Disclaimer : I do not own Inuyasha except for Takigawa of course.
Warnings : Character's death, blood/gore, and graphic violence.
Reiki : Kekuatan spiritual/pemurnian yang dimiliki miko yang bisa membunuh youkai, enjoy it ;)
Sesshoumaru terbang menembus awan-awan tipis di langit. Di bawah kakinya hanyalah lukisan buram kehijauan, kecepatan tinggi membuat tidak ada sehelai rambut silverpun bertengger di wajahnya. Sudut-sudut alisnya berkerut di tengah, wajah yang biasanya tidak mudah terpengaruh oleh emosi itu kini terombang-ambing kegundahan. Odachi yang sudah berada di tangannya setelah pencarian beberapa waktu yang lalu tidak seperti yang diharapkannya, buih-buih kebimbangan didirinya berubah menjadi selapis amarah.
Jawaban dari Bokuseno hanya membuat berbagai macam pertanyaan baru bermunculan di kepalanya. Sesshoumaru ingin sekali melampiaskan kemarahannya saat ini, pada apapun atau siapapun. Tapi tidak. Dia adalah Sesshoumaru. Seorang pembunuh yang sempurna seperti namanya, dia tidak akan membiarkan dirinya sendiri berbuat sesuatu yang sia-sia. Dia akan menemui Takigawa sekarang, satu-satunya tugas yang tersisa untuknya.
Penguasa Selatan tidak akan ada lagi di dunia ini, tidak akan ada lagi perjanjian konyol yang dibuat ayahnya. Mengapa ayahnya mengusulkan perjanjian dengan seluruh penguasa seperti itu? Dia akan membuktikan pada ayahnya di alam sana kalau dialah yang terkuat. Dia akan melampiaskan kemarahannya pada lawan tanding yang selevel dengannya, ingin sekali dia membuang Odachi begitu saja tetapi sesuatu di dalam dirinya berhasil menghentikannya.
Jarak yang jauh dari hutan tempat Bokuseno bersemayam ke daerah Selatan Jepang ditempuhnya dengan sangat cepat, kini dia sudah berada di wilayah kekuasaan Takigawa. Matanya menyipit saat dari jauh dia bisa mencium dua bau darah yang berbeda, salah satunya adalah milik hanyou itu, penciumannya tidak akan salah. Tangannya terkepal kuat saat bau darah hanyou itu membuat beberapa potongan kenangan yang tidak dapat dibanggakan kembali hadir di otaknya.
Istana Takigawa sudah terlihat, walaupun dari jarak ratusan meter di bawahnya dia bisa melihat hanyou itu terkapar tak berdaya. Takigawa yang tertawa berjalan mendekati wanita itu dengan pedang berpendar yang siap memuntahkan kekuatannya. Sesshoumaru mengeluarkan Bakusaiga, serangannya tepat mengenai sasaran. Takigawa terpental sejauh ratusan meter.
Takigawa menyadari serangan Sesshoumaru hanya beberapa detik sebelum serangan itu menghantamnya. Rambut silver panjang Sesshoumaru berayun lembut saat dia berpijak di tanah dengan anggun, Bakusaiga masih siaga di tangannya. Hanyou itu terkapar tak bergerak, tetapi Sesshoumaru tahu dia masih bernafas. Sesshoumaru benci atas campur tangan hanyou yang entah mengapa selalu berada di jalannya.
Takigawa telah bangkit di atas kedua kakinya, wajahnya semakin garang karena amarah. Pakaian yang dikenakannya robek dan berhias darah di beberapa tempat karena hantaman youki dari Bakusaiga.
"Cih, ternyata kau adalah dalang atas semua ini. Aku tidak menyangka Sesshoumaru putra Inu no Taisho penguasa wilayah Barat melakukan hal serendah itu" tatapan Takigawa meremehkan.
"Sesshoumaru ini, datang untuk menantangmu, bukan untuk mendengar penghinaanmu" kata Sesshoumaru dengan nada dinginnya yang mematikan.
Takigawa memaksakan diri berdiri tegap "Jadi hanyou itu tidak ada hubungannya denganmu heh?" satu sudut alis Takigawa terangkat.
Sesshoumaru berjalan mendekat beberapa langkah, melewati hanyou yang sekarat.
Langkah Sesshoumaru terhenti "Urusanku hanyalah denganmu, Takigawa sang penguasa wilayah Selatan" Sesshoumaru mengacungkan pedangnya "Perjanjian konyol itu berakhir disini. Aku, Sesshoumaru penguasa wilayah Barat, menantangmu untuk bertarung memperebutkan semua wilayah yang tersisa. Tidak akan ada lagi penguasa-penguasa wilayah, hanya akan ada satu penguasa. Siapa yang terkuat diantara kita dialah sang penguasa tunggal" suara Sesshoumaru yang dalam penuh dengan kepercayaan diri yang mengancam.
Takigawa tertawa, tawanya menggelegar "Pertama-tama adalah Tokushin, Kuroichi, mereka dibunuh oleh seorang hanyou" ucap Takigawa setelah tawa itu lenyap. "Hanyou wanita!" nadanya sangat meremehkan saat mengatakan kata 'wanita'.
"Berita yang sama sekali tidak kupercayai pada awalnya. Dan semua itu kini masuk akal, bila kau dibelakang semua ini, Sesshoumaru" nadanya jijik "Dengan pintarnya menguak masa laluku, membuat perhatianku teralihkan lalu menyerangku dari belakang. Apakah cara itu juga yang kau dan hanyou itu gunakan saat menyerang Tokushin dan Kuroichi heh?" penghinaan terhadap Sesshoumaru jelas terbaca dari suara dan wajah Takigawa.
Mata Sesshoumaru menyipit mendengar penghinaan Takigawa "Jangan pernah merendahkan aku seperti itu, aku bisa dengan mudah membunuhmu kapanpun aku mau" aliran youki yang kuat memancar dari seluruh tubuh Sesshoumaru, rambut dan pakaiannya terombang-ambing oleh kekuatan yang menguar.
Dia menyatukan aliran youki di tubuhnya dengan aliran youki di pedangnya. Bakusaiga terangkat secara horizontal, cahaya biru terang yang sangat menyilaukan terpancar lebih kuat dari sebelumnya. Saat ini Bakusaiga miliknya hanya menawarkan kematian. Cahaya kekuatan itu begitu memancar, mendominasi, mengancam, dan begitu mematikan.
Walau dia terluka tapi tidak ada gentar di diri Takigawa "Sudah lama aku menunggu kesempatan ini, kita akan lihat siapa yang lebih kuat" Takigawa menyeringai seiring pedangnya memancarkan kekuatan yang sama berbahaya.
Semua pengawal youkai dan manusia yang semula memperhatikan dari kejauhan kini berhamburan melarikan diri, tidak lagi ingin menyaksikan atau memikirkan tugas mereka setelah pertarungan itu selesai. Lawan tuan mereka kali ini adalah Sesshoumaru-sama, Dai Youkai wilayah Barat, tidak ada jaminan mereka akan selamat bila tetap berdiri menyaksikan. Pertarungan keduanya akan melibatkan kekuatan yang besar dan mereka tidak ingin kehilangan nyawa hanya karena terkena imbas dari salah satu serangan kedua Dai youkai itu. Semua pengawal manusia dan youkai telah pergi dari istana itu, tapi tidak dengan sang miko dengan rambut cokelat sebahu itu.
Kedua youkai itu mendekat dengan gerakan yang tak tertangkap mata manusia, bunyi dari kedua pedang yang beradu menimbulkan bunyi gelegar seperti petir. Bakusaiga dan Yoarashi masih beradu. Takigawa mendorong sekuat tenaga, aliran youki di kedua pedang itu menimbulkan bunyi desisan. Kaki kanan Takigawa sedikit tertekuk, menjejak sekuat tenaga ke tanah dengan kuda-kudanya yang kokoh. Mata nilanya memandang garang kepada youkai muda yang sombong itu dengan benci. Betapa dia membenci mata itu, mata itu sangat mirip dengan ayahnya, rival terbesar yang pernah dimilikinya dahulu.
Kekuatan mereka seimbang, tidak ada yang terdorong mundur sedikitpun dari tempat mereka berdiri. Tanah yang dijejak Sesshoumaru untuk menahan tubuhnya menimbulkan garis dalam, Sesshoumaru memutar pedangnya ke kiri membuat Takigawa oleng ke kanan. Dengan itu Sesshoumaru menyerangnya lagi dengan ledakan yang sama seperti sebelumnya. Targetnya meleset, Takigawa yang memiliki mata awas menghindar di saat-saat terakhir. Takigawa melompat mundur beberapa langkah, itu cukup untuk membuat satu sudut bibir Sesshoumaru terangkat sedikit untuk sesaat.
"Berita itu terlalu mengada-ada, kau bukanlah lawanku" kata Sesshoumaru dengan dingin.
Takigawa menggeram marah, "Benar kau bukanlah lawanku, bahkan ayahmupun bukan lawanku, kalian tidak sebanding denganku!" teriaknya sebelum menyerang Sesshoumaru dengan kekuatan petir yang keluar dari pedangnya.
Apa yang dikatakan Takigawa membuat mata Sesshoumaru membelalak sesaat, dengan gerakan anggun bagai menari Sesshoumaru melompat tinggi menghindar dari serangan Takigawa. Tanah yang terkena aliran petir Takigawa menjadi lubang dalam hitam yang mengeluarkan asap abu-abu pekat.
"Perlu aku ulangi? Ayahmupun tidak cukup kuat melawanku" Takigawa melancarkan serangan yang sama beruntun, dan dengan cara yang sama pula Sesshoumaru berhasil menghindarinya. Pohon-pohon terbakar, bangunan hancur, tidak ada tempat yang tidak hancur oleh serangan Takigawa.
Mata Sesshoumaru menyipit, apa yang dikatakan lawannya barusan membuatnya terkejut oleh kepercayaan diri Takigawa yang terlalu tinggi "Ayahku akan dengan mudah mengalahkanmu" nadanya lebih dingin dari biasanya.
Sesshoumaru merasa sangat terhina oleh kata-kata Takigawa. Sang ayah yang menjadi panutan dan dikagumi, direndahkan oleh lawannya. Gejolak amarahnya mempengaruhi kekuatan dahsyat yang melesat keluar dari Bakusaiga menjadi sangat besar dan mencakup wilayah yang luas.
Kali ini Takigawa tidak menghindar, dia malah mengeluarkan lebih besar lagi kekuatan petir Yoarashi. Kedua kekuatan yang besar itu beradu dan sebuah ledakan yang besar tercipta. Kedua Dai youkai itu terseret mudur beberapa kaki ke belakang, Sesshoumaru menancapkan Bakusaiga ke tanah agar lututnya tidak sampai menyentuh tanah dan tubuhnya tidak terdorong lebih jauh lagi kebelakang.
"Katakan omong kosong itu kepada ayahmu di alam sana" tiba-tiba Takigawa sudah di hadapannya, dia mengayunkan pedangnya mencoba menebas kepala Sesshoumaru. Dengan cepat Sesshoumaru mencabut Bakusaiga dari tanah lalu menahan serangan Tagikawa dengan pedangnya secara horizontal, Sesshoumaru menggeram marah.
"Dengan tangankulah kau akan menemui ajalmu, sama seperti ayahmu" dia tersenyum sadis.
Sesshoumaru terdorong mundur, dia hendak mengeluarkan lagi kekuatan Bakusaiga namun belum sempat ia menyerang Takigawa menendangnya. Ia hampir jatuh namun pedangnya lagi-lagi menjadi tumpuannya, dia tidak pernah tersudut dalam satu perkelahian, tidak pernah jatuh di atas kedua lututnya, dan tidak akan, pikirnya. Bukan tendangan Takigawa yang membuat darahnya semakin bergolak tetapi kata-katanya tentang kematian ayahnya.
"Jelaskan padaku!" perintah Sesshoumaru sambil bangkit berdiri, suaranya yang berat semakin dalam oleh amarah.
Takigawa tertawa "Sudah kukatakan kepadamu, ayahmu itu lemah. Seharusnya kau berterima kasih kepadaku, karenaku kau kini menjadi penguasa wilayah Barat, setelah kematiannya"
"Seorang mikolah yang membunuh ayahku" suaranya datar, pikirannya bergelut dengan apa yang diucapkan Takigawa.
Apa yang diucapkannya tentang miko yang membunuh ayahnya adalah apa yang diberitahukan ibunya kepadanya. Itu adalah apa yang selama ini diketahuinya dan apa yang selama ini dipercayainya. Tapi benarkah itu? Apakah ibunya melihatnya sendiri? Apakah yang dia anggap selama ini fakta mungkin hanyalah berita yang mereka buat-buat?
Lagi-lagi Takigawa menyeringai "Tidak penting kau percaya atau tidak, kau bisa menanyakannya langsung kepada ayahmu disana" percikan seperti listrik sewarna dengan warna mata sang pemilik bergelombang dari pangkal hingga ujung Yoarashi semakin menebal, kekuatan yang keluar tiga kali lebih dahsyat dari sebelumnya.
"Jika itu benar aku tidak akan memaafkanmu" geraman marah bergemuruh di dadanya "Aku akan mengulitimu hidup-hidup" suara Sesshoumaru penuh ancaman.
Kekuatan biru keunguan itu berputar-putar menuju Sesshoumaru, dengan tenang dia mengangkat pedangnya lalu mengeluarkan kekuatan Bakusaiga yang sama besarnya. Kedua kekuatan itu beradu untuk yang kedua kalinya menciptakan ledakan di tengah dan menghancurkan segala yang ada disekitarnya. Sesshoumaru dengan perlahan namun pasti berjalan maju, begitupun kekuatan yang dikeluarkan Bakusaiga perlahan namun pasti melahap kekuatan petir Takigawa. Takigawa terdorong mundur, dia terdesak.
Sedikit lagi dia akan terkena serangan mematikan itu, dia tidak bisa lari lagi. Matanya terbelalak lebar, ketakutan menghantuinya. Takigawa tidak pernah menyangka kekuatan Bakusaiga bisa sebesar ini, separuh dirinya menyesali apa yang telah dikatakannya. Mungkin bila dia tidak mengungkapkan kebenaran itu Sesshoumaru akan mengampuninya. Tidak! Batin Takigawa menolak, bagaimanapun juga Sesshoumaru akan membunuhnya.
Takigawa mencoba mengeluarkan youkinya agar mengalir ke pedangnya lebih banyak lagi, tetapi percuma karena energinya semakin menipis. Semakin dekat jarak mereka, Sesshoumaru dan kekuatannya semakin mendesak dan melahap tenaganya yang hampir terkuras habis. Satu langkah lagi Sesshoumaru mendekat kekuatan itu akan menelannya, itu pasti!
Di detik-detik terakhir kekuatan Bakusaiga hampir menghantam Takigawa disaat itulah sebuah panah yang bersinar merah muda melesat dari arah barat tak jauh dari tempat Sesshoumaru berdiri, panah itu menembus memurnikan kekuatan Bakusaiga hingga lenyap tak berbekas dan mengarah tepat ke Sesshoumaru. Perhatian Sesshoumaru terpecah saat dia merasakan aliran tenaga yang memurnikan, suatu bahaya mendekatinya, dia menghindar bergerak cepat ke samping dari panah yang akan melukainya dengan aliran reiki. Tembakan itu sangat tepat sasaran bila saja Sesshoumaru tidak menghindar di detik-detik terakhir, baju pelindungnya yang terbuat dari besi telah hancur berkeping-keping oleh panah itu . Walau kekuatan reiki itu tidak terlalu besar untuk melenyapkannya tapi reiki itu dapat membuatnya terluka sama parahnya bila terkena hantaman petir dari pedang Takigawa.
Seorang miko berdiri tidak jauh dari mereka sedang meletakkan anak panah kedua di busur, dia bersiap menyerang lagi. Seorang miko, tangan kanan Takigawa, seperti yang telah dia dengar sebelumnya. Miko itu bersiap menyerang, targetnya telah terkunci. Dengan tangan kiri, Sesshoumaru menarik pedang Odachi keluar dari sarungnya lalu melemparkannya ke miko itu, disaat yang bersamaan Takigawa menyerangnya lagi. Petir itu hampir saja mengenainya, dia bergerak cepat mengeluarkan kekuatan Bakusaiga lagi lalu menyerang Takigawa. Serangan Takigawa tidak lebih hebat dari sebelumnya, dia telah kehabisan tenaga.
Takigawa telah terpojok, ujung Bakusaiga telah berada tepat di lehernya. Sesshoumaru mendengus "Beraninya kau membunuh ayahku dan menyebarkan berita bohong tentang kematiannya, bila itu benar. Tapi, dia tidak mungkin kalah dengan youkai sepertimu" seluruh mata Sesshoumaru kecuali iris emasnya berubah merah darah, tatapannya tajam menusuk.
"Itu mungkin, bila kekuatanku berpadu dengan reiki" dia tertawa pahit "Tapi, membunuhku tidak akan mengembalikan ayahmu" tantangnya.
"Itu benar, tapi aku akan tetap membunuhmu" suara Sesshoumaru menggelegar.
Sesshoumaru mundur selangkah, Bakusaiga memancarkan sinarnya lagi bersiap mengeluarkan kekuatan yang akan mengakhiri pertempuran ini. Wajah Takigawa yang kecoklatan lebih pucat dari kertas, ketakutan akan kematian membuatnya terpejam menanti serangan sang lawan. Sesshoumaru mengangkat pedangnya secara horizontal sebatas dadanya, kekuatan itu meledak keluar dari Bakusaiga. Kekuatan itu hampir menerpa Takigawa namun miko yang tadi melindungi Takigawa entah sejak kapan telah mendekat dan kini dia berdiri di hadapan Sesshoumaru untuk menjadi perisai pribadi Takigawa. Pundak miko itu masih mengeluarkan darah merah segar akibat pedang Odachi yang dilemparkan oleh Sesshoumaru, tapi pedang itu sudah menghilang dari tubuhnya.
Kedua tangan miko itu bersinar merah muda terangkat lurus di depan dadanya. Dia membuat sebuah penghalang bulat untuk melindungi dirinya, sedangkan Takigawa berlindung di belakangnya diluar pelindung reiki yang dibuatnya. Penghalang itu semakin besar, serangan Bakusaiga yang mengenai penghalang itu menghilang begitu saja. Miko itu tertunduk, kakinya bergetar. Bulir-bulir keringat dingin bergerak turun perlahan dari keningnya, dia mengeluarkan seluruh tenaganya.
Pengendalian reiki yang dilatihnya selama belasan tahun takkan berguna bila tidak dia gunakan untuk melindungi orang yang dicintainya, walaupun mungkin orang itu tidak pantas mendapatkannya. Tetes air mata jatuh dari sudut-sudut matanya, kakinya tidak tahan lagi menahan berat tubuhnya sendiri. Dia benar-benar kehabisan tenaga menghadapi Dai youkai dengan aliran youki yang sangat kuat ini, mengeluarkan reiki sebesar itu sama saja bunuh diri. Tapi memang itulah yang diharapkannya, hidup dengan melihat tuannya, orang yang dicintainya mati terbunuh tidaklah membuatnya bisa melanjutkan hidupnya.
Reiki pelindung itu semakin lama semakin mengecil, kekuatan Sesshoumaru tidak berkurang sedikitpun. Hingga akhirnya pelindung itu perlahan menghilang seiring dengan ambruknya sang miko terbaring tak bergerak ke tanah, Sesshoumaru menghentikan serangannnya. Dia tersenyum sebelum menghunus Bakusaiga yang bersinar kebiruan itu mengarah ke dada Takigawa, dengan secepat kilat Takigawa menarik rambut miko yang tergeletak di tanah dan membuatnya menjadi perisai hidup.
"Ugh" tidak ada jeritan yang keluar dari mulut miko itu, hanya bunyi daging yang terobek paksa dan tulang rusuk yang berderak patah saat Bakusaiga menembus dadanya. Air mata terakhir jatuh di pipinya, kekecewaan, terkhianati, dan putus asa tergaris di wajahnya sebelum dia menutup mata untuk selamanya. Sesshoumaru dengan risih menarik kembali Bakusaiga yang kini berlumuran darah.
Disaat yang bersamaan Takigawa memanfaatkan kesempatan yang ada, dia melompat mundur selangkah, senyum kemenangan terukir di wajahnya. Dengan sigap dan sangat cepat ia mengumpulkan segenap tenaga yang tersisa, mengalirkan youki nya melalui pedangnya. Cahaya biru keunguan itu bersinar lebih dari biasanya, langit luas mulai gelap dan menghitam. Arus energi listrik terserap dari langit oleh Yoarashi, dengan sekejap kekuatan itu dilontarkan oleh Takigawa. Ledakan dahsyat petir melesat menghantam Sesshoumaru dan miko yang masih menancap di pedangnya. Sesshoumaru tersapu oleh kekuatan petir milik Takigawa yang dahsyat, dia terpental jauh kekuatan itu sangat hebat menerpanya. Tidak ada sepotong kecilpun bukti keberadaan miko tragis yang membela cinta yang salah tempat itu, tubuhnya terlahap habis oleh petir kelam Yoarashi hingga lenyap tak bersisa.
-.
Pada awal-awal kedatangan Sesshoumaru, Kagome baru menginjak tepi kesadaran. Samar-samar dia bisa mendengar suaranya, kemudian suara Takigawa tertawa. Tubuhnya sudah tidak ditempatnya semula, dia sedang dipindahkan oleh seseorang. Perlahan dia membuka mata, pandangannya masih kabur. Dia memejamkan matanya lagi, suara Takigawa yang kasar terdengar dan juga suara dingin Sesshoumaru. Tubuh Kagome bagai tak bertulang, masih terasa sangat lemah untuk digerakkan. Dia membuka mata lagi, dia melihat kedua kakinya terseret di tanah.
Penglihatannya mulai membaik, Sesshoumaru dan Takigawa agak jauh darinya berdiri berhadapan dalam keadaan tegang. Itu bisa terlihat dari posisi tubuh mereka, walau hanya sedikit sekali percakapan mereka yang bisa ditangkap oleh telinganya yang masih berdengung sakit efek serangan Takigawa. Suara wanita terengah-engah di belakangnya. Ternyata yang dengan susah menyeretnya itu adalah wanita, benak Kagome. Kedua tangan wanita itu melingkar di bawah lengan Kagome, beberapa kali dia hampir terjatuh karena langkahnya sendiri tapi dia berdiri kembali mencari tempat aman.
Kagome dibaringkan di puncak tangga di depan salah satu bangunan di istana itu "Kau akan aman disini" kata penolongnya, lalu dia masuk kedalam bangunan itu.
Miko yang tadi, pikir Kagome. Mengapa dia bersusah payah menolongnya? Apakah dia juga mengenal ibunya? Kagome masih terbaring, dalam hati mengutuk ketidak berdayaannya saat terdengar bunyi dentuman dan suara menggelegar seperti suara petir bercampur dengan ledakan. Sesshoumaru dan Takigawa sedang bertarung, pikirnya. Dia memaksa tubuhnya untuk bergerak, tangan dan kakinya mulai mematuhinya tapi tidak dengan badannya.
Butuh sekuat tenaga dan seluruh kemauannya untuk kuat menahan rasa sakit yang menyerangnya hanya untuk memiringkan tubuhnya agar dia bisa duduk. Nafasnya memburu, rasa sakit itu tidak menghilang bahkan setelah dia bisa duduk. Kagome mencengkram dadanya yang masih terasa terbakar di dalam sana, dia bersandar di pembatas kayu. Bau kayu dan daun yang terbakar dapat dicium dengan jelas, sepertinya pertarungan semakin sengit. Dia harus segera bangkit!
Miko yang menolongnya itu keluar dengan membawa busur dan anak panah " Tetaplah disini bila kau ingin tetap hidup" matanya menatap Kagome, suaranya tegas memerintah sebelum berlalu.
Kagome tertawa ironis, miko itu sekilas mengingatkannya kepada sang ibu. Bila dia berbuat nakal wajah ibunya yang lembut tidak berubah namun kata-katanya tegas, dan dia tidak pernah berani menentang ibunya saat itu. "Ayolah!" teriaknya menyemangati diri sendiri.
Akhirnya dia berhasil berdiri di atas kedua kakinya walau tubuhnya masih membungkuk, kekuatannya mulai pulih secara amat perlahan tidak seperti biasanya. Dia bisa melihat miko itu berdiri beberapa langkah darinya, mengarahkan anak panahnya kepada Sesshoumaru yang sedang dalam posisi menang.
"Oh, sial!" Kagome mengutuk dirinya sendiri, dia bermaksud berlari kencang tapi hanya bisa berjalan tertatih-tatih. Entah siapa yang dia khawatirkan miko yang baru saja menolongnya ataukah Sesshoumaru yang telah dua kali menolongnya yang kini menjadi sasaran miko itu? Kepada pihak mana dia akan berdiri? Miko itu melepaskan anak panahnya, untuk sesaat ketakutan menguasai Kagome. Dia merasa jantungnya seperti di remas dengan kuat, dadanya yang sakit semakin sakit.
Sesshoumaru menoleh, dia berhasil menghindarinya. Anak panah kedua yang disiapkan sang miko terjatuh, entah kapan Sesshoumaru melemparkan pedangnya. Pedang itu kini menancap di bawah pundak kiri sang miko, tepat diatas jantungnya. Miko itu terjatuh diatas kedua lututnya, dengan perlahan darah mengalir dengan deras, tangan kanannya memegang bilah pedang di dadanya. Kagome mendekatinya, miko itu terus merintih kesakitan. Kagome memperhatikan wajahnya, selain kesakitan, wajahnya terus memancarkan kekhawatiran yang dalam. Kekhawatiran untuk sang tuannya, tatapannya tak henti-hentinya teralih kepada Takigawa yang sedang bertarung.
Kagome tidak habis pikir untuk apa dia terus membela Takigawa dan membahayakan dirinya sendiri? Tidakkah manusia itu menyayangi nyawa mereka? Dengan segala kelemahan dan keterbatasan yang dimiliki oleh mereka? Dia tidak lupa perkataan miko itu kepada Takigawa saat Kagome menantang tuannya, miko itu mencintainya. Sekuat itukah kekuatan sesuatu yang dinamakan cinta? Tapi Kagome sendiri ragu tentang keberadaan cinta itu di hidupnya selain kepada ibunya. Tatapannya beralih ke pedang yang menancap di bawah pundak miko itu, pedang itu sangat panjang hingga ujung pedang itu menyentuh tanah.
Kagome membungkuk di depannya "Miko" panggillnya, miko itu menatap Kagome "Biarkan aku menolongmu" miko yang meringis kesakitan itu mengangguk lalu memejamkan mata kuat-kuat dan mempersiapkan dirinya.
Kagome meletakkan kedua tangannya yang masih gemetar di pegangan pedang hitam yang mengkilat itu, dia meregangkan jari-jarinya sesaat sebelum menggenggam pedang itu dengan mantap. Semoga saja dia tidak membelah tubuh miko itu dan dapat menarik pedang itu dengan mulus, karena tenaga ditubuhnya belum sepenuhnya pulih Kagome tidak benar-benar yakin bisa melakukannya. Dengan kuat, stabil, cepat, dan berhati-hati dia menarik pedang itu dari tubuh sang miko. Miko itu menjerit, darah mengucur lebih deras lagi dari lukanya. Beruntungnya luka itu tidak bertambah lebar, miko itu menekan luka itu sekuat tenaga dengan tangan kanannya.
Kagome menancapkan ujung pedang Odachi ke tanah untuk menopangnya berdiri, Kagome tertunduk merasakan sakit yang menyelubungi seluruh tubuhnya karena gerakan tadi. Telinga di puncak kepalanya berkedut saat mendengar derap langkah kaki berlari, miko itu telah menghilang dari sisinya. Dia telah berada disana, ditengah-tengah pertarungan antara Sesshoumaru dan Takigawa. Dia berada diantara dua youkai yang terbakar amarah, dan haus darah. Dia melindungi Takigawa dengan seluruh reiki yang dimilikinya, namun Sesshoumaru tidak bergeming. Sedikitpun Sesshoumaru tidak terpengaruh, kekuatannya masih menyerbu dengan gencarnya tidak berkurang ataupun melemah.
Kagome memaksakan diri berjalan, telapak kakinya seperti tertusuk beribu-ribu pisau disetiap langkahnya. Dia tidak perduli, dia memaksakan diri untuk berlari tapi tubuhnya hanya bersedia untuk berjalan cepat itupun masih bertopang kepada pedang Odachi milik Sesshoumaru. Reiki miko itu telah melemah, kini dia tergeletak di tanah bagai boneka tanpa nyawa. Langkah Kagome terhenti sejenak, dia benar-benar tidak tahu entah apa yang ditunggunya. Entah siapa yang dikhawatirkannya, miko itu, Sesshoumaru, atau, dia khawatir bukan dialah yang membunuh Takigawa? Lagi-lagi Takigawa terpojok, selesai sudah pikir Kagome.
Tapi sesuatu yang tidak diduganya terjadi, apa yang dilihatnya membuatnya terbelalak ngeri. Bukan kekejaman yang pertama kali dilihatnya, tapi sebuah pengkhianatan yang menyedihkan. Tragis, itulah kata yang tepat untuknya. Youkai yang mati-matian dilindungi oleh miko itu malah menggunakannya sebagai perisai dari hunusan Bakusaiga. Tanpa sadar Kagome menggeram, amarahnya memuncak.
Takigawa si penguasa Selatan yang kemungkinan besar ayahnya tak lagi di pedulikannya, dia tidak akan mengampuninya. Kagome mulai berlari saat Sesshoumaru dan tubuh miko itu terkena hantaman kekuatan dahsyat pedang Takigawa, yang terakhir dilihatnya adalah tubuh Sesshoumaru yang terpental jauh lalu menghilang ditelan kekuatan petir Takigawa. Sedangkan keberadaan sang miko tidak tersisa sama sekali, tidak bahkan secarik kecil kainpun.
Kagome hampir saja jatuh terjerembab di tanah saat keputusasaan menguasainya, namun disaat itulah dia merasakan sesuatu berdetak hidup. Detak kehidupan itu mengirimkan kekuatan kepadanya, membakar keputusasaan yang dirasakannya hingga tak ada yang tersisa. Tubuhnya terasa panas, panas oleh energi yang membludak meminta untuk dikeluarkan. Dia berlari sekuat tenaga, dengan sekejap mata dia sudah berada dihadapan Takigawa. Takigawa menyeringai senang, seringaiannya belum menghilang saat Kagome sudah membuat jantungnya berhenti memompa darah ketubuhnya. Saat Takigawa menyadarinya, saat itu sudah sangatlah terlambat. Takigawa sudah lumat bagaikan daun yang dilahap oleh ulat, bedanya hanyalah itu terjadi secepat kilat.
Dada Kagome naik turun karena nafasnya yang memburu, tidak pernah dia merasakan kekuatan seperti ini. Rasanya begitu membakar, membuatnya bergairah, dia begitu menikmati membunuh Takigawa. dendam telah terbalaskan, semua yang mengikat masa lalu telah terputus. Dengan kekuatan yang dimilikinya dunia bagaikan berada di genggamannya, tapi dia tidak suka mengingat kenyataan yang baru saja dia saksikan. Kesadarannya yang kokoh telah kembali, hidungnya berkerut jijik. Dia membenci dengan apa yang baru saja dirasakannya, menikmati pembunuhan, pertumpahan darah. Kagome membenci dirinya sendiri. Dia, sendiri. Kesepian, adalah sebuah kenyataan pahit yang kini menjadi kabut pekat di otaknya. Dunianya kembali sepi, bukan berarti dia menikmati dunia yang ramai akan pertempuran, bila keramaian menyiksanya maka kesunyian seakan membunuhnya. Kagome memungut Yoarashi, pedang milik Takigawa dan Odachi milik Sesshoumaru yang tadi terjatuh dari genggamannya.
Kagome mulai berjalan tak tentu arah dengan lunglai, tak ada tempat yang terpikirkan, tak ada seseorang yang menantinya. Tubuhnya sudah hampir sepenuhnya pulih, tapi sesuatu didalam hatinya terasa sakit. Dia berjalan memasuki hutan, ke arah terakhir Sesshoumaru menghilang. Tempat yang terlihat semakin gelap bagai labirin raksaksa saat matahari telah tenggelam. Kegelapan selalu membuatnya terkucil, cahaya membuatnya takut. Dunia ini tak lain dan tak bukan hanyalah sebuah ladang pembantaian besar-besaran baginya, apa yang dia rasakan dulu kini dirasakan oleh orang lain, karena perbuatannya, mereka merasakan hal yang sama. Sebuah pengulangan akan terus terjadi, dia tidak tahu jalan mana yang harus dia tempuh selain ini.
Tapi bagaimana hatinya bisa tenang bila dia tidak mengejar pembunuh ibunya? Sekarang seluruh penguasa wilayah telah tewas, perasaan hampa itu kembali menyerangnya. Kosong. Apa yang harus dia rasakan saat ini? Bahagia? Puas? Tidak, dia tidak puas. Tidak ada yang dirasakannya sama sekali setelah dendam telah tuntas. Selain itu perasaan sakit apa ini, sakit yang sama seperti yang ia rasakan di hari dia kehilangan ibunya. Kehilangan ibunya adalah suatu pukulan yang sangat berat baginya, satu-satunya cahaya di hidupnya diambil paksa darinya. Kehilangan itu menimbulkan luka yang sangat menyiksa, luka yang tak akan pernah hilang. Api dendam yang membakarnya telah padam, meninggalkan asap yang membuat sesak, dan membutakan.
Entah sampai kapan dia akan terus berjalan di kegelapan hatinya tanpa satu peneranganpun, kepalanya tertunduk. Kedua pedang itu diseretnya, meninggalkan jejak panjang, kedua kekuatan dahsyat itu ditangannya tapi dia tak peduli. Tidak ada yang di pedulikannya saat ini, begitupun orang lain. Dulu tidak ada satu mahlukpun yang peduli bagaimana dia merintih dan terluka. Saat dia memohon kematian yang tidak juga datang menjemputnya. Kematianpun seakan-akan tidak ingin kehilangan hiburan menyaksikan penderitaan yang dialaminya.
Saat ini ingin sekali rasanya dia menangis seperti saat dia kecil dulu bila dengan itu perasaan hampa yang dimilikinya akan hilang dan semua masalah akan terasa lebih ringan. Sayangnya dia tidak bisa menangis lagi setelah kematian ibunya. Dia terus berjalan masuk di kedalaman hutan yang semakin gelap pekat, segelap hatinya. Di sudut hati terdalam yang jarang dia kunjungi kini dimasukinya, sudut terpinggirkan tempat Kagome lembut berasal, bukan hanyou tangguh yang menguasainya dirinya setelah kepergian ibunya. Kagome yang lembut itu ingin merasakan sesuatu, sesuatu yang lain selain dendam, amarah, dan kebencian. Dia ingin dunianya terhiasi oleh setitik warna selain warna hitam, putih, dan abu-abu. Tapi sepertinya semua terlalu terlambat untuknya, Kagome tidak berani untuk berharap lebih selain bertemu dengan ibunya di alam sana.
Sepertinya dia telah mengkhianati dirinya. Dia telah berani berharap, walaupun harapan itu hanya sebuah kerlip kecil yang terlintas di benaknya saat bertemu dengan seorang youkai yang pongah. Kerlip harapan itu kini tenggelam lagi di dalam kegelapan hati bagaikan sepercik api yang keluar saat kedua batu bergesekan untuk menciptakan api di malam hari yang hujan, kerlip api itu akan dengan mudah tenggelam dan lenyap.
Mengapa setiap orang yang dicintainya selalu meninggalkannya lebih dulu? Ibunya, dan kini? Perasaan itu terlalu cepat untuk dianggapnya sebagai cinta, mungkin itu hanyalah sebuah desiran yang akan terjadi ketika dia berdekatan dengan lawan jenis. Rasa tertariknya kepada sang penyelamat nyawanya, yang kini telah tiada. Ataukah dia memang tidak ditakdirkan untuk merasakan cinta?
Kagome memejamkan mata sambil terus berjalan, dia menghela nafas panjang. Disaat itulah penciumannya menangkap sesuatu, telinga anjingnya berkedut-kedut. Kagome membuka matanya yang berat, dia menatap awas apapun yang ada disekelilingnya. Matanya menangkap sesosok mahluk di bawah sebuah pohon besar, dia bisa merasakan sedikit auranya. Aura dan aroma yang dikenalnya. Kagome mengeluarkan suara terkesiap saat matanya bisa menangkap sosok itu yang berada tak jauh di depannya, sosok dengan rambut silver panjang.
Walaupun samar dengan cahaya yang semakin meremang, dia bisa melihatnya! Garis wajahnya, tanda bulan sabit ungu di dahinya, kedua garis keunguan di pipi kanan dan kirinya. Kelopak matanya yang tertutup garis magenta tipis, kelopak mata yang menyembunyikan sepasang mata kuning keemasan indah yang pernah membuatnya melemah. Kagome memasang baik-baik panca inderanya, dengan pasti dia bisa mendengar suara tarikan nafas yang perlahan dan lemah. Semakin dekat semakin dia bisa mendengar degup jantungnya yang lambat, dia terluka, sepertinya parah namun Kagome bisa mengendus aroma kehidupan yang berasal darinya.
Sesshoumaru hidup!
Ratusan tulang yang membentuk kerangka untuk menopang tubuhnya semakin menjerit, tubuhnya merintih saat hatinya bernyanyi. Kagome bersandar di sebuah batang pohon besar tak jauh dari tempat Sesshoumaru berada, Kagome memejamkan matanya. Lututnya tak kuat menahan berat tubuhnya, tubuhnya merosot ke bawah perlahan. Kini dia duduk di tanah dengan kepala terkulai lemas, kedua pedang legenda tergeletak di sisinya. Berbanding terbalik dengan beberapa saat yang lalu kini, sebuah senyum kecil terukir di wajah cantik namun lusuhnya yang damai.
"Syukurlah.." bisik Kagome lirih. Kelelahan mental dan fisik telah mencapai puncaknya, Kagome tak sadarkan diri.
E/N : Catatan kecil yang mungkin gak penting :p di animanga Sesshoumaru hampir selalu nyebut dirinya "Kono Sesshoumaru" yang artinya "Sesshoumaru ini". Judul chapter ini dan chapter 5 sama dengan judul lagu Skillet yang masuk playlist BHT untuk nemenin gw nulis, gak bakalan bisa ngebayangin adegan fight kalo gak sambil denger lagu-lagu yg 'berisik' hehehe :D
Untuk Tami04, Kenozoik Yankie, qiqielnisa, and Kimeka. Best regards, you guys rocks!
Minna saiko arigato, for read and review ^.~
