Happenstance
Cast
~ Byun Baekhyun
~ Park Chanyeol
~ Kwon Liu
~ Kwon Ailaa
~ and other
A/N : Walau view-nya menurun drastis, author harap, author tetap bisa semangat melanjutkan fanfict ini..
Author berterima kasih kepada chingudeul yang udah mampir karena mau menyempatkan diri untuk membaca karya author yang mungkin -sangat- jauh dari kata sempurna. Gomawo all.. #bow
Dan author juga lebih berterima kasih sama chingudeul yang udah review/follow/fav karena mau berbaik hati untuk mengapresiasi fanfict author yang biasa-biasa ini. #big hug
.
Previous Chapter
.
.
"Jadi begini.." Liu memandang Ailaa.
"Kami merasa kasihan dengan ikan di ponsel Baekkie oppa.."
Firasat Baekhyun sudah tidak enak.
"Dan kami berusaha membantunya.. Bukankah ikan-ikan itu juga butuh air?"
"Lihatlah.." Ailaa menggeret Baekhyun untuk mendekati aquarium.
"Sekarang ikannya jadi ada 12..." Pekik Ailaa senang.
"Aigoo..." Baekhyun menepuk keningnya.
Sepertinya Baekhyun harus merelakan dua ikan di ponselnya berenang gembira bersama sepuluh ikan di aquarium Liu dan Ailaa.
.
.Chapter 4.
.
"Baek oppa.."
"Hmm.."
"Baekkie oppa..."
"Ne."
"Baekhyunnieee oppaaa~"
"Apa?" Baekhyun mengalihkan atensinya pada dua gadis yang tampak berdiri takut-takut disamping sofa yang ia duduki.
"Marah?" Tanya Ailaa dengan aksen yang lucu.
"Tidak." Jawab Baekhyun kelewat datar.
"Bohong. Kau pasti marah pada kami. Benar?" Liu menatap Baekhyun dengan mata yang berkaca-kaca.
Baekhyun menghela nafas berat. Tidak tega melihat Liu yang sepertinya sudah siap menangis kapan saja. Gadis itu memang lebih melankolis daripada adiknya.
"Baek oppa tidak bohong kok." Baekhyun tersenyum kecil.
Tapi senyum itu terlihat dipaksakan bagi kedua gadis itu.
Heyy.. Padahal Baekhyun kita ini tersenyum dengan tulus kok.
Baekhyun menghela nafas berat saat melihat kedua gadis itu masih tetap terlihat takut dan sedih.
"Kemari.." Baekhyun menepuk tempat kosong di samping kanan dan kiri tubuhnya.
Mereka berdua menurut, dan segera duduk disamping kanan dan kiri Baekhyun.
Ailaa menunduk, memainkan jari-jari lentik Baekhyun. "Lalu kenapa Baekkie oppa diam?" Tanyanya pelan.
"Tidak apa-apa. Oppa hanya memikirkan apa yang akan kalian kenakan pada pesta ulang tahun teman kalian besok." Baekyun tersenyum lembut.
"Pesta ulang tahun?" Ailaa bergumam bingung.
"Teman kami? Besok?" Liu menatap Baekhyun polos.
"Ne. Tadi oppa dapat undangan ini dari ahjumma yang menjadi kepala pelayan di rumah sebelah. Katanya kalian harus datang.." Baekhyun mengambil undangan di meja.
Liu mengambil undangan dari tangan Baekhyun. Namun tiba-tiba tatapannya berubah horror. Mungkin karena Ailaa penasaran, ia ikut mengintip dari belakang tubuh Baekhyun.
"Diaa?! Tidak mau!" Tolak Ailaa keras.
"Kenapa?" Tanya Baekhyun heran.
"Nanti dia mencemooh kami lagi." Liu memalingkan wajahnya, geram.
"Hey.. Hey.. Apa maksudnya ini? Oppa tidak akan membiarkan kalian dicemooh. Tenang saja.." Hibur Baekhyun.
"Tidak mau... Please.. Jangan paksa kami pergi ke sana.." Rengek Ailaa.
"Memangnya kenapa?" Tanya Baekhyun penasaran.
"Kami tidak mau kejadian tahun lalu terulang lagi." Ailaa menggembungkan pipinya lucu.
"Mereka bilang, kami tidak sama. Katanya, 'Memang ada ya, saudara kembar yang warna rambut bahkan warna matanya tidak sama. Menggelikan'. Aku benci dia." Liu menggerutu tidak suka.
"Lalu apa susahnya? Kita buat saja agar kalian sama.." Baekhyun tersenyum jenaka.
"Caranya?" Ailaa menyatukan alisnya, bingung.
"Sudahlah.. Sekarang, kalian bersiap-siap. Kita akan pergi." Baekhyun menarik kedua gadis itu untuk berdiri, kemudian mendorong mereka untuk naik ke lantai atas, ke kamar mereka berdua.
"Iya-iya.. Ish.. Jangan cepat-cepat.. Nanti kami jatuhh.." Protes Ailaa.
"Jangan cerewet.. Ayo cepat.." Baekhyun tetap mendorong-dorong dua gadis imut itu.
"Hiiyyaa.. Jangan cepat-cepat.. Ini di tangga.. Nanti kami jatuh.." Teriak Liu panik.
"Hahaha.. Kalian lucu sekali.. Ayoo.. Jangan lelet.." Baekhyun tampak senang sekali mengerjai dua gadis itu. Ia mengabaikkan protes kedua gadis itu, dan tetap mendorong-dorong tubuh kecil keduanya.
"Hiiyyaaa... PELAN-PELAN.. Hadeuhh.."
.
.
"Kami sudah boleh membuka mata?"
Liu menggembungkan pipinya jengah. Mereka sudah nyaris dua jam berada di tempat itu.
Dan parahnya, Baekhyun menyuruh mereka menutup mata sejak mereka turun dari mobil.
"Tunggu sebentar." Cegah Baekhyun. "Xiu noona, bisa kau carikan soft lens? Kalau bisa yang warnanya coklat gelap atau hitam.. Carikan dua pasang, oke?" Baekhyun terlihat tengah mengamati hasil kerja dari pegawai salon tersebut.
Yepp.. Mereka sedang berada di salon sekarang. Bisa dibilang, merealisasikan ide Baekhyun beberapa jam yang lalu.
"Tunggu sebentar." Xiumin, wanita yang tadi diajak bicara oleh Baekhyun, segera bergegas mencarikan barang yang diminta pelanggannya.
"Uhm.. Mungkin kalian bisa buka mata kalian sekarang.." Baekhyun menepuk pundak kedua gadis itu.
Liu dan Ailaa segera melakukan apa yang Baekhyun minta. Sedetik kemudian, mereka terlihat terkejut memandang cermin besar didepan mereka.
"Oh?!" Ailaa memekik, kaget.
Sedangkan Liu menatap bergantian bayangan dirinya dan Ailaa di cermin.
"Rambut kami.." Ailaa bergumam lirih.
Liu menyentuh surai miliknya. Lalu menatap Ailaa. Surai mereka berdua yang awalnya bergelombang, sekarang berubah menjadi lurus. Bahkan warna blonde dan almond itu sekarang berganti menjadi warna hitam. Mereka terlihat sangat mirip. Kecuali warna mata, tentu saja.
"Kita benar-benar kembar sekarang.." Liu menatap Ailaa senang.
"Kalian senang?" Baekhyun sedikit merunduk untuk memeluk pundak kedua gadis itu.
Kedua gadis itu mengangguk senang. Dan tanpa segan memeluk Baekhyun. Membuat yang lebih tua sedikit terkejut.
"Terima kasih, Baekkie oppa.." Ailaa menggoyang-goyangkan tangan Baekhyun, riang.
"Kau yang terbaik.. Jjang" Liu memeluk tubuh Baekhyun dan Ailaa. Walaupun harus bersusah payah karena tangannya yang tergolong pendek.
"Ekhem.. Apakah aku mengganggu?" Xiumin tampak tersenyum kikuk kearah mereka bertiga.
"Ah! Xiu noona. Kau sudah dapat apa yang kuminta?" Tanya Baekhyun.
"Ini." Xiumin menyerahkan 2 kotak kecil berisi soft lens pada Baekhyun. "Tapi Baek, kurasa mereka tampak lebih natural dengan warna mata mereka yang asli." Xiumin memandang kagum kearah si kembar. Mungkin karena mereka berdua kembar identik yang berbeda(?).
Baekhyun tampak mengamati kedua gadis yang sedari tadi hanya diam mendengarkan dua orang dewasa didepannya berbicara. Liu dan Ailaa yang merasa diamati hanya memandang Baekhyun dan Xiumin polos. Seakan memberi tatapan apa-ada-yang-salah-dengan-kami.
"Mungkin noona benar." Gumam Baekhyun.
"Baek oppa? Bisa kita pulang sekarang? Aku merasa... Emmmm... Sedikit canggung." Cicit Liu. Sedangkan Ailaa hanya mengangguk membenarkan, serta sesekali menatap sekeliling mereka.
Well, sepertinya tidak hanya Xiumin yang memandang mereka kagum. Beberapa orang juga tampak mengamati dua gadis itu. Antara takjub dan heran.
"Baiklah kita pulang sekarang." Baekhyun tersenyum kikuk.
.
.
"Aku tidak percaya bahwa pesta kali ini bisa berjalan dengan lancar."
Liu menghempaskan tubuhnya pada sofa dikamar mereka. Sedangkan Ailaa lebih memilih berbaring dikasur empuk mereka. Mengabaikkan Baekhyun yang bersandar santai dipinggir pintu.
"Memangnya biasanya tidak lancar?" Tanya Baekhyun heran. Ia kemudian bergerak menduduki pinggir ranjang milik si kembar.
"Iya. Selalu saja ada orang yang memandang aneh kami." Liu ikut bergabung bersama Baekhyun dan Ailaa diranjang. Menggeser Baekhyun agar duduk ditengah.
Baekhyun menyandarkan punggungnya pada headboard. "Separah itu?" Tanyanya heran.
"Itu benar." Ailaa diikuti Liu membaringkan kepalanya pada paha Baekhyun.
"Rasanya menyenangkan saat orang lain tidak lagi memandang kami aneh." Ailaa memainkan jari Liu sambil tersenyum senang.
"Bukan memandang aneh." Baekhyun membelai sayang surai kedua gadis itu. "Mungkin mereka kagum karena kalian berdua memiliki binar mata yang sangat cantik." Baekhyun tersenyum manis.
"Jangan menggoda." Komentar Ailaa.
"Itu benar." Baekhyun tertawa. "Kalian membuat banyak orang iri. Cantik, imut, pintar, kembar pula. Bukankah itu sempurna?" Baekhyun kembali menggoda dua gadis mungil itu.
"Aigoo..." Ailaa menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Memang apa yang salah?" Tanya Baekhyun-sok-polos.
"Baekkie oppa membuat kami malu.." Suara Liu teredam boneka yang menutupi wajahnya.
"Itu benar. Baekkie oppa bersungguh-sungguh." Baekhyun terkekeh geli.
"Hentikan! Rasanya wajahku panas sekali saat ini."
"Seperti kepiting rebus."
"Mwoya?!"
"Hahahahaha..."
"Baek oppa menyebalkan!" Liu mencebikkan bibirnya.
"Baiklah.. Maafkan oppa, ne?" Baekhyun mengacungkan dua jarinya, membentuk V sign.
"Sebagai hukuman, oppa harus menemani kami tidur." Ailaa menatap Baekhyun penuh harap.
"Seranjang bertiga?" Tanya Baekhyun ragu.
"Ne.. Tidak mau?" Liu memandang Baekhyun dengan tatapan andalannya, anak kucing tersesat.
"Baiklah. Jja, ganti baju kalian, lalu kita tidur.. Ottae?" Baekhyun tersenyum sayang pada dua gadis didepannya.
"Okey.. Gomawo oppa. Kau memang yang terbaik."
.
.
"AI.. TOLONG BUKAKAN PINTU! ADA TAMU. KAU TIDAK DENGAR?"
Teriakan Liu sepertinya memecah keheningan dipagi yang damai itu.
"MEMANGNYA LIU SEDANG APA? KENAPA TIDAK BUKA SENDIRI?"
Ailaa ikut berteriak dari lantai 2.
Sepertinya pagi ini tidak bisa disebut 'damai'.
"Aku membantu Baekkie oppa membuat roti bakar untuk sarapan." Liu sepertinya sudah malas untuk berteriak lagi.
Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya. Mungkin heran. Mungkin juga pusing melihat kelakuan dua gadis mungil itu.
Saat akur, rumah ini serasa penuh cinta dan kebahagiaan. Tapi saat seperti ini, rasanya mereka tinggal di hutan rimba, bukan dirumah.
Ailaa berlari ke arah pintu utama. Mungkin tidak ingin membuat orang yang berada diluar sana menunggu terlalu lama. Ia tampak mengatur nafasnya yang berantakan setelah berlari, kemudian membuka pintu rumahnya.
"Annyeong hase-"
Brak!
"-yeo"
Ailaa berlari kembali memasuki rumah, lalu berbelok ke arah dapur.
Mengabaikkan pemuda yang berdiri bingung didepan pintu rumah mereka.
"Liu!" Ailaa sedikit tercekat, memanggil kakaknya.
"Ada apa?" Tanya Liu.
"Tamu di depan... Itu... Paman itu..." Ailaa tampak bingung menjelaskan apa yang ingin ia jelaskan(?). #Author somvlak :v
Liu tampak bergegas menuju pintu depan. Ia sepertinya penasaran apa yang membuat adiknya tampak sedikit aneh.
Baekhyun menatap bingung kearah Ailaa saat Liu tiba-tiba pergi keluar.
"Ada apa?" Tanya Baekhyun. Namun Ailaa hanya menggeret kengan Baekhyun agar segera menyusul Liu.
Disisi lain, Liu tampak mengamati pemuda dihadapannya yang juga memandangnya bingung.
"Eh? Bukankah tadi warna matamu biru ya? Kenapa sekarang jadi hujau ya?" Pemuda itu mengeluarkan suara bass-nya. Membuat Liu sedikit terlonjak kaget.
Suaranya benar-benar tidak cocok dengan wajah ulzzang milik pemuda didepannya, menurut Liu.
Gadis itu berdehem sebentar sebelum bertanya pada pemuda dihadapannya.
"Maaf, anda siapa? Dan ada keperluan apa datang kemari?" Tanya Liu.
"Sebenarnya, saya kesini ingin-"
"Chanyeol?"
"Oh! Hai Baekkie.." Chanyeol memandang kaget pada gadis dibelakang Baekhyun, Ailaa. Lalu memandang ke arah Liu lagi. "Eh.. Lho.."
"Baekkie oppa mengenalnya, kan? Mari masuk." Liu berusaha memecah keheningan diantara mereka.
"Ah.. Ne.." Chanyeol mengikuti Baekhyun dan Ailaa yang lebih dulu masuk.
Liu memandang mereka dengan tatapan aneh. Namun kemudian ia mengangkat sudut bibirnya. Menyeringai imut-coret-.
'Wah.. Jadi itu orangnya? Benarkah yang aku lihat? Hubungan sesama namja, ya? Itu... Errrr... Sedikit... Men-'
Liu tersentak kaget saat Ailaa tiba-tiba sedikit menggeretnya. Membisikkan sesuatu.
"Jadi Ai takut karena suaranya?" Liu menggeleng prihatin.
"Ish! Aku hanya kaget!" Sanggah Ailaa.
"Eh, kenapa Ai kemari? Lalu Baekkie oppa dan kakak yang tadi?" Liu bertanya bingung.
"Aku kemari menyusul Liu. Habisnya Liu lama sekali! Kukira Liu lupa jalan ke ruang tamu.." Ailaa menjulurkan lidahnya, mengejek.
"Aku sedang memikirkan sesuatu yang aneh." Liu tersenyum aneh.
"Aneh?" Ulang Ailaa bingung.
"Sangat aneh. Menarik."
"Liu bilang itu menarik, tapi ekspresi Liu datar sekali."
"Ai, akan tahu sebentar lagi. Tenang saja."
.
.
"Jadi, Chanyeollie ada apa kemari?"
"Chanyeollie?" Ailaa memandang bingung kearah Baekhyun.
"Nde? Emm.." Baekhyun tersenyum kikuk kearah Liu dan Ailaa.
"Sebenarnya, Byun eomma khawatir karena kau tidak mengabarinya dari kemarin." Chanyeol tersenyum.
"Itu.. Sebenarnya-"
"Maaf. Kami kemarin membiarkan ponsel Baekkie oppa berenang di dalam akuarium." Ailaa tersenyum lucu.
"Astaga.." Chanyeol menggeleng takjub.
"Ponsel Baekkie oppa masih ada di akuarium kok. Tuhh.." Liu menunjuk akuarium mereka dengan wajah polos.
"Keren sekali." Chanyeol tertawa.
"Kenapa responmu seperti itu sih.." Gerutu Baekhyun.
"Karena baru kali ini kau tidak marah-marah pada orang yang merusak barang pribadimu." Chanyeol tersenyum kalem. "Byun eomma memintaku untuk menjagamu disini. Tapi kurasa itu tidak u-"
"Tidak masalah." Potong Liu. "Masih ada tempat kosong dirumah ini." Lanjutnya.
"Itu benar. Baekkie oppa bisa tidur dikamar kami, dan kak Chanyeollie boleh tidur dikamar Baekkie oppa.." Saran Ailaa. "Ehh? Tunggu dulu.. Tapi kenapa Liu mudah sekali mengundang orang untuk tinggal dirumah kita? Tidak biasanya..." Ailaa sepertinya baru sadar... -_-
"Karena sepertinya mereka bersaudara. Ai tadi dengar kan, kak Chanyeollie memanggil eommanya Baekkie oppa dengan sebutan Byun eomma." Liu mengerjap polos.
"Aniya.. Kami bukan saudara.." Chanyeol mengibaskan tangannya.
"Lalu apa hubungan kalian?" Ailaa melirik Liu yang sedang tersenyum aneh.
"Teman."
"Pacar."
"Ehh?"
Chanyeol dan Baekhyun bertukar pandang gugup. Sedangkan Liu dan Ailaa hanya memandangi dua pemuda dihadapan mereka.
"Aneh sekali. Kak Chanyeollie bilang 'pacar', tapi... Kenapa Baekkie oppa menjawab 'teman'?" Gumam Ailaa.
"Bohong."
"Apa?"
Liu memandang tajam mereka berdua.
"Kalian berdua berbohong." Ucap Liu.
"Benarkah?" Ailaa ikut memandang tajam pada dua pemuda dihadapan mereka. "Aku tidak suka ini." Ailaa meniup poninya kasar.
'Astaga.. Apa respon mereka kalau tahu bahwa kami sudah bertunangan?' Baekhyun menggigit bibir bawahnya cemas.
'Kalau mereka menganggap aneh atau bahkan jijik dengan hubungan sesama namja, bagaimana?' Baekhyun menggenggam erat tangan Chanyeol yang tampak memandangnya bingung.
"Lihat cara Baekkie oppa menggenggam tangan kak Chanyeollie." Liu menekankan nama Chanyeol dengan nada yang terdengar kurang menyenangkan. "Tidakkah kau merasa ada yang aneh.." Liu berbisik cukup keras, bahkan terlalu keras untuk bisa disebut berbisik. Dan hanya ditanggapi oleh anggukan dari Ailaa.
"Aku tidak percaya bahwa yang seperti ini benar-benar ada.."
.
To Be Continue (Or gonna be End)
.
Errr... Hai..
Liu tahu chap ini pasti aneh banget.
Datar.
Membosankan.
Kalau diibaratkan minuman, ini mungkin bisa disebut jus strawberry tanpa gula dengan air yang terlalu banyak.
Rasanya nggak enak banget.. Sumpah! (Liu pernah coba dulu. Dan muntah.. Hahaha :D)
Entahlah.
Rasanya aneh banget waktu ngebaca ulang Chap 5 ini.
Ketik-Baca-Hapus-Ketik-Baca-Hapus-Ketik lagi-Baca lagi-Hapus lagi.
Ini udah ide kesekian yang Liu tulis. Tapi hasilnya tetep aja mengecewakan. Frustasi rasanya. Ini kayak bukan Liu yang biasanya.
Berasa semua yang Liu tulis jadi jelek dan aneh. :(
Padahal Ny-Jumma udah bilang bagus. Liu tetep hapus.
Bandel.
Emang.
Sudahlah.
Daripada Liu makin curcol gajelas. :D
Oh iya, Liu kan udah ambil keputusan buat Discontinue Happenstance sama Origami Crane. (Origami Crane bakalan post Chap 3 dulu baru discontinue, ottae? ^_^)
Mungkin dilanjut kapan-kapan.
Mungkin juga nggak..
Tergantung sih..
Tergantung mood Liu.. :D #Digampar
Thanks for all readers-reviewers yang udah follow/fav. Maaf kalau selama ini mengecewakan.
With full of apologize,
Joanna Liu
