menoleh ke belakang Kyungsoo, "Bolehkah aku masuk?"
***
Tbc
