Kisedai's Thanks Giving

Chapter II: Sepuluh Tahun Setelahnya.

Disclaimer:

Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi-sensei

An original Kuroko no Basuke fanfiction written by me, Akari Hanaa

Author menyarankan untuk mendengarkan lagu dari Shion Miyawaki – Moonlight sambil membaca fanfic ini. Bagi yang tau mungkin tak akan asing. Ya, lagu ini adalah insert song dari Anime Assasination Classroom

.

.

.

.

Sepuluh Januari 2026 adalah hari ini. Berjarak sembilan tahun dari hari yang dijanjikan oleh mereka berenam. Sembilan tahun yang lalu—dimana tidak ada dari mereka yang datang. Hari yang paling dibenci Kuroko Tetsuya.

Tak ada yang berubah dari lapangan itu, kecuali cat yang kembali cerah karna sudah dicat ulang. Ya, ini adalah kali ke empat Kuroko Tetsuya mendatangi tempat yang telah dijanjikan. Sembilan tahun yang lalu dan tiga tahun terakhir.

Hari ini, hari yang dibencinya tidak akan pernah berubah. Selama lima dari mereka tidak menjajakkan kaki dilapangan itu.

Kuroko Tetsuya menghela nafas. Ada apa dengan dirinya? Apa setelah menyelesaikan strata I dan strata II, Ia malah bertambah bodoh? Untuk apa menunggu mereka yang tak akan pernah datang? Untuk apa masih berharap?

Tapi, untuk hari ini—benar benar hanya untuk hari ini saja, Bisakah Ia kembali berharap? Dimana untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun Ia merasakan lapangan itu terasa hangat kembali di musim dingin ini?

Dan Kuroko Tetsuya mengedarkan pandang. Sosok itu memerangkap matanya. Ia kenal—sangat kenal dengan sosok bersurai hijau lumut yang potongannya pun tidak pernah berubah. Midorima Shintarou namanya.

Sosok itu berjalan mendekat dan Kuroko bangkit berdiri menyambutnya. "Shintarou—"

Belum selesai Ia memanggilnya, sosok-sosok lain muncul dibelakangnya. Kelima sosok itu tersenyum. Midorima berhenti, berbalik ke belakang dan menunggu keempat pemuda lainnya mendekat. "Apa ini? Kenapa kita bisa datang bersamaan-ssu?"

Sosok bersurai kuning yang dikenali Kuroko sebagai Kise Ryouta itu memekik heran. Tak ada yang berubah darinya—kecuali ketampanan yang Kuroko akui memang bertambah.

"Berisik Kise, kau masih saja berisik seperti dulu-nodayo". Telinga dan memori Kuroko Tetsuya seakan merebak kembali ke masa lalu. Suffix aneh yang tak pernah berubah dari sahabat-sahabatnya memaksanya tersenyum.

"Are? Minna, kalian datang juga?". Suara malas yang terdengar jelas oleh pemuda bersurai ungu yang lagi lagi tidak berubah itu, kecuali tubuhnya yang terasa lebih tinggi dari sebelumnya. Dikenali sebagai Murasakibara Atsushi oleh Kuroko Tetsuya. "Mine-chin, Aka-chin juga kesini?"

"Ah, aku baru selesai patroli ketika melihat Tetsu disitu". Pemuda tan yang dengan gagahnya memakai seragam polisi itu menggaruk tengkuk. Dibelakangnya, Akashi Seijuurou tersenyum lembut. Rambut merahnya terlihat lebih panjang, bagin kiri disisir rapih kebelakang secara formal. Jas membalut tubuhnya yang atletis—lagi lagi, Kuoko tak melihat perbedaan signifikan dari kedua sahabatnya.

Kelima sosok itu berdiri bersisian sekarang. Masing-masing menatap Kuroko intens. Tatapan itu membawa kakinya mendekati pemuda-pemuda itu.

"Kuroko/Kuroko-chhi/ Kuro-chin/Tetsu/Tetsuya"

Dan entah sejak kapan, matanya menjadi basah. Sungai kecil mengalir deras dipipinya. Kuroko menyentuh pipinya heran. Hujan? Tentu saja bukan.

Kelima pemuda dihadapannya tidak bergeming selain tetap tersenyum.

"Tetsuya"

Sosok merah itu mendekati Kuroko yang tak bisa bergerak sesentipun. Kuroko membenci hari itu. Kuroko membenci kelima pemuda yang tidak menepati janji itu. Tapi rasa rindunya lebih besar daripada itu. Rasa rindunya lebih besar daripada ego untuk menampar pemuda merah itu. Dan karna alasan itu, Kuroko membawa dirinya memeluk pemuda dihadapannya. Pemuda merah itu menerimanya dengan senang hati. Kepala merah mencium bahu Kuroko yang bergetar menahan tangis.

"Maaf kami baru datang sekarang. Kami merindukanmu"

Kuroko Tetsuya kembali mendongak mendapati keempat pemuda lainnya tersenyum pahit. "Kuroko-chhi, maaf"

Akashi Seijuurou melepaskan pelukannya. Dengan berani menatap iris biru sendu yang sirat dengan kerinduan pada mereka.

Akashi Seijuurou berani bertaruh dengan tahtanya, Kuroko telah memendam rasa itu sepuluh tahun lamanya—walaupun itu sudah tidak penting lagi.

"Aku ingin ikut kalian". Ucap Kuroko penuh tenaga, menghilangkan isak tangis agar terlihat tegar.

Akashi melihat kebelakang, melihat pemuda dengan seragam dokter, pemuda dengan seragam pilot, pemuda dengan seragam polisi, dan pemuda dengan seragam koki itu menggeleng serempak. Dan Akashi kembali menatap iris Kuroko dan menggeleng pelan.

"Kau merindukan kami, aku tahu"

"Biarkan aku membalas budi"

"Bukan dengan begitu caranya"

"ini satu satunya cara"

Akashi Seijuurou menghela nafas. Satu satunya yang Ia tahu: Kuroko akan tetap membangkang atas perintahnya.

"Tetsuya, tetaplah seperti itu. Berjanjilah padaku"

Kuroko Tetsuya tak mengindahkan atau mengangguk. "Jangan pergi, aku rindu kalian"

"Kami tidak pergi"

.

Sosok itu tersenyum kala matanya yang tak pernah terbuka setelah sekian tahun. Surai indahnya sudah terlalu panjang untuk seorang lelaki. Namun, lelaki itu tak bisa memotongnya. Tak akan pernah bisa. Bibir mungil itupun sudah terlalu kering untuk ukuran manusia. Tapi Ia tak akan pernah bisa membasahinya. Tak akan pernah bisa.

Senyum itu membuat pemuda lainnya terkejut. Ia berlari keluar dari kamar itu dengan sekuat tenaga yang Ia bisa. Jatuh tersungkur dikoridor itupun tak masalah baginya. Ia melihat senyum itu! Ia melihat senyum itu lagi! Bisakah dirinya berharap?

.

"Bagaimana?"

"Perubahan ini bagus, Ia sudah bisa menggerakkan alat geraknya. Semoga ini menjadi awal baginya"

Lelaki bersurai merah itu mendudukkan dirinya diatas bangku dengan tegang. Kalimat itu membuat gadis bersurai pink keluar dari ruangan dengan menahan tangis.

"Kuroko Tetsuya"

Dokter dengan surai hijau lumut itu menyebutkan nama pasiennya. Jika tidak dengan keriput yang banyak diwajahnya, dokter itu akan mengingatkannya pada sosok hijau lumut kenalannya.

"Sembilan tahun lamanya Ia tak lebih beruntung dari anakku". Mata hijau lumut miliknya berair. Menggunung sampai penglihatannya buram. "Hari ini aku tarik kemali kalimat itu, kita akan menemuinya lagi"

Kelopak mata tua itu diturunkan. "Hari ini sepuluh Januari. Aku akan mengunjungi anakku. Aku akan segera kembali"

Kagami Taiga mengangguk. Iris merahnya membawanya menangkap sosok kurus tak berdaya diranjang. Hidungnya ditutupi alat pernapasan bantuan. Sepanjang lengannya ditempeli alat alat rumah sakit. Tak lupa monitor hitam dengan garis zig-zag, yang selama sembilan tahun terakhir menjadi hal yang paling diperhatikannya.

Ya, Kuroko Tetsuya terjebak dalam mimpinya. Koma selama sembilan tahun setelah kejadian itu. Sepuluh Januari sepuluh tahun yang lalu, yang telah merenggut nyawa saudara-saudaranya.

Memori itu merebak ke ingatannya. Memori sepuluh tahun yang lalu kala Ia meninggalkan mereka dilapangan itu untuk membeli minum—karna Aomine berhasil membuat kesabarannya menipis dengan terus-terusan berteriak. "Oi Bakagami! Lebih baik kau belikan minum untuk kami sambil berlari! Sekalian olahraga!"

Kagami melihat lapangan tanpa pagar itu dari sebrang. Matanya menangkap lima pemuda berbeda warna itu dari balik jalan raya yang penuh dengan pacu mobil. Tunggu, lima? Kemana lagi Kuroko Tetsuya?

.

Kuroko Tetsuya berjalan menuju tim Akashi dilapangan sebrang setelah Ia berhasil menenangkan Kise Ryouta yang terus-terusan mengeluh karna untuk yang kelima kalinya Ia tak bisa setim dengan pemuda bersurai biru itu.

Tepat ketika Ia berdiri di tengah lapangan. Suara Kagami dari sebrang membuatnya menoleh. Dan Kuroko tak bergeming. Truk dengan kecepatan—mungkin—sekitar 120 km/jam itu akan sukses menabraknya dan menghancurkan tulangnya tulangnya.

Ia menutup iris birunya, Ia tidak menunggu truk itu menghantamnya atas kehendaknya, tidak. Ia menunggu karna tak ada satupun dari tubuhnya yang dapat Ia gerakkan.

Sosok itu memeluknya. Dekapan erat serta air mata dari sosok itu menyadarkan Kuroko Tetsuya. Kuroko memberanikan dirinya membuka mata. Ia dan Akashi terpental jauh. Matanya menangkap senyum dibalik tangisan sang kapten. Netranya menangkap hal lain. Sahabatnya—saudaranya, keempat saudara lainnya ikut tersenyum melihatnya. Tangan keempatnya sama sama mendorong dirinya dan Akashi menjauhi truk, sebelum hancur terhimpit diantara truk dan bench. Mata Kuroko membulat sempurna. Suara teriakan tak bisa keluar dari mulutnya yang menganga lebar. Darah mengucur dari arah sahabat sahabatnya. Air mata pun tak bisa Ia hentikan.

"Tetsuya". Baritone itu menyadarkannya. Kuroko berhasil menoleh hanya untuk mendapati Akashi terhimpit diantara ban truk dan lapangan. Sebagian besar tubuhnya berdarah, tidak terkecuali kepalanya. Belum sempat Kuroko menjawab, Akashi kembali berbicara. "Maaf"

Dan manik Ruby yang paling Kuroko suka itu menutup perlahan. Untuk selamanya.

.

Sejak saat itu. Setahun lamanya Kuroko tak bisa berpikir. Kelopaknya terbuka, tapi Ia mengindahkan dirinya untuk bicara. Ia mengindahkan tubuhnya untuk bergerak. Sebelum Ia divonis koma sampai sembilan tahun lamanya. Kagami Taiga bersama Momoi Satsuki, orang tuanya, serta orang tua dari kelima pemuda yang terenggut nyawanya, adalah orang orang yang terus menjaga Kuroko Tetsuya. Namun, tepat pada tanggal sepuluh Januari setiap tahun. Tidak ada satupun dari mereka yang akan datang selain kedua orang tuanya. Dan mereka berdua mengerti.

.

Gundukan tanah itu masih berbau harum. Langit menjatuhkan air yang turun deras. Seolah mengantarkan sosok itu dengan menangis. Lima gundukan tanah disebelah kanan sosok itu masih bersih seperti kepunyaan sosok itu, meski sudah sepuluh tahun dihuni. Sepuluh Januari sepuluh tahun kemudian, tanah kosong itu akhirnya dihuni olehnya. Baik Kagami, Momoi, kedua orang tua sosok itu, maupun orang tua pemuda lainnya harus mengunjungi pemakaman itu dua kali pada hari ini. Pertama untuk mengunjungi penghuni tempat itu. Yang kedua untuk mengantarkan Kuroko Tetsuya ke tempat peristirahatan terakhirnya.

R.I.P

KUROKO TETSUYA

31 JANUARI 1998 – 10 JANUARI 2027

"Kuroko, sekarang janjimu dengan mereka akan kau tepati kan? Janjimu untuk kembali bercerita dan kembali menjadi tim yang solid?". Kagami Taiga menghentikan kalimatnya. Matanya menangkap sosok Momoi yang tak hentinya menangis. "Kami menyayangi kalian"

FIN

Gajelas? Iya:") gatau author lagi galau berat. Jadi kepikiran bikin genre hurt begini. Sakit sih sebenarnya pas nulis suami kelindes truk. Terus, Tetsuya juga koma sembilan tahun. Hell, itu lama banget! Tapi Hanaa suka, biar dramatis *ditendang*

See ya next time!

-side story-

"Bibi Kuroko, ini barang barangnya yang masih tertinggal dirumah sakit"

"Ah Taiga-kun, apa bibi boleh minta tolong langsung masukkan ke kamar Tetsuya-kun?"

"Baik bi, Ojyamasimasu"

Kagami membuka pintu kamar yang berwarna biru langit tersebut. Baru sampai pintunya saja, hati Kagami kembali mencelos jika mengingat Ia sudah tidak ada. Tapi sayangnya, itulah kenyataannya. Dan Kagami memasuki kamar itu sambil mengatur nafas agar tak menangis sesegukan.

Kamar itu bersih, tak ada debu yang menempel pada dinding maupun ranjangnya. Walaupun sudah sepuluh tahun tak dihuni. Kagami kemudian menurunkan box besar itu dimeja terdekat. Matanya mengelilingi kamar milik Kuroko yang tidak terlalu luas. Dan berhenti pada nakas yang punya banyak note di dinding belakangnya. Kagami maju untuk melihat lebih jelas. "Kisedai's Thanks Giving" tertera di dinding belakang nakas tersebut. Sengaja di cat dan digambar dengan cantik. Di atas nakas itu terdapat banyak barang yang berjejer rapi. Kuroko menaruh box box kecil yang membuat beberapa barang terlihat tinggi.

Box pertama diwarnai hijau dan diberi note "Shintarou-kun 8 Mei 2016". Diatasnya terdapat gantungan kunci berbentuk burung piyo berwarna biru langit. Box kedua lebih tinggi dan yang paling tinggi diantaranya, diwarnai dengan cat ungu terang bertuliskan "Atsushi-kun 28 Juni 2016". Diatasnya terdapat gelang anyam khas akita yang juga berwarna biru. Box ketiga diberi warna kuning pucat bertuliskan "Ryouta-kun 12 Juli 2016". Diatasnya terdapat wristband baru dengan warna biru langit. Box selanjutnya lebih lebar dari box lainnya yang diberi warna berbeda di dua sisi. Satu sisi berwarna biru malam dan yang satu sisi diberi warna pink cerah bertuliskan "Daiki-kun", "Satsuki-san" dan "4 agustus 2016". Diatasnya ada novel dengan warna biru langit dan pensil cantik yang juga berwarna biru langit. Didepan box box itu terdapat muffler yang mengisi sisa bagian nakas. Muffler tebal dan panjang itu berwarna merah yang ujungnya bergradasi biru. Dibawah muffler itu terlihat note kecil bertuliskan "Seijuurou-kun 9 Januari 2017".

Kagami mengerjap pelan ketika Ibu dari Kuroko Tetsuya masuk ke kamarnya. "Taiga-kun? Ada apa?"

"Bibi, ini apa?"

"Ah, nakas itu"

Hening sebentar sementara perempuan itu berjalan mendekati dan duduk disampingnya. "Tetsuya-kun langsung kesana kemari mencari cat dan box box itu malam setelah kalian pergi ke onsen waktu itu"

Tangan mungil milik perempuan itu dibawanya keujung muffler pemberian Akashi dan menarik sesuatu didalamnya. "Aku ingin memberitahukan Tetsuya-kun tentang hal ini, tapi tak pernah bisa"

Kuroko Tetsuna menarik secarik kertas dari ujung muffler itu dan memberikannya pada Kagami. Kagami membuka perlahan kertas itu.

"Tetsuya, aku mencintaimu"

.

Kali ini Ia berbaring dilapangan itu lagi. Matanya tertutup dan surainya menari kesana kemari menggelitik wajahnya. Lama rasanya Ia tak merasakan kehangatan dari lapangan itu lagi. Dan sosok itu membuka matanya perlahan. Iris biru langitnya menatap awan dan sepasang ruby diatasnya. "Seijuurou-kun?"

Sosok itu tersenyum manis."Tetsuya"

"Sekarang aku boleh ikut kalian kan?"

Sosok itu mengangguk pelan. "Tetsuya memang selalu membangkang"

Fin

Beneran fin ya, saya gamau ditabok readers gara gara lagi lagi kepanjangan. Ciao!

Akari Hanaa