Disclaimer: I do not own InuYasha!
Author's note: Untuk ide Sesshoumaru dpt menggunakan aura/youki-nya utk 'membersihkan diri' yg bakalan ngambil peran penting utk hub SessKag di fic ini bukan punya gw tapi milik Angelhart di ficnya yg berjudul 'The Day After Tomorrow', dia adalah author yang paling ramah yang gw kenal di fandom Inuyasha. Sekali lagi, gw cuma meminjam ide itu dengan seijinnya.
Warnings : Bersiap-siaplah sedikit bingung krn kita akan menyelam ke dalam 'otak' karakter utama. Gw yakin awal chapter ini bakalan bikin alis reader-san berkerut, untuk para reader yang kenal dengan Sybil pasti ngerti dan bagi yg gak kenal Sybil Isabel Dorset tetap bertahan baca hingga akhir chapter krn akan ada sedikit penjelasan di end notes.
Wanita itu berdiri disana penuh penantian, rambut hitam panjangnya yang tergerai indah tertimpa sinar matahari lembut. Kimono biru panjang hingga mata kaki memeluk tubuh indahnya, bulu mata yang lentik dan alis yang lebat berjajar indah membingkai matanya yang besar. Kagome berdiri diambang pintu di bangunan besar yang menyerupai istana yang dimiliki oleh Takigawa, istana itu sangat megah dihiasi dengan kolam dan kebun bunga. Perbedaan besar antara istana itu dan milik Takigawa terletak pada penghuninya, hanya ada satu penghuni di istana itu, dialah Kagome yang rapuh.
Istana itu adalah lambang dari alam bawah sadar Kagome, mata Kagome memandang hanyou yang berjalan di kejauhan. Rambut sang hanyou yang dikuncir kuda tinggi berayun kekanan dan kekiri dengan gerakan yang seakan menghipnotis. Hanyou yang mengenakan kimono biru tua dengan panjang sampai pertengahan paha berjalan dengan langkah mantap dan tegap kearahnya, lengkap dengan sebuah seringaian di wajah. Tangan Kagome mulai dingin, kedua kakinya mulai menolak untuk tetap tegak menumpu tubuhnya. Dia akan menghadapi hanyou yang menolongnya, secara langsung. Untuk yang pertama kalinya, dia akan menghadapi dirinya sendiri.
Bertahun-tahun lamanya dia tidak pernah sekalipun meninggalkan bangunan tempatnya tinggal, tempat dimana semua kenyamanan, ketenangan, dan kedamaian berasal. Bangunan yang bertempat di sudut jauh terdalam pikirannya yang tidak akan tersentuh oleh delusi yang akan mencemarinya. Bangunan itu menjadi tempatnya tinggal semenjak kematian ibunya, kehidupan keras yang menghantam hanyou kecil di hutan penuh dengan youkai hanya seperti bulu angsa yang menyentuh kulitnya bila dibandingkan dengan menyaksikan kematian sang ibunda tercinta secara tragis. Kagome kecil yang polos tidak kuat menerima kenyataan, dengan itu dia memecahkan dirinya sendiri.
Ribuan hari dihabiskan Kagome hanya menjadi penonton dari salah satu jendela besar atau dari beranda istana, tidak ada satupun kejadian yang telah 'hanyou tangguh' itu lalui tidak dia ketahui. Kagome selalu berada disana, mengawasi bagian dirinya, hanyou yang tangguh menantang bahaya dan menggoda kematian. Langkah besar pertama Kagome yang rapuh keluar dan memimpin tubuhnya sendiri adalah setelah kematiannya melawan Kuroichi. Bila tidak karena Tenseiga milik Sesshoumaru dia pasti telah mati terkubur di dalam dirinya sendiri, dia akan mati hanya menjadi alter yang terkucil, bukan sebagai si pribadi utama.
Semenjak itulah Kagome rapuh mulai mengambil alih tubuh mereka 'sesekali'. Beruntungnya, diantara dia dan alter ego yang dimiliki saling mengetahui keberadaan satu sama lain. Walau fakta itu tidak mengaburkan kenyataan 'waktu kosong' dan hilang ingatan yang harus dialami oleh alter ego miliknya 'sang hanyou' semakin mempertebal ketidakpuasan hanyou yang tangguh itu kepadanya sebagai pribadi utama. Hanyou tangguh itulah yang selama ini melakukan apa yang tidak bisa dia lakukan, yaitu bangkit berdiri menantang bukit terjal nan curam bernama takdir yang getir.
Setidak-tidaknya dengan saling mengetahui keberadaan satu sama lain sang hanyou sebagai alter egonya akan dapat menerima usul 'perdamaian' yang diajukan dengan sedikit lebih mudah, pikir Kagome rapuh berusaha untuk optimis.
Hanyou itu hanya berjarak dua langkah darinya "Kau kembali" ucap Kagome lembut.
Rambutnya yang dikuncir tinggi terombang-ambing oleh angin yang cukup keras, mata sang hanyou menatap nanar perempuan lembut dihadapannya. Matanya meneliti gadis yang dulu diacuhkannya, karena menurutnya, Kagome adalah gadis rapuh yang hanya bisa meratapi nasib. Lantaran hal itu itulah dia yang mengambil alih tanduk kepemimpinan, dan menguasai tubuhnya. Dia lebih tangguh, kuat, dia tidak merasakan kesedihan sama sekali, tidak mempunyai ketakutan akan apapun, dialah yang membantu Kagome melalui tahun-tahun yang berat di masa kecil hingga saat ini.
"Tidak ada lagi yang kuinginkan saat ini" dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan "Selain dia" imbuh sang hanyou.
Kagome mengerti yang dimaksud dengan hanyou pelindungnya dengan 'dia' adalah Sesshoumaru, "Kau menyukainya?" tanya Kagome.
"Tapi aku tidak mau mati!" jawabnya dengan kasar, dia tahu maksud Kagome. Dia selalu berpikir dengan kembali bersatu dengan Kagome rapuh sebagai pribadi utama dia akan mati dan menghilang begitu saja.
Dia adalah 'hanyou yang tangguh' dia tidak tercipta untuk mencinta, tujuannya adalah bertahan hidup untuk membalaskan dendam. Dendam telah terbalas, dan kini dia hampa. Setelah 'mereka berdua' mengecap kematian, sang hanyou telah melemah. Karena itu Kagome yang rapuh berkali-kali berhasil mengambil tubuh dan membuatnya terkurung di dalam istana yang dikelilingi oleh pagar tinggi yang menyiksanya. Sang hanyou tidak tahan untuk terus terkurung, dia tidak mau terpinggirkan, tapi dia juga tidak ingin kehilangan Sesshoumaru disaat bersamaan.
Kagome tersenyum lembut "Kau tidak akan mati" matanya menatap hangat kepada hanyou yang sedang dilanda kebimbangan itu "Akupun tidak mau mati. Kita tidak akan mati"
"Cepat katakan apa maksudmu!" seru hanyou cantik itu dengan kasar, kedua alisnya berkerut.
"Kau membutuhkanku, begitupun aku yang akan selalu membutuhkanmu. Bila kita bersatu kita akan menjadi kuat dan, kau akan dapat mencintainya" bujuk Kagome yang rapuh. Dia sangat berhati-hati memilih kata-kata yang akan terucap karena dia tahu 'dirinya yang lain' agak sensitif dengan usul yang dimilikinya.
Hanyou itu menelan ludah dengan kentara, telah bertahun-tahun dialah yang berkuasa. Dia yang mengendalikan tubuh ini, dia tidak ingin menyerahkannya begitu saja kepada Kagome yang rapuh. Tapi dia tahu, Kagome yang rapuhlah yang dapat mencinta. Sedangkan dia? Dia hanyalah sang penuntut balas dendam, dia tak ubahnya sebuah mesin tempur sekaligus pertahanan terbaik yang dimiliki oleh Kagome.
"Aku tidak ingin terkurung lagi" nadanya tidak lagi kasar namun sedikit melemah.
Kagome berjalan mendekatinya, lalu menggenggam tangannya "Kau tidak akan terkurung begitu juga aku. Tidak ada lagi tembok pembatas disana, lihatlah!" ujar Kagome.
Hanyou itu menolehkan kepalanya, dia membuktikan kata-kata Kagome dengan matanya. Tembok tinggi yang memisahkan dia dengan dunia yang indah tidak lagi berdiri dengan keji, tembok pembatas itu lenyap begitu saja.
"Menghilang!?" ucap sang hanyou tak percaya, matanya terbelalak.
Tembok pembatas itu adalah rekaan yang menjadi simbol dari dendam atas kematian sang bunda. Tembok yang terbangun dari dendam, kesedihan, dan kesengsaraan yang bertahun-tahun mereka bangun kini telah runtuh. Tidak ada lagi yang menghalangi mereka melihat keindahan yang terbentang tak jauh dari istana, padang rumput luas yang diisi oleh ratusan bunga yang merekah dengan berbagai macam warna itu berakhir saat menyentuh bibir danau yang indah dengan air berwarna kehijauan, di belakang danau berjejer dengan rapi pepohonan yang penuh dengan binatang-binatang kecil lucu yang berkeliaran.
"Sangat indah" kata sang hanyou dengan penuh kekaguman, lalu dia menolehkan kepalanya untuk memandang Kagome rapuh yang masih memandang keindahan alam di kejauhan.
"Masih banyak keindahan lain seperti yang ibu ceritakan kepada kita" Kagome memalingkan wajah untuk melihat penjaganya selama ini.
Tatapan mereka bertemu, kedua biru keabu-abuan itu saling memandang dengan emosi yang campur aduk. Kedua-duanya mempunyai harapan yang sama, memulai sebuah hidup baru. Hidup baru yang terlepas dari perpecahan kepribadian, dan menjalani hidup dengan utuh. Tidak ada lagi Kagome rapuh yang hanya bisa terpuruk oleh ingatan pahit masa lalu, dan tidak ada lagi sang hanyou yang detak jantungnya meneriakkan dendam serta hidupnya yang bernafaskan benci. Kagome yang rapuh hanya dapat hidup dengan terseok-seok menggunakan hati yang telah hancur, dan sang hanyou hanya mengandalkan nyali tanpa memiliki hati.
Pandangan hanyou itu tertunduk "Apakah aku masih bisa melakukan hal yang kusukai?" tanyanya ragu, matanya terpaku kepada kedua tangannya yang masih dalam genggaman Kagome rapuh.
"Kau masih bisa melakukan semua hal yang kasukai, aku tidak akan mengambil apapun darimu. Hanya saja, kali ini kita akan melakukannya bersama-sama" Kagome memberikannya senyum manis.
Sang hanyou mengangkat wajah, dia menyeringai dengan jenaka, rencana-rencananya untuk membuat jengkel Dai youkai congkak yang disukainya masih bisa diwujudkan walau mereka telah kembali bersatu nanti. "Baiklah" ucapnya bersemangat.
"Kau bersedia?" tanya Kagome, suaranya mulai goyang karena emosi yang meluap, dia terharu.
"Kenapa tidak? Bila dengan itu aku masih bisa bebas untuk bersenang-senang" hanyou tangguh itu mengangkat bahu, kemarahannya kepada Kagome rapuh telah lama menyurut dan kini sudah lenyap. "Tapi aku tidak tinggal diam bila kembali terusik" ancamnya.
Kagome rapuh mengangguk lalu menggaruk pipinya yang tidak gatal "Aku..." dia menghela nafas sebelum melanjutkan "Aku ingin mengucapkan terima kasih karena telah menjadi pelindungku selama ini" ucap Kagome tulus.
Sang hanyou hanya menatapnya dengan kikuk, sebelum dia tersenyum dan mengangguk kecil. Kagome menghambur kedalam pelukannya yang hangat kepada 'dirinya yang lain'. Pelukan pertama yang menandakan 'perdamaian' mereka, kedua kepribadian telah kembali utuh menjadi satu Kagome. Sang hanyou tidak lagi takut untuk merasakan kesedihan akan kenyataan pahit kehilangan seorang ibu, Kagome yang rapuh tidak takut untuk merasakan dendam dan amarah.
Dengan kembali bersatu mereka akan saling menyembuhkan dan menyempurnakan. Mulai sekarang hanya akan ada Kagome si hanyou, dengan bersama mereka hanya akan membuat sebuah pribadi yang kuat. Disaat yang bersamaan dengan pelukan itu mereka seakan tertelan oleh cahaya putih yang membutakan sebelum menjadi gelap.
~o~
Saat itu sudah lewat dari tengah hari, panjang bayangan mulai melebihi panjang benda aslinya. Sesshoumaru memperhatikan wajah wanita yang masih berada dalam dekapannya, kepala wanita itu bersandar diatas lengan kanannya. Matanya yang terpejam bergerak-gerak cepat, sesekali tercium kesedihan, ketakutan serta kebimbangan dari tubuh Kagome. Dan kini Sesshoumaru mencium bau asin air mata saat bibir wanita itu menampilkan sebuah senyum, membuatnya semakin bertanya-tanya, tak lama setelah itu sang wanita diam tak bergerak.
Nafas dan tubuh Kagome kembali stabil, pelan dan teratur. Wajah tidurnya yang penuh kedamaian membuatnya terlihat semakin cantik, bau mereka yang bercampur di seluruh tubuh Kagome kembali menggodanya. Sesshoumaru menggeram, dia berusaha melawan dorongan di dalam dirinya yang ingin kembali menyarungkan kejantanannya di tubuh Kagome untuk yang ketiga kalinya, secara perlahan Sesshoumaru menarik diri.
Untuk pertama kali setelah lima tahun terakhir Kagome tertidur pulas, itu adalah tidurnya yang paling berkualitas di beberapa tahun terakhir. Kagome terbangun dari tidurnya saat dia merasakan sesuatu yang lembut di bawah tubuhnya bergerak. Sesshoumaru menarik perlahan moko-moko dari bawah tubuh Kagome. Dengan terkejut Kagome bangun dari tidurnya lalu bangkit duduk, moko-moko Sesshoumaru sudah tidak lagi membelit tubuhnya.
Saat terjaga seluruh tubuh Kagome terasa sangat sakit, seluruh tulang dan otot-ototnya bagai menjerit, kedua matanya terasa perih. Penyatuan diri dengan alter yang dimilikinya bagai sebuah kejutan besar di otak dan seluruh tubuhnya, seluruh potongan-potongan ingatan yang selama ini dialami oleh hanyou tangguh, seluruh kesedihan milik Kagome rapuh, kini menyatu di dalam dirinya. Semua amarah dan kesedihan bercampur baur menciptakan rasa luar biasa aneh yang tidak dapat dijelaskan.
Tenaga di dalam dirinya bagai tersedot habis, Kagome ingin kembali merebahkan diri dan tidak bergerak untuk waktu yang lama. Tapi dia tahu dia tidak mempunyai waktu untuk itu, tidak bila sekarang dia telah menjadi pelayan pribadi Sesshoumaru. Kagome mengerjap-ngerjapkan mata, memandang sosok Sesshoumaru dihadapannya berdiri dengan pakaian lengkap, pelindung terbuat dari besi telah terpampang didadanya dan semua katana yang dimilikinya sudah bertengger di tempatnya semula.
Sesshoumaru memandangnya tanpa segan "Apa kau akan tetap seperti itu, wanita?"
Mata Kagome terbelalak setelah menyadari tubuhnya yang masih polos, dia segera menutupi dada dengan kedua tangannya dan menyilangkan kakinya. Disaat dia menyilangkan kakinya dia merasakan sengatan tajam rasa sakit yang teramat sangat dari daerah pribadinya. Kagome mengeluarkan suara merintih menahan sakit, seluruh wajahnya berkerut ditengah.
Kagome merasa sedikit marah mendengar nada bicara Sesshoumaru yang dingin "Apakah kau akan tetap menatap tubuhku seperti itu hah?" tanya Kagome dengan sengit, pipinya panas karena malu.
"Tidak ada yang tidak pernah aku lihat sebelum ini dari dirimu, wanita" ucap Sesshoumaru sambil membalikkan badan.
Apa maksud ucapannya sih? Dasar youkai sombong sialan! Setelah dia mengambil kehormatanku, seenaknya saja berkata seperti itu.
Dengan kikuk Kagome memakai hadajubannya yang tergeletak di atas rumput, sebelum memakai kimono luar berwarna biru yang sudah tidak layak pakai, kimono itu sudah compang-camping karena pertempurannya dengan Takigawa. Punggung Sesshoumaru di hadapannya, gerak-geriknya masih seperti biasanya anggun dan berwibawa. Aliran youki menguar dari tubuh Seshoumaru, rambutnya terombang-ambing, sebuah gelombang tipis youki menyentuh ujung kepala hingga ujung sepatu boot hitamnya.
Seluruh tubuh Sesshoumaru kini kembali bersih! Kagome tidak dapat membaui apapun di tubuh Sesshoumaru dari aktivitas intim mereka barusan, noda rumput telah hilang tak berbekas dan sobekan kecil sisa pertarungan mereka di hakama putih Sesshoumaru yang terbuat dari sutra telah kembali seperti semula. Kagome menatapnya dengan tidak percaya, Sesshoumaru menyadari arti tatapan Kagome, dia memberikan Kagome pandangan yang berarti 'Jangan kau lupa, Sesshoumaru ini adalah Dai youkai'. Kagome mendecakkan lidah sambil melengos, dia tidak sudi melihatnya pamer.
Huh tetap saja dia masih youkai sombong dan dingin. Dasar, tukang pamer! Huh, tapi, mengapa tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Sesshoumaru setelah apa yang terjadi? Batin Kagome.
Kagome mendengus kesal dengan jalan pikirannya sendiri. Memangnya apa yang diharapkan olehnya dari Sesshoumaru? Perlakuan manis seperti kecupan kecil di kening? Ucapan cinta setelah berhubungan intim? Dia tidak bisa mengharapkan dari Dai youkai itu apa yang biasanya manusia tunjukkan kepada pasangan mereka setelah berhubungan intim seperti yang pernah disaksikannya dulu di hutan. Toh, dia seorang hanyou dan Sesshoumaru seorang youkai.
Lalu, apa sebuah permintaan maaf yang dia harapkan? Maafpun tidaklah cocok untuk keadaan mereka, karena diapun tidak menolak Sesshoumaru saat itu. Semua yang terjadi adalah kehendak mereka berdua, seharusnya tidak ada yang dapat dipersalahkan dan tidak ada yang bisa diharapkan. Lagipula langit akan runtuh saat Sesshoumaru mengucapkan kata maaf kepadanya, pikirannya itu membuat Kagome menahan tawa.
Kepala Sesshoumaru sedikit menoleh, Kagome tahu bahwa Sesshoumaru memperhatikannya dari sudut mata walau sesaat "Apa yang kau tertawakan wanita?" setitik rasa penasaran terbaca dari suara baritone Sesshoumaru.
Kagome mengikat obinya dengan kencang saat menjawab sambil menggeleng kecil "Mm, tidak. Tidak ada yang kutertawakan" Kagome menggigit pipi bagian dalam mulutnya agar tidak tertawa.
Sesshoumaru tidak percaya dengan ucapan Kagome, tapi dia mengacuhkannya. Sesshoumaru mulai berjalan perlahan meninggalkannya, Kagome mengikutinya dengan langkah yang aneh. Wajah cantiknya mengernyit menahan sakit, daerah itu masih belum sepenuhnya pulih. Disetiap kakinya melangkah dihadiahi oleh rasa sakit yang menyengat di bagian pribadinya, perih yang kini dirasakannya sama sekali tidak dirasakannya saat itu. Dengan merengut Kagome memandang sosok youkai penyebab rasa sakit di selangkangannya. Sesshoumaru berdiri punggungnya terlihat tegap, rambut silver indahnya dipermainkan semilir angin, dilihat dari sudut manapun keanggunan yang dimilikinya tidak akan berkurang.
Pikiran Kagome berkelana dari Sesshoumaru yang berjalan didepannya ke Sesshoumaru yang beberapa waktu lalu berdiri dihadapannya tanpa satu helai benang pun. Jantungnya kembali berdegup lebih cepat dan lebih keras. Tatapan Sesshoumaru saat itu penuh dengan api gairah, membuat perut Kagome terpilin. Ingatan akan kenikmatan yang dirasakannya setelah Sesshoumaru menerobos selaput tipis kehormatan miliknya membuat bagian tubuh bawahnya berdenyut-denyut lagi. Kagome menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran-pikiran itu. Dia mencoba memikirkan rasa sakit yang menyerang daerah intimnya agar menghapuskan ingatan lain yang akan membuat dia lupa akan kebutuhan untuk bernafas.
Sesshoumaru menolehkan sedikit kepalanya saat degup jantung Kagome di belakangnya bertambah cepat. Dia tahu dengan pasti saat ini walau Kagome seorang hanyou dia pasti masih merasakan sakit, tapi Sesshoumaru tidak menyangka dia akan mencium bau kebangkitan lagi darinya. Tubuh bagian bawah Sesshoumaru sedikit menegang, mau tidak mau apa yang dirasakan Kagome mempengaruhi dirinya juga, mencium bau kebangkitan dengan harum seperti itu bagaikan sebuah panggilan untuknya. Bukan salah indera penciumannya yang jauh melebihi manusia, bukan salah ingatannya yang sangat jelas saat tubuh indah hanyou cantik itu terombang-ambing oleh gairah. Dia berhenti sejenak dan memejamkan mata, mencoba menenangkan diri.
Sekarang dia mengembara dengan Kagome sebagai pelayan pribadi yang telah memberikan mahkota paling berharga miliknya. Begitupun sebaliknya, Kagome jugalah yang beruntung mendapatkan kehormatan untuk menjadi yang pertama bagi Sesshoumaru. Kenikmatan fisik yang direguknya dari wanita itu diluar ekspektasi Sesshoumaru, rasa itu jauh lebih hebat dibandingkan saat dia melakukannya sendiri menggunakan tangan.
Iya, dia telah memuaskan dirinya sendiri menggunakan tangan setelah kejadian di gua di gunung Fuji, pusat dari mata air Hokkaido, hanya bermodalkan dengan ingatannya tentang hanyou yang telah dibangkitkannya dari kematian. Sesshoumaru mendengus, kebodohan kedua yang dilakukannya setelah memasuki usia dua ratus tahun.
Tapi keintiman pertamanya dengan Kagome sangat menghanyutkan, entah berapa lama waktu yang berlalu saat Sesshoumaru tersesat di surga yang baru ditemukannya. Dua kali Sesshoumaru menyemburkan benihnya di rahim sang hanyou, tapi tidak ada tanda-tanda hasratnya telah sepenuhnya padam bahkan hingga saat ini, buih-buih gairah itu masih mengelilinginya.
Sesshoumaru menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan untuk meredakan pikiran-pikiran yang menurutnya hanya akan memperlambat, namun dengan segera dia menyesali tindakkannya. Dengan menarik nafas dalam-dalam bau kebangkitan manis yang muncul dari Kagome tercium lebih kuat. Sangat kuatnya hingga bau itu hampir terasa di lidahnya, dia memejamkan matanya, berkonsentrasi untuk menahan diri.
"Argh, mengapa aku harus mengikutimu?" pertanyaan retoris keluar dari mulut Kagome.
Protes Kagome dengan cepat mengalihkan pikiran yang memberatkan Sesshoumaru "Karena kau pelayan pribadiku sekarang" jawab Sesshoumaru dengan suaranya yang berat.
Kagome mengangkat dagunya "Jangan lupa aku adalah penguasa wilayah Timur sekarang" nadanya penuh canda.
"Kau benar, penguasa wilayah Timur adalah pelayan pribadiku" pandangan Sesshoumaru masih lurus kedepan.
"Sialan kau" Kagome menggeram marah.
Sesshoumaru sedikit memiringkan kepalanya dengan elegan dan memberikan Kagome tatapan mengancam "Jaga cara bicaramu kepadaku wanita!"
"Bila aku menolak?" tantang Kagome, Sesshoumaru hanya menjawabnya dengan tatapan mematikan yang seakan mengatakan aku akan membunuhmu, wanita.
Kagome terdiam, tapi mereka tetap saling menatap dengan kekeraskepalaan masing-masing. Entah bagaimana tatapan tajam Sesshoumaru yang ditujukan kepada Kagome itu malah membuat Kagome mengingat tatapan Sesshoumaru saat dia mengirimkan getar kenikmatan di seluruh tubuhnya dengan kejantanannya.
Tatapan Sesshoumaru yang mengeras, sinar matanya saat marah hampir sama dengan sinar matanya saat bergairah. Dan itu dapat dipastikan mengirimkan sinyal aneh pada tubuh Kagome, perut bagian bawahnya seakan melilit dibawah tatapan itu, dan pipinya tidak akan berhenti merona selama di bawah tatapan Sesshoumaru.
Sial, berhenti salah tingkah seperti manusia bodoh Kagome! Dia merutuk dirinya sendiri.
Pikiran Sesshoumaru hampir sama persis dengan Kagome, tapi dia berusaha membuangnya jauh. Wanita itu sangat mengganggunya, penampilan Sesshoumaru dari luar terlihat sangat tenang namun perdebatan selalu terjadi di otaknya. Apakah yang dia lakukan itu sebuah tindakan yang bijaksana? Membiarkan hanyou ini menjadi pelayan pribadinya, walaupun hanyou itu sekarang adalah penguasa Timur? Seharusnya dia membunuhnya demi penguasaan mutlak semua wilayah yang harus dia kuasai, tapi dengan menjadikan penguasa Timur pelayannya itu sudah cukup untuk membuat pengesahan di mata seluruh youkai bahwa dialah yang menguasai semua wilayah.
Tidak akan ada yang berani meragukan lagi, secepat berita tersebar tentang kematian Takigawa sang penguasa Timur, dengan cepat pula mereka mengetahui bahwa dialah sang penguasa tunggal saat ini. Dengan itu akan banyak bermunculan youkai-youkai bodoh yang mengantarkan nyawa dengan menantangnya. Bila saat itu tiba Sesshoumaru akan selalu siap, bertarung adalah kegiatan alaminya sebagai pemburu.
Kegiatan itu akan mencegahnya merasakan kebosanan, walau Sesshoumaru malas untuk mengotori tangannya dengan youkai yang kelasnya berada jauh di bawah. Pada saat itulah wanita ini akan berguna, pikir Sesshoumaru. Itu adalah alasan yang dibuat Sesshoumaru kepada dirinya sendiri sebagai pembenaran atas penyangkalan perasaan yang mulai bernaung dihatinya untuk Kagome.
Mereka berdua memulai perjalanan dengan canggung, tidak ada percakapan diantara mereka. Bagian bawah tubuh Kagome masih terasa perih, sakit dan terenggang dengan tidak nyaman seperti 'benda' milik Sesshoumaru yang tidak manusiawi itu masih menyumpalnya. Mengapa pemulihan tubuhnya tidak secepat biasanya?
Kagome sama sekali tidak mengerti, sama tidak mengertinya mengapa dia rela menjadi pelayan pribadi Sesshoumaru dan telah membiarkan dia merenggut kehormatan yang dimilikinya sebagai wanita. Walau dengan catatan hidupnya yang kelam Kagome tidak pernah sama sekali memikirkan sebuah hubungan yang utuh dan normal layaknya youkai atau manusia pada umumnya yang 'dengan sengaja' mencari seorang pasangan. Pertanyaan kepada dirinya sendiri bagai sebuah angin topan yang berputar dan terus berputar dikeplanya, tak lama angin topan itu berpindah dan bergemuruh diperutnya.
Sesshoumaru berhenti sesaat setelah mendengar teriakan protes dari perut Kagome yang nyaring, dia hanya melihat sekilas melalui bahunya tanpa berkata apapun sambil terus berjalan. Berjalan dengan sangat perlahan seperti itu, sangat menyiksa Kagome. Dia merindukan hembusan angin yang membelai kulitnya, perasaan bebas yang dimiliki saat berlari dengan cepat sangat disukai Kagome. Walau sejujurnya Kagome tidak yakin apakah dia sanggup untuk berlari atau tidak dengan pedih yang menyiksa di daerah itu.
Disaat Kagome tenggelam dalam berbagai macam pikiran yang dimilikinya, disaat itu pula dia merasakan cairan hangat dan kental meluncur turun dan meluncur ke paha bagian dalamnya. Kagome berhenti di tempat, dia perlahan menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan mencoba menghentikan agar cairan itu tidak kembali mengalir keluar, tetapi tindakannya itu semakin membuat otot-otot di rahimnya berkontraksi dan cairan itu semakin banyak keluar dari tubuhnya. Cairan itu membawa perpaduan bau miliknya dan milik Sesshoumaru. Langkah Sesshoumaru terhenti, Kagome tidak bisa menjelaskan wajah Sesshoumaru saat dia berbalik menatapnya, raut wajah Sesshoumaru bagai orang yang terganggu, menahan sakit, tapi bergairah?
Bau memabukkan itu lagi! Untuk pertama kalinya Sesshoumaru menyesali kekuatan dari indera penciumannya.
Sesshoumaru menahan nafasnya saat bau tipis dan samar bukti perbuatannya kini tercium sangat tajam, Sesshoumaru bahkan bisa mengecap bau itu dilidahnya. Bukan Sesshoumaru tidak menyukai bau itu, andai bisa dia akan memilih untuk tidak menyukai bau itu, nyatanya bau manis gairah itu menjadi bau yang paling disukainya saat ini.
Bau khas dirinya dan Kagome yang berpadu itu mengirimkan gelombang tipis kenikmatan yang sama yang dia dapatkan beberapa jam yang lalu, fundoshinya mulai terasa tidak nyaman di tubuhnya. Yang ada di pikiran Sesshoumaru adalah dia harus menjauh, wanita itu harus menghilangkan bau yang membuatnya tersiksa oleh fundoshinya yang semakin terasa sempit itu.
"Kita berhenti disini sebentar, kau butuh makanan" ucap Sesshoumaru berusaha terdengar acuh sambil membalikkan badan.
Kagome mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan 'kepedulian Sesshoumaru' tapi dia tidak ingin memulai pertengkaran dengan paha yang basah dan lengket. Kagome tahu dengan pasti Sesshoumaru bukan menyuruhnya untuk makan tetapi lebih untuk membersihkan diri dari semua cairan yang sudah mulai mengalir ke betisnya.
"Oh, baiklah" Kagome hendak beranjak saat dia teringat untuk menawarkan Sesshoumaru sesuatu sebagai balasan atas kepeduliannya yang tidak terduga "Kau mau sesuatu? Aku bisa mencarikannya sekalian bila kau mau" tanyanya ragu-ragu.
Sesshoumaru tidak menoleh dan juga tidak menjawab, Kagome mulai terbiasa dengan sikap acuh Sesshoumaru dia mengangkat bahu lalu beranjak mencari buah yang bisa dimakan. Dengan perut yang sangat lapar dia tidak mempunyai waktu untuk menangkap ikan. Setelah beberapa puluh menit berlalu, sekembalinya Kagome ketempat semula dengan kedua tangan penuh dengan bermacam-macam buah dan tubuh yang kembali bersih Sesshoumaru tidak ada dimanapun sejauh matanya memandang.
Kagome berteriak menang dalam hati, dia duduk di sebuah batang pohon dengan kedua paha menempel tidak duduk menyilang seperti biasanya. Kagome memakan lahap buah yang dipetiknya untuk menggantikan tenaganya yang terkuras habis setelah 'penyatuan dirinya' dan 'aktivitasnya' bersama Sesshoumaru. Setelah perutnya terisi penuh, kantuk mulai menyerang. Kagome menyandarkan kepalanya di batang pohon dan meluruskan kakinya di dahan yang cukup besar tempatnya bertengger. Baru saja dia hendak menjelajahi alam mimpi, di saat suara Sesshoumaru mengejutkannya.
"Kita jalan sekarang, wanita"
"Sial!" saking kagetnya hampir saja Kagome kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari ketinggian dua meter. "Bisakah kau tidak mengejutkanku seperti itu bodoh!" bentaknya.
Secepat kilat cambuk hijau Sesshoumaru keluar dari cakarnya dan melecut batang pohon dekat kaki telanjang Kagome, goresan cambuk Sesshoumaru di dahan pohon itu meninggalkan jejak kehitaman oleh racunnya. "Sesshoumaru ini tidak akan memperingatkanmu untuk yang kedua kalinya, wanita" ucapnya dingin tapi terkesan galak.
"Baiklah, baiklah, youkai-sama pemarah" Kagome mengucapkannya dengan nada jenaka yang mengejek lalu dia memutar bola matanya "Setidaknya kau memberitahu kita akan pergi kemana" Kagome merengut.
Sesshoumaru kembali berjalan, dia mengacuhkannya. Kagome yang jengkel diacuhkan mengikutinya dengan cemberut, ingin sekali dia melempari kepala youkai yang congkaknya mencapai langit itu dengan batu besar. Walau begitu Kagome tetap membuntutinya, bukan karena dia tidak mempunyai tempat lain yang dituju, tapi lebih karena memuaskan hati dan rasa ingin tahunya. Selain itu memiliki teman berpergian juga dapat membunuh kebosanan dan kesepian yang setia mendampingi setiap langkahnya.
Belum lagi Kagome akan mempunyai banyak kesempatan untuk meledek Sesshoumaru, karena itu dia tidak ingin pergi, membuat Dai youkai dingin menjadi iritasi memberikan kepuasan tersendiri untuknya. Dia memang hanyou yang memegang kata-katanya, tapi bila dengan memenuhi janjinya saat bertaruh dan menjadi pelayan Sesshoumaru membawanya ke posisi yang sangat merugikan dia tidak akan ragu untuk melanggar janjinya. Kagome bukanlah orang yang dengan senang hati pergi ke neraka sekadar untuk memenuhi janjinya, bila itu tanpa alasan yang kuat.
Suara semak-semak bergemerisik sampai di telinga Kagome sesaat sebelum sebuah taring besar hampir mengenai tangan kanannya. Dia melompat beberapa langkah ke samping, diam-diam bersyukur dengan refleksnya yang cepat. Youkai besar dengan tubuh panjang seperti ular dengan gigi taring yang mencuat ke atas dan ke bawah keluar dari mulutnya yang melebar ke samping wajahnya. Youkai bermata tiga itu kini berdiri di hadapan mereka siap menyerang, Sesshoumaru masih tidak berbalik, dia hanya memandang sekilas dari bahunya sebelum melanjutkan berjalan.
"Lawan aku Sesshoumaru!" suara gelap youkai itu seakan bergema.
"Wanita" Sesshoumaru menatap Kagome dari balik bahunya, seakan mengatakan 'aku serahkan kepadamu'.
Aku benar-benar benci panggilan itu, wanita wanita wanita! benak Kagome.
Kagome menghela nafas, "Brengsek kau" teriakannya ditujukan kepada Sesshoumaru dan youkai asing kelas bawah, yang dengan bodohnya menyerahkan nyawa begitu saja.
Dengan sekali hentakan Kagome melompat melayangkan cakarnya, melupakan seluruh rasa sakit yang melingkupinya didaerah tertentu dan membelah youkai itu menjadi dua bagian. Kagome tidak habis pikir mengapa ada saja youkai yang tidak mempunyai akal sama sekali yang bisa digunakan untuk menentukan lawan mana yang harus mereka hindari, dan lawan yang mana yang bisa mereka bodohi. Kagome mengelap cakarnya yang kini diselimuti oleh lendir tipis berwarna hijau keunguan ke dedaunan dengan tatapan jijik. Dia menghentakkan langkahnya menyusul Sesshoumaru, dengan sengaja menampakkan ketidaksukaannya atas perlakuannya.
"Hei, kau" Kagome setengah berlari karena yang dipanggil tidak berhenti bahkan tidak memperlambat langkahnya "Mengapa kau..." kata-katanya terpotong.
"Kita akan pergi ke Barat" Sesshoumaru tersenyum tipis, tapi senyumnya itu tidak akan dapat terlihat dari sudut pandang Kagome.
"Argh, aku belum selesai berbicara be.." Kagome menahan diri untuk tidak lagi mengeluarkan kata kutukan bila dia tidak ingin terkena cambuk hijau beracun itu "Mengapa kau memperlakukanku seperti ini?" nadanya jengkel
"Kau itu pelayanku, wanita. Apakah kau lupa itu? Kau mau menarik janjimu?" tanyanya dingin, saat tidak ada jawaban dari Kagome Sesshoumaru melanjutkan "Silahkan, tidak ada bedanya bagi Sesshoumaru ini" Kagome berhasil menyusulnya, Sesshoumaru telah menghentikan langkahnya, kini mereka berhadapan, permata safir keemasan itu menatap Kagome lekat "Satu yang pasti. Tidak akan ada kehormatan yang tersisa lagi di dirimu bila kau mengingkari kata-kata yang telah kau ucapkan. Kata-kata atau janji yang kau ucapkan adalah satu-satunya kehormatan yang tersisa darimu"
Kalimat terakhirnya membuat muka Kagome kembali memerah, "Tidak usah menasehatiku, aku tidak butuh itu" sentaknya. Kagome berbalik berjalan mendahului Sesshoumaru agar dia tidak bisa melihat wajahnya yang merah dan semakin memerah, karena malu dan marah. "Dan, dan jangan bicarakan tentang 'kehormatan' lagi!" nadanya sengit.
"Hn, kau benar. Itu tidak akan pernah terjadi lagi" nada bicara Sesshoumaru datar seperti biasanya, namun hati Kagome begitu tersengat dengan kata-kata yang diucapkannya.
Untuk sesaat Kagome menangkap apa yang Sesshoumaru katakan itu sebagai 'Hn, kau benar. Itu tidak pernah terjadi'. Bila itu yang Sesshoumaru katakan Kagome akan berteriak di hadapan wajah Sesshoumaru sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya lalu menendang kemaluannya dengan sangat keras. Kagome akan sangat marah dan merasa terhina. Sesshoumaru tidak bisa seenaknya bilang itu tidak pernah terjadi, setelah apa yang telah dia lakukan, tapi tentu saja bukan itu yang dikatakan oleh Sesshoumaru.
"Itu tidak akan pernah terjadi lagi.." ulang Kagome, lebih kepada dirinya sendiri.
Apakah yang dimaksudkan oleh Sesshoumaru adalah dia tidak akan membicarakan 'itu' lagi? Ataukah dia tidak ingin menyentuhku lagi? Apa sih yang aku pikirkan? Memangnya hal itu penting bagiku hah? Seharusnya aku senang, ya kan? Kagome merengut karena renungannya sendiri.
Dada Kagome seperti teremas oleh tangan kesedihan yang tak terlihat. Mengapa dia sedih? Apakah dia bersedia dilecehkan lagi oleh youkai yang dingin itu? Kagome tahu jawaban itu dari teriakan hatinya. Jauh di alam bawah sadar yang dimilikinya ia mengenali apa yang dia rasakan tetapi alam sadarnya menolak keras untuk mengakuinya secara lantang setelah bertahun-tahun hidup sendiri dan tidak mempercayai siapapun atau apapun untuk bertahan hidup. Dia sama sekali belum siap.
Sesshoumaru berjalan sepuluh meter di belakang Kagome tapi dia dengan pasti dapat mencium kesedihan yang menguar dari Kagome, hal itu membuatnya sedikit merasa bersalah karena dialah penyebabnya, untuk sesaat. Karena itu dia ingin menenangkan Kagome, dengan menyentuhnya secara lembut. Sesshoumaru mengusir jauh pikiran seperti itu, walau begitu Sesshoumaru tidak dapat menahan diri untuk tidak membayangkan wajah Kagome yang merona merah oleh sentuhannya, bagaimana suara Kagome menggelitik dadanya saat membisikkan namanya. Dia ingin sekali membuat Kagome memanggil namanya lagi dengan nada penuh gairah yang sama. Kini apapun yang dilihat oleh Sesshoumaru dari Kagome selalu saja membawanya kepada ingatan tentang pengalaman intim pertamanya.
-.
Bulan telah merayap ke tempatnya di bentangan langit malam, taburan bintang telah berbaris rapi membentuk rasi yang indah. Malam hampir larut saat mereka berhenti di tempat yang cukup nyaman di pembukaan hutan, Kagome melompat ke atas dahan pohon besar sedangkan Sesshoumaru berjalan ke tebing jurang dua ratus meter dari tempat Kagome berada. Kagome mencoba untuk memejamkan mata, tapi otaknya terus berkutat dengan Sesshoumaru. Apa yang dilakukannya Sesshoumaru? Apa yang dipikirkannya saat ini? Apa yang dirasakan Sesshoumaru kepadanya? Apakah ada perasaan seperti halnya yang dia miliki. Kekaguman, rasa penasaran dan hasrat?
Apakah Sesshoumaru merasakan kegilaan yang sama seperti yang dia rasakan? Semua yang bisa diingat oleh Kagome sekarang adalah bagaimana tatapan tajam iris emas hangat itu seakan menelanjangi tubuhnya, membuat ratusan tulang kerangkanya berubah lembut seperti kue mochi. Kegilaan akan semua yang dimiliki Sesshoumaru seakan merasuki seluruh pikirannya, kemampuan otaknya untuk berpikir yang lain telah lumpuh. Otaknya hanya mengenali Sesshoumaru, dan semua yang berhubungan dengan Dai youkai itu.
Memejamkan mata percuma, membuka matapun sama saja baginya. Bila Sesshoumaru tidak berada di dekatnya yang ada dibayangannya hanyalah sosok Sesshoumaru yang sedang menggagahinya, saat kedua lengan kekarnya memenjarakan tubuhnya. Rambut panjang silver yang menjadi tirai di kedua sisi tubuh Sesshoumaru saat berada diatasnya, wajah tampannya yang berhias bulir keringat di pelipisnya. Mulutnya yang sedikit terbuka, nafas hangat Sesshoumaru yang menyapu wajahnya. Erangan dan geraman Sesshoumaru yang maskulin, membuat seluruh tubuhnya bergetar.
Mata merah darah dengan iris biru menatapnya dengan tajam dan intens penuh dengan api gairah saat Sesshoumaru memenuhi rahimnya dengan cairan putih miliknya yang kental dan hangat. Dia masih bisa mengingat bagaimana cairan Sesshoumaru bergerak didalam perutnya, gerakan yang kencang dan menerobos itu seakan membasahi setiap inchi dinding dan membelai disetiap titik sensitifnya yang terdalam, mengirimkan sensasi yang membuat Kagome meraih gelombang tertinggi kepuasan bersamaan dengan Sesshoumaru.
"Argh, siaaal!" Kagome menjerit kecil. Tidak diragukan lagi Sesshoumaru akan menjadi penyebab kematianku bila terus bersamanya, itu bila ada kematian yang disebabkan karena terus berpikiran mesum.
Dengan jarak ratusan meterpun tidak mengurangi kemampuan Sesshoumaru, dia dapat mendengar Kagome dengan jelas tapi dia memasang topeng tidak perdulinya. Sesshoumaru lebih memilih untuk memikirkan pernyataan Takigawa yang menyisakan tanda tanya besar, semua hal yang ia percayai mulai goyah. Dia harus mencari kebenaran, dia tahu satu-satunya youkai yang bisa menjawabnya. Walau menemuinya adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya setelah seluruh tubuhnya telah dipenuhi bau Kagome, karena youkai itu pasti akan mencibirnya. Walau penampilan luar mengatakan dia tidak terpengaruh sama sekali tapi Sesshoumaru yang dingin sekalipun tidak pernah merasa nyaman berdekatan dengan ibunya semenjak umurnya mencapai ratusan tahun.
Malam-malam yang berlalu selalu dihabiskan Sesshoumaru dengan merenung, memandang langit yang luas tak terbatas yang dihiasi oleh cahaya bulan dan kerlip bintang dikejauhan. Tidak ada waktu yang dihabiskannya dengan sia-sia, dia selalu memikirkan beberapa langkah jauh ke depan. Tapi kini, setelah penguasaan wilayah telah berada di tangannya dia tidak merasa sepenuhnya puas. Tidak ada perbedaan baginya, Odachi yang telah diburunya selama inipun hanya menjadi pedang tak berguna, setidaknya untuknya. Ada satu kegunaan Odachi yang dia ketahui namun dia tidak ingin membuktikannya saat ini. Untuk pertama kali di dalam hidupnya yang hampir abadi, Sesshoumaru tidak tahu apa yang akan dia lakukan beberapa langkah ke depan setelah menemui ibunya.
Sesshoumaru hampir bisa melihat youkai yang bergelar sang rival terbesar sedang tersenyum sinis kepadanya dari alam lain, wajahnya seakan bertanya 'apa lagi yang akan kau lakukan Sesshoumaru?'. Selama ini Sesshoumaru selalu memandang remeh kesalahan mutlak yang youkai itu telah lakukan, tapi kini dengan kedua tangan dan lutut ditanah Sesshoumaru mengikuti jejak yang ditinggalkannya. Emosi sampah menguasai hatinya, namun dia belum kehilangan kekuatan untuk menunjukkannya secara terang-terangan dengan sikapnya.
Dia tahu hanyou itu telah membuatnya lemah, tapi dia tidak bisa membodohi dirinya sendiri dengan berpura-pura masih memiliki hasrat untuk membunuhnya. Sesshoumaru memejamkan mata, menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan. Dia ingin merasakan ketenangan yang telah lama tidak dirasakannya, pergelutan dengan dirinya sendiri tentang hanyou yang menyita hampir seluruh perhatiannya lebih melelahkan bila dibandingkan dengan perkelahian manapun yang telah dilaluinya. Terkadang dia membenci kelemahan yang telah diturunkan oleh sang ayah kepadanya.
Gemerisik semak dikejauhan membuat sinyal waspada Kagome bangkit, walau dia tidak merasakan adanya aura youkai yang kuat dia tidak akan memperlemah penjagaannya. Di bawah pohon tempatnya bersandar, Kagome melihat sesosok mahluk hijau, kecil, pendek, dengan mulut yang mengerucut dengan tidak lazim, mata kuning besar beriris oval hitam memanjang mendominasi wajah anehnya, membawa sebuah tongkat berkepala dua muncul dari semak belukar dengan gerakan kikuk diikuti oleh naga besar berwarna cokelat berkepala dua memakai pelana. Mata ganjil mahluk hijau itu semakin membesar dengan pemujaan saat melihat sosok Sesshoumaru tak jauh dari tempatnya berdiri, dia berlari dengan kaki pendeknya yang menyerupai dua jari besar dengan cakar kecil.
"Sesshoumaru-samaaaa" teriak mahluk kerdil itu dengan suara yang sangat mengganggu.
Sesshoumaru diam-diam menghela nafas, sepertinya memang tidak akan ada kedamaian untuknya dalam waktu dekat.
Youkai lemah itu berlari mendekati Sesshoumaru "Sesshoumaru-samaaa" teriaknya lagi, suaranya mencicit dan pecah bagaikan tupai yang terjepit batang pohon besar.
Kagome yang melihat itu dengan segera melompat diantara mahluk itu dan Sesshoumaru, bukan bermaksud melindungi Sesshoumaru dari youkai yang sama sekali tidak membahayakan tapi rasa pernasaranlah yang menggerakkannya. Kagome berjongkok di depan mahluk itu lalu dengan satu tangan dia menahan kepalanya, membuat youkai aneh itu berjalan ditempat dengan gerakan yang tak kalah aneh dari keseluruhan penampilannya. Kagome menatapnya dengan seringai lebar, taringnya menggoda dari balik bibirnya.
"Lepaskan aku dasar kau hanyou rendahan" youkai itu memejamkan kedua matanya sambil mengayunkan tongkatnya secara acak dari kanan kekiri tanpa satupun yang dapat menyentuh Kagome.
Dua kata terakhir itu membuat amarah Kagome muncul, tangan lainnya yang bebas terkepal geram. Bunyi ketukan kecil pada tulang terngkorak terdengar, kemudian youkai itu terlentang tergeletak di tanah dengan bukit baru berwarna kemerahan muncul di kepala hijau botak miliknya.
Sedetik kemudian dia sudah berdiri mengancam Kagome dengan tongkatnya "Apa yang kau lakukan dasar hanyou bodoh rendahan, jangan sentuh aku dengan tanganmu!" suaranya benar-benar tidak enak di dengar.
"Tutup mulutmu, kerdil!" perintah Kagome dengan kasar.
"Hentikan kalian berdua!" perintah Sesshoumaru terdengar tegas membuat hanyou dan youkai kecil itu terdiam.
Jaken segera berlari terbirit-birit mendekati kaki Sesshoumaru "Terima kasih Sesshoumaru-sama~" dia membungkuk dalam, tapi kata-kata Jaken terpotong oleh Sesshoumaru
"Jaken, apa yang kau lakukan disini?" nada tuannya sedingin tatapannya, Jaken langsung gugup dibawah tatapan Sesshoumaru
"A-a-aku mencarimu tuanku, tugasku sudah selesai" Jaken menjawab dengan gagap.
Sesshoumaru sedikit memiringkan kepalanya untuk menghadiahi Jaken tatapannya yang mematikan "Hn, aku tidak pernah menyuruhmu mencariku setelah tugasmu telah selesai"
Melihat tatapan tuannya yang jauh dari senang Jaken semakin gugup "Ma-maafkan aku Sesshoumaru-sama" Jaken menunduk lalu bersujud di kaki Sesshoumaru, lama tak di dengarnya ada suara dari gerakan apapun. Dengan takut dan perlahan Jaken mengangkat kepalanya, mencoba melihat keadaan. Betapa terkejut Jaken saat mendapati bukanlah Sesshoumaru yang sangat dia hormati melainkan Kagome yang ada dihadapannya.
Seringaian Kagome yang meledek membuat amarah Jaken kembali bergejolak dia bangkit berdiri "Pergi dari pandanganku kau hanyou ren~" sebuah batu berukuran sedang menghantam kepala Jaken, membuat kata-katanya lagi-lagi terpotong.
Baru saja Jaken ingin menyemburkan lebih banyak lagi kalimat menghina saat dia menyadari sesuatu, dia membatu di posisinya dengan ekspresi yang membuat Kagome tertawa geli. Mulut Jaken menganga, mata anehnya terbelalak karena terkejut mengetahui bahwa yang melempar batu adalah Sesshoumaru, tuan yang sangat dipujanya. Dengan itu Jaken menutup mulutnya rapat-rapat, dia tidak berani berbicara apapun.
"Aku tidak akan memperingatkan kalian untuk yang kedua kalinya" suara Sesshoumaru yang mengancam di kejauhan bergema di malam itu.
Dengan segera hanyou dan youkai kecil itu menahan diri, mereka hanya mengirimkan tatapan bermusuhan yang diakhiri Kagome dengan seringaian jahilnya. Kagome melompat dan kembali ke pohon tempatnya bersandar tadi, pertengkaran kecil dengan youkai bernama Jaken itu tidak akan menjadi yang terakhir bila mahluk itu kini ikut dalam perjalanan mereka. Bila itu benar maka Kagome merasa sedikit lega, setidaknya dia mempunyai sesuatu yang akan mengalihkan perhatiannya dari memikirkan Sesshoumaru terus-menerus.
~o~
E/N : Maaf kalo notes kali ini panjang, pake bgt. Tapi sebelum ada yang bertanya akan gw jelaskan
Reader-san pada ngeh gak disini Kagomenya gw bikin punya 'Alter Ego' atau 'Kepribadian Majemuk'? Gw udah kasih hint hampir di tiap chapter, bahkan judul chapter 3 itu Alter Ego. Nah, di awal chapter ini gw sedikit ceritain tentang penyatuan kepribadian mereka lagi, setelah bertahun-tahun terpecah akhirnya mereka 'berdamai' dan bersatu menjadi satu pribadi yang utuh. Kenapa menggunakan istana tmpt mereka bertemu? Karena dalam pikiran 'penderita' MPD seringnya digambarkan sebagai sebuah rumah atau istana, contohnya kisah nyata yang dibukukan dari 'Pikiran Yang Retak kisah nyata dr Prof. Robert B Oxnam'.
MPD telah diketahui dari abad ke-17 dan semakin tekhnologi canggih semakin banyak terdeteksi. Walau masih jadi bahan perdebatan hingga saat ini, tapi banyak kejadian-kejadian nyata yang telah dibukukan. Multiple personality Disorder dalam bahasa indonesianya jg disebut kepribadian majemuk adalah orang yang memecah dirinya menjadi lebih dari satu kepribadian atau disebut juga Alter Ego. MPD biasanya disebabkan oleh trauma extreme yang diterima oleh fisik, psikis, dan seksual pada saat kecil. MPD lebih banyak diketahui diderita oleh wanita dibandingkan laki-laki. Sebut saja MPD sebagai 'penyakit aneh', biasanya si 'penderita' terkadang kehilangan ingatan (amnesia) saat kepribadian yang lainnya mengambil alih. Ingatan yang hilang saat 'alter ego' mengambil alih bervariasi, bisa jam, hari, minggu, bulan, dan bahkan tahun! Kepribadian-kepribadian itu bisa sangat bertolak belakang dari kepribadian asli si pemilik tubuh, kepribadian ganda seorang perempuan bisa berupa laki-laki dan begitu juga sebaliknya. Gak cuma itu kepribadian utama yang sehatpun bisa memiliki 'alter ego' yang memiliki alergi atau asma, mereka bagaikan dua orang yang bertolak belakang berada di dalam satu tubuh. Kepribadian yg lain itu dibentuk secara tanpa sadar oleh si pribadi utama untuk melindungi diri mereka, bisa dari fakta kelam masa lalu yang ingin dilupakan atau dari banyak faktor lainnya.
Dari berbagai sumber.
Untuk fic ini si Kepribadian lain yg dibentuk adalah si hanyou tangguh yang tidak takut apapun, sedangkan kepribadian utama adalah Kagome rapuh. Kagome rapuh ini mencerminkan sisi manusianya yang lemah namun berhati besar, dia tersembunyi dan hanya sesekali keluar mengambil alih tubuhnya. Bila pada kasus sebenarnya pengobatan utk MPD bisa bertahun-tahun dan didukung penuh oleh kasih sayang orang terdekat, dgn seenaknya gw bikin Kagome bisa sembuh hanya dengan berhubungan seks dengan Dai youkai super hot Sesshoumaru-sama, wew -_- gome. Fic ini bukan ttg MPD, fic ini hanya mengambil secuil ttg MPD untuk kepentingan seluruh cerita di BHT ini.
Kalo penasaran kalian bisa google dengan kata kunci MPD, Alter Ego, Sybil, Billy Miliigan, atau The Three Faces Of Eve.
Dedeqseokyu : Iya acem bgt, ampe bikin meringis hehehe...
Amuto : Wah bener" Amuto punya sixth sense pas bgt tadi lg ngedit, maaf musim liburan dirumah agak ricuh jd baru skrg update, gome. Kalo ttg ending gw ga bisa ngomong skrg karena bakalan spoiler :)
Tamiino : Cari tissu buat idung tuh, buat dua atau tiga chapter kedepannya xixixi *evilgrin
Kimeka : Makasih, adegan yg terputus di Hokkaido spring udah kebayar kan? hehehe :D
INOcent cassiopeia : Wah gw belum ngerasa pantas utk semua pujian itu INOcent, tapi makasih banyak sekali lagi ;)
I accept criticism in a good manners, for all reader yang terus ngikutin BHT gw mau bilang minna saiko arigato^.~
