Disclaimer : I do not own Inu Yasha!

Warnings : Nothing, really.


Kagome berjalan beriringan dengan Jaken, kedua tangan bersilang didadanya, sedangkan Sesshoumaru berjalan beberapa meter didepan mereka. Kagome mulai jenuh mendengarkan ocehan mahluk hijau yang tidak berhenti sejak matahari mengintip dari balik kaki langit pagi saat mereka memulai perjalanan, hingga saat ini matahari telah menunjukkan keseluruhan dirinya. Semua ocehannya adalah tentang bagaimana hebat tuannya, Sesshoumaru-sama. Bagaimana dia telah lama menjadi pelayan Sesshoumaru yang paling dapat dipercaya dan diandalkan, dan berbagai macam hal lain yang menurut Kagome itu suatu bentuk pemujaan Jaken yang tidak sehat kepada Sesshoumaru.

Kagome memandangnya dengan datar, bagian pelayan yang paling dapat dipercaya mungkin benar tapi Kagome sangat meragukan bagian pelayan yang 'dapat diandalkan' saat pertempuran. Bila mendengar cerita Jaken, sepertinya Ah-Un yang dapat mengeluarkan ledakan aliran youki berbentuk api biru dari kedua mulutnya lebih membantu dibandingkan dengan dirinya. Sulit bagi Kagome untuk tidak meragukan hal itu bila melihat tubuh kerdil Jaken.

Kagome menghela nafas berat, untuk yang kesekian kalinya. Bukan jarak tempuh yang memberatkannya, berkilometerpun tidak masalah. Yang menjadi masalah baginya adalah dia tidak tahan untuk berjalan santai! Ditambah lagi suara Jaken yang membuat kepala Kagome mulai berdenyut-denyut, dan telinganya berdengung. Suara Jaken yang sangat mengganggu itu bisa membuat semua burung yang bertengger di dahan pohon terbang menjauh, anak burung yang hendak keluar dari cangkang telur melupakan niatnya untuk melihat dunia lalu kembali masuk ke dalam telurnya.

Jaken berjalan dengan kewibawaan yang dipaksakan, dia bertindak bagai seorang guru yang sedang memberi pelajaran kepada murid barunya "Sebaiknya kau percaya itu hanyou, Sesshoumaru-sama adalah youkai terkuat yang pernah ada. Suatu saat nanti dia akan mempunyai kerajaannya sendiri, dan aku akan menjadi penasehat di kerajaan youkai itu. Bila kau beruntung kau masih bisa tinggal disana sebagai pelayan~" suara aneh Jaken terpotong oleh Kagome yang menguap, menandakan kebosanannya yang tidak ditutup-tutupi.

Kuping Kagome berkedut-kedut setiap kata 'hanyou' yang diucapkan Jaken terdengar, tapi Kagome berusaha keras menekan dorongan didirinya untuk membuat gundukan merah muda baru di kepala Jaken. Dia memejamkan matanya, menarik nafas panjang dan dalam lalu menghembuskannya beberapa kali hingga keinginan menyakiti Jaken agar dia bungkam itu memudar.

Tingkah laku Kagome yang tidak mengindahkannya, membuat Jaken kesal "Kau tidak mendengarkanku hanyou" Jaken setengah berteriak, suaranya itu memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya.

Dengan sudut mata Kagome memandang Jaken yang tingginya tidak lebih dari pahanya, youkai kecil lemah seperti Jakenpun memandang rendah dirinya hanya karena darah manusia yang mengalir ditubuhnya. Jaken benar-benar mewakili sudut pandang hampir seluruh youkai kepada dirinya yang seorang hanyou. Walau Kagome seorang hanyou, tetap saja dia lebih baik bila ditelisik dari sudut manapun bila dibandingkan dengan Jaken. Entah itu dari kekuatan, kecepatan, hingga rupa.

"Semua racauanmu itu membuatku bosan tahu" Kagome berkata tanpa memandang sosok aneh Jaken yang seperti campuran katak dan kadal itu.

"Dasar kau hanyou rendahan, kau sebaiknya belajar untuk menghormatiku. Aku adalah pelayan Sesshoumaru yang lebih lama darimu, aku adalah seniormu, kau seharusnya memanggilku senpai"

Tangan Kagome mulai terkepal, ingin sekali rasanya dia membenamkan satu jitakan di kepala hijau ganjil milik Jaken. "Argh, berisik!" ucap Kagome dengan nada sedikit kasar.

Dia telah mencoba berbaik hati mendengarkan semua ocehan Jaken tapi lama kelamaan kupingnya sakit juga, apalagi saat Jaken mulai mengucapkan dua kata yang tidak disukainya bila digabungkan dalam satu kalimat yaitu 'hanyou' dan 'rendahan'.

"Kau bilang itu racauan? Aku sedang mengajarimu, dasar kau hanyou ren~" Belum sempat Jaken menyelesaikan kata-katanya, disaat itulah Kagome sudah meletakkan cakar-cakar tajam tangan kanannya ke leher Jaken, tatapannya bengis.

"Sekali lagi kau mengucapkan hanyou rendahan, aku tidak akan ragu-ragu membenamkan cakarku ke tenggorokanmu dan menarik keluar pita suaramu lalu menggunakannya untuk mengikat moncongmu itu agar berhenti bergerak" suara Kagome berat oleh ancaman.

"Sesshoumaru-sama" suara Jaken tercekat. Matanya melirik ketempat Sesshoumaru berada, dia meminta bantuan.

"Dengarkan dia bila kau masih ingin hidup Jaken" suara Sesshoumaru seacuh sikapnya, dia terus berjalan tanpa repot-repot menengok kebelakang.

Kata-kata yang meluncur keluar dari mulut Sesshoumaru bagaikan suara terompet kemenangan bagi Kagome, mengetahui Sesshoumaru lebih membelanya pasti akan membuat Jaken lebih teriritasi dan itu cukup memberi Kagome alasan lain untuk meledek Jaken. Kagome menyeringai lebar sedangkan Jaken gugup, bulir-bulir keringat dingin mulai meluncur turun dari keningnya yang berkerut-kerut. Cakar Kagome yang mengancam mundur secara teratur dari leher Jaken yang kini menelan ludah dengan kentara.

"Kau sudah mengerti? Bagus" ucap Kagome sambil memberi Jaken senyum termanisnya. Jaken tidak membalas senyum Kagome, dia malah berlari mengejar Sesshoumaru yang sudah mulai jauh meninggalkan mereka.

Kagome mengerucutkan bibirnya, selain menegur Jaken tidak ada kata lain yang terucap oleh Dai youkai dingin yang kini menjadi tuannya. Sebenarnya dia ingin lebih sering mendengar suara Sesshoumaru yang berat, dalam dan terdengar... seksi?

Apa sih yang aku pikirkan? Dasar bodoh!

"Kita sampai" suara pecah Jaken membuyarkan lamunan Kagome.

"Sampai?" tanyanya heran.

Kagome memandang sekitar, ini bukanlah istana Inuyama yang menjadi tujuan mereka. Dari apa yang dijelaskan oleh Jaken, istana Inuyama yang menjadi tempat kediaman ibu Sesshoumaru itu terletak di atas bukit. Dan sekarang mereka berdiri di atas tebing tidak ada istana sama sekali, mereka hanya menatap desa manusia kecil jauh dibawah mereka.

"Ada suatu hal penting yang harus diurus sebelum kita ke istana Inuyama" Sesshoumaru menjelaskan dengan nada dingin.

Di bawah mereka terbentang lembah, sebuah desa manusia. Bukankah Jaken katakan tadi Sesshoumaru membenci desa manusia? Apa yang akan mereka lakukan di desa manusia? Desa ini memang sudah termasuk wilayah Barat, daerah kekuasaan Sesshoumaru, tapi itu tidak menjelaskan apapun yang bisa menjawab pertanyaan yang bercokol di otak Kagome. Dengan satu hentakan lembut Sesshoumaru terbang, Jaken mengikuti Sesshoumaru dengan mengendarai Ah-Un, lalu Kagome melompat mengikutinya.

Kagome penasaran dengan apa yang dicari Sesshoumaru di desa yang dipenuhi oleh manusia. Desa itu sangat sederhana, hanya sawah terbentang luas, pondok-pondok yang berjejer sederhana, tidak ada pasar besar, tidak ada bangunan istana yang berdiri tanda seorang pejabat atau orang terpandang tinggal. Mereka berhenti di depan sebuah pondok yang berada tidak jauh dari sungai kecil, di belakang pondok itu terdapat tangga menuju kuil.

Wajah Jaken murung, dengan enggan dia berjalan menuju pondok yang hanya tertutup oleh selapis tirai bambu itu. Sayup-sayup suara anak perempuan kecil bernyanyi terdengar dari dalam pondok, suaranya terdengar lembut dan mengalun dengan penuh perasaan. Kagome bagai tersihir oleh suara polos yang merdu itu, dan apa yang dinyanyikan malaikat kecil itulah yang menjawab pertanyaan Kagome.

Yama no naka

Mori no naka

Kaze no naka

Yume no naka

Sesshoumaru-sama doko ni iru

Jaken-sama wo shitanaete

Sesshoumaru-sama omotori wo

Kagome berjalan mengikuti Jaken lalu berhenti di ambang pintu masuk, dia menyibak tirai tipis itu saat suara nyanyian indah terhenti dan digantikan oleh pekik riang si anak yang bernyanyi lagu tentang penantian untuk sang tuan dan pengikutnya tadi.

"Jaken-sama, apakah kau kembali bersama Sesshoumaru-sama?" suara gadis kecil terdengar.

"Iya Rin"

Kagome melihat anak perempuan kecil berambut hitam lebat yang menguncir sedikit rambut di samping kanan kepalanya. Mata gadis kecil itu bulat dan besar, irisnya berwarna cokelat lembut, pipinya yang bersemu kemerahan sangat menggemaskan. Anak kecil yang disebut Rin itu menatap Kagome lalu tanpa ragu memberikan senyum manisnya sebelum pandangannya kembali kepada Jaken. Wajah manis gadis yang sedang menyambut Jaken itu bagaikan langit di musim panas, sangat cerah.

"Sesshoumaru-sama kembali datang untuk menjemputku" keriangan terpancar dari suaranya "Dimana Sesshoumaru-sama, Jaken-sama?" tanyanya antusias.

"Sesshoumaru-sama berada diluar Rin" jawab Jaken, anak itu dengan semangat yang menggebu-gebu berlari melewati Kagome.

"Ah, Sesshoumaru-samaaa" panggil Rin saat Sesshoumaru sudah berada dalam jarak pandangnya.

Anak kecil itu berhenti di hadapan Sesshoumaru, lalu memeluk kaki Sesshoumaru. Rin tersenyum lebar, senyum yang membuat kedua matanya hampir terlihat seperti terpejam.

"Rin sangat senang dengan kedatanganmu Sesshoumaru-sama" ucap seorang nenek tua berpakaian miko yang mendekati mereka dengan ramah.

Sesshoumaru hanya mengangguk kecil sebagai jawaban kepada miko itu sebelum beranjak. Kagome masih terpana ditempatnya berdiri melihat adegan yang ada dihadapannya. Seorang Dai youkai seperti Sesshoumaru yang terkenal dingin, menjauhkan diri dari manusia, haus kekuatan dan kekuasaan mempunyai kedekatan dengan anak manusia? Itu adalah hal yang amat sulit untuk dipercayai bila tidak disaksikan sendiri olehnya.

Gadis inikah yang Sesshoumaru sebut sebagai hal penting? Batin Kagome bertanya-tanya.

"Aku pergi sebentar Kaede-baasama" suara Rin bersemangat sambil melambaikan tangan kepada miko sepuh itu, tanpa diperintah Rin dan Jaken mengikuti Sesshoumaru dengan menaiki punggung Ah-Un.

"Ya nak, pergilah" Kaede mengangguk kecil sambil melontarkan senyum kepada Rin lalu tatapannya teralih kepada Kagome yang masih memperhatikan kepergian Rin, Jaken, dan Sesshoumaru dengan mulut yang setengah terbuka karena terkejut dan tidak percaya.

"Kau tidak ikut dengan mereka nak?" tanya miko yang bersurai abu-abu itu, dengan satu mata yang tidak tertutupi dia mengedarkan pandangan meneliti kepada Kagome.

Pertanyaan miko bernama Kaede itu membuat Kagome tersentak dari lamunannya "Oh, i-iya" Kagome mengangguk kecil sebagai ucapan terima kasih sebelum berlari menyusul mereka yang sudah jauh menghilang ke arah hutan di sisi seberang sungai.

Sesshoumaru, Rin dan Jaken berhenti di sebuah padang rumput luas di pembukaan hutan, disatu sisi padang rumput itu terdapat kebun bunga liar berwarna kuning dengan putik merah yang indah. Dari jauh Kagome dapat melihat Sesshoumaru berdiri seperti sedang berbicara sesuatu kepada gadis kecil disampingnya yang terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak lama kemudian gadis itu berlari dengan kedua tangan terentang lebar sebelum menghamburkan diri ke bagian padang rumput yang ditumbuhi bunga-bunga yang berbau harum.

Kagome mendekati Sesshoumaru, yang sedang memberi suatu perintah lagi kepada Jaken.

"Kau mengerti?" suara Sesshoumaru terdengar dingin.

"I-iya Sesshoumaru-sama, aku mengerti" dengan itu Jaken terbirit-birit pergi membawa Ah-Un melintasi langit.

Kagome menatap Sesshoumaru masih dengan pandangan yang tidak percaya, yang diperhatikan mengambil sikap tidak peduli sama sekali. Sesshoumaru berjalan menjauh dan mengambil tempat duduk di bawah sebuah pohon rindang. Satu kakinya yang tertekuk menjadi tempat lengan kanannya bertumpu. Kagome merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan, sebagian kecil hatinya ingin mengambil tempat duduk di dekat Sesshoumaru menikmati keindahan dan ketenangan alam, tapi dia mencibir keinginan yang menurutnya konyol itu lalu berjalan mendekati Rin yang sibuk memetik bunga.

Rin memberikan senyum kepada Kagome, senyum tulus yang dapat menghangatkan hati siapapun. Kagome membalasnya, dia tersenyum kecil.

"Aku Rin, siapa namamu?" Rin menyapa Kagome dengan suara lembutnya.

"Rin" Kagome menyebutkan nama Rin bagai menikmati bagaimana nama itu bergulir dilidahnya "Nama yang indah" katanya dengan jujur. Bagi Kagome nama Rin tidak hanya indah saat terdengar tapi juga saat terucap, nama Rin serupa dengan penyebutan suara denting lonceng.

"Arigatou" kedua sudut bibir Rin terangkat.

"Namaku Kagome" jawab Kagome sambil memberikan tatapan menyelidik.

Ini adalah pertama kalinya Kagome ditegur dengan ramah oleh anak manusia, biasanya anak kecil yang melihatnya pasti akan menangis dan berlari ketakutan saat menyadari telinga anjing miliknya di puncak kepala. Tapi tidak dengan anak ini, Rin sama sekali tidak memberikan pandangan gentar melihatnya, karena itulah Kagome semakin penasaran dengannya.

"Namamu seperti nyanyian burung, cantik" ujar Rin dengan polos.

Kagome mengangguk kecil "Arigatou"

Perhatian si kecil Rin kembali tertuju kepada untaian kelopak bunga indah yang terhampar, sambil menyenandungkan lagu yang sama saat kedatangan mereka, lagu yang bermakna bahwa Rin akan selalu menanti kedatangan Sesshoumaru.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Kagome.

"Aku sedang memetik beberapa bunga" jawabnya polos.

Pertanyaan bodoh, tentu saja dia sedang memetik bunga. "Yang ingin kutanyakan sebenarnya adalah, apakah kau tidak takut kepadaku?" tanya Kagome lagi. Rasa penasaran semakin memluap didirinya.

"Mengapa aku harus takut kepadamu, Kagome-neechan. Bolehkah aku memanggilmu seperti itu?" sejenak tangan-tangan gadis kecil itu berhenti, dia menatap Kagome dengan mata besar dan indah yang mencerminkan hatinya yang masih murni.

Kagome mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu mengangguk kecil "Kau boleh memanggilku sesukamu" Kagome berhenti sebentar sebelum kembali bertanya "Kau tidak takut kepadaku?"

Gadis kecil periang itu menggelengkan kepalanya lalu memberikan Kagome senyumnya yang tulus "Tidak" jawabnya mantap. "Kau datang bersama Sesshoumaru-sama dan Jaken-sama, itu berarti kau tidak jahat"

Benar, bila ada yang harus ditakutkan itu adalah kehadiran Sesshoumaru. Bila gadis kecil ini mengenal Sesshoumaru dan tidak takut kepada youkai dingin dan sombong itu, untuk apa dia takut kepadaku? Bodoh! Benak Kagome.

"Youkai tidak menakutkan, mereka hanya memakan manusia untuk bertahan hidup. Para bandit manusia lebih menakutkan, mereka merampok dan membunuh manusia lainnya tanpa alasan" gumam Rin.

Kata-kata Rin membuat Kagome tertegun, Rin bangkit saat tangan dan lengannya sudah penuh dengan bunga. Rin berjalan ke sebuah sumur tua yang sepertinya tidak terpakai, dia duduk bersandar di salah satu sisinya, diikuti oleh Kagome. Di tempat itu angin terhalang oleh dinding sumur yang terbuat dari kayu sehingga bunga-bunga yang dipetiknya tidak berterbangan. Pandangan Kagome kini terpaku kepada tangan-tangan kecil Rin yang menjejerkan bunga yang telah dipetiknya.

"Semua keluargaku dibunuh oleh para perampok, untuk beberapa lama aku hidup sendiri di desa yang sangat jauh dari sini. Penduduk desa tidak peduli kepadaku, bahkan saat aku beserta anak-anak lain diculik oleh Ongokuki mereka tidak berusaha membebaskanku seperti mereka berusaha membebaskan anak-anak lain"

"Kau menyaksikan kejadian itu?" suara Kagome lirih, dia seakan berbicara kepada dirinya sendiri.

Rin tahu apa yang dimaksud Kagome adalah pembantaian keluarganya oleh para bandit, dia hanya mengangguk.

Kagome sama sekali tidak menyangka kisah Rin sekelam kisahnya, dan mungkin lebih berat darinya karena Rin menyaksikannya! Hidup yang kejam tidak hanya dirasakan oleh Kagome tapi juga si polos Rin, diusia yang jauh lebih muda darinya saat dia mengalami hal yang serupa. Kebahagiaan Rin telah direnggut paksa, sama persis seperti dirinya. Rasa simpati dan empati mulai muncul kepada teman kecil barunya itu. Kagome merasakan dorongan didalam dirinya untuk membuat Rin merasa lebih baik, dia ingin membuat Rin bahagia.

"Ongokuki?" gumam Kagome, sepertinya dia pernah mendengar nama itu dari ibunya dahulu.

"Ongokuki, youkai yang khusus menculik anak kecil untuk dimakan atau dijual kepada youkai lainnya" Rin mengucapkannya dengan ringan, seperti tidak memiliki pengalaman buruk dengan objek yang sedang diceritakannya.

"Saat itulah Sesshoumaru-sama menolongku" suara Rin saat mengucapkan Sesshoumaru-sama penuh kekaguman, sama persis dengan cara Jaken mengucapkan nama Dai youkai pongah itu.

"Sesshoumaru?" nada tak percaya lagi-lagi bertengger di suara Kagome, dia tahu Sesshoumaru dapat mendengar percakapan mereka namun Kagome sama sekali tidak peduli.

"Hm" Rin mengangguk sambil tersenyum, dia menoleh sekilas ke tempat Sesshoumaru sedang duduk bersandar, senyum merekah di wajahnya sebelum pandangannya kembali ke beberapa tangkai bunga yang telah dipetiknya.

Kagome mengikuti arah pandangan Rin, Sesshoumaru terlihat begitu damai saat ini. Seorang Sesshoumaru yang dikenalnyakah yang menolong gadis kecil seperti Rin? Baginya itu sulit dipercaya. Tapi bila Kagome berpikir lebih dalam, mengingat apa yang telah Sesshoumaru lakukan untuknya itu bisa saja benar. Sesshoumaru memang dingin dan kejam terhadap youkai yang menjadi musuhnya, tapi dia juga lebih dari satu kali berbaik hati kepadanya. Iya, itu benar, tidak ada keraguan lagi yang bersemayam dihati Kagome.

"Dan semenjak itu Rin ikut Sesshoumaru-sama, hingga beberapa minggu lalu Sesshoumaru berkata bahwa Rin harus tinggal disini bersama Kaede-baasama untuk sementara hingga keadaan sudah tenang"

Hingga keadaan sudah tenang, itupun yang selalu Okaa-san ucapkan bila aku menanyakan keberadaan Otou-san. Kagome menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan ingatan-ingatan masa lalunya yang getir dan kembali berfokus kepada Rin.

"Apakah kau suka tinggal disini?" Kagome mengambil satu tangkai bunga dan memutar-mutarnya dengan ibu jari dan telunjuknya.

"Hai" lagi-lagi Rin mengangguk, "Rin suka tinggal disini dengan Kaede-baasama yang mengajarkan Rin banyak hal, walau Rin lebih suka ikut Sesshoumaru-sama, tapi Rin akan patuh pada kehendak Sesshoumaru-sama" jari jemari kecil Rin dengan cekatan menyusun tangkai bunga, tangkai-tangkai itu saling membelit kuat dengan bentuk memanjang.

"Apakah Kagome-neechan suka ikut Sesshoumaru-sama?" tanya Rin tiba-tiba.

Kagome tergagap "A-aku, aku tidak tahu" dia memalingkan wajah dari Rin.

Mendengar itu sudut-sudut bibir Rin sesaat tertarik ke bawah sebelum kembali membentuk senyumnya yang riang "Kau akan menyukainya nanti" ucap Rin dengan optimis.

Menyukainya? Perjalanan bersama Sesshoumaru ataukah Sesshoumaru itu sendiri? kata-kata Rin begitu menggelitik hati Kagome yang semakin berteriak lantang menyuarakan perasaannya untuk Sesshoumaru.

Kedua bahunya terangkat sesaat "Mungkin" jawab Kagome berusaha terdengar acuh, dia kembali menatap wajah Rin lekat-lekat.

Gadis kecil yang bernama Rin itu tergolong manis, garis-garis wajah yang dimilikinya adalah garis wajah yang kelak akan menjadi wanita cantik yang akan membuat para pria tergila-gila. Ditambah lagi dengan sikap manis dan lembutnya kepada siapapun. Rin begitu mudah untuk dicintai, sifatnya seperti magnet yang akan membuat semua orang mencintainya. Fakta itu sangat bertolak belakang dengan apa yang telah diceritakan oleh Rin, bagaimana mungkin penduduk desa tempatnya dulu tinggal mencampakkannya?

Pandangan Kagome beralih ke tangan Rin yang terampil. Dengan satu gerakan terakhir Rin membengkokkan kedua ujung rangkaian bunga itu lalu mengaitkannya sehingga menjadi sebuah lingkaran. Kelopak-kelopak bunga berwarna kuning yang cantik menonjol dengan elok, tangkai bunga terjalin menjadi rantai dari mahkota bunga berwana kuning indah yang tak mudah goyah. Rin mengangkat mahkota itu setinggi wajahnya, matanya meneliti hasil karyanya dengan puas.

"Selesai" ucap Rin dengan keriangan khas seorang gadis kecil "Bagaimana menurutmu Kagome-neechan?"

"Menurutku itu cantik, sangat cantik sepertimu" ketulusan tidak dapat disangkal dari suara Kagome.

Rin berdiri lalu dengan hati-hati meletakkan mahkota itu di kepala Kagome yang masih duduk diatas rumput. "Akan lebih cantik bila Kagome-neechan yang mengenakannya" Rin tersenyum dengan jenaka.

Mata Kagome terbelalak untuk sesaat, dia terkejut tetapi tidak menolak. Mata dengan iris cokelat itu menatapnya dengan hangat, senyum manis terpahat dengan indah di wajah Rin. Gadis kecil itu seperti membawa kehangatan alami yang memancar dari hatinya dan menyebar kepada Kagome.

Tiba-tiba sebuah ide melintas dibenak Rin, ide yang menurutnya jenius. "Ayo, Kagome nee-chan" Rin menarik tangan Kagome, mengajaknya berjalan ke tempat Sesshoumaru berada.

"Tunggu" protes Kagome yang dengan sigap berdiri dan mengikuti Rin yang terlalu bersemangat, satu tangan Kagome yang lain memegangi mahkota bunga dikepalanya agar tetap ditempatnya berada.

Rin tertawa kecil saat Kagome mengikutinya berlari, dia berhenti beberapa langkah dihadapan Sesshoumaru. Nafas Rin sedikit terengah-engah saat bertanya "Bagaimana menurut Sesshoumaru-sama, cantik kan?"

Dengan sikap yang terlihat malas Sesshoumaru menarik sedikit wajahnya ke atas untuk menatap Kagome yang kini telah tersipu, rona merah menyebar dengan cepat di wajahnya. Sesshoumaru kembali menatap Rin dan berkata "Hn".

Mendengar jawaban dari tuannya senyum Rin kembali merekah, Rin menatap dalam wajah Kagome yang kini dihiasi selapis tipis rona merah muda. Bahkan Rin yang polospun menyadari ada ketertarikan yang tidak diungkapkan Kagome kepada Sesshoumaru.

Selain itu Rin tahu bahwa dia menyukai Kagome, walau pada pertemuan pertama sudah lebih dari cukup baginya "Tidak hanya Rin, Sesshoumaru-sama pun berpendapat kau cantik Kagome-neechan" rona tipis itu menebal dan menyebar ke seluruh wajah Kagome, dia menundukan wajahnya. Diam-diam Sesshoumaru tidak menyia-nyiakan pemandangan langka itu begitu saja, pemandangan Kagome yang menunduk dan tersipu malu dilahapnya tanpa sepengetahuan dua gadis itu.

"Ayo kita main Kagome-neechan" ajak Rin lagi, sambil menarik tangan Kagome yang masih dalam genggamannya.

Kagome lega keluar dari situasi yang membuatnya kikuk, ia dan Rin kemudian menghabiskan waktu dengan bermain permainan petak umpet, yang tentu saja sangat mudah dimenangkan oleh Kagome dengan penciuman dan pendengaran sensitif yang dimilikinya. Walau begitu, bermain dengan Rin tetap menyenangkan dan dapat membuatnya merasakan setetes kecil kebahagiaan masa kecil yang lama tidak dikecapnya. Tanpa sadar Kagome dan Rin saling memberikan kehangatan dari sosok yang masing-masing rindukan dan butuhkan.

Rin dapat merasakan kebahagiaan akan kehadiran figur wanita yang dapat dijadikannya sebagai panutan sekaligus sebagai seorang teman. Tapi bukan berarti sosok miko seperti Kaede tidak dapat dijadikan panutan oleh Rin, malah sebaliknya. Kaede adalah miko yang sangat perhatian, penyayang dan bijak. Hanya saja usianya tidak memungkinkannya untuk bermain dengan Rin seperti dia bermain dengan Kagome saat ini. Lantaran, para gadis kecil lain di desa belum begitu menerima Rin yang baru beberapa minggu tinggal di desa itu. Satu-satunya teman terdekatnya di desa ini selain Kaede adalah Kohaku.

Di desa itu hidup Kohaku dan kakaknya, dua bersaudara taijiya yang tersisa. Kohaku adalah pembasmi siluman yang sepaham dengan Rin bahwa tidak sepenuhnya youkai jahat dan tidak seluruhnya manusia itu baik. Kohaku sangat menghormati Sesshoumaru, selain itu dia dan Rin cepat dekat dan menjadi sahabat karena mereka sama-sama memiliki masa lalu yang tergolong tragis. Seiring waktu berjalan, mereka saling melengkapi dan menjadi pelindung satu sama lain.

Setelah puas bermain petak umpet, Kagome dan Rin berlarian di atas padang rumput tebal yang bergerak bergelombang bagaikan ombak di lautan saat tertiup angin yang cukup kuat. Tanpa kedua gadis itu sadari gerak-gerik mereka menjadi titik perhatian sang Dai youkai. Suara tawa mereka yang berderai-derai penuh kebahagiaan terdengar merdu di telinga Sesshoumaru.

Wajah bahagia yang Kagome dan Rin tunjukkan seakan menimbulkan riak-riak kecil di hati Sesshoumaru akan keinginan untuk memiliki mereka, dua orang yang telah membuatnya lemah, dua orang yang berhasil menyentuh sudut terdalam hatinya. Riak kecil dihati Sesshoumaru itu dengan perlahan namun pasti semakin besar dan berubah wujud menjadi buih-buih mimpi tentang sebuah, keluarga? Menyadari itu dengan segera riak itu ditekan Sesshoumaru agar menghilang, dia adalah youkai kejam dan dingin, perasaan seperti itu sama sekali tidak cocok untuknya.

Sesshoumaru memang tidak menyangkal perasaan dirinya kepada Rin sekarang, tidak seperti dulu. Saat ini Sesshoumaru ingin melindungi Rin, dia ingin membuatnya bahagia dengan caranya sendiri. Sesshoumaru menyayangi Rin bagaikan seorang ayah kepada anaknya. Tapi perasaan dalam bentuk lain yang menyusup di hatinya secara perlahan kepada Kagome hanya akan membuatnya lemah! Sesshoumaru kembali memejamkan matanya, dia mengendurkan rahangnya yang entah sejak kapan telah mengeras.

Kagome dan Rin berbaring di atas rumput menghadap langit, kedua tangan terentang. Nafas mereka tersengal-sengal, sesekali terselip tawa dari mulut mereka. Kagome meletakkan tangan kanannya di atas dada kirinya, degup jantung yang kuat terasa di telapak tangannya. Debaran yang kencang ini terasa indah, dia merasa hidup. Bukan karena pertarungan atau selamat dari bahaya lain yang mengancam nyawanya tapi karena kebahagiaan!

Perasaan hangat yang telah lama tidak dirasakan Kagome, selain dari ibunya. Bersama Rin hampir terasa sama seperti menghabiskan waktu dengan ibunya, saat hanya ada kesenangan, tawa bahagia di dalam suatu permainan sederhana. Dia sangat menikmati waktu bersama Rin, dan ingin menghabiskan lebih banyak lagi waktu dengannya.

Kehangatan alam senyawa dengan kehangatan yang Rin pancarkan, kepada Kagome. Langit biru cerah, awan putih berbentuk acak bergumpal-gumpal tertiup angin secara perlahan merambat menjauhi kepala mereka. Bau rumput tebal tercium segar, semilir angin yang membelai lembut kulit mereka hanya membawa kenyamanan. Kedua gadis itu tersenyum ceria, merengkuh semua keindahan yang disuguhkan oleh alam disekeliling mereka dan keberadaan sosok disisi mereka.

"Kagome-neechan?" panggil Rin dengan nada manja.

"Hm?' Kagome menolehkan kepalanya untuk menatap mata gadis kecil yang memakai kimono berpola kotak-kotak warna jingga dan putih yang dihiasi gambar gelembung di beberapa bagian.

"Boleh aku meminta sesuatu darimu?" senyum percaya diri menghilang dari raut wajah Rin.

"Katakan apa itu" jawab Kagome cepat tanpa ragu.

Mata cokelat indah itu menatapnya ragu sejenak "Bolehkah aku, menyentuh telingamu?" tanya Rin takut-takut.

Sejak awal bertemu Kagome telinga berbentuk segitiga itulah yang memunculkan rasa penasarannya, selain iris mata Kagome yang berwarna biru keabu-abuan yang juga menyita perhatian. Rin ingin mengetahui bagaimana teksturnya saat dia menyentuhnya. Apakah sama lembut seperti yang terlihat? Telinga anjing milik Kagome begitu menggemaskan bagi Rin, membuat sisi penasaran anak-anak yang dimilikinya membuncah.

Mendengar permintaan itu Kagome terkikik dengan geli "Maaf Rin, walaupun aku mau sepertinya tidak bisa" ucap Kagome setelah tawanya mereda.

"Kenapa Kagome-neechan?" Rin menatapnya dengan pandangan merajuk.

Rin adalah gadis kecil yang pintar, kuat, dan tegar. Tidak biasanya dia merajuk, dia terbiasa tersenyum walau keadaan yang pahit menimpanya. Tapi berada bersama Kagome membuatnya nyaman untuk menjadi anak kecil yang sesungguhnya, dia berani bersikap sedikit manja layaknya anak kecil pada umumnya. Rin seperti menemukan sosok kakak di diri Kagome.

"Karena aku pasti akan menghindar secara refleks darimu Rin"

"Apakah bila aku menyentuhnya itu akan menyakitimu?" nada Rin menjadi khawatir.

"Tidak, sama sekali tidak. Hanya saja, itu akan membuatku.." Kagome mencari kata-kata di perbendaharaan kata miliknya yang cocok untuk di dengar gadis polos seperti Rin, karena tidak mungkin dia memberitahukan hal yang sebenarnya "Itu akan membuatku tergelitik, dan itu akan menyiksaku" Kagome tidak sepenuhnya berbohong, sentuhan di telinganya memang akan membuatnya tergelitik.

"Sekali saja" bujuk Rin sambil menatap dengan pandangan memohonnya yang tidak akan dapat ditolak oleh siapapun.

Kagome tercenung, dia menimbang-nimbang sesaat lalu menghela nafas berat.

"Jangan menghela nafas Kagome-neechan, itu akan menjauhkanmu dari kebahagiaan" ujar Rin.

Kagome tersenyum "Baiklah Rin, kau menang" mendengar itu Rin memekik kegirangan "Tapi, satu kali saja ya" bujuk Kagome dengan nada yang hampir putus asa.

"Hai" Rin menyanggupi, dia membalikkan badan lalu berbaring diatas perutnya.

Rin menyeret tubuhnya sehingga dia bisa lebih dekat dengan kedua benda segitiga yang dibagian dalamnya berwarna merah muda dan dibagian luarnya ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna kehitaman. Dengan perlahan dia mengangkat tangan kanannya lalu menyentuh ujung telinga Kagome. Kurang puas, Rin mengangkat kedua tangannya lalu kembali memuaskan rasa penasaran dengan menyentuh kedua benda yang sekarang berkedut-kedut menunjukkan protes karena serbuan tangannya.

Secara refleks Kagome menjauh dari jangkauan tangan Rin, tawanya meledak. "Kumohon. Hentikan! Rin" suara Kagome penuh permohonan, tawa Kagome meledak. Rin menarik tangannya, dia ikut tertawa melihat Kagome mengelap sudut-sudut matanya yang berair.

"Kau harus menerima pembalasan dariku Rin" kata Kagome disela-sela tawanya.

Belum sepenuhnya tawa Kagome mereda, dia sudah bangkit dari tidurnya lalu balas menggelitik perut Rin tanpa ampun membuat gadis kecil itu mengikik geli. Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya mereka kembali berbaring di atas rumput dengan nafas yang terengah-engah, sesekali tawa kecil masih terselip keluar dari mulut keduanya.

Di kejauhan Sesshoumaru sepenuhnya terbawa dengan keakraban Rin dan Kagome yang dilihatnya. Melihat Rin membawa pikirannya melayang kepada ucapan Kaede beberapa minggu lalu sebelum keberangkatannya untuk menaklukan para penguasa wilayah dan pencarian Odachi. Menurut Kaede, diusia Rin seperti saat ini sebaiknya dia belajar hidup bersama manusia. Bila dia telah mencapai usia dewasa di beberapa tahun kedepan barulah Rin bisa memutuskan untuk tetap tinggal di desa ataukah kembali ikut dalam perjalanan Sesshoumaru.

Saat itu hanya dengan membayangkan meninggalkan Rin saja berat untuknya, Sesshoumaru mengkhawatirkan keselamatan Rin lebih dari apapun. Karena itu dia menitipkan Rin hanya sampai dia telah menaklukkan wilayah, setelah itu dia akan kembali menjemput Rin. Namun sekarang keegoisan didirinya mulai luruh, Sesshoumaru mengakui bahwa berpergian dengannya bukanlah yang terbaik untuk Rin. Karena itulah Sesshoumaru telah membuat keputusan, dia akan memberi waktu bagi Rin untuk hidup normal bersama manusia lainnya. Dia akan membiarkan Rin tinggal di desa ini hingga tiba waktunya untuk membuat pilihan, tentu saja Rin tidak akan lepas dari penjagaannya.

"Rin" panggil Sesshoumaru dengan suaranya yang dalam.

"Hai, Sesshoumaru-sama" Rin segera bangkit lalu mendekati tuannya itu, begitupun Kagome.

Sesshoumaru menjelaskan apa yang baru saja diputuskan olehnya, sambil menatap Rin lekat. Dengan segera mendung bergelayut diwajah mungil Rin, namun tak lama senyum kecil kembali kewajahnya yang manis. Rin menatap Sesshoumaru dalam-dalam seakan hendak membenamkan wajah tuannya di dalam pikirannya.

"Aku akan tunduk bila itu keputusan Sesshoumaru-sama tapi..." Rin meremas jari-jemarinya sebelum melanjutkan "Aku, bolehkah aku menanyakan sesuatu kepadamu Sesshoumaru-sama?" suara Rin meragu.

Satu alis Sesshoumaru terangkat "Katakanlah" ujarnya.

"Aku harap kau tidak akan melupakanku Sesshoumaru-sama" suara Rin hanya terdengar seperti bisikan.

Sesshoumaru menatap lekat gadis kecilnya "Jangan mengatakan hal konyol seperti itu Rin" tegasnya, dengan itu senyum kecil diwajah Rin kembali merekah.

Kagome terdiam disana, berdiri disamping Rin tanpa ada kata yang terucap, adegan dihadapannya membuatnya keheranan. Sesshoumaru begitu mencurahkan perhatiannya kepada Rin, sisi lembut Sesshoumaru yang baru pertama kali Kagome saksikan. Walau penampilan luarnya angkuh, dingin, dan kejam ternyata tersembunyi hati yang hangat. Tapi satu yang membuat Kagome sedikit bingung, Sesshoumaru menyayangi Rin dalam bentuk cinta seperti apa?

Jaken dan Ah-Un sudah kembali entah dari mana membawa dua buah bungkusan, salah satu bungkusan itu dia serahkan kepada Rin. "Terimalah Rin" ujar Jaken.

"Arigato Sesshoumaru-sama. Dan kau juga, Jaken-sama" ucap Rin, dia tersenyum.

Rin memeluk bungkusan itu lalu berjalan mengikuti Sesshoumaru dan Jaken kembali ke desa, lagi-lagi Kagome tertinggal di belakang mereka karena melamun.

"Kagome-neechan, apakah kau akan terus berdiri disana?" tanya Rin dari kejauhan.

Suara Rin mengeluarkannya dari lamunan "I-iya" Kagome segera berlari menyusul Rin.

-.-

Kini mereka semua berdiri di depan pondok kecil milik Kaede. Rin telah mengenakan kimono baru yang diberikan oleh Sesshoumaru. Kimono itu berwarna ungu dengan kupu-kupu kuning yang bertebaran di beberapa tempat dilengkapi dengan obi berwarna merah muda. Sedangkan kimono yang satunya lagi tidak kalah indah dari yang dipakai oleh Rin saat itu. Kimono yang masih terlipat dengan rapi itu berwarna merah muda dengan beberapa garis berwarna merah muda yang lebih gelap, kosode itu memiliki hiasan polkadot berwarna kuning dan gambar lentera di bagian bawahnya.

Sesshoumaru menatap Rin, lalu menangkupkan tangan kanannya dipipi kiri Rin, dan Rin menyentuh tangan kanan Sesshoumaru dengan tangan kirinya. Wajah Sesshoumaru masih datar seperti biasanya tapi tatapannya penuh arti. "Kau tinggalah disini Rin" suaranya tidak disangka-sangka terkesan hangat.

Rin mengangguk, senyum tidak pernah lepas dari wajahnya selama bertemu dengan Sesshoumaru "Hai, Sesshoumaru-sama" Sesshoumaru menarik tangannya dan memasang wajah tanpa emosi miliknya lagi.

Kagome dan Jaken berdiri di sana, menatap keduanya dengan canggung dan takjub, apa yang Kagome saksikan antara Sesshoumaru dan Rin membuatnya tanpa sadar tersenyum.

"Rin akan selalu menunggumu Sesshoumaru-sama" keceriaan tidak lepas dari wajah dan suara Rin.

Rin berpaling ke Kagome lalu tersenyum sebelum menarik Kagome ke dalam pelukan "Aku akan merindukanmu Kagome-neechan" kedua lengan mungil Rin melingkari lehernya, dengan kikuk Kagome membalas pelukan Rin. Satu hal kecil seperti sebuah pelukan ternyata membawa efek dahsyat dihati Kagome, dia merasakan ikatan mulai bertambah erat antara dia dan Rin. Dalam pertemuan pertama, gadis kecil bermata cokelat itu telah membuatnya menyayanginya.

"Aku juga akan merindukanmu Rin" bisik Kagome, sebelum menarik diri.

"Kau jadilah anak baik Rin" seru Jaken dengan suara pecahnya, Rin hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Jaken!" panggil Sesshoumaru.

"I-iya tuanku"

"Kau dan Ah-Un tinggalah disini menjaga Rin"

Mata Jaken terbelalak sangat lebar hingga mendominasi separuh wajahnya "Ta-ta-tapi tuan, a-a-aku~" dia tergagap, panik, terkejut.

Racauan Jaken terhenti oleh pandangan garang Sesshoumaru yang ditujukkan kepadanya. Jaken menatap Sesshoumaru dengan air mata deras yang bercucuran, tidak percaya pada apa yang didengarnya, tapi tidak berdaya lagi untuk membantah sang tuan yang sangat dihormatinya. Dia yang selama ini selalu merasa merasa terhormat menjadi pengikut Sesshoumaru merasa diperlakukan tidak adil, seharusnya dia mendapatkan peran dibeberapa wilayah bukannya harus tinggal menjaga anak manusia di desa kecil saat sang tuan telah berhasil menjadi penguasa wilayah mutlak.

Kagome mendekati Jaken yang tertunduk lesu dengan air mata yang tidak berhenti mengalir dari kedua matanya "Keadaan belum aman Jaken, mulai saat ini akan banyak youkai dari berbagai tempat yang akan menantang Sesshoumaru, kau hanya akan menghalangi jalannya dalam pertempuran nanti bila bersama kami"

"Maksudmu aku lemah hanyou?" tanya Jaken berteriak. Kedua telinga Kagome terplester ke kepala untuk melindungi diri dari suara Jaken yang menganiaya telinga sensitifnya.

"Tu-tuanku, kumohon ijinkanlah aku ikut bersamamu. Aku berjanji tidak akan menghalangi jalanmu, aku janji akan berguna untukmu, aku berjanji melakukan apapun yang kau perintahkan untukku Sesshoumaru-sama, kumohon" Jaken bersujud berkali-kali di dekat kaki Sesshoumaru, butir-butir air mata berceceran di wajahnya yang panik. Ditinggalkan Sesshoumaru adalah mimpi terburuknya, kebahagiaan sejatinya hanyalah melayani tuannya.

Wajah ketiga perempuan itu tidak tega melihat tingkah laku jaken yang bagai menghadapi hukuman mati walau dia tidak bersalah.

Rin mendekati Jaken lalu menepuk kecil pundaknya untuk menenangkannya, "Tidak apa-apa Jaken-sama, aku akan menemanimu disini"

Simpati yang ditujukkan Rin tidak berpengaruh kepadanya. Jaken tetaplah Jaken, air matanya semakin menjadi-jadi, tangisnya semakin bergemuruh kencang. "Sesshoumaru-samaaaaaaa"

Sesshoumaru tidak bergeming ditempatnya. Kagome mendecakkan lidahnya, ia kesal dengan sikap Jaken yang cengeng, tapi pada akhirnya dia berusaha memberi jalan tengah bagi mereka. "Menurutku biarkanlah Jaken ikut dengan kita, karena Ah-Un cukup untuk melindungi Rin, lagipula Jaken tidak terlalu dapat diandalkan dalam pertarungan" Kagome memberi usul.

Kagome tahu miko sepuh yang bernama Kaede itu memliki reiki yang cukup besar yang dapat melindungi Rin apabila ada youkai yang menyerang desa mereka dan apabila para bandit yang menyerang desa, mereka bisa mengandalkan Ah-Un yang pasti akan dengan mudah menghabisi para bandit itu.

"Maksudmu aku tidak berguna hanyou?" tanya Jaken dengan kasar.

"Tidakkah kau tahu aku sedang membelamu bodoh?" mendengar itu Jaken langsung mematung, mulutnya ternganga saat menyadari apa yang diucapkan oleh Kagome adalah kebenaran.

"Jaken-sama baka!" gumam Rin.

Kagome melayangkan pandangan yang mencemooh kepada kebodohan Jaken sesaat sebelum dia melanjutkan kata-katanya "Hal kedua yang memberatkan menurutku adalah, Jaken bukanlah pengaruh yang baik bagi Rin. Kau tahukan bagaimana mulutnya terkadang merendahkan manusia atau mereka yang tidak sejenis dengannya. Dan juga, keberadaannya hanya akan menambah satu mulut lagi yang harus diberi makan oleh Kaede-sama"

"Aku sama sekali tidak keberatan Kagome" suara renta miko itu terdengar tulus.

Sesshoumaru memandang Kagome dari sudut mata, alasan utama Sesshoumaru meninggalkan Jaken adalah untuk menjaga Rin, tapi apa yang dikatakan oleh Kagome tentang pengaruh buruk mulut Jaken yang selalu menghina adalah celah yang tidak terpikirkan olehnya. Sesshoumaru tahu Jaken tidak selalu memperlakukan Rin dengan baik, baik itu ucapan maupun perlakuannya, karena itu Sesshoumaru memikirkan ulang keputusannya untuk meninggalkan Jaken.

"Hn"

"Te-terima kasih Sesshoumaru-sama, aku berjanji akan melayanimu sebaik-baiknya, aku berjanji akan setia kepadamu, aku berjanji kau tidak akan menyesali keputusanmu ini, aku sangat.." Jaken bersujud dekat kaki Sesshoumaru sambil terus berkicau dengan suara yang memekakkan telinga tentang bagaimana bersyukurnya dia masih diperbolehkan ikut, janjinya untuk tetap setia, berguna, dan janji-janji yang lainnya.

Disaat yang bersamaan Sesshoumaru menganggukkan kepala sedikit kepada Kaede, menunjukkan rasa terima kasihnya sebelum berjalan pergi meninggalkan mereka. Kagome melambaikan tangan kepada Kaede dan Rin yang dengan semangat membalas lambaian tangannya, Kagome lalu berjalan menyusul Sesshoumaru sedangkan Jaken terus saja mencium tanah.

"Jaken-sama" panggil Rin, Jaken tidak menoleh.

"Bila tidak segera pergi kau akan tertinggal Jaken" Kaede berucap.

Jaken mengangkat kepalanya, Sesshoumaru dan Kagome sudah berjalan puluhan kaki di depannya. "Tu-tunggu sebentar Sesshoumaru-samaaaa"

Kaede dan Rin menggelengkan kepala mereka melihat Jaken yang berlari terbirit-birit dengan kaki kecilnya yang pendek.

-.

Mereka bertiga telah kembali berjalan di hutan, Sesshoumaru dan Kagome berjalan beriringan. Jaken berjalan jauh dibelakang mereka, kaki-kaki kecilnya lelah setelah berlari lantaran dia jauh tertinggal. Kagome menyenandungkan lagu yang dinyanyikan oleh Rin, lagu penantian. Sesshoumaru menatap Kagome dari sudut matanya, bau kebahagiaan menguar dari tubuh Kagome, kebahagiaan yang dirasakannya semakin mempermanis bau khas tubuhnya.

"Aku menyukai lagu itu" ucap Kagome dengan jenaka. Sesshoumaru tidak meresponsnya, tapi Kagome tahu sebenarnya dia memperhatikan. "Rin mempunyai suara yang indah, sangat menggemaskan. Kepribadiannya, wajahnya, segala hal di dirinya begitu membuatnya mudah untuk dicintai. Empat atau lima tahun kedepan dia pasti akan tumbuh menjadi gadis yang cantik"

Sesshoumaru menolehkan kepalanya "Apa maksud perkataanmu sebenarnya?"

"Aku menyukai Rin. Aku tidak percaya penduduk desa tempatnya lahir begitu kejam kepadanya" alisnya bertautan "Rin pantas bahagia, dan aku rasa dia akan menjadi pasanganmu yang sepadan" jawab Kagome polos.

Hening sesaat.

"Menggelikan" Sesshoumaru kembali menatap ke hutan didepannya.

"Bukankah itu apa yang mereka namakan dengan 'kemurnian cinta'?" Kagome balik bertanya tentang apa yang mengganggu pikirannya sejak melihat interaksi antara Sesshoumaru dan Rin.

Apa yang diutarakan oleh Kagome membuat Sesshoumaru merenung. Pada awalnya dia tidak pernah terpikir untuk menyayangi manusia, sejak bertemu Rin dia tidak bisa menyangkal. Ada sesuatu didiri gadis kecil itu yang seakan mencegahnya untuk membuang Rin begitu saja dari pikirannya, ada ikatan antara dirinya dan Rin yang tidak akan dapat terputus.

Sesshoumaru peduli pada Rin dan ingin melindunginya tapi tidak untuk mencintainya seperti manusia kebanyakan di zaman itu yang memperistri perempuan sejak umur mereka belum mencapai tiga ribu hari. Tidak, dia menyayangi Rin sebagai anak yang ada dalam perlindungannya. Hubungan mereka bagaikan ayah dan anak yang tidak sedarah. Memikirkan dirinya menyentuh Rin seperti kekasih membuat sebagian dirinya terganggu, dengan segera Sesshoumaru membuang jauh pikiran itu.

"Hentikan omong kosong itu! Jangan samakan Sesshoumaru ini dengan manusia" hardik Sesshoumaru.

"Baiklah, mungkin kau menyayangi Rin dalam bentuk lain" Kagome menghela nafas, "Aku memang tidak setuju dengan alasan para manusia yang memperistri gadis kecil yang bahkan belum menyentuh usia suburnya, mereka bagaikan serigala yang menyamar menjadi penggembala. Berkedok pria baik-baik lalu melahap sang gadis polos, beralasan kemurnian cinta mereka membenarkan tingkah mereka yang 'sakit' menurutku"

Tidak ada tanggapan dari Sesshoumaru, Jaken terlalu jauh dibelakang mereka untuk ikut berbicara.

Satu pertanyaan berkelebat diotak Sesshoumaru, dengan segera dia menyuarakannya "Mengapa kau peduli pada siapa yang akan menjadi pasanganku?" permata safir emas itu menatapnya penasaran.

"A-aku tidak.." Kagome tergagap, ia tidak bisa menyangkal dan tidak bisa menjawab.

Wajah Kagome yang terkejut dan kedua pipinya yang merona menggelitik Sesshoumaru untuk mengajukan pertanyaan lainnya.

"Apakah kau akan senang mengetahui hal itu?" suaranya masih datar.

Butuh beberapa detik sebelum Kagome menjawab "Tidak! Ma-maksudku, aku tidak peduli" Kagome memalingkan wajahnya.

"Mengapa kau gugup?" tanya Sesshoumaru, sedikit mendesak.

"Aku tidak gugup brengsek" jawab Kagome sengit.

Langkahnya terhenti, amarah Sesshoumaru terpancing oleh kata terakhir yang Kagome ucapkan. Tangan kiri Sesshoumaru mencengkram erat lengan kanan Kagome menariknya hingga membentur pelindung besi didadanya. "Jaga kata-katamu!"

Ada sesuatu yang mengganjal hati Kagome sedari tadi tapi dia tidak tahu apa itu. Setelah berbicara panjang lebar barulah dia menyadari ada kata-kata yang hilang dari Sesshoumaru, itulah yang mengganjal hatinya. Kata 'hanyou' yang biasa Sesshoumaru alamatkan kepadanya tidak hadir sejak mereka berkunjung ke desa tempat Rin tinggal. Dia yakin belum mendengarnya dari Sesshoumaru, sebutan hanyou hanya diterimanya dari Jaken. Bila itu benar, apa artinya itu?

Wajah mereka hanya berjarak beberapa inchi, hangat nafas Sesshoumaru membelai wajah Kagome, pandangannya terpaku kepada bibir Sesshoumaru yang bergerak-gerak saat memperingatkannya. Cengkraman Sesshoumaru yang kuat cukup membuatnya meringis menahan sakit, tapi tidak hanya rasa sakit yang dirasakan Kagome tetapi juga letupan hasrat. Sesshoumaru menyadari arah pandangan Kagome yang tertuju kebibirnya, dengan perlahan Sesshoumaru menjauhkan diri dan melepaskan cengkaramannya pada lengan Kagome.

Pada saat cengkramannya lepas itulah suara kain robek terdengar. Kain di lengan kimono Kagome yang melewati banyak pertempuran telah merapuh, cakar Sesshoumaru yang tidak sengaja menggoresnya telah merobeknya. Kini ada lubang baru panjang melintang di lengan kimono yang dipakainya, Kagome merengut memandangi lengan kanannya yang tidak tertutupi lagi.

Sesshoumaru berdiri menjauh dari Kagome "Jaken" panggil Sesshoumaru.

Youkai hijau kecil itu segera berlari, dengan terengah-engah dia mendekati Sesshoumaru. "I-iya tuanku"

"Berikan kepadanya" ucap Sesshoumaru sambil lalu.

"Ba-baik tuanku" Jaken memberikan sebuah bungkusan kepada Kagome.

Kagome menerima bungkusan sama persis seperti yang Rin terima tadi, dengan hati-hati Kagome membukanya. Isinya adalah kimono berwarna dominan putih dengan bunga sakura yang tergambar di ujung lengan berwarna merah muda, kimono itu terasa begitu halus saat dia menyentuhnya. Kimono itu mirip dengan yang dikenakan oleh Sesshoumaru, yang membedakan hanyalah corak bunga sakura diujung lengan yang berwarna merah muda dan obi yang berwarna merah tua.

"Pakailah!" seru Sesshoumaru.

"Mm" Kagome mengangguk kecil "Arigatou" tangannya sedikit bergetar saat membentangkan kimono terindah yang pernah dipegang olehnya.

Dengan bersemangat Kagome menghilang dibalik semak-semak rimbun dan pohon besar, lalu kembali muncul setelah selesai memakai kimono barunya. Panjang kimono itu menyentuh mata kakinya, obi berwarna merah melilit pinggang rampingnya. Kimono itu begitu pas memeluk tubuh indahnya, warna lembut kimono itu semakin menonjolkan warna biru keabu-abuan iris matanya.

"Dan terima kasih kepadamu juga Jaken" Kagome tersenyum, Jaken mengangguk lemah.

"Aku sangat menyukainya" Kagome menimbang-nimbang sejenak sebelum menatap iris emas Sesshoumaru lalu bertanya "Tapi, bisakah aku memotong panjangnya? Akan sulit bagiku untuk bertarung dengan panjang kimono seperti ini" tangan Kagome menelusuri kimono yang memeluk bagian pahanya.

Tanpa Kagome sadari Sesshoumaru memperhatikan setiap gerak-geriknya, sekecil apapun. Keceriaan yang mempercantik wajah Kagome saat memakai kimono itu, bagaimana dia merengut saat mengatakan kesulitannya bertarung dengan pakaian barunya, dan tangan Kagome saat menelusuri pahanya membuat pikiran Sesshoumaru ikut menjelajah. Sesshoumaru membayangkan tangannyalah yang bergerak diatas bahan lembut itu, bukan tangan Kagome. Baru saja Kagome akan membenamkan salah satu cakar di kimononya saat suara dalam Sesshoumaru terdengar.

"Kau tidak akan bertarung" jawab Sesshoumaru sambil beranjak pergi, dia kembali melangkahkan kakinya dengan elegan, meninggalkan Kagome yang tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Tangan Kagome terhenti, dia mengangkat wajahnya, menatap punggung Sesshoumaru yang berjalan pergi meninggalkannya. Kagome menarik mundur cakarnya dari kimono pemberian Sesshoumaru, dengan langkah kecil dia mulai berjalan dengan pertanyaan baru yang bermunculan. Aku tidak akan bertarung? Apakah yang baru saja aku dengar itu benar? Apakah itu berarti, Sesshoumarulah yang akan melindungiku?

~.~


End Notes : Minna-san sebelumnya gw mau minta maaf karena minggu depan BHT gak akan posting. Kesehatan yang memburuk sama sekali ga ngebantu untuk nulis, belum lagi musim liburan yang bikin rumah gw jadi penuh dengan keponakan. Gome, moga kalian ngerti.

Di zaman feudal hal yang lumrah bagi masyarakat Jepang untuk memperistri perempuan yang masih 'kecil', bila ditanya 'kenapa menikahi gadis kecil?' mereka akan bertanya balik 'mengapa tidak?' Karena mereka menganggap itu suatu bentuk dari 'kemurnian cinta'. Tapi, balik lagi itu zaman feudal loh;)

Youkai Ongokuki yang nyulik Rin ada di episode 160-an, yg ada master Ungai (biksu pembasmi youkai).

Gw suka nyanyian Rin yang ini, suaranya imut bgt (yang dub Jepang). Ini arti nyanyian Rin yang ada di anime InuYasha episode 70 berapaaa gitu lupa, hehe.

In the mountain

In the forest

In the wind

In a dream

Where are you, Sesshoumaru-sama?

With an ally like Jaken-sama

I will wait alone until you come

Sesshoumaru-sama please return

...

Thanks to

Amuto : Fic InupapaxKagome akan di posting setelah BHT selesai, kemungkinan besar BHT tinggal 6/7 chapter lagi, gomen sai Amuto:)

Tamiino : Bukan penulis beneran kok, cuma orang awam yang suka ngayal doang, hehe. Tapi makasih banyak, moga gw bisa terus menuhin ekspektasi Tami^^.

Kimeka : Domo arigatou Kimeka. Hamil gak yaa... hehe, moga Kimeka terus ngikutin BHT biar tau jawabannya, gak lama lagi kok :D

Dedeqseokyu : Iya, di animanga emang si Sesshou suka ngelemparin Jaken pake batu, bikin ngakak XD

Azuma Sarafine : Wah ngerasa tersanjung BHT jd fic InuYasha pertama yg dibaca, makasih. Penggambaran Kagome yang bermata biru sebenernya gampang kalo liat cover manga-nya (gw pribadi lebih suka manga Inuyasha). Kalo taring Kagome yang kelihatan setiap dia nyengir gw sendiri juga susah bayanginnya, yang kebayang malah selalu nyengir jailnya Inuyasha yang taringnya nongol kalo lagi berantem sama Shippou, hehe^^

Gw terima kritik yang membangun dengan cara yang baik. Untuk semua pembaca gw ucapin, minna saiko arigato and happy holidays to everyone^.~