"Love? I Don't Care About It"
BoBoiBoy © Monsta / Animonsta Studios
Story And Idea By IntonPutri Ice Diamond
Genre : Romance And Dll... XD
Warning : OOC gak nahan, EYD gak beraturan, Sok bisa bahasa Inggris padahal masih SMP, Alur kayak macet di Jakarta XD , Slow Update, And Sorry kalo ada kata yang tidak mengenakkan (dikarenakan untuk kepentingan cerita)
. . . . . . . . . . . . . . . . . . .
~HAPPY READING~
. . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Salju kembali turun di langit kota London. Menambah suhu dingin dan membuat orang ingin segera bergelung di dalam selimutnya yang tebal juga hangat.
Namun, butiran-butiran salju yang dingin itu tidak mengubah suasana di antara pemuda beriris merah yang tajam dengan gadis berhijab merah muda. Keduanya bungkam dengan wajah terkejut sambil saling menunjuk satu sama lain. Mungkin kalau mereka sedang dilukis, lukisan mereka sudah jadi sekarang.
"Tch," Sang pemuda memalingkan wajahnya. "Kau rupanya.."
"Oh, syukurlah.. Kau masih ingat padaku rupanya." Sang gadis tersenyum manis layaknya gulali.
"Kau kira aku pelupa apa? Kalau aku tau kau yang aku selamatkan tadi, lebih baik aku memasang earphone saja dan duduk manis di taman daripada bertaruh nyawa." Iris rubynya menatap remeh gadis berkerudung di hadapannya.
"Ya ampun... Kau kejam sekali."
"Biarin."
"Ngomong-ngomong, kau ingat namaku kan?"
"Tentu. Kau Yaya, gadis yang sengaja menabrakku tadi pagi supaya bisa kenalan denganku kan?" Sang pemuda –Halilintar– melipat tangannya di depan dada bidangnya sambil memasang ekspresi angkuh.
"S-sengaja menabrakmu?!"
"Iya lah.. kau tentu saja sengaja."
"Hei! Aku benar-benar tidak melihat kau ada di depanku!" Yaya meninggikan nada bicaranya.
"Jadi tubuhku transparan? Begitu?" Yaya hanya menjerit kesal di dalam batinnya. "Aaahh... kau benar-benar menghabiskan waktu santaiku.."
"Maafkan aku, tuan yang sok dan kerjaannya hanya bersantai saja.." Yaya memandang Halilintar dengan tatapan kesal sekaligus mengejek. "Jadi, karena kau itu sudah jadi hero kesianganku, bolehkah aku tahu namamu, Tuan?"
"Hei! Berhentilah memanggilku tuan! Aku tidak se-tua itu... Namaku Halilintar, kau bisa panggil aku Hali."
Yaya terdiam. Sesaat kemudian, wajahnya berubah. "Pfftt.. Ha-Halilintar? Uph.. Ahahahaha! Ibumu ngidam apa sih sampai memberimu nama yang anti mainstream begitu? Ahahaha!"
"Hei!" Halilintar memberi deathglare andalannya. "Ya, ya... kau bisa tertawa sepuasnya, Nona Yaya.. Tapi, sayangnya aku punya kepentingan lain sekarang." Halilintar berbalik dan berjalan menjauh dari Yaya dengan wajah menahan marah.
"Kepentingan lain? Maksudmu kepentingan dengan kasur di kamarmu? Ahahaha!"
Halilintar tampak tak menggubris Yaya dan terus berjalan menjauhi Yaya. Walau dalam hatinya ia ingin menjambak jilbab yang Yaya kenakan sih...
Tapi, entah kenapa rasanya ada yang mengganjal jauh di lubuk hatinya yang gelap. Seolah-olah gadis itu... seperti merangkak masuk dan membawa masuk setoples kunang-kunang yang akan ia lepaskan pada saat yang tepat nanti...
Yah... kita tak tahu apa yang akan terjadi nantinya.
Apa mungkin penjaga hati Halilintar akan membiarkan kunang-kunang itu terbang bebas ataukah Yaya justru akan dibasmi dan diusir jauh-jauh dari hati Halilintar sebelum hal itu terjadi?
Kita tunggu saja nanti...
Dan untukmu Halilintar, tunggulah tanggal mainmu nanti!
*o~O~o*
Hari minggu. Yah, paling tidak hari ini Halilintar bisa jalan-jalan merilekskan diri.
Kamar sudah rapih, menu sarapan nanti sandwich sajalah, sudah wangi, mantel sudah 3 lapis, dan dompet dengan sejumlah uang di dalamnya sudah ada di kantong. Sekarang si iris ruby sudah siap melangkah keluar sarangnya (?).
Sepatu kets hitamnya melangkah dengan gagah di tengah salju yang turun tak terlalu deras, hanya sedikit-sedikit. Ia mampir ke sebuah toko untuk membeli sandwich setelah membeli kopi panas. Kaki-kakinya melangkah ke taman dan duduk di sebuah bangku panjang.
"Kau kemana saja sih daritadi?!" Seorang pemuda beriris gold tiba-tiba sudah duduk di sebelah Halilintar. Dari mana dia muncul?
"...Bisa tidak, kak Gempa tidak merecoki aku untuk sehari saja?"
Gempa hanya terkekeh pelan, "Alololo~ Kau imut kalau marah."
"Kakak.. jangan buat aku mempraktekkan jurus karateku sekarang."
"Eh?" Gempa langsung terdiam. "Kau dingin sekali sih. Aku kan hanya mau minta tolong kau ke toko BakeLon buat ambil kue tiramisu pesanan aku doang."
"Lah, kok aku?"
"Ehehehe.." Gempa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Aku ada rapat mendadak hari ini.. Sedangkan kuenya harus diambil hari ini. Jadi, tolong ya Hali~"
Halilintar hanya mendengus pelan sebelum akhirnya mengangguk setuju. Sedangkan Gempa hanya melonjak kegirangan.
Perlu ku beri informasi sedikit disini, bahwa toko BakeLon (Sumpah ini ngarang) yang berada di London ini adalah toko kue yang sangat terkenal akan rasa kuenya yang enak namun membuat suatu kue dengan terbatas dan hanya menerima pesanan dari jauh-jauh hari.
Karena itulah, Gempa sampai bela-belain minta tolong sama adeknya yang super dingin itu.
Dan sebagai adik yang baik, Halilintar nurut aja mah.
"Inget ya, kuenya harus utuh."
Halilintar kembali mengangguk.
Dan juga perlu kau ketahui, bahwa Gempa adalah anggota salah satu organisasi besar yang terkenal dan anggotanya hanyalah orang-orang terpilih saja. Gempa bahkan dapat undangan untuk masuk ke dalam organisasi tersebut.
Memang, bakat berorganisasi Gempa itu sudah mendarah daging. You know lah, di Ff lain dia selalu jadi Ketua OSIS kan?
"..."
"..."
"Kak Gempa.."
"Hm?"
"Aku mau nanya dikit nih."
"Nanya apaan?"
"Kenapa sih rambut kita ada yang warna putih satu helai?"
"..."
"Kak?"
"...Maaf dek, kita gak boleh spoiler disini. Tunggu yang Galaxy-nya aja."
Lah, kok melenceng gini sih?
Readers jadi kecewa.
Dark Readers bersumpah gak akan ngereview.
Bahkan Author pun gigit rambut.
Oke, ini mulai absurd...
*o~O~o*
Sang abang sudah lari kayak komodo ke halte bus 15 menit yang lalu. Sedangkan sang adek masih betah duduk-duduk cantik di taman.
Satu tegukan terakhir sudah ia ambil. Kini ia tampaknya sudah siap untuk menuju toko kue terkenal se-London tersebut.
Begitu sampai, Halilintar memasuki toko kue tersebut. Ia disambut aroma kue yang menggugah seleranya dan juga Author yang baru aja makan nasi goreng.
Segera saja Halilintar mengambil kue pesanan Gempa dan segera keluar setelah memberi uang yang diberikan Gempa sebelum ia lari terbirit-birit tadi pagi.
Halilintar si pangeran es melewati gang sepi (lagi). Ia berhenti dan menatap box berisi kue tiramisu pesanan kakaknya yang terus mengeluarkan aroma sedap. Air liur Halilintar meluber keluar dan lidahnya menjilat air liur yang keluar.
Dibukanya box kue itu perlahan-lahan...
Perlahan-lahan tapi pasti...
Dan nampaklah kue tiramisu yang menggoda iman seorang Halilintar.
Setan dan malaikat imajiner Halilintar muncul, membisikkan rayuan yang searah dengan pikiran dan nasihat yang searah dengan hati.
"Wah.. kuenya kayaknya enak tuh. Kamu juga belum kenyang kan?" Setan berwarna merah dan hitam mini terbang di sebelah kepala Halilintar.
"Jangan! Gempa udah bilang kuenya harus utuh!" Malaikat putih mini dengan lingkaran di atas kepalanya terbang di sisi yang berlawanan dengan sang setan.
"Eleh, Gempa gak galak kok."
"Tapi, Gempa itu kakakmu!"
"Ya terus kenapa? Harusnya dia gak marah sama adeknya Cuma gara-gara kue doang kan?!"
"Tapi yang beli kuenya siapa? Hayo?!"
"Ya ampun, Cuma sepotong aja.. Cuma nyicip doang.."
"Hmm... boleh juga."
Dua makhluk mini itu kemudian menghilang. Kini tangan Halilintar hendak mengambil sepotong kue tersebut.
Semakin dekat...
Perlahan tapi pasti...
DEG!
Tiba-tiba angin berhembus dingin di dekat Halilintar. Tangannya refleks menutup kembali box kue itu.
Ada perasaan bahaya yang terasa. Semakin dekat dan semakin kuat.
Dari arah belakangnya...
Halilintar berbalik dan menemukan seorang pria dengan pakaian serba hitam dan topi juga syal hitam tengah mengacungkan sebuah pistol yang dipasang peredam ke arah Halilintar. Mata ruby itu terbelalak sempurna kemudian tertutup rapat, seolah pasrah akan apa yang akan terjadi.
"Aku menemukanmu."
"TIDAK!"
DZIIINNGG!
Halilintar terkejut mendengar suara seorang wanita sesaat sebelum pelatuk ditarik. Ia semakin terkejut saat menyadari yang terkena timah panas itu bukanlah dirinya, melainkan...
"YAYA!"
-Yaya.
Gadis berhijab merah muda itu merentangkan tangannya sedangkan tubuhnya memunggungi Halilintar. Ya, ia sedang melindungi Halilintar.
Tubuh ramping sang gadis ambruk dan langsung ditahan oleh Halilintar. "Yaya! Bertahanlah!"
"Tch! Dasar pengganggu." Pelaku penembakan kabur begitu pelurunya salah sasaran.
"K-kau Ti-tidak a-a-apa?"
"Kau bodoh! Kenapa kau...?!"
Yaya hanya tersenyum, "Syukurlah.." Mata hazel itu kemudian tertutup sempurna.
"Yaya?! Yaya! Ugh..!" Dengan segera, Halilintar menggendong Yaya ala bridal style dan segera berlari untuk mencari taksi.
"Hospital! Hurry! (Rumah Sakit! Cepat!)"
Sang supir – yang ketakutan – langsung tancap gas menuju Rumah Sakit London.
*o~O~o*
"I'll pay you later. Wait here. (Aku akan membayarmu nanti. Tunggu disini.)"
Dengan secepat kilat, Halilintar membawa Yaya masuk ke dalam Unit Gawat Darurat. "Doctor! Please help me! This girl has shoted! (Dokter! Tolong aku! Gadis ini telah tertembak!)"
Langsung saja Yaya dibaringkan di salah satu ranjang beroda dan pernapasannya dibantu dengan alat pernapasan oksigen.
"Sorry sir, are you her family member? (Maaf tuan, apa anda anggota keluarganya?)" Salah seorang suster yang membawa sebuah papan dengan kertas di atasnya menghampiri Halilintar.
"Yes, i'm her husband. (Ya, aku suaminya.)" Halilintar – sangat – terpaksa berbohong.
"This girl has shoted at her stomach, and the bullet must be take away from her stomach right now. Or her life in danger. The decision in your hand, sir. (Gadis ini tertembak di perutnya, dan pelurunya harus di angkat dari perutnya sekarang juga. Atau hidupnya dalam bahaya. Keputusan ada di tanganmu, tuan.)"
"Yes, do anything as you can provided that her life will be save. (Ya, lakukan apapun yang kau bisa asalkan hidupnya akan selamat.)"
Suster itu kemudian berlari kecil ke arah ranjang Yaya. Kemudian ranjang Yaya didorong menuju ruang operasi.
"Sir, can i know her name and your name? (Tuan, bolehkan aku tahu namanya dan namamu?)" Suster yang tadi kembali lagi.
"Her name is Yaya, and my name is Halilintar. (Namanya Yaya, dan namaku Halilintar.)"
Suster itu kemudian mengangguk kembali, "You can pay for the surgery cost in the administration section now. (Kau bisa membayar biaya operasi di bagian administrasi sekarang.)"
"Yes. (Ya.)"
*o~O~o*
1 jam telah berlalu. Operasi Yaya belum juga selesai.
Halilintar sudah membayar semua biaya operasi dan kamar rawat untuk Yaya, juga tak lupa taksi yang mengantarnya tadi. Maklum, keluarga Boboiboy termasuk keluarga yang sukses.
'Oh iya, kak Gempa harus dikabarin nih..' Segera Halilintar merogoh saku celananya dan mengambil smartphone hitamnya. Ia lalu menekan kontak bernama 'Kak Gempa'.
"Halo kak?"
[Ya, halo? Ada apa?]
"...Kak Gempa pesan saja kue yang baru."
[Eh?]
"Aku akan membayar semuanya. Sudah ya." Langsung saja Halilintar memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
'Kak Gempa gak perlu tau aja deh.'
Lalu, dari ruang operasi Yaya keluar seorang dokter berpakaian hijau dan juga masker hijau.
"The surgery success. Miss Yaya can move to treatment room now. (Operasinya sukses. Nyonya Yaya bisa dipindahkan ke kamar rawat sekarang.)"
"Thank you, doctor. (Terima kasih, dokter.)"
Ranjang beroda dengan Yaya berbaring di atasnya segera didorong ke kamar yang telah di booking Halilintar.
Setelah memindahkan Yaya ke ranjang rawat, para dokter dan juga suster yang membawa Yaya keluar dari kamar rawat tersebut, meninggalkan Halilintar dan Yaya.
"Kau memang benar-benar bodoh, Yaya.." Halilintar langsung memegang dahinya yang berdenyut. "Untuk apa kau melindungi orang yang bersikap menyebalkan padamu?"
Halilintar mendekat ke Yaya yang sedang tertidur pulas, "Kau juga sudah membuatku..." Perlahan Halilintar menggenggam tangan Yaya dengan lembut.
"Mencintaimu, Yaya..."
*o~O~o*
To Be Continued
Buahahahaha akhirnya update jugaaa~ XD Terbengkalai Ff ini...
Maaf ya,aku telat update gara-gara aku akhir-akhir ini sibuk latihan paduan suara buat 17-an. Ditambah capek pulang sekolah, ide mandet, males...
And.. kita balas Review dulu~!
-Kagayaku Mangetsu-Chan
Ihihihi... begitulaaahhh~ XD Makasih banget kak! Ya ampun, repot-repot deh kak Yaku fav sama foll -3- Reviewnya makasih ya kak~
-ahsilAfrei
Ini sudah lanjut. Ya mungkin cerita ini kalah manis sama kamu.. iyaaa kamuuu~ /digepak
Makasih dukungan dan reviewnya kak~
-EruCute03
Udah lanjut kok. Makasih udah review~
-Vanilla Blue12
Ini kak Annisa kan? Kan?! Namamu lucu kak XD Kayak rasa pop es /digampar
Ini udah lanjut qaqaa XD Makasih udah Review~
-Nakamoto Yuu Na
Iya nak, tebakanmu bener :D
Ini sudah lanjut. Makasih reviewnya~
-Chikita466
Oooh iya ya ya ya *angguk-angguk*
Makasih banget sarannya~ Uuuh repot-repot deh kakak X)))
Makasih atas dukungan dan juga reviewnya ya~
-Rampaging Snow
Yap, itu Yaya.. ini dah lanjut. Makasih reviewnya~
-Meltavi
Woke kak ;) Aku juga suka cinta di London XD kayak ada manis-manisnya gitu~
Sebenernya juga sih.. Bahasa Inggrisku ini bisa dibilang amburadul XD Tapi sudah saya kasih terjemahannya kok.
Makasih loh atas semuanya~!
-Iliara
Waduh, sampe ngereview 3 kali X))))
Ini sudah lanjut. Makasih reviewnya~
-wrkshtt
Oooouuuuhhhh Yeaaaaaahhhh~! /plak
Thanks for your review~
-tasha
Haha.. kan? Favorit pairing aku ni~ *mula berlagak*
Terima kasih dah review~
-siti wulandari
Ini sudah lanjut. Makasih udah review~
Iya~ Makasih dukungan dan reviewnya~
-DINDA
Wah, seru ya? Aku kira malah ngebosenin XD Ini sudah lanjut, makasih reviewnya~!
-ENDRI MASTER OF DARK DRAGON
Hmm.. iyakah? Aku tak rasa macam tu pun...
Thanks dah review~
-Fitzal21
Oke gan. Makasih reviewnya gan XD
Eh, hati-hati. Jangan senyum-senyum sendiri XD nanti dikira orgil loh~ /ditendang
Makasihh udah review~
Nah, udah kejawab semua kan? Hehe
Setelah ini aku akan fokus nulis Strong and Soft dulu. Aku mau bocorin juga kalau pairing yang aku buat di situ adalah ApiYaya XD Maaf ya, soalnya HaliYa udah kebanyakan. Pairing yang itu kan rare banget. Sekaligus sifatnya pas buat tokoh Raja nanti, kejam dan suka bersenang-senang.
Oke, kebanyakan bacot deh..
Jadi... Mind To Review? OwO
