Disclaimer : I wish I do own Inu Yasha, but I don't. Inu Yasha belongs to Rumiko Takahashi-sensei!
Author's Note : Epilogue ini di posting berbarengan dengan Chapter 21 - Lacrimosa Dies Illa. Jadi untuk kalian yang belum tahu, bisa baca chapter itu dulu sebelum baca epilogue ini.
Sosok itu menggelengkan kepalanya, topeng tanpa emosi miliknya yang selama ini terpasang telah hancur berkeping-keping. Garis-garis kesedihan dan keputus-asaan telah tergurat diraut wajahnya yang rupawan. Suaranya serak dan berat saat berucap, "Bila kehilanganmu adalah ketakutan terbesarku, maka aku aku tidak ingin menaklukkan rasa takut itu. Aku tidak ingin menaklukan dunia bila dengan itu aku harus kehilanganmu, Kagome".
"TIDAK!" Kagome terbelalak, air mata masih mengalir dengan derasnya.
Kagome menatap ke sekeliling kamarnya yang temaram, dadanya naik turun dengan cepat. "Mimpi itu lagi" ucapnya parau, ia bangkit dari pembaringannya lalu menyandarkan badannya di kepala ranjang. Tangan kanannya menyapu rambut yang menempel di pipinya yang basah oleh air mata ke belakang kepalanya. Sejak beberapa minggu yang lalu Kagome mulai mengalami mimpi yang aneh.
Aneh dalam arti, mimpi itu seperti sebuah film yang berputar dan berlanjut di waktu-waktu tertentu. Mimpinya itu terasa sangat nyata. Semua bagai telah terjadi. Segala perasaan yang dirasakan di dalam mimpi menguasainya, indah, kelam, manis, dan juga kesedihan semua terasa sangat jelas dirasakannya saat terbangun dari tidur seperti yang terjadi pada malam ini.
Pada awalnya ia ketakutan, namun lama-kelamaan ia mulai terbiasa dan semakin penasaran dengan sosok pria yang ada di dalam mimpinya. Yang paling melekat di dalam ingatannya tentang sosok itu adalah tangannya yang dihiasi cakar tajam dan suara baritone yang dalam. Entah mengapa membayangkan suara yang ada di dalam mimpi itu selalu membuat hati Kagome tersayat. Hanya suaralah yang dapat diingat olehnya. Lebih dari hitungan jari ia berusaha tapi, sosok pria itu sendiri selalu kabur ketika ia mencoba untuk melihatnya dengan tegas.
Satu yang ia ketahui dengan pasti, sosok laki-laki yang dilihatnya bukan manusia. Kagome menghela nafas berat. Kata-kata sang kakek terngiang-ngiang di kepalanya.
Dahulu kala dunia dihuni tidak hanya manusia, tetapi juga youkai dan hanyou yang diciptakan bersamaan dengan penciptaan manusia. Ketiga Kami yang terlahir saat Izanagi menjalani misogi menciptakan mahluk yang mereka kehendaki. Amaterasu sang Dewi Matahari menciptakan manusia yang menguasai siang hari, Tsukuyomi sang Dewa Bulan menciptakan youkai, dan Susanoo sang dewa lautan dan badai menciptakan hanyou, percampuran dari youkai dan manusia.
Semua itu terjadi sebelum Susanoo turun dari Takamagahara dan tinggal di dunia. Youkai yang kalian kenal dan lihat dari film sangat jauh berbeda dengan aslinya, mereka bukanlah mahluk lemah. Bahkan ada gulungan yang menggambarkan mereka adalah penguasa wilayah Jepang kuno. Karena pertempuran dan kekacauan yang terus terjadi, maka Amaterasu dan kedua Kami lainnya memutuskan untuk merubah dunia dengan menggubah sebuah takdir.
Seluruh youkai dan hanyou menghilang tatkala sebuah permohonan disematkan pada Shikon no Tama. Tidak ada yang tersisa dari mereka. Gulungan kuno mengatakan bahwa kelak mereka akan terlahir kembali sebagai manusia. Karena perubahan besar itulah kita bisa menjalani hidup di dunia yang kita kenal selama ini, Kagome. Sebuah takdir yang harus kita percayai sebagai penganut ajaran Shinto.
Kagome kembali merebahkan tubuh di atas ranjang. Ia memejamkan kedua matanya kuat-kuat, mencoba mengusir mimpi yang masih melekat di ingatannya. Berusaha kembali tidur bukanlah sebuah pilihan untuknya, tidak ada lagi kantuk yang tersisa, kini ia telah terjaga seutuhnya. Youkai, dan hanyou itu tidak pernah ada. Aku harus berhenti mendengarkan cerita jii-chan. Nasehat Kagome untuk dirinya sendiri.
~.
Pagi yang cerah, seperti biasa Kagome makan bersama di satu meja dengan orang-orang yang sangat disayanginya, Souta, kakek, dan ibunya.
"Makan ini Kagome!" seru ibunya lembut selagi menyodorkan Tamagoyaki.
"Hai, Arigatou mama, aku akan memakannya" Kagome tersenyum.
Ibunya menyadari Kagome yang lesu pagi ini "Kau terlihat pucat Kagome, tidakkah kau sebaiknya beristirahat hari ini?" kekhawatiran tercurah disuaranya.
Kagome menggelengkan kepalanya, "Tidak ma, hari ini akan ada pameran penting. Sebuah koleksi baru peninggalan masa sebelum sengoku jidai akan melengkapi koleksi kami dan aku harus masuk hari ini. Lagipula aku hanya sedikit pusing karena mimpi buruk semalam"
"Kagome..." panggil ibunya lembut "Kita bisa membatalkannya bila kau mau" tatapan wanita yang telah melahirkannya itu begitu teduh.
Kagome menatap ibunya, ia mengerti yang dimaksud ibunya adalah acara perkenalan dalam perjodohan yang disebut omiai. Gadis yang besar di lingkungan kuil itu menggelengkan kepalanya dengan mantap "Tidak apa-apa mama" Ibu dan anak itu saling bertatapan untuk sesaat.
Hitomi tersenyum lembut, ia mengerti kegelisahan yang dirasakan putrinya. Dia tidak akan mendorong putri kesayangannya untuk hal yang tidak dapat memberikan Kagome kebahagiaan, karena dia adalah orang pertama yang akan bersedih bila sesuatu membuat air mata putri kesayangannya itu jatuh.
Seulas senyum terpampang untuk menyakinkan ibunya, sebelum ia kembali melanjutkan makannya. Bagi Kagome, ia tidak ingin mengecewakan kakeknya dan terlebih lagi ia tidak ingin mengecewakan ibunya bila menolak omiai itu. Ketiga orang yang makan bersamanya adalah orang-orang yang sangat dicintainya. Selain kesedihan ditinggal pergi sang ayah karena kecelakaan lalu lintas, sejak kecil tidak ada hal pelik yang terjadi di dalam hidupnya. Saat ini hidup Kagome hampir sempurna. Hampir, bila tidak ada perjodohan yang sebenarnya membuatnya sangat ketakutan.
Bukan karena Kagome telah memiliki sosok pria tambatan hati, tapi lebih karena ia tidak pernah memiliki ketertarikan kepada lawan jenis, tidak jua ia tertarik pada teman wanitanya. Mungkin itu pulalah yang membuat sang ibu khawatir lalu menerima usul sang kakek tentang omiai untuk Kagome.
Kegundahan yang dirasakan Kagome semakin menebal tatkala waktu yang disepakati kian menipis. Minggu depan ia harus menemui laki-laki itu, anak dari salah satu kenalan sang kakek. Tidak ada yang lebih menakutkan di sepanjang hayat Kagome lebih dari omiai. Sebuah kata 'perjodohan' pasti akan terdengar mengerikan hampir bagi semua perempuan di zaman modern ini, tak terkecuali bagi Kagome.
Walau begitu, ibunya berhasil menenangkan Kagome yang ketakutan. Beberapa waktu yang lalu wanita lembut nan penyayang itu berkata bahwa pertemuan itu hanyalah sebuah acara untuk saling mengenal, tidak lebih. Mereka tidak akan pernah memaksanya untuk melakukan sesuatu bila itu bertentangan dengan kehendaknya. Sifat keras kepala dan memberontak Kagome takluk oleh kelembutan sang ibu, pada akhirnya ia menyetujui acara pertemuan itu walau dalam hati ia sangat sangsi bahwa perkenalan itu dapat berlanjut ke suatu hubungan yang lebih dari sekadar pertemanan.
Terkadang ia mengira-ngira bagaimana rupa laki-laki itu, kepribadiannya, dan penampilannya. Tapi bayangan Kagome terhapus cepat karena teringat bahwa laki-laki itu adalah anak dari salah satu kenalan kakeknya. Teman-teman sang kakek yang diingat Kagome membuatnya membayangkan kandidat laki-laki yang akan ia temui itu adalah pria konservatif yang berumur lebih dari tiga puluh tahun. Kagome bergidik, ia ngeri membayangkan harus memaksa diri tersenyum di acara pertemuan itu nanti. Eri, Yuka, dan Ayumi pasti akan menjerit mendengar apa yang akan terjadi padanya. Diam-diam Kagome menghela nafas berat, kepalanya tertunduk lesu memandang nasi di mangkoknya.
"Hari ini akan sangat sibuk untukmu nee-chan?" tanya Souta yang sekarang sudah memasuki sekolah menengah atas.
Kagome tersenyum pada adiknya "Tidak terlalu sibuk tapi bolos kerja di hari ini sangat fatal Souta"
"Aku kira kau tidak suka tempat kerjamu seperti kau tidak menyukai cerita-cerita jii-chan"
Kagome dan ibunya tertawa saat sang kakek membela diri "Hati-hati dengan ucapanmu pria muda, itu bukan hanya sekedar cerita tapi sebuah sejarah".
Kagome memilih untuk menjawab pertanyaan Souta dan setengah hati mendengarkan ocehan kakeknya "Aku sangat mencintai pekerjaanku Souta, walau teman-temanku menganggap pekerjaanku itu sangat membosankan tapi tidak untukku"
"Dengarkan aku pria muda, semua itu benar-benar terjadi di masanya. Dan kalian beruntung, karena leluhur kita termasuk di dalam sejarah itu. Kita memiliki kuil ini secara turun-temurun. Kuil yang banyak menyimpan benda-benda bersejarah lain yang menjadi saksinya" kakek mereka berdeham sebelum melanjutkan.
"Salah satu yang terbaik yang kita miliki adalah Pedang Murakumo. Pedang berharga keluarga penjaga kuil yang diwariskan dari generasi ke generasi. Nama lain pedang Murakumo adalah pedang Kusanagi. Dengan kata lain, ini adalah harta berharga milik negara yang ada di dalam sejarah Kojiki dan Nihon Shoki. Pedang Murakumo adalah pedang magis yang ditemukan Kami Susanoo di tubuh Yamata no Orochi yang ia bunuh. Dan seperti itulah, ketenaran warisan yang kita miliki. Bahkan satu bulan yang lalu anak seorang pengusaha besar di Jepang menemuiku untuk sekedar melihat pedang Murakumo itu" pria tua itu menarik nafas panjang sebelum kembali melanjutkan.
"Pedang Murakumo adalah pedang yang hanya ditampilkan beberapa hari di dalam pameran setiap tahunnya. Pedang yang sangat berharga itu ditemukan oleh generasi nenek moyang kita yang terdahulu di dasar sumur tua kuno, ada sebuah gulungan yang menggambarkan kejadian tersebut. Gulungan itu ditemukan bersamaan dengan beberapa gulungan lainnya yang berisikan tentang keberadaan youkai yang lenyap seiring dengan munculnya Shikon no Tama yang terlahir bersamaan dengan seorang hanyou" Kakeknya Kagome terus berbicara, pembicaraan itu melebar tentang kekuatan reiki yang para miko dan kakeknya miliki itu benar adanya, kertas mantra yang ampuh, dan merembet ke berbagai hal mistis lainnya.
"Kau sebaiknya percaya itu nona muda, bahkan namapun sendiri diberikan karena keinginan leluhur Higurashi yang masa kecilnya pernah dirawat oleh seorang Dai youkai. Kagome, itulah nama yang diinginkan olehnya bila ada keturunan Higurashi yang berjenis kelamin perempuan" kakeknya menatap Kagome tajam sebelum mengalihkan pandangannya pada Souta "Dan kau pria muda, kau harus mulai belajar dari sekarang bila ingin menjadi penerusku kelak"
Souta hampir saja tersedak mendengar kata-kata kakeknya. "Shikon no tama?" Souta merengut "Shikon no Tama hanyalah cerita yang leluhur kita buat agar bola kaca kecil yang menempel pada gantungan kunci yang kita jual itu laku sebagai jimat kan kek?" Gerutu Souta, sedangkan Kagome susah payah menahan tawa.
Telinga kakek tua itu sedikit memanas mendengar celetukan cucunya yang paling muda, belum sempat ia menjelaskan lagi panjang lebar tentang barang berharga milik kuil perhatiannya sudah teralihkan oleh perhatian sang menantu.
"Kau harus mencoba acar ini shuuto" Hitomi menyodorkan semangkuk kecil acar kepada mertuanya.
"Hm, lobak ini mengingatkanku~" sang kakek hampir saja memulai sebuah kisah yang lain saat Souta berhasil memotongnya.
"Itu kan lobak pemberian nenek tetangga sebelah kan jii-chan?" Kagome dan Souta bertukar pandangan jahil sebelum tersenyum lebar melihat tingkah kakek mereka yang jengkel.
Setelah mereka selesai sarapan bersama, semua siap-siap memulai aktivitasnya masing-masing. Sang kakek akan mengurus kuil, ibunya akan sibuk seharian mengurus pekerjaan rumah, Souta berangkat sekolah dan Kagome siap-siap menuju tempat kerjanya. Hari ini ia mengenakan kaos tanpa lengan biru muda yang dimasukan kedalam flare skirt sedikit diatas lutut berwarna hitam, senada dengan warna blazer sepanjang siku semi formal yang dikenakannya.
Di usianya yang memasuki 20 tahun ia telah mandiri dan bekerja di Museum Nasional Tokyo, tempat koleksi benda-benda bersejarah dan kekayaan budaya Jepang berkumpul. Sebuah tempat yang wajib di datangi para pelancong yang bertandang ke Jepang. Berbanding terbalik dengan ketidakpercayaannya akan cerita sang kakek tentang mahluk-mahluk mistis seperti youkai dan semacamnya, Kagome sangat menyukai benda-benda warisan sejarah.
Tak seperti ketiga temannya yang masih bergelut dengan pendidikan, untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi bukanlah sebuah pilihan untuk perekonomian keluarga Kagome yang hanya ditopang dari pendapatan kuil. Untuk saat ini ia cukup puas dengan diploma yang diraihnya.
Meski terdengar membosankan Kagome menyukai pekerjaannya sebagai ahli arsip. Seperti nama pekerjaannya, tugasnya adalah mengurus arsip-arsip museum yang berupa, kertas, foto, dokumen, surat kabar, dan lainnya. Ia juga berhubungan dengan masyarakat untuk menanggapi permintaan penelitian yang diajukan.
Dan hari ini, ia harus membantu mempersiapkan pameran dari koleksi yang baru di datangkan. Dari yang ia ketahui dari arsip yang diurusnya, benda bersejarah berupa pedang itu awalnya koleksi pribadi yang dihibahkan oleh seorang kolektor seni yang tak disebutkan namanya.
Kagome telah tiba di gedung yang luas itu, sebelum ia masuk ke ruangannya ia selalu menyempatkan diri memandang sebuah lukisan yang dibuat oleh seniman bernama Kobayashi Eitaku pada tahun 1880. Lukisan tua nan indah itu terpajang di dalam kotak kaca di lorong bersandingan dengan beberapa lukisan berharga lainnya. Lukisan itu menggambarkan dua Kami terakhir yang terlahir di Takagamahara atau surga yang dihuni para Kami. Keduanya adalah dewa dan dewi yang memulai penciptaan dunia. Izanami no mikoto, dewi penciptaan dan kematian sedang berdiri di atas awan memandang lautan yang berada di bawahnya. Disamping sang dewi berdirilah sang kakak yang kelak menjadi suaminya, dewa Izanagi no mikoto.
Walau menurut Kagome kisah kedua Kami yang saling mencinta itu merupakan kisah tragis, entah mengapa lukisan itu begitu membuat hatinya tertambat. Di dalam lukisan itu, Izanagi sedang mengayunkan tombak yang dihiasi permata bernama Ame no nuboko, dari tetesan air di ujung tombak tersebut munculah Pulau Onogoro. Kedua dewa dan dewi itu turun ke Pulau Onogoro, dan menikah setelah keduanya mengelilingi dunia dari arah yang berlawanan. Setelah pengulangan pernikahan karena tata cara yang salah, pada akhirnya Izanagi melahirkan beberapa Kami dan delapan pulau yang menjadi bagian Jepang hingga saat ini.
Sang dewi tewas terbakar saat melahirkan dewa api atau Hi no Kagutsuchi. Kemudian Izanagi yang kesal karena istrinya tewas tega membunuh Kagu Tsuchi, anaknya sendiri. Sang dewa yang marah itu menyusul sang istri ke dunia bawah atau pulau kematian yang disebut Yomi. Disana, sang suami mendapati istrinya telah berubah menjadi mengerikan, karena itulah mereka tercerai-berai selamanya. Karena berpisah dengan sang istri yang amat dicintainya, Izanagi larut dalam duka yang mendalam.
Dari tangisan dan harapan sang Kami Izanagi itulah terlahir ketiga Kami baru. Ketiga Kami itu adalah Amaterasu sang dewa matahari, Susanoo sang dewa lautan dan badai yang terkadang juga disebut dewa angin, dan Tsukuyomi, sang dewa bulan. Ketiga kami yang paling banyak disembah saat ini. Miris, itulah yang dirasakan oleh Kagome.
Sebuah tragedi melahirkan dunia yang baru, dunia indah yang dikenalnya saat ini terbentuk oleh tangis dan harapan. Perlambang dari yin dan yang. Keduanya akan terus beriringan, saling melengkapi. Tangis dan harapan akan selalu bersenandung selama bumi masih berputar. Lamunan Kagome terhenti, ia melanjutkan langkahnya untuk mulai bekerja.
Bagi satu-satunya keturunan perempuan dari keluarga Higurashi itu, hari Selasa sebagai hari pertama pameran dari koleksi yang baru datang berlangsung amat cepat. Kagome berjalan menyusuri lorong di gedung utama museum. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, waktu telah menunjukkan pukul 16:45. Lima belas menit lagi waktunya museum untuk tutup. Kagome bergegas untuk pulang, tapi entah mengapa kakinya seakan mempunyai keinginan sendiri. Langkah kaki yang tak dikuasainya itu membawa Kagome memasuki gedung Hyokeikan, tempat benda bersejarah yang baru itu dipamerkan selama satu bulan ini.
Derap langkahnya bergema di ruangan yang minim suara, mata Kagome langsung tertuju ke tengah ruangan. Di dalam sana hanya tersisa beberapa orang yang sedang memandangi beberapa foto dokumentasi dari benda bersejarah yang sedang dipamerkan sisi ruangan. Koleksi terbaru milik museum itu berada di tengah ruangan, di dalam sebuah kotak besar yang diseluruh sisinya terbuat dari kaca yang cukup tinggi hingga hampir menyamai tinggi tubuhnya. Kaki Kagome semakin lambat melangkah, jantungnya berdentam tak karuan saat ia semakin mendekati kotak kaca itu. Kagome tahu dari arsip yang diurusnya bahwa benda bersejarah itu sebuah pedang, tapi dia sama sekali tidak menyangka akan apa yang dilihat olehnya saat itu.
Kagome terpana, dia tercengang, terkesiap, dan terbelalak. Kakinya terus maju hingga tubuhnya hampir menempel di kaca, kedua tangannya telah terangkat untuk menyentuh tapi urung. Benda yang disinari cahaya lampu kekuningan itu seakan memanggilnya, panggilan imajinasi itu seakan menerobos setiap celah hati yang ada di dalam dadanya. Tanpa Kagome sadari air mata telah keluar dari kedua manik indahnya, deras membasahi pipi. Ia bagai membatu di tempatnya berdiri. Kagome tidak dapat memalingkan pandangannya dari benda itu. Untuk beberapa menit lamanya dia membeku.
Peringatan penutupan museum yang menelusup di setiap ruangan melalui speaker telah menariknya dari keterpakuan. Kagome mengerjapkan mata, dengan segera menghapus sisa-sisa air mata di pipinya sebelum bergegas pergi dari tempatnya berdiri. Ia berjalan cepat, heran dan tak percaya oleh apa yang telah terjadi. Dia seperti tidak mempunyai kendali atas tubuh, otak, dan hatinya. Sepanjang perjalanan yang ditempuhnya dengan kendaraan umum menuju rumah ia tepekur. Kepalanya pening saat berusaha mencari jawaban atas yang terjadi. Untuk meraih jawaban saat itu sama saja berusaha memenuhi botol hingga tak ada cela yang tersisa dengan puluhan dadu, sangat mustahil.
~.
Lima hari telah berlalu sejak itu, minggu dan senin adalah hari libur Kagome. Dan di hari minggu ini adalah hari dimana acara pertemuan itu akan berlangsung, proses omiai. Berkali-kali di pagi itu Kagome menghela nafas berat. Dan lebih sering lagi beberapa jam sebelum makan siang disaat dia bersiap diri. Dibantu ibunya, Kagome mengenakan furisode terbuat dari sutra berwarna merah muda lembut yang bagian tepi dan bagian lengan yang memanjangnya itu di hiasi oleh taburan bunga yang berwarna ungu, kuning, dan merah. Furisode itu adalah hadiah dari ibunya saat Seijin no hi beberapa bulan lalu, perayaan menuju kedewasaan seorang anak.
Kagome mematut diri di cermin, obi berwarna cokelat tua sudah melilit pinggang rampingnya, bentuk tubuhnya telah tertutup. Ia duduk di depan meja rias, ia merias wajah selagi wanita yang telah melahirkannya sedang menata rambutnya. Wajah cantiknya sudah dilapisi pelembab ringan yang cocok untuk musim semi seperti saat ini.
Kelopak matanya sudah dihiasi eyeshadow berwarna champagne tipis-tipis. Begitupun bulu matanya yang sudah lentik dan panjang hanya dilapisi tipis maskara. Alis naturalnya hanya disikat dengan maskara bening. Kagome mengaplikasikan perona pipi berbentuk krim di pipinya agar memberikan efek dewy yang alami. Dan sentuhan terakhir, ia mengoleskan pewarna bibir berwarna natural pink di bibirnya. Secara keseluruhan penampilannya Kagome terlihat lembut, segar, dan manis.
"Kagome" suara ibunya memanggil lembut. Kagome mengangkat wajah memandang ibunya dengan pandangan bertanya. "Apakah kau..." ibunya belum menyelesaikan pertanyaannya saat Kagome menjawab.
"Aku baik-baik saja mama" ia tersenyum berusaha memastikan sang ibu.
"Apakah kau yakin tidak ingin melihat surat pengantar pria yang akan kau temui terlebih dahulu?" tanya ibunya.
Selama ini Kagome menolak melihat foto beserta surat pengantar yang berisi dokumen tentang profil pribadi penting yang dipersiapkan oleh kandidat laki-laki, informasi dasar seperti tanggal lahir, pekerjaan, hobi, hingga apakah dia anak pertama atau bukan. Tidak masalah bila sang kandidat menilainya dari surat pengantar tapi ia tidak ingin menilai seseorang dari profilnya lebih dulu sebelum bertemu dengan orangnya langsung.
Kagome hampir tertawa saat dia berpikir bahwa ia, gadis modern yang keras kepala akan mengikuti perjodohan seperti yang dilakukan oleh keluarga para samurai di abad ke-16. Pada zaman itu para orang tua perempuan menawarkan anak perempuan mereka kepada kandidat laki-laki yang terpandang agar dapat mempertahankan status dan nama keluarga.
Sebersit pikiran melintas dibenak Kagome, menawarkan anak perempuan? "Mama, apakah kau atau jii-chan yang mengajukan perjodohan ini?" ia akan sangat marah bila itu benar, Kagome tidak ingin ditawarkan kepada laki-laki manapun!
Tangan wanita berambut ombak yang sedang menata rambut Kagome terhenti, ia menatap putrinya dari cermin "Tidak" jawabnya mantap. "Tidak aku maupun jii-chan, Kagome" suaranya menenangkan, dengan itu ia melanjutkan menata rambut sang anak.
Kagome tidak punya alasan untuk tidak mempercayai ibunya, ia mengangguk.
"Kau sudah siap sekarang" ucap sang ibu dengan riang, matanya berbinar melihat hasil karyanya "Bagaimana menurutmu Kagome?" tanyanya.
Kagome menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk melihat bagian belakangnya. Rambutnya digelung rapi, poni masih membingkai wajahnya, beberapa jumput rambut dibiarkan tersisa di sisi wajahnya untuk memberikan kesan natural.
"Aku menyukainya" ungkapnya jujur "Arigatou, mama" ia tersenyum.
"Kau tumbuh menjadi gadis yang cantik Kagome" ucap ibunya sambil memandang Kagome penuh haru.
"Mama..." suara lemahnya ditelan oleh kebimbangan.
Kagome memang mempercayai ibunya, tapi jawaban sang ibu tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya. Bila bukan ibu atau kakeknya yang mengatur lalu siapa? Dari apa yang diucapkan ibunya tadi pagi hanya akan ada empat orang yang hadir dalam omiai itu, dia sendiri, ibunya, kandidat laki-laki, beserta ibu laki-laki itu. Tidak disebutkan adanya kehadiran Nakoda atau perantara disana seperti seharusnya ada dalam sebuah perjodohan.
Baru saja Kagome hendak menyuarakan pikirannya lagi saat itulah suara Souta terdengar beserta bunyi ketukan di pintu "Mama, nee-chan, taksinya sudah menunggu di bawah"
"Arigatou Souta" ucap sang ibu dengan riang "Kau sudah siap Kagome?" yang ditanya hanya mengangguk.
~.
Dentaman di dadanya menguat saat Kagome dan ibunya memasuki lobi sebuah hotel terkemuka tempat pertemuan itu diadakan. Mereka langsung menuju ke private dining room sebuah hotel di Shinjuku. Ruangan itu cukup besar, dihiasi lampu dengan sinar kekuningan. Di tengah-tengah ruangan terdapat satu meja makan besar bulat dengan perlengkapan makan lengkap dan empat kursi yang mengapit.
Satu bagian dinding ruangan itu dilapisi wallpaper hitam dengan bunga keemasan dan merah, dinding lain di hiasi cermin besar dan sebuah lukisan. Di sudut ruangan terdapat sofa memanjang tergeletak bersamaan dan di sudut dinding yang bersebrangan sebuah kursi dan meja oval kecil untuk minum teh tersedia. Secara keseluruhan ruangan itu terkesan lembut nan tenang dan sangat ekslusif.
Saat Kagome dan ibunya memasuki ruangan ia disambut dengan seorang wanita cantik memakai Tomesode, kimono resmi yang dikenakan wanita yang telah menikah berwarna hitam dengan tebaran bunga dengan warna merah keemasan di bagian bawahnya. Wanita itu berdiri, membalikkan tubuh untuk menyambut kedatangan Kagome dan ibunya dengan senyum ramah. Dua kata yang tepat menggambarkan wanita itu adalah cantik dan anggun. Rambut silvernya di gelung rapi, lipstik merahnya semakin mempercantik senyum di wajahnya yang seakan tanpa cela.
Kagome membungkuk dalam untuk memberi hormat kepada wanita anggun itu. Laki-laki berstelan jas abu-abu tua yang duduk membelakangi mereka kini juga berdiri dan membungkuk kepada ia dan ibunya, belum sempat Kagome mengangkat wajah ia kembali memberi hormat. Saat ia menegakkan tubuh, ibunya sudah menggiringnya untuk duduk. Kagome masih tertunduk, belum sempat melihat wajah sang kandidat laki-laki.
Tak lama setelah mereka duduk dengan nyaman, Kagome memberanikan diri untuk mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya sorot mata mereka bertemu, keduanya bertatapan lekat. Perasaan Deja Vu menyapu mereka berdua. Wajah tampan namun datar, rambut panjang keperakan membuat dada Kagome bergemuruh. Nafasnya tercekik tatkala iris keemasan yang hangat itu seakan menembus inti jiwanya.
'Apa yang telah kau berikan di hidupku tidak akan pernah dapat kulupakan, sangat berarti hingga tidak mungkin kuabaikan' suara parau wanita yang menghantarkan rasa sedih yang amat dalam terdengar dengan jelas di kepala Kagome.
Suara itu membawa efek yang besar bagi Kagome, hatinya seakan terpilin di dalam dada. Sakit. Kagome menunduk dalam hingga poni menutupi matanya. Detik berlalu, menit berselang, tanpa sadar waktu berjalan Kagome tetap seperti itu. Air mata hampir jatuh dari kedua mata tanpa ia tahu sebabnya, disaat itulah suara sang ibu menyadarkannya.
"~ ya kan Kagome?" suara lembut ibunya meminta persetujuan padanya.
Entah apa yang diutarakan ibunya Kagome hanya mengiyakan "Hai, mama" ia mengangguk sambil tersenyum kecil.
Sesshoumaru tidak sedetikpun mengalihkan pandangan dari wanita yang sudah sebulan ini dipikirkannya. Keindahan permata biru keabu-abuan dan wajah cantik itu bagai menghantui hari-harinya. Entah mengapa dirinya seakan terdesak oleh perasaan untuk melakukan sesuatu agar dapat menemuinya kembali. Sebuah pernikahan yang beberapa bulan terakhir ini dianjurkan sang ayah menjadi cara untuk menemui gadis itu lagi. Karena itulah Sesshoumaru mengusulkan untuk melakukan pertemuan pertama dalam omiai dengan gadis yang dipilihnya.
Gadis yang ada di depannya, bagai menariknya kembali ke dalam sebuah mimpi di malam-malam yang telah dilaluinya. Kedua pancaran manik itu seakan meluluhkan hatinya, wajah gadis itu dengan cara yang aneh dapat menghangatkan jiwanya yang selama ini terasa hampa. Seshoumaru merasa aneh, ia tidak mengerti. Perasaan yang dirasakannya kuat, namun ganjil. Gadis itu bagai telah lama dikenalnya, hanya senafas jauh dari dirinya, sangat dekat, laksana nyawa.
Kedua orang tua itu bercakap-cakap ringan, tanpa diketahui ketiga wanita disekelilingnya Sesshoumaru meneliti gerak-gerik gadis di hadapannya. Sedangkan Kagome hanya terdiam seperti yang seharusnya sebagaimana adat yang mengikat para perempuan dalam omiai, ia hanya menjawab ketika ibu Sesshoumaru bertanya satu, dua hal kecil.
Setelah perbincangan singkat yang menyenangkan antara ibu Sesshoumaru dan Hitomi, mereka berempat makan siang dengan menu terbaik yang disajikan. Obrolan ringan terus mengalir setelahnya untuk beberapa saat karena kedua wanita paruh baya itu cocok dalam perbincangan segala hal. Sepanjang waktu yang berlalu, keduanya bergelut dengan perasaan tak masuk akal yang mereka rasakan, baik itu Sesshoumaru maupun Kagome.
Mereka ditinggalkan berdua pada akhir pertemuan, ibu Kagome dan Sesshoumaru pulang lebih dulu. Setelah pertemuan dengan orang tua, biasanya calon pasangan akan pergi ke suatu tempat untuk dapat memulai obrolan ringan. Kini, tinggalah keduanya di ruangan itu dengan sedikit canggung, mereka duduk di sudut sofa yang bersebrangan. Kagome meremas jari-jarinya karena gugup, ia memaku pandangannya pada lukisan bangau yang tidak terlalu menarik di dinding.
Sesshoumaru berdiri, mendekatinya, ia menjulurkan tangan sambil berkata "Ayo" ajaknya.
Dengan jantung yang bertalu-talu dengan kencang karena mendengar suara baritone Sesshoumaru. Safir biru keabu-abuan itu menatap bola emas yang hangat dengan tatapan terpukau. Kagome meraih tangan itu lalu berdiri dengan kikuk. Saat tangan yang hangat itu digenggam, hatinya menjerit. Kini tidak hanya perasaannya yang tidak masuk akal tapi juga tingkahnya.
Kagome tanpa sadar mengutarakan apa yang ada di dalam jeritan hatinya "Kau menemukanku.." bisiknya lirih.
Alis Sesshoumaru sedikit berkerut "Hn?"
Kagome mengerjapkan mata, ia kebingungan, wajahnya memerah. "Ah tidak, maksudku, arigatou" Kagome memaksa diri tersenyum, untuk menutupi kecanggungannya. Apa yang terjadi padaku?
Sesshoumaru mendengar jelas walau kata-kata itu lirih terucap, tapi ia memilih untuk tidak menanyakannya selain tujuan mereka. "Kemana kau ingin pergi?" tanyanya dengan sopan.
~.
Musim semi telah berganti menjadi awal musim panas. Dua bulan telah berlalu sejak pertemuan pertama mereka. Semuanya berlangsung sangat cepat. Seminggu setelah pertemuan pertama, Sesshoumaru dan Kagome yang tertarik satu sama lain kembali bertemu tanpa didampingi kedua orang tua seperti sebelumnya. Kedua orang tua Sesshoumaru tidak mau berlama-lama menunggu, satu bulan kemudian mereka melangsungkan pernikahan.
Dan saat ini mereka berada di salah satu rumah peristirahatan milik keluarga Taisho di wilayah Tohoku yang berada di Utara Pulau Honshu. Sebuah wilayah yang terkenal dengan alam yang penuh warna, festival-festival yang semarak di musim panas yang singkat dan keramahan masyarakat yang tulus. Rumah peristirahatan tempat Sesshoumaru dan Kagome menghabiskan masa bulan madu mereka itu dikelilingi oleh alam, pohon yang berjejalan dalam hutan lebat di bagian belakang rumah, gemericik air di sungai yang berada tak jauh dari sana seakan melengkapi keindahan pemandangan yang didominasi warna hijau yang menentramkan.
Cahaya hangat sang surya menerobos masuk dari sela-sela gorden putih penutup pintu geser menuju balkon yang seluruhnya terbuat dari kaca. Kagome terbangun dari tidur lelapnya, ia membalikkan badannya yang berada di pinggir ranjang hingga terlentang. Ranjang itu besar tapi Kagome tidak ingin jauh dari pria yang baru hitungan belasan hari menjadi suaminya itu. Kasur itu bergoyang saat ia beringsut mendekat pada pasangannya, ia memeluk lengan kiri Sesshoumaru. Mereka memang menikah dengan jalur perjodohan, tapi mereka tetaplah hidup di zaman modern, mereka tidak terikat adat canggung untuk menunjukkan rasa sayang.
Kagome terpesona memandang wajah suaminya yang masih terlelap. Seperti ibunya, rupa eloknya hampir tanpa cela. Ia tersenyum memandang salah satu keindahan yang Kami-sama ciptakan. Mata Kagome menelusuri mata yang terpejam, alis yang membingkai. Pandangannya turun ke bentuk hidung Sesshoumaru dan bibirnya yang sempurna dengan keseluruhan wajahnya yang tampan. Kagome mengusir beberapa helai rambut yang bertengger di pipi kiri Sesshoumaru.
Pada saat itulah ia menyadari ada dua garis meruncing sangat samar di pipi suaminya. Garis yang hanya terlihat dari jarak yang sangat dekat itu seakan berada di bawah lapisan kulitnya. Kedua garis itu memang berwarna sama seperti urat nadi, tapi garis itu terlalu lebar bila dibandingkan dengan urat nadi. Apa yang dilihat Kagome hanya semakin membuat Sesshoumaru terlihat mengagumkan baginya. Ia memeluk lengan suaminya lagi kemudian mencium bahu Sesshoumaru. Tak disangka, kecupan itu langsung dibalas oleh sebuah kecupan di puncak kepala Kagome.
Ia mengangkat kepalanya agar dapat memandang suaminya, "Kau sudah bangun?" tanya Kagome riang.
"Hn" hanya itulah jawabannya, Sesshoumaru menatap safir abu-abu kebiruan itu dalam-dalam sebelum mendekatkan wajahnya kepada wajah istrinya.
Tangan besar Sesshoumaru berada di kepala Kagome, menuntutnya dengan lembut untuk mendekat. Bibir mereka saling bersentuhan, bertaut dengan sepenuh hati. Sebuah ciuman yang dalam, manis, dan penuh perasaan lebih baik daripada ucapan selamat pagi dalam bahasa apapun. Belaian lembut di kepala sanggup menggantikan kata-kata cinta yang paling romantis sekalipun.
Ciuman berakhir, mereka sedikit berjauhan hanya agar dapat memandang satu sama lain dengan baik. Sorot mata Sesshoumaru yang lembut hanya mengingatkan Kagome pada tatapan ganas Sesshoumaru saat peraduan cinta mereka tadi malam. Panas menyebar di pipi Kagome hingga ke leher dan telinganya, ia menunduk. Sudut-sudut bibir Sesshoumaru terangkat ke atas melihat rona di wajah istrinya, dengan mudah ia dapat menerka apa yang dipikirkan pasangannya.
"Kagome" panggilnya.
"Hm" baru saja Kagome mengangkat wajah, Sesshoumaru sudah melayangkan kecupan di bibirnya.
Kagome semakin tersipu setelah Sesshoumaru menarik diri, ia membenamkan wajah di lekuk leher suaminya. Tangan kiri Kagome memeluk dada bidang suaminya, dan tangan kanan Sesshoumaru memeluk lengan kiri pasangannya. Beberapa lama waktu berlalu dalam kesunyian yang nyaman. Tangan kanan Sesshoumaru bergerak lembut naik turun membelai lengan Kagome.
Kagome tidak pernah menyangka takdir dengan cepat membawanya pada posisi saat ini, madu. Ia tidak pernah mengira akan menikah di umurnya yang baru menginjak kepala dua, terlebih lagi ia tidak pernah menduga bahwa calon suaminya adalah Sesshoumaru, seorang pengusaha muda yang memiliki rupa yang dapat membuat semua wanita jatuh cinta. Diluar itu semua, yang sangat disyukuri oleh Kagome dari Sesshoumaru adalah sifatnya yang penyayang dan perhatian.
Sifatnya itu tidak diucapkan tapi tersirat dari perbuatan Sesshoumaru. Selain dari perbuatan Kagome juga dapat merasakan kehangatan yang terpancar dari permata emas suaminya. Mata itu pula yang seakan menghipnotisnya, membuat Kagome merasakan Deja Vu. Tidak sekali atau dua kali ia seakan tenggelam dalam dunia yang berbeda saat memandang iris keemasan yang hangat itu. Emas itu selalu menghantarkannya pada perasaan aman dan nyaman. Sesshoumaru bagai semesta yang ia temukan lagi di dalam hidupnya. Karena itulah terkadang Kagome tidak dapat berhenti berpikir apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?
"Ano, Sesshoumaru..." Kagome ragu saat melanjutkan pertanyaannya "Aku tahu aku pernah menanyakan ini sebelumnya tetapi..."
"Katakanlah" perintah suaminya, tangan Sesshoumaru meremas pelan lengan kiri Kagome sebelum kembali membelai lembut.
Kagome membalikkan badannya hingga telungkup, dengan kedua siku ia menumpu tubuhnya yang setengah telanjang. "Aku hanya.." kedua alis Kagome bertemu di tengah, "Aku hanya merasa aneh, itu saja. Kau terasa sangat familiar bagiku"
Pandangan Sesshoumaru tidak lepas dari wajah istrinya, hal-hal kecil seperti bibirnya yang sedikit berkerut saat Kagome berpikir keras seperti saat ini sudah membuatnya terpukau, walau itu tidak ditunjukkannya baik dengan ucapan maupun ekspresi wajah.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" baik suara dan air muka menunjukkan keseriusannya "Dan jangan hanya menjawab 'mungkin' seperti di pertemuan pertama kita dulu" nada Kagome sedikit mendesak.
Sejenak Sesshoumaru menimbang-nimbang "Kau tidak menyadari keberadaanku saat pertemuan pertama kita?"
Kagome menggigit bibir bawahnya, "Rasanya tidak masuk akal bila aku tidak menyadari kehadiranmu" Sosok sepertimu akan dengan mudah membuat orang lain berpaling dan tercengang untuk waktu yang tidak sebentar, rambut silver yang panjang, dan rupa yang menawan tidak akan mudah dilupakan seseorang.
"Aku pernah datang berkunjung ke kuil keluargamu untuk berusaha membeli pedang Murakumo" Sesshoumaru meneliti raut wajah istrinya.
"Oh jadi kau yang dibicarakan kakek waktu itu" ucap Kagome lebih kepada dirinya sendiri.
"Hn"
"Tapi aku tidak melihatmu saat itu.." bibirnya mengerucut imut.
"Kau sedang sibuk memberikan jimat kepada para pengunjung lain yang datang"
Sebuah pemikiran terbersit di kepala Kagome "Apakah setelah itu kau dan kakek..." lagi-lagi ia ragu "membicarakan omiai?" ia tahu bahwa pihak Sesshoumarulah yang mengajukan omiai, fakta itu sendiri bisa masuk dalam kejadian langka yang nyata seperti dongeng Cinderella yang sukar tuk dipercaya.
"Tidak ada pembicaraan omiai saat itu" jawab Sesshoumaru dengan lugas "Tidak setelah pertemuan kedua"
Bodoh! Kagome mengutuk dirinya sendiri. "Tentu saja tidak mungkin ya kan?" Ia tertawa kecil, sebelum jawaban Sesshoumaru membuat pikiran lain muncul di benaknya "Pertemuan kedua?" tanyanya heran.
Pria itu tahu, istrinya terkadang tak ubahnya seorang anak kecil yang tidak akan puas bila seluruh pertanyaan yang bergelimang di otaknya belum terjawab. Karena itu Sesshoumaru memilih untuk memberi apa yang diinginkan pasangannya, ia menjawab dengan suara datarnya "Kedua kali aku melihatmu saat pedang yang ayahku temukan baru-baru ini dipamerkan di museum nasional tempatmu bekerja Kagome"
Pedang? "Maksudmu pedang misterius yang hingga saat ini tak diketahui namanya itu?"
Sesshoumaru menggangguk kecil, tangannya mengusir beberapa helai rambut yang menghiasi wajah Kagome. Sesshoumaru tidak akan pernah melupakan saat itu, mendung menggelayuti wajah manisnya, safir biru keabu-abuan milik Kagome tergenang oleh air mata, raut wajahnya seakan menahan sakit yang teramat sangat.
Semenjak itu Sesshoumaru seakan haus untuk mengenalnya, ia sekarat untuk menemuinya lagi. Kagome seakan menyita seluruh pikirannya sepanjang waktu, tidak pernah ia tertarik pada wanita melebihi ketertarikannya kepada Kagome. Ia tahu ketertarikan yang dirasakannya ganjil. Sangat ganjil dan tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata.
Tidak hanya suamninya, Kagome pun tenggelam di dalam lamunan. Ia memikirkan pedang yang dilihatnya pada saat itu. Pedang itu tertancap di sebuah batu yang cukup besar, bilah yang terlihat masih sangat mengkilat, tidak ada karat atau semacamnya. Kali pertama ia melihatnya beberapa bulan yang lalu pedang misterius itu seakan merasukinya, mengambil alih kemampuan untuk mengontrol tubuhnya ketika ia melayangkan pandangan.
Tapi, yang paling menganggu pikirannya adalah apa yang ada pada genggaman pedang tersebut. Sebuah pahatan batu yang menyerupai potongan tangan manusia. Lengan itu sedikit diatas siku, dua buah garis yang melancip di ujungnya terlihat jelas di pergelangan tangan, jari-jari tangan itu mempunyai kuku panjang yang meruncing bagai cakar.
Bila itu patung, maka patung batu berbentuk lengan itu ciptaan terbaik manusia dalam seni pembuatan patung batu. Sangat mustahil membuat patung batu semulus itu pada jaman sengoku jidai. Belum lagi bukti yang dapat terlihat di pedang itu, jelas itu adalah peningalan kuno sebelum masa sengoku jidai. Tapi bila bukan? Tidak ada jawaban yang terlintas di kepala Kagome selain berhubungan dengan cerita-cerita yang pernah diutarakan kakeknya, dan jawaban itu tidak termasuk pilihan jawaban yang ia ingin percayai.
"Chichihue menemukan pedang itu tidak jauh dari sini"
"Benarkah?" nada Kagome naik satu tingkat. "Bisakah kita kesana nanti?" matanya bersinar dengan keriangan.
Mau tak mau Sesshoumaru tertular oleh semangat pasangannya "Perjalanan kita ke Maruyama kuno hari ini batal?" Sesshoumaru bertanya balik dengan nada suara dinginnya.
"Itu bisa menunggu" nada suara Kagome sedikit manja.
Sesshoumaru menatap pasangannya "Benda-benda bersejarah itu selalu membuatmu bergairah ya kan?"
Panas mulai merambat ke pipi Kagome "Berhenti menggodaku!" ia berpura-pura merengut.
"Kau terlalu menarik untuk tidak digoda" masih dengan nada yang terkesan dingin. Mata Sesshoumaru menjelajah ke bawah leher Kagome.
Menyadari tatapan suaminya Kagome berusaha mengalihkan perhatian "Apa yang kau inginkan untuk sarapan?"
Tanpa berpikir panjang Sesshoumaru menjawab "Kau" tangan kanannya membelai sisi kepala Kagome dengan lembut.
Kagome mengacuhkan jawabannya "Aku akan membantu obaa-chan mempersiapkan sarapan"
Kagome mengeluarkan suara memekik yang imut saat dia hendak bangun dari kasur, tapi kedua lengan Sesshoumaru sudah melingkari tubuhnya. Sekarang Kagome setengah telungkup diatas dada Sesshoumaru. "Tetaplah disini" bisik Sesshoumaru dengan suara baritonenya yang selalu berhasil membuat Kagome merinding untuk alasan yang lain selain takut pastinya.
Kagome tahu maksud pasangannya, karena itu ia mengacuhkan permintaan suaminya. Bukan karena ia tidak mau, hanya saja ada kebutuhan manusiawi lain yang cukup mendesak yang akan menghancurkan waktu bermesraan dengan suaminya bila ia tidak segera bangkit dari kasur dan pergi ke kamar mandi. Kagome balik bertanya "Apakah tubuhku berat?" tanya Kagome jenaka.
"Tidak berat, sedikit menekan iya, tapi tidak terlalu berat" jawab pria berumur 25 tahun itu.
"Tekanan, hm..." gumam Kagome sebelum mulai mengoceh panjang lebar berusaha mengalihkan pikiran pasangannya "Tahukah kau bahwa tekananlah dasar dari keseimbangan galaksi, begitupun dengan pasang surut laut, air yang mengalir, angin yang berhembus, mekanika seluruh sendi tubuh manusia, mulut yang berbunyi, dan banyak lagi," Kagome mengikik kecil saat melihat kedua alis Sesshoumaru berkumpul di tengah.
Dari semua racauan istrinya hanya dua contoh terakhirlah yang tersangkut di kepala Sesshoumaru, alisnya berkerut saat mekanika seluruh sendi tubuh dalam bentuk gerakan sensual istrinya terbayang dan bunyi lenguhan seksi dari mulut Kagome saat bercinta yang membuatnya terbakar di dalam. Sorot mata Sesshoumaru kini menusuk dengan gairah. Satu tangannya meraih belakang kepala Kagome lalu menariknya untuk memulai sebuah ciuman panas di pagi hari. Bibir mereka bertautan, lebih dalam, dan panas dibandingkan dengan yang sebelumnya. Ciuman Sesshoumaru itu penuh dengan bara hasrat.
Kagome menarik diri, ia terengah-engah memasukkan udara ke paru-parunya. Kagome tersenyum kikuk dibawah tatapan suaminya yang tajam "Tidakkah kau lapar?" tanyanya.
Tangan Sesshoumaru menyibak kebelakang rambut Kagome yang terurai di kedua sisi kepalanya kemudian ia menangkup wajah istrinya "Lapar yang kurasakan tidak akan pernah dapat kupuaskan Kagome" ucapnya sungguh-sungguh.
Tak pelak lagi, kata-kata Sesshoumaru membuat wajah Kagome memerah hingga ke leher dan kupingnya. "Sesshoumaru~" panggil Kagome dengan nada manja.
Sesshoumaru menggeram. Dia suka sekali mendengar saat Kagome menyebutkan namanya, tapi dengan nada imut dan manja seperti itu suara istrinya tak ubahnya sebuah tombol turn on untuk menaikan hasratnya. Kedua tangan Sesshoumaru bergerak turun ke punggung, terus ke bawah, lalu terhenti di pinggang sang istri.
"Aku minta waktu sebentar" dengan itu Kagome bergegas lari ke kamar mandi.
Sesshoumaru yang jengkel hanya menghela nafas lalu bangkit dari tidurnya lalu duduk di pinggir ranjang. Kagome keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan selembar handuk putih, ia meneliti suaminya yang duduk di pinggir ranjang. Tubuhnya bidang, tidak terlalu kekar tapi terlihat kokoh. Rambut silver panjangnya terurai indah membingkai rambut dan bahunya yang tegap. Dan yang paling membuat Kagome susah menelan ludah adalah hanya ujung selimut putih tipis yang menutupi bagian pribadi suaminya. Dengan ragu-ragu Kagome berjalan mendekat.
Tidak ada model laki-laki yang berpose hampir vulgar di majalah cosmopolitan milik Yuka yang dibacanya dapat mengalahkan level menggairahkan yang Sesshoumaru tampilkan. Tidak pernah ia mengira ketakutan ibunya dari keanehan yang dimilikinya dapat membawa dirinya kepada situasi seperti ini, mimpi manis. Bila saja ia tertarik kepada cinta sedari dulu mungkin ibunya tidak akan menerima anjuran sang kakek agar ia mengikuti omiai dan ia tidak akan bertemu dengan Sesshoumaru.
Lamunan Kagome buyar ketika Sesshoumaru melewatinya saat ia sudah berdiri dekat ranjang, kali ini ia yang ditinggal pergi ke kamar mandi. Apakah ia marah? Tanya Kagome dalam hati. Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal, ia menggelengkan kepalanya tuk mengusir prasangka. Bila suaminya marah, ia akan mencari cara nanti agar Sesshoumaru mau memaafkannya.
Kagome mengeluarkan beberapa potong pakaian dari lemari yang akan ia kenakan hari ini, lalu disampirkannya di sofa. Walau sudah masuk musim panas tetap saja cuaca di Tohoku terlalu dingin di pagi hari, Kagome memutuskan untuk mandi setelah sarapan. Baru saja ia mengenakan sepasang pakaian dalam berenda yang berwarna hitam ketika sebuah tangan besar melilit perutnya dari belakang.
Kagome terkesiap saat tubuh besar Sesshoumaru yang hangat sudah memenjarakannya. "Apa yang kau lakukan?" bisiknya di telinga Kagome.
Susah payah Kagome melawan rasa tergelitik untuk menjawab suaminya "Bersiap-siap" jawabnya dengan mata terpejam. "Kita akan ke tempat yang kau janjikan setelah sarapan kan?" imbuhnya.
Dengan tangan yang bebas Sesshoumaru mengusir rambut Kagome ke satu sisi bahunya agar ia bebas menyerang leher pasangannya itu dengan kecupan dan gigitan kecil. "Itu bisa menunggu, Kagome" suara Sesshoumaru mulai berat oleh hasrat.
Tangan Sesshoumaru berpindah, dengan mudah ia melepaskan kaitan di punggung Kagome yang membelenggu kedua gundukan indah milik kekasihnya itu. Semua rambut kecil di tubuh Kagome berdiri saat Sesshoumaru membelai punggungnya dengan lembut dari leher hingga ke pinggangnya dengan gerakan yang teramat pelan.
~.
"Apakah masih jauh?" tanya Kagome.
Sekarang mereka telah jauh dari jalan awal yang mereka telusuri, jalan yang berlika-liku di sepanjang ngarai yang sungainya sebening kristal telah jauh di belakang mereka. Kagome, Sesshoumaru dan Tsukiyomi semakin dalam menyusuri hutan lebat di bagian kecil Aomori. Walau ia dengan senang hati melahap keindahan alam yang dilukiskan sang pencipta, tetap saja kakinya mulai menjerit walau ia mengenakan sepatu lari yang nyaman.
"Sebentar lagi kita akan sampai nak" jawab Tsukiyomi. Wanita tua ramah yang memimpin perjalanan mereka di hutan itulah yang sudah bertahun-tahun mengurus rumah peristirahatan milik keluarga Taisho di Tohoku.
Kagome mengeluarkan sebuah botol air mineral dari dalam tas ransel kecilnya, dengan segera cairan itu mendinginkan kerongkongannya yang panas karena telah berjalan jauh. Dengan punggung tangan ia mengelap peluh di keningnya. "Obaa-chan, apakah kau tidak lelah?" tanya Kagome, langkahnya terhenti.
"Jangan khawatirkan aku nak" jawabnya ramah. "Aku malah akan sakit bila tidak banyak bergerak" wanita renta itu tersenyum tulus kepada Kagome.
Sesshoumaru pun menghentikan langkahnya sebelum menoleh. "Apakah kau lelah?" tanya Sesshoumaru, wajah dan suaranya tetap datar tapi Kagome dapat mengenali perhatian yang terkandung di dalamnya.
Ransel berisi onigirazu, handuk kecil, dan kamera ia tumpukan diatas kedua kakinya. Kagome membuka jaket, lalu mengikatkannya di pinggang. T-shirt putih yang ia kenakan mulai lembab oleh keringat setelah berjalan setengah jam lamanya. "Sedikit" jawabnya sambil menjulurkan botol yang digenggamnya pada Sesshoumaru.
Sesshoumaru meraih botol itu "Sebentar lagi kita akan tiba Kagome" dengan tangan lainnya ia menggandeng tangan istrinya.
Panas menyebar di wajah Kagome saat tangan besar yang hangat itu menuntunnya. Tanpa ada kata lagi yang keluar ia mengikuti langkah Sesshoumaru. Jalan yang mereka lewati terlihat sama saja bagi Kagome, tapi Tsukiyomi yang tak jauh di depan mereka berjalan dengan mantap menyusuri hutan tanpa jalan setapak, terlihat sangat mudah bagai menyeret jari diatas garis telapak tangannya sendiri. Lagi-lagi nenek itu membuat Kagome kagum.
"Ano, apakah ini masih termasuk tanah yang ayahmu miliki?" Kagome menoleh ke kanan dan ke kiri, hutan luas seakan tak berbatas.
"Hn"
Ia mendongak, pepohonan tinggi menjulang seperti hendak meraih kaki langit. "Apa yang akan ia lakukan dengan tanah yang sangat luas seperti ini?"
"Pada awalnya chichihue akan membangun sebuah hotel disini. Ia sangat menyukai rumah peristirahatan yang kita tempati saat ini, dan ia ingin orang lain juga menikmati keindahan alam sekitar daerah ini yang sangat ia kagumi" kalimatnya terhenti, ia menunggu pertanyaan lain dari Kagome. Karena tidak ada pertanyaan lain yang dilontarkan kepadanya ia melanjutkan "Rencananya, hotel itu akan menjadi hotel yang menjanjikan bagian hutan yang belum terjamah dan pemandangan indah dari sudut lain Danau Towada" sambungnya.
Kagome mengangguk kecil.
"Karena penemuan pedang itu, pembangunan dibatalkan" Sesshoumaru menjelaskan dengan sabar.
"Lalu, bagaimana kalian bisa menemukan pedang itu?" Kagome hampir saja terjatuh lantaran kakinya tersangkut oleh akar pohon yang menonjol dari tanah.
Sesshoumaru melayangkan tatapan yang seakan bertanya 'Apakah kau tidak apa-apa?' menjawab itu Kagome berkata "Aku akan lebih hati-hati lagi" lalu ia tersenyum kecil.
Sesshoumaru memperkecil langkahnya, agar sang istri dapat mengimbanginya. "Tanpa sengaja, saat ayah dan orang-orangnya menyusuri lahan yang akan dibangun" Sesshoumaru meremas tangan istrinya "Disana" ia menunjuk deretan pohon bambu yang berjejer rapat dengan daun rindang dari bagian bawah hingga atas pohon.
Pohon-pohon bambu yang berjejer itu akan sukar dilewati bila tidak ada tali tambang tebal di deretan tengah yang mengikat beberapa pohon bambu hingga membentuk celah yang dapat dilewati oleh mereka. Kagome pernah melihat tempat ini, dari arsip yang diurus olehnya. Tempat mereka menemukan pedang misterius itu. Tsukiyomi sudah lebih dulu melewati celah itu. Dengan semangat yang berkobar kini ia yang menarik tangan Sesshoumaru.
"Ayo Sesshoumaru" ajaknya dengan antusias.
Pohon-pohon beech besar digantikan oleh ratusan batang pohon bambu yang berderet di hadapannya. Matahari tepat di tengah kepala tapi hanya sedikit sinar matahari yang dapat menyinari tanah karena daun yang lebat di bagian atas menghalangi. Berbeda dengan jejeran pohon bambu yang menyerupai pagar yang pertama mereka temui tadi, hutan bambu tempat Kagome berada saat ini renggang, dedaunan hanya lebat dibagian atas, tapi kosong di bagian bawah. Dan itu memudahkan mereka berjalan diantara pohon-pohon ramping itu.
Hanya beberapa puluh meter dari tempat mereka masuk tadi, mereka telah sampai di tempat pedang itu ditemukan. Sebuah area tidak terlalu besar itu kosong dari pohon bambu, hanya ada cekungan cukup besar di tanah bekas batu yang tertancap pedang itu berasal. Selain lubang di tanah itu, tidak ada hal lain yang dapat ia lihat. Kagome duduk sembarang di tanah, ia bersyukur mengenakan celana cropped jeans berwarna abu-abu tua bukannya rok pendek seperti yang biasa ia kenakan.
Pandangannya terpaku pada tanah coak yang terlihat biasa saja. "Apakah waktu itu hanya pedang itu yang ditemukan Sesshoumaru? Maksudku, tidakkah kalian menemukan sarungnya? Bila ada pedang pasti ada sarung ya kan?"
"Tidak" jawab suaminya cepat.
Kagome kembali larut dalam renungannya "Mungkinkah ada di sekitar sini?"
"Chichihue pun berpikiran sama, tapi tidak ada yang lain yang ditemukan"
"Arigatou, nak" Tsukiyomi duduk di samping Kagome, ia meraih botol air mineral yang ditawarkan anggota baru keluarga Taisho itu.
"Sayang sekali..." gumam Kagome.
"Sampai sekarang aku tidak habis pikir, mengapa pedang itu baru ditemukan sekarang?" Tsukiyomi bagai berbicara kepada dirinya sendiri.
"Benar juga" Kagome tertegun.
Sesshoumaru diam tapi mendengarkan, ia pun berpendapat seperti Kagome. Bagaimana mungkin penduduk desa sekitar tidak lebih dulu menemukan pedang itu, bila dilihat dari Tsukiyomi yang sangat mengenal seluk-beluk hutan yang ditelusurinya Sesshoumaru yakin banyak penduduk lain yang sepertinya.
"Pedang itu seakan tidak ingin ditemukan sejak dulu" ia terhenti sejenak, memindahkan cairan yang berada di botol ke dalam kerongkongannya yang terasa kering. "Sebenarnya masih banyak yang tersembunyi di daerah ini nak, hanya saja mungkin itu tidak ditakdirkan untuk ditemui oleh kita, manusia" Tsukiyomi mengelap sudut mulutnya dengan lengan haori yang dikenakannya. "Tidak banyak yang tau bahwa tak jauh dari sini terdapat tempat yang akan menolak kedatangan manusia" imbuhnya.
Kalimat terakhir yang diucapkan oleh nenek itu membuat rasa penasaran Kagome kembali mencuat "Apa maksudmu dengan tempat yang menolak kedatangan manusia baa-chan?"
"Di ujung jalan ini akan ada sebuah deretan pohon bambu besar, siapapun yang melewatinya akan kembali ke sisi ngarai di pembukaan hutan yang kita lewati tadi" jeda sejenak "Tidak ada yang pernah berhasil melewatinya dan menemukan apa yang ada di dalamnya"
Kagome menoleh kepada wanita tua yang duduk di sebelahnya, mata Tsukiyomi menerawang jauh ke depan. "Benarkah obaa-chan?" mata Kagome berkilat dengan keantusiasan.
"Aku ingin melihatnya" Kagome menoleh kepada Sesshoumaru "Bolehkah?" pintanya. Sesshoumaru mengangguk, Kagome hampir saja memekik senang tapi batal saat Tsukiyomi dengan susah payah mencoba berdiri dari tanah.
"Ayo nak, kuantar kau kesana" ajak wanita ramah itu.
"Kau sebaiknya istirahat dulu baa-chan" kekhawatiran melingkupi raut wajah Kagome.
"Aku tidak apa-apa" nenek tua itu tersenyum.
"Apakah kau yakin?" tanya Sesshoumaru.
"Ya tuan muda" jawab wanita yang seumuran dengan kakek Kagome itu tanpa ragu.
Sebuah anggukan dari anak pertama keluarga Taisho menjadi tanda untuk melanjutkan perjalanan mereka. Semakin dalam ketiganya menembus masuk ke hutan bambu itu, cahaya yang menyinari jalan mereka semakin sedikit. Suasana suram yang merundung dan semangat yang menggebu-gebu membuat detak jantung Kagome bertambah cepat. Setelah berjalan beberapa belas menit lamanya suara Tsukiyomi memecah keheningan.
"Kita telah tiba"
Di hadapan mereka berderet pepohonan bambu yang besar-besar bagai pagar hidup tinggi, tua, namun kokoh yang berdiri dengan pongah. Pohon-pohon bambu itu dihiasi dedaunan rimbun dari bawah hingga atas. Tidak ada celah yang terlihat sekilas pandang. Buih-buih rasa penasaran berubah menjadi riak, perasaan dahaga akan keingintahuan semakin membuncah di dalam diri Kagome dan Sesshoumaru. Wanita tua nan bijak itu berpaling untuk memandang pasangan muda di belakangnya.
Mengerti akan arti tatapan sang pemandu Kagome dan Sesshoumaru bertukar pandang. Kagome tersenyum "Ayo" ajaknya.
Dengan itu, Tsukiyomi menyibak dedaunan lebat di celah yang memungkinkan dilewati diantara kedua pohon bambu dengan batang terbesar. Satu kakinya melangkah masuk sebelum disusul yang lain, dedaunan yang rimbun kembali di tengah celah sehingga menutupi pandangan Kagome dan Sesshoumaru akan keberadaan sosok wanita tua yang memandu mereka. Tanpa ragu Kagome mengikuti jejak Tsukiyomi, ia memejamkan mata saat dedaunan lebat bambu itu diterobosnya.
Kagome membuka mata setelah berhasil melewati celah itu, baru berjalan beberapa langkah ia membatu di tempatnya berdiri. Sesshoumaru berhenti di samping Kagome, mereka berdua tercengang. Tidak ada Tsukiyomi sejauh mata memandang, padahal mereka hanya terpaut beberapa detik di belakangnya. Di hadapan mereka sebuah tanah lapang yang cukup luas terbentang dikelilingi oleh deretan pohon bambu besar bagai membentengi tempat itu.
Takut dan ganjil adalah perasaan yang mereka berdua mereka rasakan saat itu. Jantung yang berdetak seakan melewati batas maksimalnya. Mereka seakan tertarik pada dunia lain yang tidak asing. Tanpa ragu Kagome melangkah perlahan, ia seakan tertarik mendekat ke tengah-tengah tanah lapang itu, tempat dimana sebuah onggokan batu besar berada. Semakin kakinya mendekat, semakin nafasnya tercekat. Yang dilihatnya bukanlah batu biasa tetapi patung batu.
Susah payah ia menelan ludah, lututnya terasa lemas oleh semua keanehan yang tiba-tiba terjadi dan semakin tubuhnya lemah tatkala ia mencermati bagian terbawah patung batu yang hanya beberapa langkah darinya. Patung batu itu persis seperti yang menempel pada pedang misterius yang ditemukan oleh ayah Sesshoumaru, terlihat sangat halus, dan terukir dengan detail yang menakjubkan. Kimono, hakama, dua pedang asli tersampir di obi terbentuk dengan sangat indah.
Pandangan Kagome bergerak naik, sangat mudah untuk melihat dua sosok yang terpahat. Sesosok laki-laki berlutut memeluk wanita yang terbaring memejamkan mata. Disamping wanita itu tergeletak sebuah pedang yang panjangnya melebihi pedang rata-rata. Kagome berlutut di samping patung itu, ia dapat dengan jelas melihat garis muka keduanya.
Rasanya ia pernah melihat wajah itu. Raut wajah yang dipenuhi dengan penderitaan yang mendalam, entah mengapa ia merasa sedih. Dadanya naik turun, matanya terbelalak saat potongan mimpi kelam yang akhir-akhir ini menghiasi malamnya kembali berkelebat. Mengikuti nalurinya Kagome mengangkat tangan untuk menyentuh wajah patung itu.
Saat tangannya bersentuhan itulah kesadarannya seakan ditarik paksa saat ingatan-ingatan kehidupannya di masa lalu menerobos ke setiap inchi di sel-sel kelabunya. Ibunya yang seorang miko, pertemuannya dengan Sesshoumaru, Rin, Jaken, ibu Sesshoumaru. Dan harapannya pada Shikon no Tama akan dunia yang baru tanpa perbedaan antara youkai, hanyou, dan manusia.
Sesshoumaru mendekati Kagome yang berlutut. Tak pelak, ia pun terpana oleh apa yang terhampar. Perasaan ganjil kembali menyelimutinya. Rasa pedih yang menyengat hati tak dapat ditolaknya. Dadanya seakan berat oleh rasa yang tidak tertahankan. Keheranan Sesshoumaru buyar ketika pasangannya mengeluarkan bunyi tarikan nafas yang kuat. Kagome membungkuk, kedua tangan berada di atas tanah, tubuhnya berguncang hebat.
"Kagome" panggil Sesshoumaru dengan lembut.
Kagome terkesiap saat Sesshoumaru menyentuh lembut bahunya. "Sesshoumaru..." Kagome memandangnya dengan air mata yang masih berderai. Ia tersenyum di sela isak tangisnya "Sesshoumaru..." ia menangkup wajah suaminya.
Sesshoumaru khawatir melihat perubahan sikap pasangannya yang drastis "Kagome, apakah kau tidak apa-apa?"
Kagome memeluknya dengan erat, hampir menyakitkan bagi Sesshoumaru. "Ini kau! Benar-benar kau!" tangan Kagome mencengkram kuat baju di punggung Sesshoumaru. "Kita bersama lagi" suara Kagome serak oleh tangis yang lantang, dia sesengukan "Kami-sama memberikan kesempatan kedua kepada kita"
Sesshoumaru menggenggam kedua lengan Kagome, lalu menariknya menjauh agar ia dapat melihat wajah istrinya yang basah oleh air mata. "Ada yang tidak beres dengan tempat ini. Ayo, kita harus segera pulang!" serunya, Sesshoumaru sudah menarik tangan Kagome untuk pergi tapi Kagome menolak.
"Tunggu!" raut wajah Kagome berubah sedih "Sesshoumaru, apakah kau tidak mengingatnya?" Kagome kecewa karena Sesshoumaru tidak dapat mengingat kehidupan mereka yang telah lalu.
Sesshoumaru tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Kagome, yang ia tahu istrinya seakan hilang akal setelah ia memasuki tempat aneh ini. "Kagome..." kedua alis Sesshoumaru terpaut di tengah wajah.
"Kumohon.." nadanya putus asa, bibirnya bergetar saat kesedihan menyeruak di dada Kagome.
Sesshoumaru meremas lembut tangan Kagome, sorot mata yang diberikannya prihatin. Kagome tahu apa artinya itu, hanya dia yang mengingatnya. Dia berpikir keras mengapa hanya ia yang mengingat semua itu. Jawaban muncul saat ia menunduk dan melihat dirinya dan Sesshoumaru yang membatu.
"Kumohon sentuhlah" mata Kagome beralih ke patung batu itu "Setelah itu aku bersedia pulang denganmu Sesshoumaru"
Rahang Sesshoumaru mengeras, entah mengapa ia tidak menyukai apa yang saat ini dirasakannya. Kebimbangan yang hebat. Pada akhirnya ia mengikuti kemauan kekasihnya. Ia menyentuh bahu patung pria itu. Apa yang dirasakan Kagome pun dirasakan olehnya. Dia tersapu oleh gelombang ingatan kehidupannya yang lampau.
Tidak semenitpun yang terlewat. Setiap nafas di hidupnya yang hampa sebelum pertemuan mereka, gelora hidupnya yang berwarna setelah kehadiran Kagome, dan bagaimana ia merana karena kepergian kekasihnya. Semua ingatan indah itu bercampur menjadi satu dengan kehidupannya yang sekarang, keduanya sangat terang dan jelas. Sekuat mungkin Sesshoumaru menahan gejolak yang menyengat hingga matanya terasa perih.
Mereka saling pandang, dada Kagome masih kembang kempis oleh gemuruh perasaan yang tak terbendung.
"Kagome..." suara Sesshoumaru bergetar.
Kagome terdiam, menunggu dengan penuh harap.
"Sudah kubilang kalau..." suara baritonenya semakin berat oleh emosi "Aku akan selalu menemukanmu.." dengan itu Kagome menghambur kedalam pelukan Sesshoumaru. Tidak ada sesal dengan hidup yang dimiliki Sesshoumaru saat ini, menjadi manusia hanyalah anugerah baginya bila itu dapat membawanya kembali pada wanita yang dicintai sepenuh hati.
Mereka saling merengkuh dengan erat bagai nyawa mereka bergantung pada pelukan itu. "Iya, kau menemukanku. Mulai saat ini kita akan selalu bersama" Kagome tertawa dalam tangisnya, senyum menghiasi wajahnya yang berurai air mata.
Semua ingatan terekam jelas namun tidak ada setetespun dendam dan kesengsaraan dari kehidupan lampau mereka yang tersisa mencemari hati. Hanya rasa dahaga akan cinta yang mereka miliki pada masa lalu yang bertahan. Tidak ada lagi perbedaan yang menyakitkan saat bintang mempertemukan. Mereka tidak lagi terjerat dalam hubungan yang terlarang. Mimpi-mimpi yang mereka miliki tidak lagi berbenturan dunia yang kelam, cinta yang mereka miliki tak lagi bertabrakan dengan dendam. Kini Sesshoumaru dan Kagome hanya akan terikat oleh benang merah takdir manis kehidupan. Mereka akan menjalani sisa hidup dalam kebahagiaan dan kedamaian.
~FIN~
End Notes : Gw sepenuhnya sadar gak akan bisa memuaskan seluruh reader, dan memang gak akan ada yang bisa memuaskan seluruh pembaca bahkan untuk penulis sekelas Andrea Hirata_yg sangat gw kagumi_sekalipun. Tp, gw berusaha keras untuk itu. Dan maaf kalo masih ada reader yg kecewa dengan ending BHT setelah penantian berminggu-minggu lamanya. Sekali lagi maaf dan terima kasih banyak.
Penderita MPD/DID aslinya gak sadar (blackout) saat tubuh mereka diambil alih, DID Kagome di chapter 21 itu murni untuk efek dramatisasi. Kalo penasaran cek di youtube, Sybil Remake 2007 utk ngintip bagaimana yang penderita DID alami saat alter egonya mengambil alih. Cukup 5 mnt pertama utk tertarik.
Bagi kalian yang belum kenal dan penasaran bisa nge-google ttg dua Kami (dewa) kakak beradik Izanagi dan Izanami, begitu juga dengan ketiga Kami lainnya.
Penjelasan tentang pedang Murakumo disini diambil dari penjelasan kakek Kagome di InuYasha the movie 3.
Terima kasih yg sebesar-besarnya utk ; Kenozoik Yankie, Noname, Kimeka, Winahime, Moku-chan, Tamiino, Qiqielnisa, Dedeqseokyu, Amuto, INOcent Cassiopeia, Azuma Sarafine, Ryuki Akira, WhiteLD, HazelBlonde, Nana, Reader, Alynda B, Kayki, Zahra, What's your name, Juniper, Shawn, Alpha Sessho, Keicitoko, Hannah, Hye soo, Mycat, Birgy, Huria, Keiko-chan, Benang merah, BHT-fans, Fanfana KIXute, Silent readers, Deryl, ToriTori, Virli, Antaka, Reiko, Hanare Shippuden, Sasuhina69, Gianna Fiarta, Mitsuo Ai, Himaneka fiiii, Noctis FF, flo, Shiro, SakuraH20, untuk semua guest, silent readers, dan readers yang lainnya. Best Regards for you guys.
BHT mungkin akan berhenti di tengah jalan kalau ga ada kalian, dan thanks to nyokap gw yg udah beliin laptop_walau percuma diomongin disini XD
Oh ya, utk semua reader dan author yg kebetulan baca fic ini dan suka SesshoKago, gw cuma mau bilang gw harap bisa baca fic indo SesshouKago lainnya yg kalian tulis :'(
I do write for my self. Jadi tinggalkan review hanya bila kalian berkenan, hehe. But, it would be very nice to know your thoughts wether it's good or bad :)
Kalau ada apapun yg mau dikeluarin atau ditanyain jgn ragu" utk pm gw.
Once again, for all readers i'd like to say, Minna saiko arigatou *deepbow*
With love
Ame to ai^.~
