Disclaimer: I do not own InuYasha!
A/N : Maaf banget karena minggu kemarin gak updated, gome:(.
Italic : flashback.
Flashback saat pertama kali kagome kecil bertahan hidup di hutan, seminggu setelah kematian Kikyo. Hope you like it:)
~Flashback~
Hanyou kecil itu terus berlari dari kejaran beberapa oni yang mengerikan. Dua oni yang mengejarnya tinggi besar dengan tubuh gempal berwarna biru kehijauan, perut yang membumbung bagaikan drum di festival obon, keempat taring mereka saling silang mencuat keluar ke atas dan ke bawah. Air liur menjijikkan mereka menetes saat mereka membuat seringai kemenangan, hanyou kecil itu akan menjadi santapan mereka malam ini. Tidak ada yang lebih lezat dari darah segar yang mengalir dari daging muda dan kenyal.
Kaki mereka membuat dentaman di tanah saat berlari dengan cepat, tangan mereka bergerak-gerak kekanan dan ke kiri salah satu oni itu membawa sebuah pedang. Mereka berusaha menghalau apapun yang menghalangi mereka, mereka bergerak secepat mungkin untuk mengejar buruan. Oni itu bertubuh manusia, salah satu dari mereka berwajah sangat menyeramkan dengan satu mata besar yang menghiasi wajahnya. Para oni itu hanya memakai secarik kain yang melingkari bagian bawah tubuh mereka hanya sampai pertengahan paha, rambut mereka panjang menjuntai sedikit melebihi bahu dan bergumpal dengan aneh.
"Kemana bocah sialan itu pergi?" tanya salah seorang youkai sambil menggaruk-kepalanya dengan rambut yang acak-acakan.
Oni yang paling besar dan sangar mengangkat tangannya, memberi isyarat agar temannya tidak berbicara, dialah pemimpinnya. Oni yang lain segera terdiam dan memperhatikannya, oni yang lebih besar itu menggerakkan kepalanya sedikit ke kanan. Wajahnya serius, dia berusaha menangkap suara sekecil apapun yang bisa dijadikan petunjuk, kedua lubang hidungnya kempas kempis menangkap bau yang mengambang di udara. Dia mengangkat kepalanya lalu senyum ganjil terpasang di wajahnya, dia berjalan pelan sambil mengayun-ayunkan pedangnya ke depan dan kebelakang. Dia menoleh kepada teman yang selama ini terdiam menunggu hasil dari pelacakannya, sang pemimpin oni itu menunjuk kesebuah batang pohon yang tergeletak secara horizontal di tanah di balik semak-semak sebelah barat daya dari tempat mereka berdiri.
Pada saat itu Kagome kecil tahu dia tidak akan bisa benar-benar terlepas dari mereka, seharusnya ia segera meminta kematian yang cepat dan tidak menyakitkan. Tapi tidak, pada saat itu dia bukanlah si pemberani yang siap menghadapi kematian. Disaat-saat terakhir para oni itu hendak merenggut tubuh kecilnya dia berlari sekuat kaki bisa membawanya, berharap kedua oni itu akan kehilangan jejaknya. Dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri karena tidak berani menghadapi kematian, karena semakin takut dia menghadapi kematian akan semakin lama dia akan bertemu kembali dengan ibunya.
Jantung Kagome berdetak sangat kencang dan kuat di dalam rongga dadanya yang kecil, seluruh tubuhnya bergetar ketakutan. Wajahnya pucat pasi, bulir-bulir keringat sebesar biji jagung bergerak turun secara perlahan di dahinya. Sebisa mungkin dia berusaha bernafas tanpa mengeluarkan suara sekecil apapun, walau itu pasti akan teramat susah dengan nafasnya yang tersengal-sengal setelah berlari jauh dengan tergopoh-gopoh menghindari sekumpulan oni yang ingin memakannya. Sejujurnya dia tahu tanpa dia mengeluarkan suara sekecil apapun mereka akan mengetahui tempat persembunyiannya, mereka pasti dapat merasakan aurannya walau sedikit, belum lagi baunya yang dapat dengan mudah tercium oleh mereka.
Kagome tertunduk memeluk kedua lutut rapat-rapat ketubuhnya, kedua telinga anjing di puncak kepalanyapun tertunduk lesu. Ia memejamkan mata, berdoa kepada siapapun yang menciptakannya agar mereka tidak menemukannya. Setelah itu dia kembali berdoa, bila para oni itu menemukannya yang dia inginkan hanyalah mereka dapat menyelesaikannya dengan cepat. Ketegangan ini begitu menyiksanya, tidak ada sama sekali ketentraman sedetikpun yang dia rasakan setelah kepergian ibunya. Pikiran itu membawanya kepada gambaran wajah ibunya yang sedang sekarat, bayangan itu amat sangat jelas diingatannya walau sudah seminggu berlalu.
"Rupanya kau disini hanyou kecil" sebuah suara berat menggema di hutan yang sunyi, diikuti dengan tawa dari oni lain dibelakangnya. "Keluarlah" bujuknya, suara kasarnya dipaksa sedemikian rupa agar terdengar menenangkan tapi gagal.
Tangan oni itu menggapai-gapai, tubuh Kagome semakin berkerut membentuk sebuah gulungan bola kecil. Akhirnya tangan yang besar dan penuh dengan noda darah dan lumpur yang mengering itu berhasil meraih salah satu pergelangan kakinya. Tangan besar itu mencengkramnya lalu menariknya dengan kasar, membuat Kagome menjerit. Oni itu mengangkat kakinya dengan mudah hanya dengan satu tangan, Kagome tergantung terbalik. Kedua tangan kecilnya mengapai-gapai apapun yang bisa diraihnya agar dia bisa terbebas dengan segera.
Dengan mudah oni itu melepaskannya ketanah, tindakan itu membuat Kagome terhempas menghantam tanah dengan bunyi dentuman yang cukup keras. Dia terjatuh dengan kepala terlebih dahulu, dia merasa beruntung bahwa tulang lehernya tidak patah atas benturan yang menimpanya. Kagome terbaring dengan tanah di punggungnya, kedua oni itu sudah di hadapannya. Mereka memandang dengan tatapan lapar, Kagome memejamkan mata saat salah satu oni itu mengangkat lehernya dengan tangan kasarnya.
Tangan yang besar dan kuat milik oni itu mencengkramnya dengan sangat kuat, tak lama kesadarannya mulai menipis sebelum padam seluruhnya. Entah berapa lama waktu berlalu saat kesadaran berhasil mengklaimnya kembali, saat matanya terbuka pemandangan mengerikanlah yang disaksikannya. Disekeliling Kagome sudah terbujur ketiga mayat oni dengan tubuh tercabik-cabik menjadi beberapa bagian, mereka adalah penyerangnya. Pada awalnya dia tidak mengetahui sama sekali siapa penyebab kematian mereka, dia hanya berpikir itu adalah salah satu dari keberuntungannya. Namun pemikirannya segera terhempaskan saat kejadian yang disangkanya sebuah keberuntungan itu terjadi setiap kali dia dalam keadaan terdesak.
-.
Semua itu selalu terulang setiap kali Kagome kecil berada di batas antara hidup dan mati, selalu saja dia kehilangan kesadaran. Dan saat dia sadar, ceceran tubuh para musuh yang sudah tidak bernyawa telah teronggok di kakinya. Pertanyaan Kagome tentang hal itu terjawab setelah dia bertemu Kanna. Kanna menjelaskan bahwa hanya hanyou dari keturunan darah youkai yang kuat yang mempunyai sistem perlindungan diri sampai mereka dewasa.
Darah youkai yang ada di dalam tubuhnya akan mengambil alih bila seorang hanyou kecil terancam nyawanya, darah youkai itu akan secara otomatis mengubahnya menjadi seorang mesin pembunuh. Dengan darah youkai yang mengalir kuat, kebuasan mengambil alih. Tujuannya satu, bertahan hidup dengan membunuh semua mahluk yang masuk dalam kategori musuh dari instingnya, darah buasnya tidak akan berhenti sebelum semua musuh telah terkalahkan. Dengan cara itulah Kagome yang berumur lima belas tahun dapat mengalahkan Tokushin, kemenangannya saat itu murni sebuah keberuntungan yang takkan terulang.
Semenjak satu tahun yang lalu dia telah mengalami masa subur, tubuhnya telah sempurna sebagai hanyou dewasa dan akan tetap seperti itu selama ratusan tahun kedepan. Darah youkai yang mengambil alih sudah tidak lagi berlaku pada dirinya, kini dia adalah hanyou dewasa dengan keseimbangan dalam penguasaan kekuatannya. Namun menjadi hanyou dewasa yang kuat juga mempunyai kelemahan. Bila saat dia kecil darah youkai yang mengalir dari ayahnya mengambil alih, kini adalah masa dimana darah manusia mengambil alih. Di setiap tiga bulan sekali Kagome harus mengalami 'malam manusia'. Malam dimana dia kehilangan cakar, telinga anjing yang bertengger di puncak kepalanya. Begitupun seluruh kekuatan hanyou yang selama ini melindunginya baik itu penciuman, penglihatan, kekuatan, dan juga kecepatan yang dimilikinya seakan tersedot habis pada saat malam manusianya berlangsung.
Saat itu adalah saat-saat yang paling dibenci olehnya. Sialnya lagi, Kagome tidak seperti hanyou lain yang dapat mengetahui dengan pasti kapan mereka berubah menjadi manusia biasa ataupun memilih malam untuk kehilangan kekuatan dan menjadi manusia. Kagome kurang beruntung dalam hal itu, walau masa-masa lemahnya tiga bulan sekali namun dia harus terus waspada selama bulan hampir penuh sampai bulan penuh, itu berarti dia mempunyai waktu cemas lima atau enam hari. Hari yang sangat riskan untuk bertemu bahkan dengan youkai lemah atau penjahat dari golongan manusia sekalipun, beberapa hari memuakkan yang paling rawan baginya.
-.
Matahari baru saja menampakkan wajahnya saat hanyou yang hidup karena dendam berlari dengan cepat melintasi hutan wilayah Timur. Kagome tidak mau menyia-nyiakan waktunya lagi, sudah satu hari ini dia terus berlari. Setelah kemarin siang dia mengalahkan youkai landak masih ada beberapa youkai lain yang menyerangnya, dia tidak mau lagi menghabiskan waktu untuk perkelahian yang tidak berguna. Tujuannya hanyalah para penguasa, merekalah yang bisa memberikannya jawaban. Hanya merekalah kemungkinan dia bisa menemukan ayahnya, karena itu dia bertekad untuk tidak terbunuh dalam pertarungan yang sia-sia. Kakinya terus berlari, tanpa merasakan lelah. Sesekali dia melompat jauh di atas pepohonan, untuk melihat keadaan ratusan meter kedepan.
Dari kejauhan pagar benteng itu mulai terlihat, tinggi, kokoh, memeluk beberapa bangunan besar yang terpencar di dalamnya. Dia berlari semakin cepat, dadanya seakan mau pecah oleh detak jantung yang semakin cepat. Kini dia tiba beberapa ratus meter dari benteng tersebut, pintu besar berwarna coklat tua berdiri dengan kokoh dijaga oleh dua penjaga di kanan dan kirinya. Dia melangkah perlahan, kaki dan tangannya bergetar karena ke antusiasan yang tinggi. Tangan kanannya berada tepat di atas jantungnya, detaknya yang kuat seperti memukul-mukul telapak tangannya. Tulang-tulang kakinya seakan melunak sehingga tidak kuasa menopang tubuhnya. Semua hal itu selalu dia rasakan saat ingin menghadapi lawan yang ditunggu-tunggunya, lawan yang kuat yang bisa mengantarkannya bertemu dengan satu-satunya orang yang dicintainya.
"Berdetaklah sedikit lebih lama lagi bersamaku" bisiknya kepada dirinya sendiri, seringai di wajahnya melebar.
Dengan satu hentakan dia melompat lalu mendarat tepat di depan pintu, dengan sekali hantaman yang hanya melumpuhkan, kedua penjaga itu roboh ke tanah. Kagome merangsek masuk ke dalam benteng, sebagian para pelayan yang berada di kebun bunga menghadang Kagome. Sedangkan yang sebagian lagi langsung berlarian ke dalam rumah untuk memberitahukan kepada tuan besarnya bahwa ada penyusup yang berhasil memasuki halaman mereka. Tidak ada lagi waktu untuk mengirimkan tantangan seperti yang dikirimkannya kepada Kuroichi dan Tokushin. Tidak seperti yang lainnya, Takigawa lebih mengadaptasi cara hidup manusia sehingga membuatnya sangat mudah ditemukan.
Dia mempunyai benteng besar yang terdiri dari beberapa bangunan mewah terpisah, dengan puluhan pelayan yang terdiri dari youkai dan manusia. Kagome berpikir untuk sesegera mungkin menghadapi Takigawa karena dia tidak memiliki banyak waktu, dia harus menyelesaikan apa yang telah dimulainya dengan cepat agar tidak banyak jatuh korban yang tidak perlu. Para pelayan manusia yang menghadangnya dengan alat kebun seadanya telah roboh saat pasukan youkai rendahan lain bertubuh manusia kembali menghadangnya, dengan cepat pula mereka menyusul temannya ambruk mencium tanah. Dia tidak membunuh mereka, dia hanya melayangkan pukulan yang cukup untuk menahan mereka sementara.
"Dimana tuan kalian?" tanyanya setelah menghantam seorang youkai yang kini melayang terbang keluar dari benteng karena tinjunya. Tidak ada dari mereka yang bersuara, semuanya hanya mempunyai satu tujuan. Melumpuhkan penyerang benteng, itulah tujuan mereka.
"Aku sudah menunggumu hanyou" sebuah suara menggelegar terdengar seiring dengan munculnya sosok seorang youkai tinggi tegap dari ambang pintu bangunan utama.
Dia berdiri di pintu dengan dagu terangkat, tangan kirinya sudah berada di sarung pedangnya, dan dengan baju pelindungnya dia sangat siap bertempur. Kulitnya berwarna kecoklatan, rambut silvernya yang panjang di kuncir bawah. Garis wajahnya keras namun memikat, matanya berwarna nila memandang nanar Kagome seakan meremehkan apa yang dilihatnya. Penerobos bentengnya hanyalah seorang hanyou wanita yang kini sedang memandangnya dengan seringai lebar di wajahnya. Menantangnya untuk bertarung tanpa membawa pedang, inikah hanyou yang selama ini di beritakan oleh tangan kanannya? Tubuh mungil, dan wajah cantik ini tidak mungkin mesin pembunuh para penguasa wilayah yang selama ini di desas-desuskan pikirnya.
"Baguslah kalau begitu" Kagome tersenyum, dia menegakkan posisi tubuhnya, lebih santai tidak dalam posisi siap tempur. "Seperti biasa" katanya lebih kepada dirinya sendiri.
Dengan satu gerakan tangan Takigawa para youkai penjaga dan manusia itu mundur ke tempat yang cukup jauh tetapi masih bisa melihat ke arena pertarungan. Mereka mengerti inilah saat itu, saat penantang mengantarkan nyawa kepada tuan mereka. Dan setelah ini mereka harus bersiap-siap membersihkan ceceran darah dan tubuh yang tersisa dari sang penantang, diam-diam mereka berharap tidak ada lagi isi organ dalam yang tercerai berai di kebun yang selama ini mereka rawat, membersihkan itu sangat memuakkan dan merepotkan bagi mereka.
"Aku harus menanyakkan sesuatu kepadamu" Kagome berjalan beberapa langkah maju dengan santai, dijarak 50 meter mereka berhenti cukup dekat untuk memandang wajah Takigawa dengan jelas begitupun sebaliknya.
"Apakah kau mengenal seorang miko bernama Kikyo?" dia menatap wajah Takigawa lekat-lekat.
Walaupun sekilas dia bisa melihat kedua alis Takigawa terangkat untuk beberapa saat yang pasti tidak akan bisa dilihat oleh manusia, dia terkejut saat Kagome menyebutkan nama ibunya.
"Hm, jadi, kau mengenalnya" itu adalah pernyataan Kagome. Tidak ada keraguan sama sekali akan apa yang telah dilihatnya, dia tersenyum tipis.
"Apa maumu hanyou? Bukankah kau ingin menantangku? Bukankah kau ingin menggantikan tempatku? Ayo cepat serang aku! Sebelum akulah yang akan menyerangmu lebih dulu" suaranya yang penuh ketegasan kini bercampur dengan ketidaksabaran, Takigawa mencoba mengalihkan pembicaraan.
Kagome terus melangkah perlahan "Apa yang aku mau adalah kau menjawab pertanyaanku, sekarang!" nadanya sedikit melengking.
"Apa hubunganmu dengannya?" nada suara Takigawa tidak sekeras sebelumnya.
"Kau memang mengenalnya, ya kan?" Kagome tersenyum menang. Jarak mereka berdua kini tak lebih dari lima kaki jauhnya, mereka saling menatap. Takigawa menatap Kagome dengan penasaran, sedangkan yang ditatap olehnya tidak pernah menanggalkan senyum di wajahnya.
"Siapa kau?" tanya Takigawa pendek dengan suara seraknya yang dalam.
"Aku adalah anaknya!" kata-kata yang dikeluarkan Kagome itu seakan memukul Takigawa, dia mundur satu langkah.
Takigawa terdiam untuk beberapa saat, dia tidak membutuhkan banyak waktu untuk kembali tenang tetapi dia tetap belum bisa berkata-kata. Ingatan-ingatan indah berkelebat di pikirannya, begitupun ingatan-ingatan pahit yang dimilikinya. Kikyo, seorang miko yang begitu menarik perhatiannya. Kepintarannya, pembawaan dirinya yang tenang, dewasa, begitu dikaguminya. Penguasaan reikinya yang hebat membuatnya menjadi salah satu miko yang paling kuat di wilayah Selatan. Dialah alasan Takigawa memutuskan untuk membaur dengan manusia, mengadaptasi cara hidup mereka. Miko itu lebih dari sekedar menarik perhatiannya, kecantikan dan kekuatannya sangat berbahaya baginya namun itulah yang lebih menarik Takigawa lebih dalam lagi menaruh perasaan kepada Kikyo.
Takigawa sangat suka tantangan, dia ingin menaklukkannya. Belum lagi keuntungan memilikinya, dengan reiki Kikyo tidak akan ada youkai yang berani mencoba menantangnya saat dia menjadi penguasa. Walau dengan mendekatinya pun hampir sama artinya dengan bunuh diri baginya. Takigawa bercoba berteman dengan para manusia, menjadi teman Kikyo dapat mengubah pandangan semua manusia dan youkai bahwa mereka semua bisa hidup akur dan damai. Semua itu dilakukan untuk mengambil hatinya, agar Kikyo mau tinggal bersama di istana miliknya. Takigawa berhasil, membuatnya tinggal di istana miliknya tapi tidak berhasil merebut hatinya.
Setelah semua yang dilakukan oleh Takigawa, dia tetap tidak dapat membuat Kikyo mencintainya. Senyum yang diberikannya tak menghapus kesan kosong, Kikyo bagaikan cangkang tak bertuan. Walaupun dia selalu berada di sisinya tetapi tidak dengan jiwanya. Ingatan itu membakar jiwanya, saat kepergian Kikyo adalah saat yang paling ingin dihapuskan dari kepalanya. Rasa sakit itu terus menghujamnya seperti baru terjadi kemarin, walaupun itu telah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Dia tidak pernah merasa begitu terhina seperti saat itu, tidak pernah sekalipun!
Takigawa tidak akan pernah memaafkannya walaupun dia mencintainya, dia akan membunuh Kikyo seribu kali bila dia dapat melakukannya. Kikyo hanyalah untuknya, miliknya. Nafasnya mulai memburu, hanyou dihadapannya ini tiba-tiba muncul dan membawa semua kenangan buruk itu menghantamnya. Hanyou ini adalah anak Kikyo? Itu berarti dia adalah... wajahnya begitu mirip dengan Kikyo, hanya matanya yang kontras dengan ibunya. Matanya biru gelap bagaikan lautan dalam, begitu indah namun mematikan. Dan baunya memang sedikit mirip Kikyo, tapi baunya lebih tertutupi oleh bau melati.
"Kehabisan kata-kata heh orang tua?" tanya Kagome, matanya menyipit memperhatikan youkai di hadapannya yang bisa jadi ayahnya.
Takigawa keluar dari keterkejutannya, tidak ada lagi ekspresi yang tersisa di wajahnya. Penguasa Selatan itu telah kembali menjadi youkai yang dingin dan keras, dagunya terangkat.
"Tidak ada yang perlu aku katakan kepadamu, sebaiknya kau pergi dari sini karena aku tidak mau menyia-nyiakan waktuku untuk gadis kecil sepertimu " Takigawa berbalik, dia berjalan menuju bangunan tempatnya tadi muncul.
"Bukankah kau sudah menantikan aku, untuk melawanku orang tua?" Kagome tertawa, "Tidak kusangka dari semua penguasa yang pernah aku temui kaulah yang paling pengecut" nadanya menusuk.
Takigawa menghentikan langkahnya, tangannya terkepal disisi tubuhnya "Kau hanya membuang-buang waktuku hanyou, lebih baik untukmu bila kau segera meninggalkan tempat ini" dia berkata tanpa menoleh, nadanya tak kalah tajam dari Kagome.
"Sial sekali ibuku pernah bertemu dengan youkai pengecut sepertimu" baru saja Kagome menyelesaikan kata-katanya saat ujung pedang Takigawa sudah berada di leher Kagome tepat di cekungan tempat kedua ujung tulang selangkannya bertemu, dia begitu cepat. Sangat cepat hingga Kagome tidak menyadari serangannya, sebaiknya dia lebih berhati-hati menghadapi Takigawa pikirnya.
"Aku akan membiarkanmu hidup untuk kali ini, hanyou" wajahnya mulai memerah karena marah, hidungnya berkerut jijik saat mengatakan kata terakhirnya.
"Aku... tidak... akan.." kata-kata Kagome terpotong-potong.
Kagome tersenyum tipis walau ujung pedang itu mulai terasa sangat menekan kulitnya. Gerakan Kagome juga tidak kalah cepat, dengan kedua tangannya dia meraih pergelangan tangan kanan Takigawa yang menggenggam pedang lalu memuntirnya sehingga tangan kanannya kini tertekuk di punggungnya membuat pedangnya terjatuh ke tanah. Takigawa berusaha memutar badannya agar terlepas dari belitan Kagome, dan usahanya berhasil.
Dia dapat dengan segera melepaskan tubuhnya tapi dia tidak menduga tendangan kuat diarahkan tepat di puncak kepalanya, sesaat setelah dia melepaskan diri. Takigawa jatuh tersungkur beberapa meter kedepan dengan kepala mencium tanah, dia melompat bangkit. Suara geraman muncul dari kerongkongannya, pengawal-pengawalnya berlari mendekat tetapi dia mengangkat tangan kanannya mencoba hentikan mereka untuk tidak mendekat.
"Akulah yang tidak akan membiarkanmu hidup bila tidak menjawab pertanyaanku dengan benar" suara Kagome penuh ancaman, matanya terkunci memandang Takigawa dengan berkobar-kobar.
Mungkin dia adalah yang dicarinya? Mungkin Takigawalah yang memegang semua kunci jawaban dari pertanyaannya "Apakah kau mengenalnya?" tidak diduga oleh Kagome, Takigawa tertawa.
Dia bangkit berdiri dengan mantap menghapus darah di sudut bibirnya dengan punggung tangannya. "Tidak hanya wajahmu yang mirip, sifat kalian berduapun mirip. Kau benar-benar keras kepala, pesis seperti ibumu" Senyum aneh terpampang di wajahnya, sebuah senyum tipis sedih yang bercampur dengan kemarahan di wajahnya.
Dada Kagome seperti terpilin, rasanya sakit. Apakah ini akhir perjalanannya? Apakah ini ayah yang telah dicarinya bertahun-tahun? Kagome berjalan mendekat kepada Takigawa, Takigawa jauh lebih tinggi darinya, rasanya dia seperti memandang pohon yang berumur ribuan tahun. Walaupun dia jauh lebih tinggi, jauh lebih bersenjata, dan kemungkinan besar dia lebih kuat daripadanya.
Kagome berdiri di hadapannya dengan tegap seakan dengan itu dapat membuat tubuhnya bertambah tinggi beberapa centimeter sehingga membuat mereka sederajat, mata marahnya menatap mata Takigawa tanpa getar sekalipun. Tubuhnya yang gemetar tidak lagi tersisa, dia sudah berada di arena pertarungan yang semua kegugupan yang dimilikinya saat itu juga telah lenyap tersapu oleh angin.
"Apakah kau yang telah membunuh ibuku?" suaranya menggelegar penuh ancaman. "Jawab!" wajahnya mulai berubah keras oleh amarah, semua emosi yang menghantam di dalam diri Kagome seakan hendak meledakkannya.
"Aku tidak membunuh ibumu" suara Takigawa lemah, berbanding terbalik dengan penampilannya suaranya terdengar begitu tulus.
"Jangan kau berani berbohong kepadaku" nadanya penuh dengan kebencian, tak lama dia melompat menyerang Takigawa secara acak dengan cakarnya. Takigawa menghindar dari serangannya yang tidak ada apa-apa baginya, entah mengapa dia tidak membalas serangan Kagome.
"Berani benar kau menantangku, merusak tempat tinggalku, lalu kau menuduhku berbohong!?" bersamaan dengan selesai kata terakhir keluar dari mulutnya, bersamaan pula dengan mendaratnya pukulan yang ditujukan kepada Kagome dengan keras hingga membuatnya jatuh tersungkur beberapa meter kebelakang.
Belum sempat Kagome bangun dia sudah menendangnya lagi, "Ugh" darah kental menyembur keluar dari mulutnya, mengalir deras di dagunya. Dia merangkak di tanah mencoba berdiri, satu tangan memegangi perutnya yang masih sedikit terasa nyeri.
Takigawa menarik kimono Kagome agar dia berdiri, dengan tangannya yang besar dan kekar dia mencengkram leher Kagome dengan kuat sedikit tenaga lagi saja yang dikeluarkannya, kepala Kagome pasti telah terpisah dengan badannya.
"Kau.." kata-katanya memudar, cengkramannya melonggar seiring dia melihat wajah Kagome yang mengernyit menahan sakit dengan kedua mata tertutup.
Wajah itu adalah wajah yang telah menghantuinya bertahun-tahun lamanya, dan akan selalu menghantui hidupnya yang hampir kekal. Wajah yang dia cintai itu kini, terhiasi oleh darah merah dan kental di dagunya. Tidak ini bukan dia, dia bukan Kikyo! Dia hanyalah seorang mahluk yang menyimpang, sebuah kesalahan. Dada Takigawa masih kembang kempis oleh amarah, dan kesedihan. Betapa dia sangat mencintainya, mengapa dia pergi meninggalkannya seorang diri? Kagome terhempas ketanah saat dengan tiba-tiba Takigawa melepaskan cengkramannya, dia berbalik berjalan perlahan menjauh meninggalkan hanyou yang masih tergeletak di tanah.
Kagome berjuang sekuat tenaga mengumpulkan kekuatannya kembali, dengan teramat susah dia menjejalkan udara ke dalam paru-parunya yang masih terasa sesak. Lehernya hampir patah, dan mungkin memang retak. Lagi-lagi nyawanya di ambang batas, Takigawa begitu kuat. Mungkinkah keberuntungannya berakhir disini? Sepertinya misi bunuh dirinya kali ini benar-benar terencana dan berhasil, tanpa pedang sebagai senjata, menemui seorang youkai penguasa yang dianugrahi kekuatan para penguasa yang terdahulu, lalu menantangnya untuk bertarung, mencoba untuk menemui kebenaran hampa yang ingin digenggamnya.
Tapi, pedang itu masih bertengger di pinggang Takigawa. Pedang sumber kekuatannya yang terbesar, Yoarashi tidak dia gunakan untuk melawan Kagome. Itu berarti dia tidak berniat membunuhnya setelah mendengar Kagome menyebut nama ibunya, mengapa?
Setelah semua yang telah dilewatinya akhirnya dia mendapatkan setitik cahaya, youkai ini mengenal ibunya. Tidak salah lagi, saat pertama dia menatap wajah Kagome dari dekat kedua alisnya terangkat menandakan keterkejutannya itu berarti dia mengenalinya. Dia mengenali ibunya karena sebab itu pulalah Takigawa mengusirnya pergi, pikiran itu mengusiknya lagi.
Seorang youkai penguasa wilayah mengenal ibunya. Tubuh yang tegap tinggi, rambut silver yang panjang. Mungkinkah? Dia, adalah ayahnya? Pikiran-pikiran itu bagaikan setitik cahaya baginya dan Kagome tidak akan melepaskan setitik cahaya itu untuk pudar begitu saja, walaupun jauh di dalam hatinya Kagome merasa putus asa akan seluruh usahanya.
Bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan kebenaran bila keberadaannya sendiri adalah penyimpangan? Tidak ada kebenaran yang bisa dia dapatkan, satu-satunya kebenaran adalah tidak adanya mahluk berjenis hanyou di muka bumi ini. Dia menekan dalam-dalam perasaan itu di dalam dirinya, saat ini bukanlah saat untuk membenci diri sendiri. Dengan cakarnya dia mencengkram tanah, memaksa tubuhnya yang sakit untuk berdiri. Dia meludah, mencoba mengusir rasa darah dan tanah yang masuk kemulutnya oleh serangan Takigawa tadi.
"Apa hubunganmu dengan ibuku?" walau dia berusaha keras agar kata-katanya terdengar tegas tetapi suaranya tidak lagi lantang. Dadanya seakan-akan hampir pecah di setiap tarikan nafasnya, tetapi kata-katanya itu cukup untuk membuat langkah Takigawa terhenti
"Apakah kau" dengan ragu-ragu dia melanjutkan "Ayahku?" suaranya hanya seperti bisikan, itu adalah pertanyaan yang ingin dia ucapkan sedari kecil dan akhirnya pertanyaan itu terlontar keluar dari mulutnya, walaupun tidak dalam keadaan yang dulu dia bayangkan.
Bagaimana mungkin masa lalu yang menyakitkan itu menghantamnya kembali, dia merasa terkutuk karena telah mencintai seorang manusia. Takigawa merasa amat terkutuk memiliki perasaan seperti manusia, perasaan yang membuatnya lemah dan terhina sebagai seorang youkai sang penguasa wilayah Selatan. Dahulu dia seperti pengkhianat bagi dirinya sendiri, bagi kaumnya. Mencintai seorang miko bagaikan mencintai sebuah bom waktu yang setiap saat bisa meledak melenyapkannya, tetapi tidak dengan Kikyo.
Kikyo miliknya sangat bertoleransi dengan para youkai yang membaur dengan manusia walaupun dia tidak akan segan-segan menghancurkan youkai dengan kekuatan pemurnian yang dimilikinya bila youkai itu memang mengancam manusia. Kikyo lembut namun tegas, karena itu dia begitu mencintainya. Rasa cintanya itu semakin bertambah seiring waktu setelah Kikyo tinggal di istana bersamanya, tetapi rasa itu kini telah ternodai oleh kebencian yang dalam pada Kikyo. Betapa teganya dia meninggalkannya, setelah semua pengorbanan yang telah Takigawa lakukan. Dia pergi meninggalkannya, karena itu dia ingin sekali membunuhnya. Sayang sekali saat itu dia lebih dulu mati dibunuh orang lain, tidak ada kesempatan untuknya.
Dengan sekejap mata Takigawa sudah berbalik menghadap lurus ke Kagome, entah kapan pedang itu keluar dari sarungnya. Pedang itu terangkat tinggi-tinggi di udara dengan sinar yang biru keunguan gelap yang menyelubunginya, kekuatan dahsyat yang menjadi legenda itu kini disaksikan langsung oleh Kagome.
Nafasnya seakan tercekat, matanya terbelalak lebar melihat kekuatan yang setiap saat bisa saja menghilangkan bukti keberadaannya di dunia tanpa tersisa satu helai rambut pun. Wajah Takigawa penuh kemenangan, senyum sadis terukir di wajahnya. Aura youkinya memenuhi area itu, para pengawalnya berlarian menjauh mencari tempat aman untuk berlindung agar terhindar dari kemurkaan tuan mereka.
"Bila aku memang ayahmu pun aku tak akan mengakuimu sebagai anakku" katanya dingin.
"Hentikan Takigawa-Sama" suara lembut seseorang yang berlari mendekati mereka, seorang wanita cantik dengan pakaian miko seperti ibunya. "Aku mohon" dia berlutut dibelakang Takigawa "Biarkanlah dia pergi" nadanya semakin lama semakin melemah.
"Diam kau!" Takigawa tak bergeming, masih dengan posisi siap menyerang setiap saat. "Akhirnya keberuntungan berpihak kepadaku, aku bisa membalaskan dendamku kepada wanita penghianat itu. Kini aku bisa hidup dengan tenang" dia tertawa pendek.
"Dia bukan Kikyo, lepaskanlah dia" wanita itu semakin menunduk.
"Dia adalah anaknya, itu sama saja artinya. Aku membencinya, amat sangat membencinya" matanya tak lepas dari Kagome, wajah tampannya berubah menjadi sangat mengerikan karena dendam.
Kagome terpaku di tempat, bingung dengan situasi yang sedang terjadi. Dua kali dia menyerang Takigawa, dua kali dia tidak melayaninya dalam satu pertarungan. Tetapi saat dia menanyakan apakah dia adalah ayahnya, sikapnya langsung berubah. Takigawa benar-benar ingin membunuhnya, wanita cantik berpakaian miko itu berlutut memohon agar Takigawa melepaskannya.
"Tidak" miko itu bangkit berdiri, suaranya berubah menjadi tegas. "Kau tidak membencinya, kau mencintainya" dia meletakkan tangannya di bahu Takigawa.
"Kau tidak tahu apa-apa, miko" kepala Takigawa menoleh ke arah miko tersebut "Dan jangan berani mengancamku dengan kekuatan reiki mu yang tidak seberapa, kau tidak akan bisa menyakitiku dan kau akan mati lebih dulu oleh tebasan pedangku" Takigawa menggeram, pangdangannya kembali lagi kepada Kagome. "Dan kau hanyou bersiap-siaplah bergabung dengan ibumu di alam sana"
"Aku tidak tak akan menyakitimu, begitu pun kau tidak akan menyakiti dia" miko itu memohon.
"Aku bilang, DIAAAM! Kau hanya akan berbicara bila aku mati, atau kau mau aku buat berhenti berbicara?" mata nanar Takigawa memandang garang miko disampingnya yang masih tertunduk.
"Kau dulu mencintainya, kau sekarang masih mencintainya, dan sampai kapanpun akan selalu mencintainya" tetes air mata bergulir di pipi miko itu.
"Kau hanyalah pengganti, kau tidak berhak berbicara seperti itu kepadaku!" bentak Takigawa garang.
Miko itu rubuh, dia terduduk lesu di tanah. "Iya benar, aku hanyalah pengganti tempatnya di istana ini. Tidak di hatimu, selamanya... " rintihnya.
Kagome terdiam tetapi memandang mereka dengan awas dalam diam dia menggabungkan pecahan-pecahan jawaban yang tak terjawab dari perkataan mereka. Ibunya dulu tinggal di istana ini, Takigawa sang penguasa Selatan mencintainya. Seorang miko menggantikan tempatnya, miko yang mempunyai perasaan untuk Takigawa.
Takigawa mencintai ibunya, tapi kini Takigawa memendam dendam pada ibunya yang pergi dari istana ini? Mengapa dia pergi? Apakah dia anak Takigawa? Mengapa dia tidak mengakui Kagome sebagai anaknya? Mungkin karena dia memang bukan ayahnya, semua kemungkinan itu menyesakkan. Semua pertanyaan hanyalah dijawab dengan pertanyaan, tidak ada yang membuatnya puas.
Disini dia berdiri menanti kematian yang sewaktu-waktu menjemputnya lewat ledakan kekuatan penguasa Selatan yang di arahkan kepadanya. Apakah dia akan menyerah? Tidak! Jeritnya dalam hati. Bila dia tidak tahu siapa ayahnya kenapa dia tidak bunuh saja youkai yang membenci ibunya ini? Dan kalau seandainya dia benar ayahnya itupun tidak ada bedanya karena dia tidak menginginkannya? Dia tidak akan mengakuinya seandainya benar dia adalah anaknya, itu ucapannya.
Apakah karena itu ibunya melarikan diri dari istana ini? Karena dia telah mengandungnya? Dadanya sesak, amarah, benci menguasai Kagome. Kepada siapakah dia harus menyalahkan takdir yang begitu kejam kepadanya, bila dia diciptakan dengan takdir yang kelam mengapa dia tidak memanfaatkan kebencian itu menjadi kekuatan? Hapuslah semua keraguan, inilah saat yang dia nantikan. Musuh berada di hadapannya, inilah kesempatannya.
"Sudah cukup dengan drama murahan ini" Kagome bangkit, hanyou tangguh itu telah kembali.
Dengan secepat kilat dia menyerang Takigawa yang tidak dalam posisi siap dengan tinjunya, pedangnya terpental jauh dari jangkauan Takigawa. Belum sempat dia pulih dari keterkejutan efek dari pukulan yang tiba-tiba itu Kagome sudah menyerangnya lagi dengan tendangannya yang bertubi-tubi. Takigawa terseret beberapa meter kebelakang, Kagome menyambar pedang itu lalu membuangnya jauh-jauh ke hutan di luar pagar istana. Kesempatan itu digunakan Takigawa untuk bangkit berdiri, dia berbalik menyerang Kagome yang terus menghindar.
Dia berusaha merobek tubuh Kagome dengan cakarnya, Kagome menghindar kesamping sedetik sebelum cakar tajam itu memuntahkan isi perutnya keluar. Sesaat setelah Takigawa menyerang adalah saat-saat pertahanannya melemah dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Kagome, dia melayangkan pukulannya kearah perut Takigawa dua kali sebelum berusaha merobek lehernya. Kecepatan Takigawa tidak kalah dari Kagome dia berhasil menghindar sehingga hanya lengannya yang berhasil terobek-robek oleh cakar Kagome.
"Kau cukup beruntung ya bisa melukaiku" Takigawa tersenyum pahit memandang tulang lengannya yang kini sudah tidak ditutupi daging di beberapa tempat.
Serangan Kagome yang mengenai lengan Takigawa hanya berhasil membuat dagingnya terobek dari tempatnya, tidak cukup untuk memutuskannya dari persendiannya, tapi itu cukup untuk membuat gerakan Takigawa semakin melambat.
"Tapi sayangnya keberuntunganmu tidak akan bertahan lama" Takigawa menyerangnya lagi secara membabi buta, Kagome berhasil menghindar. Sesekali Kagome melakukan serangan balik yang dengan cepat ditangkis oleh Takigawa, pertarungan sengit tak terelakkan lagi.
Takigawa berhasil menyerang Kagome dengan tendangannya, darah merah yang hangat itu mengalir keluar dari mulutnya. Saat dia berdiri bersiap menyerang dia malah mendapat serangan bertubi-tubi hingga Kagome terpental menghancurkan tembok pagar istana dekat pembukaan hutan. Puing-puing reruntuhan tembok itu menimpanya, Takigawa berjalan ke arahnya perlahan lalu melewatinya. Kagome terbatuk-batuk dengan susah payah dia bangkit berdiri dari bebatuan yang menimpanya, seluruh tubuhnya kini dilapisi debu tipis. Rambutnya yang dikuncir kuda berantakan disana-sini, matanya merah karena marah mencari dimana musuhnya berada.
"Sial" Kagome melompat jauh ke tempat dimana dia bisa mencium bau Takigawa, ia menggeram saat menyadari kemana Takigawa pergi.
Dia mencari pedangnya! Takigawa muncul di hadapannya, pedangnya Yoarashi sudah berada ditangannya. Yoarashi mengeluarkan sinar, dengan segera cahaya biru keunguan yang menyilaukan menghantam Kagome membuatnya melayang jauh hingga terjatuh lagi menghantam kebun istana itu. Badannya terasa lebih dari sakit, kekuatan yang menghantamnya itu sangat kuat tapi dia tahu itu bukan kekuatan penuh pedangnya Takigawa.
Kekuatan berlipat-lipat yang diturunkan dari penguasa ke penguasa setelahnya mempunyai kekuatan yang lebih dari itu, tapi kekuatan kecilnya itu cukup untuk membuatnya sekujur tubuh luar dan dalamnya dipenuhi luka. Organ dalamnya seakan meledak pecah, tulang-tulangnya seakan meleleh. Luka luar hanya bagaikan ribuan luka sayatan, tetapi luka dalamnya ribuan kali lebih parah dari itu.
Pandangan, mata Kagome mulai kabur, dadanya seakan hendak meledak di setiap tarikan nafas. Tubuhnya seakan menolak diperintah olehnya, dia tidak dapat bergerak! Dengan pandangannya yang kabur dia bisa melihat sepatu boot Takigawa mendekatinya, ujung pedang itu terseret di tanah. Pedang itu masih mengeluarkan cahaya biru keunguan yang menyilaukan, mematikan. Kaki itu berhenti, mata Kagome terpejam sesaat setelah cahaya berwarna biru terang menghantam tempat Takigawa berdiri.
E/N : Yoarashi : Night Storm
Untuk chapter ini gw maksa mata untuk melek walau udah berat bgt, jadi gw mohon maaf untuk segala kekurangan.
Sekali lagi maaf karena minggu kemarin gak update, sebisa mungkin hal itu gw usahain gak keulang, gome Kimeka, tami04, dan Keno:(.
Pertarungan dengan Takigawa gak berakhir sampai disini, terima kasih untuk Kenozoik Yankie, Kimeka, dan tami04 yang masih ngikutin BHT sampai chapter ini.
Minna saikou arigato^.~
Pagi 22-11-2015 chapter ini udah gw edit ulang. Poin penting yg gw catat, klo ngantuk jgn ngedit cerita, karena itu bakalan bikin cerita tambah ngaco! Hehehe :p
