Disclaimer : I don't own Inu Yasha!

Author's Note : Maaf reader-san, endingnya terpaksa di delay. 2 minggu ini habis utk nyelesain chapter terakhir ini, krn terlalu panjang 13k lebih, jd dibagi dua bagian. Kalo ga da halangan bagian kedua/chapter 21 dan epilog akan diposting minggu depan. Pada awalnya BHT hanya akan di publish sebagai One-Shot dengan judul Black String Of Fate di Dokuga karena saat itu FFN masih terhalang internet sehat. Dan one-shot itu adalah dua chapter terakhir ini (itupun dgn banyak bgt perubahan). So, met baca minna.


Sebuah gemuruh besar yang terdengar membuat telinga segitiga Kagome berkedut kecil, hembusan angin kencang menerpa tubuhnya. Perlahan iris biru keabu-abuan itu kembali menatap dunia. Sinar matahari berhasil menerobos awan tebal yang bergulung rendah di kaki langit, cahayanya mengintip malu-malu dari celah dedaunan menyengat mata Kagome rapuh, membuat wanita itu sepenuhnya terjaga. Penciuman Kagome mengendus bau khas yang dikenalnya, Sesshoumaru!

Dengan terburu-buru Kagome bangkit dari tanah. Gerakan yang disesalinya kemudian, seluruh tubuhnya menjerit. Pertarungan beruntun yang dilakukannya dengan ibu Sesshoumaru, Kaguya beserta pasukannya, dan Naraku membuat ia merasakan sensasi lebih dari sakit di sekujur tubuhnya. Angin yang menerpa tubuhnya tadi berasal dari aliran youki berwarna biru yang mengelilingi tubuh Sesshoumaru.

"Dia milikku" dua kata itu adalah apa yang Kagome tangkap sebelum menyaksikan kemusnahan Naraku.

Ini bukan mimpi, Sesshoumaru masih hidup.

Sosok yang dilihat Kagome membuat paru-parunya kembali terisi oleh udara, detak jantungnya yang selama beberapa jam ini seperti terhenti kembali berdegup di dalam dadanya. Mata indahnya bersinar oleh harapan, senyum manis mulai merekah di wajah cantiknya. Mengacuhkan seluruh tusukan jarum kecil di tubuhnya, Kagome bangkit berdiri. Kaki kanannya sudah melangkah, tubuhnya sudah berayun ke depan namun gerakannya terhenti. Kebahagiaan Kagome bagai curah hujan di musim panas, tidak bertahan lama. Kenyataan bagai pedang tumpul yang bergerak maju mundur menyayat hatinya secara perlahan, lebih menyakitkan dibandingkan dengan sayatan pedang tajam.

Kaki kanannya bergerak satu langkah ke belakang, disusul yang kiri. Mendengar daun kering yang terinjak, Sesshoumaru menolehkan kepalanya. Kagome terpaku di tempatnya berdiri. Mereka bertatapan. Emas hangat mentari Sesshoumaru berkobar saat berbenturan dengan langit biru senja Kagome yang diwarnai awan mendung. Kerinduan dan keraguan bergelayut di hati keduanya. Sengatan pedih terasa di hidung dan mata Kagome, pandangannya mulai memudar oleh genangan air di matanya. Kagome menggigit bibir bawahnya, dengan cepat ia membalikkan tubuh lalu berlari.

Untuk sesaat Sesshoumaru diam tak bergerak, ia memperhatikan kimono putih Kagome yang ternoda oleh darah di beberapa tempat, rambut hitamnya yang tergerai berayun saat ia berlari. Bau darah yang tercium manis, dan kimono putih dihiasi noda merah mengingatkan Sesshoumaru akan kejadian yang telah lampau. Ingatan itu masih sangat jelas di kepalanya. Kejadian yang terjadi beberapa tahun lalu, tidak lama setelah kematian sosok panutan sekaligus youkai terkuat yang ingin dikalahkannya, Inu no Taisho, sang ayah.

Sesshoumaru melangkah dengan tenang di halaman pondok kecil yang berada jauh dari pembukaan hutan dan dari rumah penduduk lainnya. Dia dapat mencium bau ibunya di dalam sana, tidak hanya itu, dia juga mencium bau darah yang berbeda, bau darah yang manis karena dialiri reiki. Ia akan dengan senang hati menyaksikan akhir hidup dari miko yang telah berani membunuh ayahnya. Selang beberapa saat bau darah ibunya tercium, tanda bahwa ia memerlukan pertolongan, serta-merta Sesshoumaru memasuki pondok itu.

Sesshoumaru melihat sosok miko memunggungi pintu masuk beberapa langkah dari tempat Dai youkai itu berdiri, haori putih yang dikenakan miko itu ternoda oleh darah yang membanjir. Kedua tangan miko itu merentangkan busur dengan mantap, mengarahkan anak panah kepada ibunya yang telah tersudut karena lesatan anak panah pertama yang diselimuti reiki telah menghancurkan tangan kanan Inukimi. Terlambat sedetik saja ia akan kehilangan ibunya.

Secepat kilat Sesshoumaru mencengkram leher sang miko dari belakang dan tanpa ragu menghujamkan cakar-cakar tajamnya yang panjang ke dalam leher miko itu. Cakar Sesshoumaru memotong tepat di nadi, tak ayal darah mengalir deras, Sesshoumaru melepaskan cengkraman tangannya di leher miko itu dengan jijik. Miko itu melepaskan busur yang digenggamnya lalu berusaha menyerang Sesshoumaru dengan reiki. Percuma, gerakan Sesshoumaru terlalu cepat, miko itu hanya berhasil merenggut sepintas rambut Sesshoumaru yang terjuntai.

Miko itu jalan dengan limbung beberapa langkah menjauhinya sebelum jatuh tertelungkup ke dalam kamarnya, rambut hitam miko itu yang panjang menutupi wajahnya. Darah membanjiri lantai di pondok itu, haori putih sang miko memerah, lebih merah pekat dibanding hakama yang dikenakan olehnya. Sesshoumaru dapat mendengar denyut jantung yang melemah, nafas yang tersendat-sendat, tanda bahwa musuhnya telah sekarat, dengan itu ia beserta ibunya pergi meninggalkan pondok itu.

Setelah semuanya jelas, kini Sesshoumaru tahu mengapa bau darah Kagome tercium berbeda di banding mahluk lainnya saat pertama kali bertemu. Selain bau darah milik Kagome mirip seperti bau darah miliknya dan sang ayah yang dihormatinya, bau darah Kagome juga sama seperti darah miko yang pernah mengotori tangannya, darah yang tercium manis karena dialiri reiki. Dua hal itulah sebab bau darah Kagome terasa familiar bagi Sesshoumaru, Dai youkai itu keluar dari lamunannya saat melihat Kagome semakin menjauh darinya.

Ia tidak tahu mengapa ia berlari saat menatap wajah Sesshoumaru, tubuhnya seakan mempunyai pikiran sendiri. Sebagian kecil hati Kagome ingin sekali mendekap kuat Sesshoumaru, namun bagian hatinya yang lain ingin segera menjauh dari Dai youkai yang ternyata kakaknya itu. Tubuh Kagome sejalan dengan hatinya yang goyah, langkahnya limbung. Kaki-kakinya belum siap untuk diajak berlari cepat, baru beberapa puluh langkah berlari Kagome tersungkur ke depan. Belum sempat kedua tangan Kagome menyentuh tanah, pundak Kagome telah ditahan oleh tangan kuat Sesshoumaru. Sang alpha memapahnya agar berdiri, kemudian kedua lengan besar Dai youkai itu melingkari tubuh Kagome.

"Sesshoumaru~" suara yang keluar dari Kagome hanya sebuah bisikan. Dari banyak hal yang ingin diungkapkannya hanya dua kata yang dapat terucap olehnya. "Maafkan aku.."ia terisak, kedua tangannya masih mencengkram kuat kimono Sesshoumaru. Dekapan Sesshoumaru bertambah erat memeluk tubuhnya.

Dia menyandarkan kepalanya di bahu Sesshoumaru, Kagome rapuh kembali merasakan kehangatan laki-laki yang sangat dicintainya. "Syukurlah, kau selamat~" Kelegaan yang tak terhingga melihat Sesshoumaru masih hidup membuat air matanya tumpah-ruah. Kagome menangis hingga terlelap di pelukan kakaknya.

~.

Lama Sesshoumaru menemani Kagome yang tak sadarkan diri akibat kelelahan yang memuncak. Matahari dan bulan sudah bergantian menampakkan wajahnya Kagome belum juga terbangun. Ia memandangi wajah Kagome yang terlihat sangat damai. Untuk sesaat bayangan Kagome yang tak bernyawa terlintas di pikirannya, dengan segera Sesshoumaru membuang pikiran itu jauh-jauh. Dalam hati ia bersyukur karena ketakutan yang menghantuinya di meido tidak terjadi, ia tidak dapat membayangkan harus kehilangan hal terbesar di dalam hidupnya yang hampir abadi.

Sesshoumaru merasa lega walau dengan itu ia terdengar jahat sebab keselamatan Kagome harus ditukar dengan nyawa ibunya. Kagome hanya mempertahankan dirinya, itulah pembelaan yang selalu dibisikkannya dalam hati. Tidak berlebihan bila dikatakan ia tidak terlalu terpengaruh atas kepergian wanita yang telah melahirkannya, lantaran telah membuat ia hidup bertahun-tahun di dalam kebohongan atas kematian sosok yang sangat ingin dilampauinya. Mengenang sosok ayahnya itu membuat Sesshoumaru berjanji pada dirinya sendiri di dalam hati bahwa dia akan melindungi peninggalan dari ayahnya yang lebih berharga dari Odachi maupun Tenseiga.

"Sesshoumaru-sama" Jaken membuka pintu geser dengan tiba-tiba sambil setengah berteriak memanggil tuannya.

Suara Jaken yang mencicit dan kehadirannya yang tiba-tiba membuyarkan pikiran Sesshoumaru. Ia menoleh untuk memberikan Jaken tatapan yang menusuk. "Katakan!" perintah Sesshoumaru dingin.

"A-a-ano, dua pemimpin klan Oda ingin menemuimu tuanku"

"Hn" Sesshoumaru bangkit dari duduknya. Tidak perlu penjelasan lebih lanjut Sesshoumaru telah mengerti, dua pemimpin klan yang bertikai atas satu wilayah ingin menghadapnya. Dengan berat hati Sesshoumaru harus meninggalkan Kagome dengan para pelayan wanita.

"Jaga dia baik-baik"

"Baik, Sesshoumaru-sama" kedua pelayan wanita yang berada diambang pintu membungkuk dalam saat Sesshoumaru melewati mereka.

Tak lama setelah kepergian Sesshoumaru, Kagome terbangun dari tidur panjangnya. Ia mengenali tempatnya berada adalah kamar yang sama yang ia tempati dengan Sesshoumaru memadu kasih, selimut berwarna krem masih menyisakan bau khas sisa peraduan cinta mereka berdua.

"Kau sudah bangun Kagome-sama. Apakah kau ingin segera diambilkan makanan atau sesuatu?" tanya dua pelayan yang bersimpuh tak jauh dari pembaringan Kagome.

"Hm" Kagome mengerjapkan matanya mengusir rasa lelah yang masih tertinggal di kelopak matanya. "Boleh aku minta air?" pintanya.

"Tentu saja nyonya" jawab kedua pelayan wanita di waktu yang sama.

Kagome bangkit dari tidurnya, "Terima kasih" ucap Kagome saat ia menerima segelas air. Gelas air itu telah kosong saat kembali ke tangan para pelayan. "Dimana Sesshoumaru?" tanya Kagome.

"Tuan sedang berada di lantai bawah untuk menemui tamu, Kagome-sama" jawab pelayan pertama tanpa menatapnya, kepala mereka terus menunduk.

"Sejak kemarin siang tuan tidak beranjak dari sisi nyonya. Kami bersyukur nyonya sudah siuman" sahut pelayan yang kedua.

Seutas senyum terpasang di wajahnya, tapi tak lama. Siuman? Benak Kagome bertanya. Tidur panjang akibat kelelahan membuatnya sedikit disorientasi. Kagome berusaha mengingat-ingat kejadian sebelum ia kehilangan kesadarannya. Saat memori pertarungan dengan ibu Sesshoumaru, Kaguya, Naraku, dan kemunculan Sesshoumaru memenuhi kepalanya. Nafasnya tercekat dan dadanya sesak. Pandangannya berkunang-kunang saat kesimpulan terpahit dari semua yang telah terjadi diraih Kagome, Sesshoumaru turut andil dalam kematian ibunya dan jiwanya kembali terpecah. Hanyou tangguh kembali menguasai drinya!

Hanyou tangguh yang telah bersatu dengan dirinya memberontak saat mengetahui bahwa Sesshoumaru adalah salah satu pembunuh ibunya. Ia mendongakkan kepalanya, menahan air mata. Kagome menatap langit-langit kamar yang hanya membawanya kepada kenangan indah disaat ia berbaring nyaman dalam dekapan Sesshoumaru tanpa ada tembok penghalang bernama hubungan sebagai kakak-adik, dan dendam lama yang memisahkan mereka. Betapa ia ingin kembali pada masa itu, masa tenang dimana ia hanyalah pasangan Sesshoumaru dan tidak ada perpecahan diri yang mencekamnya.

Kagome rapuh tahu, hanyou itu tidak akan tinggal diam. Kagome akan kembali terkurung di dalam dirinya sendiri. Hanyou itu akan kembali keluar untuk menggenapi janjinya yang terdahulu. Kematian yang menyakitkan bagi pembunuh ibunya, itulah janji yang diagungkan oleh bagian dirinya yang lain. Bagian dirinya yang hidup karena dipacu oleh dendam. Mesin pembunuh tanpa hati yang tidak akan menemukan kata henti atas apa yang dikejarnya, sebuah pembalasan dendam.

Kenyataan bahwa ibu Sesshoumaru telah terbunuh olehnya tidak akan cukup untuk menghentikan alter pendendam milik Kagome. Tidak ada kata setimpal selain kematian si pembunuh bagi hanyou di dalam dirinya. Bagian diri Kagome itulah halangan terbesarnya untuk mencapai kebahagiaan bersama Sesshoumaru. Percik pertanyaan lain muncul di otak Kagome rapuh bila ia memang dapat memaafkan seutuhnya, kebahagiaan macam apa yang akan direngkuhnya bersama Sesshoumaru? Sesshoumaru adalah kakaknya. Mereka tidak akan bisa lagi menjadi pasangan, walau hatinya meneriakan nama sang Dai youkai tetap saja nuraninya menolak.

Kagome mengambil nafas panjang, ia mengabaikan pertanyaan-pertanyaan lain dari kedua pelayan. Ia menutup mata, memikirkan jalan terbaik yang harus ditempuhnya. Kepalanya berdenyut-denyut saat kesimpulan telah terangkum, tetap tinggal di Istana Inuyama hanya akan menyakiti dirinya sendiri dan membahayakan nyawa Sesshoumaru. Hanyou penuh dendam itu setiap saat dapat keluar dan menguasai dirinya, karena itu ia harus pergi jauh. Tekadnya telah bulat, dengan sigap Kagome bangkit dari tidurnya.

"Anda mau kemana Kagome-sama?" tanya dua pelayan panik saat melihat Kagome menyambar Yoarashi yang bersandar di dinding tak jauh dari tempat tidurnya.

"Aku harus pergi" jawab Kagome sebelum melompat keluar dari jendela.

"Jangan Kagome-sama!" teriakan panik kedua pelayan menghilang saat deru angin membelai telinganya.

~.

Beberapa jam setelah kabar kepergian Kagome yang dibawa oleh Jaken, Sesshoumaru berdiri dengan gagah di balkon luar kamarnya. Siang yang cerah sangat bertolak belakang dengan kerisauannya. Kala itu awan gemawan bergelimang di birunya langit. Permata safir emas Sesshoumaru tidak memandang takzim keindahan alam yang terbentang. Pikirannya menerawang di tengah alam yang secara ganjil ikut sunyi, tidak ada bisikan angin yang menggerakkan satu helai daun pun di sekelilingnya. Penampilan luarnya tetap datar, namun di dalamnya Sesshoumaru bergolak oleh kekalutan.

"Saat seseorang menghadapi sesuatu yang sangat menakutkan untuknya dan dia menghadapi rasa takut itu, lalu menaklukan rasa takut yang dimilikinya untuk mencapai suatu titik yang hendak diraihnya, maka perasaan yang datang setelah penaklukan itu bagai perasaan yang lebih tinggi dari menaklukan dunia. Dan itu berarti, bila kau tidak mempunyai rasa takut akan apapun, kau belum pernah menaklukan dunia" Sudut-sudut alisnya berkerut, di dalam lengan haori yang dipakainya kedua tangannya terkepal kuat saat kata-kata Kagome terlintas di kepalanya. Rasa takut, benak Sesshoumaru. Kepergian Kagome membuatnya kembali merasakan ketakutan yang menghantui.

Dia, Sesshoumaru, seorang Dai youkai yang selalu memandang dirinya tinggi dan kuat sekarang merasa lemah. Lemah yang dirasakan Sesshoumaru karena kepergian Kagome telah menyerang hatinya. Ia tidak lagi merasa adidaya seperti sebelumnya. Kagome miliknya telah pergi. Seharusnya Kagome tetap berada disisinya. Ketidakadaan Kagome disisinya membuatnya gamang. Penaklukan wilayah dan menjadi Dai youkai yang disegani dan ditakuti tidak berarti apa-apa baginya bila dibandingkan dengan perasaan yang Kagome bawa untuknya. Kagome membuatnya merasa hidup. Untuk sekejap ia memejamkan mata, wajah Kagome terbayang dengan jelas di kepalanya.

Kemudian, potongan kejadian melintas di kepala Sesshoumaru. Bayangan Kagome yang menangis tersedu-sedu di pelukannya setelah ia resmi menjadi pasangan. Tangis pilu Kagome saat itu karena ia tidak menolong ibunya dengan Tenseiga. Miris. Bagaimana mungkin ia akan menolongnya saat itu bila memang cakarnyalah yang telah mencabut nyawa sang miko? Kini Kagome pergi karena membencinya setelah tabir lenyap, dan kenyataan telah terkuak. Sesshoumaru berusaha keras menolak pikiran bahwa Kagome kini membencinya namun, sekeras apapun Sesshoumaru berusaha menolak, tetap saja kenyataan itu menusuknya.

Kenyataan memang ditolaknya tapi waktu adalah musuh utamanya. Waktu yang berlalu bagai pemangsa bagi Sesshoumaru. Diluar sana apa saja bisa terjadi kepada Kagomenya. Sesshoumaru tidak ingin membayangkan hal buruk menimpa Kagome, ia tidak sanggup. Itu karena dia masih sangat menyayanginya walau mungkin Kagome tidak akan dapat lagi menerimanya sebagai pasangan seperti beberapa hari lalu. Tapi satu hal yang pasti, ia akan melindunginya sepenuh jiwa. Sebelum masa lepas dari genggaman. Bahkan bila bumi berhenti berputar, ia tidak akan melepaskan Kagome, apapun yang terjadi.

Dengan satu gerakan melompat yang anggun Sesshoumaru terbang melayang. Dengan kecepatan sedang Dai youkai itu menyisir wilayah dibawahnya, kimono dan mokomokonya melambai-lambai tertiup angin, ia memasang baik-baik mata, telinga, dan hidungnya untuk mencari jejak sekecil apapun yang ditinggalkan oleh pasangannya. Dia tidak akan berhenti sebelum menemukan Kagome. Sesshoumaru akan membawa Kagome kembali ke dalam rengkuhannya. Itu adalah janjinya. Dan seorang Sesshoumaru akan selalu memenuhi janji yang diikrarkan olehnya

~.

Melarikan diri. Ia berkelana seorang diri, dicekam rasa sunyi sepi. Sehari penuh telah terlewati semenjak kepergiannya dari Istana Inuyama, Sesshoumaru pasti sedang memburunya sekarang. Kakaknya itu tidak akan mempedulikan malam yang menjelang, Kagome yakin ia akan terus mencarinya. Ia harus terus bergerak untuk menghindari Sesshoumaru. Bila perlu ia akan berkelana selamanya untuk memisahkan diri dari Dai youkai yang menguasai hati dan pikirannya.

Kagome rapuh tengah berlari dengan kecepatan yang tidak manusiawi, hutan dilewatinya hanya sebagai bayangan hitam yang kabur. Udara malam yang dingin tidak berarti apa-apa baginya. Ranting dan dahan pohon yang menggores kulit tidak terasa olehnya. Tidak ada sakit yang melebihi sakit yang dirasakannya saat ini selain hatinya yang remuk redam. Untuk puluhan kalinya air mata kembali mendesak keluar, tapi ditahannya.

Kagome melompat, empat cakar di tangan kanannya mengayun ke sebuah pohon besar dan dalam sekejap pohon itu rubuh menghantam tanah dengan bunyi dentuman keras. Cakarnya ingin sekali mengoyak-ngoyak sesuatu yang bernyawa lalu mengambil kehidupan yang tidak akan ia sesali, tapi ia tahu ia tidak bisa melakukan itu. Karena itu, Kagome terus berlari jauh hingga kakinya melepuh oleh gesekan dengan tanah dan batang pohon disetiap langkahnya. Telapak kakinya terasa sakit setiap kali tanah dijejaknya, ketahanan kakinya pun memiliki batas, bahkan untuk dia yang setengah youkai.

Rasa sakit di sekujur tubuh diabaikannya, darah yang mengucur dari kedua kakinya diacuhkan, namun saat bulan mengisi singgasananya di puncak malam Kagome terpaksa berhenti berlari lantaran ia mengingat keadaan janin yang dikandungnya. Ia merasa begitu bodoh, Kagome membenci dirinya sendiri karena telah melupakan anugerah yang sedang tumbuh di dalam dirinya. Kagome memperlambat larinya sebelum berhenti total. Dengan enggan Kagome menepi, ia melompat ke sebuah pohon besar yang rimbun setelah memastikan dengan penciuman dan pendengarannya yang sensitif bahwa tidak ada yang mengikutinya.

Beristirahat sejenak lebih mengerikan baginya bila dibandingkan dengan terus berlari dengan darah yang mengucur dari kedua kakinya karena, dengan mengistirahatkan tubuhnya, otak Kagome akan terpaksa untuk menghadapi pikiran yang dapat membunuhnya secara perlahan. Setelah duduk nyaman di dahan terbesar, Kagome meraba perut bagian bawahnya dengan tangan kanannya.

"Maafkan aku.." ucapnya lirih.

Ia menyandarkan kepalanya di batang pohon, tangannya tidak berhenti mengelus perutnya secara perlahan. Mengingat mahluk kecil yang sedang berkembang di dalam tubuhnya itu cukup untuk menenangkan Kagome di tengah kekacauan hati yang melanda. Tapi ketenangan yang dirasakannya hanya sesaat sebelum pikiran lain yang merusak kembali menghuni kepalanya. Kagome merasa risau saat mengingat anaknya kelak tumbuh besar dalam kekacauan, ia takut anaknya juga akan diburu seperti dirinya. Sesak yang dirasakan Kagome tidak dapat dipungkiri, sesak itu berwujud air yang menerobos mata dan hidungnya. Kagome mengerjap-ngerjapkan mata, ia berusaha menahan agar tidak ada lagi air mata yang menggenang.

Salah satu tangannya terkepal kuat disisi tubuhnya. Perasaan bersalah tak dapat ditepis lagi dihatinya. Kagome merasa bersalah kepada calon buah hatinya karena ia tidak dapat menjamin masa depan yang indah, semua itu terbukti karena dia telah membawanya dalam pertempuran. Kagome telah mengenalkannya dengan kekerasan dan kesengsaraan di awal pertumbuhannya. Ia tidak ingin itu. Kelak anaknya terlahir, ia hanya ingin sang buah cinta melantunkan tawa bahagia, bukan tangis kesedihan, ia ingin malaikat kecilnya mendengar senandung lagu riang, bukannya bunyi pedang beradu dalam sebuah pertarungan. Si kecil kan diajarkannya mencinta, bukan membenci.

Masalahnya, akankah datang masa itu untuknya? Dengan semua masalah yang ada, rintangan yang menghalang, dan perpecahan jiwa yang menggerogotinya dari dalam, tujuan hidup tenang berdua dengan sang buah hati terdengar mustahil dilakukan. Harapan yang dimilikinya itu terdengar bagai menarik kapal karam kembali ke pantai. Kagome membenturkan kepala bagian belakangnya agak keras ke dahan pohon tempatnya bersandar. Dengan sengaja menimbulkan rasa sakit agar tidak lagi menjatuhkan air mata, dan itu berhasil. Nafasnya masih memburu saat ia susah payah memejamkan mata. Celakanya, bukan ketenanganlah yang diraih Kagome, melainkan memori tentang ayah dari janin yang dikandungnya.

Potongan ingatan berganti-ganti saat ia memejamkan matanya, mulai dari saat pertama ia bertemu Sesshoumaru hingga kali terakhir ia menatapnya. Punggung Sesshoumaru bergerak menjauh setelah menghidupkannya kembali dengan Tenseiga. Rambut silvernya yang panjang terayun disetiap langkahnya, pakaiannya yang terbuat dari sutra dan mokomoko di bahu kanannya bergerak anggun dipermainkan oleh angin. Ingatan Kagome beralih.

Wajah damai Sesshoumaru saat kedua matanya terpejam setelah menghadiahinya 'tanda' sebagai pasangan, wajahnya yang tampan semakin terlihat rupawan. Kala itu, tidak ada kesan dingin dan kejam seperti biasanya, hanya ada kehangatan dan kasih sayang. Kenangan berganti ke malam terakhir yang mereka miliki di istana Inuyama sebagai pasangan. Tubuh kekar Sesshoumaru berada di bawah tubuhnya, permata emas yang tajam menatapnya, rambut silver panjang terurai di sekeliling wajah -cepat Kagome memutus ingatan itu. Tapi, kenangan yang paling menyakitkan bagi Kagome adalah kata-kata Sesshoumaru saat menghadapi Naraku 'Dia milikku'.

Miliknya, tentu saja. Kagome tersenyum getir. Terpisah jauh dari Sesshoumaru membuat Kagome hampa, lebih hampa dari sebelum ia bertemu dengan kakaknya itu. Kesendirian membuatnya kembali berduka untuk hal-hal yang tidak diinginkan. Kesepian menggiringnya untuk meratapi hal-hal yang tidak dapat diperbaiki. Hanya nelangsalah yang dirasakan Kagome. Rasa sakit yang dirasakan jiwanya begitu nyata, sangat nyata hingga ia berpikir mungkin memang tidak akan ada ketentraman dalam hidupnya, mungkin memang tidak ada harapan baginya. Kagome memandang kejauhan, tebing curam yang terbentang hanya beberapa ratus meter di depannya terlihat begitu menggoda.

Seakan-akan terpanggil oleh bisikan keputus-asaan yang kuat, Kagome melompat turun dari pohon. Dengan kakinya yang lemah ia berjalan gontai mengarah ke bibir tebing diiringi oleh berbagai pemikiran yang menusuk-nusuk. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa ia akan meninggalkan Sesshoumaru seperti itu. Akankah Sesshoumaru mendendam karena perbuatannya? Apakah perasaan yang dimilikinya lebih dari saudara kepada Sesshoumaru dapat membawanya kembali utuh? Betapa banyak pertanyaan tak terjawab yang membuat Kagome semakin terpuruk lebih dalam lagi dalam kecemasan. Ia tidak tahu siapa yang harus dipersalahkan atas kesuraman hidupnya, dia tidak tahu mengapa ia yang harus mengalami semua kepahitan yang merundungnya.

Langkahnya terseret, sama seperti pikiran buruk yang semakin menyeretnya dalam kegundahan. Haruskah ia membenci kedua orang tuanya yang mengalirkan reiki dan youki bersamaan di tubuhnya yang menghasilkan Shikon? Shikon yang mereka gembar-gemborkan sebagai sebuah anugrah dan kekuatan tak terbatas hanyalah sebuah kutukan baginya. Haruskah ia membenci ramalan yang mereka katakan atau takdir yang di gubah Kami-sama?

Takdir itu telah membuat para penguasa wilayah lain selain ayahnya telah tertutup mata dan hatinya oleh ketakutan. Ketakutan mereka akan ramalan itulah yang menjadi penyebab kematian ayahnya yang berusaha melindunginya, dan takdir itu pula yang menjadi sebab ibunya terbunuh. Takdir jua yang membuatnya tenggelam di dalam tipu muslihat licik yang digunakan Naraku untuk menggerakkannya membunuh para penguasa wilayah. Intrik Naraku di dalam ketentuan takdir juga yang membuat garis hidupnya bersinggungan dengan Sesshoumaru.

Kagome tertawa pahit. Tanpa mereka sadari, mereka semua bagai ditarik untuk bergerak mengikuti garis takdir yang dipahat di atas langit oleh para Kami-sama. Mengapa takdir kejam seperti itu harus diukir di hidupnya? Takdir. Apakah itu yang namanya takdir? Takdirkah yang menjebloskannya selamanya dalam kungkungan kesengsaraan? Mengapa takdir tidak berbaik hati kepadanya? Mengapa ia tidak dapat mengecap kebahagiaan utuh seperti yang lainnya? Mungkinkah ia hanya ditakdirkan hanya untuk menjalani kekacauan di hidupnya?

Kekacauan yang terbesar ada di dalam dirinya, Kagome tahu itu. Ia telah sampai di bibir tebing yang mengarah ke jurang dalam bagai tak berdasar. Cahaya keperakan bulan yang hampir penuh lembut menerangi bumi yang dipijaknya. Angin malam yang berhembus kencang mengombang-ambingkan rambut dan kimononya. Pandangannya mulai buram oleh air mata yang menggenang. Kagome memejamkan mata, berharap dengan membohongi dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja dapat membuat hidupnya lebih baik.

Pada akhirnya, sebesar apapun ia mencoba menipu dirinya sendiri tidak akan berhasil. Kedua matanya kembali terbuka, air mata kembali jatuh dari pelupuk matanya. Kagome merasa ia tidak akan bisa terus hidup seperti yang dijalaninya sekarang, ia tidak bisa terus menghindar. Semua tidak akan menjadi lebih baik dengan keberadaannya. Dengan tetap hidup pun tidak akan membawa Kagome kepada keadaan yang diinginkan olehnya, selama hidupnya ia akan tercekam. Sesshoumaru tetap tidak akan tersentuh selama jiwanya masih terpecah. Tidak ada yang dapat menjadi penawar bagi perpecahan jiwanya. Tidak pula ia dapat menjamin masa depan yang indah bagi buah hatinya kelak.

Kagome membalikkan badannya sehingga ia memunggungi jurang. Dadanya naik turun, air mata mengalir deras. Kagome tidak ingin lagi hidup dalam kesengsaraan, tidak ingin lagi ada tangis yang mewarnai. Ia ingin terbebas dari itu semua, Kagome ingin pergi ke tempat dimana ia tidak akan lagi merasakan sakit seperti yang dideritanya saat ini. Kedua tangannya terentang disamping tubuhnya sebelum ia melemparkan dirinya kebelakang. Yang terakhir diingatnya adalah angin kencang yang menyambut tubuhnya saat terjun ke jurang.

Beberapa puluh menit kemudian Kagome membuka matanya, Yoarashi di genggamannya. Ia terbaring di tanah masih di tepi jurang yang sama disirami oleh cahaya lembut rembulan, dengan enggan ia memiringkan tubuhnya untuk bangun. Kagome duduk miring, kedua tangannya masih di atas tanah, kepalanya tertunduk lunglai. Alter ego miliknya telah mengambil alih tubuhnya saat ia mencoba bunuh diri. Bila melihat Yoarashi yang ada dalam genggamannya, alter pendendam itu pasti menggunakan ledakan youki Yoarashi agar ia terlontar kembali ke atas tebing. Hanyou pendendam itu menggagalkan usahanya. Betapa ia membenci hanyou di dalam tubuhnya. Entah untuk yang keberapa kalinya hanyou tangguh itu turut campur akan keputusan di dalam hidupnya. Alter miliknya itu menghalanginya dari kehidupan indah yang diharapkan dan juga dari kematian yang diidamkan.

"Kenapa?" suaranya tercekat di tenggorokan. "Kenapa harus aku" suara Kagome hanya setingkat di atas bisikan. Mengingat kata takdir yang terlintas membuatnya murka. Kagome menggeram marah, ia menancapkan ujung Yoarashi di tanah. "Dimana kau selama ini Kami-sama?" ucapnya dari rahang yang terkatup rapat oleh amarah.

Tangannya meraup tanah, kelima cakar tajamnya meninggalkan jejak panjang. "Mengapa KAU lakukan ini kepadaku hah?" suaranya lantang namun bergetar oleh emosi yang tak terbendung. "Apa salahku? Mengapa aku harus selalu terpisah dengan orang yang kusayangi.." suaranya merendah sebelum menghilang.

"Kau kejam" suaranya mulai pecah oleh kesedihan, Kagome bangkit berdiri dengan cepat. Seluruh tubuhnya menegang, kedua tangan terkepal disisi tubuhnya. "Apakah kau puas telah mempermainkan hidupku? Belum puaskah kau menyiksaku? Mengapa kau timpakan hidup seperti ini kepadaku?" dengan marah ia melemparkan tanah yang ada di dalam kedua genggaman tangannya ke mulut jurang yang menganga.

"JAWAB AKU KAMI-SAMA!" teriak Kagome di keheningan malam. Disana ia berdiri sendiri, hanya gema suaranya yang terdengar, dan bayanganyalah yang menemani.

Hening.

"Apakah kau mendengarku?" tubuh dan suaranya kembali roboh, Kagome terjerembab di atas tanah. "Apakah kau melihatku?" ucapnya lirih, matanya nanar menatap langit malam, ia terisak hebat. "Apakah kau ada Kami-sama?" bisik Kagome disela-sela sesenggukannya.

Dingin.

Kagome memeluk kedua lutut ke dadanya lalu membenamkan kepalanya di celah yang ada "Mengapa kau tidak menolongku?" suaranya tertelan oleh ledakan tangis yang merajai. "Mengapa?" ucapnya lirih.

~.

Kagome terbangun dari tanah tempatnya berbaring, seluruh rasa tidak nyaman ditubuhnya diacuhkan. Dinginnya malam mulai berkurang karena matahari akan muncul kurang lebih sejam lagi. Sudah tidak ada lagi bau darah di kakinya, luka lecetnya karena terlalu banyak berlari selama seharian sudah sepenuhnya sembuh. Pergelutan batinnya tadi malam tidak menghasilkan solusi selain yang telah dipilihnya. Dengan itu, Kagome memulai lagi pelariannya. Ia terus berlari berlawanan arah saat ia bersama Sesshoumaru dan Jaken menuju istana Inuyama.

Tanah berlubang dalam berwarna hitam bekas pertempurannya dengan Kyora yang mengaku sebagai dewa api masih bertebaran. Saat siang menjelang ia telah sampai di tempat ia bertemu dengan Kaguya. Beberapa puluh menit setelahnya ia berada di pembukaan hutan. Desa tempat tinggal Rin telah terlihat. Kagome terus berlari di sisi terluar desa, jauh dari pemukiman penduduk. Sialnya dia harus melewati padang bunga tempatnya dan Rin pernah bercengkrama.

Kecepatan larinya menurun, saat bau manis bunga mengingatnya pada masa ia dan Rin menghabiskan waktu yang menyenangkan. Ingatan Rin hanya membawa otak Kagome kembali berkutat pada Sesshoumaru, seketika itu pula dadanya terasa berat. Ia bersandar di pohon terdekat, berusaha menenangkan diri.

Disaat itulah suara ragu-ragu Rin terdengar olehnya. "Nee-chan?"

Kagome terbelalak, memandang Rin di sisi padang bunga yang tersembunyi dari sudut penglihatannya. Baru saja Kagome hendak pergi tapi urung, gadis kecil itu segera berlari mendekatinya. "Rin" panggil Kagome lemah.

"Kagome nee-chan, apakah kau sendiri?" tanya Rin polos, matanya mencari-cari keberadaan Sesshoumaru dan Jaken.

Pertanyaan polos Rin membuat pertahanannya runtuh. Kata 'sendiri' seakan menyayat hatinya. Kagome bersimpuh, kedua lututnya menyentuh tanah. Satu, lalu dua bulir air mata meluncur turun dari sudut matanya.

Gadis kecil itu memasang wajah heran "Mengapa kau menangis Kagome nee-chan?"

Kagome memeluk Rin kuat-kuat. Gadis kecil itu balas memeluknya tanpa bertanya apa yang menyebabkan Kagome bersedih, Rin bersedia meringankannya. Tangan kecilnya mengelus lembut punggung Kagome.

Dengan lembut Kagome melepaskan pelukan itu, kedua tangan Kagome membelai pelan bahu gadis kecil itu "Rin" panggilnya. "Aku harus pergi"

Wajah Rin jelas memancarkan keheranan "Pergi kemana Kagome nee-chan?"

"Aku tidak tahu, tapi aku harus pergi" jawab Kagome pendek. Ia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan "Satu hal yang harus kamu ketahui. Sesshoumaru sangat menyayangimu, begitupun aku Rin" air mata jatuh di pipi Kagome tanpa peringatan. Wajah Rin ikut terselimuti oleh kesedihan. "Jaga dirimu Rin" dengan cepat Kagome telah menghilang dari pandangan Rin.

"Ada apa nak?" tanya Kaede yang muncul di belakang Rin sambil membawa keranjang yang berisi berbagai macam tanaman yang dapat digunakan sebagai ramuan obat herbal.

"Kaede baa-sama.." Rin berbalik dengan wajah yang basah, air mata masih menetes jatuh ke pipi gembulnya.

"Mengapa kau menangis nak?" nadanya sangat khawatir.

"Kagome nee-chan, dia menangis dan aku.." Rin sendiri pun tidak dapat menjelaskan mengapa ia menangis hanya karena melihat Kagome menangis, apa yang ia rasakan tidak dapat dijelaskan.

"Jangan bersedih nak" Kaede menepuk-nepuk lembut bahu gadis itu.

Kaede berpikir saat ini Rin masih terlalu kecil untuk mengerti cerita tentang takdir yang akan terjadi dari leluhurnya terdahulu, mungkin suatu saat nanti Rin akan mengerti garis takdir yang dilihatnya pada Kagome dan Sesshoumaru sejak keduanya datang bersamaan mengunjungi Rin. Ramalan yang selama ini dipercayai turun-temurun oleh leluhurnya kemungkinan besar akan segera terjadi, para youkai penguasa wilayah yang berguguran hanyalah salah satu dari tanda-tanda yang telah terlihat.

"Perubahan ke arah lebih baik harus terjadi Rin, dan Kagome adalah bagian dari perubahan besar itu"

"Perubahan?"

Kaede mengangguk "Yakinlah bahwa ia akan menemukan kebahagiaan yang sejati"

Rin menghapus air mata dengan punggung tangannya, "Hm" ia mengangguk lalu memaksakan diri tersenyum kepada miko baik hati yang dengan ikhlas merawatnya, walau detak jantung Rin yang berdebar tak beraturan menandakan firasat buruk yang sama persis seperti malam saat ia akan kehilangan seluruh keluarganya.

Rin hanya terdiam saat mereka menyusuri jalan setapak mengarah ke pondok kecil tempat tinggal mereka. Sekali lagi Rin menoleh ke arah hutan, hatinya sangat berharap bahwa firasat yang dirasakannya itu salah. Ia berdoa dalam hati semoga Sesshoumaru-sama, Kagome, dan Jaken akan selalu dalam keadaan baik seperti dirinya.

~.

Siang telah menjelang senja di hari kedua pelariannya, angin kencang yang berhembus membawa bau khas Sesshoumaru ke hidungnya. Sangat samar, tapi Kagome yakin bahwa ia tidak mungkin salah. Oleh karena itu, Kagome terus berlari. Otot-otot di seluruh tubuhnya berteriak protes saat ia memacu kakinya kebatas maksimal. Langkah kaki Kagome tidak lagi panjang, saat bau asap, keringat, darah dan daging yang terbakar menusuk indra penciumannya. Bau itu berasal jauh di belakangnya. Kemungkinan besar terjadi pembantaian di desa kedua setelah desa tempat tinggal Rin yang ia lewati beberapa puluh menit lalu. Ingin sekali Kagome tak perduli dan tetap berlari tetapi, nuraninya menjerit-jerit saat dia mendengar tangis anak kecil yang berteriak memanggil-manggil ibunya.

Dia menggeram, cakarnya merobek kulit pohon dihadapannya. Kagome rapuh mendengus kesal sebelum berbalik arah, ia berlari cepat. Dengan satu kali hentakan dia mengambang di udara, angin kencang yang menerpanya membawa bau kematian yang lebih pekat. Kagome menutup hidungnya dengan lengan kimononya yang panjang. Bau itu membuatnya amat muak, disaat seperti inilah Kagome berharap ia mempunyai hidung manusia yang tidak sensitif.

Desa penuh kedamaian yang belum lama dilewatinya itu kini luluh lantah. Hanya beberapa rumah yang masih berdiri, itupun hanya menunggu giliran untuk rata dengan tanah karena terlahap oleh api yang mengganas. Tangisan anak kecil itu semakin terdengar kencang. Tangis memilukan anak kecil itu berhasil membawa Kagome kepada pengalaman pahit yang ingin sekali dia lupakan. Langkahnya mantap saat menuju rumah asal suara tangis. Dengan cepat dia memasuki pondok kecil itu, seorang anak kecil bersembunyi di bawah sebuah meja yang terletak di pojok rumah.

"Okaa-san.." anak kecil itu terbatuk, merintih di sela-sela tangisannya "Kaa-san.." rengeknya.

Kagome menghampirinya dengan cepat menggendongnya keluar dari gubuk itu tepat sesaat sebelum bangunan itu ambruk. Anak perempuan kecil yang kemungkinan besar berusia lima tahun itu meringkuk di dalam dekapannya. Anehnya anak itu tidak menampakan sama sekali ketakutannya kepada Kagome, dia tersenyum kecil walaupun wajahnya masih basah oleh air mata, debu, dan kotoran. Kagome balas tersenyum sebelum ia kembali memasang mata awas untuk menyisir jalanan desa mencari manusia yang masih hidup. Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan, sebagian bertumpuk di satu sudut bagaikan onggokan daun di musim gugur.

Kagome mencium bau manusia yang masih hidup di belakang sebuah pohon besar tak jauh dari belakangnya, dia menoleh dan memergoki seorang manusia dewasa yang tersisa dari pembantaian besar-besaran itu. Manusia itu merasa kaget dan ketakutan karena Kagome melihatnya, dengan segera dia berbalik dan mencoba berlari menjauh. Tetapi sebelum sempat dia melangkahkan kakinya untuk berlari, dalam sekejap Kagome sudah berada di hadapannya.

Laki-laki itu terlonjak, matanya membesar, mulutnya menganga lebar, ia jatuh kebelakang. Bokongnya menghantam tanah dengan keras, ia duduk diatas dedaunan busuk yang baunya lebih baik dari bau tubuhnya itu sendiri. Wajah yang memancarkan ketakutan yang teramat sangat berubah menjadi keterkejutan saat Kagome mendekatinya hanya untuk menyerahkan gadis kecil itu ke pangkuannya.

"Jaga dia dengan nyawamu, kalau tidak..." satu tangan Kagome terangkat memperlihatkan cakar-cakar tajam yang menjanjikan kematian.

Ia mengangguk dengan kikuk "Ba-ba-baik, aku berjanji akan menjaganya dan merawatnya dengan baik"

Kagome mengangguk kecil sebelum beranjak pergi, dengan satu hentakan ia telah menghilang lebih cepat dari kedipan mata.

~.

Sesshoumaru memejamkan mata sesaat mengendus bau Kagome yang samar-samar terhanyut oleh desir angin, sebentar lagi dia akan bertemu dengannya. Seulas senyum terpasang untuk dua detik lamanya di wajah Sesshoumaru yang jarang tersentuh oleh ekspresi. Dai youkai bersurai silver itu berjalan dengan keanggunan seperti biasa, alisnya berkerut saat bau tidak menyenangkan menyeruak ke hidungnya. Bau dari tempat yang dia jauhi, pemukiman manusia. Tempat itulah asal bau Kagome yang tercium, bercampur dengan pekat asap, keringat, dan darah yang diendusnya.

Tak lama segerombolan perampok datang dari arah selatan desa itu, beberapa dari mereka memperhatikan Sesshoumaru dengan pandangan mencemooh. Sesshoumaru hanya butuh sekilas pandang meneliti para perampok itu, tak diragukan lagi, merekalah yang telah menyebabkan hidungnya terganggu oleh bau darah dan kematian manusia yang tidak mengenakan itu. Bau amis darah tercium dari senjata mereka, mereka memacu cepat kudanya mendekati Sesshoumaru beriringan dengan tawa kasar yang keluar dari mulut mereka.

Bagi Sesshomaru para perampok adalah mahluk menjijikkan yang merasa bisa bertingkah seenaknya terhadap sesamanya yang lebih lemah. Manusia seperti merekalah yang menyebabkan Rin kehilangan keluarganya. Para mahluk rendahan yang tidak lebih baik dari hewan pengerat itu tidak akan ia beri kesempatan untuk membuat pembantaian lagi dimanapun mereka singgah. Gerombolan perampok berkuda itu berdiri dihadapannya, menertawakan lelucon tentang baju sutra milik Sesshoumaru yang akan dengan segera beralih menjadi milik mereka.

Sesshoumaru sama sekali tidak terpengaruh oleh ocehan mereka. Sesshoumaru mengangkat tangannya dengan anggun, dengan segera cambuk hijau beracun keluar dari ujung kedua jarinya. Dengan satu ayunan, cambuk beracun itu merobohkan baris terdepan gerombolan perampok itu. Barisan dibelakangnya amat sangat terkejut dan memutuskan untuk segera melarikan diri, gerombolan perampok yang mencoba untuk melarikan diri itu tidak sempat berpikir bahwa usaha yang mereka lakukan sia-sia karena nyawa mereka telah jauh meninggalkan tubuh saat cambuk beracun dari Dai youkai itu melesat cepat.

Perampok terakhir telah tumbang saat Sesshoumaru mencium bau yang tak asing bergerak mendekatinya. Bau khas Kagome yang berpadu seperti bau manis madu dan dedaunan itu mengirimkan memori ke otaknya akan kenangan indah yang telah mereka lalui bersama. Dari jauh Sesshoumaru bisa melihatnya berdiri diantara puing-puing rumah yang terbakar, cahaya api menerangi wajahnya yang cantik. Mata Sesshoumaru memicing saat dia mencium berbagai macam emosi yang menaungi Kagome. Diantara semua emosi, bau kesedihanlah yang paling kuat tercium dari pasangannya.

~.

Kagome kembali menyusuri desa itu lagi untuk memastikan tidak ada lagi anak yang terjebak di dalam pondok, ia berjalan diantara api yang membakar semua bangunan disekelilingnya. Sepanjang jalan kecil yang dilalui oleh Kagome, wanita, laki-laki, tua atau muda tergeletak tak bernyawa. Sekarang mereka tidak lebih dari onggokan daging yang akan membusuk. Dari penglihatannya Kagome tahu mereka terbunuh oleh senjata manusia, kemungkinan besar oleh para perampok.

Tetapi, selain perampok, di kejauhan Kagome masih bisa mencium daging terbakar oleh racun dari Dai youkai yang sedang memburunya, Sesshoumaru! Bau Sesshoumaru dekat, amat sangat dekat. Jantungnya seakan hendak melonjak keluar dari dadanya saat bau Sesshoumaru sudah tercium semakin jelas. Kagome bisa mencium bau Sesshoumaru yang dirindukannya, baunya yang seperti kayu-kayuan, matahari yang hangat, hutan yang segar dan bau maskulinnya yang khas. Walaupun jarak mereka masih terpisah ratusan meter, telinga Kagome bisa mendengar gesekan hakamanya yang terbuat dari sutra saat melangkah.

Dadanya bergolak oleh berbagai perasaan saat ia menyadari tak lama lagi dia akan bertemu dengan pasangannya, kakaknya, dan juga musuhnya. Kagome berjalan kearah utara desa itu, tempat bau daging manusia yang terbakar oleh racun Sesshoumaru berasal. Samar-samar sosok Sesshoumaru mulai jelas terlihat. Sosok dingin, arogan, tampan sekaligus mematikan. Kagome terpaku di tempatnya berdiri. Wajah Sesshoumaru terlihat seperti biasanya, datar, tidak berekspresi, wajah yang menghantuinya di dalam setiap detik yang berlalu semenjak kepergiannya.

Sesshoumaru berdiri dengan elegan diantara tubuh perompak yang tergeletak, layaknya aristokrat yang memiliki jiwa assasin sejati. Kagome tahu bahwa ia tidak bisa terus berlari menjauh dari Sesshoumaru, dia tidak akan pernah bisa lari dari dirinya sendiri. Pelarian yang dilakukannya hanyalah membodohi dirinya sendiri. Inilah waktu bagi Kagome untuk menghadapi pasangannya, tidak ada lari lagi dari takdir. Ia harus menghadapi Sesshoumaru dan menyelesaikan semuanya.

Hati Kagome tidak sejalan dengan logikanya, walau ia tahu bahwa ia tidak bisa lagi menjadi pasangan Sesshoumaru, disaat yang sama Kagome ingin sekali berteriak bahwa ia sangat mencintai dan menginginkan Sesshoumaru. Dua keinginan Kagome yang saling bertolak belakang itu bagai menggenggam hunusan pedang lawan dengan telapak tangan, dua pilihan yang sama menyakitkan. Bila pedang itu dilepas, tubuhnya kan terhujam, namun bila pedang itu terus digenggam bilah tajam itu kan memotong tangannya. Kedua pilihan itu sama-sama akan menyakitinya.

Kedua pasang mata yang bertatapan lekat berkilat oleh kerinduan. Langit senja yang memerah semakin bercorak dengan cahaya api sebagai latar belakang pertemuan kedua insan yang saling mencinta. Dai youkai dan sang hanyou dipertemukan oleh bintang, diikat oleh benang hitam takdir kehidupan. Kedua hati telah terpaut oleh gairah cinta, tidak ada rasa cinta sebagai kakak-beradik. Mereka terkungkung erat dalam hubungan terlarang. Mimpi-mimpi yang mereka miliki berbenturan dengan dunia yang kelam, cinta yang mereka miliki untuk satu sama lain bertabrakan dengan dendam yang akan membunuh secara perlahan.

Kagome menguatkan hati dan tekad, namun ketakutan itu masih membelenggunya dengan keji. Ketakutan terbesarnya semakin nyata di depan mata. Hanyou di dalam tubuhnya menjadi semakin kuat, dia bahkan hampir bisa mendengarnya tertawa saat ini. Alter pendendam miliknya itu terpicu oleh keberadaan Sesshoumaru yang bersangkutan dengan dendam lama yang merusak. Kebimbangan yang sangat membuat Kagome ingin sekali menghilang di telan bumi ketika langkah Sesshoumaru terus memperkecil jarak diantara mereka.

Kagome rapuh dapat melihat dirinya sendiri berlari lalu memeluk Sesshoumaru, setelah Sesshoumaru berada di dalam pelukannya, hanyou tangguh itu mengambil alih. Dengan bengis hanyou itu menghunuskan Yoarashi ke punggung Sesshoumaru hingga ujung bilah menembus ke dadanya. Hanya tatapan kaget yang terpancar dari Sesshoumaru, mulutnya mengeluarkan darah segar, darah itu turun membasahi kimono putihnya yang indah. Kagome menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha membuang bayang kelam yang baru saja terlintas.

Kagome mundur selangkah, dua langkah, ia berlari. Kagome terus berlari cepat tanpa menoleh untuk menjauhi Sesshoumaru. Detik demi detik berlalu, detak jantungnya bertalu-talu semakin lantang seiring langkahnya menghentak tanah. Kagome telah sampai di wilayah hutan bambu yang luas, jauh dari desa yang tadi, ia tidak memperlambat larinya walau tidak ada suara di belakangnya. Namun, dengan mudah Sesshoumaru menyusul lalu menghadang jalannya.

"Kau tidak bisa lari lagi dariku Kagome" suara Sesshoumaru penuh percaya diri.


End Notes : Terima kasih untuk semua fav, follow dan review yang udah masuk. Baca pikiran kalian beneran bikin gw seneng, arigatou gozaimashita. Untuk semua request pairing, SessKag, InupapaKag, dan KakaKag emang pengen ditulis di fic-fic nanti setelah BHT. Untuk Time Strikes mungkin bakalan bikin Sequel walau bukan MC, itupun kalo author yg gw ajak kolaborasi siap diganggu dan gw siap ngemaso;)

I accept critism in good manners. For all reader i'd like to say, minna saiko arigato^^