Disclaimer : I do not own Inu Yasha!

Warnings : This chapter contains lime, beastiality lime, and a little bit blood/gore.

Author's note : Lime di chapter ini bakalan sedikit berbeda dari yang pertama, mungkin bakalan bikin hidung reader-san berkerut (bukan alis lagi) dan mungkin gak akan menyenangkan bagi sebagian orang. Tapi... balik lagi, fic ini tentang youkai a.k.a demon alias siluman di sengoku jidai. Jadi, moga chapter ini masih termasuk kategori 'normal' untuk reader-san.


Dengan satu langkah ringan Sesshoumaru melayang, lalu terbang rendah namun cepat di atas pepohonan. Dia memusatkan diri kepada sisa-sisa bau Kagome yang mengambang di udara, jejak bau seseorang akan lebih cepat menghilang di udara bila dibanding di tanah. Baunya di udara belum terlalu pudar, itu berarti Kagome belum terlalu jauh.

Ujung kedua alis Sesshoumaru bersatu ditengah, matanya memicing untuk menangkap sosok apapun di bawahnya. Sekelebatan pergerakan berwarna putih berhasil ditangkap matanya beberapa ratus meter di depan, tidak salah lagi itu adalah Kagome. Seluas senyum merambah wajah Sesshoumaru yang dingin, dia tidak akan membiarkannya pergi.

Satu tangan Kagome menyingkap kimononya agar dia bisa bebas berlari. Itu membuat seluruh kaki kanannya hingga pangkal paha terekspos, walau begitu tetap saja kimono itu memperlambat larinya. Hutan disekelilingnya menjadi buram saat dia berlari dan semakin buram saat matanya tersengat, rongga hidungnya pun terasa perih, karena diterobos oleh air mata yang menyeruak dari dalam. Dadanya terasa berat, sangat sesak, dan sakit untuk bernafas.

Pandangan pada hutan disekelilingnya semakin kabur saat matanya berkaca-kaca, tanah yang licin sisa hujan semalam dan kimono yang dipakainya membuat Kagome terjungkal ke tanah dengan keras saat menyadari dia hampir menangis. Kagome mengeluarkan suara merintih yang lumayan keras, bukan karena sebuah serpihan kayu dari ranting di tanah kini menancap di telapak tangan kanannya dan lututnya mengucurkan darah karena membentur sisi bebatuan yang tajam tapi lebih karena luka yang tidak mengeluarkan darah di hatinya. Kagome terduduk di tanah, dadanya naik turun, tangan kirinya memukul tanah dengan tinjunya.

Siaaal!

Dengan kasar dia menarik serpihan kayu itu dari tangannya, dan mengelap darah di lututnya dengan telapak tangan kirinya, kemudian ia segera bangkit berdiri. Kagome bimbang sesaat sebelum melanjutkan berlari, dia menunduk menatap kimononya yang telah diwarnai merah tanah di beberapa bagian.

Tangan kirinya telah merenggut bahan itu dibagian pertengahan paha, cakar jari di telunjuk tangan kanannya sudah mengancam untuk merobek, tapi gerakannya terhenti saat kelembutan sutra yang terasa di tangan kirinya membuatnya mengingat alasan mengapa dia berlari. Lututnya terasa lemah, tidak kuat menopang tubuhnya lagi.

Sesshoumaru, satu nama yang telah membuat hatinya remuk redam. Kagome tersiksa oleh rasa sakit setiap nama itu melintas di kepalanya, sakit itu bagai menjalar dari dada ke seluruh tubuhnya. Dia menyesal, dia merasa bodoh, lebih dari itu, dia jijik kepada dirinya sendiri karena telah lemah. Kagome merasa dia tidak lebih dari hanyou lemah yang ditelan bulat-bulat oleh ilusi indah yang menyedihkan, semua impian itu tidak berhak dimilikinya, Sesshoumaru membuat dia tidak seperti dirinya sendiri.

Aura youki kuat dengan cepat mendekatinya, telinganya bergerak miring ke tempat suara itu berasal. Kagome tau siapa yang mendekatinya, Sesshoumaru! Kagome tidak menyangka bahwa Dai youkai itu akan dengan segera mengejarnya. Saat ini terlambat untuknya terus berlari, dia akan dengan mudah dikejar oleh youkai pongah itu. Tapi tetap saja Kagome berusaha berlari, memacu tubuhnya untuk bergerak semaksimal mungkin, dia tidak peduli otot-otot ditubuhnya bagai hendak putus, Kagome tidak bisa berhenti dan menyerah begitu saja.

Sejujurnya bagi Sesshoumaru, permainan kejar dan tangkap buruan adalah yang paling menyenangkan untuknya sebagai inu youkai. Permainan yang menggunakan instingnya, membangkitkan sisi animalistic-nya, apalagi bila sang buruan adalah Kagome yang akan semakin membuat adrenaline meningkat. Tapi dia tidak sedang ingin bermain saat ini, setelah pertemuan dengan Kaguya dia tidak ingin lagi mengulur waktu untuk membuat Kagome kembali bersamanya.

"Kau masih bergerak lambat" suara baritone yang familiar menyapu telinganya, serta merta Kagome menoleh dan mendapati Sesshoumaru telah berlari disampingnya. Itupun bila terlihat mengambang satu meter di atas tanah dengan cepat dapat disebut berlari.

"Brengsek kau Sesshoumaru" ujarnya sewot.

"Berhenti berlari!" perintahnya tegas.

Tentu saja Kagome tidak menuruti perintahnya "Kau pikir dirimu siapa hah!?" Kagome mendengus kesal.

Sesshoumaru mendahului Kagome lalu berhenti tiba-tiba, dia menghalangi jalannya.

"Jangan menghalangi jalanku sialan!" umpat Kagome.

Sesshoumaru berjalan maju selangkah, Kagome mundur selangkah. Sesshoumaru terdiam sejenak, meneliti Kagome. Mata Kagome yang bulat besar berkilat dengan kemarahan, dadanya kembang kempis, wajahnya merah karena berlari.

Raut wajah Kagome menampakkan amarah dan kesedihan. Sesshoumaru meneliti tubuh Kagome ingin mengetahui darimana asal dari bau darah samar yang diciumnya, bau darah Kagome saat ini sedikit berbeda, tak butuh lama untuk mengetahui tangan dan lutut Kagome yang terluka.

"Kau terluka" sebuah pernyataan datar dari Sesshoumaru.

"Ini hanya luka kecil" tidak sebesar yang kau torehkan, batin Kagome.

"Hn"

Kedua alis Kagome berkumpul di tengah lantaran kepedulian Sesshoumaru, "Secepat itukah kau memuaskan hasratmu?" nadanya mengejek. Sial! Tidak seharusnya aku peduli akan hal itu, Kagome mengutuk dirinya sendiri di dalam hati.

Salah satu alis Sesshoumaru terangkat sedikit sebagai jawaban atas pertanyaan Kagome yang blak-blakan.

Setitik rasa malu menghinggapi Kagome "Tinggalkan aku sendiri!" serunya.

"Bila aku tidak mau?" tanya Sesshoumaru dengan dingin.

"Lalu apa yang kau mau bajingan?" sentak Kagome dengan keras, membuat alis Sesshoumaru berkerut tapi dia tidak menjawab. "Itu berarti kau meminta bertarung denganku?" belum juga kalimatnya selesai Kagome sudah melayangkan cakarnya dengan cepat, cakarnya hanya berhasil menghancurkan tanah.

Dengan mudah Sesshoumaru berpindah tempat. Kagome tersenyum, niatnya membuat Sesshoumaru menyingkir dari jalannya telah berhasil, dia langsung berlari secepat kilat. Semudah Sesshoumaru menghindari ancamannya semudah itu pula dia kembali menutup jalan Kagome dengan tubuhnya yang tegap.

Kagome mengayunkan cakar tajamnya lagi, namun dengan gerakannya santai Sesshoumaru mengelak dengan anggun, tidak terlihat menggunakan tenaga sama sekali, dan itu semakin membuat Kagome melemparkan serangan dengan membabi-buta disetiap tempat Sesshoumaru menjejakkan kakinya.

"Gaya berkelahimu masih seperti anak kecil" komentar Sesshoumaru sedatar ekspresi wajahnya.

"Baiklah kalau begitu" Kagome mencabut Yoarashi dari pinggangnya, dengan gerakan yang tidak tertangkap oleh matanya kiri Sesshoumaru sudah mencengkram erat lengan kanannya yang telah menggenggam pedang, sedangkan tangan Sesshoumaru yang lain meraih Yoarashi dari genggaman Kagome lalu disangkutkan ke obinya.

"Hey, kau hanya menginginkan Yoarashi ternyata!" Kagome setengah berteriak, tangan kirinya menggapai-gapai berusaha merebut kembali Yoarashi dari Sesshoumaru, sia-sia. "Kembalikan sekarang juga! Itu milikku!" ujarnya galak.

Setelah menyangkutkan Yoarashi ke obinya, tangan kanan Sesshoumaru memegang pergelangan tangan kiri Kagome "Akan kukembalikan setelah kita selesai berbicara" ucap Sesshoumaru setenang biasanya "Sesshoumaru ini tidak ingin bertarung denganmu"

"Lalu untuk apa kau berbicara denganku?" sorot mata Kagome tajam menusuk "Aku hanya seorang hanyou rendahan, sampah, kau seorang Dai youkai yang sempurna akan tercemar oleh keberadaanku, kau akan terhina bila berbicara denganku" ujar Kagome sengit sambil berusaha keras untuk melepaskan diri dari cengkraman Sesshoumaru yang kuat, namun sia-sia.

"Diam dan dengarkan aku!" suara Sesshoumaru keras dan penuh wibawa, membuat Kagome mau tidak mau menutup mulutnya untuk sesaat dan berhenti mencoba melepaskan diri.

Sunyi diantara keduanya, mereka hanya saling melontarkan tatapan marah. "Aku tidak mau lagi menjadi pelayanmu, lebih baik aku mati!"

"Bukan itu yang kuinginkan" suara Sesshoumaru seakan melembut di telinga Kagome.

"Lalu apa yang sebenarnya kau inginkan selain meracau brengsek?" Kagome menyeringai hingga menampakkan taringnya, dia tahu kata terakhir akan sangat menganggu Sesshoumaru.

Telinga Sesshoumaru sedikit panas "Kubilang jaga kata-katamu..." keraguan Sesshoumaru di akhir kalimat membuat Kagome semakin geram.

Kagome berusaha menarik tangannya dari cengkraman Sesshoumaru "Kau mau bilang jaga kata-katamu apa? Hanyou? Wanita? Atau pelacur?" Kagome tertawa hambar. "Aku tidak mengerti siapa yang sebenarnya pelacur" dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kaguya yang menawarkan dirinya padamu atau kau yang selalu mengambil kesempatan dari siapapun bahkan pada hanyou yang katanya 'menjijikkan' sepertiku, atau aku yang dengan bodohnya membiarkan kau merebut kehormatanku? Jawab aku Sess-sshou-maru-sama!" nada Kagome meledek saat menyebutkan nama Dai youkai itu dengan sisipan gelar kehormatan di ujungnya.

"Kau menghinaku dengan mengatakan bahwa aku mengambil kesempatan dari siapapun" suara Sesshoumaru kembali mengeras.

Tidak ada jawaban dari Sesshoumaru selain pertanyaan balik, karena itu Kagome melanjutkan "Bukankah sudah sangat jelas terlihat bahwa kaulah dan Kaguya yang pelacur? Kalian mengikat obi kalian didepan!" Kagome tertawa kecil "Itu sama saja dengan menuliskan kata 'aku ini pelacur' di dahimu" ucapnya meledak-ledak.

Sesshoumaru melepaskan tangan Kagome dengan kasar "Sesshoumaru ini tidak terikat oleh pandangan yang dibuat oleh manusia seperti itu" ucapnya tenang.

Kagome mundur sedikit "Kalau begitu, apa yang kau pedulikan? Tidak ada! Satu-satunya yang kau pedulikan adalah dirimu sendiri, kau adalah youkai paling sombong yang pernah kukenal yang sangat mencintai dirinya sendiri!" Kagome berkata lantang. "Semua mahluk akan mendengar bahwa kaulah satu-satunya penguasa wilayah, walau pada kenyataannya akulah yang telah menghabisi Tokushin, Kuroichi, bahkan Takigawa!" ucapnya setengah berteriak, setetes kesedihan mengalir di dadanya saat menyebut nama Takigawa.

Mereka berdiri berhadapan, tidak lebih dari selangkah "Penaklukanmu itu tidak akan ada artinya bila kau tidak bisa mengalahkanku"

"Tentu saja aku bisa mengalahkanmu. Dan tentu saja aku bisa membunuhmu bila aku mau" koar Kagome.

"Tapi kau tidak ingin mengalahkanku, kau tidak ingin membunuhku" Sesshoumaru berkata mantap.

Mendengar kepercayaan diri Sesshoumaru membuat amarah Kagome semakin menggelegak "Kau..." Kagome kehabisan kata-kata, tangannya terkepal di galam cengkraman Sesshoumaru "Mengapa kau tidak membunuhku saja agar penaklukanmu atas wilayah menjadi mutlak hah?" sinar mata Kagome penuh dengan amarah yang selama ini terkubur.

"Aku tidak ingin membunuhmu Kagome" nadanya dingin seperti biasanya.

Sesshoumaru yang menyebut namanya membuat pertahanan Kagome melemah, dengan segera dia menampik dan menguatkan kembali niatnya untuk melepaskan diri dari Sesshoumaru.

"Kau yang menerima semua gelar kehormatan, padahal aku yang bertaruh nyawa. Kau selalu menjadi si sempurna dan aku selalu menjadi sebuah penyimpangan, sial! Kau benar-benar membuatku muak, aku tidak ingin lagi menjadi pelayanmu, atau pelacurmu. Sudah cukup, lebih baik aku mati"

"Apakah kau sudah selesai?" tanya Sesshoumaru dengan tenang, setelah amarah Kagome mereda dia melanjutkan kata-katanya "Kau bukan lagi pelayanku" Kagome menatapnya dengan marah tapi tidak bisa berkata apa-apa "Kau tidak pernah menjadi pelacurku" Sesshoumaru melangkah mendekat, tubuh mereka hampir menempel "Sisi buasku menginginkanmu"

Dia menginginkanku? Benaknya bertanya-tanya, Kagome mencoba mengabaikan kata-kata Sesshoumaru yang semakin melemahkan niatnya. Disaat yang sama hidung Kagome berkerut di tengah wajahnya ketika bau Kaguya yang menempel di hakama Sesshoumaru menyeruak "Baunya menempel didirimu, memuakkan!?"

"Hn" Sesshoumaru tertegun sejenak sebelum melanjutkan "Tapi, apakah kau dapat mencium bau kebangkitanku~" tubuh mereka tidak lagi sepenuhnya berjarak "Kagome?"

Kagome terkesiap, suara Sesshoumaru yang menyebutkan namanya selalu berhasil menghipnotisnya, membuat jantungnya semakin berdentam dengan lantang. Diam-diam Kagome mengendus Sesshoumaru, dan apa yang dikatakannya terbukti. Kagome tidak dapat mencium bau kebangkitan dari dirinya, dia berkata jujur. Bila Sesshoumaru 'membersihkan' dirinya dengan aliran youki seperti yang pernah dilihatnya saat itu pasti tidak ada bau Kaguya yang masih menempel di pakaiannya.

Kagome tidak menyangkal bahwa apa yang baru diketahuinya itu membuatnya merasa sedikit bahagia "Aku sama sekali tidak peduli" bohong!.

"Aku tahu, bahwa kau menginginkan Sesshoumaru ini"

"Aku tidak!" sergah Kagome cepat-cepat.

"Bohong!" kedua mata Sesshoumaru setengah terpejam, dia sedang membaui Kagome "Aku bisa mengendusnya, baumu lebih manis saat bahagia, kau bahagia saat mendengar bahwa aku menginginkanmu. Tapi aku bisa mencium setitik ketakutan didirimu, itu bagus bila kau takut kepadaku" Sesshoumaru mengatakan itu dengan kebanggan. Ketakutan seseorang kepadanya hanya akan membuat harga dirinya melonjak tinggi, itu sebuah kebanggaan, terlebih lagi dari wanita berapi-api yang ingin ditaklukkan olehnya.

"Aku tidak takut kepadamu! Tidak sama sekali" tampik Kagome.

"Lalu apa yang kau takutkan sekarang bila itu bukan Sesshoumaru ini?" tanya Sesshoumaru penuh intrik.

Tidak mungkin Kagome berkata dengan jujur bahwa dia takut dengan dirinya sendiri yang bersedia melakukan apapun untuk berada disisi Sesshoumaru, "Setiap aku berada di dekatmu aku tidak seperti diriku sendiri. Pengaruhmu kepada diriku itulah yang sangat aku takutkan" Kagome terperanjat kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.

"Bukankah kau yang mengatakan bahwa dengan menaklukan rasa takut itu sama artinya dengan menaklukan dunia?" iris keemasan yang menatap Kagome itu terlihat lebih hangat dari sebelumnya.

Kagome membuang wajahnya yang mulai terasa panas kearah lain "Aku membencimu" tidak pernah terpikir olehnya bahwa kata-kata ibunya tentang ketakutan itu akan berbalik menyerangnya.

"Ikutlah bersamaku, kau tidak memiliki masa depan lain selain yang aku bawa untukmu"

"Kau terlalu congkak Sesshoumaru"

Penguasa wilayah Barat itu mengabaikan semua penolakan Kagome, Sesshoumaru melepaskan genggamannya di kedua pergelangan tangan Kagome. "Sesshoumaru ini menginginkanmu " akhirnya dia mengeluarkan kalimat yang dibencinya, kalimat yang menunjukkan kelemahannya, tapi kalimat itu adalah beban yang harus dikeluarkan olehnya.

Mengatakan hal itu secara terang-terangan sangat menyiksa Sesshoumaru. Dia membenci bagaimana dia mempunyai perasaan seperti itu. Tapi dia sudah tidak bisa lagi melarikan diri dari dirinya sendiri. Sudah lama tanpa Sesshoumaru sadari bahwa dia terkurung, bergelut atas penyangkalan akan perasaan yang dimilikinya untuk Kagome yang semakin membuat sisi buasnya bergolak. Tapi kini, setelah dia dengan berat hati mengakui apa yang dia rasakan, sisi buasnya telah takluk kepadanya.

Biru keabu-abuan itu memandang nanar pada Dai youkai yang ada dihadapannya, sambil mengelus pergelangan tangannya yang sedikit sakit. "Katakan itu kepada Kaguya atau wanita lain karena aku sama sekali tidak peduli" ucap Kagome dengan keras kepala.

"Kau mengatakan bahwa Sesshoumaru ini pembohong?" cengkraman Sesshoumaru pada lengan kirinya menyakiti Kagome "Itu sangat merendahkanku! Tidak pernah ada wanita dihidupku selain dirimu, karena aku tidak mau mencemari diriku sendiri demi kepuasan sesaat sisi buasku dengan sembarang youkai wanita yang kutemui" Sesshoumaru benar-benar merasa harga dirinya terlukai oleh ketidakpercayaan Kagome.

Kagome terperangah dengan apa yang Sesshoumaru utarakan, kedua matanya terbelalak. Jauh di dalam hatinya Kagome bingung dengan apa yang harus dirasakannya setelah mendengar kata-kata Sesshoumaru barusan. Emosi seakan-akan berkelahi untuk menguasai, dia merasa tersanjung saat mengetahui bahwa dialah yang pertama bagi Sesshoumaru, tapi dia merasa terhina dengan perkataan mencemari. Semua itu terlalu mendadak, menghantamnya dengan keras, membuat kepalanya mendadak pening.

Tidak pernah ada wanita di hidupnya selain diriku? "Jadi kau ingin bilang bahwa hanya akulah yang berhasil mencemari kesucianmu heh?" bila keadaan mereka berbeda, Kagome yakin kalau dia akan tertawa terbahak-bahak saat mengucapkan kalimat itu "Entahlah, semua sikap dan kata-katamu padaku penuh pertentangan Sesshoumaru. Seringkali kau seperti menarik dan mendorongku secara bersamaan, contohnya saat ini. Aku benar-benar tidak tahu apakah itu sebuah hinaan atau pujian" Kagome menggelengkan kepalanya, putus asa. Dia berbalik badan dan memunggungi Sesshoumaru, hendak melengos pergi.

"Kau tidak pernah membuat segala hal menjadi mudah" ucap Sesshoumaru dingin, kedua lengannya melingkari tubuh Kagome, memenjarakan kedua tangan kagome sehingga dia tidak dapat berbuat apa-apa.

"Lepaskan aku!" bentak Kagome memerintah "Sialan kau Sesshoumaru" ujarnya sewot.

"Aku tidak akan melepaskanmu" bisik Sesshoumaru di telinga kanan yang berada di puncak kepala Kagome, membuat hanyou itu merinding oleh sensasi yang dikirimkan hangat nafas Sesshoumaru padanya.

Kagome sekuat tenaga meronta, mengayunkan tubuhnya kekanan dan kekiri, berusaha menyakiti Sesshoumaru dengan sikunya, berusaha melorotkan diri agar bisa melepaskan diri saat dia jatuh ketanah, semua usahanya itu tidak membuahkan hasil "Kubilang lepaskan aku, apakah kau tuli hah!?"

Setelah Kagome berhenti meronta, tangan Sesshoumaru bergerak turun, lagi-lagi kedua tangannya menahan kuat pergelangan tangan Kagome. Samar-samar bau darah yang telah mengering tercium, Sesshoumaru tahu darimana bau itu berasal. Dai youkai itu mengangkat tangan kanan Kagome, dengan lembut dia menjilat telapak tangan Kagome yang belum sepenuhnya sembuh walau sudah tidak mengalirkan darah lagi karena terjatuh tadi.

Sensasi yang diberikan lidah Sesshoumaru di indera perabanya, dan gelitik sengatan saliva yang menyembuhkan dilukanya membuat Kagome sekuat tenaga menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apapun saat merasakan desir halus merayap diseluruh tubuhnya. Kagome menolehkan kepalanya untuk melihat apa yang dilakukan Sesshoumaru, disaat itulah penguasa wilayah itu menatapnya dengan sorot mata tajam yang seakan menembus ke dalam inti jiwanya.

Kagome mematung, jantungnya mulai bertingkah, untuk menelan ludahpun terasa susah. Setiap berada di dekat Sesshoumaru seakan-akan ada ratusan serangga kecil yang merayapi tubuhnya yang tidak dapat dibunuh sekuat apapun usahanya, serangga-serangga itu menyelusup dengan paksa, merangkak di dalam kulitnya, menyelinap masuk ke hatinya dan bersarang di sana tanpa ada harapan untuk kembali keluar.

Kagome menunduk, melepaskan diri dari sepasang emas hangat yang membuatnya resah. Sesshoumaru tidak berhenti disitu, tangan kirinya telah bebas, tangan kanannya yang besar menahan pergelangan tangan kanan dan lengan kiri Kagome sekaligus. Tangan kiri Sesshoumaru merayap naik ke lengan kiri Kagome, kemudian turun perlahan dengan gerakan yang menenangkan sebelum kembali merayap naik lalu menangkup wajah Kagome, memiringkannya ke kanan agar kembali menghadap wajahnya lalu Sesshoumaru berkata.

"Aku akan melepaskanmu bila itu kehendakmu, tapi sebelum itu~" kata-kata Sesshoumaru terpotong saat bibirnya bertemu dengan bibir Kagome.

Sesshoumaru menciumnya dengan bergairah, penuh hasrat yang telah beberapa hari ini tertahan. Tidak butuh waktu lama untuk Kagome menyerah dan membalas ciuman panas Sesshoumaru. Bibir mereka saling bertautan, ciuman mereka dalam, penuh kerinduan, ciuman yang membangkitkan gairah keduanya. Percik-percik sensual semakin besar setiap kali bibir hangat mereka bergerak, terkadang lembut, dan terkadang penuh nafsu diiringi oleh lidah yang menari.

Taringnya tidak sengaja menggores bibir Kagome, darah mengalir. Darah segar Kagome disambut hangat oleh indera penciuman dan indera perasa milik Sesshoumaru, untuk sesaat Sesshoumaru tercenung saat rasa darah Kagome terasa di lidahnya, ada sesuatu yang berbeda! Dari pertama dia menemui Kagome, bau darahnya karena luka kecil itu berbeda, dan kini tidak hanya baunya tetapi juga rasanya.

Sesshoumaru melepaskan tangan kiri yang mencengkram wajah Kagome, begitupun tangan kanannya yang tidak lagi mencengkram kedua tangan Kagome, dengan perlahan Sesshoumaru membalikkan badan wanita itu agar menghadapnya. Tangan kiri Sesshoumaru melingkari pinggang Kagome, dan tangan kanannya menopang kepala Kagome saat dia memberikan ciuman kedua di bibir Kagome dengan mendesak, lidahnya bergerak dengan liar menjelajahi hampir semua tempat di gua hangat Kagome.

Tubuh Kagome yang jauh lebih kecil dari miliknya serta merta luruh dalam dekapannya. Dua tangan Kagome dengan pasrah bersandar di atas dadanya yang bidang, terperangkap, hanya dapat merasakan degup jantung Sesshoumaru yang mulai meningkat. Setelah mendekap Kagome, Sesshoumaru baru mengerti tentang perbedaan bau itu. Temperatur tubuh Kagome yang meningkat, bau khas tubuhnya, juga bau dan rasa darah yang berubah. Tidak salah lagi, wanita di hadapannya sedang mengandung janin!

Pewarisnya! Sesshoumaru semakin menarik Kagome erat kedalam rangkulannya, dadanya sesak oleh perasaan yang meluap-luap. Sebelumnya dia berkata bahwa dia menginginkan Kagome, sebatas menginginkan di dalam hidupnya. Tapi sekarang lebih dari itu, setelah dia mengetahui Kagome mengandung anaknya, sisi protektif Sesshoumaru menginginkan Kagome sebagai pasangannya.

Asap pekat bernama harga diri yang tinggi yang selama ini menganggu pikirannya telah tertiup oleh perasaan kuat yang dimilikinya untuk wanita yang ada di dalam pelukannya saat ini, membuat semua tidak tertahankan lagi baginya. Seluruh keraguan Sesshoumaru telah tandas, egonya telah tumpas, tidak ada lagi pergelutan di dalam dirinya saat mengetahui bahwa dia akan memiliki seorang penerus garis keturunannya. Sesshoumaru yakin, garis keturunan darah youkainya yang kuat akan membuat pewarisnya pun berdarah youkai penuh seperti dirinya.

Sesshoumaru dengan paksa menarik diri dari ciuman itu, kepalanya sedikit menjauh untuk menatap berlian biru keabu-abuan yang terbuka secara perlahan "Aku berubah pikiran, kau tidak diperbolehkan pergi jauh dariku baik, sekarang maupun nanti" Kagome memandangnya dengan garang, tapi raut wajahnya itu tidak bertahan lama ketika Sesshoumaru melanjutkan kata-katanya "Karena kau membawa pewarisku"

Terkejut adalah sebuah pernyataan yang meremehkan untuk menggambarkan keadaan Kagome saat mendengar berita yang disampaikan oleh Sesshoumaru, dia tidak bergerak sedikitpun di tempatnya berdiri, tidak untuk mengedipkan mata sekalipun. Kedua matanya membelalak selebar mungkin, mulutnya terbuka, untuk sesaat Kagome lupa bagaimana caranya bernafas. Setelah keterkejutannya telah mereda Kagome menunduk untuk memandang bagian tengah tubuhnya, tempat sang janin berada.

Tidak ada alasan untuknya tidak mempercayai Sesshoumaru, youkai congkak itu berkali-kali menegaskan kebohongan hanya akan menurunkan kehormatannya. Cerita ibunya semakin menambah kuat keyakinan Kagome, saat dia dalam kandungan pun sang ayahlah yang mengetahui keberadaannya lebih dulu lantaran penciuman Inu youkai sangat kuat. Kagome shock. Berbagai macam pertanyaan baru bermunculan di kepalanya. Bila itu benar, apa yang harus dilakukannya? Apa yang seharusnya dikatakannya? Apa yang seharusnya dirasakannya? Bahagia atau sedih?

"Sesshoumaru ini menginginkanmu Kagome" tidak disangka-sangka suara Sesshoumaru penuh dengan kehangatan dan ketulusan.

Pertanyaan-pertanyaan di benaknya luluh lantah saat Kagome mendengar suara Sesshoumaru yang hangat, dia tahu pasti apa yang dirasakannya, kebahagiaan. Pandangan Kagome dengan segera tersedot untuk menatap kembali kedua mata Sesshoumaru. Dengan mata terbuka dia dapat melihat pegangan erat pada kenyataan hidupnya yang selalu pahit telah terlepas. Kagome tidak bisa lagi menolak mimpi indah yang kini ada di hadapannya yang mengatakan bahwa dia diinginkan! Tidak ada perasaan yang lebih indah dari diinginkan dan dicintai setelah berbagai macam cobaan yang telah dilaluinya.

"Sebagai pasangan" suara Sesshoumaru yang dalam itu bagai menerobos keheningan hutan yang mulai ditinggalkan oleh senja, merambah hati hanyou cantik yang ada didekapannya.

Kagome kehabisan kata-kata, dia tahu apa arti kata 'pasangan' bagi youkai. Mereka akan menghabiskan sisa hidup mereka terikat dengan satu sama lain hingga ajal menjelang. Ikatan itu jauh lebih kuat daripada ikatan manusia, para youkai bisa 'menikahi' siapa saja tapi hanya segelintir youkai yang bersedia memberikan 'tanda' bagi orang yang mereka nikahi sebagai 'pasangan'. Yang telah dinikahi oleh youkai pun belum tentu dijadikan sebagai 'pasangan' oleh mereka.

Kagome hanya bisa memutar ulang dua kata yang telah Sesshoumaru ucapkan itu di otaknya, dan berusaha keras menemukan arti lain selain apa yang di dengarnya, hasilnya nihil. Tidak ada keraguan yang bersemayam di dada Kagome dengan apa yang meluncur keluar dari mulut Sesshoumaru, hanya ada satu makna dibalik itu.

Sesshoumaru menanti, dia menatap mata bulat besar indah itu. Tangan kanannya membelai rambut Kagome, lalu menangkup wajahnya. Kagome memejamkan matanya, dia menyandarkan wajahnya di tangan hangat Sesshoumaru dan menghayati setiap inci kulitnya yang tersentuh. Mata Kagome tersengat oleh kebahagiaan, tapi ditahannya. Kagome menyandarkan diri di tubuh Sesshoumaru, jerit getir kerinduan nan tak tertanggungkan akan sentuhan sang Dai youkai yang dicintainya telah terbayar sudah, dia merasakan madu.

Kagome menatap safir emas yang kini hangat itu, tatapannya bergerak turun perlahan ke hidung Sesshoumaru yang lurus, lalu ke bibirnya. Bau kebangkitan gairah Sesshoumaru menusuk hidungnya, Kagome tidak bisa berkata-kata selain mengucapkan nama youkai yang dicintainya "Sesshoumaru~" dengan suara yang hanya sebatas bisikan.

Dengan perlahan Kagome mengangkat dirinya sendiri, sedikit berjinjit. Bibir keduanya saling bersentuhan, bila ciuman yang pertama itu mendesak, dalam, dan penuh kerinduan, itu tidak berlaku dengan yang sekarang. Bibir mereka saling meraup dengan lapar, ganas, dan lebih liar dari yang sebelumnya. Mereka bergerak seirama, dengan niat saling mendominasi. Lidah mereka saling membelai, berusaha menyapu semua tempat di gua sang calon pasangan. Tangan Kagome merayap naik dan menggelayut di leher Sesshoumaru, dengan putus asa merenggut dengan sedikit kasar rambut keperakan itu.

Sesshoumaru semakin erat mendekap Kagome, bagian tubuh di dalam hakama-nya semakin mengeras membentur perut Kagome. Tangan kanan Sesshoumaru tidak berhenti mengelus punggungnya, kemudian tangannya itu turun dan meremas salah satu bagian belakang Kagome, membuat sang wanita mengeluarkan suara pekikan yang semakin membakar gairah Sesshoumaru. Sang Dai youkai menggeram, menyuarakan kobaran api hasrat yang berada di dalam dirinya. Sesshoumaru semakin lapar untuk menyentuh, dengan terburu-buru dia menarik obi yang melilit pinggang ramping Kagome hingga terjatuh ke tanah.

Kagome membantu Sesshoumaru, dia melucuti pakaian yang menempel di tubuhnya. Sesshoumaru tersenyum kecil, dia melepaskan diri dari Kagome hanya untuk melakukan hal yang sama karena fundoshi yang dipakainya semakin menyiksa. Kagome telah lebih dulu berdiri tanpa selembar benang pun, tanpa takut dia mendekati Sesshoumaru yang telah bertelanjang dada sibuk membuka hakamanya. Tangan kecil Kagome menjelajah dada yang terbentuk sempurna, keras, tapi diselimuti oleh kulit putih yang indah.

Kagome menyandarkan wajahnya diantara kedua tangannya di dada bidang Sesshoumaru, untuk beberapa saat dia seperti itu, memejamkan mata, mendengarkan detak jantung Sesshoumaru yang kuat namun stabil. Tiba-tiba sebuah ide berkelebat di kepalanya, dan tanpa pikir panjang dia mempraktekan ide yang dimilikinya itu. Kagome menjilat salah satu puting Sesshoumaru, bukan geraman atau dengkuran yang didapatkan Kagome tapi tarikan cukup keras di rambutnya dari Sesshoumaru yang membuatnya memekik kecil karena kaget.

Tarikan di rambut Kagome mengendur "Tidak, sebelum aku 'menandaimu' Kagome" tatapan Sesshoumaru seperti memohon maaf. "Saat ini akulah yang 'harus' memegang kendali"

Raut wajah Kagome menampakkan kekecewaan, dia tahu itu artinya siksaan kenikmatan lain dari Sesshoumaru. Dia akan berada di posisi rapuh itu lagi, tidak bisa menyentuh, tunduk dalam belas kasih Sesshoumaru untuk sepenuhnya memberi penawar tubuhnya.

Sesshoumaru membelai pipi Kagome dengan ujung hidungnya, gestur memohon maaf bagi canine. "Kau boleh melakukan apapun nanti setelah ritual kita telah selesai, aku berjanji" ucapnya, hangat nafasnya menyapu wajah Kagome "Dan itu akan sangat menyenangkan" imbuh Sesshoumaru dengan nada yang menggoda. Satu tangan Sesshoumaru terangkat, kekkai telah terpasang.

Makna yang terkandung di dalam apa yang diucapkan Sesshoumaru semakin membuat lutut Kagome lemas, dan tubuhnya semakin menggelegar dengan penantian. "M-hm" Kagome mengangguk sebagai jawaban.

Hakama telah lepas dari tubuhnya, Sesshoumaru menuntun Kagome untuk berbaring di atas mokomokonya yang telah diatur sedemikian rupa di atas tanah demi kenyamanan sang calon pasangan. Kagome dengan patuh berbaring, bagian bawah tubuhnya telah basah oleh antusias. Tak lama berselang setelah Kagome berbaring dengan nyaman Sesshoumaru mendekatinya, dengan sukarela Kagome melebarkan kedua kakinya, memberi akses yang seluasnya pada Dai youkai yang dia cintai. Sesshoumaru memposisikan dirinya diantara kedua kaki Kagome yang terentang, semerbak bau manis Kagome menguar di udara.

Bau harum Kagome yang manis dari berbagai bunga berpadu dengan segarnya bau dedaunan semakin harum karena kehamilannya, dan ditambah lagi dengan bau kebangkitan hasrat untuknya semuanya menjadi semakin memabukkan bagi sang Dai youkai. Taring Sesshoumaru terpampang saat dia menyeringai melihat Kagome yang pasrah.

Rambut lebat hitam yang terurai di sekitar kepalanya semakin menonjolkan wajah Kagome yang bersemu merah, bibir penuhnya yang berwarna merah muda telah merekah setelah ciuman mereka tadi. Dada Kagome naik turun oleh harapan, berguncang lembut, saat penguasa wilayah itu mendekatinya. Sesshoumaru mengangkat kedua kaki Kagome, tanpa diperintah lebih jauh Kagome dengan taat melingkari kedua kakinya pinggang Sesshoumaru.

Kejantanan Sesshoumaru yang telah sepenuhnya bangkit, menyentuh sekilas daerah kewanitaan Kagome "Kau sudah sangat siap" bisik Sesshoumaru dengan kagum.

Sebuah geraman keluar dari dada Sesshoumaru sesaat sebelum bibir mereka kembali bertemu hanya sejenak sebelum dengan cepat dia beralih ke leher Kagome. Sesshoumaru mengecup, lalu menjilat perlahan, lidahnya diseret ke atas dari lekukan di tempat kedua tulang selangka bertemu hingga di bawah dagu Kagome sedangkan salah satu tangannya meremas bukit lembut di dada Kagome. Sebuah desahan terlontar dari Kagome, disusul isakan kecil saat Sesshoumaru menarik puncak bukit di dadanya yang telah menegang dengan ibu jari dan jari telunjuknya cukup keras.

"Aaah.." suara Kagome setengah protes setengah mendesah.

Selanjutnya tidak ada kata lembut dari apa yang dilakukan Sesshoumaru, semuanya berlangsung dengan liar. Sesshoumaru bergerak turun, kedua tangannya kini meremas bukit indah itu, membawa keduanya ketengah dada Kagome untuk dilahapnya dengan rakus secara bergantian. Kagome hanya bisa memejamkan mata dan melenguh saat Sesshoumaru menyerangnya dengan bibir, lidah, tangan dan taringnya.

Lenguhan Kagome tidak lain hanya menghasilkan rasa frustasi seksual yang semakin besar bagi keduanya. Sesshoumaru tidak membuang tempo, dia menjilat setiap inci gundukan kenyal itu. Lagi-lagi dengan tangan besarnya yang kasar dia meremasnya menghasilkan rasa sakit yang bercampur nikmat bagi Kagome.

Titik-titik darah yang keluar kali di kedua gundukan itu kini diabaikan, luka gores cakar Sesshoumaru itu membuat dada Kagome diwarnai oleh merah darah yang indah. Bau darah Kagome semakin mempermanis harum khas tubuhnya, bau itu tidak lagi membangunkan sisi buas Sesshoumaru setelah dia tidak lagi menyangkalnya.

Setelah kedua bukit kenyal itu semakin licin dan basah oleh salivanya, Sesshoumaru kembali mempermainkan puncak kedua bukit itu yang telah menegang dengan jari jemarinya yang kasar. Bukit di dada Kagome yang penuh tapi tidak terlalu besar terasa pas ditangannya saat dia meremasnya dengan gerakan memutar sebelum lidah miliknya kembali merajai keduanya, erangan dan desahan Kagome mewarnai hutan yang semakin gelap.

Taring Sesshoumaru yang menggores, hanya semakin membuat Kagome lapar akan sentuhan lain penguasa wilayah yang tampan itu. Sebuah gigitan kecil di salah satu payudaranya membuat Kagome menjerit, gigitan itu mengakhiri perhatian Sesshoumaru di gundukan indah yang kini telah memerah. Lidah Sesshoumaru menekan dan menyeret diantara kedua payudara Kagome, bergerak turun pelan ke pusat dari kenikmatan dan asal semerbak harum gairah Kagome untuknya, hanya untuknya. Sesshoumaru menyeringai.

Kedua paha Kagome ditahan dengan kedua lengannya saat dia merendahkan kepala dan mulai mencium mutiara kecil yang tersembunyi itu, membuat tubuh Kagome mengejang dengan kikuk dibawah Sesshoumaru. Dia membuat satu jilatan panjang dari ambang daerah kewanitaannya hingga ke kelopak mawar, menghasilkan sebuah lenguhan dari Kagome.

Setelah itu Sesshoumaru membuat jilatan-jilatan kecil yang menggoda berlian mungil itu, puas menggoda, dia kembali menjilat hampir di semua tempat yang dibasahi oleh cairan kebangkitan Kagome dengan berapi-api seakan tidak membiarkan ada tempat sekecil apapun yang terlewat.

"Mmph.." dada Kagome semakin kembang kempis "Sesshou~maru" suaranya berat oleh hasrat.

Gerakan Sesshoumaru itu membuat Kagome merintih, dengan kedua tumitnya menekan tanah hanyou itu menggerakkan pinggulnya dengan aneh. Gerakan lidah Sesshoumaru begitu bengis, tidak ada tempat di daerah intimnya yang tidak tersapu oleh kehangatan lidah kasar Dai youkai itu. Aliran nafsu itu semakin meluap di dada Kagome.

Tangan Kagome berusaha menggapai kepala Sesshoumaru, merenggutnya, helaian rambut perak yang halus itu kini berada di sela-sela jarinya. Dia butuh untuk menyentuh, dia lapar untuk memberikan perasaan yang sama kepada Sesshoumaru seperti yang diterima olehnya. Sesshoumaru menekan pinggang Kagome agar tetap di tempat, dia mengangkat wajahnya lalu menatap Kagome tajam, Sesshoumaru menggeram memperingatkan.

Setelah tidak ada serbuan lagi di pusat panas dirinya Kagome membuka kedua matanya, dia mengangkat kepalanya sedikit. Kagome mengerti maksud sorot tajam Sesshoumaru, dia mengangguk patuh walau kemudian mengeluarkan suara keberatan imut yang semakin mengibarkan gairah Sesshoumaru yang memang sudah menjadi-jadi. Dengan frustasi Kagome merenggut mokomoko Sesshoumaru yang berada di bawah tubuhnya, kehalusan bulu mokomoko itu digenggam Kagome erat sebagai pegangan saat dia tenggelam dalam utopia.

Setelah wanitanya patuh, Sesshoumaru kembali melanjutkan apa yang ditinggalkannya. Lidahnya menerobos liang senggama Kagome, lalu menggerak-gerakannya di dalam sana, di waktu yang bersamaan ibu jari tangan kirinya tidak henti mengelus mutiara yang tidak pernah gagal membuat Kagome melenguh itu.

Tak lama, Sesshoumaru bangkit, dia menikmati tubuh keindahan tubuh polos Kagome saat satu jarinya bergerak. Jari tengah Sesshoumaru masuk secara perlahan-lahan ke gua hangat Kagome. Dia bergerak lembut, masuk dan keluar perlahan, berusaha sebisa mungkin cakarnya tidak menyakiti wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi miliknya.

Melihat Kagome menikmatinya, Sesshoumaru menambahkan satu jari lagi. Liang kagome terasa menyempit saat kedua jarinya telah masuk seluruhnya di dalam tempat yang hangat dan lembut, suara desahan Kagome kembali terdengar, dindingnya yang panas mencengkramnya dengan erat.

Gigi Sesshoumaru bergemeretak, saat membayangkan bukan jarinya yang disana tapi dirinya yang telah menegang sempurna oleh aliran darah yang sekarang berkedut protes meminta perhatian. Sesshoumaru ingin sekali menyatukan diri saat itu juga bila tidak harus menyelesaikan apa yang harus diselesaikannya dalam ritual 'menandai' Kagome.

"Sesshou~maru~" ucapnya terbata-bata, dia berada di ambang batas. "Aku~" wajahnya merona merah, mulutnya setengah terbuka, megap-megap oleh serbuan Sesshoumaru.

Sesshoumaru sangat menyukai saat Kagome menyebutkan namanya dengan gairah yang terkandung di suaranya "Keluarkanlah untukku, Kagome!" seru Sesshoumaru dengan suaranya yang dalam.

Kagome mendesah, mendengar suara Sesshoumaru saja dapat membuatnya terbang ke langit teratas. Sesshoumaru kembali menundukkan kepalanya, rambut silver indahnya menjadi tirai lembut di kedua sisi tubuhnya, tangannya tidak berhenti bergerak saat dia menggantikan ibu jari tangan kirinya di berlian kecil Kagome dengan lidahnya.

Kagome menopang tubuhnya dengan kedua sikunya, matanya semakin melebar saat melihat Sesshoumaru melahapnya dengan keantusiasan seorang inu. Kedua mata Sesshoumaru terpejam saat melahapnya, geraman keluar dari dalam dada Sesshoumaru. Geraman itu mengalir ke mulutnya, membuat lidahnya bergetar dan getarannya di mutiara miliknya itu semakin membuat Kagome seakan berada di tepi jurang keindahan yang siap membawanya semakin melayang tinggi.

Rasa halus yang menggelitik dari mokomoko Sesshoumaru di bawah tubuhnya, Sesshoumaru yang melahap bagian intimnya dengan keji, serangan jari-jarinya dan suara berat Sesshoumaru yang didengar Kagome, semakin mengirimkan rangsangan baginya dan memperganda rasa indah yang membalut seluruh tubuhnya. Kagome tidak lagi berada dibatas, melainkan tenggelam di dalamnya.

Kagome bergelora dalam ledakan api hasrat membara, jeritan kecilnya melengking saat lidah Sesshoumaru mengirimnya ke dunia yang hanya berisi perasaan indah yang berlimpah-ruah dengan cahaya membutakan. Tubuhnya menggelinjang dengan kikuk saat dinding bagian dalam kewanitaannya berkedut mencengkram dengan kuat dan mengalirkan cairannya lebih banyak lagi keluar dari tubuhnya saat Sesshoumaru menarik kedua jarinya keluar.

Seperti sebelumnya, Sesshoumaru menjilat jarinya yang dilapisi oleh cairan cinta Kagome dengan ujung lidahnya. Tubuh Kagome yang masih lemas semakin melemah saat gairah baru berkumpul di perut bagian bawah karena pemandangan yang dilihatnya. Tangan kanan Sesshoumaru mengangkat leher Kagome, dengan sedikit paksa menariknya bangun untuk menciumnya.

Tidak ada kelembutan diciuman itu melainkan gairah dan kebutuhan untuk mengikat perasaan. Kagome dapat merasakan rasa dari cairannya sendiri di mulut Seshoumaru, yang terpikir di otaknya saat itu hanyalah bagaimana rasa Sesshoumaru di mulutnya? Akankah semanis miliknya?

Sesshoumaru melepaskan diri dari ciuman itu dengan tiba-tiba "Berbalik!" perintahnya keras dengan suara dalam yang semakin parau.

Kagome terkesiap, dia tertegun sesaat sebelum menurut. Kagome membalikkan badan secara perlahan, Sesshoumaru dengan ketidaksabarannya yang terang-terangan membantu wanitanya bertumpu di atas kedua tangan dan lututnya. Sesshoumaru dengan kedua lutut di atas tanah memposisikan diri di belakang Kagome.

Dengan cakarnya Sesshoumaru menjelajahi punggung mulus Kagome, ujung-ujung cakarnya menyentuh tanpa penekanan seakan mengambang diatas kulit Kagome, gerakannya lembut, berjalan pelan dari tengkuk hingga bokong Kagome yang bulat. Seluruh bulu kecil di tubuh Kagome berdiri karena sentuhan Sesshoumaru.

Kedua tangan besarnya mencengkram pinggul Kagome "Milikku" bisik Sesshoumaru kepada dirinya sendiri, dengan suara dalamnya yang kini terdengar lebih garang.

Kagome menoleh saat dia melihat aura Sesshoumaru menguar, rambut silvernya terbang oleh aliran youki. Sesshoumaru menggeram lantang dan terdengar berbahaya, dia kembali berubah, matanya merah terang, iris matanya yang kuning hangat berubah menjadi biru cerah. Seluruh warna dari tanda yang Sesshoumaru miliki di wajahnya menebal, kedua garis maroon di pipinya kini bergerigi membuatnya lebih mengerikan, taringnya memanjang sangat mengancam, begitupun cakar-cakarnya yang kini menghujam kulit di pinggul Kagome, membuat hanyou bertubuh mungil itu sedikit memekik sakit.

Geraman buas keluar dari mulut Sesshoumaru saat dia menghunuskan kejantanannya di sarung hangat dan lembut milik Kagome yang telah sangat basah dan licin. Tangan kanannya bergerak mengelus punggung dan bokong Kagome sebelum meremasnya dengan keras, meninggalkan beberapa luka gores memanjang dan tetes-tetes darah bercucuran.

Tangan kiri Sesshoumaru menyelusup ke perut Kagome, menopang tubuh wanitanya sambil sesekali meremas payudara Kagome yang terombang-ambing, sedangkan tangan kanannya menopang tubuhnya di tanah. Tidak ada kelembutan sama sekali saat Sesshoumaru memulai ritmenya, dia menghentak dengan beringas, kasar, kuat, dan cepat. Sesshoumaru mengerang senang di balik seringaiannya.

Kagome terisak disetiap hentakan, tubuhnya bagai diamuk badai nafsu Sesshoumaru, terguncang hebat, jauh dari kelembutan. Walau begitu, yang dirasakannya hanya kenikmatan dari sisi liar mereka berdua. Dia hanya dapat mencengkram mokomoko Sesshoumaru lebih kuat saat Sesshoumaru hampir membuat tubuhnya ambruk disetiap dorongan yang dilakukannya, tapi lengan kiri Sesshoumaru yang kokoh menahan tubuhnya.

Bunyi kedua kulit beradu akibat dari gerakan enerjik Sesshoumaru yang tidak manusiawi itu bagai bunyi indah yang melengkapi erangan dan desahan yang sahut-menyahut membentuk sebuah harmoni dengan musik alam di malam hari.

Tubuh Kagome terlihat indah berkilat oleh selapis tipis keringat, berlekuk sempurna dari tempat Sesshoumaru memandangnya. Seringaian tidak lepas dari wajah Sesshoumaru, dia berhasil menaklukan sang wanita yang meledak-ledak. Sesshoumaru merenggut rambut Kagome yang terurai dengan sedikit tarikan sebelum memindahkan seluruhnya ke sisi kanan bahu Kagome, aksinya itu membuahkan rintihan dari sang wanita.

Suara erangan dan rintihan Kagome hanya membakar api hasratnya. Belum lagi pemandangan dari posisinya saat ini, dia bisa bebas melihat kejantanannya keluar masuk dengan bengis dari daerah kewanitan Kagome.

"Ngh, Sesshou~maru" suara Kagome lirih.

"Kagome~" suara Sesshoumaru semakin berat dan terdengar buas.

Sesshoumaru dapat merasakan dinding-dinding Kagome menekannya lebih kuat, seakan meremasnya ketika Kagome melenguh, menandakan dia hampir sampai di puncak ledakan hasrat untuk yang kedua kali di malam yang sama. Di waktu yang sama Sesshoumaru merasa di tepi batas, dia akan mengakhirinya. Kagome yang mencengkramnya dengan kuat, suara yang dibuat oleh wanitanya membuat Sesshoumaru meledak. Suara Sesshoumaru saat mengarungi gelombang pasang kenikmatan hampir seperti meraung, ganas dan liar.

Mereka mencapai puncak bersamaan, perasaan indah yang menyiksa itu lagi-lagi dirasakan Kagome. Untuk kedua kalinya Sesshoumaru mengirimkannya ke nirwana yang baru-baru ini dikenalnya. Gerakan sang Dai youkai melambat, sebelum berhenti sama sekali. Nafas keduanya tersengal-sengal, Kagome ambruk, kedua tangannya yang bergetar tidak lagi sanggup menahan berat tubuhnya.

Sesshoumaru memeluk Kagome dari belakang, dengan penuh kasih sayang dia mengangkat Kagome ke posisi semula. Kagome menoleh untuk menatap Sesshoumaru, mereka bertukar tatapan penuh arti selama beberapa saat, Kagome tersenyum sebelum memalingkan wajah. Tubuh mereka masih bersatu, perasaan dilengkapi bergelayut di hati keduanya. Salah satu lengan Sesshoumaru melingkari perut Kagome, dengan ujung hidungnya dia membelai bahu kiri, perlahan naik ke leher Kagome kemudian turun lagi begitu seterusnya untuk beberapa lama.

Mengikuti intuisi yang dimilikinya sebagai keturunan inu youkai, Kagome memiringkan kepalanya, mengumbar leher bagian kirinya kepada Sesshoumaru. Membiarkan bagian leher terpampang di hadapan inu youkai lain sama artinya sebagai penyerahan diri, sebuah bentuk kepercayaan sakral, itu telah berlangsung ribuan tahun lalu bagi jenis mereka dan mungkin untuk ribuan tahun kedepan.

Dengan tangan yang bebas, Sesshoumaru mengukir kata kekasih dalam huruf kanji dengan cakar tajamnya di lekuk pertemuan leher dan bahu Kagome. Kagome meringis menahan sakit, cakar Sesshoumaru dilapisi sedikit racun saat menghujam dagingnya, dia tahu itu bagian dari ritual yang harus dilaluinya dengan itu Kagome patuh.

Cakar Sesshoumaru menusuk sedikit lebih dalam, dengan cepat tetes cairan merah tua yang hangat mengumpul kemudian mengalir deras. Sebagai penutup ritual itu, Sesshoumaru menggigit di sekeliling kata yang diukirnya itu. Kagome terkesiap, dia memekik kecil menahan sakit yang tak tertahankan. Pada saat taring Sesshoumaru akhirnya terlepas dari dagingnya, disaat Kagome mengira ritual itu telah usai disaat itulah dia salah.

Aura youki Sesshoumaru yang lebih besar dari sebelumnya kembali menyeruak, kuat dan sangat dahsyat. Kagome memiringkan sedikit kepalanya, apa yang dilihatnya mengejutkannya. Sesshoumaru sedang berubah ke bentuk aslinya! Wajahnya, tubuhnya, kini sepenuhnya berubah. Yang memeluknya dari belakang adalah anjing berbulu tebal putih dengan beberapa tanda di wajahnya, berukuran dua kali manusia dewasa.

Wujud Sesshoumaru itu tidak sebesar saat dia menolongnya yang sekarat lantaran melawan anak Kuroichi, itu dari ingatan samar-samar yang dimilikinya, tapi tetap saja nyali Kagome sedikit ciut. Sesshoumaru dalam bentuk aslinya menjilat darah di 'tanda' yang dibuatnya beberapa saat lalu hingga bersih, lidahnya yang jauh lebih besar dan kasar membuat Kagome bergidik ngeri. Apa yang ditakutkan Kagome terjadi, Sesshoumaru kembali menggagahi dirinya dalam wujud aslinya.

Walau hentakan yang dibuat Sesshoumaru terasa sedikit lebih lembut dibanding sebelumnya, tetap saja itu tidak mengurangi ketakutan Kagome, karena tidak hanya ukuran tubuhnya yang berubah tetapi juga ukuran bagian tubuh Sesshoumaru yang masih menyatu dengan dirinya. Bagian tubuh Sesshoumaru yang tegang oleh pompaan darah, membuat bagian intimnya terenggang dengan sangat tidak nyaman.

Tidak mudah bagi Kagome ikut terhanyut dalam kesenangan yang dirasakan oleh pasangannya saat itu. Tetapi bulu-bulu Sesshoumaru yang sangat lembut menggelitik kulitnya, friksi yang dilakukan Sesshoumaru melembut dan menggairahkan, ditambah dengan gempuran lidah hangat di tubuhnya berhasil mengalihkan perhatian Kagome dan membawanya kembali tenggelam, jauh, dan dalam.

Kagome mengerang disela-sela isakan dan rintihannya. Lolongan liar pelepasan Sesshoumaru juga sebuah tanda bahwa ritual telah selesai memecahkan keheningan malam. Kagome kembali roboh diatas mokomoko, seluruh tulang di tubuhnya bagai meleleh, bagian intimnya terasa ngilu. Sesshoumaru mendekap Kagome di dadanya, lalu menyelimutinya dengan kimono miliknya setelah dia kembali ke wujud manusianya. sebagai jawaban, Kagome tersenyum manis sambil menatap pasangannya itu.

"Tidurlah!" seru Sesshoumaru lembut "Pasanganku" bisik Sesshoumaru.

Bagi Kagome satu kata yang diucapkan Sesshoumaru itu jauh lebih berharga daripada kata cinta yang diucapkan oleh manusia, kata itu membawa harapan baru dihidup Kagome. Kagome mengangguk, memejamkan mata, menghirup dalam-dalam bau khas Sesshoumaru yang membuatnya merasa nyaman dan aman.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk berpindah ke alam mimpi, walau Kagome ragu bila dia akan merasakan lagi mimpi indah karena apa yang dialaminya saat ini jauh melebihi semua mimpi indah yang pernah dimilikinya dan yang pernah diharapkan olehnya. Sesshoumaru mendekap Kagome sepanjang malam, ia terjaga, namun bukan lagi keindahan bulan di langit yang ditatapnya melainkan kecantikan wanita yang ada di dalam rengkuhannya. Pasangannya.

~.

Di tempat lain...

Di tengah hutan yang gelap pekat, dimana para youkai bertebaran mencari mangsa yang dapat dimakannya, Jaken bersandar di sebuah pohon besar. Kedua mata kuningnya yang sangat besar memandang awas ke segala tempat, hanya api unggun kecil yang mereduplah yang menjadi temannya.

Kengerian menjadi selimutnya malam itu, tidak ada sama sekali kenyamanan dan keamanan yang dirasakannya setiap kali dia berpisah dengan sang tuan yang sangat dihormatinya. Air mata besar tergantung di sudut-sudut mata anehnya.

"Sesshoumaru-samaaaa, dimanakah kau tuanku?" ratap Jaken yang terlupakan penuh dengan kesengsaraan.


End Notes : 80% cerita di fandom Inuyasha luar (hampir, gak semua) dihiasi yang namanya 'mark/tanda' bagi Kagome atau karakter cewe lain saat 'mating' dgn youkai atau hanyou yang jadi 'mate/pasangannya'. Itu semacam aturan gak resmi yang umum bgt dipake, walau beda-beda tp intinya sama. Youkai/hanyou itu bakalan ngegigit di lekuk leher (ala-ala vampir gitu) dengan tanda itu, gak akan ada youkai/hanyou lain yang berani ngedeketin pasangannya. Disini gw bikin sedikit beda (iya, perbedaan yang bikin hidung reader-san berkerut, gome ne sai).

Oh, satu lagi, dari yang gw baca dari Glossary of Japanese Clothing Inuyasha character di DOKUGA, kalo mengikat obi di depan itu identik dengan 'prostitute' entah bener atau nggak *shrug, karena biasanya para pria di Jepang mengikat obinya dibelakang. Tapi gw anggep aja alasan Takahashi-sensei itu utk 'kepraktisannya' Sesshoumaru-sama, dibanding alasan untuk para fangirlnya ngayal yg iya-iya XD.

Tamiino : Cara taunya Sesshoumaru emang nggak bgt, gome. Tapi itu yang kepikiran di otak jadinya... :Dv

Dedeqseokyu : Yup, dia udah mengakuinya di chapter ini Dedeqseokyu^^

Amuto : Sequel kayaknya nggak, tapi Epilognya dijamin panjang. Kalo Inuyasha yang cemburu bakalan ada di drabble SessKag nanti, di fic itu Sesshoumaru bakalan bergabung dengan Inuyasha dan semuanya untuk ngejar Naraku ke gunung Hakurei, hehehe. Makasih Amuto, iya nih udah sehat^^

Kimeka : Yosh, tambah semangat ini ngetiknya krn baca review dr semuanya. Seneng bgt denger (eh, bacanya) Kimeka ga nyesel ngikutin BHT^^

Guest : Siiip, moga gw tambah banyak waktu luang buat nulis.

Winahime : Udah kejawab di chapter ini, moga Winahime suka^^

Keno : Welcome back to the dark side dear, gausah pake sungkem juga kali. Untuk chapter ini gw mikir keras gimana caranya bikin lo muntah pelangi lagi XD lava you too^^

Guest : Yosha, and thanks^^

I accept critism in a good manners. I'd like to say, minna saiko arigatou^.~