Disclaimer: I do not own InuYasha!
Kagome berlari menghindar dari ratusan duri yang berterbangan dengan kecepatan tinggi yang ditujukan ke arahnya, dia berlari zig-zag secepat mungkin. Dia melompat ke atas dahan pohon, diikuti dengan belasan duri tajam dengan panjang 10 cm yang menyusul menancap di dahan pohon tempatnya sesaat setelah dia melompat ke tanah.
Nafasnya terengah-engah, matanya nanar menatap sekeliling waspada akan serangan lawan selanjutnya, kali ini dia tidak akan memandang remeh siapapun setelah pengalamannya menghadapi Tomoaki yang berbuntut kekalahan.
Youkai itu kini berdiri beberapa kaki darinya, tubuhnya tambun tetapi tinggi menjulang. Rambutnya pendek berwarna coklat keemasan mencuat kesegala arah, matanya kecil, mulutnya tersenyum sinis. Daun-daunan dan ranting kering berkeretak terinjak oleh sendalnya saat dia mendekati Kagome, langkahnya panjang dan mantap dengan sekejap dia sudah beberapa kaki dari Kagome.
"Inikah hanyou yang telah membunuh Kuroichi sang penguasa Utara?" nadanya menghina, matanya meneliti Kagome dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kimono yang dipakainya dan rambut coklatnya sangat kontras dengan iris matanya yang berwarna merah darah.
"Aku tidak ingin berkelahi denganmu" Kagome berkata datar, dagunya terangkat saat berbicara. Kagome berusaha sebisa mungkin menyembunyikan kelelahannya dengan susah payah, dia tidak membiarkan nafasnya yang terengah-engah terlihat oleh musuhnya.
"Kau tidak akan bisa menemui Takigawa sang penguasa Timur karena kau akan mati ditanganku" suaranya bergetar dengan hasrat membunuh, seketika itu duri-duri itu keluar dari pori-pori tubuhnya. Tubuh youkai landak itu sedikit menunduk bersiap-siap menyerang, sedetik kemudian duri-duri itu meluncur secepat kilat mengarah ke Kagome.
"Sial!" Kagome melompat beberapa langkah mundur kebelakang, duri-duri itu mengikutinya membuat jejak tepat dimana kakinya telah menjejak. Pola itu terus terulang selama beberapa saat, dia terus menghindar-dan menghindar. Walaupun Kagome dapat dengan mudah menghindarinya namun ia benar-benar lelah menghindar, dan lebih lelah lagi untuk melawan youkai yang tidak ada hubungan dengannya.
"Kenapa kau ingin membunuhku? Aku tidak mempunyai urusan denganmu?" tanyanya di sela-sela lompatannya dari tanah ke pohon lalu ketanah lagi, pola itu berlangsung terus karena duri yang meluncur dari tubuh musuhnya seperti tidak ada habis mengarah kepadanya.
"Cukup satu alasan bagiku untuk membunuhmu, kau hanyou" senyumnya mencibir "Kau berusaha melampaui youkai dengan mengalahkan para penguasanya, kau tidak akan bisa melampaui kami" satu sudut bibirnya terangkat penuh penghinaan, mata merahnya semakin memerah terbakar api kebencian.
"Hanyou.." kata itu seperti tersangkut di tenggorokan Kagome, serangan itu mereda.
Kini mereka berdiri berhadapan, diam mematung dikelilingi oleh aura ketegangan, kemarahannya mulai timbul walaupun dia tidak membenci kata itu tetapi dia sangat membenci cara mereka mengucapkannya.
Mereka mengucapkannya seperti hanyou itu adalah suatu wabah penyakit yang harus dengan segera dibasmi, seakan tidak ada lagi hal yang paling menjijikan daripada seorang hanyou. Kagome tertawa kecil, membuat musuhnya keheranan. Tawa kecilnya meledak menjadi tawa terbahak-bahak, lalu Kagome tersenyum memandang youkai yang keheranan itu.
Kagome menatap mata berwarna merah darah itu dalam-dalam "Kau, benar-benar, dangkal!" dia mengucapkannya dengan penuh penekanan di setiap suku kata.
Kagome melompat melayangkan pukulan tepat di wajah bagian kanan youkai itu yang tidak mempunyai waktu dan kesempatan untuk menghindar dari serangannya "Kau tidak tahu apa-apa" bunyi tulang berderak saat Kagome memukul pipi kirinya, pukulan yang dapat menghancurkan bongkahan batu besar menjadi berkeping-keping dengan tinjunya membuat wajah youkai itu sedikit asimetris karena rahangnya yang sedikit bergeser karena pukulan Kagome barusan.
"Kau pikir aku hanya ingin melampaui youkai hah?" youkai itu jatuh tersungkur, dia berusaha bangkit sambil mengelap sedikit darah yang mengalir dari sudut bibirnya dengan lengan kimononya. Youkai bodoh, dia pikir bisa mengalahkan aku yang telah mengalahkan Tokushin dan Kuroichi hah?
Youkai itu berusaha mundur namun jatuh terjerembab dengan punggungnya menghantam tanah, saat Kagome melompat kearahnya. Kagome mendaratkan salah satu lutut diatas perut musuh barunya, berat tubuh yang di pusatkan di lutut digunakannya sebagai serangan yang mematikan.
Darah menyembur deras dari mulut youkai yang tidak diketahui namanya itu, entah berapa banyak tulang rusuknya yang patah atau bagian dalam tubuh mana sajakah yang terluka oleh serangan Kagome sehingga dia merintih kesakitan dengan suara yang membuat siapapun bergidik. Andai youkai landak itu manusia dia pasti sudah mati, itu pasti.
Kagome menatap mata youkai itu dengan garang, cakar-cakarnya menekan leher youkai yang kini tergeletak tak berdaya. Tidak ada lagi kesombongannya yang tertinggal, Kagome bisa merasakan dia gemetar. Mata merah yang sebelumnya menatap Kagome dengan sinis dan garang kini berselaput oleh ketakutan menatap mata biru indah namun kejam yang bisa membawanya kepada kematian kapanpun dia kehendaki. Tekanan cakarnya yang tajam bertambah, titik darah mulai mengalir. Kagome menyeringai menang, taring-taringnya muncul dan membuat keringat dingin mengalir di pelipis youkai itu.
"Kalian para youkai, dan kesombongan kalian itu membuatku sangat muak! Youkai tidak lebih baik dari hanyou, camkan itu!" suaranya menggelegar penuh dengan wibawa "Aku tidak akan membunuhmu karena kau tidak berarti apa-apa bagiku" Kagome menarik lututnya dari tubuh youkai itu lalu bangkit berdiri
"Kau dan pikiran dangkalmu hanya membuang waktuku dan mengotori tanganku, kau membuatku jijik!" Kagome mundur lalu melompat dari satu pohon ke pohon yang lainnya, meninggalkan youkai yang masih merintih itu tergeletak di tanah yang keras dan dingin untuk menelaah kata-katanya.
Akhir-akhir ini begitu banyak youkai yang menyia-nyiakan waktu Kagome, membuatnya amat sangat muak. Semakin dekat dia ke arah Timur semakin banyak yang melindungi Takigawa si penguasa Timur atau hanya untuk menantangnya. Hanyou, rendahan, adalah kata yang selalu berada di satu kalimat yang meluncur dari kalimat youkai-youkai itu.
Bila saja muncul satu matahari dari setiap kata-kata merendahkan yang ditujukan kepadanya dan kepada para hanyou lain pasti langit sudah tidak dapat memuat semua matahari itu. Para hanyou, dia hampir tertawa mendengar kata-kata itu. Seperti dia pernah menemui satu hanyou pun sepanjang hidupnya, tidak! Dia tidak pernah bertemu satu pun hanyou lain, tidak satu pun.
Sudah rahasia umum bahwa sejak dulu hanyou diburu, dibenci, dan dibasmi. Youkai yang berhubungan dengan manusia pun dikucilkan oleh youkai lainnya, tak ubahnya dengan manusia yang memilih youkai sebagai pasangan hidupnya, nasib yang sama terjadi mereka.
Hidup tidak akan menjadi lebih buruk bila tidak ada segelintir youkai yang terus memburu mereka. Youkai yang tidak dapat dirubah sudut pandangnya, hanyou selalu saja jadi yang tercemar di mata mereka. Hidupnya begitu keras bahkan terkadang Kagome terheran-heran dia masih sanggup bertahan hidup, walau setengah hidup pikirnya.
Kagome terus berlari menembus hutan yang disinari cahaya senja yang kemerahan, rambutnya yang dikuncir kuda terombang-ambing oleh angin yang menyejukkan. Berlari dengan kecepatan tinggi selalu menjadi hal yang menyenangkan yang dilakukannya saat memikirkan sesuatu, berlari membuatnya merasa bebas tanpa beban.
Kali ini perjalanannya akan semakin lama dan panjang, akan lebih banyak waktu dan tenaga yang akan dibutuhkannya kali ini. Kini dia telah menjadi magnet bagi ratusan youkai yang membenci 'pencemaran' seperti dirinya.
Tidak ada lelah yang dia rasakan saat berlari, sesekali melompat ke atas pepohonan melihat keadaan sekitar. Kagome masih berada di perbatasan antara wilayah, dia berteduh di salah satu pohon yang agak besar saat matahari mulai meninggalkan langit. Kagome membutuhkan lebih banyak kesabaran, untuk memenuhi janjinya.
Takdir telah menunggunya, janji untuk menemui musuhnya dan kemungkinan besar ajalnya. Kagome lebih memilih untuk berhenti sejenak saat malam tiba, karena tetap saja malam lebih kejam dibandingkan saat sinar jingga menyinari tanah yang dipijaknya.
-.
Sosok itu berdiri terpaku, kepalanya sedikit mendongak ke langit. Rambut perak indah yang panjang berayun dipermainkan oleh angin malam yang nyaman. Sesshoumaru berdiri di atas tebing tertinggi di suatu tempat, menatap kejauhan di malam yang sunyi. Bulan yang berada di langit satu-satunya yang menemani Sesshoumaru, pikirannya melayang. Alisnya berkerut mengingat kejadian satu hari sebelumnya, dia mendengus.
Dia tidak mengerti kemana perginya pengendalian diri miliknya yang selama ini dia banggakan. Apakah yang dilakukannya benar-benar tidak dia pikirkan? Menolong hanyou itu adalah hal yang akan dia sesali seumur hidup. Hanyou itu hanya membawa masalah untuknya, menjatuhkan derajatnya. Semenjak bertemu hanyou itu dia telah melemah, dan Sesshoumaru sangat membenci kenyataan itu.
Tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih, pikiran-pikiran itu begitu mengganggunya. Pada awalnya dia hanya mengetes dan menuruti keinginan Tenseiga yang tidak pernah dia gunakan sejak dia miliki untuk menghidupkan kembali wanita itu, setidaknya itulah yang dia katakan kepada dirinya sendiri berulang kali untuk menjelaskan apa yang tidak dia mengerti.
Kemudian dia mengampuni nyawanya saat hanyou itu mencoba menyerangnya pada pertemuan kedua, beberapa hari kemudian tindakannya lebih gila lagi dia membawanya ke Hokkaino Springs untuk melenyapkan racun yang dia dapatkan dari pertarungannya melawan anak Kuroichi. Kemana menghilangnya si pembunuh yang sempurna?
Hanyou itu harus lenyap! Benak Sesshoumaru.
Sesshoumaru hampir berhasil membunuhnya, dia hampir berhasil meremukkan lehernya, hampir. Dia masih bisa mengingat lehernya yang lembut dibawah cengkramannya yang kuat, hanya sedikit tenaga lagi yang dikeluarkan darah akan mengalir deras dari kepala yang terpisah dari tubuh sang hanyou. Sebuah nyawa akan terlepas dari tubuh, sangat mudah bagi Sesshoumaru semudah manusia meremas sebuah tomat.
Tapi dia tahu itu tidaklah cukup, sesuatu di dalam dirinya mengkhianati logika yang dimilikinya. Lain kali tidak akan ada lagi hampir, yang ada hanyalah keberhasilan. Itu yang selalu terulang di benak Sesshoumaru, tetapi kata-kata itu tidak cukup kuat untuk berubah menjadi janji kepada dirinya sendiri.
Rasa penasarannya yang tinggi mencegah Sesshoumaru untuk bersungguh-sungguh membunuhnya, tidak ada yang Sesshoumaru mengerti selain dia sedang memburu semua penguasa wilayah. Misi yang tidak masuk akal karena itu berarti hanyou aneh itu harus menghadapinya dahulu sebelum dia dapat meraih apapun yang dia inginkan dan itu takkan tercapai. Dia hanyalah hanyou yang lemah, mengandalkan kekuatan yang separuh tercemar.
Ingatan Sesshoumaru berkelana saat pertama kali dia melihatnya yang sedang bertarung dengan Kuroichi, tubuhnya yang mungil namun padat berisi terlihat begitu rapuh namun terlihat kuat disaat yang bersamaan. Dia tergolong kuat untuk ukuran seorang wanita, dia mengalahkan Kuroichi yang tangguh. Raut wajahnya saat bertarung penuh percaya diri berkelebat di pikiran Sesshoumaru, wajah wanita yang dihiasi senyum sinis itu penuh semangat menghadapi lawan dan tidak ada ketakutan yang terpancar darinya.
Ingatan itu berganti dengan raut wajah yang terlihat takut kepadanya, sudah seharusnya dia merasakankan ketakutan bila berhadapan dengannya menurut Sesshoumaru. Raut wajah penuh ketakutan adalah raut wajah yang disukai olehnya, mereka harus tahu tempat mereka seharusnya berada, mahluk rendahan hanya menjadi pijakan.
Dari semua ingatan yang bergulir silih berganti di pikiran Sesshoumaru yang paling tidak bisa dilupakannya adalah raut wajah cantik yang dihiasi oleh kerlip hasrat untuknya di gua terdalam gunung Fuji, bayangan itu benar-benar menyita pikirannya seakan-akan wanita itu benar-benar dihadapannya. Sesshoumaru menghela nafas, lalu memejamkan mata.
Sesshoumaru berusaha menghilangkan pikiran-pikiran itu dari kepalanya, tetapi dia bisa melihat kejadian itu lagi berputar di otaknya. Bagaimana bibirnya yang penuh terbuka menanti bibirnya, bagaimana pipinya merona merah. Dia masih bisa merasakan kelembutan bibir wanita itu di bibirnya, rasanya yang manis masih terasa olehnya.
Baunya yang begitu khas masih tertinggal di tubuhnya, dia masih bisa menciumnya. Detak jantung wanita itu yang berdetak dengan irama yang lebih keras dan lebih cepat terasa bergerak di bawah tangan Sesshoumaru saat dia menangkup gundukan lembut di dadanya.
Sesshoumaru masih bisa merasakan bagaimana teksturnya, hanya memikirkan kejadian itu sesaat sudah membuat salah satu anggota tubuhnya berdiri tegang oleh aliran darah yang deras. Wanita itu membuatnya seperti ingin meledak, itu menjadi salah satu alasan dia untuk lebih membencinya. Sesshoumaru menggeram marah, dia membuka matanya, malam itu dihabiskannya dengan memenuhi dirinya sendiri dengan kebencian.
Hal sia-sia yang pertama kali dilakukan olehnya, kebencian itu tidak akan mengurangi apa yang telah terjadi dan apa yang sebenarnya dia rasakan. Tidak ada satupun yang tidak dia mengerti di hidupnya hanya saja dia terlalu penuh harga diri, dan kebanggaan untuk mengakui apa yang terjadi di hatinya.
Dia tidak akan mengakui apa yang mengganggunya, tidak sejak dia tahu efek buruk memiliki emosi manusia yang tidak berguna. Emosi yang manusia miliki itu hanya akan menghancurkannya, dan akan mencemari hidupnya. Seorang wanita yang beruntung menjadi pasangannya hanyalah seorang wanita inu youkai dengan garis keturunan yang tak bercela dari segi kekuatan maupun fisik untuk menghasilkan pewaris dengan kekuatan yang sempurna. Tidak diragukan lagi hubungan itu hanya akan menjadi kebutuhan fisik semata, bukan untuk hal-hal emosional seperti yang manusia miliki.
Dia membuang pikiran itu jauh-jauh lalu mencoba mengalihkan perhatian kepada hal yang lebih berguna baginya. Yang Sesshoumaru butuhkan saat ini hanyalah sebuah senjata dengan kekuatan besar yang dapat melengkapi kekuatan yang telah dimilikinya, sebuah senjata yang kini telah berada di tangannya. Kekuatan untuk menguasai seluruh wilayah Jepang, untuk memimpin seluruh youkai yang ada di dalamnya.
Dengan itu dia akan melampaui sosok youkai besar yang disegani kawan maupun lawan, youkai yang dia anggap sebagai rival. Melampaui rival terbesarnya adalah alasan awalnya untuk menjadi pemimpin youkai di seluruh wilayah Jepang, satu-satunya youkai yang sangat dia hormati sekaligus dia benci, youkai yang masih membayanginya hingga saat ini.
Dengan sedikit bersusah payah dia mengalihkan perhatiannya ke pedang yang digenggamnya. Pedang itu sangat panjang, lebih panjang dibandingkan dari katana biasanya, pedang Odachi. Pedangnya terbuat dari taring yang lebih kuat bila dibandingkan dengan senjata manusia yang terbuat dari baja dengan kandungan carbon tertinggi sekalipun.
Pedang itu masih terawat dengan sangat baik, seperti baru saja di buat kemarin bukan dibuat bertahun-tahun sebelumnya. Dia memandangnya dengan takjub, memandang kekuatan yang selama ini dicari olehnya. Pedang yang ditinggalkan oleh youkai terkuat sepanjang sejarah itu kini dimiliki olehnya, semua akan takluk kepadanya.
Dia mengangkat pedang itu dengan tangan kirinya, secara perlahan tangan kanannya menarik pedang itu dari sarungnya. Bilah pisaunya perlahan mengintip dari balik sarung, bilah pisau itu berkilat memantulkan refleksi kedua matanya yang dingin. Pedang itu ditutupi oleh sarung pedang berwarna hitam pekat. Gagang pedang itu dibentuk sedemikian rupa hingga cukup panjang untuk pemakaian dua tangan seperti katana yang lain walaupun dia bisa dengan mudah memakainya hanya dengan satu tangan.
Bentuk pedang itu melengkung, ramping, ujung pedang berbentuk seperti kepala ikan. Panjang bilah pisaunya tidak kurang dari 90cm, tidak begitu lebar, sempurna melengkapi tampilan dengan satu sisi bilah tajam yang mematikan. Aliran youki dari pedang itu begitu besar memancar cahaya biru, menjanjkan kemenangan dalam setiap pertarungan yang akan dihadapi Sesshoumaru.
Secara keseluruhan pedang itu begitu indah namun mengancam siapapun yang berurusan dengan si penyandang pedang tersebut. Pedang itu hanya cocok disandang oleh youkai sepertinya, pedang yang kuat hanyalah untuk youkai yang terkuat.
Pikiran Sesshoumaru sepenuhnya teralih kepada pedang barunya, pedang itu kini benar-benar terbebas dari sarungnya. Dia mengarahkannya ke depan, menunjuk sebuah pohon besar di depannya dengan pedang itu. Dia berusaha mengeluarkan kekuatan yang disimpan pedang itu, menyelaraskan youki miliknya dengan youki yang mengalir di pedang yang dia rasakan.
Sesshoumaru membuat gerakan menebas, tidak ada apapun yang terjadi selain bunyi pedang yang membelah udara saat dia mengayunkannya. Dia mendengus kesal, rahangnya mengeras. Matanya memicing tajam, tidak ada senjata apapun yang tidak dia kuasai olehnya saat percobaan pertama.
Sekali lagi dia berkonsentrasi mengulangi usahanya untuk menyelaraskan youkinya dan youki pedang itu untuk mengeluarkan jurus dari pedang itu. Jurus yang telah menjadi legenda karena telah hilang bersamaan dengan menghilangnya pedang tersebut dan pemiliknya setelah bertahun-tahun.
Kini existensi pedang itu telah kembali dan begitupun dengan jurus yang melegenda tersebut, jurus yang dapat menebas ratusan musuh dalam sekali sapuan. Hasil usahanya yang kedua kali masih sama dengan percobaan pertamanya, nihil. Dia terus mencoba dan mencoba lagi, berkonsentrasi sekuat tenaga. Setelah beberapa percobaan dia berdiam diri, alisnya berkerut di tengah, wajahnya semakin mengeras.
Baru kali ini dia tidak mengerti, tidak pernah dia gagal untuk menguasai senjata apapun sebelumnya. Pedang itu tidak menolaknya, tapi aliran youki pedang itu seperti dua kutub magnet yang berbeda bila disandingkan dengan aliran youki miliknya. Tidak ada penghalang yang dipasang bila memang pedang itu tidak boleh dimiliki olehnya, bahkan pedang itu meminta ditemukan olehnya saat dia menemukannya. Lalu, apa yang salah dengan pedang itu? Apa yang salah dengannya?
Sesshoumaru kembali menyarungkan pedang itu kembali ke sarungnya, dia mengikatnya dengan sebuah tali hitam. Tali pedang itu menyilang diatas pelindung besi di dadanya, pedang Odachi itu kini berada di punggungnya.
Dia merasa tersinggung, atas penolakan pedang itu. Youkai itu benar-benar menghantuinya, bahkan dalam kematiannya. Apa maksudnya membuat pedang itu menolaknya? Sesshoumaru bersumpah akan mencari cara untuk menguasai pedang tersebut, dia tidak akan membiarkan youkai itu tertawa melihatnya dari atas sana.
-.
Cahaya pertama matahari telah menyentuh kaki langit saat Sesshoumaru terbang menembus langit, dia melesat cepat bagaikan bola cahaya biru bila dilihat dari bawah. Dia terbang jauh diatas awan, melewati hutan dan pemukiman manusia dibawahnya. Hawa masih terasa sejuk hampir dingin, udara masih terasa segar karena sebagian besar manusia masih terlelap di dalam pondok-pondok kecil mereka.
Pikirannya dipenuhi dengan pedang yang berada di punggungnya, pedang yang selama ini dicarinya. Dia tidak dapat memecahkan masalah ini sendirian, dengan menekan sedikit rasa ketidaksukaannya dia pergi ke tempat satu-satunya youkai yang dapat dia percaya untuk memberikan jawaban atas beberapa persoalan besar yang tidak bisa dia mengerti.
Saat malam Sesshoumaru telah mengunjungi tempat sang pembuat Tenseiga, Totosai. Tapi youkai tua itu telah mengendus maksudnya dan dengan pintar memilih untuk menghindari kemurkaannya. Tempat tinggalnya di puncak gunung berapi yang aktif telah kosong, karena itulah Sesshoumaru memutuskan untuk menemui salah satu youkai yang ia percaya.
Youkai yang mungkin sama tua dengan usia bumi ini, youkai pohon dengan wajah seperti burung hantu yaitu Bokuseno, youkai bijaksana yang dikenalnya dari sang ayah. Tidak ada satu kejadianpun yang terjadi luput dari pengetahuan Bokuseno, dia dapat melihat dan mendengar melalui akarnya yang menjalar di bawah permukaan bumi yang menyebar di hampir seluruh wilayah Jepang.
Menemui youkai itu adalah pilihan terakhir yang dipilih Sesshoumaru karena youkai itu memberinya rasa tidak nyaman saat berada di dekatnya. Bukan karena youkai itu berbahaya, tetapi karena youkai itu hampir bisa mengetahui semua kejadian yang berlangsung.
Youkai itu penuh dengan pengetahuan, dia hampir bisa menjawab pertanyaan apapun yang Sesshoumaru lontarkan padanya dengan jawaban yang memuaskan. Karena itu Sesshoumaru merasa sedikit tidak nyaman, youkai itu seperti bisa membaca pikirannya, menyelami dirinya, dan terkadang mengutarakan sesuatu yang sangat ingin disangkalnya.
Sesshoumaru tiba di hutan kematian, jarak sepanjang itu hanya ditempuhnya selama sepuluh menit untuk perjalanan yang bisa menghabiskan beberapa hari bila itu dilakukan oleh manusia.
Hutan kematian adalah hutan yang begitu luas ditumbuhi oleh ratusan juta pohon besar yang menjulang tinggi, dengan dahan-dahan kokoh yang menjuntai seakan-akan memanggil para manusia yang tenggelam dalam selimut kabut keputusasaan yang menusuk mencoba meraih manusia untuk meninggalkan semua masalahnya yang dihadapi oleh mereka di dunia ini dengan menjerat lehernya sendiri.
Untuk mencapai hutan tempat Bokuseno berada Sesshoumaru harus melewati hutan kematian, dia tidak bisa terbang diatas melewatinya karena kekuatan hutan kematian itu akan menyerap youki yang dikeluarkannya.
Sesshoumaru berjalan memasuki hutan yang diselimuti oleh bau kematian yang sangat pekat. Sepasang sandal manusia tergeletak rapi di bawah sebuah dahan pohon besar yang kini dihiasi oleh mayat wanita, rambutnya yang hitam panjang menutupi separuh wajahnya dengan perut yang menggelembung besar. Mayat wanita yang sedang mengandung, wajahnya sudah membiru.
Beban hidup yang membuatnya sengsara jelas terpancar dari wajah kesakitannya, tubuhnya tergantung kaku. Matanya terbelalak lebar, lidahnya menjulur keluar, garis tetesan darah yang keluar dari mata, hidung, mulut, dan telinganya sudah mengering meninggalkan jejak merah cokelat kehitaman yang dirubungi beberapa lalat membuat mayatnya tampak mengerikan.
Mayat itu hanyalah pembuka, semakin Sesshoumaru berjalan ke kedalaman hutan semakin banyak mayat yang bergelantungan di dahan-dahan pohon. Mayat yang baru maupun yang tinggal kerangka, menjadi penghias hutan kematian ini. Betapa banyak sisa bekal para manusia yang putus asa itu tergeletak di bawah pohon, menandakan jauhnya perjalanan yang mereka tempuh hanya untuk membunuh diri mereka sendiri di tempat ini.
Entah apa yang yang begitu menarik manusia untuk mengakhiri hidup mereka di hutan ini, yang dia tahu hanyalah hutan ini memancarkan aura keputusasaan yang tebal. Membuat siapapun yang memasukinya merasakan kesusahan hidup, bahkan tidak ada youkai yang mau hidup di hutan ini. Karena hutan ini seperti hidup! Hidup dengan memakan kesusahan yang dimiliki oleh para manusia, dan hidup sebagai rumah dari manusia yang merindukan kematian.
Semakin dalam, hutan diselimuti oleh kabut tebal hingga dia hanya bisa melihat samar-samar benda yang ada di hadapannya. Sesshoumaru terus berjalan sehingga kabut itu mulai menipis lalu menghilang saat dia mencapai daerah pembukaan hutan.
Di hadapannya terbentang padang rumput yang penuh ditumbuhi bunga berwarna kuning, hutan yang dituju olehnya telah terlihat di kejauhan. Berbanding terbalik dengan hutan yang sebelumnya, hutan ini begitu memancarkan kehangatan dan kehidupan.
Cahaya matahari menembus melalui dedaunan, setelah berjalan beberapa saat dia bisa melihat pohon tua itu dikejauhan. Pohon tua itu berdiri tangguh, wajah youkai itu muncul di tengah batang pohon itu, guratan-guratan kayu di wajahnya seakan tersenyum menyambut Sesshoumaru. Wajah Bokuseno sama tuanya saat dia terakhir kali melihatnya seratus tahun yang lalu saat Sesshoumaru ikut orang tuanya untuk menemuinya.
Disaat itulah Bokuseno pertama kali memandang wajah Sesshoumaru, menatap matanya dalam-dalam. Tatapannya itu seakan menembus sudut hatinya yang terdalam, dan itu sangat mengganggunya.
Walaupun kalimat yang keluar dari mulutnya tentang Sesshoumaru terasa menyenangkan, tapi itu tidak dapat menghapus apa yang dia rasakan tentangnya. 'Kau telah ditakdirkan untuk sesuatu yang besar, itu hanya akan terjadi bila kau telah menemukannya. Kekuatan sejatimu' kata Bokuseno saat itu.
"Aku merasa sangat terhormat kau mau mengunjungiku Sesshoumaru" kebijaksanaan terpancar dari suaranya.
Sesshoumaru mengangguk kecil "Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu".
"Aku merasa terhormat bisa menjawab pertanyaanmu" suara tuanya sedikit bergetar.
"Apakah kau masih ingat apa yang kau ucapkan kepadaku?" tanya Sesshoumaru dengan suaranya yang dingin.
"Aku tidak akan melupakan apa yang aku katakan kepadamu, beberapa waktu yang lalu" ia berhenti sesaat seperti mengingat-ingat sebelum melanjutkanmelanjutkan
"Saat pertama kali aku melihatmu, aku sudah dapat melihat seorang calon pemimpin besar. Kau lahir dari garis keturunan yang kuat mengalir dari kedua orang tuamu, kau mewarisi jiwa pemimpin dari ayahmu. Kau telah ditakdirkan untuk sesuatu yang besar, itu hanya akan terjadi bila kau telah menemukannya. Kekuatan sejatimu, tapi itu tidak akan mengunci takdirmu. Kau masih harus memilih takdir yang akan kau jalani, Sesshoumaru" youkai itu memandang Sesshoumaru dengan tatapan yang teduh.
"Tentang kekuatan sejati yang kau maksudkan" suara Sesshoumaru dingin.
Mata bokuseno yang teduh memandang tatapan tajam Sesshoumaru, dia dapat merasakan ketidaknyamanan Sesshoumaru "Kau telah menemukannya, ya kan?" tanyanya.
Pertanyaan Bokuseno membuat keingintahuan Sesshoumaru semakin menjadi-jadi, Bokuseno tahu dia telah menemukannya? Sesshoumaru sangat mempercayainya hingga tidak ada ruang untuk meragukan ucapan Bokuseno, tapi sebagian dirinya masih tidak mengerti.
Apakah yang dimaksud Bokuseno adalah Odachi? "Aku telah mendapatkan pedang ini, tetapi mengapa aku tidak bisa menggunakannya?" suara baritone Sesshoumaru yang dalam menggema di hutan yang hampir sunyi itu.
Bokuseno tertegun sejenak memandang sebuah pedang yang berada dihadapannya, lalu kembali memandang sang pemilik pedang itu "Odachi" suaranya hampir terdengar geli.
Sesshoumaru mulai tidak sabar menghadapinya "Bagaimana caranya? Jelaskan padaku" nada suara Sesshoumaru datar tidak memerintah tidak juga memohon.
Jawaban yang dikeluarkan Bokuseno hampir membuat wajah datar dan dingin Sesshoumaru retak oleh keterkejutan, kedua alisnya terangkat untuk sedetik sebelum wajah kakunya kembali mengambil alih.
E/N : ōdachi adalah jenis pedang tradisional yang dibuat di Jepang.Pedang ōdachi adalah pedang yang sangat panjang. Untuk memenuhi syarat sebagai ōdachi, pedang tersebut harus memiliki panjang pisau sekitar 3 Shaku (35.79 inci atau 90.91 cm) panjang katana rata-rata hanya 70-73 cm. Namun sebagian besar istilah dalam seni pedang Jepang, tidak ada definisi yang tepat untuk ukuran sebuah ōdachi. Karakter untuk ō berarti "besar" Karakter untuk da dan chi sama seperti tachi (menyala. "Pedang Besar"). Gaya permainan pedang Ōdachi difokuskan pada pemotongan ke bawah dengan cara memegang yang berbeda daripada pedang normal. Penggunaan ōdachi oleh samurai menghilang setelah perdamaian pada tahun 1615, dan hanya digunakan Sebagai persembahan nazar ke sebuah kuil
Dari berbagai sumber.
Gw gak mau pake Tetsusaiga karena menurut gw itu khusus untuk my lovely hanyou InuYasha, yah walau gw terlalu males untuk mikirin jurus Odachi nanti, kalo Tetsusaiga Kaze no Kizu, Odachi?
Btw, hutan kematian yang dilalui Sesshoumaru sebelum memasuki hutan Bokuseno itu dengan jelas terinspirasi dari hutan Aokigahara.
Di anime dan manga Sesshoumaru itu selalu Rumiko-sensei gambarin sebagai youkai yang sombong, penuh harga diri, mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi akan sesuatu, tapi dia juga gak kalah temperamental dari InuYasha sebenernya. Cuma marahnya itu sedikit lebih anggun aja kali ya hahaha :D jangan salah sangka karakter InuYasha adalah karakter favorit pertama gw di anime ini, tapi setelah lewat masa anak-anak dan nonton ulang anime InuYasha, karakter Sesshoumaru yang dingin tapi rrr... sexy? jadi punya tempat sendiri yang sama besarnya dgn InuYasha buat gw.
tami04: hope you enjoy chapter 7 ;D Keno: hahaha panas dingin apanya nih? Kimeka: lime-nya kurang seru ya? Anggep aja ini appetizer :p noname: your vote udah gw masukin utk happy ending, kalo 'itu' disimpen utk beberapa chapter ke depan hohoho :o
Kenapa gw bikin polling utk ending BHT ini, krn endingnya masih kabur di otak gw. Sedangkan seluruh garis besar cerita hingga final fight udah ke cetak jelas di kepala, jadi gw buka pilihan utk kalian *devilishgrin*
Cukup ngoceh sendirinya, gw pengen denger apa pendapat kalian ayo review! Sebentar lagi pertarungan dengan penguasa Timur, kapan sih gw gak suka adegan fight :p
I accept critism in a good manners, thanks for following, fav, read and review this story. Much love for you, ame to ai ^.~
