Disclaimer: I do not own InuYasha!
Author Notes : Kekkai = barrier = penghalang/ pelindung
Hadajuban = pakaian dalam untuk wanita
Nagajuban = lapis kedua setelah hadajuban
Dihadapannya terbentang air terjun dan sungai, getaran Tenseiga telah berkurang namun detaknya semakin kencang. Alis Sesshoumaru berkerut, apakah dia telah melewati tempat dimana benda itu tersembunyi? Tak lama kemudian pedang itu kembali bergetar hebat, dia melangkah ke tepi sungai.
Saat itu dia bisa mencium bau hanyou itu mulai mendekatinya, dia melompat ke batu besar di dekat jatuhnya air terjun. Getaran Tenseiga kembali kencang, dia menggenggam untuk meredakan getarannya.
Dia melangkah masuk ke belakang air terjun, yang ternyata sebuah gua gelap dan lembab. Makam itu sebagai penanda, petunjuk-petunjuk itu sesuai dengan tempat ini. Tidak salah lagi, pikir Sesshoumaru. Sebuah tempat yang tak terkena sinar matahari, tak tertembus oleh angin, dan bukti yang tak terbantahkan adalah getaran dan detak Tenseiga.
Dia bisa mendengar hanyou itu mengutuk dirinya sendiri dengan jelas tak jauh darinya walau bunyi air terjun sangat gaduh di belakangnya, dia telah berhasil mengejarnya kesini. Tapi Sesshoumaru yakin kalau hanyou itu tidak akan dapat menemukannya selain dia telah menutupi auranya baunya juga tertutupi oleh air terjun.
Dia berjalan lebih jauh masuk ke dalam gua, jalan yang dilaluinya gelap pekat. Tapi kegelapan itu sama sekali tidak berpengaruh pada penglihatannya yang berbeda dengan manusia, setelah berjalan agak jauh gua itu buntu. Dia sangat yakin kalau ini adalah tempat penyimpanan sebuah benda peninggalan ayahnya.
Dia mengeluarkan Tenseiga dari sarungnya mengulurkannya secara horizontal lalu mengayunkannya, jalan buntu yang terlihat itu hanyalah sebuah penghalang yang diciptakan agar orang lain tidak dapat melewatinya, hanya orang yang dikehendakilah yang dapat melewatinya.
Cahaya biru muncul dari bekas tempat pedang itu di ayunkan di udara, jalan buntu itu menghilang. Lima kaki dihadapannya terdapat sebuah pedang panjang yang panjangnya lebih dari pedang yang lain mengambang di atas sebuah batu. Cahaya merah muda keunguan menyelimutinya membentuk lingkaran, sebuah penghalang lain lagi. Dia maju beberapa langkah, pedangnya masih bergetar.
Dia mengulurkan tangan melewati penghalang yang menyelimuti pedang itu, dengan mantap menggenggam pedang itu. Pedang itu tidak menolaknya, Tenseiga pun menunjukkan letaknya itu adalah bukti pedang itu adalah warisan untuknya. Sebuah Odachi, pedang yang bisa menebas musuh terkuat sekalipun. Dia memandang pedang Odachi dengan takjub.
Sesshoumaru keluar dari dalam gua di belakang air terjun, barang yang dia cari telah berada di tangannya. Suara geraman yang dalam dan suara rintihan tertahan hanyou itu sampai ke telinganya, bau darah hanyou wanita yang tercemar oleh racun tercium olehnya.
Dia melompat menembus tirai air terjun yang lebat, apa yang dilihatnya membangkitkan sesuatu di dalam dirinya. Hanyou wanita itu disana tergeletak tak sadarkan diri, kakinya terluka parah. Wajahnya kini tidak lagi dihiasi rona merah karena marah ataupun malu, kini wajahnya sepucat kertas. Detak jantungnya melemah, dia sedang sekarat!
Nafasnya pendek-pendek, bibirnya mulai membiru. Jika dia membiarkannya begitu saja lebih lama lagi dia akan mati, pedang hebat yang dimilikinya itu pun memiliki keterbatasan. Tenseiga hanya mampu membangkitkan seseorang dari kematian sekali saja, tidak lebih. Suatu desakan, itulah yang dirasakan oleh Sesshoumaru.
Pikiran itu menghantuinya, entah mengapa di dalam dirinya ada kebutuhan yang mendesak dan sangat sangat mendesak untuk menyelamatkan wanita itu. Dia harus melakukan sesuatu untuk menolongnya, secepat mungkin. Tidak pernah dia merasakan hal seperti ini sebelumnya, perasaan itu begitu kuat sehingga dia tidak mempunyai waktu untuk mempertanyakan kepada dirinya sendiri apa yang dirasakannya saat ini.
Dengan salah satu kaki depannya serigala besar itu menginjak tubuh wanita itu, saliva beracun menetes-netes di kanan kiri kepalanya. Mahluk itu bersiap-siap menggigit kepalanya. Namun sebelum itu terjadi, Sesshoumaru menebarkan youkinya. Energi youki itu begitu besar berasal dari seluruh tubuhnya, membuat rambutnya terombang-ambing oleh kekuatan yang tak terlihat oleh mata.
Matanya berubah merah darah, iris mata emasnya menjadi biru gelap, wajahnya mulai berubah begitupun dengan tubuhnya. Dengan sekejap dia sudah berubah ke bentuk aslinya, seekor anjing besar berbulu putih dengan tanda bulan sabit keunguan di dahinya dan dua garis magenta tanda youkai dari garis keturunan teratas. Sesshoumaru menggeram lalu melompat menabrak serigala itu, membuat tubuh serigala itu terpental beberapa puluh meter. Serigala itu balas menggeram, sangat merasa terganggu dan tertantang.
Dia tidak perduli lagi siapapun yang menghalangi jalannya untuk menghabisi wanita itu, youkai manapun akan dilawan olehnya. Walaupun dengan sekali pandang dia tahu lawannya adalah lawan yang tangguh, terlihat dari tanda di dahinya. Tetapi Tomoaki tidak perduli, harga dirinya dipertaruhkan. Berita telah tersebar, dia akan membuat kehormatan ayahnya kembali pulih dengan membunuh siapapun pembunuhnya dan semua yang menghalangi jalannya.
Dia bangkit, Sesshoumaru menyerangnya lagi sehingga dia kembali terpental. Kini mereka jauh dari sungai itu, jauh dari kemungkinan wanita itu akan terkena imbas oleh perkelahian mereka, tujuan Sesshoumaru berubah ke wujud aslinya telah tercapai.
Serigala itu berusaha menggigitnya, dia menghindar. Dia kembali menyerang Sesshoumaru kali ini dengan cakarnya yang berpendar dengan racun yang menyelimuti, dengan mudah Sesshoumaru menangkisnya dengan kakinya. Mereka bertarung dengan sengit, badan mereka penuh dengan cakaran.
Racun mereka sama-sama kuat begitupun daya tahan tubuh mereka, tubuh mereka tercipta dengan kandungan racun yang mematikan begitupun daya tahan tubuh mereka yang kuat terhadap racun yang lain sehingga tidak ada racun yang berpengaruh dari luka yang disebabkan masing-masing. Sesshoumaru berubah kembali ke wujud manusianya, dia mengeluarkan Bakusaiga dari sarungnya.
Dengan sekali tebas kepala serigala besar itu telah berguling di tanah, tak lama kepala serigala itu berubah kembali menjadi kepala manusia, tubuh serigala Tomoaki yang terpisah ratusan kaki itu pun kembali menjadi manusia.
Perkelahian yang bodoh, pikirnya. Telah banyak waktu yang telah terbuang, dia kembali ke tepi sungai tempat wanita itu ditinggalkannya sekarat. Dia meneliti lukanya sekilas, dengan cepat mengambil keputusan. Dia menggendongnya, tangan kanan memapah bagian atas tubuh Kagome dan tangan kirinya mengangkat bagian bawah tubuhnya, lalu Sesshoumaru terbang dengan kecepatan yang hanya bisa dihitung sebagai kecepatan cahaya.
Dia terbang ke arah Gunung Fuji, tempat dimana pusat mata air yang tersembunyi berada. Mata air yang bisa menyembuhkan luka oleh racun apapun, bahkan racun yang paling ganas sekalipun. Tidak ada obat-obatan herbal atau apapun yang mampu menyembuhkan karena racun yang begitu kuat, selain di tempat itu.
Tidak ada yang mengetahui rahasia tentang mata air itu selain garis keturunan penguasa youkai wilayah Barat, itu dilakukan untuk menjaga keberadaannya. Mata air yang dituju oleh Sesshoumaru adalah pusat dari mata air Oshino Hakkai, pusat dari delapan danau yang sangat indah di kaki Gunung Fuji. Kedelapan danau itu sangat dipercaya oleh manusia sebagai tempat yang bisa memurnikan pikiran kotor, tetapi para manusia tidak tahu kehebatan sebenarnya dari pusat mata air dari delapan danau itu.
Tanpa membuang-buang waktu dia menerobos masuk ke mulut gua, dia berdiri didepan suatu celah yang sepertinya terlalu kecil untuk dilewati oleh manusia. Celah yang terlihat itu hanya cukup lebar untuk dilewati oleh binatang kecil seperti kucing atau yang lainnya, tapi lagi-lagi itu merupakan sebuah kekkai atau penghalang.
Dengan satu tangan dia menggendong Kagome dan tangan yang lain menebas penghalang itu dengan Bakusaiga agar penghalang itu terbuka. Penghalang telah menghilang, sekarang wujud asli celah terlihat. Celah itu lebar hingga bisa dilewati dengan leluasa olehnya, Sesshoumaru terus terbang hingga dia tiba di jauh kedalaman gua tempat sebuah mata air yang mengalir. Disudut gua itu terdapat kolam kecil, di atasnya terdapat batu sebesar kepala manusia menonjol meneteskan air yang jatuh setiap tiga detik sekali.
Sesshoumaru berlutut, dia mendudukkan Kagome di tanah di bibir kolam tersebut. Sesshoumaru membuka ikatan obi, lalu mengendurkan kimono Kagome. Pandangannya meneliti luka yang telah melebar, tulang di tempurung lututnya telah terlihat. Kakinya sudah hampir tidak bisa dikenali sebagai kaki, bila dilihat sekilas kakinya seperti onggokan daging sisa buruan binatang buas yang ditinggalkan untuk para burung pemakan bangkai.
Kakinya dari bagian betis ke bawah itu sekarang hanyalah tulang yang ditempeli sedikit daging berwarna coklat merah kehitaman dan kulit yang menggantung tersisa di beberapa bagian.
Sesshoumaru menggendong Kagome masuk ke kolam kecil yang airnya hanya mencapai lutut orang dewasa, dengan perlahan dan hati-hati dia mendudukannya di kolam itu. Kini separuh tubuh Kagome telah terendam oleh air, tangannya menopang punggung Kagome. Hakama Sesshoumaru ikut basah, mokomokonya terombang-ambing pelan oleh air.
Perhatiannya terpaku pada wajah Kagome yang tak sadarkan diri, wajahnya begitu tentram dan sangat damai. Kematian selalu dekat mengelilinginya, pikirnya. Tak lama berselang suara detak jantungnya yang lemah mulai kembali ke berdentam di irama normal, perlahan-lahan nafasnya tidak lagi pendek-pendek.
Racun di kakinya perlahan-lahan menghilang, tulang kakinya tidak terlihat lagi. Daging mulai tumbuh, secara perlahan selapis demi selapis mulai menutupi lukanya. Lapisan lemak, daging, dan otot mengisi tempatnya semula, secara ajaib lapisan kulit mulai menutup kembali seperti sebelumnya seakan-akan tidak ada luka satu gores pun yang pernah menyentuhnya. Tetapi Kagome masih tidak sadarkan diri, walaupun suara jantungnya dan nafasnya mulai normal tetapi badannya masih tetap dingin. Bibirnya masih membiru, masih tidak ada rona yang mewarnai wajahnya.
-.
Diantara kondisinya yang setengah sadar, Kagome merasa seperti melayang di antara awan-awan putih yang hangat dan lembut. Kakinya seperti di hentak oleh sesuatu yang sangat menyengat, perih rasa sakit itu menusuk-nusuk hingga ke tulang, lalu sesuatu yang hangat mengalir di kakinya.
Kehangatan itu terasa mengalir ke seluruh tubuhnya, membuat untuk pertama kalinya dia mengalami mimpi indah di tidurnya. Matanya begitu berat untuk dibuka, tempat dia tidur begitu lembut, empuk, hangat dan sangat nyaman.
Itu wajar saja karena terakhir dia tidur di kasur adalah lima tahun yang lalu, dia bergelung lebih dalam masuk ke alam mimpi sambil memeluk kasurnya yang lembut. Entah berapa lama dia tertidur dia terkaget-kaget saat merasakan kasurnya yang hangat, empuk, dan lembut bergerak.
Dan dia lebih kaget lagi setelah dia sepenuhnya telah sadar, karena yang dia tiduri bukanlah kasur sama sekali namun mokomoko milik Sesshoumaru yang melingkari tubuhnya. Mokomoko itu begitu hangat dan lembut menopangnya, untuk sesaat Kagome bisa merasakan aliran darah di bawah lapisan mokomoko itu, benda itu seakan hidup!
Dia terlonjak, segera bangkit dari tidurnya yang nyaman. Tangannya masih membelai bulu-bulu yang halus itu, dia menarik tangannya melepaskan mokomoko itu sesaat setelah dia tersadar apa yang tangannya lakukan. Walau ada sedikit kekecewaan dirasakan olehnya, perasaan hangat saat memeluk benda itu telah menghilang.
Sesshoumaru berdiri disampingnya dengan segala keanggunannya, dia memandang Kagome dengan wajah datar. Kini Kagome bisa memperhatikannya dengan lebih jelas, kimono putih dengan corak bunga berwarna merah terbuat dari sutra lengkap dengan pelindung dada dan bahunya.
Kedua pedangnya disampirkan di obinya yang berwarna kuning, mokomoko memeluk bahu kanannya. Rambutnya yang silver panjang tergerai indah, tanda di dahinya menunjukkan status tingginya. Dua garis magenta di pipinya semakin membuat wajahnya terlihat sangat tampan, dingin, sekaligus mematikan.
Kagome memandang sekitar, dia berada di sebuah gua. Tidak ada cahaya matahari di gua itu namun dia bisa melihat dengan jelas, telinga anjingnya berkedut-kedut mendengar tetes air berirama, satu-satunya bunyi yang terdengar dengan jelas selain kedua nafas mereka. Dia berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi, yang dia ingat terakhir adalah dia mengikuti Sesshoumaru. Kagome menyeret tubuhnya yang masih terasa lemah untuk bersandar di dinding gua tidak jauh dibelakangnya.
Ingatan itu melesat dengan cepat ke kepalanya, potongan-potongan mozaik telah sempurna melengkapi ingatannya. Sesshoumaru yang menghilang, air terjun, musuh yang tiba-tiba menyerangnya, kakinya yang terluka hingga membuatnya kehilangan kesadaran, dan suara-suara yang terakhir dia dengar. Suara dentuman, benturan, dua geraman marah mahluk buas, lalu satu lolongan kesakitan yang mengakhiri kegaduhan.
Dia membuka kedua matanya, menatap kakinya yang masih utuh dengan terheran-heran. Lalu dia menyadari kimononya yang sudah tidak berada di tempatnya, dia hanya memakai hadajuban yang memamerkan lekuk tubuhnya yang semakin jelas terlihat dari kain putih tipis basah yang sangat melekat ke tubuhnya.
Lagi-lagi youkai itu telah menyelamatkannya, kali ini apa yang dia lakukan untuk menyelamatkannya? Air di kolam itu bau dengan darah dan racun, mungkin itulah yang menyembuhkannya. Karena itulah dia membawanya ke tempat ini, tapi mengapa dia menyelamatkannya?
Dia tidak menyukai perasaan lemah seperti ini, dia benci untuk mengakui bahwa dia berhutang banyak pada youkai itu. Youkai yang namanya belum dia ketahui, Kagome telah berjanji kepada dirinya sendiri pada pertemuan kedua mereka dia tidak akan membiarkan youkai itu menghilang lagi sebelum dia mengetahui namanya.
Bau youkai penyelamatnya kini menyelubungi tubuhnya, baunya seperti kayu-kayuan, hangat matahari, dan bau maskulinnya yang khas yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata. Itu suatu hal yang tidak dapat dipungkiri karena Kagome baru saja terbangun dengan mokomoko milik youkai itu yang membelit tubuhnya, menghangatkannya dan membuat bau tubuhnya menyelimuti.
Tapi yang paling mengganggu Kagome adalah bau khasnya itu membuat tubuhnya bereaksi dengan aneh, seperti ada yang menggelitik di bagian tertentu di tubuhnya. Sensasi yang menciptakan perasaan tertentu yang asing untuknya, suatu kebutuhan. Suatu kebutuhan yang baru baginya, yang tidak pernah di sangka akan dirasakannya di tengah semua kepahitan hidup yang melingkupinya.
Saat Kagome tidak lagi tenggelam di dalam pikirannya, dia menyadari bahwa Sesshoumaru menatapnya. Wajahnya datar dan dingin, tetapi sinar dimatanya membuat wajah Kagome memerah. Saat dia menyadari arah pandangannya tertuju kepada hadajuban yang tersingkap, kain putih tipis yang dipakainya sebagai pakaian dalam gagal menutupi kaki jenjang, paha, dan belahan dadanya.
Di musim panas ini terlalu panas baginya untuk memakai nagajuban, artinya tidak ada lagi penghalang antara dirinya dan tatapan youkai itu selain selembar kain tipis. Hadajubannya yang basah menjadi transparan, membuat semua lekuk tubuh yang berada di bawahnya dapat terlihat bila dilihat dengan seksama.
Dengan wajah yang memerah dia segera menarik hadajubannya, sebisa mungkin menutupi kulitnya yang terekspos. Sesshoumaru melengos tanpa mengatakan apa-apa dia berjalan ke mulut gua, rambutnya yang indah seperti melambai kepada Kagome.
"Tunggu" teriaknya, dia bangkit mengejar Sesshoumaru lalu terjatuh.
Dia segera bangkit berdiri Kagome tidak ingin dia menghilang lagi, sebelum dia menanyakan namanya dan dia ingin berterima kasih kepadanya kali ini dengan sepenuh hati. Youkai itu adalah salah satu dari banyak pertanyaan yang berputar di otaknya yang harus dia ketahui jawabannya.
Sesshoumaru menghentikan langkahnya.
"Terima kasih" ucap Kagome cepat sebelum Sesshoumaru menghilang dari pandangan, suaranya sedikit pecah. "Jika ada yang bisa kulakukan untuk membalasmu..." kata-katanya menghilang, suasana kembali hening, hanya tetesan air yang terdengar.
Sesshoumaru kembali berjalan tak lama dia telah menghilang dari pandangan, tanpa menoleh sedikit pun. Sesshoumaru meninggalkan Kagome yang terombang-ambing dalam kebimbangan yang teramat sangat dalam pertempuran dua sisi dirinya. Pertaruhan harga diri Kagome dan perasaannya yang tidak dia mengerti.
Apa yang dia rasakan, apa yang dia inginkan, saat ini dia sendiripun tidak mengetahuinya dengan pasti. Dia tidak terbiasa dengan kebaikan yang diterimanya, terlebih lagi kebaikan yang diterima dari youkai sepertinya. Kagome tertegun menatap dinding gua yang gelap, dia tertunduk.
Sesshoumaru berada di ambang celah kecil tempat kekkai terpasang, dia tidak mengerti mengapa dia melakukan semua itu. Mengapa hanyou rendahan membuatnya menjadi lembek, mengapa dia tidak membiarkan saja racun itu melumat tubuhnya dan membiarkannya tergeletak mati.
Mengapa dia harus repot-repot melakukan semua itu untuknya, seorang hanyou yang tidak dikenalnya. Dan mengapa hanyou itu membuatnya merasakan sesuatu yang lain dari tubuhnya, kebutuhan yang selama ini ditekannya mulai memberontak.
Tidak satupun youkai wanita yang pantas untuknya yang pernah ditemuinya, dan dia tidak tertarik untuk membiarkan dirinya mengalah kepada hasrat sesaatnya dengan youkai wanita mana saja yang dia temui karena menurut Sesshoumaru itu akan merendahkannya.
Mengapa hanyou itu berani membuatnya merasa lemah, membuatnya hampir tidak sanggup menahan diri untuk tidak terus menatap tubuhnya. Dia hampir saja tidak sanggup menekannya, dia merasa terhina karena tertarik dengan tubuh seorang hanyou. Mahluk rendah, sebuah penyimpangan yang dibencinya selama ini, sepanjang hidupnya, dan akan selalu.
Hanya dengan youkai wanita dengan garis keturunan terkuatlah dia akan membagi hasratnya, untuk menciptakan garis keturunan terbaik yang kuat seperti dirinya. Keturunan inu youkai yang murni, pewaris yang pasti akan dibanggakannya. Dia merasa bodoh, dia merasa marah. Marah kepada dirinya sendiri, dia berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan merendahkan dirinya sendiri seperti itu lagi. Tidak akan!
Kini bau wanita itu menyelimuti tubuhnya, dia membenci itu, karena baunyalah yang pertama kali menarik perhatiannya. Baunya seperti melati, madu, dedaunan, dan sesuatu yang tidak dapat dijelaskannya yang teramat menarik penciumannya, bau khasnya. Sudah beberapa saat dia menahan nafas, tidak ingin pikirannya terkotori oleh ingatan akan baunya.
Akhirnya dia menarik nafas lagi, dia bisa mencium baunya dari tempatnya berdiri walau dia terpisahkan jarak beratus-ratus kaki. Baru saja Sesshoumaru hendak melangkahkan kakinya, di saat itulah dia mendengar bisikannya. Suara wanita itu terdengar jelas di telinganya, walaupun suara itu hanyalah bisikkan lemah.
"Jangan pergi, kumohon.." suaranya seperti berbisik, tidak pernah dia memohon kepada selain ibunya.
Sesshoumaru mengepalkan tangannya hingga cakarnya yang panjang dan tajam menembus daging di telapak tangannya, dia menggeram. Amarahnya meluap, dia melawan dirinya sendiri yang tergugah untuk menemui hanyou itu lagi hanya karena kesedihan yang tersirat dari bau dan suaranya.
Sebuah desakkan itu lagi yang timbul di dirinya, desakan untuk menemuinya. Sesshoumaru terus berpikir apa yang salah pada dirinya akhir-akhir ini, tetapi dia terlalu congkak untuk mengakui bahwa tidak ada yang salah dengan merasakan sesuatu dengan hati walaupun itu youkai.
Sisi arogannya menang, tidak ada sesuatu yang salah dengan dirinya, kesalahan sepenuhnya berasal dari hanyou itu. Dia harus melenyapkan sumber perasaan yang tidak dia mengerti, sumber yang membuatnya lembek, sumber itulah yang salah bukan dirinya.
Dia adalah Dai youkai penguasa wilayah Barat, yang disegani oleh para penguasa lainnya dia tidak akan melemah oleh emosi sampah seperti yang dimiliki oleh manusia. Keputusan telah dibuat, tekadnya telah bulat. Sumber kesalahan itu harus segera dimusnahkan, sesegera mungkin. Karena dia adalah Sesshoumaru yang berarti The killing perfection, tidak akan ada yang bisa merubah itu!
Kagome duduk memeluk kedua lututnya, wajahnya tenggelam diantara kedua lengannya "Jangan pergi" tidak pernah dia menemukan orang lain yang peduli kepadanya selain ibunya, setelah bertahun-tahun yang dia lewati. Tidak pernah ada, hingga sekarang.
Hanya bunyi hembusan udara yang dirasakan oleh Kagome, sebelum tiba-tiba saja dia sudah terhempas ke dinding gua. Sebuah tangan yang besar dan kuat mencekik lehernya, membuat Kagome terkesiap, kedua kakinya tidak menyentuh tanah.
Yang membuatnya lebih terkejut adalah youkai yang menyerangnya dengan tiba-tiba adalah sang dewa penolongnya, tangannya begitu kuat mencengkeram lehernya. Begitu kuatnya sehingga lehernya bisa dengan mudah patah, belum lagi cakarnya dengan kuat menusuk leher bagian belakangnya. Rintihan terselip dari mulut Kagome, saat merasakan cakar-cakarnya mulai menusuk kulit lehernya lalu mengoyak dagingnya.
Tubuh Sesshoumaru menghimpitnya, matanya menatap tajam penuh amarah. Kagome hendak memukulnya, tetapi dia baru menyadari kalau kedua tangannya di tahan oleh tangan Sesshoumaru yang lain di atas kepalanya. Dia mencoba berontak, berusaha menggerakan kelapanya ke kanan dan ke kiri agar terbebas dari siksaan itu tetapi sia-sia, kedua kakinya terpenjara oleh kedua paha Sesshoumaru yang kokoh.
Cakarnya semakin lama semakin dalam menembus dagingnya, darah hangat menetes deras dari lehernya. Dia berjuang sekuat tenaga untuk bernafas, dia merintih kesakitan. Dia memejamkan matanya, tidak ingin melihat wajah puas penyiksanya. Kali ini tidak akan ada bantuan untuknya, tidak ada penolong untuknya lagi saat sang dewa penolong telah berubah menjadi malaikat maut untuknya.
E/N : Mata Air Oshino Hakkai adalah mata air khas yang mengalir dari Gunung Fuji, setelah "Danau Oshino" telah kering. Delapan mata air yang terbentuk oleh air lelehan menumpuk di Gunung Fuji, disaring melalui lava selama lebih dari sepuluh tahun. Oshino Hakkai juga merupakan tempat ziarah, di mana para peziarah dimurnikan dari pikiran kotor. Oshino Hakkai ditetapkan sebagai harta alam pada tahun 1934.
Mokomoko Sesshoumaru atau dikenal juga Sesshoumaru's Fluff itu kalau kata Rumiko Takahashi-sensei adalah bagian dari tubuh Sesshoumaru dan bukan buntut. Di awal-awal anime mokomoko itu bisa bergerak dan ngebelit tubuh Inuyasha saat mereka bertarung memperebutkan Tetsusaiga di makam Inu no Taisho (gw lebih suka nyebutnya Inu papa :p). Saat Sesshoumaru berubah ke wujud aslinya mokomoko itu ada di bahu kanannya. Satu fakta lagi di Inuyasha the movie yang ketiga tentang pedang Sou'nga, mokomoko Sesshoumaru mengeluarkan darah saat tertembus pedang musuh.
Another cliffhanger, maaf. Gak bisa nahan diri untuk membuat ending yang gak ngeselin :p
Thx for read and review, enjoyed it ^.~
