Disclaimer : I don't own Inu Yasha!

A/N : Maaf krn terlambat update, ternyata mengakhiri itu lebih sulit daripada memulai. Banyak kendala utk ngerjain ending ini, kendala terbesar adalah alam bawah sadar gw yg blm mau berpisah dgn BHT_mungkin.


Previously

Kedua pasang mata yang bertatapan lekat, berkilat oleh kerinduan. Langit senja yang memerah semakin bercorak dengan cahaya api sebagai latar belakang pertemuan kedua insan yang saling mencinta. Dai youkai dan sang hanyou dipertemukan oleh bintang, diikat oleh benang hitam takdir kehidupan. Kedua hati telah terpaut oleh gairah cinta, tidak ada rasa cinta sebagai kakak-beradik. Mereka terkungkung erat dalam hubungan terlarang. Mimpi-mimpi yang mereka miliki berbenturan dengan dunia yang kelam, cinta yang mereka miliki untuk satu sama lain bertabrakan dengan dendam yang akan membunuh secara perlahan.

Kagome menguatkan hati dan tekad, namun ketakutan itu masih membelenggunya dengan keji. Ketakutan terbesarnya semakin nyata di depan mata. Hanyou di dalam tubuhnya menjadi semakin kuat, dia bahkan hampir bisa mendengarnya tertawa saat ini. Alter pendendam miliknya itu terpicu oleh keberadaan Sesshoumaru yang menjadi perlambang dari dendam lama yang merusak. Kebimbangan yang sangat membuat Kagome ingin sekali menghilang di telan bumi ketika langkah Sesshoumaru terus memperkecil jarak diantara mereka.

Kagome rapuh dapat melihat dirinya sendiri berlari lalu memeluk Sesshoumaru, setelah Sesshoumaru berada di dalam pelukannya, hanyou tangguh itu mengambil alih. Dengan bengis hanyou itu menghunuskan Yoarashi ke punggung Sesshoumaru hingga ujung bilah menembus ke dadanya. Hanya tatapan kaget yang terpancar dari Sesshoumaru, mulutnya mengeluarkan darah segar, darah itu turun membasahi kimono putihnya yang indah. Kagome menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha membuang bayang kelam yang baru saja terlintas.

Kagome mundur selangkah, dua langkah, ia berlari. Kagome terus berlari cepat tanpa menoleh untuk menjauhi Sesshoumaru. Detik demi detik berlalu, detak jantungnya bertalu-talu semakin lantang seiring langkahnya menghentak tanah. Kagome telah sampai di wilayah hutan bambu yang luas, jauh dari desa yang tadi, ia tidak memperlambat larinya walau tidak ada suara di belakangnya. Namun, dengan mudah Sesshoumaru menyusul lalu menghadang jalannya.


"Kau tidak bisa lari lagi dariku Kagome" suara Sesshoumaru penuh percaya diri.

Sikap tubuh Kagome terlihat kaku, dadanya masih naik turun dengan cepat karena berlari. Tubuh Sesshoumaru yang jauh lebih besar menghadangnya, Kagome menolak memandangnya. "Aku tidak lari darimu" jawabnya pendek.

"Kau sebut apa dua hari ini?" tanyanya dengan dingin.

"Aku..." suara Kagome menghilang, sudut-sudut bibirnya tertekuk kebawah.

"Kembalilah bersamaku" ajaknya lembut.

Tawaran yang diucapkan Sesshoumaru tidak dapat dipercayainya, Kagome mendongak untuk menatap sang Dai youkai. "Mengapa? Apakah kau tidak tahu apa yang telah kulakukan Sesshoumaru?" susah payah ia menelan ludah "Aku telah..." Kagome ragu-ragu tuk melanjutkan "Aku telah membunuh ibumu"

Sesshoumaru berkata dengan tenang "Yang kau lakukan hanyalah mempertahankan dirimu sendiri"

Kagome menatap Sesshoumaru dengan tidak percaya "Akulah yang menyerangnya lebih dulu, kau tidak bisa begitu saja memaafkanku"

Sesshoumaru menangkap maksud Kagome "Kau tidak ingin kembali?"

Kagome tidak tahan lagi menatap Sesshoumaru, karena itu ia memalingkan wajahnya "Aku tidak bisa, Sesshoumaru" ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan "Sebesar apapun keinginanku, aku tidak bisa merubah siapa dan apa aku ini" ia menunduk, kedua mata Kagome tertutup oleh poni, suaranya bergetar saat melanjutkan "Aku tidak bisa bersamamu. Kita adalah kakak-adik" kata-katanya menusuk.

"Kagome, apakah kau pikir aku tidak mengerti?" Dai youkai itu mendekat, dengan jarinya ia mengangkat wajah Kagome untuk memandangnya. "Aku mengerti itu, tapi Sesshoumaru ini memutuskan untuk tidak peduli" safir emas itu menunjukkan kesungguhannya.

Tatapan Sesshoumaru itu seakan menembus inti jiwa Kagome, menghangatkan kembali hatinya yang telah membeku. Setiap menatap mata Sesshoumaru, perasaan yang dimiliki untuk kakaknya itu menjadi bertambah kuat. Kagome sendiri menginginkannya sebagai pasangan tapi sebagian jiwanya terantai oleh kemurnian reiki, ia tidak bisa.

"Tapi aku peduli" ucap Kagome berusaha terdengar ketus tapi gagal.

"Kau tidak menginginkan Sesshoumaru ini?" tanya Sesshoumaru dengan tenang.

"Aku menginginkanmu" tukas Kagome cepat "Dengan segenap hatiku. Tapi, aku tidak bisa..." ia menunduk.

Hening yang menyiksa.

"Tidak ada yang menghalangimu untuk bersamaku"

"Kau salah" Kagome menggelengkan kepalanya "Banyak penghalang yang merintangi jalan kita tuk bersama. Dan penghalang terbesar adalah diriku sendiri"

"Apakah karena apa yang telah kuperbuat?"

"Itu hanya salah satunya" suaranya seakan tercekat. Luka-luka yang didapat Kagome dari pertarungan dua hari yang lalu telah sembuh total tetapi dadanya masih terasa sangat sakit. "Apa yang telah kau lakukan di masa lampau hanya memicu bagian diriku yang lain untuk kembali bangkit" Kagome masih memalingkan wajah, ia memejamkan kedua matanya. Tangis terurai dari kedua mata indahnya yang terpejam. Kagome semakin menunduk dalam agar Sesshoumaru tidak melihatnya menangis.

Samar-samar Sesshoumaru dapat mencium bau asin air mata. "Kagome" panggil Sesshoumaru.

Hanya isakan kecil tertahan yang menjadi jawaban Kagome. Tangan Sesshoumaru terjulur, ia menangkup pipi kanan Kagome. Ibu jarinya bergerak lembut menghapus air mata yang membasahi sisi wajah sang adik. Tidak ada kata yang terucap dari Sesshoumaru, tapi perbuatannya lebih dari cukup menegaskan apa yang telah diutarakannya. Sesshoumaru menolak kenyataan yang baru-baru ini diketahuinya. Tidak peduli Kagome telah membunuh ibunya, dan ia tidak akan peduli bahwa Kagome adalah adiknya. Bagi Sesshoumaru, Kagome tetaplah pasangannya.

"Kau seharusnya marah kepadaku, kau seharusnya membenciku..." suaranya berat oleh kesedihan. Mendapat perlakuan lembut dari Sesshoumaru membuat tangis lain hendak meledak dari Kagome, bibirnya bergetar, matanya terpejam semakin kuat.

"Lihat aku" nada Sesshoumaru memerintah, Kagome tetap diam menunduk.

Merasa diacuhkan, tangan Sesshoumaru sedikit menuntun dengan mendesak agar wajah Kagome menghadapnya. Kini, Sesshoumaru dapat melihat wajah Kagome dengan jelas sekarang. Kornea indah itu terhalang oleh kelopak mata yang dibingkai bulu mata hitam yang panjang melengkung, mata Kagome masih terpejam kuat. Bulir-bulir kesedihan tidak henti mengalir dari kedua sudut matanya. Wajah cantik yang dipandang Sesshoumaru kini berhiaskan tetes-tetes kemurungan, tidak ada kedamaian yang tergurat disana, tidak pula rona merah kebahagiaan seperti sebelumnya.

Apa yang dilihatnya menusuk hati, wajah Sesshoumaru mengeras. Ia merasa marah, ingin sekali ia mencuri kekalutan yang mengisi jiwa pasangannya sekarang. Dengan mudah Sesshoumaru menarik Kagome dan membenamkannya dalam pelukan yang hangat dan mendesak. Lengan besarnya memenjarakan Kagome, rengkuhan Sesshoumaru erat, sangat kuat. Sesshoumaru menyandarkan pipinya di puncak kepala Kagome.

Kedua tangan Kagome terkulai disisi tubuhnya, walau ia ingin sekali membalas pelukan Sesshoumaru tapi ia menolak. "Kumohon..." pintanya.

"Yang terburuk telah berlalu" suara Sesshoumaru menenangkan.

Tangis Kagome semakin menjadi-jadi, tubuhnya berguncang hebat. Ia menggeleng kecil "Tidak, kau salah Sesshoumaru" Yang terburuk baru akan menghadang.

Tangan Kagome bergerak, ia merenggut kimono di bagian punggung Sesshoumaru. Kagome meronta dengan tenaga yang tersisa, sangat lemah. Mulutnya terbuka, ia tercekik oleh tangis yang susah payah ditahannya. "Kumohon, lepaskan aku~" suaranya lirih. Sesshoumaru~

"Tidakkah kau ingin bersamaku?"

Kagome menyandarkan kepalanya di dada Sesshoumaru yang hangat. "Kau akan berada dalam bahaya bila bersamaku" lara hati membuat kata-kata Kagome berat terucap.

"Tidak ada bahaya yang akan memisahkanku darimu" Rengkuhan Sesshoumaru semakin kuat, "Sesshoumaru ini tidak akan pernah melepaskanmu, itulah janjiku"

Kagome rapuh menggeleng "Kau tidak mengerti..." ia menarik nafas panjang, cara apapun yang dilakukannya untuk membendung kesedihan terasa percuma.

Kata-kata Kagome meluncur cepat dengan panik "Dia sangat membencimu, dia tidak akan memaafkanmu atas kematian ibuku, dia akan berusaha membunuhmu. Kematianmu adalah satu-satunya hal yang diinginkan olehnya, dia tidak akan menghilang dari diriku sebelum itu terwujud. Sekuat apapun aku berusaha membunuhnya, sia-sia. Aku tidak lagi dapat menahannya, dia akan kembali menguasai tubuhku"

Sesshoumaru mengendurkan dekapannya, lalu menarik diri untuk memandang kekasihnya "Dia?" kedua sudut alis Sesshoumaru sedikit bergeser ke tengah.

Kagome menggigit bibir bawahnya, ia menarik nafas berkali-kali sebelum berkata "Jiwaku telah terpecah. Dia, adalah bagian dari diriku" suara Kagome terdengar putus asa.

Betapapun besarnya Kagome berharap masa lalu miliknya itu tidak merajah hidupnya, sebesar itulah kekecewaan akan menghampirinya. Kematian ibunya yang menjadi bagian dari masa lalu akan selalu menjadi bayangan hitam panjang yang menghantui setiap langkah di hidupnya. Sepanjang hidupnya ia akan tetap tenggelam di dalam pergulatan kedua sisi dirinya yang telah dan akan selalu terpecah. Dia tahu hanyou tangguh di dalam dirinya setiap saat siap meledak keluar untuk mengambil alih tubuhnya dan berusaha membunuh Sesshoumaru.

Sesshoumaru tidak sepenuhnya paham dengan siapa yang dimaksud Kagome dengan 'Dia, bagian dirinya' tapi ia tetap mencoba menenangkan pasangannya. Sesshoumaru tidak tahan menatap mata indah yang kini tergenang oleh air mata, ia ingin menghapus kesedihan itu. Kedua tangan Sesshoumaru menangkup wajah cantik itu, ia menyandarkan keningnya di kening Kagome.

"Kau akan aman bersamaku" janjinya.

Kagome menggenggam kedua pergelangan tangan Sesshoumaru, ia berusaha menarik tangan Dai youkai bersurai silver itu dari wajahnya, lagi-lagi percuma. "Aku tidak akan pernah aman dari diriku sendiri selama aku berada di dekatmu, aku hanya akan menempatkanmu dalam bahaya bila berada disisiku" bisik Kagome lirih.

"Tidakkah kau mempercayaiku?" Penguasa wilayah itu melepaskan tangannya dari wajah adiknya. "Sesshoumaru ini akan selalu melindungimu Kagome" suara Sesshoumaru yang penuh percaya diri membuat Kagome membisu.

Kagome terpaku saat menatap wajah elok yang ada di hadapannya, wajah yang selalu berhasil menghipnotis dirinya. Wajah Sesshoumaru mendekat, dan semakin mendekat. Bibir Sesshoumaru yang hangat menyentuh bibirnya, disaat itulah Kagome terbelalak. Bibirnya masih tetap hangat dan lembut, rasa khas Sesshoumaru masih sama seperti yang diingatnya. Walau itu adalah salah satu yang dirindukannya dari Sesshoumaru, tapi hati kecilnya menolak. Kagome rapuh mendorong tubuh besar Sesshoumaru, tapi sia-sia, ia tetap terjebak oleh lengan Sesshoumaru yang entah sejak kapan melilit tubuhnya lagi.

Kagome menunduk, tidak berani memandang wajah orang yang dicintainya sepenuh hati. "Tidak, aku tidak bisa" Kagome berhasil melepaskan diri dari ciuman itu. "Kita tidak bisa bersama lagi. Kumohon, lepaskan aku~" rintih Kagome diantara tangisnya yang kembali berderai. Sesungguhnya, Kagome sendiripun sangat tersiksa dengan penolakannya. Tapi sudut-sudut hatinya yang disinari cahaya kemurnian reiki menolak keras keinginannya.

Dai youkai itu melepaskan dekapannya "Kau adalah pasanganku Kagome" suara Sesshoumaru terdengar dingin.

"Dan kau juga kakakku Sesshoumaru" berkali-kali Kagome menarik dan menghela nafas panjang untuk menenangkan diri dan menguatkan hati sebelum kembali menatap mata Sesshoumaru.

Kedua permata yang menjadi jendela hati bertemu, "Kau ingin mengabaikan tanda yang telah kutorehkan padamu?" tatapan Sesshoumaru sarat makna saat bertanya.

Kagome menatap lurus kepada sosok yang menjanjikannya surga dan neraka secara bersamaan. Ia menahan agar suaranya tidak bergetar saat berucap "Tidak, aku tidak akan pernah dapat mengabaikannya". Ia menggigit bibirnya, mencegah sengatan terasa di matanya. "Tapi kau juga tidak bisa mengacuhkan darah yang sama mengalir di dalam tubuh kita" ucapnya lemah.

Sesshoumaru menatap lekat Kagome, menyadari kebenaran yang dilontarkan Kagome, ia tidak berkata sepatah katapun.

Kagome mengambil kesempatan itu untuk berbicara "Dengan bersamamu hanya akan menyiksa diriku dengan harapan. Jadi, biarkan aku pergi, kumohon" nada suaranya putus asa. "Aku berjanji, aku akan menjaganya dengan nyawaku bila itu yang kau khawatirkan" Kagome meletakkan kedua tangannya di perut saat mengatakan kalimat terakhir.

Pandangan Sesshoumaru mengikuti tempat kedua tangan Kagome bersemayam "Kagome" sejenak ia menimbang-nimbang. "Dia sudah tidak ada" ucap Sesshoumaru, entah bagaimana suaranya yang datar terdengar penuh kesengsaraan di telinga Kagome.

Kagome terkesiap, ia menunduk menatap perutnya. "Itu tidak mungkin" salah satu alasannya untuk tetap bertahan telah menghilang. "Tidak mungkin" ia menggeleng kecil, dadanya naik turun dengan cepat. "Katakan itu bohong!" ia mengangkat kepala, tatapannya menghujam Sesshoumaru.

Beberapa lama waktu bergulir, tanpa suara, wajah serius Sesshoumaru menyatakan kebenaran atas apa yang dikatakannya. Kedua mata Kagome tertutup rapat, bibir Kagome tertarik menjadi satu garis lurus, tak lama sudut-sudut bibirnya tertarik kebawah, alisnya bertemu di tengah, perlambang rasa sakit yang amat sangat sedang menghantamnya. Kristal kesedihan dari mata yang tertutup erat, kini membanjiri pipinya.

Kagome memeluk perutnya, tubuhnya membungkuk lalu bergetar hebat oleh kesedihan "Itu bohong, itu bohong, bohong, BOHONG!" suaranya semakin meninggi sebelum hilang, Kagome sesenggukan. "Katakan itu bohong, kumohon~" rintihnya dengan suara parau yang menyayat hati. Tubuhnya yang membungkuk semakin dalam, bergetar dan berguncang setiap kali ia menarik nafas. "Ka-kau mencoba menipuku Sesshoumaru" kata-katanya tersendat oleh tangis yang menyeruak, " kau menipu~ku"

"Kagome..."

Kagome rapuh tidak dapat menolak saat sebuah kekuatan menariknya dari tubuhnya sendiri. Perasaan kecewa dan marah yang disebabkan kehilangan janin yang dikandungnya tidak tertahankan bagi Kagome, amarah yang menyelubungi Kagome rapuh tidak dapat dikeluarkan olehnya sehingga membuat celah untuk hanyou tangguh menguasai tubuhnya.

Kedua tangan Sesshoumaru meraih pundak Kagome, kemudian mengelusnya perlahan "Aku tidak menipumu" suara Sesshoumaru setenang biasanya.

Untuk beberapa detik Kagome terdiam, sebelum ia mengangkat wajahnya dan berteriak lantang di depan wajah Sesshoumaru "KAU MENIPUKU BRENGSEK!"

Hanyou itu menghempaskan tangan Sesshoumaru dengan kasar dari pundaknya. Dengan cepat Kagome sudah bangkit, berdiri tegap kemudian melompat mundur beberapa langkah kebelakang. Mata bulat miliknya menatap sekeliling dengan awas, posisi tubuhnya telah siap bertarung.

"Aku tidak akan termakan oleh sandiwaramu lagi kali ini, bajingan!"

Walau raut wajahnya tetap datar, Sesshoumaru amat terkejut dengan perubahan sikap Kagome yang drastis, tubuh Kagome tegap, dagunya terangkat, taring muncul oleh seringaian, kedua manik matanya berkilat-kilat. Tidak ada kesedihan sama sekali yang terpancar. Dan yang paling mencuri perhatian Sesshoumaru adalah perubahan suara Kagome yang tidak lagi lembut, tapi lantang dan memancarkan kekuatan.

"Apakah kau juga mengincar Shikon yang mungkin ada di dalam tubuhku?" ledeknya.

"Sesshoumaru ini tidak membutuhkan hal semacam Shikon"

"Sesshoumaru ini, Sesshoumaru ini, cih! Kau tidak berbeda dengan yang lain, penuh tipu muslihat" sang hanyou memberikan tatapan menantang.

"Kagome" panggil Sesshoumaru.

"Jangan panggil aku dengan nama itu!" bentaknya, ia bergerak mundur beberapa langkah. "Aku bukan dia! Kau dengar itu!?" kedua tangannya terkepal sangat kuat hingga darah menetes dari telapak tangannya "Kau tidak tahu betapa aku amat membencinya sekarang, aku menyesal pernah bersatu dengan dirinya. Karena dirimu, ia berusaha membunuhku. Ia adalah penghalang untuk memenuhi janjiku pada ibu" ucap hanyou tangguh itu dengan rahang yang terkatup rapat karena geram.

"Siapa kau?" tanya Sesshoumaru dingin.

"Aku si hanyou. Akulah yang selalu menyelamatkan Kagome dari kematian, si lemah itu hanya bisa menangis"

Hanyou? Benak Sesshoumaru. Selain seluruh perbedaan kentara yang disadari oleh Sesshoumaru, kata-kata yang Kagome ucapkan sebelumnya tentang jiwa Kagome yang telah terpecah, dan 'Dia adalah bagian dirinya' membuat Sesshoumaru dapat merajut fakta demi fakta yang terkumpul. Sosok Kagome yang dilihatnya saat ini kebalikan dari wanita yang dijadikannya pasangan. Hanyou yang ada di hadapannya adalah hanyou yang melawan Kuroichi dan ibunya, amat jauh berbeda dengan Kagome yang dikenalnya akhir-akhir ini.

Fakta yang dirajut sudah membentuk pola di kepala Sesshoumaru, terang dan jelas. Reiki dan Youki yang mengalir di dalam tubuh pewaris Odachi, yaitu Kagome, telah membuat Shikon no Tama tercipta di dalam sebuah kekacauan jiwa. Shikon yang diramalkan akan muncul bersamaan dengan kemusnahan seluruh youkai itu membuat jiwa Kagome terpecah.

'Dia' yang dibicarakan Kagome adalah 'dia' yang mengaku 'Si hanyou'. Hanyou yang ada di hadapannya saat ini adalah perpecahan jiwa Kagome yang sangat membenci dirinya karena telah membunuh ibunya, Kikyo. 'Si Hanyou' itu adalah perlambang dendam lama yang tidak akan menghilang bila tujuan keberadaannya belum tercapai. Selamanya jiwa Kagome akan terus terpecah bila dendamnya belum terbalaskan. Dan itu hanya berarti satu hal, kematiannya.

"Kimono ini sangat mengganggu" gerutunya. Dengan kasar hanyou itu merobek kimono sutra putih yang dipakainya hingga pertengahan paha. Bagian bawah yang telah terlepas ia robek lagi sehingga menjadi seutas tali panjang yang kecil, dengan gerakan yang tenang ia mengangkat rambutnya lalu mengikatnya menjadi kuncir tinggi. Setelah selesai, ia meletakkan kedua tangannya di pinggang.

Seringaian pongah terpampang di wajahnya "Kagome tidak akan dapat berbuat apa-apa tanpa diriku. Kagome terlalu rapuh tanpa diriku, dia tidak akan sanggup menghabisi satu mahluk hidup pun. Dia wakil dari reiki yang murni. Dengan kata lain, Kagome milikmu adalah mahluk yang sangat menyedihkan" ucapnya dengan nada merendahkan.

Di sudut-sudut terdalam jiwanya, Kagome rapuh kembali terjerembab di dalam istana yang terbangun di dalam alam bawah sadarnya, tembok tinggi pembatas istana perlambang dendam kembali terpancang. Di halaman istana ia bersimpuh, kembali terkurung tanpa dapat berbuat apapun. Kagome rapuh hanya dapat menunggu celah untuk mengambil alih tubuhnya lagi.

Satu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum meremehkan "Tidak seperti diriku sekarang, ia masih sangat mencintaimu Sesshoumaru" ia mendengus kesal. Kedua taring tersembul menantang saat ia tersenyum sinis "Cih, ia bahkan tidak bisa bernafas tanpamu walau semuanya telah terungkap, walau ia tahu kaulah pembunuh ibu, si bodoh itu masih sangat mencintaimu"

"Apa yang kau inginkan?" tanya Sesshoumaru. Sesshoumaru dapat melihat dua sisi yang bertolak belakang di dalam satu tubuh. Satu sisi sangat ingin membunuhnya karena apa yang telah diperbuatnya di masa lampau, namun disisi lain Kagome masih sangat menyayanginya.

"Tidak peduli kau adalah kakak atau pasangan. Tetap saja kaulah yang telah membunuh ibuku. Sekarang kau tanya apa mauku? Tentu saja kematianmu, pembunuh!"

'Tidak! Jangan!' Teriak Kagome rapuh yang terkurung di dalam istana di dalam pikirannya, ia menyaksikan setiap detik waktu saat tubuhnya diambil alih.

Dalam sekejap mata, hanyou itu telah meledakkan aliran youki petir Yoarashi ke arah Sesshoumaru yang hanya berjarak dua langkah dari tempatnya berdiri. Petir Yoarashi berhasil menghantam Sesshoumaru dengan telak.

"Apa yang kulakukan?" tanya Kagome rapuh yang berhasil muncul ke permukaan kesadarannya, ia memandang dengan penuh kengerian Yoarashi di tangannya. Ia merasa sedih telah menyakiti Dai youkai yang dicintainya dan ia merasa marah kepada bagian dirinya yang lain. Kemunculan Kagome rapuh yang mengambil alih tidak bertahan lama, hanyou itu kembali merajai tubuhnya.

"Berisik!" bentaknya kepada Kagome rapuh di dalam dirinya. Hanyou tangguh itu menyeringai lebar dengan puas.

Kagome rapuh kembali terjerembab di halaman istana alam bawah sadarnya. Kepalanya terkulai lemah, ia menunduk dalam, kedua tangannya berada di atas tanah yang mulai basah oleh tetes-tetes air mata.

Sesshoumaru yang tetap berdiri tegap hanya terseret mundur beberapa ratus langkah kebelakang oleh hantaman Yoarashi, ia tidak mengalami luka yang serius. Kedua sudut alisnya bertautan, yang terjadi pada Kagome membuatnya pertama kali merasakan kebimbangan hebat. Apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi Kagome tapi bukan Kagome yang dikenalnya?

"Tarik pedangmu dan lawan aku Sesshoumaru!" nada hanyou itu sedikit mendesak. "Atau haruskah aku memanggilmu onii-san?" nadanya mencemooh.

"Aku tidak akan melawanmu"

Hanyou itu tertawa "Itu berarti kau hanya mengantarkan nyawamu kepadaku" aliran petir lain dari Yoarashi yang dilepaskan Kagome telah mengarah kepada Sesshoumaru yang kali ini dengan mudah menghindarinya.

"Hentikan!" perintah sang Dai youkai.

"Kau kira aku mau menuruti perintahmu lagi hah? Yang benar saja" hanyou itu mengikik "Aku sama sekali tidak keberatan kalau kau masih ingin bermain-main denganku" ia menyeringai sebelum menghujani Sesshoumaru dengan hantaman petir Yoarashi bertubi-tubi.

Sesshoumaru menghindar ke kanan saat petir Yoarashi menerjang di tempatnya berdiri, namun hanya berselang satu detik aliran petir lain telah menyusul di tempatnya menghindar. Gerakannya yang cepat tersaingi oleh serangan petir yang juga tak kalah cepat. Belum pernah ia melihat Kagome yang dikenalnya bertarung seperti itu.

Kecepatan dan kekuatan Kagome tidak seperti biasanya. Sesshoumaru menguras otak memikirkan langkah yang dapat ditempuhnya untuk mengembalikan Kagome seperti sedia kala. Nihil. Tak ada cara yang diketahuinya saat itu. Apa yang menimpa Kagome baru pertama kali dilihatnya. Namun satu hal yang pasti, ia tidak akan menyerang wanita yang dikasihinya.

Hanyou tangguh menghentikan serangannya "Bagaimana?" tanya hanyou itu dengan nada yang jenaka.

"Diam" perintah Sesshoumaru.

"Tidak akan" nadanya berubah keras "Mulai saat ini aku tidak akan tinggal diam" hanyou itu mencengkram Yoarashi kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku muak dengan kehidupan ini!"

"Kagome" panggilnya.

Kagome rapuh mengangkat kepalanya saat Sesshoumaru menyebut namanya.'Seshoumaru~' ucapnya lirih.

"Percuma, si lemah itu tidak akan dapat berbuat apa-apa sekalipun dia dapat mendengarmu" hanyou itu tahu, Kagome rapuh si pribadi utama dapat melihat dan mendengar apa yang dilihatnya saat ini, tidak seperti dirinya yang mengalami 'waktu yang hilang' saat Kagome rapuh mengambil alih. Itu juga salah satu yang membuatnya membenci Kagome rapuh, dia bukanlah si pribadi utama, ia merasa mati saat Kagome rapuh mengambil alih tubuh mereka.

Beberapa saat hanyou itu terdiam, ia berpikir sesaat sebelum bertanya "Sesshoumaru, apakah kau sebenarnya telah lama mengetahui bahwa Kagome dan aku adalah adikmu?"

Sesshoumaru berjalan mendekat "Tidak" ucapnya dingin.

Alter pendendam milik Kagome berdiri dengan santai "Lalu, bila sejak awal kau telah mengetahui itu apakah kau akan tetap menjadikan kami pasangan atau kau akan membunuh kami?" tanyanya penasaran.

Sesshoumaru terdiam, karena sejujurnya ia tidak mengetahui jawabannya.

"Jawablah!" bujuk hanyou itu dengan nada manja, Sesshoumaru bergeming. Sang hanyou tertawa kecil, sebuah tawa yang mengejek. "Kau tidak mau menjawab pertanyaanku atau kau tidak bisa menjawabnya?" hanyou itu menyeringai jahat "Oyaji di alam sana pasti sedih melihatmu menjadi youkai lemah dan plin-plan seperti ini"

"Kau tidak mengenal chichihue untuk berkata seperti itu"

"Aku memang tidak mengenalnya, tidak sepertimu. Tapi, aku sudah tidak peduli" Hanyou tangguh itu mengangkat kedua bahunya tanda tak acuh "Baiklah kalau begitu, mari kita lanjutkan saja permainannya"

Aliran youki yang berubah menjadi petir, berkilat-kilat di bilah Yoarashi "Sebelum aku melanjutkan, ada baiknya kau mengetahui bahwa aku sama sekali tidak menyesal telah mengantarkan ibumu ke akhirat" nadanya terdengar serius.

Mata Sesshoumaru menyipit mendengar kata-kata hanyou itu. Petir yang keluar dari Yoarashi lebih mengancam dari yang sebelumnya, tapi Sesshoumaru berhasil menghindari ledakan itu dengan gerakan yang lincah namun anggun disaat yang sama. Sesshoumaru terus menghindar sambil berusaha mendekati hanyou itu.

Lengah dengan taktik Sesshoumaru, hanyou itu hanya bisa terperanjat saat Sesshoumaru yang tiba-tiba berada di belakangnya berhasil mencengkram pergelangan tangan kanannya yang menggenggam Yoarashi. Sesshoumaru memuntir tangan kanan Kagome, sehingga tangannya itu terkunci di punggungnya. Tak mau menyerah begitu saja, hanyou itu memutar badannya ke kanan sambil mengayunkan cakar di tangan kirinya agar tangannya yang lain terlepas dari cengkraman Sesshoumaru.

Saat hanyou pendendam itu mengarahkan cakar tajam di tangan kirinya. Dengan mudah tangan kiri Sesshoumaru menangkap pergelangan tangan kiri Kagome, lalu menarik dan memutar tangannya melewati atas kepala hanyou itu. Gerakan itu juga memutar tubuh Kagome sehingga Sesshoumaru kembali berada di belakang tubuhnya. Kedua tangan hanyou itu kini terbelenggu oleh tangan kuat Sesshoumaru di punggungnya sendiri. Menyadari keadaannya yang kian terpojok, hanyou itu meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri, namun gagal. Ia kuat tapi sang alpha jauh lebih kuat darinya.

"Dasar brengsek. Cepat lepaskan aku!" ujar sang hanyou dengan geram.

Tanpa perlu mengeluarkan banyak kekuatan, Sesshoumaru sudah mengunci pergerakan Kagome. Tangan kanan Sesshoumaru mencengkram kedua pergelangan tangan Kagome di punggung, dan tangan kirinya merampas Yoarashi dari tangan Kagome. Masih sambil menggenggam Yoarashi di tangan kirinya, Sesshoumaru memaksa wajah Kagome menoleh ke kiri dengan menggunakan punggung tangan kirinya.

Hanyou itu terus meronta sekuat tenaga. Gerakan hanyou itu terhenti tak lama setelah bibir Sesshoumaru menyentuh bibirnya. Hanyou itu hanya bisa terbelalak. Sesshoumaru mencium bibirnya, ciuman Sesshoumaru sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Tidak lembut, namun kasar dan basah, tidak seperti biasanya.

"Ini hanya sesaat" ucap Sesshoumaru setelah ia menarik diri dari ciuman yang dimulai olehnya. "Kaulah yang memaksaku untuk melakukan ini" Sesshoumaru menghantarkan setetes racun di dalam tubuhnya melalui saliva di ciuman yang diberikannya, tidak mematikan tetapi cukup untuk membuat Kagome tidak dapat bergerak untuk sementara.

'Apa yang akan kau lakukan Sesshoumaru?' tanya Kagome rapuh yang terkurung.

"A-aku.." hanyou itu masih terbelalak, keterkejutannya tidak memudar saat ia menyadari bahwa tubuhnya tidak dapat bergerak. "A-apa yang ka-kau..?"

Tangan kanan Sesshoumaru melepaskan kedua pergelangan tangan hanyou yang dicengkramnya, ia bergerak ke hadapan Kagome yang mematung. Dengan tangan kirinya, Sesshoumaru menancapkan Yoarashi di batu besar yang ada di sebelah kirinya, setengah bilah Yoarashi tidak terlihat karena tenggelam di dalam bongkah batu besar itu. Hanyou itu memandang Dai youkai yang ada di depannya dengan ngeri. Tidak seperti dugaan hanyou itu, yang diberikan oleh Sesshoumaru kepadanya hanyalah sebuah pelukan mendesak yang penuh kerinduan. Lengan kanan Sesshoumaru melingkari tubuh Kagome.

"Kagome" kasih sayang terkandung dalam suaranya saat Sesshoumaru memanggil nama adiknya itu "Kau tidak harus menyesali apa yang telah kau perbuat bila memang itu adalah tindakan yang diperlukan"

Bagi Kagome rapuh yang terpenjara di istana alam bawah sadarnya kata-kata Sesshoumaru bagaikan penyejuk jiwanya yang terbakar.

Tanah yang dipijak sang hanyou bagai longsor, ia tertarik ke alam bawah sadar, dengan cepat Kagome rapuh kembali mengambil alih tubuhnya. "Sesshoumaru~" suara lembutnya sedikit bergetar.

Sesshoumaru menyadari perubahan pada nada suara dan bau Kagome "Kagome" ia tersenyum tipis.

Kagome rapuh ingin sekali memeluk balik Sesshoumaru namun tubuhnya masih tetap tidak dapat bergerak. Begitu banyak yang ingin diutarakan dan dilakukannya namun semua bagai tertelan oleh keraguan dan ketakutan. Kebimbangan Kagome itu digunakan hanyou tangguh untuk kembali menguasai. Kesadaran yang dipijak Kagome rapuh berubah menjadi kolam yang berisi cairan hitam pekat bernama perpecahan jiwa, dengan cepat Kagome kembali tenggelam di dalam istana alam bawah sadar.

Pernyataan yang diucapkan Sesshoumaru memicu pertanyaan di benak sang hanyou yang tidak terpikirkan oleh Kagome sebagai pribadi utama yang dipenuhi oleh reiki. "Lalu, apakah kau menyesal telah membunuh ibuku?" tanya hanyou itu lugas.

Sesshoumaru mengendurkan pelukannya, ia menjauh agar dapat menatap wajah wanita yang disayanginya lebih baik.

Kagome terkesiap, dengan apa yang ditanyakan oleh alter miliknya. Bagi Kagome rapuh, pertanyaan itu seakan tali gantungan yang siap mengambil nyawanya. 'Kumohon Sesshoumaru, katakan bahwa kau menyesalinya. Itu cukup bagiku'. Bisiknya.

"Jawab aku dengan jujur Sesshoumaru!" perintah sang hanyou.

Sesshoumaru memutuskan akan menjawab pertanyaan itu untuk keduanya dengan sebuah kejujuran. "Sesshoumaru ini tidak akan menyesali apa yang telah dilakukannya bila itu membawaku kepadamu Kagome"

Kalimat yang dilontarkan Sesshoumaru memiliki makna berbeda bagi Kagome dan alternya. Untuk Kagome rapuh, kata-kata dari Sesshoumaru barusan adalah bentuk dari pernyataan cinta yang tak bersyarat. Sesshoumaru tidak menyesali pertemuan mereka, Sesshoumaru sangat mencintainya sehingga rela melakukan apapun untuk bersamanya. Dan bagi Hanyou tangguh, kalimat yang keluar dari mulut Sesshoumaru sama saja pengakuan dosa tanpa rasa bersalah. Hanyou itu semakin muak dengan Sesshoumaru yang tidak mempunyai rasa sesal walau telah membunuh ibunya.

"Dua hari ini aku merasa lemah tanpamu" tangan kanan Sesshoumaru mengelus perlahan lengan kagome sebelum mendekapnya lagi.

Selang beberapa lamanya mereka tetap di posisi seperti itu, mata Kagome terpejam menikmati pelukan itu. Sesshoumaru melepaskan dekapannya untuk mengangkat wajah Kagome, kemudian memberikannya sebuah kecupan. Tak disangka olehnya, Kagome malah memulai sebuah ciuman panas yang menuntut. Bibir Kagome bergerak dengan penuh gairah, percik-percik hasrat berubah menjadi tarikan sensual yang muncul di diri Sesshoumaru saat kedua tangan Kagome merayap naik ke dadanya. Selintas terbersit di pikiran Sesshoumaru bahwa efek racunnya tak lagi berpengaruh pada Kagome, pikiran itu dengan cepat tersisihkan saat lidah Kagome menyapu bibir bagian bawahnya.

Dai youkai itu merasakan gejolak gairah yang tertahan selama beberapa hari ini kembali meluap. Kedua tangan Kagome bergerak naik ke leher lalu bersemayan di kedua sisi kepala Sesshoumaru. Dengan sangat cepat beberapa hal terjadi secara serentak, tiba-tiba mata Kagome terbuka, tangan kanan Kagome yang berada di sisi kepala Sesshoumaru beralih ke punggunnya, tempat dimana genggaman Odachi menyembul, diraihnya pedang itu hingga keluar dari sarungnya. Tanpa ragu lagi hanyou Kagome menebas pertengahan lengan kiri Sesshoumaru yang masih terentang karena menggenggam Yoarashi yang tertancap di batu.

Secepat kilat hanyou Kagome kembali lompat mundur beberapa langkah kebelakang. Darah mengalir deras dari lengan kiri Sesshoumaru, ia menggeram. Wajah dinginnya berubah murka. Dengan tangan kanannya Sesshoumaru mengenggam lengan kirinya yang masih mengalirkan darah. Sesshoumaru menoleh sekilas kepada tangan kirinya yang telah terlepas dari tubuhnya. Bagian tangan yang terpotong dari pertengahan lengannya itu masih menggenggam erat Yoarashi yang tertancap di batu.

Terperanjat adalah sebuah pernyataan yang meremehkan untuk menggambarkan keadaan Sesshoumaru saat ini, rahangnya bergemeretak, matanya berkilat oleh amarah, kedua alisnya berkerut di tengah menahan sakit, nafasnya memburu di dalam dadanya yang bergemuruh. "Kagome.." kali ini tidak ada kelembutan di suara baritonenya. Berbagai macam emosi mengalir di dada Sesshoumaru, amarah, sedih, kecewa, merasa terkhianati, tapi juga cinta. Semuanya bersatu padu hingga membuatnya lelah.

Kagome rapuh berdiri mematung, wajahnya tercengang oleh apa yang telah disaksikan olehnya. 'Oh tidak! Tidak, jangan, kumohon, hentikan!' ia memohon kepada dirinya sendiri walau ia tahu bahwa itu sia-sia. 'Aku harus keluar, aku harus' tekadnya. Dengan itu Kagome rapuh berlari melintasi halaman istana menuju tembok pembatas yang menjulang.

Ia berlari dari ujung hingga ujung lainnya, namun tidak ada pintu keluar yang dapat menghubungkannya. Kagome menoleh ke belakangnya, bagian belakang istana tempatnya terkurung dinaungi oleh awan gelap, tidak akan ada jalan keluar dari sisi tergelap pikirannya. Satu-satunya cara melampaui adalah tembok pembatas dihadapannya. Dengan itu, Kagome rapuh berusaha memanjatnya dengan tangan kosong.

"Sial! Sudah kubilang bahwa aku bukanlah si pecundang itu!" nada hanyou tangguh itu meradang "Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya terluka oleh orang yang kau cintai Sesshoumaru?" tanya hanyou itu. "Menyakitkan bukan?" alter Kagome itu menampakkan wajah iba yang dibuat-buat "Tahukah kau, hari termanis untukku adalah hari dimana kau merasakan kehilangan sama seperti yang telah kami rasakan Ses-shou-ma-ru-sama" nadanya mencemooh saat menyebutkan nama kakaknya dengan suffix.

Sontak sang Dai youkai itu semakin meradang "Kubilang diam!" seru Sesshoumaru dengan suara baritonenya yang semakin berat.

Kagome rapuh terjatuh dengan keras ke tanah saat mencoba memanjat tembok batu itu. Dia kembali memanjat, namun lagi-lagi kakinya tergelincir dan ia kembali mencium tanah. Tapi dia tahu ia tidak dapat berhenti. Kagome rapuh tidak akan berhenti berusaha selama Sesshoumaru belum aman dari dirinya sendiri.

Hanyou itu seakan tak peduli dengan apa yang sedang menimpa Sesshoumaru, ia memandangi pedang Odachi yang kini berlumuran darah pasangannya. "Inikah pedang yang Oyaji wariskan kepadamu? Mengapa pedang ini tidak berdetak sekarang? Tidak seperti saat aku melawan Takigawa dulu?" pada waktu itu ia mengambil alih tubuh Kagome rapuh yang sedang menjadikan Odachi sebagai penopang tubuh. Saat itu kekuatan Odachi bagai mengalir ke tubuhnya, kekuatannya terasa hangat dan membakar.

Sesshoumaru memejamkan mata sesaat, ketika ia kembali membuka mata wajahnya telah kembali dingin seperti biasanya. Darah yang mengucur dari lengannya yang terpotong tidak memberikan tanda-tanda bahwa alirannya akan mereda. Sesshoumaru menegakkan tubuhnya lagi, ia menarik Bakusaiga dari sarungnya.

Tidak sedetikpun ia berhenti berusaha. 'Hentikan!' Kagome rapuh terisak 'kumohon...'

"Ah, akhirnya, permainan kita tidak akan lagi membosankan dan aku bisa kembali menggunakan Odachi seperti seharusnya" hanyou itu hampir melonjak riang, melihat posisi tubuh Sesshoumaru yang siap bertarung.

Kalimat itu mengakhiri percakapan mereka, pertarungan kembali dimulai. Hanyou tangguh itu berlari zig-zag dengan cepat sambil melancarkan serangan youki dari Odachi. Dengan gerakan yang tidak tertangkap oleh mata, Sesshoumaru bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menghindari serangan sang hanyou sebelum menyerang balik dengan youki dari Bakusaiga. Kagome melompat saat mengelak dari serangan Sesshoumaru, kedua kakinya menjejak batang bambu yang berdiri secara vertikal. Untuk sedetik bambu itu melengkung bagai pelangi, kemudian elastisitas bambu kembali melontarkan tubuh sang hanyou sambil mengayunkan Odachi ke arah Sesshoumaru.

Pedang mereka berbenturan, bunyi kedua taring yang beradu itu mewakili pekik hati mereka. Kagome melompat kebelakang, Sesshoumaru bergerak maju. Lagi-lagi kedua pedang berbenturan dengan bunyi melengking, pedang itu terus beradu sambil di dorong oleh kedua pemiliknya. Kagome menggenggam Odachi dengan kedua tangannya, kedua lututnya tertekuk. Ia menumpukan berat tubuhnya di tangan untuk memukul mundur Sesshoumaru.

Kekuatan penuh dua tangan Kagome sebanding dengan kekuatan Sesshoumaru yang hanya satu tangan. Posisi mereka seimbang. Hanyou Kagome mencoba membuat Dai youkai itu terpojok sebelum mengayunkan serangan yang lain. Dengan nafsu membunuh yang kuat, hanyou itu berhasil melampaui kekuatan satu tangan lawannya, Dai youkai itu terdorong mundur. Saat Sesshoumaru tersudut, ia menarik diri lalu melancarkan serangan. Sesshoumaru berpindah tempat, serangan alter pendendam itu hanya membuat tebasan panjang pada deretan pohon bambu. Sesshoumaru terus mengelak dari serangan lawannya.

Mereka bergerak dengan hati yang terluka. Dentingan pedang yang beradu bagaikan jeritan hati akan cinta yang pupus. Dengan indah mereka membawakan tarian indah penghantar kematian di titian takdir kejam yang telah tertulis. Walau begitu, jauh di relung hati terdalam sang Dai youkai dan hanyou yang saling mencinta itu masih memiliki percik-percik harapan. Harapan untuk bersama memadu cinta yang mereka miliki. Walau harapan itu telah bangkit, mati, lalu bangkit kembali, dan kini masih teguh berdiri walau kabut bernama takdir keji menyelimuti.

Ia menyelipkan jari-jarinya di celah-celah bebatuan, dengan tangan dan kaki yang gemetar ia telah berhasil memanjat setengah dari tembok pembatas. Namun saat kakinya berpijak di bebatuan yang lebih tinggi Kagome rapuh kembali tergelincir. Lagi-lagi ia menghantam tanah dengan keras. 'Jangan ada lagi pertumpahan darah, kumohon. Kami-sama dengarlah permohonanku kali ini..' ucap Kagome rapuh dengan lirih dalam kepiluan hati.

Hanyou tangguh itu menarik diri, dia menunggu. Ia mundur dua langkah ke belakang hanya untuk mengayunkan lagi pedang yang digenggamnya langsung ke arah Sesshoumaru yang baru berpijak di tanah setelah mengelak dari serangannya. Deretan pohon bambu lain tertebas oleh alter Kagome, tapi tidak sasaran awalnya karena Sesshoumaru telah melompat menjauh, ia melayang di udara sebelum kakinya menjejak tanah. Hanyou itu lari lagi mendekatinya, ia mengayunkan Odachi dari kiri ke kanan. Lagi-lagi dengan lihai Sesshoumaru menghindar dan muncul di samping Kagome ia berusaha merampas kembali Odachi.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu merebutnya lagi hah!?" hanyou itu mengalirkan youki di Odachi.

Cahaya putih berkilat-kilat menjilat bilah Odachi, siap memuntahkan kekuatan besarnya walau dengan mengarahkan youki ke Sesshoumaru yang menggenggam pergelangan tangannya berarti juga menyakiti dirinya sendiri dengan ledakan youki, hanyou itu tidak takut. Merasa terancam dengan aliran youki yang dapat meledak kapan saja Sesshoumaru melompat mundur, perbuatannya itu lebih dikarenakan kekhawatirannya untuk Kagome. Langkah mundur Sesshoumaru disusul dengan hanyou Kagome yang melompat maju melampauinya, ia mendarat di balik punggung Sesshoumaru sambil melayangkan cakar tajamnya.

Sesshoumaru bergeser di detik terakhir cakar itu hendak memisahkan kepala dari badannya. Kini punggungnya telah tercabik sama seperti lengannya, bernoda merah. Walau begitu, kali ini wajah tampannya tidak menampakan kesakitan sama sekali "Kau beruntung kali ini" katanya dingin.

"Tidak, aku tidak beruntung" hanyou itu merengut, seketika ekspresinya berubah "Sasaranku meleset, aku ingin sekali memenggal kepalamu dari depan maupun dari belakang tidak masalah untukku" dia menyeringai "Tidak perlu memikirkan cara terhormat untuk membunuh bajingan brengsek sombong dan menyedihkan sepertimu!" matanya yang biru berkilat dengan nafsu untuk membunuh.

"Kau" kata-kata Sesshoumaru terpotong.

"Lebih baik kita akhiri sampai disini Sesshoumaru" dendam dan benci semakin kuat merusak hati sang hanyou. Dengan itu, tembok penghalang yang terbangun oleh tumpukan dendam yang membusuk semakin menghalangi Kagome rapuh mengambil alih.

'Tidak!' Kagome rapuh semakin panik dengan apa yang disaksikan olehnya. Ia takut Sesshoumaru akan terbunuh. Diserang kepanikan yang amat kuat, Kagome rapuh berusaha kembali memanjat tapi terlambat. Tembok perlambang dendam itu semakin tinggi menjulang, dan tidak lagi terbuat dari batu, tapi terbuat dari ribuan bilah-bilah dua sisi pedang tajam mencuat yang mengancam. Tekadnya kuat, perubahan itu tidak melunturkan semangatnya untuk mencegah Sesshoumaru terbunuh.

Kedua tangannya menggenggam bilah-bilah pedang itu, kaki telanjangnya menginjak bilah terbawah. Dengan sekuat tenaga Kagome menahan sakit saat ia menumpukan bobot tubuhnya di keempat bilah yang berada di bawah kedua tangan dan kakinya. Darah kental mengalir deras membasahi telapak tangannya lalu merayap ke lengannya.

Telapak kakinya lebih parah lagi, bilah tajam tidak hanya menyayat tapi juga merobek-robek dagingnya. Rasa sakit itu begitu nyata. Keputusasaan menohoknya dengan telak. Kagome rapuh memejamkan mata, ia tetap bergerak. 'Ini tidak nyata' tiga kata itu terus diucapkannya berulang kali selagi terus mencengkram bilah pedang lain yang membawanya naik ke atas tembok.

Kagome menjulurkan Odachinya, cahaya putih yang bersinar sepanjang bilah pedang berkilat menyilaukan mata siapapun yang memandang. Mata biru keabu-abuan itu tertutup sesaat, hanyou itu mengalirkan hampir seluruh kekuatan youkinya di Odachi. Sedangkan Sesshoumaru tidak tinggal diam, ia tahu bahkan kekkai Tenseiga tidak akan dapat menahan kekuatan Odachi yang dialiri reiki. Oleh karena itu diapun bersiap, tidak untuk menyerang tapi lebih mempertahankan dirinya dan memukul mundur Kagome. Setelah hanyou itu kalah dan keadaan mereda, ia kan mencari cara apapun yang dapat menjadi penawar perpecahan jiwa pasangannya itu.

Kagome membuka matanya. Kekuatan dahsyat berbentuk spiral berwarna putih milik Odachi meluncur cepat, naga biru Bakusaiga pun meliuk dan melesat tak kalah cepat. Kedua kekuatan itu bertabrakan, terjangan angin yang berasal dari pusat tubrukan itu menerjang balik kepada kedua pemiliknya. Kedua mata hanyou itu memicing, silau oleh benturan cahaya yang diciptakan Odachi dan Bakusaiga. Kedua pasang kaki menjejak kuat ditanah, tapi kimono dan rambut keduanya terombang-ambing. Alam pun ikut terguncang oleh dua kekuatan, kerusakan yang tercipta bagai terjangan topan. Dengan mudah angin menerbangkan tanah, bebatuan, dan potongan-potongan bambu sisa pertarungan.

Untuk waktu yang cukup lama mereka terus mengeluarkan ledakan youki seperti itu. Taruhan diantara keduanya sangat besar, nyawa. Siapa yang lebih dulu kehabisan tenaga diantara keduanya dialah yang akan tertelan oleh kekuatan yang lain. Selang beberapa saat pertaruhan itu menuju akhir. Kekuatan yang mengalir di Odachi melemah, senada dengan memudarnya sinar matahari yang menyinari bumi.

Titik youki terakhir telah meninggalkan tubuh hanyou itu. Tanpa diketahui oleh siapapun, bahkan oleh sang pribadi utama, sesungguhnya hanyou tangguh itu pun merasa kelelahan yang amat sangat secara mental. Kini hanyou tangguh itu tersenyum, karena pada akhirnya ia akan merengkuh takdir dan tujuannya.

Tembok tajam dari bilah pedang yang dipanjat Kagome rapuh menghilang bersamaan dengan cahaya putih yang sangat terang telah membutakan penglihatan dan menelannya.

Dia ataupun Sesshoumaru yang merenggang nyawa tidak ada beda bagi sang alter, dendam yang menjadi tujuan hidupnya tetap terbalaskan. Arus kuat youki terakhir diluncurkan sang hanyou, Sesshoumaru menghentikan serangannya bersamaan dengan ledakan youki dari hanyou berakhir. Ledakan terakhir kedua aliran youki membuat terjangan angin kencang yang serupa badai yang bergulung menghantam keduanya. Kagome terhempas, tubuhnya melayang berpuluh-puluh meter kebelakang. Sedangkan Sesshoumaru masih dengan kedua kaki menjejak tanah hanya terseret jauh kebelakang dari tempatnya berdiri.

Sinar matahari tidak lagi menyinari hutan bambu yang telah porak-poranda oleh pertarungan kakak-beradik itu. Hanya segaris kemerahan yang tersisa di kaki langit yang mulai gelap, bintang mulai bertaburan di langit yang menjadi atap dari tanah yang hancur sepanjang jalur dua kekuatan berbenturan. Banyak batang pohon bambu yang telah tertebas pedang secara acak, ujung-ujung bambu yang lancip menjulang.

Dada Sesshoumaru kembang kempis, ujung Bakusaiga tertancap di tanah. Tubuhnya tak lagi kuat, ia roboh. Mulutnya terbuka, nafasnya tersengal-sengal, kedua lututnya menyentuh tanah. Untuk kedua kali di dalam hidupnya, ia merasa kepayahan dalam sebuah pertarungan. Dan lebih ironis lagi, salah satu pertarungan terberat itu dilakukannya dengan satu-satunya wanita yang telah menaklukan hatinya.

~.

Keheningan menyelimuti bumi.

Takamagahara tempat para Kami bersemayam pun sunyi.

Ketiga Kami memalingkan wajah, tak lagi ingin menjadi saksi.

Membisu, semua menanti takdir berganti.

~.

Mengabaikan kakinya yang bergetar, Sesshoumaru mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Hembusan angin malam yang lembut menerpa tubuhnya. Alisnya berkerut saat ia mencium bau darah yang terbawa angin, dari baunya ia tahu jumlah darah yang tercecer tidaklah sedikit. Sesshoumaru berlari cepat ke arah tempat Kagome terhempas, ia tidak mencium bau wanita yang dijadikannya pasangan.

Bau yang ia cium kali ini berbeda, tapi serupa. Sesshoumaru menambah laju kecepatannya ketika mendengar denyut jantung yang melemah dan nafas yang kian pendek. Langkahnya terhenti saat mendapati Kagome terbaring di atas tanah, darah yang keluar dari mulut mewarnai pipinya, dan ujung bambu yang meruncing terlihat menerobos dadanya.

~.

Semua berlalu begitu cepat bagai kedipan mata. Cahaya putih yang membutakan membawanya pada kenyataan getir yang menanti. Di waktu yang bersamaan dengan tetes terakhir youki yang mengalir itulah jantungnya berdegup hebat bagai usaha terakhir memompa darah. Tubuhnya terasa panas, seluruh tulangnya seperti meleleh, ia merasa terkuras habis.

Itulah yang dirasakan Kagome saat awal-awal perubahan wujud di malam manusianya, seperti malam ini. Semua yang terjadi terlalu mengalihkan pikirannya untuk sadar bahwa salah satu dari tiga hari ini adalah masa-masa yang paling berbahaya baginya yang setengah youkai. Masa lemah dengan wujud manusia yang amat sangat terlambat disadarinya.

Kagome merasa semua menentangnya, takdir, alam, bahkan dirinya sendiri. Cahaya mentari musim gugur yang menghilang beberapa jam lebih cepat dari musim panas seakan membelot menentangnya, ia menjadi manusia lebih cepat dari biasanya. Tidak hanya alam, perpecahan jiwanya pun menjadi musuh besarnya.

Kagome paham sekarang mengapa hanyou tangguh itu tidak membiarkannya membunuh dirinya sendiri dengan melompat ke jurang dan mengapa alternya itu tidak langsung memenggal kepala Sesshoumaru dengan cakarnya tapi lebih memilih menebas tangan Sesshoumaru dengan Odachi. Ia telah merancang kematian mereka berdua dan balas dendamnya dengan sempurna.

Sangat sempurna.

Sejak awal ia tidak berniat membunuh Sesshoumaru, alter pendendam miliknya itu ingin Sesshoumaru menyaksikan kematiannya sebagaimana ia menyaksikan kematian ibunya yang tragis dahulu. Hanyou tangguh itu tahu bahwa Sesshoumaru sangat mencintainya. Karena itulah sang hanyou memberikan balasan yang setimpal atas kejahatan yang telah dilakukan Sesshoumaru. Balasan untuk Sesshoumaru lebih menyakitkan daripada kematiannya sendiri. Selamanya Sesshoumaru akan merana setelah menyaksikan pasangan yang dicintai meregang nyawa dengan memilukan.

'Hari termanis untukku adalah hari dimana kau merasakan kehilangan sama seperti yang telah kami rasakan'.

~.

Hati Sesshoumaru hancur, matanya perih. Sesshoumaru mendekati tubuh itu, dengan hati-hati ia mengangkat kepala Kagome di lengan kanannya. "Kagome..." suaranya tercekat oleh kepiluan yang dirasakannya.

Sesshoumaru meneliti luka Kagome, bambu itu menembus rongga dadanya tepat di tengah, menghujam paru-parunya. Kagome akan segera menghembuskan nafas terakhir bila Sesshoumaru segera memindahkan tubuhnya. Pasalnya, potongan bambu itu jugalah yang menopang Kagome untuk bernafas sedikit lebih lama lagi. Sedikit lebih lama itu berarti, sebelum Kagome kehabisan darah atau sebelum darah yang memenuhi paru-paru membuatnya tidak dapat bernafas. Kagome tidak akan dapat bernafas karena tenggelam oleh darah, di dalam dirinya sendiri.

Kelopak mata itu terbuka, mata biru keabu-abuan itu lebih pekat dari sebelumnya, warnanya hampir keunguan. Kagomenya berubah. Telinga berbentuk segitiga tidak lagi ada di puncak kepalanya, digantikan oleh telinga manusia. Kagome memaksakan diri tersenyum, taring tidak lagi tampak, tapi deretan gigi putihnya diwarnai merah darah yang pekat.

"Sesshou~maru" Kagome mengangkat tangan kanannya untuk menggapai wajah kekasihnya. "Maafkan aku..." tangan Kagome yang bergetar membelai lembut pipi Sesshoumaru.

"Diam!" suara Sesshoumaru terdengar pecah oleh penderitaan. "Kau akan baik-baik saja Kagome" imbuhnya.

Bulir air mata berjatuhan dari kedua matanya "Ma~af" ucapnya tertatih. Kagome tahu ia tidak akan baik-baik saja, kesempatan ketiga tidak akan ada untuknya, waktu baginya di permukaan bumi hampir habis.

Tangan kanannya terkepal kuat, cairan hangat berwarna merah mengalir. Sesshoumaru memejamkan matanya, ia menunduk. Semua ini tidaklah terjadi, tidak! Otaknya berpikir keras, mencari cara yang ia tahu dapat menyembuhkan manusia dengan luka yang fatal. Hanya satu jawaban yang didapatkannya, Tenseiga. Dan itu mustahil untuk Kagome, tidak akan ada yang kedua kali, bahkan Tenseiga pun memiliki batas. Sesshoumaru menggeram dalam, giginya bergemeretak oleh amarah. Ia mengangkat wajah untuk menatap Kagome, pandangannya menyapu luka di dada Kagome. Apa yang dilihatnya membuat Sesshoumaru meringis dalam kepiluan hati yang tak terperi.

Kagome tahu masanya hampir habis, dia merasa harus mengatakan apa yang selama ini terkunci di mulutnya tapi hatinya teriakan. "Sesshoumaru..." Bila perasaan yang dirasakannya untuk sang kakak sedahsyat terjangan badai, dan semurni mata air di gunung itu bernama cinta. Maka, "Aku sangat mencintaimu Sesshoumaru" kristal kesedihan terus terurai.

Mendengar kata-kata Kagome wajah Sesshoumaru berkerut-kerut seperti menahan sakit. Hatinya tersayat oleh apa yang kekasihnya utarakan. Untuk kali pertama di dalam hidup Sesshoumaru matanya tersengat oleh perih yang membuncah. Hatinya seakan berubah menjadi batu, berat di dalam dadanya.

"Kagome, bertahanlah" bisiknya parau.

"Andai aku bisa.." suaranya tercekat, kerongkongannya mulai penuh oleh darah.

Sesshoumaru menggelengkan kepalanya, topeng tanpa emosi miliknya yang selama ini terpasang telah hancur berkeping-keping. Garis-garis kesedihan dan kerut keputus-asaan telah tergurat diraut wajahnya yang rupawan. Suara Sesshoumaru serak dan berat saat berucap "Bila kehilanganmu adalah ketakutan terbesarku, maka aku aku tidak ingin menaklukkan rasa takut itu. Aku tidak ingin menaklukan dunia bila dengan itu aku harus kehilanganmu Kagome"

"Aku sangat ingin berada disisimu.." Kagome mulai merasakan sakit yang melanda di sekujur tubuh dan sakit itu semakin hebat disetiap tarikan nafasnya.

Tangan kanan Kagome yang membelai pipi Sesshoumaru berhenti mengelus. Sesshoumaru memalingkan wajahnya ke kiri untuk mencium telapak tangan kekasihnya. "Kita akan bersama..." suara Sesshoumaru mulai pecah oleh emosi.

Kagome terisak.

Dibanding sakit yang dirasakan Kagome, apa yang dilihat kedua matanya lebih menyakitkan baginya. Wajah Sesshoumaru yang merana, membuat Kagome membenci dirinya sendiri karena akan meninggalkannya. Melihat orang yang disayanginya bersedih sangat menusuk hati.

Inilah yang dirasakan oleh Kaa-san, batin Kagome.

Di akhir hidupnya pun ia tidak ingin menyakiti Sesshoumaru, ia tidak ingin kekasihnya itu berduka untuknya. "Jangan bersedih, kumohon.." bibir Kagome bergetar tatkala memaksakan diri untuk tersenyum.

"Bukankah lebih baik seperti ini, kau kuat, sedangkan aku... aku akan membenci diriku sendiri bila bernafas tanpamu Sesshoumaru" bulir air mata jatuh dari kedua matanya.

"Kagome..." Sesshoumaru menggeram dalam. "Aku tidak ingin lagi terikat oleh perasaan manusia denganmu selain yang kurasakan sekarang" suaranya memudar "Aku hanya akan menyayangimu" ucapnya dengan suara parau "Aku tidak ingin berduka karena kehilanganmu" tidak ada hidup yang terbayang olehnya bila kehilangan separuh jiwanya dengan cara seperti ini.

Sesshoumaru mendekatkan wajahnya ke wajah Kagome, ia membelai kening dan pipi kiri wanita yang dicintainya dengan hidung sebagai ungkapan perasaannya yang teramat dalam. Dengan lembut Sesshoumaru mengecup bibir Kagome yang masih basah oleh darah. Sesshoumaru menarik diri, kepalanya bergetar oleh kesedihan yang tertahan.

Sesshoumaru menunduk dalam, kedua matanya yang tergenang oleh air mata tertutup oleh poni. Rahangnya mengeras, giginya bergemeretak. Kelu. Apa yang dirasakannya teramat menghujam. Rasa sakit itu begitu nyata menghantamnya, tak tertanggungkan. Dan rasa sakit itu akan menetap selamanya, tidak akan menghilang kecuali nafasnya telah terhenti.

Kagome menarik nafas panjang sebelum berucap "Apa yang telah kau berikan di hidupku tidak akan pernah dapat kulupakan, sangat berarti hingga tidak mungkin kuabaikan. Selamanya, aku milikmu" sekuat mungkin ia menahan sakit di dalam dadanya saat mengucapkan setiap patah kata yang keluar dari mulutnya.

Belum sempat Sesshoumaru menjawab, Kagome terbatuk-batuk hebat. Tubuhnya berguncang kuat, setiap guncangan mengalirkan rasa sakit yang tak terhingga untuknya. Disaat itulah muncul sebuah cahaya merah muda dari daging yang terobek di balik kimononya. Sebuah bola berwarna merah muda berlapis darah mengeluarkan cahaya terang dari dada bergulir di atas perutnya.

Tangan kanan Kagome meninggalkan wajah Sesshoumaru. Kagome meraihnya, ia mengangkat Shikon itu dengan tangannya yang gemetar untuk melihatnya lebih dekat. "Shikon no Tama" suaranya lemah.

Sesshoumaru mengangkat kepalanya, untuk sesaat ia memandang bola empat arwah itu dengan pandangan benci. "Shikon"

Apakah ini benar Shikon no Tama yang mereka bicarakan? Inikah penyebab semua kekacauan yang terjadi? Semua tetes keringat, darah dan air mata yang tercurah karena bola kecil ini? Apa maksud Kami-sama sebenarnya? Kekuatan tak terbatas itu hanyalah tipu daya, tak lebih. Pertarungan tidak akan berakhir hanya dengan satu penguasa wilayah, yang terjadi akan sebaliknya, pertempuran yang tak mengenal kata usai. Semua akan terus seperti itu, terjebak dalam lingkaran kebencian dan dendam selama ada kekuatan yang dipertaruhkan. Benak Kagome.

Cukup dirinya, jangan ada yang lain.

Semua yang terjadi sangat menyakitkan. Kagome tidak ingin ada lagi yang mengalami nasib serupa dengannya. Semua perbedaaan yang jauh mencolok membuat kekejaman semakin menjadi-jadi. Youkai, manusia, dan hanyou. Sebesar apapun keinginannya untuk kembali bersama Sesshoumaru, tidak dapat mengalahkan harapan Kagome untuk sebuah persamaan. Walau ia tahu pasti, dengan sebuah persamaan pun dunia akan tetap selalu diselimuti oleh semua keserakahan dan keinginan keji para mahluk penghuninya.

Tapi, semua itu akan tetap lebih baik daripada apa yang terjadi sekarang. Kagome menginginkan sebuah dunia yang lebih baik. Tempat dimana ia dan Sesshoumaru dapat bertemu dan terikat oleh benang merah takdir yang tak terpisahkan. Sebuah kehidupan manis yang tak tersentuh oleh kekejaman secara langsung seperti yang mereka miliki sekarang. Bila Shikon itu dapat mengabulkan keinginan, maka itulah yang dipintanya sepenuh hati.

Shikon no Tama itu digenggamnya kuat-kuat dengan tangan kanannya. Kagome memejamkan mata seraya berdoa kepada para Kami-sama agar mendengar rintihan hatinya. Saat ia membuka mata, pandangannya mulai kabur, wajah Sesshoumaru tak lagi dapat dilihatnya dengan jelas. Ia mulai takut, dengan panik tangan kanannya meraba-raba wajah Sesshoumaru. Sedikit ketenangan membalut hati Kagome saat wajah sang kakak kembali disentuhnya.

Ia masih tergeletak, sekarat, Shikon no Tama bergeming. "Percuma, harapanku tidak terkabul" bisik Kagome lirih.

Pandangan Sesshoumaru terpaut pada Shikon yang digenggam segera beralih kepada Kagome, ketika tubuh pasangannya itu menggigil hebat. Dada Kagome naik turun dengan ganjil, susah payah ia memasukan udara ke dalam paru-parunya yang mulai terendam darah.

Air mata tak lagi dapat mengalir "Sesshou~maru..." suaranya tidak lagi jelas karena darah mulai naik ke kerongkongan dan tenggorokannya.

"Urgh..." Sakit yang dirasakan Kagome bagai hujaman ribuan pedang di seluruh tubuhnya. Ribuan pedang itu terhunus, merobek dagingnya dan mematahkan tulang-belulangnya. Tak lama pedang itu ditarik mundur sejenak hanya untuk dihunuskan kembali dengan bengis, dan itu terus berulang.

"Kagome.." Sesshoumaru membungkukkan tubuhnya agar bisa memeluk Kagome lebih erat lagi. Melihat orang yang dicintainya meregang nyawa membuat hatinya tercabik-cabik. Hati seorang Dai youkai yang dingin itu kini tenggelam oleh air mata darah.

Rasa sakit menyiksa yang dirasakan Kagome menghilang, kemudian digantikan rasa sakit dalam bentuk lain. Dingin. Tidak lama kemudian, ia tak lagi merasakan apapun di sekujur tubuhnya. Walau begitu, hati dan pikirannya belum sepenuhnya memudar. Keyakinannya sangat kuat. Kagome yakin mereka akan kembali bersama, suatu saat nanti. Bila mendung tak selalu setia pada hujannya, Kagome akan selalu setia menunggu Sesshoumaru. Perasaan yang dimiliki Kagome senyawa dengan aliran sungai yang akan selalu mengarah ke lautan, hanya untuk Sesshoumaru, di alam dan kehidupan manapun ia berada.

"Ki-ta akan kembali bersama.."

Sesshoumaru mengangguk kecil, "Aku akan selalu menemukanmu..."

Sesshoumaru membeku melihat senyum tipis yang terukir di wajah Kagome adalah awal dari perpisahan. Alunan detak jantung tidak lagi terdengar olehnya. Hembusan nafas terakhir wanita yang dicintainya telah terhenti. Tangan Kagome yang bersemayam di pipi Sesshoumaru terkulai lemas sebelum jatuh di atas tubuhnya. Tak ada lagi tangan hangat yang digenggamnya, tangan itu mulai dingin.

Sesshoumaru memandang wajah Kagome yang pucat, ia akan sangat merindukan senyum yang terukir di wajah manisnya. Takkan lagi ada suara indah yang memanggil namanya dengan lembut. Tidak ada lagi tawa pasangannya yang akan menghias hari-harinya. Tidak akan ada lagi pelukan penghantar tidur yang diberikan kekasihnya. Tidak ada lagi raga yang harus dijaganya. Cintanya telah hilang tenggelam dalam ketidakabadian.

Kehidupan secara perlahan namun pasti meninggalkan wanita yang amat dicintainya. Kedua alis Sesshoumaru bertautan, matanya terpejam kuat, ia meringis. Wajah Sesshoumaru membentuk ekspresi menahan sakit yang hebat. Saat ia membuka mata untuk menatap sang kekasih, kekecewaan dan penyesalan yang teramat dalam kembali tersirat di kedua permata safir emas miliknya. Kesombongan telah jauh meninggalkan seorang Sesshoumaru. Untuk pertama kalinya ia merasa sebagai mahluk lemah yang meniti takdir gubahan sang Kami. Tidak ada kata yang mampu mengurai apa yang dirasakannya saat itu. Sengatan perih di matanya berubah menjadi air yang mengalir di kedua pipi.

Sesshoumaru mengerang, "Kagome.." ia hanya dapat berbisik lirih dengan suara beratnya yang penuh dengan kesengsaraan.

Ia mengangkat jasad kekasihnya agar terlepas dari potongan bambu yang merenggut nyawanya. Tubuh tak bernyawa itu direngkuhnya erat. Sesshoumaru menenggelamkan wajah di bahu pasangannya. Tubuhnya berguncang dalam kesedihan yang dalam. Ia hanya dapat membisikkan nama Kagome berkali-kali diantara tangis dengan suaranya yang bergetar. Ia mengangkat kepala kekasihnya, Sesshoumaru mengelus wajah dingin itu dengan ujung hidungnya. Ia menarik nafas dalam-dalam, bagai ingin menyesap seluruh bau khas kekasihnya lalu menyimpannya rapat-rapat di dalam benaknya sebelum berpisah. Namun hanya bau kematian yang diciumnya.

Kata perpisahan yang terlintas di benaknya semakin membuat Sesshoumaru tenggelam dalam kesengsaraan. Ia terus memeluk jasad itu hingga sebuah kehangatan terasa di antara tubuhnya dan tubuh Kagome. Sesshoumaru mengendurkan pelukannya, bola empat arwah itu jatuh ke tanah di sisi kanan Kagome. Shikon no Tama itu mengeluarkan cahaya merah muda yang amat terang, hampir membutakan penglihatan. Dadanya naik turun oleh amarah. Ia memandang penyebab kematian orang-orang yang dicintainya. Shikon dan ramalan adalah penyebab segala tragedi di sekelilingnya.

Sang Dai youkai memandang bola kecil yang sangat dibencinya. Sesshoumaru menyandarkan tubuh Kagome di dadanya, tangan kanannya meraih Odachi yang tergeletak di tanah. Ia memicingkan matanya, dengan mantap Sesshoumaru menghunus Shikon no Tama dengan ujung pedang Odachi. Kesepian dan kehilangan yang menyiksa kembali merayap kedalam hatinya dan merasuki jiwanya. Genggamannya di Odachi terlepas.

Sesshoumaru memejamkan mata, ia kembali merengkuh mayat kekasihnya erat-erat untuk kembali tenggelam di dalam kedukaan. Disaat itulah cahaya terang benderang yang menyilaukan bersinar dari Odachi dan Shikon no Tama. Yang terakhir Sesshoumaru rasakan adalah kehangatan yang tak dapat dilukiskan. Kehangatan dan ketenangan yang menyelubungi hati dan jiwa. Tidak ada lagi setitikpun perasaan lara yang menodai jiwanya. Ia tenggelam di dalam kedamaian.

~.

Jauh dari bumi. Ketiga Kami yang berada di Takamagahara tertegun menatap takdir yang mereka gubah demi menuntaskan kekacauan yang mereka ciptakan. Dewa lautan dan badai hening melihat sebuah kolam yang menampakkan kejadian di bumi yang mereka pilih. Kejadian yang akan mengubah dunia seperti yang telah lalu, perubahan besar dengan sebuah pengorbanan yang tak kalah besar.

"Mereka berhak bahagia" suara Tsukuyomi terdengar berat.

Pilu.

Itulah yang dirasakan Bewa Bulan. Dia merasa sedikit bersalah karena membuat mereka harus melalui takdir semacam itu. Takdir telah mengikat bahkan sebelum semua mahluk di bumi dilahirkan. Mereka sangatlah lemah. Tak peduli sebesar apapun kekuatan youki dan reiki yang mereka miliki tetap saja mereka hanyalah pion yang digerakkan. Tanpa sadar mereka mengikuti garis takdir yang tertulis. Permintaan pada Shikon no Tama pun telah jauh ditetapkan. Lewat kedua kakak beradik itulah dunia baru kan tercipta.

Sebuah tragedi. Sang Dai youkai dan hanyou pembawa Shikon no Tama hanyalah proyeksi Izanagi dan Izanami.

"Takdir tidak lagi dapat dirubah, kekacauan yang telah diciptakan harus segera diselesaikan. Tidak ada cara lain" suara Amaterasu yang terdengar datar bergema.

Mereka bertiga kembali tercenung menatap sang Dai youkai yang meratapi jenazah pasangannya.

Amaterasu membalikkan badan, ia memunggungi Susanoo dan Tsukuyomi. Suaranya pelan saat berkata "Mereka akan bahagia, tapi tidak dikehidupan ini" kata-kata Amaterasu itu pula yang mengakhiri percakapan dengan kedua dewa lainnya.


E/N : Touch next for Epilog!